MajalahDUTA.Com | Sebanyak 250 Orang Muda Katolik (OMK) dari empat paroki di wilayah Dekanat Barat Keuskupan Ketapang mengikuti kegiatan Temu OMK yang berlangsung di kawasan Pulau Datok, Sukadana, Kabupaten Kayong Utara, pada 15–17 Mei 2027.
Kegiatan selama tiga hari dua malam tersebut menjadi ruang penguatan persaudaraan, iman, dan karakter generasi muda Gereja di tengah tantangan zaman digital.
Empat paroki yang terlibat dalam kegiatan ini yakni OMK Paroki St. Gemma Galgani Katedral Ketapang, OMK Paroki St. Agustinus Payak Kumang, OMK Paroki Emanuel Sukadana, dan OMK Paroki St. Stefanus Kendawangan.
Selama kegiatan berlangsung, para peserta mengikuti berbagai agenda seperti dinamika kelompok, pendalaman iman, refleksi, diskusi, serta aktivitas kebersamaan lainnya guna mempererat persaudaraan antar-OMK lintas paroki di wilayah Dekanat Barat Keuskupan Ketapang.
Temu OMK hari itu tampaknya adalah momentum untuk memperkuat semangat solidaritas dan pelayanan orang muda agar tetap relevan menjawab tantangan zaman tanpa kehilangan nilai kasih dan persaudaraan.
Mengusung tema “Solidaritas Tanpa Sekat, Kasih Tanpa Tapi di Tengah Notifikasi”, kegiatan ini menjadi refleksi atas kehidupan orang muda yang saat ini berada di tengah arus globalisasi, perkembangan teknologi, dan derasnya informasi digital.
Anggota DPR RI Daerah Pemilihan Kalimantan Barat I, Franciscus Maria Agustinus Sibarani, turut memberikan perhatian dan dukungan terhadap pelaksanaan kegiatan tersebut. Menurutnya, tema yang diangkat sangat relevan dengan kondisi generasi muda masa kini yang dihadapkan pada tantangan menjaga nilai persaudaraan di tengah kehidupan yang semakin cepat dan individual.
“Orang Muda Katolik harus mampu menjaga solidaritas kepada sesama tanpa memandang latar belakang suku, agama, ras, maupun perbedaan lainnya. Kasih tidak boleh memiliki sekat dan tidak boleh hadir dengan syarat. Justru di tengah dunia yang serba cepat dan penuh distraksi, nilai persaudaraan harus semakin kuat,” katanya.
Sibarani menilai perkembangan teknologi dan derasnya notifikasi digital tidak boleh membuat generasi muda kehilangan kepedulian sosial maupun kedekatan dengan sesama.
Sebaliknya, OMK diharapkan menjadi kelompok muda yang tetap relevan, adaptif terhadap perubahan zaman, namun tidak meninggalkan nilai kemanusiaan, solidaritas, dan semangat pelayanan.
“Era digital menghadirkan banyak kemudahan, tetapi juga tantangan besar bagi orang muda. Jangan sampai dekat di media sosial, namun jauh dalam kepedulian nyata. Solidaritas dan kasih kepada sesama harus tetap menjadi identitas Orang Muda Katolik,” lanjut Sibarani.
Sibarani menegaskan OMK tidak cukup hanya aktif di lingkungan Gereja, tetapi juga perlu hadir sebagai pribadi yang peduli terhadap persoalan sosial di tengah masyarakat.
“Orang muda hari ini hidup dalam ruang yang penuh pilihan, penuh informasi, dan serba cepat. Karena itu OMK tidak cukup hanya aktif di lingkungan Gereja, tetapi juga harus hadir sebagai pribadi yang peduli terhadap persoalan sosial, memiliki empati, serta mampu menjadi pembawa damai di tengah masyarakat,” katanya.
Menurutnya, solidaritas yang dibangun melalui kegiatan Temu OMK tidak boleh berhenti pada kebersamaan selama acara berlangsung, melainkan diwujudkan dalam tindakan nyata sehari-hari.
“Solidaritas tanpa sekat berarti berani hadir untuk sesama tanpa melihat latar belakang. Ketika ada yang mengalami kesulitan, orang muda harus menjadi yang pertama hadir membantu. Kasih tanpa tapi berarti mengasihi tanpa syarat, tanpa memilih-milih, dan tanpa menunggu balasan,” tegasnya.
Dia menilai OMK memiliki peran strategis sebagai generasi penerus Gereja sekaligus calon pemimpin masa depan yang akan menentukan arah kehidupan sosial masyarakat.
“Saya berharap OMK tidak hanya tumbuh menjadi generasi yang kuat secara iman, tetapi juga kuat dalam karakter, disiplin, mampu bekerja sama, dan berani mengambil peran. Gereja membutuhkan orang muda yang bukan hanya hadir di altar, tetapi juga mampu berkarya di tengah masyarakat,” ujarnya.
Lebih lanjut, Sibarani mengingatkan pentingnya menjaga keseimbangan antara kehidupan digital dengan relasi sosial secara nyata.
“Notifikasi telepon genggam mungkin tidak pernah berhenti, tetapi kepedulian kepada keluarga, sesama, dan lingkungan sekitar tidak boleh ikut berhenti. Orang muda harus mampu menggunakan teknologi sebagai sarana kebaikan, bukan kehilangan rasa kemanusiaan karena terlalu sibuk dengan dunia digital,” tambahnya.
Dia menilai kegiatan Temu OMK wilayah Dekanat Barat Keuskupan Ketapang menjadi ruang penting untuk memperkuat jejaring persaudaraan lintas paroki sekaligus membentuk generasi muda Gereja yang tangguh menghadapi perubahan zaman.
“Saya melihat semangat dari 250 OMK yang hadir dari berbagai paroki menjadi tanda bahwa persaudaraan orang muda Katolik di Ketapang dan Kayong Utara tetap hidup dan perlu terus dirawat. Dari ruang-ruang seperti inilah lahir pemimpin masa depan yang berakar pada iman, bertumbuh dalam pelayanan, dan mampu memberi dampak bagi masyarakat,” pungkasnya. *S|M (Sumber: Team Sibarani).




