Thursday, April 16, 2026
More

    Menjadi Pelajar yang Orisinal

    Duta, Pontianak | “Rekoleksi Mahasiswa AKUB dan San Agustin Kampus II” Suasana hening menyelimuti ruang pertemuan di lantai 1 Wisma Keuskupan Agung Pontianak, ketika para mahasiswa baru Akademi Keuangan dan Perbankan (AKUB) Grha Arta Khatulistiwa Pontianak dan Fakultas Kesehatan (FKES) Universitas Katolik Santo Agustinus Hippo memulai rekoleksi dengan doa.

    Di tengah kesibukan dunia akademik yang baru mereka masuki, kegiatan rohani bertema “Menjadi Pelajar Universitas Santo Agustinus Hippo yang Orisinal, Jujur, dan Cerdas” menjadi ruang istimewa bagi mereka untuk berhenti sejenak dan memandang ke dalam diri.

    Rekoleksi ini bukan sekadar kegiatan rohani rutin, melainkan momen perjumpaan pribadi dengan Tuhan dan sesama, yang membantu mahasiswa memahami siapa diri mereka dan bagaimana seharusnya hidup sebagai pelajar Katolik yang berintegritas.

    Suasana Rekoleksi Mahasiswa AKUB & FKES di Kampus II San Agustin Pontianak (18/10/2025)

    Mengenal Diri dalam Terang Iman

    Dalam rekoleksi yang dibimbing oleh Fr. Fransiskus Tomi Mapa, para peserta diajak untuk menyadari bahwa keaslian diri merupakan anugerah yang harus dijaga dengan kejujuran dan kasih.

    “Banyak orang kehilangan dirinya karena ingin menjadi seperti orang lain. Padahal Tuhan memanggil kita untuk menjadi diri sendiri yang merupakan versi terbaik dari ciptaan-Nya,” ujar Fr. Tomi dalam salah satu sesi.

    Kata-kata itu membekas di hati Margaretha, mahasiswi semester pertama yang mengaku awalnya datang hanya untuk memenuhi kewajiban kampus. Namun, sesi demi sesi membuatnya terdiam dan merenung. “Saya sangat terkesan dengan materi yang diberikan,” tulisnya dalam refleksi. “Saya belajar bahwa menjadi pelajar Katolik bukan hanya soal mengejar nilai, tetapi tentang hidup dalam kasih, kebenaran, dan tanggung jawab.”

    Bagi Klaudia Lestari, rekoleksi ini menjadi cermin yang menyingkapkan sisi terdalam dirinya. “Hal yang paling berkesan adalah ketika kami diajak untuk berani jujur terhadap diri sendiri. Kadang kita terlalu sibuk memperlihatkan sisi baik di depan orang lain, tapi lupa memperbaiki hati,” tulisnya.

    Ia menyadari bahwa kejujuran adalah dasar dari semua relasi yang sehat, baik dengan Tuhan, sesama, maupun dunia akademik.

    Rekoleksi Mahasiswa AKUB & FKES San Agustin di Wisma Keuskupan Agung Pontinak (18/10/2025)

    Belajar Iman dari Kehidupan Sehari-hari

    Tema keaslian dan kejujuran juga dirasakan oleh Edo Setiawan, yang menuliskan pengalaman reflektifnya dengan kalimat sederhana namun dalam maknanya. “Saya berkesan karena saya dapat mengetahui diri saya lebih dalam lagi. Saya belajar untuk hidup penuh kejujuran dan transparansi,” ungkapnya.

    Rekoleksi ini, menurut Edo, bukan hanya berbicara soal teori iman, tetapi soal praktik nyata di kehidupan kampus. “Saya belajar bahwa iman tidak terpisah dari cara saya belajar, bekerja sama, dan menghadapi teman-teman,” tambahnya.

    Sementara itu, Olga Oktavius mengaku menemukan semangat baru dalam belajar. “Saya sangat senang, apalagi kita bisa memahami makna kasih dalam kehidupan kampus. Saya belajar mengasihi dan memahami refleksi diri,” tulisnya.

    Bagi Olga, kegiatan ini membantu melihat kampus bukan sekadar tempat belajar ekonomi dan perbankan, melainkan juga tempat tumbuh dalam iman dan karakter.

    Nilai Kristiani dalam Dunia Akademik

    Dalam refleksi yang dikumpulkan, para mahasiswa sepakat bahwa rekoleksi ini menanamkan nilai-nilai Kristiani yang sangat relevan bagi kehidupan akademik masa kini. Nilai-nilai seperti kasih, kejujuran, kebijaksanaan, dan tanggung jawab muncul berulang kali dalam tulisan mereka.

    “Kasih, kebenaran, kebijaksanaan, dan tanggung jawab, itulah yang saya pelajari,” tulis Margaretha. Sedangkan Lira Virna menambahkan, “Menjadi pelajar yang otentik berarti berani hidup jujur, adil dalam iman, dan terus berusaha menjadi pribadi yang lebih baik.”

    Melalui kegiatan ini, iman Katolik dihayati bukan sebagai dogma yang jauh dari realitas, tetapi sebagai pedoman hidup yang konkret. Fr. Tomi mengingatkan bahwa menjadi pelajar Katolik berarti berani berpikir kritis namun tetap berakar pada kasih dan nurani.

    “Rekoleksi ini membantu saya memahami iman Katolik melalui tindakan nyata,” tulis Klaudia. “Ternyata iman bisa dihidupi dalam hal-hal kecil, seperti cara saya memperlakukan teman atau mengerjakan tugas dengan jujur.”

    Komitmen Konkret

    Setelah kegiatan usai, setiap mahasiswa diminta menuliskan satu komitmen konkret yang akan mereka jalankan. Jawaban mereka menunjukkan kesungguhan hati untuk berubah.

    “Saya akan lebih berempati dengan sesama,” tulis Margaretha. “Belajar mencari kebenaran,” kata Olga singkat namun kuat. Edo menulis dengan penuh tekad, “Saya ingin hidup penuh kejujuran dan transparansi.”

    Klaudia menambahkan, “Saya ingin tetap menjadi diri sendiri, jujur dalam perkataan dan tindakan.” Sementara Lira menulis, “Menjadi pribadi yang lebih baik dan lebih setia dalam iman.”

    Komitmen-komitmen sederhana ini adalah tanda nyata bahwa rekoleksi bukan berhenti di ruang doa, tetapi terus berlanjut dalam keseharian di kampus.

    Iman yang Menghidupkan dan Membentuk Karakter

    Bagi mahasiswa AKUB, kegiatan ini juga menjadi ajang untuk menegaskan bahwa iman dan dunia akademik bukanlah dua hal yang terpisah. Justru keduanya saling melengkapi.

    Rekoleksi menjadi sarana formasi karakter, di mana setiap peserta belajar untuk berpikir cerdas sekaligus bertindak dengan hati nurani.

    “Menjadi mahasiswa yang cerdas tidak cukup hanya dengan otak,” kata Fr. Tomi dalam salah satu sesi.

    “Kita juga harus punya hati yang jujur dan terbuka terhadap kasih.”

    Kegiatan ini menumbuhkan rasa kebersamaan dan semangat baru di antara para mahasiswa baru. Banyak yang mengaku pulang dengan hati yang lebih damai dan semangat untuk menjadi pribadi yang orisinal di tengah dunia yang seragam.

     Rekoleksi sebagai Perjalanan Iman

    Di akhir kegiatan, para mahasiswa menyadari bahwa menjadi pelajar Katolik bukan hanya tentang menguasai teori, melainkan tentang membangun integritas dan keaslian diri. “Mulai hari ini, saya ingin hidup dengan jujur dan transparan. Itu cara saya menjadi pelajar sejati,” tulis salah satu peserta dalam refleksinya. Kata-kata sederhana itu mencerminkan roh sejati dari kegiatan ini, bahwa iman bukan hanya dipelajari, tetapi dihidupi.

    Rekoleksi kampus AKUB dan San Agustin tahun ini menjadi pengalaman rohani yang berharga, menanamkan benih kejujuran, kasih, dan keaslian di hati para mahasiswa muda. Dalam semangat Santo Agustinus Hippo, mereka belajar bahwa mencari kebenaran sejati berarti menemukan Tuhan yang hadir dalam diri sendiri dan sesama.

    *Vinsensius, S.Fil., M.M, Dosen Akademi Keuangan dan Perbankan Grha Arta Khatulistiwa Pontianak, Universitas Katolik Santo Agustinus Hippo, Kampus II.

    Related Articles

    spot_img
    spot_img

    Latest Articles