Duta, Landak – Tanpa kita sadari, bangsa ini telah menginjak usia 80 tahun, mungkin usia yang sangat tua bagi seorang individu manusia. Sepanjang perjalanan menjumpai banyak peristiwa luar biasa yang telah membentuk bangsa ini tangguh, mampu mengatasi tantangan, mengendalikan emosi, dan selalu bijaksana dalam segala hal yakni, jika kita bandingkan dengan penduduk usia lanjut yang telah matang sepenuhnya. Mengatasi berbagai permasalahan yang tersebar di 17.001 pulau tidaklah mudah (BPS).
Meskipun banyak yang menyuarakan opini negatif melalui setiap kebijakan yang dikeluarkan para pemimpin bangsa, tidak gampang para pemimpin Negara ini menyelesaikan satu persatu kemelut dari setiap permasalah tanpa adanya nilai nasionalisme dari rakyatnya dalam membantu membangun suatu negaranya sendiri. Bagaimana yang terdahulu dengan nilai-nilai kebersamaan senasib dan seperjuangan mampu dalam mengusir penjajah.
Sangat penting untuk menyadari bagaimana para pejuang terdahulu mengusir penjajah dengan senjata seadanya, bambu runcing sebagai senjata handalan. Perlu diingat bahwa bangsa ini tidak diberikan hadiah kemerdekaan, melainkan melalui perjuangan yang sangat gigih untuk merebut hak kemerdekaan.
Betapa banyak raga yang terbujur kaku, betapa banyak mimpi yang tersisa dengan kenangan hidup bersama dari dua insan, betapa banyak anak yatim yang ditinggal orang tua, dan begitu banyak lagi harapan yang hancur hanya demi satu kata “kemerdekaan”.
Kisah seorang pejuang yang bendera merah putihnya ditemukan penjajah, dipaksa menelannya dengan cara meminum air kelapa yang sudah tidak layak konsumsi, lalu dibawa ke sebuah lubang yang sudah direncanakan dan dihujani peluru hingga tewas, itulah kisah dua orang kakak beradik yang mengorbankan jiwa raga demi bangsa ini tanpa memikirkan anak dan istri yang ditinggalkan.
Mungkin cerita ini tidak dapat mewakili dari kesemua peristiwa yang terjadi, akan tetapi sedikit dapat membakar samangat kita untuk berjuang bukan mengangkat senjata memerangin penjajah lagi, tetapi berjuang dari tingkat ketidaktahuan dalam pelaksanaan dunia pendidikan.
Berpengaruhnya tinggkat pendidikan seseorang dapat mempengaruhi tingkat kemiskinan. Tingkat pendidikan yang rendah sudah jelas akan warga Negaranya dibawah garis kemiskinan. Dengan adanya pendidikan orang dapat berpikir dan berusahan untuk berkehidupan yang layak.
Upacara pengibaran bendera dalam rangka memperingati 80 tahun kemerdekaan Republik Indonesia tahun 2025, yang diselenggarakan di Kampus I San Agustin merupakan wujud nyata kecintaan terhadap kemerdekaan yang tercermin dalam dunia pendidikan tinggi. Dengan penuh kebanggaan, upacara berlangsung lancar dan khidmat.
Tantangan ke depan bukanlah persoalan suku, agama, ras, atau golongan, melainkan bagaimana kita, sebagai media, platform, maupun institusi, dapat melahirkan generasi muda yang tangguh dalam segala aspek permasalahan dunia nyata di Negeri ini sehingga dapat mewujudkan nilai-nilai rasa “Bersatu Berdaulat, Rakyat Sejahtera, Indonesia Maju”. Kampus San Agustin merupakan interpretasi nyata dari perwujudan miniatur Indonesia yang memiliki keberagaman suku, agama, ras, dan golongan di bawah naungan Keuskupan Agung Pontianak.*Jay
*Penulis adalah Dosen dan Kaprodi Pendidikan Jasmani Kesehatan dan Rekreasi di Universitas Katolik Santo Agustinus Hippo Kampus I Ngabang, Fakultas Keguruan dan ilmu Pendidikan (Ngabang Kabupaten Landak).




