Friday, June 5, 2026
More
    Home Blog Page 26

    Iman, Pendidikan, dan Hati Nurani

    Petuah dan Nasehat: Iman, Pendidikan, dan Hati Nurani - Penulis: Fernando Diansi dan Stepanus Agung – Mahasiswa FKIP San Agustin, Kampus I Landak.

    Duta, Landak | Dalam perjalanan hidup manusia, ada tiga hal yang selalu menjadi penompang moralitas dan kebijaksanaan seseorang yaitu Iman, Pendidikan, dan hati Nurani.

    Ketiganya bukan hanya konsep ringkasan, tetapi menjadi fondasi yang membentuk karakter arah hidup, serta kualitas hubungan manusia dengan dirinya sendiri, dengan sesama, dan dengan Tuhannya.

    Menurut Bruder Marsianus Suparmo. Cp, Iman memberikan arah spiritual, Pendidikan menawarkan pengetahuan dan kecakapan berpikir, semetara hati Nurani menjadi pengendali moral dalam Tindakan sehari-hari. Dalam konteks perekembangan zaman yang semangkin cepat, pergeseran nilai-nilai moral menjadi tantangan yang nyata. Oleh karena itu, petuah dan nasihat tentang tiga pilar ini menjadi sangat relevan untuk Kembali dihidupkan.

    1. Iman sebagai pondasi kehidupan

    Iman merupakan unsur fundamental dalam diri manusia yang mampu menuntun perilaku dan memberikan ketenangan batin. Dalam pandangan (Keenan, 2015),  Iman sebagai pondasi kehidupan berfungsi untuk membentuk hati Nurani yang tidak bersifat individualistis, melainkan inter subjektif yang selalu bertemu dengan yang lain, dialogis, memasuki solidaritas, dan tidak menerima intoleransi atau ketidakpedulian. Iman menjadi Cahaya yang membimbing manusia Ketika dihadapkan pada situasi sulit atau dilema moral.

    Pada era modern, banyak individu yang terjebak dalam kehidupan pragmatis sehingga memandang iman hanya sebagai identitas simbolis, bukan sebagai pendoman hidup. Seperti yang dijelaskan oleh (Armstrong et al., n.d.), iman Adalah pendorong utama untuk menembus hati Nurani agar menjadi agen moral yang bertanggung jawab, mewaspadai ancaman terhadap kemanusiaan, dan hidup dalam solidaritas.

    Ketika iman ditempatkan pada posisi yang benar, manusia dapat melihat hidup bukan hanya dari sudut padang materi, tetapi juga dari perspektif spiritual yang lebih mendalam. Iman yang kuat juga mampu menjaga manusia dari berbagai penyimpangan moral seperti tindak yang merugikan diri sendiri maupun orang lain.

    1. Pendidikan sebagai pembangun peradapan

    Selain iman, Pendidikan memiliki peran yang tidak kalah penting dalam membentuk karakter manusia. (Dewey, n.d.), menyatakan Pendidikan Adalah proses moral dan spiritual yang mendalam, yang melibatkan transformasi karakter agar seseorang mampu secara bertanggung jawab mengikuti dan mengamalkan nilai-nilai yang benar dalam kehidupan sehari-hari.

    Dalam era digital saat ini, informasi dapat diakses dengan mudah, tetapi kemampuan untuk memilah dan memahami informasi justru menjadi lebih menantang. Seperti yang dikemukan (Freire, n.d.), Pendidikan menjadikan umat beriman lebih kompeten more competent dalam menghayati dan melakukan kebenaran living and doing the truth.  Dengan Pendidikan yang tepat, individu tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga bijaksana dalam mengambil Keputusan.

    Pendidikan juga memainkan peran penting dalam karakter.  (Dwyer, 2011), menekankan bahwa Upaya moral yang fundamental dan seumur hidup “life long one” untuk menciptakan hati Nurani yang bertanggung jawab secara kolektif agar peradapan mampu menembus kesalahan historisnya dan bergerak menuju kebenaran dan keadilan yang utuh.

    Nilai-nilai yang bisa dilakukan seperti empati, kerja sama, dan kejujuran harus menjadi bagian intergral dari proses Pendidikan, bukan sekadar materi tambahan. Sayangnya, realitas menunjukan bahwa orientasi Pendidikan sering kalih lebih condong pada pencapaian nilai akademik ketimbang pembentukan karakter.

    Banyak pelajar yang berlomba-lomba meraih prestasi akademik tetapi mengabaikanetika dan intergritas. Oleh karena itu, nasihat tentang pentingnya menjunjung tinggi nilai-nilai moral dalam Pendidikan perlu terus disuarakan.

    1. Hati Nurani Sebagai Kompas Moral

    Setelah iman memberikan pondasi dan Pendidikan memberikan Pembangunan kecerdasan,hati Nurani menjadi Kompas moral yang mengarahkan Tindakan seseorang.hati Nurani Adalah suara batin yang mendorong manusia untuk memilih yang benar dan menghindari yang salah. (Journal & Hollenbach, 2022) mengambarkan hati Nurani menuntut kita unntuk memasuki solidadaritas dengan orang lain (enter into solidarity with other) namun, hati Nurani tidak akan berfungsi dengan baik apabila tidak dilatih dan diasah dari hal yang kecil, contohnya, ketika melihat seseorang sedang kesusahan, maka dengan hati Nurani kita yang sudah dilatih, jadi tergerak untuk membantunya.

    Dalam lingkungan keluarga, Pendidikan dan pengalaman hidup memaikan peran penting dalam membentuk kepekaan hati Nurani seseorang, (Warren & Scott, n.d.), menyatakan mengarahkan individu tidak hanya pada kebenaran pribadi, tetapi juga pada tanggung jawab dan keadilan kolektif.

    Oleh karena itu untuk berbuat baik tetapi potensi tersebut harus diasah melalui refleksi dan pembiasaan perilaku yang etis.

    Dalam lingkungan kampus yang semakin kompetitif dan materiallistis,hati Nurani sering kali ditutupi oleh ambisisi pribadi yang ingin Namanya ditinggikan dan selalu menang sendiri,jadi banyak orang mengetahui mana yang benar tetapi memilih jalan pintas demi keuntungan sesaat,disinilah pentingnya petuah yang selalu mengingatkan bahwa suara hati Nurani harus dihormati dan diikuti.ketikan manusia bertindak sesuai hati Nurani,ia tidak hanya menciptakan kebaikan bagi orang lain,tetapi juga merasakan kedamaian batin dalam dirinya sendiri.

    1. Keselarasan Antara Iman, Pendidikan, Dan Hati Nurani

    Ketiga unsur ini iman, Pendidikan, dan hati Nurani sebenarnya tidak dapat dipisahkan. Iman tanpa Pendidikan berisiko melahirkan pemahaman yang sempit, sementara Pendidikan tanpa iman dapat menghasilkan kecerdasan yang tanpa moral. Di sisi lain, hati Nurani tanpa bimbingan iman dan Pendidikan dapat tersesat oleh pengaruh lingkungan. (Isingi & Ouma, n.d.), menekankan bahwa iman Adalah yang memberikan kredibilitas pada hati nurani.

    Hati Nurani sejati bukanlah sekadar pendapat pribadi, melainkan iman yang dihayati dalam hati Nurani dan juga  mampu mengintegrasikan nilai-nilai spiritual, intelektual, dan moral dalam kehidupan sehari-hari.

    Kombinasi ketiganya akan melahirkan individu yang tidak hanya cerdas, tetapi juga beretika dan berempati. (Linacre, 2017), menegaskan bahwa iman menyediakan fondasi spiritual, Pendidikan menyediakan kemampuan untuk menerapkan fondasi tersebut, dan hati nurani Adalah mekanisme pengambilan Keputusan yang memimpin pada perwujudan hidup yang benar dan solider.  Petuah yang paling relevan bagi generasi saat ini Adalah pentingnya menjaga keseimbangan antara ketiga unsur tersebut.

    Dunia modern yang penuh tantangan membutuhkan manusia yang tidak hanya terampil, tetapi juga bermoral. Tanpa iman manusia mudah kehilangan arah, tanpa Pendidikan manusia sulit berkembang dan tanpa hati Nurani.

    Oleh sebab itu, intergrasi iman, Pendidikan,dan hati Nurani bukan hanya menjadi pedoman spiritual, tetapi juga strategi pembentukan karakter yang relevan bagi generasi masa kini dan mendatang.

    *Penulis: Fernando Diansi dan Stepanus Agung – Mahasiswa FKIP San Agustin, Kampus I Landak.

    Dosen: Lebih dari Sekadar Pengajar, Sang Pembentuk Karakter

    *Paulinus Jang, S.E.,M.M, Dosen Akademi Keuangan dan Perbankan Grha Arta Khatulistiwa Pontianak, Universitas Katolik Santo Agustinus Hippo, Kampus II.

    Duta, Pontianak | Ketika kita membayangkan seorang dosen, gambaran pertama yang muncul mungkin adalah seseorang di depan kelas, sibuk menjelaskan rumus, teori, atau studi kasus. Citra tersebut tidak salah, namun sangat tidak lengkap.

    Peran seorang dosen di perguruan tinggi sejatinya melampaui batas-batas kurikulum dan jam tatap muka. Menjadi dosen adalah sebuah panggilan untuk menjadi arsitek karakter dan sumber inspirasi bagi generasi penerus bangsa. Mereka bukan hanya menyampaikan ilmu, tetapi menanamkan fondasi untuk kehidupan yang profesional dan bermartabat.

    Seorang dosen memiliki tanggung jawab untuk mengajarkan “kurikulum tak tertulis” ini. Ini mencakup bagaimana berinteraksi dengan hormat, pentingnya mengakui sumber (anti-plagiarisme), ketepatan waktu, dan integritas dalam penelitian.

    Ketika seorang mahasiswa melihat dosennya bertindak dengan kejujuran akademik yang teguh misalnya, dengan memberikan nilai yang objektif dan menerima kritik konstruktif saat itulah pelajaran etika yang paling kuat tersampaikan. Dosen mengajarkan bahwa kecerdasan tanpa integritas adalah kehampaan.

    Penulis: Paulinus Jang, S.E.,M.M, Dosen Akademi Keuangan dan Perbankan Grha Arta Khatulistiwa

    Saya teringat ketika masih di bangku kuliah dulu, selama kuliah ada satu dosen yang perkataannya yang masih melekat di benak saya sampai saat ini “ kalau kamu jujur dan beretika, kemana saja kamu pergi kamu akan tetap dipakai orang” kata-kata itu sangat memotivasi pribadi saya hingga akhirnya saja juga menjadi dosen dan saya merasa saya punya tanggung jawab yang besar untuk memberi motivasi yang benar untuk mahasiswa saya.

    Dosen adalah perwujudan langsung dari profesi yang kelak akan digeluti mahasiswa. Jika seorang dosen datang terlambat, tidak siap, atau bersikap arogan, citra profesionalisme yang diajarkan akan hancur seketika. Sebaliknya, dosen yang menunjukkan kedisiplinan, semangat belajar seumur hidup (lifelong learning), dan kemampuan komunikasi yang matang menjadi ‘cetak biru’ yang hidup.

    Dosen harus menjadi bukti nyata bahwa ilmu yang mereka ajarkan benar-benar berguna dan membentuk pribadi yang unggul. Aksi lebih berpengaruh daripada kata-kata—ini adalah prinsip yang harus dipegang teguh oleh setiap akademisi.

    Dalam perjalanan pendidikan tinggi, tidak jarang mahasiswa menghadapi titik jenuh, kegagalan, atau keraguan akan masa depan. Di sinilah peran dosen bertransformasi menjadi seorang mentor dan motivator ulung.

    Seorang dosen yang hebat tahu bagaimana melihat potensi tersembunyi, bahkan di balik IPK yang kurang memuaskan. Mereka tidak hanya mengajar untuk lulus ujian, tetapi untuk menghadapi realitas dunia kerja dan kehidupan.

    Dokumentasi, Paulinus Jang, S.E.,M.M

    Mereka memotivasi dengan menceritakan pengalaman jatuh bangun mereka, mendorong mahasiswa untuk berani mengambil risiko, dan mengajarkan bahwa kegagalan adalah bagian dari proses menuju penemuan diri.

    Intinya, di tengah era digital dan kemudahan akses informasi, pekerjaan seorang dosen tidak akan pernah tergantikan oleh teknologi. Mesin dapat menyampaikan informasi, tetapi hanya manusia yang berkarakter yang dapat menanamkan nilai, menginspirasi, dan menjadi teladan.

    Tanggung jawab ini menuntut dosen untuk terus mengasah diri, tidak hanya dalam keilmuan mereka, tetapi juga dalam kualitas pribadi. Karena di setiap ruang kelas, yang terjadi bukanlah sekadar transfer ilmu, melainkan proses regenerasi peradaban yang memerlukan sosok-sosok paripurna sebagai pemandunya.

    *Paulinus Jang, S.E.,M.M, Dosen Akademi Keuangan dan Perbankan Grha Arta Khatulistiwa Pontianak, Universitas Katolik Santo Agustinus Hippo, Kampus II.  

    Meng-ekstrak Kepedulian akan Pendidikan di Pedalaman Landak

    Dokumentasi Dosen PBI yang mengajar Bahasa Inggris dengan melempar bola belajar memperkenalkan diri sambil bermain tangkap dan melempar bola, (13/11/2025).

    Duta, Pontianak | Pengadian Kepada Masyarakat (PKM), Penelitian Dosen dan Mahasiswa Pendidikan Bahasa Inggris hari ini telah usai terlaksana di salah satu SD terpencil Kabupaten Landak.

    Setelah menempuh perjalanan yang cukup melelahkan, sampailah dosen dan mahasiswa Pendidikan Bahasa Inggris (PBI) Universitas Katolik Santo Agustinus Hippo (San Agustin), Kampus I, di salah satu SD terpencil di Kabupaten Landak, pada Kamis, 13 November 2025.

    Sekolah Dasar (SD) Negeri Toho Raba yang awalnya kekurangan tenaga guru dan berkat kerja sama  antara SD Toho Raba dan FKIP San Agustin bersama dua alumni FKIP dari prodi PBI dan PJKR menjadi jalan untuk membantu (menjadi tenaga pengajar) di SD tersebut.

    Dosen Pendidikan Bahasa Inggris (PBI), Tuminah, M.Pd, didampingi dua mahasiswa PBI Alberta Ranisa Sala dan Is Sandra Rio – telah melakukan PKM sekaligus penelitian dengan tajuk ‘Pengembangan Games’ untuk meningkatkan motivasi siswa Sekolah Dasar Negeri 19 yang berada di daerah terpencil di Kabupaten Landak.

    Dokumentasi mahasiswa PBI saat mengajar siswa SD daerah terpencil dengan Permainan Simon Says, Siswa menyentuh anggota badan mereka sesuai perintah Simon yang diwakili Mahasiswa (13/11/2025)

    Sekolah yang tadinya hanya diajar oleh tiga guru, kini menjadi 7 guru ditambah alumni FKIP dari prodi PJKR dan PBI.

    Tuminah menekankan bahwa semangat kepedulian untuk mengajar di SD terpencil merupakan kebahagian.

    Anak SD pada dasarnya memiliki gaya dan cara belajar yang berbeda, ini tentunya sangat menyenangkan bagi siswa. Menurut pengamatan Tumiah, siswa-siswi SD di sekolah terpencil itu terlihat lebih semangat Ketika Dosen dan Mahasiswa PBI mengajar dengan menggunakan permainan permainan yang diramu dengan unik.

    “Yang kami bagikan ke anak-anak dan guru guru SD terpencil itu adalah media pembelajaran bahasa Inggris yang menarik,” kata Tuminah, (13/11).

    Foto Bersama guru guru SD Negeri Toho Raba Bersama Tim Peneliti dan PKM dari San Agustin setelah selesai melakukan PKM dan Penelitian (13/11/2025).

    Dia juga menggarisbawahi bahwa kepedulian akan pendidikan di daerah (terpencil) mesti menjadi keutamaan. Maksudnya, semangat kepedulian akan pendidikan yang sejati justru mesti dimulai dari pinggiran, tujuannya jelas yakni memajukan pendidikan dan kesetaraan.

    “Harapan saya sebagai pendidik, mari kita peduli dengan anak anak kita yang berada di daerah terpencil, karena kalau bukan kita sebagai pendidik, siapa lagi yang peduli dengan anak anak kita di daerah terpencil ini,” tulisnya dalam via WA pada redaksi Duta, (Kamis, 13/11/2025).

    Baginya, untuk meng-ekstrak kepedulian akan pendidikan dengan terjun ke pedalaman merupakan sebuah jejak – jalan yang mesti ditempuh (dirasakan) oleh seorang pendidik.

    “Melihat semangat mereka untuk lebih ber-semangat dalam belajar bahasa Inggris dan mata pelajaran yang lain menoreh kesan yang memuaskan. Anak-anak yang ikut kegiatan itu selain menyukai mata pelajaran Bahasa Inggris – tentunya diharapkan juga menyukai semua mata pelajaran,” maksud Tuminah, (13/11/2025). Semoga!!! *Sam.

    Pencegahan dan Penanganan Terhadap Sindrom Dispepsia

    Oleh : Given Kineas - Email: givenkineas@gmail.com Keperawatan – Fakultas kesehatan Universitas Katolik Santo Agustinus Hippo

    Pontianak, Duta | Sindrom dispepsia bisa kita lihat sebagai masalah pada saluran pencernaan bagian atas, yang sering dialami oleh pasien di layanan kesehatan primer dan juga mereka yang dirujuk ke spesialis.

    Penyebabnya sangat beragam, mulai dari masalah organik akibat infeksi bakteri Helicobacter pylori sampai gangguan fungsional. Penelitian ini mencoba memberikan panduan kepada masyarakat tentang langkah terbaik untuk mencegah dan mengatasi dispepsia di Indonesia, berdasarkan kesepakatan para ahli.

    Metodenya melibatkan proses konsensus yang mencakup tinjauan literatur yang dibahas oleh panel ahli, dengan fokus pada bukti ilmiah terkini dan praktik klinis yang sesuai.

    Data dikumpulkan lewat kajian sistematis literatur serta diskusi multidisiplin yang melibatkan ahli gastroenterologi, mikrobiologi, farmakologi, dan kesehatan masyarakat.

    Berdasarkan konsensus tersebut, penting untuk menerapkan strategi stratifikasi risiko saat diagnosis; terapi eradikasi disarankan untuk pasien yang terinfeksi H. pylori, plus dorongan menjalani gaya hidup sehat agar tidak kambuh.

    Sulit memang mencapai kesepakatan penuh soal penanganan terbaik untuk dispepsia fungsional yang bukan karena H. pylori, tapi terapi empiris untuk mengurangi sekresi asam lambung ternyata cukup efektif dalam meredakan gejala.

    Intinya, pencegahan dan pengobatan dispepsia perlu dilakukan secara menyeluruh, dengan mempertimbangkan penyebabnya, pola hidup, dan faktor lainnya.

    Latar Belakang

    Dispepsia adalah salah satu masalah pencernaan paling umum yang dihadapi orang, dengan indikator utamanya berupa nyeri, kembung, atau bahkan ketidaknyamanan di daerah ulu hati. Tanpa gangguan struktural yang jelas, masalah ini dapat diatasi dengan berbagai pendekatan, baik secara organisasional maupun fungsional.

    Ciri dispepsia di Indonesia masih cukup luas, yang mengganggu kualitas hidup masyarakat dan menyebabkan penurunan ekonomi dalam sistem kesehatan.

    Kepentingan penelitian ini terletak pada perlunya pedoman nasional yang dapat dijadikan acuan bagi tenaga kesehatan dalam melakukan diagnosis dan terapi dispepsia.

    Terdahulu, tidak terdapat panduan lokal yang menyatukan berbagai penemuan ilmiah terbaru mengenai penanganan Helicobacter pylori dan dispepsia fungsional di Indonesia, meskipun, beragam pola penyakit dan resistensi antibiotik di Indonesia berbeda dengan negara lain, makanya diperlukan pendekatan berbasis konteks lokal.

    Gaya hidup, seperti mengonsumsi makanan berlemak, alkohol, dan kafein, serta stres emosional, turut berkontribusi pada munculnya gejala dispepsia.

    Oleh karena itu, pengobatan dan pencegahan dispepsia tidak hanya melibatkan penggunaan obat-obatan, tetapi juga melibatkan perubahan gaya hidup pasien dan instruksi mereka tentang cara mengurangi faktor risiko.

    Tujuan utama penelitian ini adalah untuk membuat rekomendasi berbasis konsensus yang mencakup elemen diagnosis, pencegahan, dan terapi dispepsia dengan mempertimbangkan kondisi populasi Indonesia.

    Diperlukan pedoman ini akan berfungsi sebagai dasar untuk praktik klinis, kebijakan kesehatan, dan penelitian lanjutan dalam bidang gastroenterologi.

    Kajian Teori

    Dispepsia organik umunya disebabkan oleh gangguan struktural seperti tukak lambung, refluks gastroesofagus, atau infeksi H. pylori. sementara dispepsia fungsional terjadi tanpa temuan organik yang jelas tetapi memunculkan gejala yang mirip.

    Bagi Rome IV Criteria, diagnosis dispepsia fungsional dipastikan apabila gejala tetap tanpa sebab organik setelah pemeriksaan endoskopi kepada penderita.

    Helicobacter pylori merupakan bakteri mempunyai peran yang sangat penting dalam patogenesis dispepsia, gastritis, dan kanker lambung. Penularan bakteri ini terjadi lewat jalur oral maupun fekal- oral.

    Penelitian sebelumnya menunjukkan bahwa eradikasi H. pylori dapat memperbaiki gejala dispepsia pada sebagian besar penderita dan menurunkan resiko kekambuhan penyakit tukak peptikum.

    Beberapa penelitian terdahulu, seperti yang dilakukan oleh Ford et angkatan laut (AL).( 2020), menemukan bahwa pengobatan eradikasi H. pylori lebih efektif dibandingkan pengobatan simptomatik jangka panjang.

    Selain itu, penggunaan proton pump inhibitor (PPI) menjadi salah satu pendekatan utama dalam pengobatan dispepsia fungsional untuk menekan sekresi asam lambung dan memperbaiki gejala.

    Kajian teori ini memfokuskan pentingnya intervensi non- farmakologis, seperti pengaturan pola makan, mengelola stress, dan edukasi kepada penderita.

    Faktor- faktor psikologis seperti kecemasan dan depresi terbukti berperan dalam memperburuk gejala dispepsia. karena itu, manajemen dispepsia yang efektif harus bersifat multidimensional, meliputi faktor biologis, psikologis, dan sosial.

    Metode Penelitian

    Dengan menggabungkan bukti ilmiah terkini dan pengalaman klinis, penelitian ini menggunakan strategi pembangunan konsesus. Jenis penelitian kualitatif yang bersifat deskriptif-analitis dan berpusat pada pembuatan rekomendasi berbasis bukti.

    Panel ahli nasional yang terdiri dari dokter spesialis penyakit dalam, ahli gastroenterologi, mikrobiolog, dan farmakolog klinis bertanggung jawab atas proses konsensus.

    Data dikumpulkan melalui peninjauan sistematis pustaka dari berbagai database ilmiah, seperti PubMed, Scopus, dan Perpustakaan Cochrane. Dalam sepuluh tahun terakhir, penelitian tentang pencegahan, diagnosis, dan terapi dispepsia serta eradikasi H. pylori telah ditinjau. Studi klinis, meta-analisis, dan pedoman internasional yang relevan dengan kondisi di Indonesia .

    Analisis data dilakukan dengan mengidentifikasi kesamaan hasil penelitian dan menilai tingkat bukti ilmiah berdasarkan standar Oxford Centre for Evidence-Based Medicine. Hasil telah kemudian dibahas melalui serangkaian pertemuan panel untuk mencapai konsensus yang valid dan dapat diterapkan secara nasional.

    Hasil dan Pembahasan

    Studi ini menunjukkan bahwa H. pylori masih menjadi salah satu penyebab utama dispepsia di Indonesia, karena infeksi ini sangat umum di masyarakat. Oleh karena itu, pendekatan pencegahan berkonsentrasi pada deteksi dan eliminasi bakteri sejak dini melalui pemeriksaan non-invasif seperti tes napas urea atau tes antigen feses.

    Disepakati bahwa, dalam hal penanganan, pengobatan eradikasi H. pylori harus diprioritaskan pada pasien dengan hasil uji positif. Jika terjadi resistensi antibiotik, disarankan untuk memulai dengan regimen pengobatan tiga obat (PPI, amoksisilin, dan klaritromisin), sementara pengobatan empat obat dengan bismut menjadi alternatif. Pola resistensi lokal harus menjadi dasar pengujian penyesuaian pengobatan.

    Pengobatan empiris dengan PPI selama 4–8 minggu terbukti menurunkan gejala bagi penderita dispepsia fungsional tanpa infeksi H. pylori. Dengan jangka panjang, pencegahan juga direkomendasi melalui perubahan gaya dan pola hidup, seperti menghindari makanan berlemak, berhenti merokok, dan mengelola stres. Edukasi penderita sangat penting untuk meningkatkan kepatuhan terhadap pengobatan dan mengurangi kekambuhan.

    Penemuan penelitian ini sejalan dengan temuan studi internasional yang menekankan bahwa eradikasi H. pylori dan pengobatan PPI memainkan peran penting dalam pengobatan dispepsia. Namun, konsensus ini menambah manfaat penting karena rekomendasi disesuaikan dengan keadaan epidemiologis dan ketersediaan fasilitas di Indonesia.

    Oleh karena itu, pendekatan terbaik untuk mencegah dan menangani dispepsia adalah pendekatan yang komprehensif dan berlapis, yang melibatkan penggunaan obat, pengendalian infeksi, dan instruksi tentang gaya hidup sehat untuk individu dan masyarakat.

    Kesimpulan

    Penelitian ini menyimpulkan bahwa pencegahan dan penanganan sindrom dispepsia memerlukan pendekatan multidimensional yang mencakup diagnosis akurat, pengobatan eradikasi H. pylori, dan modifikasi gaya hidup.

    Kesepakatan nasional tahun 2022 memberikan panduan berbasis fakta yang sesuai dengan kondisi lokal Indonesia, tercantum dalam menghadapi tantangan resistensi antibiotik.

    Dengan pelaksanaan ini diharapkan dispepsia di Indonesia menjadi lebih efektif serta terstandarisasi, dan sanggup menurunkan angka kekambuhan serta meningkatkan kualitas hidup penderita.

    Saran

    Penelitian lanjutan disarankan guna mengevaluasi efektivitas jangka panjang pengobatan eradikasi H. pylori di berbagai daerah Indonesia dengan memikirkan alterasi resistensi antibiotik. Tidak hanya itu, butuh dicoba intervensi edukatif berbasis komunitas buat tingkatkan pemahaman warga tentang faktor resiko serta pencegahan dispepsia.

    DAFTAR PUSTAKA

    Syam, A. F., Miftahussurur, M., Makmun, D., Simadibrata, M., Abdullah, M., & dkk. (2023). Management of dyspepsia and Helicobacter pylori infection: The 2022 Indonesian Consensus Report. Gut Pathogens, 15(25). https://doi.org/10.1186/s13099-023-00551-2

    Ford, A. C., Moayyedi, P., & Chey, W. D. (2020). Treatment of functional dyspepsia: An evidence-based review. Gastroenterology, 158(3), 763–778.

    *Penulis: Given Kineas | Email: givenkineas@gmail.com – Keperawatan – Fakultas kesehatan Universitas Katolik Santo Agustinus Hippo

    Cara Mengatasi Alergi Musiman dan Gejala yang Muncul

    Novelia Napara - UKM Club Study Night, Falkutas Kesehatan Universitas Katolik Santo Agustinus Hippo.

    Duta, Pontianak | Setiap kali musim berganti, setiap orang merasakan sensasi yang tidak nyaman seperti hal nya hidung tersumbat, sesak nafas, bersin tanpa henti, mata berair, tenggorokan merasa gatal, dan tubuh terasa lemas. Jika sudah pernah mengalami hal tersebut bisa jadi anda mengalami alergi musiman.

    Alergi jenis ini sering muncul di saat-saat tertentu, seperti musim hujan atau pun disaat panas terik. Walau tampak sepele, alergi musiman sangat mengganggu aktivitas sehari hari bahkan menurunkan kualitas hidup seseorang.

    Artikel ini akan membahas lengkap tentang apa itu alergi musiman, apa saja gejalanya, faktor penyebabnya, serta cara mengatasinya agar anda tetap sehat dan produktif sepanjang hidup.

    Apa itu alergi musiman?

    Alergi musiman adalah reaksi berlebihan dari sistem kekebalan tubuh terhadap zat-zat yang sebenarnya tidak berbahaya, seperti jamur udara, atau debu. Tubuh salah mengenal zat tersebut sebagai ancaman, lalu melepaskan histamin-zat kimia yang memicu gejala seperti bersin, hidung tersumbat, dan mata gatal.

    Kondisi ini dikenal juga dengan istilah hay fever atau rhinitis alergi musiman. Alergi musiman bisa terjadi di berbagai waktu tergantung pada lingkungan dan jenis alergi di sekitar kita.

    Contohnya:

    • Musim kemarau: serbuk sari tanaman dan debu udara meningkat.
    • Musim hujan: jamur, udara lembab, dan tungau berkembang biak lebih cepat.
    • Musim peralihan: perubahan suhu dan dingin membawa partikel memicu alergi.

    Gejala Alergi Musiman

    Setiap orang bisa mengalami gejala yang berbedaa tergantung tingkat kepekaannya. Namun, tanda-tanda umum alergi musiman meliputi:

    • Bersin berulang kali, terutama di pagi hari
    • Hidung tersumbat atau berair
    • Mata gatal, merah, dan berair
    • Tenggorokan atau telinga terasa gatal
    • Batuk kering, terutama di malam hari
    • Lelah dan sulit tudur akibat sesak nafas

    Pada beberapa orng, alergi bisa juga memicu asma, menyebabkan sesak napas atau dada terasa berat.

    Penyebab dan Faktor Pemicu

    Beberapa faktor yang dapat memicu alergi musiman antara lain:

    1. Debu dan tungau

    Hidup di karpet, kasur, dan perabot rumah. Tungau berkembang pesat saat kelembapan tinggi.

    1. Jamur udara

    Spora jamur mudah menyebar di tempat lembab seperti kamar mandi, dapur, atau dinding yang berjamur.

    1. Bulu hewan peliharaan

    Protein dalam air liur dan serpihan kulit hewan (dander) dapat menjadi alergen bagi sebagian orang.

    1. Perubahan cuaca

    Fulktuasi suhu yang buruk memperparah reaksi pada saluran napas.

    Cara Mengatasi dan Mencegah Alergi Musiman

    Ada beberapa langkah efektif dalam mengendalikan alergi musiman:

    1. Hindari dan Kendalikan Pemicu

    – Gunakan masker saat beraktifitas di luar ruangan.

    – Setelah berpergian, segera ganti pakaian dan mandi untuk menghilangkan partikelalergen.

    1. Jaga Kebersihan Lingkungan

    – Rutin bersihkan rumah terutama karpet, sofa, dan gorden.

    – Cuci sprai dan sarungbantal minimal seminggu sekalidengan air panas.

    1. Gunakan Obat Antilergi

    Jika gejala tak kunjung reda, obat antihistamini dapat membantu mengurangi bersin’ hidung meler, dan mata gatal.

    1. Perkuat Daya Tahan Tubuh

    Langkah yang bida dilakikan:

    – Konsumsi makanan tinggi vitamin C seperti jeruk, kiwi, dan paprika.

    – Perbanyak sayur dan buah kaya antioksidan.

    – Minum air putih cukup setiap hari.

    – Tidyr minimal 7-8 jam per hari.

    – Rutin berolahraga.

    1. Coba Terapi Imun (imunoterapi)

    Untuk alergi yang sering kambuh, dokter dapat merekomendasikan imunnoterapi, yaitu pemberian dosis kecil alergen secara bertahap agar tubuh terbiasa dan tidak bereksi berlebih. Terapi ini dapat dilakukan dalam bentuk suntikan atau tablet sublingual (diletakan di bawah lidah).

    Kesimpulan

    Tubuh yang sehat dimulai dari lingkungan yang bersih dan pola hidup seimbang. Jangan biarkan alergi musiman menghambat produktivitasmu hadapi dengan bijak, dan nikmati setiap pergantian musimdengan penuh energi.

    *Penulis: Novelia NaparaUKM Club Study Night, Falkutas Kesehatan Universitas Katolik Santo Agustinus Hippo.

    Bahaya Makanan Cepat Saji Bagi Kesehatan Jangka Panjang

    Anjelina Octavia Sumarni – DIII Keperawatan (Semester 1) Universitas Katolik Santo Agustinus Hippo, Kampus II Pontianak.

    Duta, Pontianak | Perkembangan zaman yang semakin modern telah membawa banyak perubahan dalam gaya hidup manusia, termasuk dalam pola konsumsi makanan. Di tengah kesibukan dan tuntutan hidup yang serba cepat, masyarakat cenderung memilih sesuatu yang praktis dan mudah diperoleh, salah satunya adalah makanan cepat saji atau fast food.

    Keberadaan restoran cepat saji kini dapat ditemukan hampir di setiap sudut kota, bahkan di daerah kecil sekalipun.

    Fenomena ini menunjukkan bahwa makanan cepat saji telah menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan modern, terutama bagi kalangan remaja, mahasiswa, dan pekerja kantoran yang memiliki mobilitas tinggi.

    Namun, di balik kepraktisannya, makanan cepat saji menyimpan bahaya yang serius bagi kesehatan apabila dikonsumsi secara berlebihan dan terus-menerus dalam jangka panjang.

    Kandungan gizi yang tidak seimbang—tinggi kalori, lemak jenuh, gula, dan garam, namun rendah serat dan vitamin—menjadi penyebab utama berbagai gangguan kesehatan. Masyarakat sering kali mengabaikan aspek kesehatan demi kelezatan dan kepraktisan, tanpa menyadari dampak yang mungkin timbul di kemudian hari.

    Kandungan Gizi dan Bahaya Tersembunyi dalam Makanan Cepat Saji

    Makanan cepat saji umumnya melalui proses pengolahan yang panjang, termasuk digoreng dengan minyak berulang kali, diberi bahan pengawet, serta tambahan penyedap rasa agar tahan lama dan menarik minat konsumen.

    Proses tersebut menyebabkan hilangnya banyak kandungan gizi penting. Sebagai gantinya, makanan ini justru mengandung zat-zat yang tidak baik bagi tubuh.

    Sebagai contoh, satu porsi ayam goreng cepat saji dan kentang goreng bisa mengandung lebih dari setengah kebutuhan kalori harian seseorang, ditambah kadar garam yang melampaui batas aman harian yang direkomendasikan oleh WHO (Organisasi Kesehatan Dunia).

    Asupan garam berlebih dapat memicu tekanan darah tinggi, sedangkan lemak jenuh dan kolesterol yang tinggi dapat mempercepat penumpukan plak pada pembuluh darah, yang menjadi pemicu utama penyakit jantung dan stroke.

    Selain itu, kadar gula dalam minuman cepat saji seperti soft drink atau minuman bersoda juga sangat tinggi. Konsumsi gula berlebih secara terus-menerus dapat menyebabkan peningkatan kadar glukosa darah, yang pada akhirnya memicu diabetes melitus tipe 2.

    Tidak hanya itu, kandungan trans fat (lemak trans) yang sering ditemukan pada makanan cepat saji dapat menurunkan kadar kolesterol baik (HDL) dan meningkatkan kolesterol jahat (LDL), memperbesar risiko penyakit kardiovaskular.

    Dampak Jangka Panjang terhadap Kesehatan

    Konsumsi makanan cepat saji dalam jangka panjang terbukti dapat menimbulkan berbagai penyakit degeneratif.

    Penelitian menunjukkan bahwa seseorang yang sering mengonsumsi makanan cepat saji memiliki risiko obesitas dua kali lipat dibandingkan mereka yang jarang mengonsumsinya.

    Obesitas menjadi pintu masuk bagi banyak penyakit kronis lainnya, seperti diabetes, hipertensi, dan penyakit jantung.

    Selain itu, kebiasaan mengonsumsi makanan cepat saji juga dapat memengaruhi kesehatan mental.

    Beberapa studi menunjukkan bahwa pola makan tinggi lemak dan gula dapat meningkatkan risiko depresi dan gangguan kecemasan. Hal ini disebabkan oleh ketidakseimbangan zat kimia otak akibat pola makan yang buruk.

    Dalam jangka panjang, makanan cepat saji juga berpengaruh pada sistem pencernaan. Rendahnya kadar serat dalam makanan tersebut menyebabkan gangguan seperti sembelit dan menurunnya fungsi usus.

    Bahkan, beberapa penelitian mengaitkan konsumsi makanan cepat saji yang berlebihan dengan peningkatan risiko kanker, khususnya kanker usus besar, karena tingginya bahan kimia tambahan dan proses penggorengan pada suhu tinggi.

    Pengaruh terhadap Gaya Hidup dan Pola Makan

    Masalah yang muncul dari konsumsi makanan cepat saji tidak hanya berkaitan dengan aspek gizi, tetapi juga memengaruhi perilaku makan masyarakat.

    Banyak orang menjadi terbiasa memilih makanan instan dan cepat saji dibandingkan makanan rumahan yang lebih sehat.

    Gaya hidup seperti ini menyebabkan menurunnya kebiasaan mengonsumsi sayur, buah, dan makanan alami lainnya yang kaya serat dan nutrisi.

    Selain itu, faktor promosi dan iklan dari perusahaan makanan cepat saji juga sangat memengaruhi pola pikir masyarakat, terutama anak-anak dan remaja.

    Iklan yang menampilkan makanan cepat saji sebagai sesuatu yang keren, praktis, dan modern mendorong minat konsumsi sejak usia dini. Tanpa disadari, hal ini membentuk pola makan tidak sehat yang terbawa hingga dewasa.

    Upaya Pencegahan dan Kesadaran Masyarakat

    Untuk mengurangi dampak negatif dari makanan cepat saji, diperlukan kesadaran dan perubahan perilaku masyarakat. Pemerintah bersama lembaga kesehatan perlu meningkatkan edukasi gizi, khususnya kepada generasi muda. Edukasi tersebut dapat dilakukan melalui sekolah, kampanye kesehatan, dan media sosial.

    Selain itu, masyarakat juga perlu mulai menerapkan pola makan seimbang dengan memperbanyak konsumsi sayur, buah, dan air putih.

    Mengurangi frekuensi makan di restoran cepat saji serta memilih makanan yang dimasak sendiri di rumah menjadi langkah awal menuju hidup yang lebih sehat.

    Restoran cepat saji pun diharapkan dapat lebih bertanggung jawab dengan menyediakan pilihan menu yang lebih sehat, seperti makanan rendah garam, lemak, dan gula.

    Kesimpulan

    Makanan cepat saji memang menawarkan kepraktisan dan rasa yang lezat, namun konsumsi berlebihan dalam jangka panjang dapat membawa dampak serius bagi kesehatan.

    Berbagai penyakit kronis seperti obesitas, diabetes, hipertensi, dan penyakit jantung menjadi ancaman nyata akibat pola makan tidak seimbang. Oleh karena itu, penting bagi setiap individu untuk bijak dalam memilih makanan dan memperhatikan asupan gizi harian.

    Kesehatan merupakan investasi jangka panjang yang tidak dapat digantikan oleh kelezatan sesaat.

    Dengan meningkatkan kesadaran dan disiplin dalam pola makan, masyarakat dapat terhindar dari bahaya laten yang ditimbulkan oleh makanan cepat saji dan menjalani kehidupan yang lebih sehat serta produktif.

    *Penulis: Anjelina Octavia Sumarni – DIII Keperawatan (Semester 1) Universitas Katolik Santo Agustinus Hippo, Kampus II Pontianak.

    Gaya Hidup Sehat di Era Modern

    Selvani Elsa – DIII Keperawatan, Universitas Katolik Santo Agustinus Hippo, Kampus II Pontianak.

    Duta, Pontianak | Gaya hidup sehat merupakan bentuk usaha untuk menjaga keseimbangan fisik, mental, dan sosial agar individu dapat hidup produktif serta terhindar dari penyakit.

    Di era modern yang serba cepat dan penuh tekanan, penerapan gaya hidup sehat menjadi tantangan tersendiri bagi masyarakat. Kemajuan teknologi, urbanisasi, serta perubahan pola kerja dan konsumsi membuat banyak orang kurang memperhatikan kesehatannya.

    Tantangan utama meliputi rendahnya aktivitas fisik, kebiasaan mengonsumsi makanan cepat saji, stres akibat tekanan pekerjaan, dan ketergantungan pada teknologi digital. Meski demikian, solusi tetap tersedia melalui peningkatan kesadaran kesehatan, penerapan pola makan bergizi, pengelolaan stres yang baik, dan dukungan lingkungan yang mendukung perilaku sehat.

    Dengan komitmen pribadi serta dukungan sosial, gaya hidup sehat tetap dapat dijalankan meski di tengah kompleksitas kehidupan modern.

    Pendahuluan

    Kemajuan zaman membawa dampak besar terhadap pola hidup manusia. Di satu sisi, teknologi mempermudah aktivitas seperti bekerja, belajar, dan berkomunikasi. Namun di sisi lain, kemudahan tersebut juga menimbulkan tantangan baru bagi kesehatan.

    Penurunan aktivitas fisik, pola makan tidak seimbang, dan tekanan pekerjaan yang meningkat menjadi penyebab utama menurunnya kualitas hidup. Oleh karena itu, penerapan gaya hidup sehat menjadi kebutuhan penting agar kesejahteraan fisik dan mental tetap terjaga.

    Metode Penelitian

    Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode deskriptif. Pendekatan ini dipilih karena tujuan penelitian adalah untuk menggambarkan secara mendalam perilaku, pola pikir, serta tantangan masyarakat dalam menerapkan gaya hidup sehat di tengah perkembangan zaman yang serba cepat. Pendekatan deskriptif kualitatif memungkinkan peneliti memahami fenomena sosial berdasarkan pengalaman langsung partisipan, bukan sekadar angka atau data statistik.

    Data sekunder, yakni data yang bersumber dari buku, jurnal ilmiah, artikel kesehatan, serta laporan dari lembaga resmi yang relevan dengan topik penelitian ini.

    Hasil dan Pembahasan

    1. Gambaran Umum Gaya Hidup Sehat di Era Modern

    Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar responden telah memahami arti penting menjaga kesehatan, seperti mengonsumsi makanan bergizi, rutin berolahraga, dan beristirahat cukup. Meskipun demikian, penerapan gaya hidup sehat belum sepenuhnya konsisten karena faktor kesibukan, tekanan pekerjaan, serta pengaruh lingkungan sosial.

    Masyarakat di era modern cenderung memilih aktivitas yang praktis dan cepat, termasuk dalam hal makanan dan gaya hidup sehari-hari. Banyak individu mengaku lebih sering mengonsumsi makanan siap saji dan menghabiskan waktu di depan layar gawai. Walau begitu, kesadaran terhadap pentingnya hidup sehat mulai meningkat, terbukti dari tingginya minat terhadap program kebugaran, makanan organik, dan aplikasi kesehatan digital yang membantu memantau kondisi tubuh.

    1. Tantangan Gaya Hidup Sehat di Era Modern

    1.Kurangnya Aktivitas Fisik

    Banyak individu menghabiskan sebagian besar waktunya di depan layar komputer, menggunakan kendaraan pribadi, dan jarang berolahraga. Pola hidup sedentari ini meningkatkan risiko penyakit tidak menular seperti obesitas, diabetes, dan hipertensi (WHO, 2022).

    2.Pola Makan Tidak Seimbang

    Kesibukan dan tuntutan waktu membuat masyarakat lebih memilih makanan cepat saji yang tinggi lemak, garam, dan gula. Kebiasaan ini berpotensi memicu gangguan metabolik dan penyakit kronis (Rahmawati, 2021).

    3.Tingkat Stres yang Tinggi

    Tekanan dari pekerjaan, tuntutan sosial, dan faktor ekonomi menjadikan stres bagian dari kehidupan sehari-hari. Jika tidak dikelola dengan baik, kondisi ini dapat menimbulkan gangguan psikologis seperti depresi dan gangguan tidur (Kemenkes RI, 2023).

    4 Ketergantungan Teknologi

    Penggunaan gawai secara berlebihan dapat mengurangi interaksi sosial, mengganggu kualitas tidur, dan menimbulkan masalah postur tubuh (Nugroho & Lestari, 2020).

    1. Solusi untuk Menerapkan Gaya Hidup Sehat

    1.Menjaga Pola Makan Seimbang

    Mengonsumsi makanan bergizi yang mencakup karbohidrat kompleks, protein tanpa lemak, sayur, dan buah-buahan sangat penting untuk memenuhi kebutuhan energi dan nutrisi tubuh.

    2.Melakukan Aktivitas Fisik Secara Rutin

    Aktivitas seperti berjalan kaki, yoga, atau bersepeda selama minimal 30 menit per hari dapat meningkatkan kebugaran fisik dan menjaga kesehatan jantung.

    3.Mengelola Stres dan Istirahat yang Cukup

    Meditasi, berlibur, atau menjalankan hobi dapat menjadi cara efektif mengurangi stres. Tidur selama 7–8 jam per malam juga penting untuk memulihkan kondisi tubuh.

    4.Pemanfaatan Teknologi Secara Bijak

    Teknologi sebaiknya digunakan untuk mendukung kesehatan, misalnya melalui aplikasi kebugaran, pengingat minum air, atau platform meditasi online.

    5.Dukungan Lingkungan dan Kebijakan Publik

    Peran pemerintah dan masyarakat diperlukan untuk menciptakan lingkungan yang mendukung gaya hidup sehat, seperti penyediaan taman, jalur olahraga, dan edukasi publik tentang pentingnya kesehatan.

    Kesimpulan

    Menjalani gaya hidup sehat di era modern membutuhkan kesadaran, kedisiplinan, dan dukungan dari lingkungan sekitar. Tantangan seperti kurangnya aktivitas fisik, stres, serta pola makan tidak seimbang dapat diatasi melalui

    pengelolaan diri yang baik dan pemanfaatan teknologi secara positif. Dengan menyeimbangkan kemajuan teknologi dan kesehatan, masyarakat dapat hidup lebih produktif, bahagia, dan berkualitas di tengah arus modernisasi.

    *Penulis: Selvani Elsa – DIII Keperawatan, Universitas Katolik Santo Agustinus Hippo, Kampus II Pontianak.

    Studi Transisi Abad Kurikulum 1994 dan 2004 (KBK)

    Gambar. Ilustrasi 1994 dan 2004 (Sumber: gemini.google.com)

    Duta, Landak | Identifikasi pendidikan sebagai bagian kecil dari perkembangan suatu negara adalah hal yang umum. Coba bayangkan betapa lebih berharganya itu. Dengan penerapan kurikulum baru, seseorang mungkin berpikir tentang menggerakkan transmisi sistem dalam kendaraan.

    Dengan demikian, kecepatan dan arah sepenuhnya diubah. Selama dua dekade terakhir abad ke-20 dan dekade pertama abad ke-21, Indonesia mengalami lisensi penting dalam pengembangan pendidikan dengan hadirnya kurikulum K-94 dan segera setelahnya, kurikulum 2004 atau kurikulum KBK.

    Refleksi pribadi saya dalam artikel ini berfokus pada bagaimana kedua kurikulum ini berinteraksi, berevolusi, dan meninggalkan pelajaran berharga bagi sistem pendidikan kita.

    Kurikulum 1994: Fondasi Kokoh Namun Kurang Fleksibilitas

    Fokus pada bagian pertama tahun 1990-an, Indonesia mulai bersiap menghadapi serangan globalisasi, dan seperti pada tahun-tahun sebelumnya, kurikulum 1994 adalah langkah maju dalam menyempurnakan kurikulum dan mendahului revisi yang dilakukan sebagai hasil dari penyesuaian terhadap undang-undang sistem pendidikan nasional 1989 (Egar, 2022).

    Kurikulum ini berusaha untuk menggambarkan hasil yang diinginkan yang dapat dipertahankan untuk sistem pendidikan dengan mengedepankan keseimbangan dalam tindakan berpikir, aspek emosional dari tindakan dengan perilaku dalam pelaksanaan tindakan.

    Secara umum, Kurikulum 1994 mulai mempertahankan materi yang menginformasikan yang mengedepankan tiga ranah pendidikan kognitif, afektif, dan psikomotorik (Kurikulum.ac.id, 2021).

    Alasan yang diajukan Kurikulum 1994 ialah pendekatan pembelajaran bertahap dari konkret ke abstrak, dari mudah ke sulit, dan dari sederhana ke kompleks. Pendekatan ini dinilai cukup inovatif pada saat itu karena melibatkan siswa secara aktif dalam proses pembelajaran (P2K Stekom, 2021).

    Walau untuk menyusun Kurikulum 1994 tidak melibatkan banyak orang, Kurikulum 1994 tidak lepas dari kritik. Siswa merasa kewalahan dengan banyaknya mata pelajaran dan materi yang padat (Waryanto, 2019). Berbagai pengajaran yang banyak membosankan dan mengakibatkan terjebaknya guru dalam rutinitas yang tidak memberikan inovasi (Listiyorini & Sulistyowati, 2020). Mempelajari banyak dari pembelajaran yang terstruktur secara kaku lebih menekankan hafalan daripada pemahaman mendalam (Yulianto, 2007).

    Kurikulum 2004 (K-94) terlihat ibarat struktur yang kaku disatukan dengan pengamanan dan bersifat kooperatif menyatukan sistem pendidikan di seluruh Indonesia.

    Namun, karena kelebihan pengamanan, sistem ini menjadi kaku dalam disesuaikan dengan variasi.

    Kurikulum 2004 (KBK): Menuju Era Kompetensi

    Memasuki awal milenium baru, semangat reformasi telah menjangkau berbagai bidang, termasuk bidang pendidikan, dan lahirlah Kurikulum 2004 (KBK) dengan gagasan yang paling mendasar adalah pergeseran dari pembelajaran berbasis konten ke pembelajaran berbasis kompetensi (Elisa, 2021).

    Jika K-94 menekankan pada apa yang harus diajarkan oleh seorang guru, KBK telah bergeser fokus pada apa saja yang harus dikuasai oleh seorang siswa. Intinya, bukan seberapa banyak pengetahuan yang dimiliki siswa, tetapi seberapa jauh pengetahuan tersebut dapat diterapkan pada konteks dunia yang lebih nyata (Ningsih, 2023).

    Hal tersebut memberikan pembelajaran yang lebih luas bagi para siswa. Guru bukan satu-satunya sumber pengetahuan. Siswa diberi kebebasan untuk mendiskusikan dan mengeksekusi percobaan, menyelesaikan proyek, serta mencari dan meneliti informasi dari sumber yang tidak terbatas (Wijaya, 2008). Penilaian tidak hanya berfokus pada hasil ujian tetapi juga proses pembelajaran, dan evaluasi terkait pemecahan masalah yang diajukan siswa (Myedisi.com, 2022).

    KBK juga memiliki banyak tantangan. Beberapa guru masih belum memahami dan menyiapkan diri untuk konsep baru ini (IJOED, 2022). Beberapa instansi pendidikan mengalami tantangan terkait fasilitas dan dukungan manajerial yang kurang (Ngasbun, et al 2022). Hal ini berimbas pada kurang optimalnya pelaksanaan KBK di berbagai wilayah.

    Ada yang menyebutnya Kurikulum Berbasis Kebingungan (Suyanto, 2006). Perhatian saya, Kurikulum berbasis kompetensi (KBK) merupakan langkah maju yang cerdas, tapi ibarat mobil modern yang bisa dikendarai tetapi masih terparkir di jalan beraspal. Memang konsepnya kuat, tapi implementasinya masih belum matang.

    Transisi dari K-94 ke Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK) ibarat suatu perjalanan, kita naik tangga, lalu meluncur di perosotan.

    K-94 adalah tangga dengan anak tangga yang pasti dan rapi, selain itu K-94 adalah berisi pelajaran dan berorientasi konten, berfokus pada isi pelajaran, sementara KBK ini adalah perosotan yang cepat meluncur dan menyenangkan, tetapi juga berisiko jika tidak hati-hati. K-94 menempatkan guru sebagai pusat pembelajaran, sementara KBK men-transformasikan guru menjadi fasilitator dan mentor (Murtyaningsih, 2017).

    K-94 juga diibaratkan sebagai standar yang kaku dan seragam, sementara KBK memberikan ruang kreatif bagi sekolah dan guru untuk menyesuaikan pembelajaran dengan konteks lokal (Ngasbun dkk., 2022). Namun, tanpa suatu panduan atau instruksi yang jelas, kebebasan ini justru membingungkan para guru (Fitri dkk., 2021).

    Refleksi Pelajaran dari Dua Periode

    Kurikuulumnya diubah setiap beberapa waktu. Perubahan dunia, perkembangan teknologi, dan pergeseran kebutuhan manusia harus diperhitungkan. Sebuah kurikulum tidak lagi relevan. A curriculum might become irrelevant (Ningsih, 2023).

    Hal pertama yang perlu diambil dari transisi ini adalah, seberapa hebat pun sebuah kurikulum dirancang, pelaksana kurikulum tidak banyak berkontribusi masalah akan tanggung sepenuhnya oleh kurikulum itu. Guru, kepala sekolah, dan pendidik lainnya di garda terdepan. Tanpa pelatihan dan pendampingan, menyeimbangkan konsep yang paling brilian dengan lewatnya realisasi, adalah nyaris mustahil (Ilwan, 2020).

    Pelajaran yang kedua adalah upaya untuk menyeimbangkan separuh-separuh, nasional dan lokal. Keterpaksaan menegak untuk berdosa dengan keunikan, sebaliknya, keterlaluapan kebebasan bisa menghilangkan tujuan (Egar dkk., 2022).

    Perubahan ketiga dan yang paling penting, perlu berangkat dari, bruk, dan scale down, mind sets. Menurutku, teks harus berisi bab mengenai filosofi kurikulum. Elia, 2021, menjelaskan, kurikulum, ialah sebuah filosofi mengenai pengajaran dan perkembangan manusia. Dalam hal ini, pendidik adalah sebuah proses akselerasi sosial, dan kondisi mengalir dengan sistem bhsari.

    Kesimpulan

    Transisi dari Kurikulum 1994 ke Kurikulum 2004 menunjukkan adanya dinamika pendidikan di Indonesia yang terus beradaptasi dari waktu ke waktu. Kurikulum 1994 memberikan dasar yang cukup baik, tetapi KBK memberikan arah yang lebih kompeten dan kontekstual. Meski begitu, inovasi yang dilakukan telah menunjukkan bahwa demikian tanpa persiapan yang cukup akan menghasilkan kebingungan baru.

    Bagi saya, kurikulum bukan dokumen administratif yang membosankan. Kurikulum adalah refleksi dari nilai-nilai yang kita inginkan kepada anak muda. Kita, seharusnya, mempertimbangkan bagaimana cara mereka berpikir dan berperilaku untuk masa depan. Jika kita hanya berpikir untuk perubahan kurikulum di tataran konseptual, stagnasi di pendidikan akan terus berlanjut.

    Seharusnya kita menganggap kurikulum sebagai ekosistem, bukan sebagai proyek yang baru dinamai. Dengan demikian, diharapkan sekolah bukan lagi tempat siswa “digunakan untuk menghafal”.

    *Penulis (Denata Dwi Yolandari) adalah Mahasiswa PJKR di Universitas Katolik Santo Agustinus Hippo Kampus I Ngabang, Fakultas Keguruan dan ilmu Pendidikan (Ngabang Kabupaten Landak.

     

    Mengingat Kembali Desentralisasi dan Standardisasi KTSP 2006

    Gambar. Ilustrasi KTSP 2006 (Sumber: gemini.google.com)

    Duta, Landak | Negara Indonesia memiliki sistem pendidikan yang didalamnya memuat sebuah kurikulum. Apa itu kurikulum?

    Kurikulum adalah rencana yang disusun secara terstruktur oleh lembaga pendidikan yang didalamnya memuat suatu rancangan pelaksanaan proses pembelajaran di satuan pendidikan yang digunakan untuk mencapai tujuan pendidikan (Rahayu, 2023).

    Kurikulum adalah sebuah pondasi dasar yang menjadikannya sebagai salah satu komponen penting untuk mendukung sistem pendidikan dalam proses mencapai tujuan pendidikan (Mulia et al., 2023).

    Jadi, kurikulum dalam sistem pendidikan di Indonesia menjadi sebuah pedoman dalam pelaksanaan proses pembelajaran yang terstruktur.

    Pada prosesnya, kurikulum seringkali mengalami perubahan yang terjadi menyesuaikan kondisi dan perkembangan zaman terhitung sudah sepuluh kali dari tahun 1947 hingga sampai tahun 2025 sekarang (Renaldi, 2023).

    Banyak kurikulum yang mengalami perubahan karena ketidaksesuaian isi kurikulum dengan potensi sekolah di daerah masing-masing, sehingga konsep tersebut mulai berubah melalui KTSP yang mulai lahir dan berlaku sejak tahun pelajaran 2006/2007 yang menyempurnakan kurikulum sebelumnya yaitu Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK) 2004.

    Menurut (Pawero 2018), penyempurnaan kurikulum sangat penting untuk peningkatan sistem pendidikan yang semakin relevan dan kompetitif.

    KTSP yaitu, sebuah kurikulum yang memberikan suatu kemandirian kepada sekolah (satuan pendidikan) dalam menyusun dan melaksanakan kurikulum masing-masing (Suhartono, 2021).

    Namun, meskipun disusun menyesuaikan masing-masing sekolah, lembaga pendidikan tetap menetapkan Standar Nasional Pendidikan (SNP) dalam KTSP yang artinya memadukan antara desentralisasi dan standarisasi pendidikan.

    Apakah yang dimaksud dengan desentralisasi dan bagaimana desentralisasi pada Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan? Desentralisasi merupakan pemberian kewenangan dan tanggung jawab dari pusat kepada lembaga dibawahnya (Tupan & Setiorini, 2022).

    Dalam konteks desentralisasi Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP 2006), artinya bahwa pemerintah pusat atau lembaga pendidikan memberikan suatu kewenangan dan tanggung jawab kepada sekolah untuk menyusun kurikulum menyesuaikan kebutuhan dari sekolah didaerah masing-masing, sehingga pihak sekolah guru dan kepala sekolah serta warga daerah harus ikut serta dalam proses penyusunan kurikulum yang baik dan digunakan untuk mengembangkan potensi di daerah tersebut.

    Desentralisasi ini sesuai dengan UU No 22 Tahun 1999 tentang Pemerintah Daerah dan Peraturan Pemerintah No 25 Tahun 2000 tentang Kewenangan Pemerintah dan Provinsi. Contoh penerapan desentralisasi misalnya pada mata pelajaran muatan lokal, dimana ketika tanah di daerah tersebut bagus dan subur untuk di tanami maka guru dapat memberikan materi tentang berkebun dan bertani kepada para siswa-siswi namun jika daerah tersebut berada dekat dengan pantai, maka guru dapat memberikan materi tentang cara mencari hasil laut seperti ikan.

    Desentralisasi diharapkan bisa menjadi sebuah peluang dalam proses peningkatan mutu serta kualitas pendidikan baik pada aspek kognitif (pengetahuan) afektif (sikap) dan psikomotorik (keterampilan) siswa-siswi di sekolah sehingga dapat menciptakan SDM yang berkualitas (Damanik et al., 2025).

    Dengan begitu, desentralisasi pada KTSP dapat dimanfaatkan oleh sekolah (kepala sekolah atau guru) dalam menyusun program pendidikan dan pembelajaran bagi siswa siswi dengan menyesuaikan kondisi daerah, sosial budaya, dan potensi sumber daya di daerah tersebut. Hal ini bertujuan agar kualitas pendidikan di setiap daerah merata dan adanya relevansi antara pembelajaran dengan kebutuhan para peserta didik.

    Namun, desentralisasi tidak berjalan dengan mudah karena menghadapi beberapa tantangan-tantangan seperti sekolah yang tidak memiliki potensi dan kemampuan yang sama (sumber daya dan sarana prasarana) yang membuat sekolah di daerah yang tertinggal kesulitan dalam mengembangkan kurikulum secara mandiri dan solusinya pemerintah harus memberikan dukungan (pembinaan, pelatihan, dan supervisi) agar pendidikan dapat berjalan dengan baik.

    Setelah memahami tentang desentralisasi, kemudian masuk pada standarisasi. Apakah yang dimaksud dengan standarisasi dan bagaimana penerapannya? Standarisasi adalah proses untuk menentukan sesuatu sesuai standar yang berlaku dan menjadi sebuah patokan (Soro et al., 2023).

    Kurikulum yang tersusun pada KTSP telah mengikuti standarisasi yang berarti tetap berpedoman dan mengacu pada Standar Nasional Pendidikan (SNP) yang harus dipenuhi termasuk Standar Isi (SI) dan Standar Kompetensi Lulusan (SKL) di satuan pendidikan atau sekolah (Yanti & Syahrani, 2021).

    Standarisasi pendidikan yang terdapat dalam UU No 20 Tahun 2003 Pasal 35 (ayat 1 dan 2) tentang Sistem Pendidikan Nasional dan Peraturan Pemerintah No 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan yang didalamnya memuat beberapa standar yaitu Standar Isi (SI), Standar Proses, Standar Kompetensi Lulusan (SKL), Standar Pendidik dan Tenaga Kependidikan, Standar Sarana dan Prasarana, Standar Pengelolaan, Standar Pembiayaan, dan Standar Penilaian Pendidikan.

    Adanya standarisasi pada kurikulum ini, maka dengan begitu meskipun kurikulum di buat berbeda di setiap sekolah di daerah masing-masing namun kerangka dasarnya tetap sama dan akan tetap mengarah pada tujuan dari pemerintah maupun lembaga pendidikan.

    Desentralisasi dan standarisasi merupakan dua hal yang saling melengkapi sebagai bentuk dalam muwujudkan semangat toleransi dan menghargai perbedaan peserta didik itu mulai dari agama, ras, budaya, suku, dan adat (Muflih et al, 2021).

    Dua hal ini dapat meningkatkan nilai sosial dan kerjasama antara pihak sekolah, masyarakat maupun pemerintah dalam proses untuk meningkatkan pendidikan terutama di negara Indonesia. Pemerintah pusat sebagai pembuat kebijakan dan pihak sekolah serta masyarakat daerah melaksanakan kebijakan menyesuaikan dengan potensi dari daerah tersebut. Namun, Pada KTSP proses desentralisasi dan standarisasi memiliki kelebihan dan kekurangan.

    Kelebihannya yaitu sekolah dapat menyesuaikan kurikulum sesuai lingkungan lokal jadi lebih mudah dalam menyesuaikan pembelajaran di daerah itu, namun kekurangan utamanya adalah kesenjangan sekolah karena masing-masing sekolah memiliki potensi dan kondisi yang berbeda di setiap daerah dan juga beban administratif guru yaitu membuat guru harus ekstra dalam penyusunan RPP, silabus, laporan dan lainnya (Helmi et al., 2022).

    Jadi desentralisasi dan standarisasi pada Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP 2006) merupakan pemberian tanggung jawab dari pemerintah pusat atau lembaga pendidikan kepada sekolah (satuan pendidikan) dalam menyusun kurikulum secara mandiri menyesuaikan kebutuhan siswa-siswi di masing-masing sekolah dan daerah namun tetap berpedoman dan mengacu pada Standar Nasional Pendidikan (SNP) dengan tujuan untuk meningkatkan kualitas pendidikan, pembelajan serta sumber daya manusia (SDM).

    *Penulis (Yosua Tripan & Yopita Selly) adalah Mahasiswa PJKR di Universitas Katolik Santo Agustinus Hippo Kampus I Ngabang, Fakultas Keguruan dan ilmu Pendidikan (Ngabang Kabupaten Landak).

     

    Pengaruh Ketepatan Waktu Minum Obat, Jarak, dan Kecukupan Cairan Tubuh pada Tingkat Kesembuhan

    Elisabeth Pramesti Agustine- Program Studi D3 keperawatan, Universitas Katolik Santo Agustinus Hippo, Pontianak, Kalimantan Barat 78124, Indonesia, Email: elisabethpramesti59@gmail.com

    Duta, Pontianak | Ketidaktepatan waktu minum obat dan kurangnya cairan dalam tubuh tentunya sangat berpengaruh paada kecepatan respons terapi pada tubuh.

    Hal yang umum dan sering kita temui di sekitar kita adalah kesalahan asumsi pada klien yang mengartikan minum obat 3x sehari sama dengan pagi, siang, dan malam, padahal ketepatan jarak pemberian obat sangat berpengaruh pada efektivitas dari obat itu sendiri.

    Ketepatan dalam jarak konsumsi obat dapat memaksimalkan kinerja obat serta dapat meminimalisir efek samping dari obat tersebut, ketentuan jarak meminum obat yang benar adalah, jika 1x sehari maka minum setiap 24 jam sekali, jika 2x sehari maka minum setiap 12 jam sekali, dan jika 3x sehari maka minum setiap 8 jam sekali.

    Selain itu, air membantu proses pelarutan dan pembuangan sisa obat yang tidak perlu, untuk itu kecukupan cairan pada tubuh saat mengonsumsi obat sangat penting guna penyerapan obat dengan maksimal, maka dari itu kurangnya cairan dalam tubuh dapat memperlambat kinerja obat dalam tubuh, penting bagi para klien untuk memahami jarak minum obat dan kecukupan cairan pada tubuh akan sangat berpengaruh pada tingkat kesembuhan.

    Pendahuluan

    Obat merupakan salah suatu zat yang tujuannya diberikan untuk menunjang kesembuhan, mengurangi atau meredakan sakit atau luka, membantu memulihkan kesehatan baik fisik dan mental, untuk mencapai tujuan tersebut tidak hanya diagnosa dan dosis yang tepat, tetapi juga ketepatan waktu dan jarak konsumsi obat yang benar serta kecukupan cairan.

    Masih banyak masyarakat yang salah mengartikan resep “3x sehari” sebagai pagi, siang, dan malam.

    Ketidaktepatan dalam mengonsumsi obat dapat menyebabkan obat tidak bekerja secara maksimal, dan risiko efek samping meningkat.

    Selain itu, kecukupan cairan tubuh juga berperan penting dalam mendukung proses penyerapan dan metabolisme obat.

    Pembahasan

    1. Pentingnya ketepatan waktu minum obat

    sering kali orang-orang salah mengartikan aturan minum obat 3x sehari, bukan berarti pagi, siang, malam dan minum obat sesuka hati, melainkan 3x sehari artinya setiap 8 jam sekali.

    Rekomendasi jarak minum obat:

    1x sehari = setiap 24 jam, misalnya setiap pukul 12.

    2x sehari = setiap 12 jam, misalnya setiap pukul 07.00 dan 19.00.

    3x sehari = setiap 8 jam, misalnya setiap pukul 07.00, 15.00, dan 00.00

    4x sehari = setiap 6 jam, misalnya pukul 06.00, 12.00, 18.00, 00.00.

    Contohnya, bila diberikan resep obat dengan dosis 4x sehari, maka rumusnya adalah sehari sama dengan 24 jam kemudian dibagi  4 (dosis) sama dengan 6, artinya adalah klien harus minum obat setiap 6 jam sekali dalam sehari.

    1. Dampak ketidaktepatan minum obat

    Ketepatan  dalam mengonsumsi obat sangat berpengaruh pada tingkat kesembuhan karena biasanya ada beberapa jenis obat-obatan yang tidak boleh diminum secara bersamaan seperti :

    • Obat pereda nyeri dan obat demam bisa memperberat kerja lambung bila diminum bersamaan tanpa jeda.
    • Antibiotik tertentu tidak boleh diminum berbarengan dengan susu atau suplemen kalsium karena menghambat penyerapan obat.

    selain itu ketidaktepatan jarak minum obat dapat mengurangi efektifitas dari kandungan dari obat tersebut, meskipun hanya menunda sebentar hal tersebut juga dapat berdampak pada efektivitas obat, obat dirancang untuk menjaga tubuh tetap stabil sehingga memberikan efek terapi yang optimal, ketidaktepatan jarak dan waktu minum obat juga akan menurunkan efek dari obat tersebut yang lalu berpengaruh pada tingkat kesembuhan.

    1. Pengaruh kecukupan cairan pada efektivitas obat

    Kecukupan cairan pada tubuh juga berpengaruh pada efektivitas obat, cairan dalam tubuh memiliki peran yang sangat penting,  dari penyerapan sampai kerja obat, cairan membantu mengantarkan obat sampai ke lambuung, membantu melarutkan obat agar larut dan diserap oleh dinding lambung dan usus, yang lalu diserap disebarkan ke seluruh tubuh melalui darah, cairan yang cukup padda tubuh memastikan alliran darah lancar dan memungkinkan obat mencapai target kerjanya dengan baik.

    Cairan juga nantinya akan membantu tubuh membuang sisa kerja obat melalui urine, pembuangan sisa kerja obat juga sangat penting guna mencegah terjadinya penumpukan obat dalam tubuh dan efek samping yang berbahaya lainnya.

    Dari data tersebut 8 dari 12 responden, menjawab dengan jawaban yang hampir serupa “pagi, siang, malam” Temuan ini menunjukkan bahwa sebagian besar masyarakat belum memahami pentingnya menjaga jarak waktu minum obat yang benar, yang dapat memengaruhi efektivitas kerja obat serta keberhasilan proses pengobatan.

    Kesimpulan

    Ketepatan waktu dan jarak dalam minum obat merupakan faktor yang penting untuk menunjang kesehatan serta kesembuhan klien.

    Ketepatan waktu dalam konsumsi obat dan kecukupan cairan pada tubuh berperan menjaga kadar obat dalam darah agar tetap stabil, menjaga kebutuhan cairan pada tubuh dan konsumsi obat tepat waktu juga merupakan aspek penting dalam terapi obat agar kualitas dan efektivitas dalam obat-obatan dapat bekerja maksimal dalam tubuh.

    Oleh karena itu diperlukan peningkatan edukasi dan kesadaran kepada masyarakat mengenai aturan konsumsi obat yang tepat, agar terapi yang diberikan dapat memberikan hasil maksimal serta meminimalkan risiko efek samping akibat ketidaktepatan waktu konsumsi obat.

    Daftar Pustaka

    Prabowo, W. L. (2021). Teori Tentang Pengetahuan Peresepan Obat. Jurnal Medika Hutama, 02(04).

    Meldawaty, S., Utami, R. S., Wulandari, Y., Keperawatan, F. I., Keperawatan, P. S., & Bros, U. A. (2023). Motivasi, Efek Samping, Dukungan Keluarga, Kepatuhan OAT C. Jurnal Ilmiah Obsgin-, 14(1).

    Anggraeni Budhi Pratiwi, D. (2020). PENGGUNAAN OBAT YANG BENAR (DAGUSIBU) : GEMA CERMAT DAN PELATIHAN TENTANG OBAT KELUARGA DI KOTAGEDE YOGYAKARTA. Jurnal Pengabdian Masyarakat Kesehatan, 7(1). https://doi.org/10.33023/jpm.v7i1.662

    Salam, S. H. (2016). Dasar-dasar Terapi Cairan dan Elektrolit. Fakultas Kedokteran Universitas Hasanuddin, 2.

    *Penulis: Elisabeth Pramesti Agustine – Program Studi D3 keperawatan, Universitas Katolik Santo Agustinus Hippo, Pontianak, Kalimantan Barat 78124, Indonesia, Email: elisabethpramesti59@gmail.com

    TERBARU

    TERPOPULER