Duta, Pontianak | Di tengah dinamika kehidupan umat beriman di zaman modern, semangat kebersamaan dan komunikasi yang penuh kasih menjadi kunci dalam menjaga keutuhan Gereja sebagai persekutuan umat Allah.
Kesadaran ini menginspirasi sekelompok mahasiswa Katolik di Pontianak untuk menimba pengalaman pastoral bersama sesama muda Katolik di lingkungan akademik.
Pada awal November 2025, sekelompok mahasiswa Akademi Keuangan dan Perbankan Grha Arta Khatulistiwa Pontianak (AKUB) berkesempatan berdialog dengan mahasiswa Sekolah Tinggi Agama Katolik Negeri (STAKAT) Pontianak.
Pertemuan sederhana di ruang kelas STAKAT itu berkembang menjadi percakapan hangat tentang bagaimana umat beriman dapat membangun koinonia — persatuan sejati — di dalam Komunitas Umat Basis (KUB).
Dalam suasana yang bersahabat, mereka saling berbagi pandangan mengenai arti komunikasi yang terbuka, saling mendukung, dan berakar pada kasih Kristus. Dari percakapan tersebut muncul kesadaran bersama bahwa koinonia bukan hanya sekadar kebersamaan sosial, melainkan perwujudan nyata dari kasih Allah yang mengikat setiap pribadi dalam satu tubuh Kristus.
Sebagaimana diajarkan dalam Kitab Suci, “Hendaklah kamu sehati sepikir, dalam satu kasih, satu jiwa, satu tujuan” (Flp 2:2). Persaudaraan sejati yang berakar pada Kristus menjadi fondasi hidup Gereja dan dasar bagi setiap komunitas umat untuk bertumbuh dalam iman dan kasih.
Menemukan Makna Komunikasi dalam Iman
Komunikasi adalah jantung dari setiap relasi manusia, termasuk dalam kehidupan menggereja. Di dalam Komunitas Umat Basis (KUB), komunikasi yang baik menjadi jalan untuk menumbuhkan rasa saling percaya dan memperkuat persaudaraan sejati.
Melalui komunikasi yang jujur dan terbuka, umat diajak untuk saling memahami, mendukung, dan meneguhkan satu sama lain dalam kasih Kristus.
Berangkat dari semangat itulah, para mahasiswa Katolik di Pontianak mengadakan dialog pastoral untuk mendalami bagaimana komunikasi dapat menjadi sarana membangun koinonia — persatuan yang sejati di antara umat.
Tujuan kegiatan ini bukan sekadar belajar teori, melainkan menemukan pengalaman nyata tentang bagaimana iman dihidupi di tengah kebersamaan.

Vino Januarius dan Semangat Keterbukaan
Dalam dialog tersebut, hadir Vino Januarius, mahasiswa aktif Sekolah Tinggi Agama Katolik Negeri (STAKAT) Pontianak yang juga terlibat dalam berbagai kegiatan pelayanan. Dengan rendah hati, ia berbagi pengalaman tentang bagaimana semangat komunikasi yang penuh kasih menjadi dasar kebersamaan di komunitas umat.
“Persaudaraan sejati dalam umat basis tumbuh dari komunikasi yang jujur dan saling mendengarkan,” ujar Vino dengan mantap.
“Kami berusaha membangun keterbukaan lewat doa bersama, kunjungan umat, dan kegiatan sosial. Di sanalah kami belajar bahwa kasih tidak berhenti pada kata-kata, tetapi harus diwujudkan dalam tindakan nyata.”
Bagi Vino, keterbukaan bukan hanya soal berbicara, tetapi juga mendengarkan dengan hati. Ia menegaskan pentingnya menghargai perbedaan dan memperkuat semangat gotong royong sebagai wujud nyata kasih Kristus di tengah umat.
Belajar Membangun Koinonia dalam Kehidupan Sehari-hari
Dari pengalaman wawancara ini, para mahasiswa menyadari bahwa koinonia bukan sekadar konsep teologis, tetapi panggilan hidup setiap orang Katolik. Persaudaraan sejati tumbuh ketika setiap anggota komunitas bersedia melayani dengan kasih, mendengarkan tanpa menghakimi, dan bekerja bersama demi kesejahteraan bersama.
Komunikasi yang dilandasi kasih menciptakan ruang bagi kedamaian, pengampunan, dan pertumbuhan iman. Di dalamnya, umat belajar melihat wajah Kristus dalam diri sesama dan mengalami bahwa Gereja sungguh adalah persekutuan yang hidup.
Sebagaimana dikatakan Paus Fransiskus dalam Evangelii Gaudium, “Komunitas Kristen adalah tempat di mana setiap orang belajar mengampuni, berbagi, dan berjalan bersama.” Itulah wajah Gereja yang diimpikan: Gereja yang bersaudara, bersukacita, dan hidup dalam kasih yang nyata.
Menumbuhkan Persaudaraan Sejati dalam Kasih Kristus
Melalui perjumpaan sederhana namun sarat makna ini, para mahasiswa belajar bahwa komunikasi bukan sekadar kemampuan berbicara, melainkan jalan menuju persaudaraan sejati yang dikehendaki Kristus.
Wawancara bersama mahasiswa STAKAT Pontianak menjadi ruang refleksi bersama untuk menyadari bahwa koinonia bukan hanya soal kebersamaan manusiawi, melainkan persekutuan kasih yang berakar pada iman dan kejujuran hati.
Semangat ini diharapkan dapat menginspirasi setiap umat di Komunitas Umat Basis agar semakin menyadari pentingnya membangun komunikasi yang mencerminkan kasih Kristus — komunikasi yang menghidupkan, meneguhkan, dan mempersatukan.
Persaudaraan sejati adalah fondasi kehidupan menggereja yang penuh damai dan kebersamaan. Ketika umat saling mendengarkan, saling menghargai, dan melayani dengan kasih, Gereja sungguh tampil sebagai tanda nyata kasih Allah di tengah dunia.
Sebagaimana sabda Tuhan Yesus, “Dengan demikian semua orang akan tahu bahwa kamu adalah murid-murid-Ku, yaitu jikalau kamu saling mengasihi.”(Yohanes 13:35)
*Penulis: Gregorius Marcel Zevito, Cindi Rella Ari Yanti, Erika Rika, Edo Setiawan (Mahasiswa Prodi Keuangan dan Perbankan Akademi Keuangan dan Perbankan Grha Arta Khatulistiwa Pontianak)
*Editor: Vinsensius, S.Fil., M.M. (Dosen Akademi Keuangan dan Perbankan Grha Arta Khatulistiwa Pontianak)


