Duta, Landak | Apa olahraga disekolah hanya sekdar senam dan permainan bola? ternyata, dibalik Gerakan fisik terdapat fondasi kurikulum yang membentuk karakter dan Kesehatan siswa .Menurut pandangan (Bahsoan,agil et al 2025) fondasi kurikulum olahraga dapat dilihat dari tiga dimensi tujuan Pendidikan, filosofi olahraga dan Kesehatan, serta kompetensi yang di harapkan siswa. Pertama, tujuan Pendidikan dalam olahraga mencakup pengembangan fisik, Kesehatan serta karakter siswa.
Sebagaimana diungkapkan bahwa Pendidikan jasmani olahraga dan Kesehatan (PJOK) merupakan mata Pelajaran penting karena membantu siswa memahami pentingnya aktivitas fisik dan hidup sehat. Dalam pandangan (Hardi et al., 2025), kurkulum merupakan faktor penting yang mempengaruhi kualitas Pendidikan di Indonesia, harus disesuaikan untuk memenuhi kebutuhan peserta didik dan guru.
Filosofi olahraga dalam Pendidikan menempatkan olahraga bukan hanya sebagai aktivitas jasmani, tetapi sebagi wadah pengembangan menyeluruh seperti fisik, mental, sosial. Sebagain contoh, suatu kajian menjelaskan bahwa Pendidikan jasmani beperan penting dalam pengembangan seluruh siswa, yang mencakup aspek – aspek fisik, mental dan sosial. Menurut (Hidayat et al., 2014) menyatakan PJOK merupakan bagian integral dari pendidikan secara keseluruhan, bertujuan untuk mengembangkan aspek kebugaran jasmani, keterampilan Gerak, keterampilan berpikir kritis ,keterampilan sosial, penalaran, stabilitas emosional, Tindakan moral, dan pola hidup sehat.
Kompetensi yang diharapkan pada era abad 21 berbeda dengan masa lalu yang tidak hanya befokus keterampilan motorik, tetapi juga berpikir kritis, kreatif, berkolaborasi. Misalnya sebuah artikel menyatakan bahwa dalam kurikurum Pendidikan Jasmani Olahraga dan Kesehatan abad 21 yang di harapkan siswa mampu bepikir kritis, kreatif, dan dapat berkolaborasi selain aspek fisik.
(Mustafa, 2020), menyatakan bahwa perkembangan kurikulum di Indonesia, terutama penerapan kurikulum 2013 yang kemudian direvisi tahun 2016, revisi ini menekankan pembentukan karakter serta keterampilan abad ke- 21 seperti berpikir kritis, kreatif, inovatif, berkolaborasi, dan berkomunikasi.

Dengan demikan fondasi kurikurum olahraga harus dirancang agar sesuai dengan tujuan Pendidikan yang luas, mengintergrasikan filosofi Kesehatan dan pengembangan karakter, serta menyesuaikan kompentensi siswa di Zaman sekarang.
Sejarah Perkembangan kurikulum olahraga di Indonesia tidak hanya berdiri sendiri, melainkan mengikuti evaluasi kurikulum nasional secara umum, kemudian mendapatkan perhatian khusus Ketika olahraga dan Kesehatan semangkin diakui perannya. Sebuah studi tentang perkembangan kurikulum secara umum mencatat bahwa kurikulum di Indonesia terus berubah karena harus beradaptasi dengan perkembangan era yang aktif atau dinamis.
Menurut (Saat et al., 2020), kurikulum bersifat dinamis, selalu berubah mengikuti perkembangan zaman, teknologi, dan kebutuhan masyarakat. Setiap perubahan diharapak mebawa peningkatan kualitas pendidikan nasional, termasuk dalam pembentukan karakter, keterampilan, dan kompetensi peserta didik agar siap bersaing secara global.
Pada tahap awal, pendidikan dan olahraga masih dipandang sebagai pelengkap, kurang mendapat perhatian strategis. Sebagi contoh, analisis Pendidikan jasmani di Indonesia menyebutkan bahwa, kurikulum yang di pergunakan sebaiknya dapat dipakai untuk jangka waktu lama, dan bahwa sarana -prasarana masih belum memadai.
Menurut pandangan (Pendidikan et al., n.d.), Pendidikan jasmani dan olahraga tidak sekedar aktivitas fisik, tetapi fondasi untuk membangun manusia indonesia yang sehat, berkarakter, dan bertanggung jawab terhadap kemajuan bangsa.
Kemudian dengan regulasi standar Nasional Pendidikan (SNP) muncul aspek standar yang harus dipenuhi dalam Pendidikan, termasuk olahraga. Sebuah artikel menyebut bahwa didalam standar nasional di Indonesia terdapat aspek-aspek tertentu, diantaranya standar isi, pembiayaan, pengelolaan, sarana dan prasarana, tenaga kependidikan (Jasmani & Keolahragaan, 2015).
Lebih baru, dengan munculnya kurikulum yang lebih fleksibel seperti kurikulum Merdeka, Pelajaran PJOK mendapat ruang dalam implementasi inovatif. Misalnya, Implementasi kurikulum Merdeka pada pembelajaran PJOK guru menyatakan baik (Hardi et al., 2025).
Mengutip (Pembelajaran et al., 2023), Pengelolaan Pembelajaran Berbasis Kurikulum Merdeka Bagi Guru Olahraga, menunjukan bahwa perubahan kurikulum memperoleh dorongan karena Programme for International Student Assessment (PISA) dan kebutuhan reformasi Pendidikan. Dapat disimpulakan, Sejarah kurikulum olahraga di Indonesia bergerak dari tahap marginal kearah pengakuan lebih besar, serta regulasi dan standar nasional, hingga ke era pembelajaran yang lebih fleksibel dan responsif terhadap zaman ke zaman.
Standar isi dalam kurikulum olahraga, standar isi dalam Pendidikan nasional berfungsi sebagai acuan bahan pembelajaran, kompetensi minimum, alokasi waktu. Pada PJOK, standar isi menjadi penting agar pembelajaran tidak hanya sisihan, tetapi terintegrasi secara sistematis.
Standar isi membuat materi yang harus diajarkan. Sebuah kajian relevansi bahan ajar dengan standar isi menunjukan bahwa isi dari buku ajar kelas V sudah sesuai dengan standar isi kurikulum MI/SD, walaupun masih terdapat kekurangan-kekurangan namun buku ini sudah memenuhi unsur-unsur yang terdapat pada standar kurikulum 2013 (Fitriani, 2020). Dalam pembelajaran PJOK, evaluasi menyesuaikan standar isi dan lulusan.
Sebuah evaluasi pembelajran di SMAN Yogyakarta menggunakan model (CIPP) Context, Process, Product Untuk melihat relevasi silabus PJOK dengan standar isi dan lulusan, (Kaloka & Kurniawan, 2022).
Guru PJOK perlu mengolah pembelajaran berbasis standar dan mencapai literasi fisik. Sebuah penelitian menyoroti model asesmen literasi fisik guru PJOK di SD yang dikembangkan untuk memastikan validasi aspek isi, kualitas dari aspek psikometri butir-butir tes dan validasi kontrak tes, (Wibowo & Susongko, 2015).
Implementasi kurikulum Merdeka pada PJOK menunjukan bahwa meskipun ATP (Alur Tujuan Pembelajaran) dan Modul ajar telah dibuat mengacu pada CP (Capaian Pembelajaran) dan SKL, namun kegiatan penilaian belum menunjukan evaluasi yang lengkap, guru hanya melaksanakan post-tes, sedangkan pre-test tidak dilaksanakan, (Fadriana et al., 2024).
Konstruksi bahan ajar dan modul untuk guru PJOK mendapat perhatian khusus pelatihan untuk modul kurikulum Merdeka demi meningkatkan kualitas guru PJOK, (Darmawan et al., n.d.).
Secara keseluruhan standar isi dalam kuriklum olahraga menuntut kualitas materi, proses pembelajaran, penilaian dan kompentensi guru yang selaras dengan tuntutan zaman. Jadi sebagai mahasiswa yang menekuni bidang Pendidikan atau kepelatihan olahraga, penting untuk memhami bahwa kurikulum PJOK bukan sekedar mata Pelajaran senam atau bola semata. Fondasi kurikulum olahraga harus merangkum tujuan Pendidikan, filosofi kesehtan dan karakter, serta kompentensi abad 21.
Sejarah perekembangannya di Indonesia menunjukan perjalanan dari kurang diprioritaskan hingga kini memiliki standar nasional dan fleksibilitas yang lebih besar.
Standar isi menjadi kerangka operasional yang memastikan bahwa pembelajaran olahraga bermakna, terstruktur, dan relevan. Dengan pemahaman yang baik terhadap fonasi, Sejarah, dan standar isi, maka pembelajaran olahraga dapat memberikan kontribusi optimal terhadap pengembangan siswa sebagai manusia yang aktif, sehat, berkarakter dan siap menghadapi dinamika masa depan.
*Penulis (Raka Kalista, Mariani, Fernando Diansi) adalah Mahasiswa PJKR di Universitas Katolik Santo Agustinus Hippo Kampus I Ngabang, Fakultas Keguruan dan ilmu Pendidikan (Ngabang Kabupaten Landak).


