Saturday, May 2, 2026
More
    Home Blog Page 127

    Redaksi Media dalam Jurnalistik

    MajalahDUTA.Com, Pendidikan- Semua manusia di muka bumi ini, tidak terlepas dengan peristiwa. Mulai dari kelahiran hingga kematian, semua adalah rentetan peristiwa. Bagaimana peristiwa itu bertahan dan menjadi cerita yang diturunkan?

    Dahulu media jurnalistik keseharian masyarakat pada umumnya adalah bertutur dari mulut ke mulut. Kemudian adanya simbol sebagai penguat dari peristiwa tersebut. Sama halnya dengan dunia moderen saat ini, memang dahulu belum banyak mengenali baca dan tulis, namun tetap saja peristiwa itu bisa dituturkan hingga menjadi rangkaian cerita dan akhirnya menjadi legenda.

    Terlepas itu semua, sistem media dalam jurnalistik, zaman tempo dulu tersiar dengan cara dan gayanya-begitu juga di zaman ini (melek teknologi). Informasi yang tersebar di media massa adalah informasi yang dikemas dengan cara dan gaya masing-masing.

    Tetapi beda jika bicara tentang media dalam jurnalistik pada portal media resmi.

    Dalam penerbitan perusahaan pers, yang berwenang mengizinkan ataupun menolak suatu berita untuk dilakukan pemublikasian sepenuhnya berada di tangan redaksi. Untuk urusan berita, mutlak menjadi tanggung jawab dari redaksi.

    Bukan urusan bagian iklan, personalia atau percetakan. “Isi di luar tanggung jawab percetakan,” begitulah peraturannya.

    Secara struktural, redaksi media umumnya terdiri atas pemimpin redaksi, redaktur pelaksana (redaktur eksekutif), redaktur, asisten redaktur, koordinator liputan/reportase, dan reporter.

    Baca juga: Kisah St. Dominikus Melawan 15.000 Iblis

    Setipa divisi ini menjalani fungsinya masing-masing hingga melahirkan suatu produk berita baik yang dicetak, disiarkan, ataupun ditayangkan. Pemimpin redaksi adalah jabatan tertinggi dalam jajaran redaksi, dan bertanggung jawab terhadap berita yang diterbitkan di medianya.

    Ataupun, jika terjadi kasus atau delik pers, pemimpin redaksi juga dapat melimpahkan tanggung jawabnya kepada bawahannya, yaitu redaktur eksekutif.

    Berikut ini adalah struktur redaksi yang umum berlaku di kebanyakan media Indonesia.

    Pemimpim Redaksi, Redaktur Pelaksana, Redaktur & Koordinator Liputan, Asisten Redaktur dan Reporter.

    Apa fungsi dan tugasnya?

    Redaktur Pelaksana (Redpel) bertanggung jawab langsung kepada pemimpin redaksi. Redaktur pelaksana ialah pelaksana dari kebijakan umum yang dibuat penerbitan pers dan pelaksana dari kebijakan khusus yang diberikan pemimpin redaksinya.

    Sehari-hari, redaktur pelaksana memimpin dan mengatur para redaktur, karena itu sering kali disebut Managing Editor. Posisi Redaktur pelaksana dapat diisi oleh satu orang atau lebih, namun pada umumnya tidak lebih dari tiga orang.

    Baca juga: Teknologi dan Dilemanya bagi Pendidikan

    Sedangkan redaktur adalah orang yang bertanggung jawab terhadap isi halaman media. Redakturlah yang mengedit, menyunting serta menyajikan berita pada setiap halaman media.

    Jumlahnya banyak, umumnya berdasarkan bidang berita misalnya: redaktur berita harian, redaktur pendidikan, redaktur kategorial, redaktur budaya, redaktur liputan khusus, dan seterusnya.

    Dalam tugasnya sehari-hari redaktur ada yang dibantu asisten, yang disebut asisten redaktur.

    Yang sederajat dengan redaktur adalah koordinator liputan, yang bertugas mengatur proses liputan berita.

    Reporter berada dalam posisi terakhir. Namun begitu, reporter merupakan ujung tombak redaksi dalam mencari dan mendapatkan berita. Para reporter itulah yang terjun ke lapangan meliput semua peristiwa yang terjadi untuk dikemas menjadi berita.

    Dalam tugasnya sehari-hari, para reporter selain berhubungan dengan koordinator liputan, juga berhubungan dan bertanggung jawab langsung kepada redaktur.

    Baca juga: Lingkungan dan Kesehatan

    Semua berita yang dibuat reporter diserahkan kepada redakturnya. Berita yang dibuat reporter itulah yang kemudian diedit atau disunting redaktur, lalu disajikan atau dimuat di halaman media.

    Di sini terjadi komunikasi timbal-balik yang sangat intens antara keduanya. Bahkan boleh dikatakan, di mana ada redaktur, di situ ada reporter.

    Keduanya selalu bertemu, dalam urusan berita. Sebagai atasan, redaktur berhak melakukan pembinaan kepada para reporternya baik dalam segi teknik (menyangkut materi berita) maupun nonteknis (mental dan moral).

    Kisah St. Dominikus Melawan 15.000 Iblis

    Ilustrasi Exorcism-Komisi Komunikasi Sosial Keuskuapan Agung Pontianak

    MajalahDUTA.Com, Kategoriall- Ketika St. Dominikus sedang berkhotbah tentang Rosario di dekat Carcassone, seorang penganut bidaah Albigensia yang kerasukan setan dibawa kepadanya.

    Dominikus membebaskan dia dari roh jahat itu di depan banyak umat. Kira-kira ada 12 ribu orang datang untuk mendengarkan dia berkhotbah. Iblis-iblis yang merasuki orang tersebut dipaksa menjawab pertanyaan-pertanyaan St. Dominikus.

    Iblis-iblis mengatakan bahwa:

    Mereka berjumlah 15.000 di dalam tubuh orang malang itu, karena ia telah menyerang 15 misteri Rosario.

    Selanjutnya mereka bersaksi bahwa dengan mewartakan Rosario Suci, St. Dominikus menyebarkan ketakutan dan kengerian di dalam neraka, dan bahwa St. Dominikus adalah orang yang paling mereka benci di seluruh dunia, karena jiwa-jiwa yang direnggutnya kembali dari tangan mereka melalui devosi kepada Rosario Suci.

    Mereka mengatakan juga hal-hal lainnya.

    Santo Dominikus melilitkan Rosarionya di leher orang Albigensia itu serta meminta kepada setan-setan itu untuk menceritakan kepadanya siapakah dari antara semua orang kudus di surga yang paling mereka takuti, dan siapakah yang paling disayangi dan dihormati manusia.

    Baca juga: Misa Tahbisan Diakon: Menjawab Panggilan Yesus dan Menjadikan-Nya Kekuatan dalam Pelayanan

    Mendengar itu, iblis-iblis menjerit-jerit ketakutan sehingga sebagian besar umat yang ada di situ merebahkan diri ke tanah dan pucat ketakutan.

    Kemudian dengan segala kelicikannya, agar tidak menjawab pertanyaan St. Dominikus, setan-setan itu menangis dan merintih memilukan sehingga membuat banyak orang yang hadir di situ turut menangis karena sungguh merasa kasihan.

    Perantaran Doa Bunda Maria

    Setan-setan itu berbicara melalui bibir orang Albigensia itu memohon dengan sangat:

    “ Dominikus, Dominikus, kasihanilah kami, kami berjanji kepadamu bahwa kami tidak akan lagi menyakiti engkau. Engkau selalu berbelas kasihan kepada orang-orang berdosa dan orang-orang yang bersusah.

    Sayangilah kami, karena kami berada dalam kesulitan yang tak terkatakan. Kami sudah sangat menderita, lalu mengapa engkau bergembira dengan memperberat penderitaan kami?

    Apakah engkau belum puas dengan penderitaan kami tanpa menambahkannya lagi? Sayangilah, sayangilah kami !”

    St. Dominikus tak terpengaruh sedikit pun oleh rintihan roh-roh jahat itu. Ia mengatakan kepada mereka, bahwa ia tak akan melepaskan mereka sebelum mereka menjawab pertanyaannya.

    Lalu mereka mengatakan bahwa mereka akan membisikkan jawaban atas pertanyaan itu sedemikian rupa sehingga hanya St. Dominikus sendirilah yang dapat mendengarkannya. St. Dominikus dengan tegas mendesak mereka agar menjawab pertanyaan-pertanyaan itu dengan suara lantang dan jelas.

    Setan-setan itu menjadi tenang dan menolak berbicara sepatah kata pun, mereka tidak mematuhi sedikit pun perintah St. Dominikus. Lalu St. Dominikus berlutut dan berdoa kepada Bunda Maria, “ Ya, Perawan Maria yang penuh kuasa dan ajaib, kumohon kepadamu melalui kuasa Rosario, perintahkanlah musuh-musuh umat manusia ini menjawab aku !”

    Tak lama setelah ia mengucapkan doa ini, seberkas cahaya merah meloncat keluar dari kuping, hidung, dan mulut orang Albigensia itu. Setiap orang gemetar ketakutan, namun api itu tidak menyakiti siapa pun.

    Setan-setan itu lalu berteriak, “Dominikus, kami mohon kepadamu demi penderitaan Yesus Kristus dan demi karunia-karunia IbundaNya yang suci dan semua orang kudus, biarkanlah kami meninggalkan tubuh orang ini tanpa berbicara lebih lanjut, karena para malaikat akan menjawab pertanyaanmu kapan saja engkau kehendaki. Lagi pula, apakah kami ini bukan pembohong? Mengapa engkau harus percaya kepada kami? Tolong, jangan menyiksa kami lagi. Sayangilah kami .”

    Baca juga: Bahas Exorcism ?

    “ Terkutuklah kalian hai roh-roh jahat yang sungguh tak pantas untuk didengarkan,” kata St. Dominikus sambi berlutut berdoa kepada Bunda Maria,

    “Ya Bunda kebijaksanaan yang luhur, aku berdoa bagi orang-orang yang berkumpul di sini, yang telah mengetahui cara mendaraskan secara benar Salam Malaikat. Tolonglah, kumohon kepadamu, perintahkanlah musuh-musuhmu untuk menyatakan semua kebenaran dan hanyalah kebenaran tentang hal ini, di sini dan sekarang, di hadapan para hadirin.”

    Setelah St. Dominikus menyelesaikan doanya, tampaklah padanya Bunda Maria dikelilingi sejumlah malaikat. Ia memukul orang yang kerasukan setan itu dengan setangkai emas yang dipegangnya dan berkata, “Jawablah hambaku dengan segera” (Orang-orang itu tidak melihat dan tidak mendengar kata-kata Bunda Maria: hanyalah St. Dominikus.) Kemudian setan-setan itu menjerit,

    “ Wahai engkau musuh kami, kejatuhan dan kehancuran kami, mengapa engkau turun dari surga hanya untuk mendera kami secara kejam? Wahai pengantara orang-orang berdosa, engkaulah yang merenggut orang-orang berdosa dari kuasa kami, engkaulah jalan paling tepat menuju surga, apakah kami harus menyatakan semua kebenaran itu dan mengakukannya di depan semua orang, siapa sebenarnya yang menjadi alasan rasa malu kami dan keruntuhan kami. Oh terkutuklah kami pangeran-pangeran kegelapan :

    Dengarkanlah baik-baik hai orang-orang Kristen: Bunda Yesus Kristus sungguh berkuasa dan ia dapat menyelamatkan hamba-hambanya dari kejatuhan ke dalam api neraka. Dialah matahari yang menghancurkan kegelapan tipu muslihat dan kecerdikan kami. Dialah yang membongkar komplotan-komplotan kami yang tersembunyi, memporak-porandakan jeratan-jeratan kami, serta membuat semua godaan kami tak berguna dan tak berhasil.

    Kami harus mengatakan kendatipun dengan berat hati, bahwa belum ada satu jiwa pun (yang sungguh-sungguh bertekun dalam pelayanannya) hancur bersama kami; satu tarikan nafas yang ia persembahkan kepada Tritunggal Mahakudus jauh lebih pantas daripada semua doa, keinginan, serta cita-cita segenap orang kudus.

    Baca juga: Lingkungan dan Kesehatan

    Kami lebih merasa takut kepadanya daripada semua orang kudus lain di surga dan kami pun tidak berhasil membujuk hamba-hambanya yang setia. Banyak orang Kristen yang memohon kepadanya saat kematiannya dan seharusnya mereka terkutuk menurut pertimbangan kami tetapi diselamatkan oleh perantaraannya.

    Oh kalau saja Maria (mereka menyebutkan namanya karena kegundahannya) tidak mengadu kekuatannya dengan kekuatan kami serta mengacau-balaukan rencana-rencana kami, pastilah kami telah memenangkan Gereja serta menghancurkannya jauh-jauh hari sebelum ini . Kami pun pasti sudah bersaksi bahwa semua ordo religius di dalam Gereja itu telah jatuh ke dalam ketidakteraturan.

    Doa Rosario

    Sekarang karena kami dipaksa untuk berbicara, kami juga harus mengemukakan hal ini: Tak seorang pun yang tekun dalam doa Rosario akan dikutuk, karena ia (Maria) akan memperoleh bagi hamba-hambanya rahmat penyesalan yang jujur dari lubuk hati yang dalam akan dosa-dosanya dan dengan demikian mereka mendapatkan pengampunan dan kerahiman Allah.”

    Kemudian St. Dominikus menyuruh semua orang berdoa Rosario dengan sangat perlahan-lahan dan dengan penghormatan yang besar. Terjadilah peristiwa ajaib. Pada setiap Salam Maria yang diucapkan bersama umat, sejumlah iblis berhamburan keluar dari tubuh yang malang itu berupa batu bara yang berpijar.

    Ketika semua iblis telah keluar dan orang bidaah itu bebas dari belenggung mereka, Bunda Maria (yang tetap tidak tampak) memberikan berkat kepada hadirin yang berkumpul, dan mereka diliputi sukacita karenanya.

    Sejumlah orang bidaah bertobat karena tanda heran (mukjizat) ini dan bergabung dengan Serikat Rosario Suci.

    Bahas Exorcism ?

    MajalahDUTA.ComAda yang tahu film The Nun? Kalau Emily Rose?

    Nah jika pernah menonton film tersebut pasti akan mengira bahwa kerasukan setan adalah hal yang lazim .

    Kemudian topik kali ini pada hari Jumat malam, peserta akan bahas hal – hal yang berbau mistis (mistik).

    Pertanyaan yang kemudian muncul, apakah umat yang notabene kaum awam bisa melakukan Eksorsisme? Atau hanya para imam yang bisa?

    Kali ini, akan dibahas langsung oleh praktisi Eksorsisme Keuskupan Agung Pontianak.

    Yuk langsung gas daftar ke pertemuannya:

    “Exorcism”

    Dibawakan oleh:

    RD. Anton Silvinus

    Jumat, 12 Agustus 2022
    Pk 19.30 – 21.30 wib

    ( 19.00 & . 20.00 ) – kecuali sdh izin dg alasan yg jelas

    Ajak teman2 kalian juga ya dan bagi teman kalian yang berminat bisa isi form di bawah ini:

    http://bit.ly/ICCMregistration

    (Only fot Young Adults! 15-45 yo)

    (yg sudah pernah mengisi tidak perlu isi link lagi ya)

    See you soon.

    Lingkungan dan Kesehatan

    Pemeriksaan Sumber Air Bersih- Dokumen dr. Apriana Clara / Puskesmas Mandor Kab. Landak

    MajalahDUTA.Com, Pendidikan- Menjaga lingkungan tetap bersih merupakan hal yang sangat penting. Menjaga lingkungan agar tetap bersih sangatlah mudah sebenarnya, jika sering dilakukan, itu akan membuat kita terbiasa.

    Apabila sejak dini kita diajarkan oleh orang tua kita tentang arti sebuah hidup yang bersih dan  sehat maka itu akan membuat kita terbiasa menjaga lingkungan agar tetap bersih.

    Hal yang terkecil  yang bisa dilakukan adalah dengan membuang sampah pada tempatnya. Lingkungan yang tidak dirawat akan berdampak buruk bagi kesehatan baik secara langsung maupun tidak langsung.

    Baca juga: GassTipiiss Riding Wisata Promosikan Pantai Krui

    Dampak paling utama yang bisa terjadi adalah banjir. Banjir dapat mencemari air tanah sehingga air tanah yang tercemar tersebut jika digunakan sebagai sumber air bersih akan menyebabkan dampak buruk bagi kesehatan.

    Mengutip dari jurnal ilmiah terkait kesehatan lingkungan, lingkungan yang kotor akan menimbulkan pengaruh negatif bagi kesehatan dan dapat menimbulkan penyakit yang dikenal dengan Penyakit Berbasis Lingkungan.

    Penyakit berbasis lingkungan adalah serangkaian gejala atau penyakit yang disebabkan oleh bahan kimia, asap, polusi, alergen, virus, atau racun atau bahaya fisik yang ditemukan di lingkungan yang tidak sehat.

    Paparan bahan kimia beracun atau bahaya lainnya ini dapat terjadi di mana pun, baik di rumah, tempat kerja, atau masyarakat.

    Tiga faktor utama

    Mengutip dari situs epidemiologi kesehatan, berdasarkan trias epidemiologi penyakit, terdapat 3 faktor utama yang berkontribusi terhadap terjadinya penyakit dan masalah kesehatan lainnya, 3 faktor utama tersebut terdiri dari host (pejamu), agent (faktor penyebab) dan environment (lingkungan).

    1. Host (pejamu/manusia) yang dipengaruhi oleh perilaku hiudp, status gizi, pengetahuan, dan lain-lain.
    2. Agent (faktor penyebab) yang trdiri dari:

    Agent Biologis: Bakteri, Virus, Jamur, Protozoa, Amoeba, dan lain-lain.

    Agent Kimia: Logam berat (Pb, Hg), air pollutants (Irritant: O3, N2O, SO2, Asphyxiant: CH4, CO), Debu dan seratt (Asbestos, silicon), Pestisida, dan lain-lain.

    Agent Fisika: Radiasi, Suhu, Kebisingan, Pencahayaan, dan lain-lain.

    1. Environment (lingkungan) yang terdiri dari udara, tanah, air, makanan, binatang dan lain-lain.

    Hubungan ke 3 faktor tersebut merupakan hubungan yang dinamis yang berada dalam keseimbangan pada orang yang sehat. Perubahan pada satu komponen akan mengakibatkan perubahan keseimbangan yang pada gilirannya akan mempengaruhi kejadian penyakit.

    Baca juga: ‘Trend’ Nongkrong di ‘Coffee Shop’ Ala Remaja Pontianak

    Host-agent-environment menunjukkan keberadaan dan keterikatan manusia dengan lingkungannya. Saling mempengaruhi antara manusia dengan lingkungan dapat berdampak positif maupun negatif.

    Contoh hal ini diantaranya adalah muncul dan berkembangnya beberapa penyakit pada manusia yang dipengaruhi oleh lingkungannya atau penyakit berbasis lingkungan.

    Beberapa jenis penyakit berbasis lingkungan, diantaranya:

    1.   Dapat disebabkan oleh kondisi udara yang kotor dan mengandung banyak zat berbahaya akan meningkatkan risiko terjadinya asma.
    2. Lingkungan yang kotor dapat menjadi tempat yang potensial bagi bakteri penyebab diare berkembang biak.
    3. Gangguan Penglihatan. Polusi udara (debu ) dapat membuat iritasi pada mata sehingga berpengaruh pada kesehatan organ penglihatan kita.
    4. Kanker Paru. Beberapa zat penyebab polusi yang terdapat di udara ternyata juga memiliki sifat pemicu kanker (karsinogenik).

    Baca juga: Tentang infalibilitas ‘Humanae Vitae’

    1. Gangguan Jantung. Udara yang didominasi oleh zat berbahaya, membuat jantung harus bekerja ekstra untuk mengumpulkan oksigen. Polutan yang masuk ke dalam tubuh bisa berubah menjadi radikal bebas dan kemudian dapat mengakibatkan pembuluh darah jantung tersumbat, sehingga mengganggu kerja jantung.
    2. ISPA ( Infeksi Pernapasan Akut ). Selain disebabkan oleh perjangkitan dari orang yang menderita ISPA, penyakit ini dapat juga disebabkan oleh udara yang tercemar.
    3. Tipes atau demam tifoid. Selain disebabkan oleh perjangkitan dari orang yang menderita tipes, penyakit ini dapat juga disebabkan oleh makanan dan minuman yang tercemar oleh tinja orang yang menderita tipes karena kebersihan lingkungan yang tidak baik (buang air besar sembarangan).

    Cara-cara menjaga kebersihan lingkungan 

    Mengingat penyakit berbasis lingkungan sangat berbahaya bagi kesehatan, maka diperlukan kepedulian yang besar terhadap kebersihan lingkungan agar terhindar dari penyakit-penyakit  tersebut.

    Berikut beberapa cara yang dapat dilakukan untuk menjaga kebersihan lingkungan, baik di rumah, di tempat kerja maupun di sekolah:

    1. Membuang sampah pada tempatnya.
    2. Buatlah jadwal piket untuk membersihkan rumah, biasakan kita untuk membersihkan kamar, kamar mandi, Dapur, halaman rumah, selokan, dan area sekitar rumah secara rutin.
    3. Membersihkan selokan-selokan. Tujuan dari membersihkan selokan adalah agar air di selokan tidak tersumbat oleh sampah-sampah. Apabila selokan tersumbat maka dapat menimbulkan aroma yang tidak sehat yang berpengaruh juga pada kesehatan.
    4. Bakar sampah yang tertimbun. Sampah yang sudah dibuang kalau sudah banyak sebaiknya dibakar agar tidak berterbangan dan berserakan kembali. 5.
    5. Lakukan langkah 3 M: menutup tempat penyimpanan air, menguras bak mandi secara ritun, mengubur barang-barang bekas.
    6. Selalu terapkan 3B: buang sampah di tempat yang sudah di sediakan, bersihkan segala sesuatu yang kotor, biasakanlah untuk hidup sehat dan bersih.

    Lingkungan yang bersih dan nyaman tentunya akan membuat hati kita terasa damai dan tubuh kita sehat. Dengan menjaga lingkungan agar tetap bersih maka akan  membuat kita jauh dari ancaman berbagai macam penyakit sehingga  dapat meningkatkan derajat kesehatan kita. Mari kita tanamkan dan tingkatkan kepedulian terhadap kebersihan lingkungan.

    Wantimpres Agung Laksono Dengarkan Keluh Kesah Komunitas Nelaya Muara Angke

    Nasional Pos- Media Mitra: Wantimpres Agung Laksono Dengarkan Keluh Kesah Komunitas Nelaya Muara Angke

    MajalahDUTA.Com, Jakarta- Bertempat di Resto Apung di kawasan Dermaga Muara Angke, Jakarta Utara, Kamis, 11 Agustus 2022, sebanyak 50-an orang perwakilan dari komunitas maupun organisasi nelayan di Muara Angke, berkesempatan menyampaikan berbagai permasalahan yang dialaminya selama ini kepada Agung Laksono Anggota Wantimpres, yang dengan antusias berkenan mendengarkan dan juga berdialog mengenai keluh kesah para nelayan tersebut.

    Salah satu permasalahan yang dialami para nelayan tersebut, terungkap mengenai adanya kebijakan dari Pemerintah, terkait adanya berbagai dokumen perijinan yang harus di miliki oleh nelayan, antara lain perizinan termasuk surat layak operasional (SLO) yang dikeluarkan pengawas setempat, yang dirasakan sangat sulit didapat, dan juga memerlukan waktu yang lama, sehingga dengan adanya kendala ini, menyebabkan para nelayan maupun pemilik kapal, tak jarang tak bisa melaut untuk mencari nafkah memenuhi kebutuhan keluarga mereka.

    Baca juga: Indonesian Homebrewer Club Gelar Webinar Bertajuk dari AM ke PWM Solusi Tingkatkan Kualitas Modulasi

    “Dengan adanya masalah perijinan ini, kami mengalami kesulitan untuk melaut, ya, mau tidak mau agar bisa melaut dan mendapat solar yang layak, maka kami menggunakan jasa calo untuk mengurus semua perijinan tersebut, karena kalau tidak mendapatkan ijin itu, selain kami tidak bisa melaut, kami juga tidak bisa membeli solar bersubsidi, ya, terpaksa kami mendapatkan solar bekas”ungkap Wawan salah seorang nelayan peserta kegiatan ini.

    Bukan hanya mengenai perijinan yang menjadi kendala bagi para nelayan, terutama nelayan kecil, melainkan juga terdapat masalah lain yang di ungkap di acara ini, yakni mengenai keberadaan surat legalitas atas kepemilikan lahan seluas 5 hektare yang sudah selama 25 tahun lebih, di tempati oleh para nelayan beserta keluarga, yang hingga saat ini, tak kunjung didapatkan oleh ratusan kepala keluarga yang menempati lahan tersebut, sehingga mereka pun merasa khawatir untuk sewaktu-waktu lahan yang mereka tempati apabila tidak memiliki legalitas, akan mudah digusur, hal ini diungkap oleh H. Yusron Effendi, yang juga salah seorang warga Kmapung Nelayan Muara Angke.

    “ Kami sangat berharap agar Bapak Agung Laksono dapat menjembatani persoalan legalitas lahan yang sudah kami tempati selama 25 tahun lebih tersebut”ucap H. Yusron Effendi.

    Usai mendengarkan aspirasi yang disampaikan oleh para peserta acara tersebut, H Agung Laksono Anggota Wantimpres berkesempatan memberikan tanggapan serius, kepada hadirin yang hadir di acara itu, ia mengatakan bahwa sesuai tugas pokok fungsi dan kewenangan sebagai anggota Wantimpres, maka semua keluh kesah maupun aspirasi yang disampaikan oleh para nelayan Muara Angke tersebut, tentunya akan segera disampaikan ke Bapak Presiden, nah kemudian Bapak Presiden akan menyampaikannya ke Menteri terkait, misalnya masalah perijinan akan disampaikan ke Menteri KKP, dan kalau masalah lahan, nanti akan di sampaika oleh Bapak Presiden ke Menteri Agraria / Kepala Badan Pertanahan Nasional.

    Baca juga: Oblates of St. Joseph Philippines ada di Indonesia – Keuskupan Agung Pontianak

    “Baik terima kasih kepada saudara sekalian, yang telah menyampaikan aspirasinya di kesempatan ini, insyaallah, akan segera ada solusinya dari instansi kementerian terkait, namun demikian yang perlu di catat bahwa sector Perikanan ini telah memberikan konstribusi strategis bagi pendapatan negara, karena itu sudah semestinya pemerintah memberikan perhatian optimal bagi terwujudnya kesejahteraan nelayan, soal perijinan mungkin bukan dipersulit, namun mungkin karena kurang sosialisasi tentang mekanisme pengurusan ijin tersebut, sehingga dimanfaatkan pihak tertentu untuk meraih keuntungan sebagai calo, ini yang harus dicegah, kata kuncinya adalah edukasi yang massif bagi nelayan mengenai berbagai hal terutama soal perijinan ”pungkas H Agung Laksono Anggota Wantimpres.

    Laporan Singkat di Jalan Simpang Veteran, Tanjung Raya dan Tanjungpura Pontianak

    Berita Diah Rosanti 95,9 FM- Martin

    MajalahDUTA, Berita– Kamis, 11 Agustus 2022, Pontianak-Kalimantan Barat. Pada 16.30 wib sore hari ini dapat dikabarkan bahwa situasi dijalan sangat dipadati kendaraan roda empat maupun roda dua terutama dijalan dari arah Veteran menuju Tanjung Raya dan dari arah Tanjungpura menuju Imam Bonjol.

    Kepadatan dikarenakan oleh kendaraan yang menumpuk di badan jalan saat menunggu lampu merah berganti hijau, serta masyarakat yang tidak sabar untuk melanjutkan perjalanan dan menorobos lampu merah hingga mengakibatkan jalanan macet.

    ‘Trend’ Nongkrong di ‘Coffee Shop’ Ala Remaja Pontianak

    Naura dan Fitri, Foto: Yesi Majalah DUTA

    MajalahDUTA.Com, PontianakCoffee Shop marak dijadikan trend tongkrongan anak muda Pontianak.

    Nongkrong menjadi trend yang banyak diminati kalangan anak muda zaman sekarang, maka tak heran telah banyak Coffee Shop yang menjamur di kota-kota besar, termasuk kota Pontianak.

    Nongkrong sudah menjadi aktivitas sosial yang sudah ada sejak lama, namun sebelum Coffee Shop ini bermunculan, dulunya hanya ada warung kopi (warkop) yang menyediakan menu dan tempat yang cukup sederhana dan belum ramai dikunjungi remaja.

    Kini remaja lebih suka nongkrong ke Coffee Shop yang memiliki tempat instagramable meskipun menu-menu yang disuguhkan di banderol dengan harga yang lebih mahal daripada warkop.

    Seperti suasana rabu malam yang cerah (10/8/2022) di Sediakala Café terlihat sangat ramai dipenuhi anak muda baik dibagian indoor maupun outdoor.

    Café yang berlokasi di Jalan Sulawesi Pontianak Selatan ini banyak dikunjungi anak muda dari berbagai daerah kota Pontianak, seperti Naura (17 ) dan Fitri (18 ) yang tinggal di Siantan, Pontianak Utara.

    Naura dan Fitri merupakan remaja yang baru lulus SMA ini memiliki hobi nongkrong ke café sudah cukup lama.

    Nongkrong menjadi hal yang lumrah

    Mereka sangat gemar mengunjungi berbagai Coffee Shop dan warkop yang ada di kota Pontianak. Prinsipnya harus mengunjungi café yang berbeda beda tiap nongkrong dan Café yang belum pernah di kunjungi.

    “Kalau saya lebih suka ke Coffee Shop daripada warkop karena sebagian besar konsumen yang datang lebih banyak cewek, sedangkan kalau di warkop konsumennya lebih banyak cowok, jadi saya merasa lebih nyaman jika bersantai di Coffee Shop,” kata Fitri.

    Naura juga sependapat, dia melihat untuk daerah Siantan sendiri lebih banyak warkop daripada Coffee Shop, hampir semua sudah dia kunjungi. Jadi menurutnya mencari suasana baru untuk dikunjungi seperti di tempat yang pernah dia kunjungi adalah hal yang biasa.

    Aktivitas nongkrong di Café tak hanya sebatas mengobrol dengan teman-teman saja, tampak pengunjung lain yang asyik berfoto dan merekam video di tempat-tempat yang instagramable, selain itu tampak pengunjung yang memanfaatkan fasilitas wifi dengan membawa laptop untuk mengerjakan tugas atau sekedar bermain sosial media dan game online di gadget mereka.

    Suasana tempat yang elegan, estetik, unik dan berbagai fasilitas lainnya membuat beberapa Coffee Shop selalu ramai dikunjungi tak hanya pada malam minggu saja.

    Tentang infalibilitas ‘Humanae Vitae’

    Paus Paulus VI menyapa seorang anak saat ia mengunjungi paroki Yesus Sang Guru Ilahi di Roma 2 April 1972. (Sumber: Giancarlo Giuliani/ Catholic Press Photo via CNS.)- Komisi Komunikasi Sosial Keuskupan Agung Pontianak.

    MajalahDUTA.Com, ROMA- Dalam mengikuti perkembangan polemik dalam informasi di berbagai media tentang topik kegerejaan, saya tertarik mengulas tulisan yang diangat oleh wartawan seneor Elise Ann Allen.

    Dia adalah penduduk asli Denver yang saat ini bekerja sebagai Koresponden Senior untuk Crux di Roma, meliput Vatikan dan Gereja global.

    Sebelum bergabung dengan Crux, Elise bekerja dengan Catholic News Agency, pertama sebagai asisten multi-media dan manajemen konten di Denver, dan kemudian sebagai Koresponden Senior Roma yang meliput Vatikan. Dia merupakan lulusan dari University of Northern Colorado pada tahun 2010 dan memegang gelar dalam bidang filsafat dan komunikasi.

    Baca juga: Teknologi dan Dilemanya bagi Pendidikan

    Dalam tulisannya, dia mengulas “Vatican’s Academy for Life sparks debate over infallibility of ‘Humanae Vitae’” dalam tulisannya itu dia menuliskan bahwa selama beberapa hari terakhir, badan tertinggi Vatikan menyoroti tentang masalah kehidupan yang telah menyebabkan kegemparan di seluruh dunia digital karena berargumen bahwa salah satu dokumen magisterial gereja yang paling berpengaruh dan kontroversial di abad yang lalu tidak tercakup oleh infalibilitas kepausan.

    Menurutnya, debat yang lebih besar dimulai bulan lalu dengan diterbitkannya volume baru oleh Akademi Kepausan untuk Kehidupan berjudul, Theological Ethics of Life.

    Kitab Suci, Tradisi, Tantangan Praktis, yang mencakup makalah yang disampaikan selama konferensi yang disponsori oleh akademi tahun lalu.

    Setelah dirilis, volume tersebut dikritik atas kontribusi beberapa teolog yang berpendapat untuk perbedaan antara norma-norma moral, seperti kecaman gereja terhadap pengendalian kelahiran buatan, dan penerapan pastoral yang konkret dari norma-norma itu.

    Ajaran moral gereja

    Dalam buku itu, beberapa teolog tampaknya menyarankan bahwa dalam keadaan terbatas tertentu, pasangan mungkin dibenarkan dalam memilih kontrasepsi buatan, atau metode reproduksi buatan.

    Akademi membela volume tersebut, dengan mengatakan perannya sebagai akademi kepausan adalah untuk memfasilitasi dialog di antara para pemikir teologis terkemuka saat itu tentang isu-isu kontemporer yang menjadi perhatian utama.

    Namun, para kritikus berpendapat bahwa tidak pantas bagi entitas resmi Vatikan untuk memasukkan suara-suara yang mempertanyakan beberapa ajaran moral inti gereja.

    Doktrin Kontroversial

    Perdebatan berkobar lagi selama akhir pekan tentang tweet yang dikirim dari akun Twitter resmi Akademi Kepausan untuk Kehidupan yang menyatakan bahwa ensiklik St. Paus Paulus VI tahun 1968 Humanae Vitae – yang memperkuat ajaran gereja tentang pernikahan dan menegakkan kecamannya terhadap kontrasepsi buatan – tidak dibahas oleh doktrin infalibilitas kepausan, yang berarti dapat berubah.

    Salah satu doktrin Gereja Katolik yang paling kontroversial, infalibilitas kepausan menegaskan bahwa paus dalam berbicara ex cathedra, dilindungi dari kesalahan ketika dia mengajar tentang masalah iman dan moral.

    Baca juga: Persekolahan Katolik Nyarumkop Sosialisasi Rumah Pendidikan Bersama Orang Tua Peserta Didik

    Dalam tweet 6 Agustus mereka, Akademi berpendapat bahwa Humanae Vitae, dan karena itu ajarannya, tidak termasuk dalam infalibilitas kepausan, dan ini ditegaskan oleh Uskup Agung Ferdinando Lambruschini selama konferensi pers 29 Juli 1968 yang menyajikan ensiklik kepada pers. Lambruschini adalah seorang teolog moral yang mengajar di Universitas Kepausan Lateran.

    Menanggapi reaksi terhadap tweet 6 Agustus mereka, Akademi mengeluarkan pernyataan di Twitter Senin membela publikasi volume bulan lalu dan mengulangi pernyataan mereka bahwa Humanae Vitae tidak tercakup oleh infalibilitas kepausan, tetapi tweet yang berisi pernyataan itu kemudian dihapus.

    Sejak Humanae Vitae

    Sejak Humanae Vitae pertama kali muncul pada tahun 1968, telah terjadi perdebatan aktif mengenai tingkat otoritas yang dimilikinya, termasuk implikasinya, apakah seseorang dapat berbeda pendapat darinya dan tetap menjadi seorang Katolik yang baik.

    Secara umum, teolog konservatif mengatakan tidak, bersikeras fakta bahwa larangan pengendalian kelahiran tidak pernah secara resmi dinyatakan sebagai sempurna tidak berarti tidak.

    Mereka menunjukkan bahwa pernyataan-pernyataan seperti itu umumnya dicadangkan untuk masalah-masalah iman, bukan moral – misalnya, dogma Dikandung Tanpa Noda dan Maria Diangkat ke Surga, satu-satunya contoh pernyataan formal tentang infalibilitas dalam 150 tahun terakhir – dan itu hanya karena tidak ada paus yang pernah menyatakan ajaran moral gereja terhadap berbohong atau mencuri sebagai “sempurna” tidak berarti mereka siap untuk diperebutkan.

    Tidak merujuk pada kontrasepsi

    Pada tahun 1997, sebuah kantor Vatikan menyebut larangan pengendalian kelahiran sebagai “pasti dan tidak dapat diubah”.

    Para teolog liberal, di sisi lain, bersikeras bahwa dia bisa memiliki paus sejak Paulus VI ingin menyatakan Humanae Vitae sempurna, tetapi tidak ada yang melakukannya.

    Mereka juga menunjukkan bahwa surat apostolik tahun 1998 oleh Yohanes Paulus II yang disebut Ad Tuendam Fidem, memperluas cakupan infalibilitas untuk memasukkan “magisterium biasa dan universal,” yang berarti sesuatu yang diajarkan oleh para paus dan uskup bahkan tanpa pernyataan khusyuk, tidak merujuk pada kontrasepsi, dan juga tidak ada komentar yang menyertai Kardinal Joseph Ratzinger saat itu, calon Paus Benediktus XVI.

    Status Humanae Vitae, oleh karena itu, masih diperdebatkan secara luas, dan jika debu-debu digital terbaru dengan Akademi Kepausan untuk Kehidupan ini merupakan indikasi, itu mungkin akan terjadi untuk beberapa waktu.

    Apa itu Infalibilitas?

    Menurut beberapa sumber, Infalibilitas bahasa Inggris: infallibility merupakan ketidakmampuan untuk berbuat salah dalam mengajar kebenaran yang dinyatakan.

    Di lingkungan Gereja Katolik Roma dogma ini umumnya dikenakan kepada paus dalam dogma infalibilitas paus, sementara di lingkungan Gereja-gereja Protestan dogma ini dikenakan kepada Alkitab dalam dogma Ketidakbersalahan Alkitab (“Ineransi” Alkitab, yang terkadang dibedakan dari “infalibilitas”).

    Baca juga: Hadeh – Tiktok Buat Lupa Realitas

    Dalam keterangan tambahan lain dalam wikipedia, dituliskan disana bahwa Infalibilitas kepausan berarti bahwa Paus, apabila berbicara mengenai hal-hal yang menyangkut iman atau moral ex cathedra (artinya, dari kedudukannya secara resmi dan sebagai gembala dari Gereja yang universal), ia benar dan karenanya tidak mungkin berbuat kesalahan.

    Keyakinan ini mempunya sejarah yang panjang, tetapi baru dirumuskan sebagai dogma pada Konsili Vatikan Pertama pada tahun 1870. Dalam teologi Katolik, doktrin ini adalah satu dari keempat saluran dari infalibilitas Gereja.

    Rujukan itu bersumber dari buku (Inggris) Cross, F.L. and Livingstone, E.A. (eds), “infallibility” in The Oxford Dictionary of the Christian Church, p831. Oxford University Press, Oxford, 1997. ISBN 0-19-211655-X. (Wikipedia).

    Pada paparan diatas paling tidak, pembaca dan kita semua disuguhkan informasi baru tentang Infalibilitas yang menjadi polemik selama ini. Terlebih tentang ajaran moral dan sejenisnya. Oleh karenanya, baik jika diantara umat bisa memiliki pengetahuan yang serupa, agar ada sudut pandang dan cakrawala baru dalam menelaah informasi yang bertebaran.

    Setidaknya itulah pemaparan singkat tentang infalibilitas dan inti dari infalibilitas itu sendiri. Semoga!!!

     

    Teknologi dan Dilemanya bagi Pendidikan

    Teknologi dan Dilemanya bagi Pendidikan-Majalah DUTA Rubrik Pendidikan

    MajalahDUTA.Com, Pendidikan- Saat ini dalam kehidupan sehari-hari, kita tidak bisa jauh dari teknologi. Kegiatan kita setiap harinya semakin dipermudah dengan adanya teknologi.

    Philip Sporn, seorang insinyur listrik Austria yang dikenal karena pekerjaannya sebagai presiden dan CEO American Gas and Electric Company mengatakan, teknologi merupakan khasanah pengetahuan yang terhimpun secara sistematis berdasarkan penemuan ilmiah melalui eksperimentasi, atau semata-mata berdasarkan praktek bertahun-tahun yang berhasil, yang memungkinkan diproduksinya secara praktis suatu benda atau jasa tertentu.

    Dari pernyataan Mr. Philip, kita bisa mengetahui dengan adanya teknologi, kegiatan sehari-hari kita akan menjadi lebih praktis, tak terkecuali dalam dunia pendidikan. Di perkotaan, penggunaan teknologi memang sudah tidak asing lagi.

    Baca juga: Percaya itu, tak sekedar Yakin – (dengan huruf besar P & Y)

    Bahkan jauh hari sebelum pandemi Covid-19 pun, penerapan teknologi sudah dilakukan, misalnya dengan penggunaan perangkat fisik seperti proyektor, komputer, sound system, sampai dengan teknologi berbasis perangkat lunaknya seperti penggunaan Microsoft office, internet, dan sebagainya.

    Pandemi Covid-19 adalah peristiwa menyebarnya Penyakit koronavirus 2019 (Bahasa Inggris: Coronavirus disease 2019) di semua negara. Penyakit ini disebabkan oleh virus korona jenis baru yang diberi nama SARS-CoV-2.

    Wabah Covid-19 pertama kali terdeteksi di Kota Wuhan, Hubei, Tiongkok pada tanggal 31 Desember 2019, dan ditetapkan sebagai pandemi oleh Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) pada tanggal 11 Maret 2020.

    Baca juga: Pastor Johanes Robini: Manajemen Universitas Katolik, Jangan Emosional, Bertanyalah dan Komunikasikan

    Kehadiran virus ini telah menjadi peristiwa besar dan sangat berdampak di berbagai aspek kehidupan masyarakat. Para pekerja di PHK, aktifitas dibatasi, perusahaan-perusahaan ditutup, hingga para pelajar dirumahkan.

    Dari kesulitan-kesulitan tersebut, perlahan masyarakat dunia mulai bangkit dan mulai menemukan beragam cara untuk keep going dan tidak berpasrah dengan keadaan.

    Di dunia pendidikan, kehadiran pandemi ini ‘Memaksa’ para pelaku pendidikan untuk semakin menggunakan teknologi. Bagaimana tidak, di tengah ketakutan yang bergejolak, sudah terlalu lama kegiatan belajar-mengajar terhenti, sampai muncullah solusi yang cukup membantu yakni dengan penggunaan berbagai macam aplikasi pada handphone dan personal komputer.

    Terdapat banyak sekali aplikasi-aplikasi yang memudahkan tenaga pendidik untuk menyalurkan ilmu kepada para muridnya, contohnya saja aplikasi video conference seperti zoom dan google meet, hingga aplikasi percakapan group seperti google classroom, Telegram dan WhatsApp group.

    Bagi mereka yang terbiasa dengan gadget tentunya adaptasi dalam penggunaan aplikasi ini bukanlah masalah besar. Namun, penerapan teknologi merupakan masalah yang amat besar bagi masyarakat di daerah-daerah pedalaman.

    Saya ingat persis ketika waktu itu saya bertanya kepada Bapak saya yang kebetulan merupakan seorang guru, Pak Linus namanya, seorang guru di salah satu SD Negeri yang ada di Kecamatan Nanga Mahap, Kabupaten Sekadau, saya tanyakan “Bapak, jadi sekarang belajar sudah daring terus ya?” beliau menjawab “Ya untuk komunikasi biasanya daring,” saya tanyakan, “Memang gak susah ya Pak belajar sistem daring begini?” jawabnya “Betul, disini susah sekali belajar dengan sistem daring seperti ini.

    Baca juga: Kebaruan Spiritualitas Imam Keuskupan Agung Pontianak

    Banyak diantara para guru, siswa dan orang tua murid yang gagap akan teknologi, sehingga sering menimbulkan perdebatan dan protes dari orang tua murid.” Pak Linus mengakui, dirinya sendiri dan rekan gurunya yang lain juga cukup kesulitan untuk menyalurkan ilmu dan memberikan tugas kepada murid-muridnya.

    Tak jarang, pesan yang disampaikan justru tidak dikerjakan sebagaimana yang diperintahkan. Ditambah lagi dengan penggunaan gadget seperti ini menjadi ‘Shock experience’ bagi mereka yang tidak terbiasa menggunakan teknologi.

    “Banyak murid disini yang belum bisa membaca dan menulis, bahkan sampai kelas 5 pun masih ada yang belum bisa baca tulis, tapi mereka harus beradaptasi dengan sistem daring, tentunya ini tidak mudah,” ungkap Linus. Atas kesulitan ini, akhirnya belajar sistem daring pun tidak sepenuhnya dijalankan dan tugas dikumpulkan secara manual oleh orang tua siswa.

    Buta akan teknologi menjadi suatu keprihatinan bagi kita. Di tengah kemajuan yang kian pesat, tetapi kenyataannya masih sangat banyak masyarakat di pedalaman yang belum bisa beradaptasi dengan itu.

    Di sisi lain tidak semua masyarakat desa setuju penggunaan teknologi di daerah mereka benar-benar dibutuhkan, karena kebiasaan mereka untuk bersosialisasi secara langsung masih sangat kuat, dan silaturahmi itu menjadi keunggulan tersendiri bagi mereka.

    Marilah kita doakan yang terbaik bagi kemajuan masyarakat, Semoga!!!

    Percaya itu, tak sekedar Yakin – (dengan huruf besar P & Y)

    Ilustrasi Foto. Dalam Foto ini Uskup Agustinus Mendoakan seorang perempuan yang datang kepadanya dengan memohon doa agar dikuatkan dari masalah. - Menjalin

    MajalahDUTA.Com, Suara DUTA- Dalam pengalaman sehari-hari istilah kata Percaya (dengan huruf besar P) memaksudkan kapasitas manusia yang memungkinkan relasi lebih dalam antara dirinya dengan realitas yang lebih tinggi yaitu sesuatu yang ia percaya.

    Jadi pada pemahaman terkait Percaya, jelas hal merujuk pada relasi personalnya dengan ‘realitas yang tak terbatas’. Pertanyaan prinsip percaya itupun muncul, apakah manusia hidup hanya sekedar sikap percaya (dengan huruf kecil p) semata?

    Kalau jawaban berdasarkan opini personal ditambah dengan gimik keyakinan beragama, jelas bahwa sikap percaya itu adalah modal utama untuk hidup. Namun bagaimana jika manusia ‘yang lain’ tidak mengutamakan konsep kepercayaan yang mereka anut sebagai filosofi hidup utama dalam agama? Tidak salah jika mereka mengritisi bahkan mungkin saja bisa menuntut argumentasi dari kalimat ‘hanya sekedar percaya’.

    Baca juga: Meminjam Kata Santo Fransiskus: Bila Terjadi Penghinaan, Jadikanlah Kita Pembawa Damai

    Manusia jenis ini membutuhkan alasan ‘logis’ (yang dimaksudkan dengan logis disini yaitu alasan logis berdasarkan kapasitas pemahaman makna yang mereka anut) untuk mengerti secara ‘dalam’ dan menuju sikap pemahaman tentang ke-Percaya-an yang mereka maksud.

    Memasuki masa Renaisans, ditandai dengan kemunculan paham rasionalis, di mana Akal merupakan satu-satunya sumber pengetahuan. Mereka kaum rasionalis beranggapan bahwa sumber pengetahuan, bahkan sumber satu-satunya, hanyalah berasal dari akal budi, karena mereka berpendapat pancaindera seringkali melakukan kesalahan.

    Bagi masa ini, pancaindera tidak dapat diandalkan sebagai sumber pengetahuan yang sahih, hanya dengan menggunakan prosedur tertentu dari akal saja kita bisa sampai pada pengetahuan yang sebenarnya. Bagi mereka, akal budi saja sudah cukup memberi pemahaman bagi manusia terlepas dari pancaindera.

    Empirisisme

    Misalnya rasionalisme abad ke-17 memiliki beberapa tokoh sentral seperti Rene Descartes (1596-1650), W. G. Leibniz (1646-1716), Christian Wolff (1679-1754) dan Baruch Spinoza (1632-1677). Tokoh-tokoh ini kebanyakan berasal dari Eropa Daratan, oleh karena itu Rasionalisme lebih dikenal sebagai filsafat kontinental.

    Di antara sekian tokoh tersebut, Descartes merupakan filosof sentral apabila hendak membahas rasionalisme secara mendalam dan komprehensif. Rene Descartes merupakan filosof Prancis yang digelari sebagai “bapak filsafat modern”. Ia adalah peletak dasar aliran rasionalisme.

    Kemudian empirisisme muncul abad ke-17 M sering disebut sebagai empirisisme atomistik karena memahami pengetahuan sebagai data-data inderawi yang terpilah-pilah, tak berhubungan satu sama lain yang terterakan di benak manusia.

    Baca juga: Hadeh – Tiktok Buat Lupa Realitas

    Empirisme muncul di akhir Renaisans, melalui pemikiran Francis Bacon, yakni ketika ia menjelaskan metode induksinya. Akan tetapi baru dalam filsafat Thomas Hobbes (1588-1679), John Locke (1632-1704), George Berkeley (1685-1753), dan David Hume (1711-1776), pengalaman entah yang bersifat inderawi atau batiniah, menjadi pokok refleksi utama.

    Bagi kaum empiris, mereka menganggap tidak ada sumber pengetahuan lain selain pengalaman kita. Maka terutama hanya pancaindera –dan bukan akal budi— yang memainkan peranan penting dengan menyajikan bagi kita pengalaman langsung dengan objek tertentu. Peranan penting itu disebabkan karena: pertama, semua proposisi yang kita ucapkan merupakan hasil laporan dari pengalaman atau yang disimpulkan dari pengalaman.

    Kedua, manusia tidak mampu mempunyai konsep ataupun ide apa pun tentang sesuatu kecuali berdasarkan pada apa yang diperoleh dari pengalaman. Ketiga,akal budi hanya bisa berfungsi kalau mempunyai acuan pada realitas atau pengalaman.

    Dengan demikian bagi kaum empiris, akal budi hanya mengombinasikan pengalaman inderawi sampai pada pengetahuan. Kata kunci dari masa itu boleh kita sebut dengan pengalaman inderawi yang menghasilkan pengetahuan. Begitulah kira-kira menurut mereka yang menyebut dirinya kaum empirisme.

    Bagaimana manusia menyikapinya?

    Pertanyaannya, haruskah manusia mengalami dulu baru percaya atau percaya dulu baru mengalami? Saudara pembaca yang budiman,  jika bicara soal ke-Percaya-an berarti manusia sedang mengalami proses interpersonalnya dengan realitas yang paling tinggi karena itu, Percaya sifatnya pribadi (Privasi).

    Dalam konteks ini semakin jelas pula bahwa pengalaman mestinya dilakukan dengan sikap reflektif sehingga memiliki makna dari apa yang sudah dialami.

    Hari berganti menjadi bulan kemudian berganti menjadi tahun merupakan kesempatan baik pula untuk melakukan aktivitas refleksi diri untuk masuk secara personal dengan realitas lebih tinggi (Allah) sehingga bisa terlepas dari belenggu ‘sakit’ yang selama ini menjadi ‘delusi’ mata manusia.

    Baca juga: Cium Pertobatan

    Pilihan yang paling logis adalah menanganinya dengan sikap refleksi diri, karena kondisi delusi berpotensi mengacaukan pikiran rasional manusia yang melebur antara fantasi dan kenyataan hidup.

    Untuk menyadarinya manusia membutuhkan sikap refleksi dan memetik buah berkat dari pengalaman empiris dan kemudian dari situlah manusia bisa lebih berpotensi menghadirkan sikap yakin dan percaya dengan nilai-nilai berharap hidup damai dengan diri sendiri maupun dengan lingkungan.

    Untuk pembaca yang budiman, manusia dengan sendirinya sudah memiliki kemampuan pengolahan sikap emosional positif, energi itulah kemudian berpotensi menggerakan manusia agar tetap bersikap tenang agar mampu menilik nilai-nilai dari peristiwa entah itu peristiwa yang disukai ataupun yang tidak disukai.

    Karena Percaya (dengan huruf besar P) adalah sebuah keindahan yang tak bisa diukur dan tidak bisa sekedar dijelaskan dengan kata, sebab kita tahu bahwa kata-kata manusia terbatas untuk menjelaskan kedalaman pengalaman itu.

    Ke-Yakin-an itu posisinya kini semakin jelas karena ke-Percaya-an yang direfleksikan mengarah pada keyakinan pada apa yang mereka anut. Dalam hal ini, sedari Tuhan Yesus sudah mengajarkan cara-cara refleksi.

    Hal itu tampak saat Yesus mengajarkan para murid-muridnya dengan perumpamaan dan termasuklah pengalaman iman yang disaksikan oleh 5000 (lima ribuan) orang saat ia menggandakan lima roti dan dua ikan. Semoga!!!

     

     

    TERBARU

    TERPOPULER