Thursday, June 18, 2026
More
    Home Blog Page 102

    FPM-NTT Desak Jampidsus Segera Periksa Politisi NasDem Di duga Terlibat Kasus Korupsi Proyek Pengadaan Tower BTS

    FPM-NTT Desak Jampidsus Segera Periksa Politisi NasDem Di duga Terlibat Kasus Korupsi Proyek Pengadaan Tower BTS

    MajalahDUTA.Com, Jakarta- Dalam perkembangan penyidikan kasus dugaan korupsi proyek pembangunan BTS di Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo) 2020-2022, penyidik juga sudah memanggil Jhonny G Plate, sebagai pucuk pemimpin lembaga yang menangani proyek itu, sudah dua kali diperiksa sebagai saksi, yakni 14 Februari dan 15 Maret 2023, Kali terakhir diperiksa, Plate didudukkan oleh penyidik sebagai pengguna anggaran (PA) perencanaan proyek BTS BAKTI, yang bersangkutan diduga memanipulasi pertanggungjawaban kemajuan proyek BAKTI, sehingga 100 persen dana bisa dicairkan lebih dulu, namun masih ada kejanggalan dalam pemeriksaan oleh penyidik jampidsus Kejakgung tersebut, demikian disampaikan Alex Pakur juru bicara Forum Persaudaraan Masyarakat Nusa Tenggara Timur Se-jabodetabek kepada wartawan, Sabtu, 1/4/2023 di Jakarta.

    “Kami mencium aroma dugaan keterlibatan politisi Nasdem yang saat ini sebagai Tenaga Ahli di lingkungan Kementerian Kominfo berinisial DIP, dan di duga yang bersangkutan juga menikmati hasil korupsi proyek pembangunan BTS di Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo) 2020-2022.” Ungkap Alex Pakur.

    Menurut Alex Pakur, dari informasi yang diperolehnya menyebutkan mengenai keberadaan politisi Nasdem bernama Dony Imam Priambodo atau DIP, yang saat ini masih menjadi tenaga ahli di Kemenkominfo, dan juga yang bersangkutan memiliki perusahaan yang bergerak dibidang pembangunan pendirian Tower BTS, dengan nama Propelindo yang sejak tahun 2002,sebagai mitra investasi dari Telkom Flexi, salah satu divisi PT Telkom Indonesia, di bidang pembangunan Tower BTS dan Repeater di seluruh Indonesia, tentunya yang bersangkutan sangat berpengalaman di bidang pembangunan tower BTS, dan diduga yang bersangkutan mengerti serta memahami seluk beluk pembangunan Tower BTS tersebut, selain itu diduga yang bersangkutan juga memahami adanya scenario menguntungkan pihak tertentu, dan juga merugikan negara.

    “ Informasi yang kami dapat, diduga yang bersangkutan berperan sebagai penghubung dari perusahaan-perusahaan yang terlibat korupsi pengadaan tower Base Transceiver Station (BTS) oleh Kemenkominfo, Namun anehnya, sampai sekarang yang bersangkutan belum dipanggil oleh Jampidsus, ini bagi kami suatu keanehan dan kejanggalan dalam penanganan kasus tersebut.”tukas Alex Pakur.

    Lebih lanjut, Alex mengatakan Adanya indikasi dugaan keterlibatan politisi nasdem berinisial DIP tersebut sudah di adukan ke pihak Jampidsus agar melakukan pemeriksaan terhadap yang bersangkutan,

    “Demi memenuhi rasa keadilan masyarakat yang dirugikan, maka kami sangat berharap Jampidsus dapat segera mengusut tuntas kasus ini, dengan melakukan audit investigasi terhadap seluruh pejabat di kemenkominfo, termasuk terhadap politisi Nasdem DIP sebagai Tenaga Ahli di Kemenkominfo, dan tentunya kami mendesak agar Jampidsus segera panggil dan periksa yang bersangkutan. “pungkas Alex Pakur.

    Oleh: Yatno/ Nasional POS/ Mitra Media DUTA

    Melalui Minggu Palma, kita dapat memaknai simbol kehidupan, harapan, dan berkat

    Minggu Palma di Nyarumkop - 2023

    MajalahDUTA.Com, Nyarumkop, 2 April 2023 – Umat Katolik di Paroki Santa Maria Nyarumkop, Singkawang Timur, merayakan Minggu Palma pada hari Minggu, 2 April 2023. Perayaan Minggu Palma menjadi awal dari pekan suci menjelang peringatan kebangkitan Yesus. Acara ini dihadiri oleh kurang lebih dua ribu umat yang berkumpul di halaman Rumah Paroki Santa Maria Nyarumkop.

    Misa Minggu Palma diawali dengan pemberkatan daun palma di halaman Rumah Paroki Santa Maria Nyarumkop, yang kemudian dilanjutkan dengan perarakan menuju Gereja. Uskup Agung Pontianak, Mgr. Agustinus Agus, memimpin acara tersebut dengan memberikan pengantar dalam kemeriahan sorak-sorai penyambutan Yesus sebagai Raja. Mgr. Agustinus Agus juga mengingatkan umat bahwa di dalam kegembiraan itu, Yesus juga harus menanggung derita dan penderitaan.

    “Melalui Minggu Palma, kita dapat memaknai simbol kehidupan, harapan, dan berkat,” kata Mgr. Agustinus Agus dalam pengantarnya. “Kita harus selalu mengingat bahwa kegembiraan dalam kehidupan juga datang bersamaan dengan rintangan dan cobaan yang harus kita hadapi. Oleh karena itu, mari kita bersama-sama memaknai Minggu Palma sebagai momen untuk merenungkan hidup kita dan mendapatkan kekuatan untuk menghadapi tantangan kehidupan.”

    Perayaan Minggu Palma ini diakhiri dengan pemberkatan umat dan doa bersama. Umat Katolik Paroki Santa Maria Nyarumkop berharap bahwa acara ini akan memberikan makna yang mendalam bagi seluruh umat dan menginspirasi mereka untuk hidup lebih bermakna di masa yang akan datang.

    Oleh: Redaksi Majalah DUTA.
    Informasi: Oyent Andreas- Panitia Paskah Paroki Nyarumkop.

    Rekoleksi Prapaskah: Pertobatan dari Hidup yang Sia-Sia

    Rekoleksi Masa Prapaskah Paroki Kristus Raja Sambas

    MajalahDUTA.Com, Paroki Kristus Raja Sambas, Kalimantan Barat, mengadakan rekoleksi masa prapaskah pada hari Senin, 27 April 2023. Acara tersebut diadakan dalam dua sesi dengan narasumber yang berbeda. Sesi pertama dipimpin oleh Pastor Paroki, Pastor Celestinus Joni OFMCap, dan sesi kedua dipimpin oleh Pastor rekan, Pastor Benedetto Benno OFMCap.

    Rekoleksi ini mendapat sambutan baik dari umat di Paroki Kristus Raja Sambas dan dihadiri oleh para suster, postulan, umat dari ke-empat lingkungan, serta teman-teman Orang Muda Katolik (OMK) Kristus Raja Sambas. Acara ini Pastor Paroki harapkan akan menjadi acara rutin yang dilaksanakan setidaknya satu kali dalam setahun.

    Rekoleksi ini bertujuan untuk merefleksikan iman, memahami arti pertobatan, mengenal konsekuensi mengerikan dari ketidakbertobatan, mengenal lima langkah kejatuhan manusia dalam dosa, dan mengenal langkah-langkah pemulihan dalam pertobatan. Pertobatan adalah perubahan pikiran dan perilaku yang berasal dari hati dan pikiran.

    Setiap kisah dalam Injil memiliki pesan moral yang dapat diambil, dan masa prapaskah adalah waktu yang tepat untuk merenungkan kesalahan dan dosa diri sendiri serta memperbaiki diri. Sebagai umat yang beriman, kita harus belajar untuk mengampuni orang lain dan memaafkan diri sendiri agar iman kita semakin kuat.

    Mari kita bertobat dan kembali kepada Bapa,” pesan Injil.

    Oleh: Yuni Fransiska (OMK Sambas)
    Editor: Redaksi DUTA

    Rapat Panitia Paskah Paroki Santa Maria Nyarumkop

    RAPAT PANITIA PASKAH PAROKI SANTA MARIA NYARUMKOP

    MajalahDUTA.Com, Berita terbaru dari Paroki Santa Maria Nyarumkop, bahwa panitia Perayaan Paskah sedang mempersiapkan serangkaian kegiatan untuk prosesi Paskah tahun 2023. Rapat panitia yang diadakan di Aula Paroki tersebut dipimpin oleh Kornelius Too dan dihadiri oleh koordinator bidang kerja dari masing-masing seksi.

    Dalam rapat tersebut, panitia membahas dan mengevaluasi persiapan yang telah dilakukan serta merencanakan kegiatan yang akan dilakukan dalam prosesi Paskah tahun depan.

    Dalam pengantar rapat, Pastor Paroki RP Robertus Bellarminus, OFM Cap menyampaikan harapannya agar panitia dapat berpartisipasi secara penuh dalam memeriahkan Perayaan Paskah tahun depan. Diharapkan dengan persiapan yang matang dan kerja sama yang baik antara semua seksi, Perayaan Paskah dapat berjalan dengan lancar dan meriah.

    Panitia Perayaan Paskah Paroki Santa Maria Nyarumkop berkomitmen untuk memberikan yang terbaik dalam menyelenggarakan acara ini dan mengajak seluruh umat Katolik untuk turut serta dalam merayakan Paskah 2023.

    Sumber: Panitia Paskah Paroki Nyarumkop. 

    Kunjungi Biara Kapusin di Wilayah Medan: Uskup Agustinus Doakan dan Berikan Berkat

    Bersama Anak Sekolah Minggu dan Frater2 Novis Kapusin Medan - KOMSOS KA Pontianak

    MajalahDUTA.Com, Sumatra Utara-Pada Minggu, 26 Maret 2023, Uskup Keuskupan Agung Pontianak, Mgr Agustinus Agus, melakukan kunjungan ke beberapa tempat pendidikan dan biara Frater Kapusin di Pematang Siantar, Sinaksak, dan Parapat. Selama kunjungan tersebut, Uskup Agustinus menyempatkan diri untuk mampir dan makan siang di Danau Toba yang terkenal sebagai objek wisata yang indah di Sumatera Utara.

    Kunjungan Uskup Agustinus ke biara dan tempat pendidikan Frater Kapusin di Pematang Siantar, Sinaksak, dan Parapat merupakan bentuk dukungan dan apresiasi yang diberikan kepada para Frater Kapusin dalam mempersiapkan diri sebagai calon imam di masa depan. Selain itu, kunjungan ini juga sebagai bentuk kepeduliannya terhadap kemajuan pendidikan dan iman di wilayah tersebut.

    Saat mampir di Danau Toba, Uskup Agustinus menikmati pemandangan yang indah dan menyegarkan di sela-sela jadwal kunjungannya yang padat. Dalam kunjungannya tersebut, ia juga menyampaikan pesan dan berkat bagi para Frater Kapusin dan umat di daerah tersebut.

    Kunjungan singkat Uskup Agustinus tersebut mendapat sambutan hangat dari para Frater Kapusin dan umat setempat. Mereka merasa senang dan terhormat atas kehadiran Uskup Agustinus di daerah mereka.

    Informasi yang disampaikan oleh Pastor Gabriel OFMCap yang juga turut dalam mendampingi Uskup Agustinus dalam kunjungannya juga mengatakan bahwa setelah menghadiri perayaan pesta 100 tahun Suster Fransiskus Dina (SFD) Indonesia di Medan, kesempatan itu beliau juga berkenan berkunjung ke kota Pematangsiantar.

    Setelah itu, Uskup Agustinus berkenan mengunjungi Kota Pematangsiantar. Di kota ini, Uskup Agustinus mengunjungi beberapa tempat, termasuk Biara Kapusin St. Fransiskus Jalan Medan, Seminari Tinggi Santo Petrus, Bikap St. Bonaventura, dan Novisiat Kapusin Medan.

    Pastor Gabriel OFMCap yang bertugas disana dari tahun 2021- hingga saat ini. Ia sekarang bertugas di Pematangsiantar sebagai staff formator dan Magister  Spiritual untuk para Frater-frater Kapusin dari ke-empat Jajaran: Medan, Pontianak, Sibolga dan Nias dan Sekretaris Eksekutif Badan Kerjasama Kapusin Indonesia (BKS Kapindo).

    Sebagai Imam Kapusin yang senior ia mendampingi Uskup Agustinus Uskup Agung Pontianak itu untuk mengantar dan berkeliling disana. Tak hanya itu, dalam chat personalnya kepada redaksi ia mengaku bahwa Uskup Agustinus juga datang dan melihat langsung Seminari Tinggi Santo Petrus (STSP) dimana para calon Imam Diosesan dari Regio (secara khusus beliau berjumpa Fr. Adven Finem calon imam Diosesan Keuskupan Medan) Se-Sumatera Utara tinggal, persis di dekat STFT St. Yohanes Pemandi tempat mereka studi atau menimba ilmu untuk mempersiapkan diri menjadi imam kelak.

    Kepingan Surga

    Lalu tak jauh dari tempat itu, Uskup Agustinus Agustinus bersama Suster Kristina SFD, ditemani  Salikin dan istri, menuju ke Bikap St. Bonaventura (Biara untuk Student Frater-frater Conventual atau OFM Conv.) Yang bertetangga dengan Biara Alverna Sinaksak dimana frater Kapusin yang sedang menempuh studi filsafat.

    Setelah berkunjung ke empat Rumah Studi para Frater calon imam di kota Siantar, perlahan rombongan Uskup Agustinus menuju ke arah kota turis Parapat di pinggiran danau Toba yang dijuluki tempat “Kepingan Surga”.

    Di kota kecil turis ini pun Uskup Agustinus berkenan meluangkan waktu mengunjungi dan melihat serta berjumpa dengan para Frater-frater Kapusin di Novisiat Kapusin Medan dimana berpuluh tahun sebelumnya semua Calon Kapusin se-Indonesia dididik disana, namun kini setiap Provinsi dan Kustodi Kapusin telah memiliki Novisiat sendiri masing masing.

    Dalam kunjungan singkat di Novisiat Kapusin Medan itu, Uskup Agustinus masih sempat menyapa frater Kapusin dan Anak-anak sekolah Minggu dan berkunjung ke Novisiat. Di sana beliau juga turut bernyanyi bersama mereka dan memberikan berkatnya.

    Dalam perjumpaan itu Suster Kristina SFD menuliskan pesan kecil yang ia peroleh dari pesan Uskup Agustinus dalam perjumpaannya dengan anak-anak dengan bertuliskan “Kalian adalah masa depan Gereja, semoga ada yg terpanggil menjadi Pastor, Suster dan Bruder,” kata Uskup Agustinus dalam pesan yang dikirimkan Suster Kristina SFD.

    Menurut pengakuan Pastor Gabriel OFMCap para Frater baik di Kota Siantar, di rumah pendidikan dan Novisiat sungguh senang dan bangga atas kunjungan Uskup Agustinus pada 26 Maret 2023 kemarin.

    “Karena hari Minggu waktu yang singkat itu telah menoreh kesan yang dalam khususnya di hati para Frater Kapusin dari Pontianak yang sedang studi di kota Pematangsiantar dan juga frater-frater Novis di Parapat juga tak kalah pentingnya bagi anak-anak sekolah Minggu, Minggu Gembira yang beliau sampaikan pesan dan berkat,” kata Pastor Gabriel OFMCap.

    Menutup pesan WhatsApp-nya Pastor Gabriel OFMCap mengatakan bahwa sungguh kunjungan singkat, padat dan penuh berkat bagi kami, staf di rumah studi, frater-frater Kapusin dan umat di Paroki St. Fransiskus Jalan Medan dan Kota turis Parapat.

    “Terima kasih Mgr Agus atas kunjungan dan berkatnya. Sehat dan semangat dalam tugas dan pelayanannya, semoga kunjungan Bapa Uskup dapat memberikan semangat dan motivasi bagi para Frater Kapusin dan umat di daerah tersebut,” imbuh Pastor Gabriel OFMCap.

    Penulis: Samuel-DUTA/KOMSOS KA Pontianak.
    Sumber: Mgr. Agustinus Agus, Suster Kristina SFD dan Pastor Gabriel OFMCap.  

    Membersihkan jiwa-jiwa dengan mempromosikan bahasa damai

    MajalahDUTA.Com,– “Lidah lembut mematahkan tulang,” kata Kitab Amsal (25: 15). Lebih daripada sebelumnya, berbicara dengan hati saat ini sangat dibutuhkan untuk mempromosikan budaya damai di tempat-tempat di mana ada peperangan yang sedang berkecamuk, serta untuk membuka jalan yang memungkinkan dialog dan rekonsiliasi di mana kebencian dan permusuhan masih merajalela.

    Dalam konteks ruwetnya konflik global yang sedang kita alami, sangatlah mendesak untuk memelihara komunikasi yang tidak bermusuhan. Sungguh penting mengatasi kebiasaan “mendiskreditkan dan menghina lawan sejak awal [alih-alih] membuka dialog yang saling menghormati”.

    [5] Kita membutuhkan komunikator yang siap berdialog, terlibat dalam mempromosikan pelucutan senjata secara total, dan berkomitmen menghentikan ambisi perang yang bersarang di hati kita, sebagaimana pernah diserukan oleh Santo Yohanes XXIII secara profetik dalam Ensiklik Pacem in Terris (Damai di Bumi), “Perdamaian sejati hanya dapat dibangun dengan saling percaya” (art. 113). Sebuah kepercayaan membutuhkan komunikator yang terbuka, berani, dan kreatif, serta siap mengambil risiko untuk menemukan titik perjumpaan.

    Seperti yang terjadi 60 tahun silam, sekarang kita juga hidup di masa kelam, di mana umat manusia takut akan eskalasi perang yang harus dihentikan secepat mungkin, terutama juga pada tataran komunikasi. Sungguh mengerikan ketika mendengar betapa mudahnya mengucapkan kata-kata yang menyerukan penghancuran terhadap sesama dan wilayahnya.

    Kata-kata, sayangnya, sering berubah menjadi tindakan kekerasan nan keji seperti perang. Inilah sebabnya, mengapa semua retorika tentang perang dan setiap bentuk propaganda yang memanipulasi dan merusak kebenaran untuk tujuan ideologis, harus ditolak.

    Sebaliknya, setiap bentuk komunikasi yang membantu menciptakan kondisi untuk menyelesaikan perselisihan antarbangsa, harus dipromosikan.

    “Sebuah komunikasi menempatkan hubungan dengan Tuhan dan sesama– terutama yang paling membutuhkan– di pusat dan tahu bagaimana menyalakan api iman daripada mempertahankan identitas palsu diri sendiri,” Paus Fransiskus.

    Sebagai umat Kristiani, kita tahu bahwa nasib perdamaian ditentukan oleh pertobatan hati, karena virus perang berasal dari dalam hati manusia.

    [6] Dari hati itulah keluar perkataan yang benar untuk menghilangkan bayang-bayang dunia yang tertutup dan terpecah, juga membangun peradaban yang lebih baik dari yang telah kita terima sebelumnya.

    Setiap orang diminta untuk terlibat dalam upaya ini, tetapi mereka yang berkarya di bidang komunikasi diharapkan memiliki rasa tanggung jawab yang lebih besar dan menjalankan profesinya sebagai sebuah tugas perutusan.

    Semoga Tuhan Yesus, Sabda Kebenaran dan Kasih, membantu kita untuk membicarakan kebenaran dalam cinta kasih, supaya kita dapat merasa seperti menjadi penjaga satu sama lain. “ Paus Fransiskus.

    Semoga Tuhan Yesus, Sabda Murni yang mengalir dari hati Bapa, membantu kita berkomunikasi dengan bebas, bersih, dan ramah. Semoga Tuhan Yesus, Sabda yang menjadi manusia, membantu kita mendengarkan detak jantung, menemukan kembali diri kita sebagai saudara dan saudari, dan melucuti permusuhan yang memecah-belah. Semoga Tuhan Yesus, Sabda Kebenaran dan Kasih, membantu kita untuk membicarakan kebenaran dalam cinta kasih, supaya kita dapat merasa seperti menjadi penjaga satu sama lain.

    Sumber: Basilika Santo Yohanes Lateran, Roma, 24 Januari 2023, pada Peringatan Santo Fransiskus de Sales. FRANSISKUS.
    Bagian 4: PESAN BAPA SUCI PAUS FRANSISKUS UNTUK HARI KOMUNIKASI SOSIAL SEDUNIA KE-57 21 MEI 2023
    [1] Ensiklik Deus Caritas Est, art. 31 (25 Desember 2005). [2] Surat Apostolik Totum Amoris Est (28 Desember 2022). [3] Surat Apostolik Sabaudiae Gemma, pada Peringatan 400 Tahun Kelahiran Santo Fransiskus de Sales, Pujangga Gereja (29 Januari 1967). [4] Pesan untuk Hari Komunikasi Sosial Sedunia ke-56 (24 Januari 2022). [5] Ensiklik Fratelli Tutti, art. 201 (3 Oktober 2020). [6] Lihat. Pesan untuk Hari Perdamaian Sedunia ke-56 (1 Januari 2023).

    Berbicara dengan hati dalam bersinode

    MajalahDUTA.Com, SEBAGAIMANA biasanya saya tekankan, “Dalam Gereja juga ada kebutuhan besar untuk mendengarkan dan saling mendengarkan satu sama lain. Ini menjadi persembahan yang paling berharga dan menghidupkan, yang dapat kita berikan satu sama lain.”[4] Artinya, mendengarkan tanpa prasangka, penuh perhatian dan terbuka, menghadirkan pembicaraan menurut gaya Tuhan, sambil memupuk keakraban, bela rasa, dan kelembutan.

    Ada sebuah kebutuhan mendesak dalam Gereja akan komunikasi yang mengobarkan hati, yang menyembuhkan luka, dan yang menyinari perjalanan saudara-saudari kita. Saya memimpikan komunikasi gerejawi yang sungguh memahami bagaimana membiarkan dirinya dibimbing oleh Roh Kudus dengan lembut, dan pada saat yang sama juga profetik, serta mengetahui bagaimana menemukan cara dan sarana pewartaan baru yang mengagumkan, untuk diwartakan pada milenium ketiga.

    Sebuah komunikasi menempatkan hubungan dengan Tuhan dan sesama–terutama yang paling membutuhkan–di pusat dan tahu bagaimana menyalakan api iman daripada mempertahankan identitas palsu diri sendiri.

    Inilah sebuah bentuk komunikasi yang dibangun atas kerendahan hati dalam mendengarkan dan parrhesia (bebas dan terbuka menyatakan kebenaran) dalam berbicara, yang tidak pernah memisahkan kebenaran dari kasih.

    Kita semua dipanggil untuk mencari, mewartakan, dan menghidupi kebenaran dengan kasih. Secara khusus, kita sebagai umat Kristiani didesak terus-menerus untuk menjaga lidah dari yang jahat. bdk. Mzm. 34:14.

    Bagian 3: PESAN BAPA SUCI PAUS FRANSISKUS UNTUK HARI KOMUNIKASI SOSIAL SEDUNIA KE-57 21 MEI 2023

    Komunikasi yang ramah

    MajalahDUTA.Com, BERKOMUNIKASI dengan ramah berarti siapa pun yang membaca atau mendengarkan kita, dituntun untuk menyambut keterlibatan kita dalam kegembiraan, ketakutan, harapan, dan penderitaan manusia di zaman kita.

    Mereka yang berbicara seperti ini mencintai orang lain karena mereka memiliki hati dan sungguh menjaga, melindungi, dan tidak melanggar kebebasan.

    Gaya seperti ini dapat kita lihat dalam diri “Sang Musafir Misterius” yang berdialog dengan para murid dalam perjalanan menuju Emmaus, sesudah tragedi Golgota.

    Yesus yang bangkit berbicara dari hati, sambil dengan rasa hormat, menemani perjalanan penderitaan mereka. Yesus juga menawarkan diri dengan penuh kasih, bukan memaksa untuk membuka pikiran mereka agar memahami makna terdalam atas apa yang terjadi. Akhirnya, dengan gembira mereka dapat bersaksi, bahwa hati mereka berkobar-kobar saat Dia berbicara di sepanjang perjalanan sambil menjelaskan makna

    Kitab Suci (bdk. Luk. 24: 32). Dalam sebuah periode sejarah yang ditandai polarisasi dan perten-tangan–bahkan sayangnya komunitas gerejawi pun tidak luput dari situasi ini–komitmen untuk berkomunikasi “dengan hati dan tangan terbuka” menjadi tanggung jawab semua, bukan hanya mereka yang berkarya di bidang komunikasi. Kita semua dipanggil untuk mencari, mewartakan, dan menghidupi kebenaran dengan kasih.

    Secara khusus, kita sebagai umat Kristiani didesak terusmenerus untuk menjaga lidah dari yang jahat (bdk. Mzm. 34: 14). Seperti yang diajarkan Kitab Suci, dengan lidah yang sama, kita dapat memuji Tuhan dan mengutuk manusia yang diciptakan menurut rupa Allah (bdk. Yak. 3: 9). Perkataan buruk janganlah keluar dari mulut kita, “tetapi pakailah perkataan yang baik untuk membangun, di mana perlu, supaya mereka yang mendengarnya, beroleh kasih karunia” (Ef. 4: 29). Acap kali percakapan yang bersahabat dapat membuka celah, bahkan pada hati yang sudah membatu sekalipun. Terkait dengan hal ini, kita dapat menemukan buktinya dalam salah satu literatur. Saya ingat cerita yang tertera di halaman yang tak terlupakan pada Bab 21 buku Promessi Sposi (sebuah novel karangan Alessandro Manzoni, yang dalam bahasa Inggris The Betrothed, ‘Bertunangan’).

    “Sekali kita mendengarkan orang lain dengan hati yang murni, kita juga akan mampu berbicara mengikuti kebenaran dalam kasih.” Bdk. Ef.4:15.

    Dalam kisah itu, Lucia berbicara dengan hati kepada Innominato (Yang Tidak Bernama) sampai orang itu merasa terlucuti dan tersiksa oleh krisis batin yang sungguh berguna bagi hidupnya. Dan pada akhirnya, dia menyerah pada kekuatan cinta yang lembut. Kita sebenarnya mengalami hal tersebut dalam masyarakat, di mana kebaikan bukan hanya masalah “etiket”, melainkan benar-benar menjadi penangkal yang sesungguhnya terhadap sesuatu yang dapat meracuni hati dan relasi manusia, yaitu kekejaman.

    Dalam dunia media, kita membutuhkan kekuatan cinta yang lembut seperti itu, agar komunikasi tidak menimbulkan iri hati yang menjengkelkan, memicu kemarahan yang mengarah pada konfrontasi, tetapi membantu orang untuk dengan tenang merefleksikan dan memaknai dengan kritis sekaligus penuh hormat terhadap realitas hidup mereka.

    “Hati menyatakan kebenaran tentang keberadaan kita dengan detaknya dan karena itulah seharusnya kita dengarkan,” Paus Fransiskus.

    Komunikasi dari hati ke hati: “Agar dapat berbicara dengan baik, cukuplah dengan mencintai secara baik” Salah satu contoh paling cemerlang dan tetap memikat hingga saat ini tentang “berbicara dengan hati”, dapat ditemukan dalam diri Santo Fransiskus de Sales, seorang Pujangga Gereja.

    Baru-baru ini, dalam rangka peringatan 400 tahun wafatnya, saya menulis tentang figur ini dalam Surat Apostolik Totum Amoris Est (‘Segalanya tentang Cinta’). Dekat dengan peringatan penting ini, (400 tahun wafat Santo Fransiskus de Sales), saya ingin menyebut satu peringatan lain pada tahun 2023 ini, yaitu 100 tahun penetapannya sebagai Santo Pelindung Jurnalis Katolik oleh Paus Pius XI melalui Ensiklik Rerum Omnium Perturbationem (Tentang Segala Gangguan) (26 Januari 1923).

    Fransiskus de Sales, Uskup Jenewa pada awal abad ke-17, merupakan seorang intelektual brilian, penulis hebat, dan teolog besar. Beliau hidup pada masa-masa sulit yang ditandai oleh perselisihan sengit dengan Calvinis. Sikapnya lemah-lembut dan manusiawi, serta memiliki kesabaran untuk berdialog dengan semua orang, terutama dengan mereka yang tidak sependapat dengannya.

    Lidah yang manis dan lembut

    Inilah yang membuat dirinya menjadi saksi luar biasa akan cinta Tuhan yang berbelas kasih. Tentang pribadinya, dapat dikatakan bahwa “tenggorokan yang manis mendapat banyak sahabat, dan keramahan diperbanyak oleh lidah yang manis lembut” (Sir. 6: 5). Terlebih lagi, salah satu pernyataannya yang paling terkenal, “hati berbicara kepada hati”, telah mengilhami banyak orang beriman, termasuk Santo John Henry Newman, yang menjadikannya sebagai moto hidup, “cor ad cor loquitur” (hati berbicara kepada hati). “Agar dapat berbicara dengan baik, cukuplah dengan mencintai secara baik”, adalah salah satu keyakinannya.

    Perkataan buruk janganlah keluar dari mulut kita, “tetapi pakailah perkataan yang baik untuk membangun, di mana perlu, supaya mereka yang mendengarnya, beroleh kasih karunia” Ef.4:29

    Baginya, komunikasi tidak boleh direduksi menjadi suatu kepalsuan, yang saat ini mungkin kita sebut sebagai strategi marketing. Komunikasi merupakan cerminan jiwa, permukaan dari inti cinta yang tidak terlihat oleh mata. Bagi Santo Fransiskus de Sales, justru “di dalam hati dan melalui hati terjadi proses yang intens, hati-hati, dan menyatukan, yang di dalam proses ini kita datang untuk mengenal Tuhan”.

    [2] Melalui “mencintai dengan baik”, Santo Fransiskus berhasil berkomunikasi dengan Martino yang bisu-tuli, dan menjadi temannya. Oleh karena itu, dia juga dikenang sebagai pelindung bagi penyandang disabilitas dalam berkomunikasi. Berawal dari “kriteria cinta” inilah, melalui tulisantulisan dan kesaksian hidupnya, Uskup suci dari Jenewa itu mengingatkan bahwa “kita ini adalah apa yang kita komunikasikan”.

    Pokok tersebut menentang arus, seperti yang kita alami saat ini, khususnya di jejaring sosial. Komunikasi sering dieksploitasi sehingga dunia melihat kita seperti yang kita inginkan, bukan siapa kita sebenarnya. Santo Fransiskus de Sales menyebarkan banyak salinan tulisannya di komunitas Jenewa.

    Intuisi “jurnalistik” ini membuatnya memiliki reputasi yang dengan cepat melampaui batas keuskupannya, dan bahkan masih bertahan hingga hari ini. Menurut pengamatan Santo Paulus VI, tulisan-tulisannya merupakan bacaan yang “sangat menyenangkan, dapat menjadi panduan, dan menggerakkan”.

    [3] Kalau sekarang kita melihat dunia komunikasi, bukankah ini ciri-ciri yang harus ada dalam sebuah artikel, laporan, program televisi atau radio, atau unggahan di media sosial? Semoga mereka yang bekerja di bidang komunikasi terinspirasi oleh Santo yang lemah-lembut ini, mencari dan menyatakan kebenaran dengan berani dan bebas, serta menolak godaan untuk menggunakan ekspresi sensasional dan agresif.

    “Berkomunikasi dengan ramah berarti siapa pun yang membaca atau mendengarkan kita, dituntun untuk menyambut keterlibatan kita dalam kegembiraan, ketakutan, harapan, dan penderitaan manusia di zaman kita,” Paus Fransiskus.

    Bagian 2: PESAN BAPA SUCI PAUS FRANSISKUS UNTUK HARI KOMUNIKASI SOSIAL SEDUNIA KE-57 21 MEI 2023

     

    Pesan Paus dalam KOMSOS Se-Dunia: Bicara dengan Hati

    Dokumen KOMSOS se-Dunia

    MajalahDUTA.Com, KOMSOS– ‘‘Berbicara dari hati menurut kebenaran dalam kasih” Ef 4:15.

    SAUDARA-saudari terkasih, Setelah beberapa tahun terakhir ini kita merefleksikan tentang kata kerja “datang dan melihat” serta “mendengarkan” sebagai syarat untuk komunikasi yang baik, dalam Pesan untuk Hari Komunikasi Sosial Sedunia ke-57 ini, saya ingin berfokus pada “berbicara dengan hati”.

    Hatilah yang mendorong kita untuk datang, melihat, dan mendengarkan. Dan, hati itu pulalah yang menggerakkan kita berkomunikasi secara terbuka dan ramah. Setelah kita berlatih mendengarkan, yang menuntut kita menunggu dan bersabar, serta tidak memaksakan sudut pandang kita dengan cara yang merugikan, akhirnya kita dapat masuk dalam dinamika dialog dan saling berbagi; tepatnya berkomunikasi dengan ramah.

    Sekali kita mendengarkan orang lain dengan hati yang murni, kita juga akan mampu berbicara mengikuti kebenaran dalam kasih (bdk. Ef. 4: 15). Kita tidak perlu takut mewartakan kebenaran, meskipun terkadang tidak nyaman, tetapi kita melakukannya dengan belas kasih dan dengan hati. Sebab, “program Kristiani–– sebagaimana ditulis Paus Benediktus XVI––adalah ‘hati yang melihat’.”[1] Hati menyatakan kebenaran tentang keberadaan kita dengan detaknya dan karena itulah seharusnya kita dengarkan.

    Kenyataan ini memampukan mereka yang mendengarkan pada gelombang yang sama, untuk merasakan detak jantung orang lain di dalam hatinya sendiri.

    Dengan demikian, keajaiban karena perjumpaan dapat sungguh terjadi, yaitu membuat kita saling memandang dengan kasih sayang, saling menerima kelemahan satu sama lain dengan rasa hormat, daripada menghakimi berdasarkan kabar angin serta menabur perselisihan dan perpecahan.

    Yesus memperingatkan kita bahwa setiap pohon dapat dikenali dari buahnya (bdk. Luk. 6: 44). “Orang yang baik mengeluarkan barang yang baik dari perbendaharaan hatinya yang baik; dan orang jahat mengeluarkan barang yang jahat dari perbendaharaannya yang jahat. Karena yang diucapkan mulutnya, meluap dari hatinya” (ayat 45).

    Oleh karena itu, agar dapat mengomunikasikan kebenaran dengan kasih, seseorang perlu menyu-cikan hatinya. Hanya dengan mendengarkan dan berbicara melalui hati yang murni, kita dapat melihat melampaui apa yang tampak dan dapat mengatasi suara-suara tidak jelas yang dalam hal informasi, justru tidak membantu kita memahami dunia yang begitu kompleks.

    Seruan untuk berbicara dengan hati ini merupakan tantangan yang radikal bagi zaman kita, yang cenderung tidak peduli dan marah, bahkan kerap mengeksploitasi kebenaran dan menyebarkan informasi palsu.

    “Hatilah yang mendorong kita untuk datang, melihat, dan mendengarkan. Dan, hati itu pulalah yang menggerakkan kita berkomunikasi secara terbuka dan ramah,” Paus Fransiskus.

    Bagian 1: PESAN BAPA SUCI PAUS FRANSISKUS UNTUK HARI KOMUNIKASI SOSIAL SEDUNIA KE-57 21 MEI 2023

    Suster Fransiskus Dina Genap Satu Abad di Indonesia

    Foto bersama yang diambil dari altar menghadap umat- Sumber: Mgr. Agustinus Agus

    MajalahDUTA.Com, Medan– Perayaan Misa 100 Tahun Suster SFD digelar di Danau Toba Convention Hall pada Sabtu, 25 Maret 2023. Suster SFD merayakan perjalanan 100 tahun di Indonesia dengan mengusung tema “Persaudaraan Dina yang Bersatu di Hati, Dinamis, Bersemangat Missioner, dan Terbuka pada Perubahan Zaman”.

    Sebagai tanda sukacita atas peristiwa bersejarah itu, lilin pesta 100 tahun untuk merayakan syukur itu akan dinyalakan oleh Ministra Umum Kongregasi SFD Sr Imelda Tampubolon SFD.

    Misa dipimpin oleh Uskup Keuskupan Agung Medan, Mgr. Kornelius Sipayung OFMCap, didampingi oleh Uskup Keuskupan Agung Semarang, Mgr. Robertus Rubiyatmoko, Uskup Keuskupan Agung Pontianak, Mgr. Agustinus Agus, Uskup Banjarmasin, Mgr. Petrus Boddeng Timang, Uskup Keuskupan Agung Samarinda, Mgr. Yustinus Harjosusanto MSF, Uskup Keuskupan Wetebula, Mgr. Edmund Woga CSSR, dan Vikjen Keuskupan Ketapang, Pastor Laurensius Sutadi Pr, serta puluhan imam yang turut ambil bagian dalam perayaan ekaristi syukur hari itu.

    Dalam homili yang dibawakan oleh Uskup Keuskupan Agung Semarang, Mgr. Robertus Rubiyatmoko, ia menjelaskan bahwa tanggal 17 April 2007 tarekat ini dimekarkan dengan tarekat yang berhukum Keuskupan atau Diosesan dengan wilayah provinsialat di Yogyakarta, yaitu Keuskupan Agung Semarang sampai sekarang ini. Uskup Robertus Rubiyatmoko juga menambahkan bahwa Suster SFD berkarya di banyak bidang, seperti pendidikan, asrama, panti asuhan, kesehatan, pastoral, panti jompo, dan lain sebagainya.

    Misi Suster SFD dibangun dengan prinsip kedinaan, yang menjadi ciri khas tarekat ini. Kedinaan adalah sikap hidup yang rendah hati, kesederhanaan, dan sebagainya, yang jelas berbeda dengan kehinaan. Suster SFD dikenal juga sebagai Suster Putri-Putri Bunda Maria. Bunda Maria memiliki cerminan dari kedinaan para suster, yang pertama ditunjukkan dalam sikap lepas bebas dan tak terikat oleh dunia, hidup apa adanya, dan tidak memikirkan diri sendiri, melainkan memikirkan orang lain.

    Kongregasi ini didirikan pada 26 Maret 1801 di Dongen, Belanda, oleh Muder Konstansia dan kawan-kawannya bersama satu Novis, satu Pos­tulan, dan tujuh anak asrama. Pada tahun 1923, Kongregasi menebarkan sayap untuk bermisi ke Indonesia atas undangan Perfektur Apostolic pertama di Padang, yaitu Mgr. Liberatus Cluts OFMCap. Tanggal 17 Maret 1923, misionaris pertama (Sr. Edmunda Mulder, Sr. Hildegardis de Wit, Sr. Salesia Hazelzet, Sr. Leo Pelkmans, Sr. Pu­dentiana Cuelenaere, dan Sr. Laurentine Pijnenburg) berangkat dari  Do­ngen,  dan  se­bu­lan  kemudian,  pada tanggal 17 April 1923  mereka tiba di Medan, Sumatera Utara.

    Syukur atas 100 Tahun di Indonesia

    “Hari ini kita beryukur dan berterima kasih, 100 tahun merupakan usia yang cukup panjang apalagi kalau dibandingkan dengan usia manusia. Usia 100 tahun adalah usia yang istimewa, karena faktanya ada 211 suster berkaul baik kekal maupun sementara dan semua tersebar di 38 komunitas atau biara di 11 Keuskupan, tersebar luas di Indonesia. Maka boleh dibilang SFD ini tampak seturut waktu semakin subur maka itulah keistimewaannya,” kata Uskup Robertus Rubiyatmoko.

    Dia juga menambahkan, Suster SFD berkarya dibanyak bidang misalnya pendidikan, asrama, panti asuhan, kesehatan, pastoral, panti jompo dan lain sebagainya. 100 tahun adalah bukti nyata bahwa ini merupakan tarekat yang dikehendaki oleh Allah karena kehadiran mereka diberkati dalam balutan penyelenggaraan ilahi. Untuk itu hari ini kita bersyukur bersama-sama karena memang ada alasannya.

    Kedinaan tidak sama dengan kehinaan, kedinaan adalah sikap hidup yang rendah hati, kesederhanaan dan sebagainya jelas berbeda dengan kehinaan. Maka ke-dina-an lah yang menjadi ke khasan Suster SFD yang perlu dikembangkan terus menerus.

    Suster SFD dikenal juga sebagai suster putri-putri Bunda Maria, dan Bunda Maria memiliki cerminan dari ke-dina-an dari para suster, yang pertama ke-dina-an dinampakkan dalam sikap lepas bebas dan tak terikat oleh dunia, hidup apa adanya bukan seadanya, tidak memikirkan diri sendiri justru memikirkan orang lain.

    Kedua, menjadi manusia yang beriman tangguh dan teguh, menjadi pribadi pendoa dan mengihidupi kesatuan dengan Kristus. Yang Ketiga, siap untuk bermisi dan menjalankan tugas perutusan kapanpun, dimanapun dan dengan siapapun. Yang Keempat adalah siap untuk berubah, berbenah untuk perubahan lebih baik dan menjadi orang yang responsif terhadap setiap kejadian hidup untuk membawa perubahan untuk manusia dan gereja melalui kedianaan.

    “Mari kita kita syukuri rahmat ini, dan kita hidupi kedinaan dalam Suster SFD untuk menjadi manusia perubahaan dalam sikap yang lepas bebas,” kata Uskup Robertus Rubiyatmoko sembari menutup homilinya.

    Tentang Suster Fransiskus Dina (SFD)

    Kongregasi SFD yang didirikan di Dongen Belanda dengan akte pendirian atau yang disebut dengan statuta SFD ditetapkan pada tanggal 23 Maret 1855 disebut sebagai Badan Pendidikan dan Pengajaran. Maka Pendidikan dan Pengajaran adalah misi utama para suster Missionaris ketika memulai misi di Indonesia maka dengan momen 100 tahun ini ditandai dengan penyusunan kurikulum ke-SFD-an dengan Maju SFD, Jaya SFD, Maju Pendidikan.

    Bapak Walikota Medan, M Bobby A Nasution, berterima kasih kepada kongregasi Suster SFD atas kedatangan mereka dan sudah membantu kemajuan pendidikan di kota Medan. Walikota juga menceritakan sedikit latar belakang tantangan yang mungkin pemerintah dan kongregasi bisa berjalan besama untuk memperbaiki terus-menerus pendidikan dan peradaban terlebih khusus di kota Medan.

    Menapaki langkah dalam pelayanan dalam 100 tahun

    Ministra Umum SFD, Sr Imelda Tampubolon SFD dalam sambutannya bersyukur atas undangan-undangan yang turut dalam perayaan syukur 100 tahun suster SFD. Suster Ministra juga mengakui bahwa dalam menapaki perjalanan kongregasi kadang mereka mengalami keberhasilan dan kemajuan, namun adakalanya kami merasa gagal dan kadang kami dituntut untuk berhenti dan berefleksi semua pengalaman itu kami bingkai dalam doa dan harapan yang baik.

    Diawali dengan tekat untuk menghadirikan kasih Allah, Suster dari Belanda dengan berani mendayung ke Indonesia untuk mengemban missi kemanusiaan dalam rahmat ilahi itu. Dalam rentang 100 tahun SFD hadir dan melayani di 11 keuskupan di Indonesia.

    Menutup sambutannya Sr Imelda Tampubolon SFD mengatakan bahwa usia 100 tahun di SFD di Indonesia karena Kasih Allah kami bisa bekerja bersama segala lapisan elemen kami mengucapkan terima kasih atas sudah menjadi teman seperjalanan itu, kami menghaturkan limpah terima kasih.

    Penulis: Samuel/DUTA-KOMSOS KA Pontianak
    Sumber: Liputan Online Live Streaming Akun KOMSOS Keuskupan Agung Medan

    TERBARU

    TERPOPULER