MajalahDUTA.Com, BERKOMUNIKASI dengan ramah berarti siapa pun yang membaca atau mendengarkan kita, dituntun untuk menyambut keterlibatan kita dalam kegembiraan, ketakutan, harapan, dan penderitaan manusia di zaman kita.
Mereka yang berbicara seperti ini mencintai orang lain karena mereka memiliki hati dan sungguh menjaga, melindungi, dan tidak melanggar kebebasan.
Gaya seperti ini dapat kita lihat dalam diri “Sang Musafir Misterius” yang berdialog dengan para murid dalam perjalanan menuju Emmaus, sesudah tragedi Golgota.
Yesus yang bangkit berbicara dari hati, sambil dengan rasa hormat, menemani perjalanan penderitaan mereka. Yesus juga menawarkan diri dengan penuh kasih, bukan memaksa untuk membuka pikiran mereka agar memahami makna terdalam atas apa yang terjadi. Akhirnya, dengan gembira mereka dapat bersaksi, bahwa hati mereka berkobar-kobar saat Dia berbicara di sepanjang perjalanan sambil menjelaskan makna
Kitab Suci (bdk. Luk. 24: 32). Dalam sebuah periode sejarah yang ditandai polarisasi dan perten-tangan–bahkan sayangnya komunitas gerejawi pun tidak luput dari situasi ini–komitmen untuk berkomunikasi “dengan hati dan tangan terbuka” menjadi tanggung jawab semua, bukan hanya mereka yang berkarya di bidang komunikasi. Kita semua dipanggil untuk mencari, mewartakan, dan menghidupi kebenaran dengan kasih.
Secara khusus, kita sebagai umat Kristiani didesak terusmenerus untuk menjaga lidah dari yang jahat (bdk. Mzm. 34: 14). Seperti yang diajarkan Kitab Suci, dengan lidah yang sama, kita dapat memuji Tuhan dan mengutuk manusia yang diciptakan menurut rupa Allah (bdk. Yak. 3: 9). Perkataan buruk janganlah keluar dari mulut kita, “tetapi pakailah perkataan yang baik untuk membangun, di mana perlu, supaya mereka yang mendengarnya, beroleh kasih karunia” (Ef. 4: 29). Acap kali percakapan yang bersahabat dapat membuka celah, bahkan pada hati yang sudah membatu sekalipun. Terkait dengan hal ini, kita dapat menemukan buktinya dalam salah satu literatur. Saya ingat cerita yang tertera di halaman yang tak terlupakan pada Bab 21 buku Promessi Sposi (sebuah novel karangan Alessandro Manzoni, yang dalam bahasa Inggris The Betrothed, ‘Bertunangan’).
“Sekali kita mendengarkan orang lain dengan hati yang murni, kita juga akan mampu berbicara mengikuti kebenaran dalam kasih.” Bdk. Ef.4:15.
Dalam kisah itu, Lucia berbicara dengan hati kepada Innominato (Yang Tidak Bernama) sampai orang itu merasa terlucuti dan tersiksa oleh krisis batin yang sungguh berguna bagi hidupnya. Dan pada akhirnya, dia menyerah pada kekuatan cinta yang lembut. Kita sebenarnya mengalami hal tersebut dalam masyarakat, di mana kebaikan bukan hanya masalah “etiket”, melainkan benar-benar menjadi penangkal yang sesungguhnya terhadap sesuatu yang dapat meracuni hati dan relasi manusia, yaitu kekejaman.
Dalam dunia media, kita membutuhkan kekuatan cinta yang lembut seperti itu, agar komunikasi tidak menimbulkan iri hati yang menjengkelkan, memicu kemarahan yang mengarah pada konfrontasi, tetapi membantu orang untuk dengan tenang merefleksikan dan memaknai dengan kritis sekaligus penuh hormat terhadap realitas hidup mereka.
“Hati menyatakan kebenaran tentang keberadaan kita dengan detaknya dan karena itulah seharusnya kita dengarkan,” Paus Fransiskus.
Komunikasi dari hati ke hati: “Agar dapat berbicara dengan baik, cukuplah dengan mencintai secara baik” Salah satu contoh paling cemerlang dan tetap memikat hingga saat ini tentang “berbicara dengan hati”, dapat ditemukan dalam diri Santo Fransiskus de Sales, seorang Pujangga Gereja.
Baru-baru ini, dalam rangka peringatan 400 tahun wafatnya, saya menulis tentang figur ini dalam Surat Apostolik Totum Amoris Est (‘Segalanya tentang Cinta’). Dekat dengan peringatan penting ini, (400 tahun wafat Santo Fransiskus de Sales), saya ingin menyebut satu peringatan lain pada tahun 2023 ini, yaitu 100 tahun penetapannya sebagai Santo Pelindung Jurnalis Katolik oleh Paus Pius XI melalui Ensiklik Rerum Omnium Perturbationem (Tentang Segala Gangguan) (26 Januari 1923).
Fransiskus de Sales, Uskup Jenewa pada awal abad ke-17, merupakan seorang intelektual brilian, penulis hebat, dan teolog besar. Beliau hidup pada masa-masa sulit yang ditandai oleh perselisihan sengit dengan Calvinis. Sikapnya lemah-lembut dan manusiawi, serta memiliki kesabaran untuk berdialog dengan semua orang, terutama dengan mereka yang tidak sependapat dengannya.
Lidah yang manis dan lembut
Inilah yang membuat dirinya menjadi saksi luar biasa akan cinta Tuhan yang berbelas kasih. Tentang pribadinya, dapat dikatakan bahwa “tenggorokan yang manis mendapat banyak sahabat, dan keramahan diperbanyak oleh lidah yang manis lembut” (Sir. 6: 5). Terlebih lagi, salah satu pernyataannya yang paling terkenal, “hati berbicara kepada hati”, telah mengilhami banyak orang beriman, termasuk Santo John Henry Newman, yang menjadikannya sebagai moto hidup, “cor ad cor loquitur” (hati berbicara kepada hati). “Agar dapat berbicara dengan baik, cukuplah dengan mencintai secara baik”, adalah salah satu keyakinannya.
Perkataan buruk janganlah keluar dari mulut kita, “tetapi pakailah perkataan yang baik untuk membangun, di mana perlu, supaya mereka yang mendengarnya, beroleh kasih karunia” Ef.4:29
Baginya, komunikasi tidak boleh direduksi menjadi suatu kepalsuan, yang saat ini mungkin kita sebut sebagai strategi marketing. Komunikasi merupakan cerminan jiwa, permukaan dari inti cinta yang tidak terlihat oleh mata. Bagi Santo Fransiskus de Sales, justru “di dalam hati dan melalui hati terjadi proses yang intens, hati-hati, dan menyatukan, yang di dalam proses ini kita datang untuk mengenal Tuhan”.
[2] Melalui “mencintai dengan baik”, Santo Fransiskus berhasil berkomunikasi dengan Martino yang bisu-tuli, dan menjadi temannya. Oleh karena itu, dia juga dikenang sebagai pelindung bagi penyandang disabilitas dalam berkomunikasi. Berawal dari “kriteria cinta” inilah, melalui tulisantulisan dan kesaksian hidupnya, Uskup suci dari Jenewa itu mengingatkan bahwa “kita ini adalah apa yang kita komunikasikan”.
Pokok tersebut menentang arus, seperti yang kita alami saat ini, khususnya di jejaring sosial. Komunikasi sering dieksploitasi sehingga dunia melihat kita seperti yang kita inginkan, bukan siapa kita sebenarnya. Santo Fransiskus de Sales menyebarkan banyak salinan tulisannya di komunitas Jenewa.
Intuisi “jurnalistik” ini membuatnya memiliki reputasi yang dengan cepat melampaui batas keuskupannya, dan bahkan masih bertahan hingga hari ini. Menurut pengamatan Santo Paulus VI, tulisan-tulisannya merupakan bacaan yang “sangat menyenangkan, dapat menjadi panduan, dan menggerakkan”.
[3] Kalau sekarang kita melihat dunia komunikasi, bukankah ini ciri-ciri yang harus ada dalam sebuah artikel, laporan, program televisi atau radio, atau unggahan di media sosial? Semoga mereka yang bekerja di bidang komunikasi terinspirasi oleh Santo yang lemah-lembut ini, mencari dan menyatakan kebenaran dengan berani dan bebas, serta menolak godaan untuk menggunakan ekspresi sensasional dan agresif.
“Berkomunikasi dengan ramah berarti siapa pun yang membaca atau mendengarkan kita, dituntun untuk menyambut keterlibatan kita dalam kegembiraan, ketakutan, harapan, dan penderitaan manusia di zaman kita,” Paus Fransiskus.
Bagian 2: PESAN BAPA SUCI PAUS FRANSISKUS UNTUK HARI KOMUNIKASI SOSIAL SEDUNIA KE-57 21 MEI 2023




