Friday, April 24, 2026
More
    Home Blog Page 88

    Hari Lansia Sedunia ke-III Dirayakan Meriah di Paroki Kristus Raja Sambas

    Foto Bersama Pastor Paroki, Suster dan Kakek Nenek Lansia

    MajalahDUTA.Com – Sambas, 23 Juli 2023 – Gedung Serbaguna Paroki Kristus Raja Sambas dipenuhi semangat dan kebahagiaan pada perayaan Hari Lansia Sedunia yang ke-III. Kegiatan berlangsung pada hari Minggu, 23 Juli 2023, dan diadakan oleh Seksi Kerasulan Keluarga dari Dewan Pastoral Paroki (DPP) Kristus Raja Sambas dengan tema Rahmat-Nya Turun Temurun (Luk 1: 50).

    Para kakek dan nenek dari lingkungan Paroki Kristus Raja Sambas berkumpul untuk menghadiri misa khusus yang dipimpin oleh Pastor Paroki, RP Celestinus Joni, OFMCap. Perayaan ini juga diberkati dengan dukungan dari Orang Muda Katolik (OMK) Kristus Raja Sambas yang membentuk kelompok koor untuk memeriahkan acara.

    Dalam sambutannya, Pak Suherman sebagai perwakilan para lansia mengungkapkan rasa terima kasihnya kepada Seksi Kerasulan Keluarga DPP Kristus Raja Sambas atas perayaan khusus yang diadakan untuk mereka. Ia menyatakan, “Kami mengucapkan banyak terima kasih kepada seksi kerasulan keluarga dari DPP Kristus Raja Sambas, bahwa ternyata kami masih diingat, dan dirayakan khusus untuk para lansia sehingga kami dapat bersama-sama bersukacita dengan teman seusia kami yang tidak muda lagi, tapi rasanya menjadi semangat lagi.”

    Tak hanya berkat kata-kata penuh syukur, kakek dan nenek juga menerima pengurapan minyak suci dari Pastor sebagai penguatan bagi mereka dalam menjalani kehidupan dan memperkuat iman. Pastor Paroki mengungkapkan harapannya agar kakek dan nenek dapat menjadi teladan bagi generasi muda dalam tetap bahagia dan sehat hingga usia lanjut, sambil setia bersama Tuhan Allah. “Dalam kesempatan yang berbahagia ini, kakek dan nenek jangan merasa sendirian, karena Tuhan Allah selalu menyertai kakek dan nenek,” ucapnya dalam kata sambutannya.

    Usai perayaan misa, suasana ramah tamah menghangatkan suasana. Para kakek dan nenek menampilkan hiburan yang menghibur hati hadirin, memperlihatkan semangat dan kebahagiaan mereka dalam merayakan Hari Lansia Sedunia ke-III. Acara berlangsung dengan penuh sukacita, menghadirkan kebersamaan dan semangat persaudaraan di antara generasi yang berbeda usia dalam Gereja Katolik. (By. Yuni Fransiska-OMK Sambas).

    Kenangan Istimewa: Misa Pembukaan Tahun Ajaran Baru di SMA St. Petrus Ketapang dengan Kotbah Penuh Inspirasi

    Misa Pembukaan Tahun Ajaran 2023/2024 di Auditorium Susteran OSA Ketapang dipimpin oleh RD Laurensius Sutadi

    MajalahDUTA.Com- Liburan tahun ini merupakan hal yang istimewa sekalipun sempat mengalami kesedihan mendalam karena ayahanda tercinta meninggal dunia pada 10 Juni 2023. Namun banyak sekali hal yang memperteguh dukacita itu dengan hal-hal istimewa yang boleh dirasakan Frater Sesco. Perjumpaan dengan para siswa-siswi SMA St. Petrus Ketapang merupakan hal yang sangat istimewa di mana Frater Sesco dahulu pernah menjadi peserta didik pada angkatan yang pertama.

    Mengenang kisah cerita masa-masa di sekolah, RD Laurensius Sutadi memberikan tugas di dalam misa pembukaan tahun ajaran 2023/2024 pada tanggal 22 Juli 2023 pukul 09.00 pagi untuk memberikan kotbah dan kesaksian kepada adik-adik peserta didik SMA St. Petrus Ketapang. Tidak hanya peserta didik SMA St. Petrus Ketapang, turut hadir juga para peserta didik di sekolah-sekolah di bawah Yayasan Pelayanan Kasih Fatima (YPKF) yaitu TPA /Play Group/TK. Sta. Theresia Ketapang, SD Sta. Monika Ketapang, SMP St. Augustinuis Ketapang, dan SMK Santo Petrus Ketapang. Misa dilaksanakan di Auditorium OSA di antara Komplek SMA St. Petrus, RSIA Fatimah dan SMP Sto. Augustinus Ketapang. Gedung tersebut padat dipenuhi oleh para peserta didik beserta para guru dan staff dan Suster-suster OSA yang berkarya di persekolahan YPKF.

    Berikut isi Kotbah Frater Sesco dalam Misa Pembukaan Tahun Ajaran Baru:

    Romo Sutadi, Sr Kepala Sekolah, para suster, para guru dan staff karyawan serta adik-adik siswa siswi SMA St. Petrus Ketapang, selamat pagi.

    “Saya sangat bersyukur dan bangga bisa hadir di tengah-tengah anda sekalian sebagai seorang eks-siswa/alumni, rekan se-almamater, atau pribadi yang pernah hadir berjuang untuk menyelesaikan pendidikan Sekolah Menengah Atas di sini.

    Saya merupakan siswa angkatan pertama yang lulus pada tahun 2008. Saat itu, kepala sekolahnya adalah pak Yan Paulus, guru-gurunya  pak Tigor, Bu Ida, pak Eko, pak Viven, sekda kita pak Alexander Willyo, pak Gumpol, pak Kartono, bu Sri, bu Nini, pak Jumpo, pak Firdaus, pak Sigit, pak Andre, pak Hendri (jika masih ada yang belum disebut mohon maaf). Beliau guru-guru yang luar biasa yang mengajar kami para peserta didik angkatan pertama. Saya sendiri masuk di kelas IPA karena dahulu saya pengen jadi dokter. Tetapi pada saat berjalannya waktu, saya mulai menyukai yang namanya komputer, berkat pak Eko waktu itu yang menjadi pendidik mata pelajaran TIK. Saya nyaris mengikuti hampir semua kegiatan ekstrakurikuler saat itu seperti paduan suara, pramuka, club asisten TIK, karatedo, bahkan OSIS. Pikiran saya waktu itu, saya ingin masa SMA saya menjadi masa SMA yang tak dapat dilupakan, keren, enerjik, aktif, dan bersemangat, mumpung masih muda (saat itu, walau saat inipun masih sama sih).

    2008 setelah SMA, saya melanjutkan studi di AMKI Ketapang mengambil jurusan yang sama. Namun dalam perjalanan waktu, saya melamar ke Bank Central Asia dan diterima bekerja pada tahun 2009, tetapi bentrok dengan kuliah sehingga saya harus berhenti kuliah. Di ujung kontrak tahun 2012, saya mencoba masuk Seminari Menengah St. Laurensius namun tidak lama hanya 6 bulan, saya berhenti karena terkena TBC. Saya menyembuhkan diri selama 6 bulan dan sembuh. Tetapi saya tidak bisa melanjutkan kembali ke Seminari Menengah karena orang tua tidak mengijinkan. Setelah itu di pertengahan tahun 2012 saya mendaftar di STMIK Widya Dharma Pontianak (Sekarang Universitas Widya Dharma) mengambil jurusan Sisten Informasi Komputer (ini karena pak Eko tadi tu) sehingga saya melanjutkan kembali cita-cita untuk menjadi dokter komputer. Sembari kuliah saya bekerja sebagai guru TIK di SD Swasta Katolik Marie Joseph Pontianak selama 5 tahun) merangkap sebagai Operator Sekolah dan Staff TU, plus tukang servis komputer.  Saya kemudian wisuda dan kembali ke Ketapang. Lalu bekerja di Nevada Ketapang Hotel, pertamanya sebafai Front Office, lalu kemudian dipromosikan sebagai staff E-Commerce di bagian Sales Marketing hingga tahun 2020. Di tahun yang sama di masa covid, saya masuk Seminari Menegah St. Laurensius lagi menjalani masa Tahun Orientasi Rohani. Lalu 2021 hingga sekarang saya masih dalan proses pendidikan di STFT WIdya Sasana Malang di semester 5.

    Romo Bapak Ibu dan khususnya adik-adik sekalian. Masa SMA adalah masa yang indah. Masa-masa ini takkan terulang kembali jika tidak dijalani dengan sungguh-sungguh. Selagi kalian masih SMA, buatlah sesuatu yang baik, ikutilah berbagai kegiatan untuk mengembangkan diri, nakal ok tapi jangan lupa diimbangi dengan hal-hal baik. Setiap dari kita pasti pernah melakukan kesalahan, tetapi kita juga punya kesempatan untuk memperbaikinya. Kita memang tidak memprediksi masa depan (bahkan menjadi imam inipun tak pernah disangka-sangka akan terjadi), walau masa depan tidak dapat diprediksi,tetapi kita bisa mempersiapkan masa depan itu dengan tangan kita. Saya sendiri hampir satu angkatan dari berbagai kelas, saya kenal dan bahkan adik-adik kelas sekalipun. Karena bagi saya pergaulan bukan soal gaya, tetapi bagaimana kamu bisa berteman dengan siapa saja tanpa ada batasan (adapun itu batasan yang wajar), sebisa mungkin di sini, di masa SMA bertemanlah sebanyak-banyaknya, karena suatu hri ketika kalian lulus dari sini, kalian akan tetap menjalin relasi dengan teman-teman alumni, angkatan lain bahkan bapak ibu guru kita. Saya berharap, dari SMA kita yang tercinta ini, lahir pemimpin-pemimpin baru yang dapat diandalkan, bahkan calon imam, calon suster. Karena tantangan di zaman ini bukan soal kekurangan orang untuk menjadi pemimpin dan pelayan Gereja, tetapi soal hati untuk menerima panggilan Tuhan. Untuk bapak ibu guru yang pernah mendampingi saya dan teman-teman alumni pertama saya ucapkan terima kasih. Untuk bapak guru yang menjadi pendidik saat ini, tetap bersemangat dan jangan jemu-jemu nya mendidik calon pemimpin masa depan, setiap orang ada masanya, setiap masa ada orangnya, adik-adik di sini yang ingin mengikuti jejak sebagai guru, ingatlah mereka, bapak ibu guru, yang mendidik kalian dengan penuh kasih.

    Motto sekolah kita, Integra Et Aetate, menjadi pribadi yang seutuhnya itu sungguh-sungguh dihidupi, karena tantangan di zaman ini kita harus benar benar menjadi orang yang berintegritas supaya kuat menghadapi tantangan zaman. Sebagaimana Maria Magdalena yang memiliki integritas atau pribadi yang utuh dalam bentuk mengasihi Yesus sehingga diperkenankan untuk berjumpa dengan Yesus yang bangkit. Seluruh isi hati kita harus mengagungkan Kristus, sebagaimana dalam bacaan pertama disebut penyair Kidung Agung sebagai kekasih hati yang dicari-cari dan akhirnya ditemukan.

    Demikian dari saya sebagai alumnus SMA St. Petrus. Saya bangga pernah belajar dan berjuang di sini. Dan kenangan di sekolah ini takkan pernah saya lupakan karena banyaaaaaaak sekali hal baik yang terjadi sehingga saya bisa berada di hadapan Romo, bapak ibu guru dan adik-adik sekalian.

    Kalau ada jarum yang patah

    Jangan simpan di dalam peti

    Kalau ada kata yang salah

    Jangan simpan di dalam hati

    Biji salak biji selasih

    Cukup sekian dan terima kasih

    Tuhan memberkati kita”

    Bercermin dari masa-masa di SMA, suka dan duka serta banyak hal baik yang dirajut, Frater Sesco mengimpikan semoga banyak pula alumni dari SMA St. Petrus yang terpanggil sebagai imam, suster atau bruder dan pemimpin Gereja di masa depan. Berawal dari hal kecil, mencita-citakan hal besar kemudian Tuhan arahkan kepada panggilan-Nya. Hal tersebut bukan semata-mata kebetulan belaka melainkan rencana Tuhan yang pada suatu saat akan indah pada waktunya.

    Penulis: Fr. Fransesco Agnes Ranubaya

    Misa Tahun Ajaran Baru SMA PL Santo Yohanes Ketapang: Setia Seperti Maria Magdalena

    Misa Pembukaan Tahun Ajaran 2023/2024 di SMA PL St. Yohanes dipimpin oleh Mgr. Pius Riana Prapdi

    MajalahDUTA.Com, – Sabtu 22 Maret 2023, merupakan hari yang baik bagi SMA Pangudi Luhur Santo Yohanes di mana para guru bersama para peserta didik membuka awal tahun ajaran baru dengan mengadakan misa syukur sekaligus pemberkatan panggung di tengah-tengah halaman sekolah. Misa tersebut dipimpin oleh Mgr. Pius Riana Prapdi bersama sejumlah para imam (RD Fransiscus Suandi, RD Yosef Kaju, RP Sepo, CP beserta para Frater Keuskupan Ketapang yang telah melaksakan masa TOP, yang akan memulai masa TOP dan Frater yang sedang berlibur di Ketapang.

    Suasana misa yang dihadiri seluruh guru dan siswa SMA PL St. Yohanes tersebut sangat khidmat dan berjalan lancar. Cuaca yang sangat cerah membuat perayaan misa berjalan dengan kondusif. Rangkaian kegiatan tersebut diawali dengan misa kemudian ramah tamah kepada para tamu undangan.

    Memiliki Cinta Tuhan

    Dalam homili, Mgr. Pius Riana Prapdi melemparkan pertanyaan yang cukup menarik,”Dalam bacaan Injil, Maria Magdalena pagi-pagi benar mengunjungi kuburan, kalau kita? Setelah bangun tidur pagi-pagi apakah yang kita lihat?” Serentak semua menjawab,”HP (Handphone)”.

    Cinta akan Yesus menggugah Maria Magdalena untuk menemui Yesus yang telah wafat. Sehingga pada akhirnya Maria Magdalena menjadi orang pertama yang melihat penampakan Yesus.

    “Sesungguhnya, bukan Maria Magdalena yang menemukan Yesus, tetapi Yesuslah yang menemukan Maria Magdalena,” ungkap Mgr. Pius. Demikian juga setiap orang Katolik harus meneladani Maria Magdalena yang memiliki cinta akan Tuhan Yesus, sehingga Yesus menemukan kita semua di dalam kasih-Nya.

    Uskup Ketapang juga mengatakan bahwa sekalipun; sembari memohon maaf agar hal ini tidak terjadi, Mgr Pius melanjutkan, sekalipun seorang Katolik meninggalkan Tuhan Yesus, suatu hari kelak ia akan kembali kepada-Nya. Mgr. Pius menjelaskan bahwa Pembabtisan merupakan hal yang takkan pernah hilang sekalipun orang tersebut meninggalkan Yesus karena rahmat pembabtisan adalah kekal.

    Berkaitan dengan bacaan pertama, pelantun syair Kidung Agung bertanya-tanya di manakah jantung hatinya? Mgr. Pius kemudian mengatakan bahwa jantung hati kita semua adalah Yesus Kristus.

    Di akhir berkat penutup, Mgr. Pius mengatakan bahwa jadwal pesawat dimajukan untuk menghadiri persiapan kegiatan Orang Muda Katolik Sedunia (World Youth Day) di Lisbon, Portugal dengan dua utusan OMK Keuskupan Ketapang.  Setelah melaksanakan Misa, para pelayan altar turun dan menuju ke ruangan yang telah disediakan untuk bersantap snack bersama.

    Penulis: Fr. Fransesco Agnes Ranubaya

    Warna Berkat Perjalanan Menuju Batu Ampar Desa Sungkung III

    Gereja Stasi Santo Fransiskus Asisi Dusun Batu Ampar Desa Sungkung III

    MajalahDUTA.Com, Bengkayang – Pada 16 Juli 2023 diukir kembali sejarah baru yakni peresmian dan pemberkatan Gereja Katolik Santo Fransiskus Asisi Stasi Batu Ampar Paroki Mikhael Jagoi Babang Keuskupan Agung Pontianak Desa Sungkung III Kecamatan Siding Kabupaten Bengkayang Kalimantan Barat, diberkati oleh Uskup Agung Pontianak, Mgr. Agustinus dan diresmikan oleh Bupati Bengkayang, Sebastianus Darwis.

    Uskup Agustinus berangkat dari Entikong tanggal 15 Juli 2023 melewati Desa Suruh Tembawang, Dusun Pool dan Dusun Senutul baru tiba ke Batu Ampar Sungkung III tepat pada pukul 13.30 WIB. Kemudian disusul oleh rombongan Bupati di sore harinya.

    Warna Berkat perjalanan menuju ke Bantu Ampar

    Berangkat pagi dari Entikong ke Batu Ampar, rombongan Uskup Agustinus disuguhkan dengan wadah alam yang terbilang tak mudah. Kami menyusuri pegunungan, menaki dari kampung satu ke kampung yang lain. Sungguhpun katanya lewat Entikong lebih dekat, tetap saja jalan lumpur dan batu tidak terelakkan.

    Ada satu warna yang kami lihat dari perjuangan perjalanan kami waktu itu yakni magisnya tenaga ojek (umat Batu Ampar) yang dengan gagah tanpa sedikit keluhan melalui wadah alam itu. Pendakian kami memakan waktu 4 jam perjalanan. Tidak terelakkan juga, Uskup Agustinus juga tergelincir akibat jejak jalan yang tak jelas itu.

    Pendakian kami hingga berada dipunjak gunung yang penuh dengan hamparan batu itulah Batu Ampar masuk dalam Desa Sungkung III. Dari sana kami beristirahat hampir 30 menit menghela nafas sambil menikmati angin sayup-sayup yang sedikit demi sedikit menurunkan tensi panas dan keram kaki kami waktu itu (14 Juli 2023).

    “Alam yang sulit ini mengajarkan umat disini untuk tangguh dan tak mudah menyerah. Semangat itulah yang saya salut dari umat-umat disini,” ujar Uskup Agustinus sembari memasak daging spesial untuk umat Batu Ampar.

    Peresmian dan pemberkatan Gereja Stasi Batu Ampar

    Ketua umat, Damianus (46) mengaku memang sudah lama merindukan gereja stasi ini untuk diberkati. Akhirnya penantian mereka-pun dikabulkan oleh Uskup Agustinus. Gereja Stasi Santo Fransiskus Asisi Batu Ampar itu sungguh didirikan diatas batu- sesuai nama kampung mereka yaitu Batu Ampar.

    Memang semua perumahan didirikan diatas batu dengan fondasi sedikit tanah gunung dan pasir. Melihat kemegahan alam itu, Uskup Agustinus menyuarakan kisah iman tentang kesetiaan kepada Tuhan. Cerita itu Uskup Agustinus bawa dalam homilinya. Poin yang disampaikan Bapa Uskup yaitu peranan iman akan membuahkan sukacita dan berkat. Oleh karenanya Gereja stasi yang telah diresmikan dan diberkati itu hendaknya berbuah juga untuk pembangunan mental dan semangat rohani untuk umat setempat.

    “Saya yakin, dan menyaksikan sendiri bahkan untuk akses perjalanan menuju kampung ini terbilang tidak mudah, karena alam yang sulit ini membentuk ketangguhan mental dan batin begitupun iman. Saya doakan agar gereja ini menjadi berkat untuk umat disini,” kata Uskup Agustinus dalam homilinya.

    Sebagai Bupati Bengkayang, Sebastianus Darwis menegaskan bahwa perhatian pemerintah akan tetap memperjuangkan akses menuju semua kampung yang berada di Sungkung.

    Dalam sambutan peresmiannya, Darwis menggarisbawahi bahwa peran pemerintah harus selalu bersinergis dan berjalan bersama dengan Gereja, dengan cara itulah iman, dan pembangunan akan bersinergis bersama dalam menyongsong kemajuan baik dari segi pendidikan dan infratruktur.

    Menutup sambutannya, Uskup Agustinus meneguhkan umat Batu Ampar untuk tetap mengedepankan hidup rohani hal itu dia tunjukkan dengan sumbangan Patung Bunda Maria yang kemudian akan diletakkan persis dibelakang Gereja sebagai bentuk terima kasihnya kepada Bunda Maria akan pertolongan dan doa sucinya dalam setiap perjalanan iman yang dilaluinya.

    Uskup Agustinus menghadiahkan sebuah patung ukuran manusia dan meminta umat yang sebelumnya bergotong royong membangun stasi tanpa tukang. Ukuran Gereja Stasi itu tidak terlalu besar namun sangat cukup untuk memenuhi kebutuhan rohani mereka di dusun Batu Ampar tersebut.

    Ada 92 kepala keluarga dengan 456 jiwa, Gereja Stasi itu dibangun dengan besar 15 x 9 Meter yang dimungkinkan untuk 200 hingga 300 umat. Namun begitu tidaklah masalah untuk umat disana, karena dengan berdirinya gereja stasi untuk ke tiga kalinya ini sesudah rumah balai pertemuan dan kapel kecil, gereja seukuran itu sudah sangat melegakan mereka. Ditambah kehadiran Bupati Bengkayang dan Uskup Agung Pontianak. (Samuel-DUTA).

    Ketua JPIC Kalimantan Memberikan Semangat dalam Persiapan Temu INFO JPIC Indonesia

    Chat WA Grub INFO JPIC

    MajalahDUTA.Com, Pontianak, Sabtu, 15 Juli 2023 – Pastor Pionius Hendi OFMCap, Ketua JPIC Kalimantan, memberikan semangat kepada seluruh anggota INFO JPIC Indonesia dalam persiapan menyambut Temu INFO JPIC Indonesia yang akan diselenggarakan di Keuskupan Agung Pontianak pada tanggal 19 hingga 25 Agustus 2023 mendatang. Melalui Chat WA Grub INFO JPIC, Pastor Pionius mengirimkan sapaan hangat kepada para anggota dan memberikan informasi penting bahwa pendaftaran akan segera ditutup.

    “Selamat pagi semuanya. Tetap semangaaat ya! Terima kasih banyak kepada para Saudara/i yang telah mendaftarkan diri untuk ikut kegiatan INFO JPIC Indonesia di Pontianak pada tanggal 19-25 Agustus 2023. Sore ini pendaftaran akan ditutup,” ujar Pastor Pionius Hendi OFMCap.

    Temu INFO JPIC Indonesia merupakan acara penting bagi JPIC Indonesia, sebuah lembaga yang berfokus pada advokasi dan kegiatan sosial untuk mempromosikan keadilan, perdamaian, dan keutuhan penciptaan. Acara tersebut diadakan sebagai sarana bagi anggota INFO JPIC Indonesia dari seluruh wilayah untuk bertemu, berbagi pengalaman, serta memperluas jaringan kerjasama dalam upaya mencapai tujuan bersama.

    Keuskupan Agung Pontianak dipilih sebagai lokasi penyelenggaraan Temu INFO JPIC Indonesia kali ini, menandakan peran yang signifikan yang dimainkan oleh Kalimantan dalam upaya mewujudkan keadilan dan perdamaian di Indonesia. Selama acara berlangsung, sejumlah kegiatan dan diskusi akan dilaksanakan, mencakup isu-isu sosial, lingkungan, dan hak asasi manusia.

    Dalam pesannya, Pastor Pionius juga memberikan penghiburan kepada mereka yang tidak dapat ikut serta dalam Temu INFO JPIC Indonesia tersebut. “Untuk yang tidak ikutan, see you next time. Tetap berjuang demi kebaikan dan dunia yang lebih baik. Pace e bene!” kata Pastor Pionius Hendi OFMCap.

    Dengan penutupan pendaftaran pada sore ini, Pastor Pionius mengingatkan anggota JPIC Indonesia yang belum mendaftar agar segera melakukannya. Ia mengajak mereka untuk terus bersemangat dalam perjuangan demi kebaikan dan dunia yang lebih baik. Temu INFO JPIC Indonesia di Pontianak akan menjadi momen berharga dalam memperkuat upaya bersama dalam mencapai tujuan keadilan dan perdamaian di Indonesia.

    Bagi peserta yang telah mendaftar, Pastor Pionius mengimbau mereka untuk mempersiapkan diri dengan baik. Ia berharap mereka dapat memanfaatkan kesempatan ini untuk meningkatkan pengetahuan, mengembangkan keterampilan, dan memperluas jaringan kerjasama. Temu INFO JPIC Indonesia di Pontianak akan menjadi platform yang tepat untuk memperjuangkan nilai-nilai keadilan, perdamaian, dan keutuhan penciptaan di tengah tantangan zaman.

    Dengan semangat yang penuh harapan, Pastor Pionius Hendi OFMCap mengakhiri pesannya, mendorong seluruh anggota INFO JPIC Indonesia untuk terus berjuang demi menciptakan dunia yang lebih baik.]* Samuel OFS. 

    Perayaan Satu Tahun Biara Ocso Di Penggadungan Paroki Tembelina

    Misa Perayaan Satu Tahun Biara OCSO di Penggadungan dipimpin oleh RD Zakarias Lintas

    MajalahDUTA.Com, Ketapang– Pada 13 Juli 2022 tahun lalu, Biara OCSO didirikan dan diresmikan di lokasi pedalaman Kalimantan, tepatnya di wilayah Penggadungan, Kecamatan Sungai Melayu, Kabupaten Ketapang Kalimantan Barat. Dan pada tanggal yang sama di tahun ini, Biara OCSO di Penggadungan genap berusia 1 (satu) tahun.

    Misa Perayaan Satu Tahun Pemberkatan Biara OCSO tersebut dilaksanakan dengan sederhana di Biara Pertapaan dengan Konselebran RD Zakarias Lintas, Pastor Paroki Santo Carolus Boromeus Tembelina, dua orang Frater Projo (termasuk penulis) dan beberapa orang undangan lainnya. Seperti yang diketahui, Pertapaan Trappist di Penggadungan saat ini dihuni oleh tiga anggota pertapa yaitu Fr. Mario OCSO, Fr. Johan OCSO dan Fr. Plasidus OCSO yang telah melayani umat dalam mencicipi hidup rohani di wilayah Paroki Tembelina Keuskupan Ketapang.

    Dalam homili, Romo Lintas bercerita bagaimana beliau bersama umat memikirkan bagaimana membangun sebuah kapel. Lalu mereka datang dan berkata,”Pastor saya punya seng 10 lembar, seng itu beli kepada saya saja.” Kemudian yang seorang lagi datang dan berkata,”Saya punya kayu belian 10 batang, nanti Pastor beli dengan saya saja,” tuturnya. Pemikiran untuk membuat kapel dijadikan kesempatan untuk mencari uang dengan menjual apa yang ada. Untuk membangun sebuah kapel saja orang sudah mau mencari untung.

    Apalagi disuruh untuk ikut serta aktif dalam membangun jemaat. Seringkali gedung Gereja atau pusat Paroki sering dijadikan tempat untuk mencari untung sejak zaman dahulu hingga sekarang. Bahkan dalam Alkitab dituliskan bahwa di zaman Yesus, di Yerusalem Bait Allah dijadikan tempat berdagang. Hal ini merupakan sebuah tantangan bagi umat Katolik bagaimana membangun umat menjadi Gereja atau membangun umat menjadi Bait Allah seperti Yesus Kristus yang mengatakan bahwa Bait Allah adalah diri-Nya sendiri.

    Perayaan Ekaristi ini merayakan 1 (satu) tahun diberkatinya Biara atau kehadiran para biarawan OCSO di Pegadungan dengan mengambil tema Perayaan Pemberkatan Basilika Lateran. Melalui perayaan ini diharapkan di sekitar biara tersebut tubuh Kristus dapat dibangun sebagai umat Allah dan tubuh Kristus. Sebagai perwujudan Kristus Sang Penyelamat yang mampu membawa keselamatan bagi semua orang yang ada di sekitar. Agar lebih mampu menghadirkan keselamatan Tuhan, dimohonkan agar Tuhan juga selalu campur tangan dalam proses pengembangan. Romo Lintas juga berharap dengan kehadiran para Rahib juga menghadirkan Tubuh Kristus, menghadirkan keselamatan, menghadirkan kesejahteraan, menghadirkan Kerajaan Allah yaitu Kerajaan Kebenaran, damai sejahtera, dan sukacita dalam Roh Kudus.

    Ketiga Frater OCSO membagikan cerita selama setahun hidup dan melayani umat di Penggadungan. Fr. Mario OCSO mengatakan bahwa untuk menapaki dunia baru bukanlah sesuatu yang mudah alasannya ialah harus meninggalkan pola hidup “Jawa” kemudian memasuki pola baru yang awalnya tidak masuk akal tetapi harus tetap dijalani. Contoh sepele misalkan cara menanam di kebun, kemudian soal makanan, kebiasaan yang ada di Jawa benar-benar harus ditinggalkan dan hidup dalam dunia baru. Hal inilah yang menjadi semangat untuk bertobat.

    Tidak ada sesuatu yang kekal di dunia ini, tetapi bertobat dengan sesuatu yang baru bukan berarti meninggalkan cara lama atau suatu tradisi kuat, tetapi bagaimana menyesuaikan diri tanpa kehilangan jati diri. “Saya tetap OCSO tetapi dengan cita rasa Kalimantan”, ungkapnya.

    Selanjutnya Fr. Johan OCSO bercerita bahwa meskipun awalnya kesulitan menyesuaikan diri karena situasi yang berbeda dari keadaan di Jawa, seperti cuaca yang cukup membakar pada siang hari sehingga cukup menguras keringat pada saat bertugas di kebun. Soal budaya dan makanan, Fr. Johan tidak terlalu mengalami kesulitan,”Segala yang ada di sini juga ada Jawa juga ada yang mirip-mirip, karena di sini daerah trans sehingga tidak terlalu jauh kebudayaan yang ada di sini,” ungkap Fr. Johan.

    Karena faktor usia, Fr. Johan sedikit mengalami kesulitan tidur,”Jika ada suara sedikit saja, saya sudah terbangun”. Meskipun usia Fr. Johan sudah tua, tetapi beliau mengungkapkan bahwa tidak mengalami sakit fisik yang berarti. Mengenai bercocok tanam, Fr. Johan mengungkapkan bahwa kadar asam dalam tanah begitu tinggi, sehingga ada beberapa tanaman yang ketika ditanam, keliatannya tumbuh subur, tapi lama kelamaan mati. Hal tersebut menjadi tantangan tersendiri bagi Fr. Johan yang bertugas di kebun.

    Fr. Plasidus OCSO mengungkapkan kegembiraanya selama berada di Pertapaan Penggadungan. Belajar dari pengalaman saat berada di tiga Komunitas yaitu di Rawaseneng, komunitas Lamanabi, hingga di Penggadungan ini, Fr. Plasidus belajar banyak dalam suka duka dan merefleksikan pengalaman selama berkomunitas di tiga komunitas tersebut. Oleh karena itu, Fr. Plasidus merasa tidak kesulitan karena sangat cepat untuk menyesuaikan diri.

    Pertapaan Trappist OCSO di Penggadungan telah memberikan warna baru bagi umat di sekitar. Para pertapa menciptakan suasana rohani di tengah hutan tropis wilayah Penggadungan sehingga menjadi tempat yang nyaman dan aman untuk menimba pengalaman rohani. Selain itu, pertapaan OCSO di Penggadungan juga memiliki peternakan ayam, bebek, serati, angsa, kelinci hingga babi yang diternakkan dengan sangat baik. Selain itu, tersedia juga kebun buah, pohon buah hutan tropis, pohon-pohon kayu belian, dan segala macam tanaman yang dirawat dengan baik oleh para pertapa. Tidak jauh dari komunitas, ada Gua Maria yang didirikan sebagai tempat untuk berdoa bagi umat yang ingin berdoa melalui perantaraan Bunda Maria sehingga jarak yang ditempuh untuk berziarah rohani tidak terlalu jauh, anda bisa datang berkunjung dan berdoa di Biara OCSO Penggadungan.

    Di rumah komunitas Penggadungan terdapat ruang kapel untuk doa ibadat harian dan misa, ada kamar para pertapa dan juga untuk tamu, dapur yang terbuka dengan alam, suasana yang tenang dan jauh dari keramaian membuat pertapaan OCSO di Penggadungan sangat baik bagi para umat yang ingin mencicipi hidup rohani ala pertapaan trappist OCSO di Pegadungan ini.

    Penulis: Fr. Fransesco Agnes Ranubaya

    Pengabdian kepada Masyarakat Melalui Baksos KEWAKA FISIP UNTAN 2023 di Desa Langan Kec. Belimbing Kab. Melawi

    Foto bersama Baksos KEWAKA FISIP UNTAN 2023 di Desa Langan Kec. Belimbing Kab. Melawi

    Majalah DUTA – Kewaka merupakan organisasi keagamaan Katolik yang berada di lingkungan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Tanjungpura Pontianak. Kewaka sendiri sudah terbilang dewasa dengan perjalanan kurang lebih 29 tahun mengabdi di kampus dan di masyarakat. Organisasi ini memiliki 7 divisi dan pengurus inti yang terdiri dari Ketua, Wakil Ketua, Sekretaris, Bendahara, serta divisi pembinaan, Germas, Mikat, Kewirausahaan, Kerohanian, Komunikasi dan Informasi, serta Kesekretariatan.

    Bakti Sosial merupakan salah satu program kerja besar Kewaka yang diadakan oleh divisi Germas. Program ini melibatkan mahasiswa dan masyarakat untuk saling berinteraksi, belajar, dan berbagi. Bakti Sosial diadakan setiap tahun sebagai tindakan nyata mahasiswa FISIP dalam menjunjung tri dharma perguruan tinggi. Kegiatan ini juga menjadi laboratorium khusus bagi mahasiswa FISIP untuk berbakti dan mengabdi kepada sesama.

    Bakti Sosial tahun ini mengusung tema “Mengabdi dengan Kasih dan Semangat Melayani dalam Persekutuan Tuhan dengan Solidaritas Persaudaraan dan Kekerabatan dalam Kristus.” Tema ini mengartikan bahwa pengabdian dan semangat Katolik menjadi dasar bagi kami dalam melayani sesama. Kegiatan ini berlangsung selama 8 hari, mulai dari tanggal 19 sampai 26 Juni 2023, di Desa Langan, Kecamatan Belimbing, Kabupaten Melawi.

    Adapun agenda yang kami laksanakan selama kegiatan baksos sebagai berikut: pembuatan plang batas desa, pembuatan tempat sampah, pembuatan saluran irigasi, bina iman anak Katolik, lokakarya, kebersihan lingkungan, photobooth desa wisata, pengecatan gereja, pembuatan plang balai adat dan doa rosario bersama di malam hari. Puji Tuhan, semua agenda yang kami laksanakan berjalan lancar sesuai dengan yang diinginkan.

    Kegiatan ini tidak dapat terlaksana tanpa kerjasama antara masyarakat dan Kewaka. “Kami hadir di tengah masyarakat untuk mengimplementasikan pengetahuan dan juga belajar langsung dari masyarakat,” ujar Ketua Panitia, Saudara William. “Kami sangat terharu dengan masyarakat Desa Langan yang telah menerima kami selama 8 hari. Pengalaman ini sangat berkesan, seperti kata Tan Malaka, ‘Bila kaum muda yang telah belajar di sekolah dan menganggap dirinya terlalu tinggi dan pintar untuk melebur dengan masyarakat yang bekerja dengan cangkul dan memiliki cita-cita sederhana, maka lebih baik pendidikan itu tidak diberikan sama sekali,'” tambah Ketua Kewaka, Febrian Aditya Saputra. (Albertus Chandra – Penulis, disunting Majalah DUTA)

    Temu Pembina IV Palangkaraya: Ikhlas Bhakti Bina Bangsa Berbudi Bawa Laksana

    TB IV/2023 di Palangkaraya, Kalimantan Tengah – Komisi Komunikasi Sosial Keuskupan Agung Pontianak

    MajalahDUTA.com, Palangkaraya – Temu Pembina IV yang diselenggarakan di Palangkaraya, Kalimantan Tengah menjadi wadah pengalaman bagi para pembina pramuka se-Indonesia. Kegiatan ini merupakan kegiatan yang berbasis nasional, diadakan oleh Majelis Nasional Pendidikan Katolik (MNPK). Peserta adalah para pembina pramuka yang bernaung di persekolahan Katolik. Seluruh pembina pramuka se-Indonesia, dari Sabang sampai Merauke berkumpul dan dipertemukan di Bumi Perkemahan Nyaru Menteng Kota Palangkaraya Provinsi Kalimantan Tengah mulai dari Minggu, 25 Juni s.d Minggu, 2 Juli 2023 dengan tema The Leader Within.

    Menurut Buku Kegiatan Temu Pembina IV TKKMNPK di Palangkaraya, pertemuan pembina pramuka merupakan suatu kegiatan bagi anggota pramuka dewasa dimana semua kegiatan sesuai dengan Prinsip Dasar Kepramukaan dan Metode Kepramukaan Temu Pembina diselenggarakan sebagai upaya meningkatkan mutu Pembina Pramuka dari Gugus Depan yang berpangkalan di sekolah Katolik di setiap Keuskupan/Keuskupan Agung se-Indonesia melalui kegiatan saling tukar pengalaman membina di setiap Gugus Depan.

    Kedatangan peserta dijadwalkan pada Minggu, 25 Juni 2023. Peserta disambut oleh panitia dan kemudian dibawa ke tempat perkemahan yang sudah dibagi menjadi empat kampung atau Lewu, antara lain Lewu Punan, Lewu Ot Danum, Lewu Iban dan Lewu Apokayan. Masing-masing Lewu ditempati oleh beberapa kontingen seperti Lewu Apokayan yang ditempat lima kontingen, yaitu kontingen Keuskupan Agung Pontianak, Kontingen Keuskupan Agung Merauke, Kontingen Keuskupan Bogor, Kontingen Keuskupan Denpasar dan Kontingen Keuskupan Purwokerto. Pada hari kedatangan inilah peserta mulai membangun tenda-tenda di Lewu yang sudah disiapkan.

    Pada Senin, 26 Juni 2023 adalah acara pembukaan. Rangkaian acara pembukaan dimulai dengan potong pantan, opening ceremony defile kontingen, upacara pembukaan, tarian kolosal, misa pembukaan oleh Mgr. Agustinus Agus sebagai selebran utama, dan terakhir adalah festival kuliner dan makan malam bersama.

    Temu Pembina Pramuka 

    Misa pembukaan oleh Mgr. Agustinus Agus sebagai selebran utama dalam homilinya mengajak kakak-kakak pembina untuk mempromosikan tentang rendah hati.

    “Adik-adik yang terkasih, sebetulnya lebih baik kita promosi jadilah rendah hati. Sebagai pembina kita harus mampu bertutur kata dan bertingkah laku dengan rendah hati. Karena kita berpedoman pada Tuhan Yesus yang menyelamatkan kita dengan kerendahan hati-Nya” tutur Mgr. Agus.

    Setelah dilaksankan misa pembukaan kegiatan dilanjutkan dengan pesta kuliner dan makan malam bersama. Pesta kuliner disiapkan oleh masing-masing kontingen. Setiap kontingen membawa makanan khas yang berasal dari daerahnya. Misalnya dari Kontingen Keuskupan Agung Pontianak membawa minuman Serbat dan keripik keladi (talas), dari keuskupan Ketapang membawa Ale-Ale dan masih banyak lagi ragam makanan khas yang disajikan oleh kontingen. Semua peserta bersama-sama menikmati semua hidangan makanan yang disediakan.

    Banyak kisah pengalaman dan kebersamaan yang menarik seperti tidak ada habisnya. Kegiatan terus berlanjut dan secara bergantian semua peserta mengunjungi beberapa tempat yang telah disiapkan oleh panitia. Kegiatan inti yang dilaksanakan di TB IV/2023 dibagi menjadi tiga bagian utama, yaitu Budaya Lokal, Sustainable Development Goals, dan Science & Technology.

    Selain tiga kegiatan tersebut juga dilaksanakan satu kegiatan yang tidak kalah penting dan menarik, yaitu aktivitas offsite. Aktivitas ofsite dikemas apik menjadi beberapa kegiatan yaitu, Wisata Rohani ke Biara Pertapaan Karmel Santo Joseph dan napak tilas kisah sengsara penyaliban Yesus di Bukit Karmel, kunjungan kasih di Lapas Anak, Penanaman Pohon di area Katolik Center, dan Pentas Seni yang dilaksanakan di pusat kota Palangkaraya.

    Budaya Lokal, Sustainable Development Goals, dan Science & Technology dibagi menjadi beberapa aktivitas. Budaya Lokal terbagi menjadi empat aktivitas yaitu, Anyaman Rotan, Manik-Manik, Batik Sasirangan, dan Masakan Khas. Kemudian, Sustainable Development Goals terbagi menjadi tiga aktivitas yaitu, Wisata Pulau Kaja dan Susur Sungai, Limbah Olahan dan Budidaya Magot. Serta yang terakhir adalah Science & Technology terbagi menjadi dua aktivitas yaitu, Wirausaha dan Konten Kreatif Etnopendagogi.

    Gelang Ajar

    Seluruh aktivitas diikuti oleh peserta mulai dari pagi hari hingga siang hari. Kemudian dilanjutkan dengan kegiatan Scouting dan Scouting Skills yang dimulai dari siang hari hingga sore hari. Sementara waktu malam hari dilaksanakan aktivitas lain, yaitu refleksi kegiatan yang telah dilaksanakan dan briefing persiapan aktivitas berikutnya.

    Aktivitas Scouting diisi dengan materi dan aktivitas Scouting Skills adalah pengaplikasian materi. Scouting Skills dilaksanakan dalam bentuk penjelajahan. Masing-masing pos penjelajahan mengajarkan banyak pengalaman menarik untuk peserta. Mulai dari mengenal tanaman obat alami di hutan, pionnering, SMS (Sandi, Morse, Semaphore) dan masak nasi menggunakan buah kelapa.

    Sebelum hari kepulangan pada hari Sabtu, 1 Juli 2023 diadakan aktivitas Family Gathering. Aktivitas yang dilaksanakan antara lain pesta siaga per sub camp, bongkar tenda, menuju Palangkaraya untuk acara penutupan, persiapan acara penutupan, dan acara penutupan TB IV/2023 (hiburan).

    Penutupan TB IV/2023 dilaksanakan di kota Palangkaraya tepatnya di persekolahan Katolik Santo Don Bosco. Acara penutup diisi dengan sambutan-sambutan, simbolis penutupan TB IV/2023, dan acara hiburan dari masing-masing Lewu dan Artis (Nuggie dan Marion).

    Dalam kata sambutannya Bambang Mantike selaku Waka Binawasa mewakili Ketua kwartir daerah Kalimantan tengah menyampaikan harapannya kepada para peserta yang telah mengikuti TB IV/2023 di Palangkaraya.

    “Kegiatan yang telah kakak-kakak lakukan beberapa hari di Bumi Perkemahan Nyaru Menteng dan di sekitar kota Palangkaraya ini. Kami harapkan dapat meningkatkan keterampilan dalam proses bertukar pengalaman dan pengetahuan dalam membina adik-adik kita di Gugus Depan-Gugus Depan yang berpangkalan di sekolah-sekolah katolik. Pengalaman dan proses yang berlangsung selama beberapa hari ini tentu semakin menguatkan dan meneguhkan kakak-kakak sebagai bagian dari gerakan pramuka, gerakan yang membentuk karakter putra putri bangsa, mempersiapkan mereka untuk bisa berkompetisi di masa depan” tuturnya.

    Foto Bersama TB IV/2023 di Palangkaraya, Kalimantan Tengah – Komisi Komunikasi Sosial Keuskupan Agung Pontianak

    Kegiatan diakhiri dengan misa Penutupan dan Perutusan pada hari Minggu, 2 Juli 2023 di Gereja Katedral Santa Maria Palangkaraya. Perayaan ekaristi dipimpin oleh Mgr. Aloysius Sutrisnaatmaka, MSF uskup keuskupan Palangkaraya sebagai selebran dan didampingi oleh Sembilan imam sebagai konselebran. (Eliska Winda – Tim KOMSOS)

    Peserta Jamnas Keuskupan Agung Pontianak Kembali dengan Kenangan Tak Terlupakan

    Secuplik Gambar dari postingan Video Instagram Komsoskap

    MajalahDUTA.Com, Pontianak, 11 Juli 2023 – Pastor Silvanus Ilwan CP, Pastor Dirdios Keuskupan Agung Pontianak, mengucapkan terima kasih kepada para pastor paroki atas dukungan yang diberikan dalam rangkaian kegiatan Jamnas. Para peserta Jamnas dari Keuskupan Agung Pontianak telah kembali dengan selamat setelah mendarat di Bandara Pontianak pada tanggal 10 Juli 2023. Kegiatan yang mengagumkan telah terwujud pada tahun ini, termasuk Prajamnas Dekenat Pontianak dan Prajamnas Dekenat Landak.

    Pada tanggal 1-3 Juli, para peserta Jamnas berkumpul di Pusat Studi Ekumenis (PSE). Kemudian, pada tanggal 3-7 Juli, kegiatan Jamnas berlangsung di Seminari Mortoyudan. Dalam kegiatan ini, Keuskupan Agung Pontianak diwakili oleh 20 peserta yang didampingi oleh 1 dirdios, 1 suster, 1 bruder, dan 2 awam. Garis besar Jamnas mencakup berbagai aktivitas seperti misa, seminar, diskusi kelompok, pentas seni, dan kunjungan lintas agama.

    Setelah itu, pada tanggal 8-9 Juli, peserta Jamnas Keuskupan Agung Pontianak diajak untuk rekreasi di beberapa tempat menarik, antara lain Borobudur, Keraton Yogyakarta, Pantai Parangtritis, Kebun Binatang Gembira Loka, Puncak Bukit Menoreh, serta menghadiri misa di Paroki Boro dan Sendang Sono. Semua peserta menjalani waktu yang menyenangkan dan membangun kenangan tak terlupakan.

    Video cuplikan kegiatan Jamnas tersebut dapat ditonton melalui akun Instagram resmi KOMSOS KA Pontianak (@komsoskap). Video tersebut memperlihatkan momen-momen berharga dari perjalanan dan kegiatan yang dilakukan selama Jamnas.

    Kembali dengan hati yang penuh sukacita, peserta Jamnas Keuskupan Agung Pontianak mengucapkan terima kasih kepada semua yang telah mendukung dan membuat kegiatan ini menjadi sukses. Jamnas telah memberikan pengalaman spiritual dan sosial yang berharga bagi semua peserta, memperkuat ikatan kebersamaan dalam iman Katolik. (Sam/DUTA).

    Uskup Agung Pontianak, Mgr. Agustinus Agus, Mengajak Umat untuk Mengamati Keberadaan Rohani

    Foto: Uskup Agustinus- Tepian Sungai Thailand (Pasar)

    MajalahDUTA.Com, Pontianak, 11 Juli 2023 – Postingan menarik dari akun Instagram resmi @mgr.agus, yang diunggah oleh Mgr. Agustinus Agus, Uskup Agung Pontianak, mendapatkan perhatian para sahabat dan pengikutnya. Dalam postingan tersebut, Uskup Agustinus Agus mengajak umat Katolik untuk menjadi bagian dari perjalanan rohani dan melihat keberadaan spiritual dalam setiap tempat yang mereka kunjungi.

    Dalam postingan tersebut, terdapat foto yang diambil saat peristiwa di Thailand pada tahun 2023. Mgr. Agustinus Agus tampak terekam dalam foto tersebut, menggambarkan momen kehadiran spiritual yang dijajakinya. Melalui caption, Uskup Agung Pontianak menekankan pentingnya mengamati dunia rohani di sekitar kita dan menyatukan hati dan pikiran untuk menjadi persembahan hidup yang mendedikasikan diri untuk keselamatan jiwa-jiwa.

    Unggahan ini mendapat respon positif dari para pengikutnya, yang memberikan apresiasi atas pesan inspiratif yang disampaikan oleh Mgr. Agustinus Agus. Para pengikut diundang untuk terus mengikuti akun Instagram Uskup Agung Pontianak, Mgr. Agustinus Agus, agar tidak ketinggalan informasi berkat lainnya yang akan dibagikan.

    Dengan pesan yang disampaikan melalui unggahan ini, Uskup Agustinus Agus memotivasi umat Katolik untuk membuka mata batin mereka dan mengamati tanda-tanda keberadaan rohani di sekitar mereka. Melalui pengalaman spiritual ini, diharapkan umat dapat mempersembahkan hidup mereka dengan tulus dan beraksi dalam upaya menyelamatkan jiwa-jiwa.

    Unggahan yang inspiratif ini mengingatkan kita semua akan pentingnya merenungkan kehadiran spiritual dalam perjalanan hidup kita. (Sam/DUTA).

    TERBARU

    TERPOPULER