Wednesday, April 29, 2026
More
    Home Blog Page 76

    Sambut Bulan Rosario: Frater Diosesan Seminari Malang Mengarak Patung Bunda Maria ke Unit-unit

    Angkatan Tiga: Unity in Diversity

    MAJALAHDUTA.COM, MALANG– Di awal pembukaan bulan Rosario, seluruh umat Katolik mulai mempersiapkan hati dan jiwa untuk menjalin kedekatan dengan Sang Bunda melalui Rosario.

    Begitu pula para penghuni Komunitas Seminari Tinggi Interdiosesan San Giovanni XXIII, beberapa hari sebelum bulan Rosario, panitia-panitia telah dibentuk untuk mempersiapkan pekan Rosario dengan baik.

    Mulai dari tim kor yang sejak awal mempersiapkan latihan dengan keseriusan, tim liturgi, tim perarakan Patung Bunda Maria, tarian pembukaan hingga persembahan.

    Kesemuanya itu dipersiapkan sedemikian rupa serta keaktifan para panitia yang dipilih berdasarkan angkatan. Angkatan yang dipilih untuk mempersiapkan kegiatan ini dipilih dari angkatan tingkat 3 atau Angkatan Unity In Diversity.

    Dalam misa dilaksanakan secara unik di mana musik etnis diintegrasikan ke dalam setiap lagu-lagu. Ada yang memainkan gendang, sape’, kulintang, serta gong.

    Romo Donatus Dole formator bidang pastoral sekaligus pembimbing tingkat tiga juga ikut serta memainkan alat musik gitar.

    Romo Donatus Dole menjadi salah satu gitaris

    Selain itu, dipilih beberapa Frater yang bertugas sebagai penari dalam mengantarkan pesembahan ke altar. Tarian persembahan tersebut diadaptasi dan dikreasikan dari adat budaya Flores.

    Liturgi yang dibuat tersebut mencerminkan keanekaragaman para seminaris yang memang pada dasarnya berlatarbelakang budaya yang berbeda-beda namun bersatu dalam komunitas Seminari Tinggi Interdiosesan San Giovanni XXIII.

    Salah satu anggota Unity in Diversity, Fr. Ignasius Ageng, kembali mempersembahkan tarian orisinil dari daerah kelahirannya, Probolinggo. Nama tarian tersebut adalah Glipang.

    Fr. Ageng menyebutkan bahwa tarian Glipang memiliki makna tentang seorang prajurit yang sedang berjuang. Fr. Ageng juga menuturkan bahwa ia hendak menunjukkan kesetiaannya sebagai laskar Legio Maria yang terus berjuang terutama di bulan Rosario ini.

    Selain itu, Fr. Ageng juga melakukan latihan selama dua minggu untuk mempersiapkan tarian Glipang tersebut.

    Misa pembukaan Bulan Rosario di Seminari Tinggi Interdiosesan San Giovanni XXIII Malang ini dipimpin oleh Romo Aang Winarko.

    Pesan-pesan diberikan sangat kontekstual dalam pembinaan di seminari terutama keutamaan-keutamaan di mana setiap calon imam harus mampu mengutamakan kepentingan orang lain, bukan kepentingan dirinya sendiri.

    Perarakan Patung Bunda Maria ke Unit 1

    Selain itu, seorang calon imam juga diharapkan memiliki kepekaan untuk mencontoh model imam sejati yaitu Kristus yang penuh kasih, rendah hati, dan tidak gila pujian.

    Apalagi ditegaskan bahwa setiap dari manusia mungkin bisa mengatakan tidak, tetapi bagaimana kata tidak itu menjadi rekonsiliasi untuk bertobat, kata tidak itu direduksi dalam sikap penyesalan sehingga berbuah kesediaan.

    Setelah misa dilaksanakan, komunitas kembali menghidupkan kebiasaan doa yang telah dilaksanakan turun temurun yaitu doa rosario bergantian dari unit ke unit.

    Setiap tiga hari sekali, patung Bunda Maria diarak menuju ke setiap unit. Unit-unit yang telah ditunjuk, mempersiapkan ruangan atau tempat khusus untuk meletakkan patung Bunda Maria.

    Doa Rosario diadakan secara intens setiap pukul 20.00 di unit-unit yang telah ditunjuk selama tiga hari di unit masing-masing.

    Pada pembukaan Rosario hari ini, unit yang mendapatkan giliran adalah unit satu.

    Patung Bunda Maria diarak menuju unit satu, dan para penghuni unit tersebut menyambut Patung dengan tarian khas Batak lalu mentahtakan Bunda Maria di tempat yang telah disediakan.

    Demikianlah hal-hal unik dan kreatif yang dilakukan para Frater Seminari Tinggi Interdiosesan San Giovanni XXIII dalam menyambut Bulan Rosario kali ini.

    Romo Aang Winarko memimpin Misa Pembukaan Bulan Rosario di Kapel Seminari Tinggi Interdiosesan San Giovanni XXIII Malang

    Tema tahunan yang dihidupkan sepanjang tahun kali ini adalah “Aku calon imam, kasihku mendalam, hidupku kreatif” benar-benar memberikan insipirasi atau gerak kehidupan yang nyata bagi perkembangan panggilan calon imam.

    Semoga ini juga dapat menjadi inspirasi teman-teman yang berada di luar Seminari untuk menghidupkan Bulan Rosario dengan cara-cara baru dan kreatif sebagai wujud cinta kasih kita pada Bunda Maria, Bunda Gereja kita.

    Penulis: Fr. Fransesco Agnes Ranubaya
    Dokumentasi: Fr. Proklamator Aryo

    Santa Theresia dari Kanak-kanak Yesus: Kisah Seorang Bunga Kecil yang Besar dalam Iman

    Shrine with the mortal remains of Saint Theresa in the chapel of Carmel in Lisieux

    MAJALAHDUTA.COM, SPRITUALITAS– Alençon, Perancis – Santa Theresia dari Kanak-kanak Yesus, juga dikenal sebagai Santa Theresia si Bunga Kecil, adalah sosok yang mempesona dalam dunia spiritualitas Katolik.

    Lahir pada tanggal 2 Januari 1873, di kota Alençon, Perancis, Theresia Martin tumbuh dalam keluarga yang penuh cinta kasih dengan empat saudara perempuan yang lebih tua.

    Orang tuanya, Santo Louis Martin dan Santa Zelie Martin, adalah teladan iman baginya.

    Saat masih kanak-kanak, Theresia kehilangan ibunya, dan keluarganya pindah ke Lisieux, di mana mereka memiliki hubungan dekat dengan biara Karmel.

    Di sana, para suster berdoa dengan sungguh-sungguh untuk kepentingan seluruh dunia.

    Namun, kehidupan Theresia menjadi semakin sulit ketika kakaknya, Pauline, memutuskan untuk masuk biara Karmel di Lisieux. Pauline telah menjadi “ibu kedua” bagi Theresia, dan kepergiannya sangat berat bagi gadis kecil ini.

    Theresia mengalami masa-masa sakit parah yang tak dapat dijelaskan oleh dokter, hingga suatu hari ia mendapatkan pemulihan yang ajaib setelah melihat patung Bunda Maria tersenyum padanya.

    Peristiwa ini menjadi salah satu momen bersejarah dalam perjalanan hidupnya.

    Dari kecil, Theresia telah memiliki cinta yang mendalam kepada Yesus.

    Ia bercita-cita untuk mempersembahkan seluruh hidupnya bagi-Nya dan masuk biara Karmel. Namun, karena usianya yang masih sangat muda, ia harus menunggu dan berdoa. Bahkan, ia memohon izin langsung kepada Paus.

    Akhirnya, pada usia lima belas tahun, dengan ijin khusus dari Paus Leo XIII, ia diterima di biara Karmelit di Lisieux.

    Dalam biara, Theresia menjalani kehidupan yang sederhana dan tak istimewa, kecuali dalam satu hal: cintanya yang mendalam kepada Tuhan.

    Ia mengatakan, “Tuhan tidak menginginkan kita untuk melakukan ini atau itu, Ia ingin kita mencintai-Nya.” Theresia berusaha untuk selalu mencintai dalam segala aspek kehidupannya, bahkan saat dihadapkan pada tantangan dan penderitaan.

    Ia melayani sesama dengan penuh kasih sayang, bahkan ketika dihadapkan pada situasi sulit. Theresia percaya bahwa mencintai sesama adalah cara untuk mencintai Yesus.

    Kehidupannya yang penuh cinta dan pengabdian membuatnya menjadi teladan spiritual bagi banyak orang.

    Sayangnya, hanya sembilan tahun setelah menjadi biarawati, Theresia meninggal karena penyakit tuberculosis (TBC) yang tidak dapat disembuhkan pada saat itu.

    Sebelum menghembuskan nafas terakhirnya, ia melihat salib dan berkata, “O, aku cinta pada-Nya, Tuhanku, aku cinta pada-Mu!” Pada tanggal 30 September 1897, Theresia meninggalkan dunia ini ketika usianya baru dua puluh empat tahun.

    Namun, janji-janji yang dibuat oleh Theresia sebelum kematiannya terbukti benar. Dari surga, ia terus melakukan kebaikan bagi dunia.

    Orang-orang dari seluruh dunia yang memohon doanya telah menyaksikan jawaban atas doa-doa mereka.

    Santa Theresia dari Kanak-kanak Yesus di kanonisasi pada tahun 1925 oleh Paus Pius XI.

    Ia dikenal sebagai “si Bunga Kecil” yang menunjukkan bahwa kecilnya tindakan kasih dan pengabdian dapat memiliki dampak besar dalam iman dan kehidupan orang lain.

    Pada tanggal 19 Oktober 1997, Theresia menjadi wanita ketiga yang diberi gelar Doktor Gereja, mengukuhkan warisan spiritualitasnya yang mendalam dalam Gereja Katolik.

    Editor: Redaksi
    Sumber: Berbagai olahan

    Santo Remigius: Rasul Bangsa Frank yang Mengubah Sejarah Eropa

    Santo Remigius: Rasul Bangsa Frank yang Mengubah Sejarah Eropa

    MAJALAHDUTA.COM, SPRITUALITAS- Reims, Prancis – Sebuah momen penting dalam sejarah Gereja Katolik dan Eropa terjadi pada abad kelima ketika seorang uskup muda yang bernama Santo Remigius dari Reims berhasil membawa seluruh bangsa Frank, yang sebelumnya adalah bangsa pagan kafir, menjadi Kristen.

    Karya besar ini menjadikan Santo Remigius dikenal sebagai Rasul Bangsa Frank.

    Santo Remigius lahir di Cerny-en-Laonnois, dekat Laon, Picardy (sekarang Perancis), pada tahun 438, dalam keluarga bangsawan yang terhormat. Meskipun lahir dalam kemewahan, Remigius tumbuh menjadi sosok yang sangat cerdas dan suci. Pada usia yang masih muda, ia dipilih oleh umat menjadi Uskup Reims, Prancis, pada usia 22 tahun.

    Meskipun merasa tidak layak dan belum ditahbiskan sebagai imam saat itu, ia menerima pilihan umat dengan hati yang enggan. Namun, keputusan tersebut kemudian terbukti sebagai panggilan Tuhan yang sesungguhnya.

    Remigius terkenal karena kepemimpinannya yang bijaksana dan sifatnya yang ramah serta lembut. Ia pandai berkotbah dan selalu murah hati terutama kepada orang-orang miskin.

    Kepribadiannya yang agung membuatnya dihormati oleh berbagai kalangan, termasuk Raja Clovis I, Raja bangsa Frank yang masih kafir saat itu.

    Baptism of Clovis I

    Salah satu momen penting dalam kehidupan Santo Remigius adalah saat Raja Clovis I meminta berkat dan restu dari sang Uskup sebelum berangkat berperang dengan Kerajaan Alamanni. Remigius memberikan berkat tersebut, dan Clovis memenangkan pertempuran dengan gemilang dalam apa yang dikenal sebagai “Pertempuran Tolbiac.”

    Kemenangan tersebut membuka jalan bagi Raja Clovis untuk memutuskan untuk menjadi seorang Kristen. Pada malam Natal tahun 496, Uskup Remigius mempermandikan Raja Clovis I.

    Tak hanya sang raja, banyak bangsawan Frank, jendral, dan prajurit juga dibabtis bersama-sama. Menurut catatan Santo Gregorius dari Tours, hampir 3.000 orang Frank dibaptis menjadi Kristen dalam momen bersejarah ini.

    Sebagai ucapan terima kasih, Raja Clovis menyumbangkan wilayah yang luas kepada Gereja, di mana kemudian Santo Remigius mendirikan banyak gereja dan keuskupan.

    Remigius memimpin keuskupannya selama lebih dari 70 tahun, dan ketika ia meninggal dunia pada tahun 534, sebagian besar bangsa Frank sudah menjadi Kristen.

    Santo Remigius, yang dikenal sebagai “rasul” bangsa Frank, meninggalkan warisan besar dalam sejarah Gereja Katolik dan Eropa. Karya dan pengabdian beliau telah membawa perubahan besar dalam pandangan agama dan membantu mengubah nasib seluruh bangsa Frank.

    Sejarah tidak akan pernah melupakan peran besar Santo Remigius dalam membimbing bangsa Frank menuju jalan Kristiani yang benar.

    Editor:Redaksi
    Sumber: Berbagai olahan

    Seminar Mariologi: Peserta Diajak Mengerti Peranan Bunda Maria

    Seminar Mariologi oleh Legio Maria /Sumber foto:Doc.Komsos KAP – Keuskupan Agung Pontianak

    MajalahDUTA.com, Pontianak – Alunan lagu maria terdengar merdu menciptakan ketenangan dalam gedung pertemuan. Sementara itu, para peserta seminar mulai berdatangan memenuhi ruangan. Sukacita dan persaudaraan antar peserta semakin terpancar ketika Pastor Edmund C. Nantes, OP menyapa peserta seminar Mariologi tersebut dengan salam hangatnya.

    Doa rosario menjadi pembuka dalam Seminar Mariologi bertajuk “Bunda Maria dan Rosario.” Sebanyak 166 peserta mendaraskan doa rosario bersama pada Kamis, 28 September 2023 di Gedung Pasifikus, Jl. Ar. Hakim, No 92, Pontianak. Para peserta merenungkan peristiwa mulia dan bacaan kitab suci dalam doa rosario tersebut.

    Maria, Ibu Kita yang Peduli

    Bertindak sebagai narasumber, Pastor Edmud C. Nantes, OP mengajak peserta untuk memahami terlebih dahulu pengertian Mariologi. Mariologi adalah studi teologi yang sistematis tentang Maria. Pengertian selanjutnya, Mariologi menjadi bagian teologi yang melihat santa perawan Bunda Allah dalam perspektif: perannya dalam tata keselamatan, serta pengabdian kepada santa perawan dalam gereja.

    Adapun peranan Bunda Maria dalam tata keselamatan melingkupi Maria terpilih oleh Allah menjadi Bunda Yesus. Kemudian, Maria berpartisipasi secara istimewa dalam tugas Yesus Kristus menyelamatkan kita.

    Baca Juga: Jadwal Misa Gua Maria Anjongan pada Bulan Oktober 2023

    “Maria sebagai ibu yang peduli dan memperhatikan engkau, dia mengerti kekuranganmu karena dia adalah ibu kita. Sebagaimana para ibu yang hadir di seminar ini juga, yang memperhatikan anak, suami, keluarganya,” jelasnya.

    Pastor Nantes OP juga mengungkapkan bahwa kemurahan hati Bunda Maria adalah bagian kecil dari kemurahan hati Allah sendiri, dimana Allah adalah sumber segala yang baik. Ia kembali menegaskan bahwa Bunda Maria memiliki beberapa konsekuensi sebagai sosok yang terpilih oleh Allah menjadi Bunda Yesus Kristus, yaitu Maria dilahirkan tanpa noda dosa, Maria adalah Bunda Allah, serta Maria adalah Bunda dan Perawan.

    Legio Maria: Komunitas dalam Karya Maria dan Gereja

                Seminar Mariologi ini diselenggarakan oleh salah satu komunitas Legio Maria yang berkarya di Keuskupan Agung Pontianak, yaitu Legio Maria Penasehat yang Baik. Legio Maria adalah sebuah kelompok kerasulan awam katolik yang melayani gereja katolik secara sukarela. Adapun tujuan Legio Maria sebagaimana tercantum dalam buku pegangan adalah kemuliaan Allah melalui pengudusan anggotanya yang dikembangkan dengan doa dan kerjasama aktif, dibawah bimbingan gereja, dalam karya Maria dan gereja.

    Baca Juga: Tiga Prinsip Hidup dari Bunda Maria: Mengikuti Kehendak Allah dalam Kasih dan Pelayanan

    Saat ini, di Kota Pontianak terdapat 11 presidium Legio Maria yang aktif melayani dalam tugas liturgia, kerigma, koinonia, martiria, dan diakonia. Beberapa tugas tersebut di antaranya misa, ibadat, katekese umat, pendalaman kitab suci, melayani saudara-saudari non katolik, mengunjungi orang sakit, mengunjungi panti asuhan dan lapas, pelayanan di gereja, bakti sosial, dan sebagainya.

    Santap Siang dan Door Prize

    Selesai seminar sesi pertama, seluruh peserta berbaur dalam santap siang bersama. Aura keakraban Pastor Nantes OP, panitia, dan para peserta semakin terlihat ketika menikmati makanan yang diwarnai dengan percakapan hangat dan penuh canda tawa. Seminar tersebut semakin semarak dengan diadakan bagi-bagi door prize untuk peserta berdasarkan nomor kupon yang sudah dibagikan sebelumnya.

    “Untuk kita yang bergabung dalam seminar ini, semoga simpul-simpul hidup kita diuraikan oleh Bunda Maria,” demikian harapan Pastor Nantes OP.

    Penulis: Sela/Tim Komsos KAP

    Sungai Mahakam: Penutupan Temu KOMSOS Regio Kalimantan

    Foto: Anggota KOMSOS perwakilan Paroki Keuskupan Agung Samarinda- Penutupan acara Temu KOMSOS Regio Kalimantan (29/01/23)

    MAJALAHDUTA.COM, Samarinda – Telah dilaksanakan penutupan kegiatan Temu Komisi Komunikasi Sosial (Komsos) Regio Kalimantan di Samarinda pada tanggal 29 September 2023.

    Acara yang diadakan di atas kapal yang menjelajahi sungai Mahakam ini dimulai pukul 14.00 WITA dan dihadiri oleh sejumlah tokoh penting dan peserta yang mengikuti kegiatan sehari sebelumnya.

    Dalam acara penutupan ini, Pastor Moses Komela Avan, yang menjabat sebagai Vikaris Jenderal Keuskupan Agung Samarinda, turut hadir dan memberikan sambutannya.

    Pastor Anthonius Steven Lalu, Sekretaris Eksekutif Komisi Komunikasi Sosial (Komsos) KWI, juga turut menyampaikan pesan penting dalam sambutannya.

    Foto: Pastor Anthonius Steven Lalu, Sekretaris Eksekutif KOMSOS KWI

    Pastor Anthonius Steven Lalu menyatakan pentingnya kerjasama dalam penggunaan media sosial, “Kita harus saling bekerja sama, kalau sendiri pasti sulit. Terima kasih untuk kebersamaan kita, saya senang datang kesini. Terima kasih Mas Edgar, Mas Kris, dan Stefani. Kalau ada pertanyaan silahkan ditanyakan, mereka akan siap untuk membantu.”

    Beliau juga menekankan peran penting media sosial dalam kehidupan sehari-hari, “Kita dipanggil untuk action. Kalau bukan kita, siapa lagi? Jangan lupa untuk mewartakan kabar dan kasih kita kepada siapapun.”

    Dia juga mengajak peserta untuk turut mewartakan kabar sukacita dan tetap berkomunikasi aktif dalam komunitas.

    Sementara itu, Pastor Moses Komela Avan juga mengungkapkan rasa terima kasih kepada peserta dan menyoroti pentingnya pelatihan literasi digital serta penggunaan media sosial untuk menyebarkan pesan positif.

    Dia menjelaskan, “Terkadang, kita lupa untuk berbagi kabar baik dalam rutinitas sehari-hari. Oleh karena itu, mari kita bijak dan cerdas dalam menyebarkan pesan positif, sehingga kita dapat menerangi situasi dan menjadi tanda kehadiran kabar baik bagi masyarakat,” katanya.

    Foto: Pastor Moses – Ketua KOMSOS KASri (29/09/23)

    Pastor Moses juga menegaskan bahwa gereja memiliki tanggung jawab utama dalam menyebarkan pesan positif di berbagai aspek gereja, dan media sosial dapat menjadi alat yang efektif untuk mencapai tujuan ini.

    “Gereja harus menyampaikan sabda Allah kepada umat manusia,” ujarnya.

    Selain itu, Pastor Moses menyoroti pentingnya berlatih dan konsistensi dalam menggunakan media sosial, dengan mengatakan, “Dalam ilmu pengetahuan, keterampilan dimulai dengan latihan, kemudian konsistensi agar menjadi terlatih, terampil, bahkan menjadi seni.”

    Dia menggambarkan proses ini seperti seorang penari yang sudah mahir dalam menemukan ide, membuat rencana, dan melaksanakannya.

    Editor: Redaksi
    Sumber: Liputan KOMSOS KA. Pontianak

    Pemerintah Kaltim Menyerahkan Gedung Gereja Katedral dan Gedung Pastoral Santa Maria “Penolong Abadi

    Foto: Uskup Yustinus MSF bersama tokoh muslim di Samarinda

    MAJALAHDUTA.COM, Samarinda, tepat pada Kamis, 28 September 2023– menjadi momen bersejarah bagi masyarakat Kalimantan Timur, terutama bagi komunitas Katolik di wilayah tersebut.

    Dalam sambutan Pastor Paroki, Pastor Moses Komela Avan mengatakan; “dari hati atas nama seluruh umat menyampaikan terima kasih. Akan kami gunakan sebagaimana mestinya, yakni untuk perayaan ekaristi kudus dan tempat tinggal para imam,” katanya dalam sebagian kutipan dalam sambutannya.

    Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur secara resmi menyerahkan Gedung Gereja Katedral Santa Maria “Penolong Abadi” dan Gedung Pastoral tempat tinggal para imam kepada Keuskupan Agung Samarinda.

    Acara megah ini dihadiri oleh berbagai tokoh penting, termasuk Gubernur Kalimantan Timur, Isran Noor, Uskup Agung Samarinda Mgr Yustinus Harjosusanto MSF, serta Vikjen Keuskupan Agung Samarinda, Pastor Moses Komela Avan yang memang merupakan pastor Paroki Gereja Katedral Santa Maria “Penolong Abadi” Samarinda.

    Suasana meriah terlihat di depan pintu Gereja Katedral, sembilan gadis dengan busana khas berbagai Suku Dayak Kalimantan Timur menunggu dengan penuh harap di depan pintu, menghadirkan sentuhan tradisional dalam peristiwa bersejarah ini.

    Di dalam Gereja, suasana khas Sape’, alat musik tradisional suku Dayak, mengisi ruangan, sementara ratusan umat berduyun-duyun memenuhi area sekitar untuk memeriahkan momen penyerahan Gedung Katedral dan Gedung Pastoral yang begitu berarti bagi komunitas Katolik di wilayah itu.

    Sebanyak 19 penari khas lima suku, mengiringi kedatangan tokoh-tokoh penting hari itu dengan menambahkan sentuhan budaya lokal.

    Sudah menjadi kebiasaan hal ini dilakukan untuk wilayah Kalimantan dalam melaksanakan kegiatan resmi dan serupa.

    Kedatangan Gubernur Kalimantan Timur, Isran Noor, Uskup Agung Samarinda Mgr Yustinus Harjosusanto MSF, dan Vikjen Keuskupan Agung Samarinda, Pastor Moses Komela Avan, disambut meriah oleh umat yang hadir.

    Wilayah Keuskupan Agung Samarinda memiliki kekayaan budaya yang melibatkan lima sub suku Dayak, diantaranya ada Dayak Tunjung, Dayak Kenyah, Dayak Oheng, Dayak Kayan, dan Dayak Bahau.

    Inilah yang membuat momen penyerahan Gedung Katedral dan Gedung Pastoral tempat tinggal para imam ini menjadi begitu penting bagi komunitas Katolik di kota Samarinda.

    Foto: Potret Bersama, usai acara penyerahan Gedung (28/09/2023)

    Nyaris sebuah mukjizat

    Acara dimulai dengan nyanyian Indonesia Raya, sebagai penghormatan kepada negara yang menjadi rumah bagi berbagai kepercayaan dan budaya yang hidup berdampingan.

    Sambutan hangat dari Pastor Moses memaparkan betapa besar peran pemerintah dalam mendukung pembangunan gereja ini.

    Dalam kata-katanya, dia mengucapkan terima kasih atas kesempatan ini dan menyoroti bantuan yang diberikan oleh pemerintah.

    “Atas nama Katedral saya berterima kasih kepada pemerintah yang menyetujui dan menyerahkan lokasi ini untuk dijadikan Gereja Pusat Katedral di Kalimantan Timur, Kota Samarinda. Ini jarang terjadi,” kata Pastor Moses.

    Dengan emosi yang dalam, dia berbagi bahwa seluruh isi gedung ini didukung oleh pemerintah, dan perjalanan pembangunan ini bisa diselesaikan dalam waktu singkat satu tahun delapan bulan, nyaris seperti sebuah mukjizat.

    Kapasitas gereja yang dapat menampung ribuan umat menjadi bukti nyata dari kerja sama yang luar biasa antara gereja dan pemerintah. Kapasitas di dalam gereja bisa menampung total 2000 umat katolik.

    Di bawah bermuatan 1300 orang dan di atas sekitar 700-an orang.

    Uskup Agung Samarinda, Uskup Yustinus Harjosusanto MSF, menyampaikan rasa gembira atas penyelesaian Gedung Katedral ini, yang akan menjadi tempat berdoa dan tinggal bagi para imam dengan kenyamanan yang layak.

    Dia juga mengapresiasi pemerintah Kalimantan Timur dan kepemimpinan Gubernur Isran Noor yang telah memberikan dukungan maksimal selama lima tahun terakhir.

    Umat Katolik merasa diperhatikan, didukung secara material, dan semangat oleh pemerintahan ini, dan doa terbaik diberikan kepada Gubernur untuk kesehatan dan berkah selanjutnya.

    “Kami umat katolik merasa diperhatikan dan didukung secara material, dan semangat. Kami doakan agar Pak Gubernur selalu diberikan kesehatan dan diberkati,” kata Uskup Yustinus MSF.

    Kerukunan antarkepercayaan

    Gubernur Isran Noor menyampaikan pesan penting tentang kerukunan antarkepercayaan dalam masyarakat Kalimantan Timur.

    Dalam pidatonya, dia menekankan pentingnya menjaga persaudaraan dan kerukunan antarumat berbagai kepercayaan, dan menghormati kebebasan beragama sebagai tanggung jawab pribadi kepada Tuhan.

    Dalam momen penyerahan dokumen aset provinsi ini, Gubernur mengucapkan terima kasih dan berharap agar aset tersebut dapat digunakan sebaik mungkin untuk kesejahteraan umat.

    Seiring dengan akhir masa jabatannya, Gubernur Isran Noor mengucapkan permohonan maaf atas segala kelemahan selama memimpin Kalimantan Timur selama lima tahun terakhir.

    Pada akhir sambutannya, dia mengakhiri dengan harapan untuk terus menjaga perdamaian, kebersamaan, dan kemakmuran di wilayah ini.

    Dengan penyerahan Gedung Gereja Katedral dan Gedung Pastoral Santa Maria “Penolong Abadi”, Kalimantan Timur telah menyaksikan momen penting dalam memupuk kerukunan antarumat berbagai kepercayaan dan memberikan tempat yang lebih baik bagi komunitas Katolik di wilayah Kaltim untuk merayakan iman mereka.

    “Semoga gedung ini menjadi simbol persatuan dan keragaman dalam masyarakat Kalimantan Timur yang kaya akan budaya dan kepercayaan,” harap Gubernur.

    Dia juga menyampaikan pada 30 September 2023 sebagai Gubernur Kalimantan Timur akhir tugas, dia memohon maaf atas segala kelemahan selama memimpin Kalimantan Timur dalam 5 tahun terakhir ini.

    Editor: Redaksi
    Sumber: Liputan KOMSOS KA. Pontianak

    Ilmu Agama yang Rasional: Kontribusi Humanisme Ateistis dalam Pengungkapan Kebenaran Manusia

    Tiga Serangkai Filsuf Yunani Kuno (Sumber: pojokseni)

    MAJALAHDUTA.COM, FEATURED- Sebuah Perjalanan Panjang Menuju Moralitas Rasional. Humanisme ateistis telah memberikan sumbangan berharga dalam pengembangan pemikiran moral yang independen dari wahyu agama.

    Moral rasional, yang berasal dari akal belaka, menjadi sorotan utama kaum humanis Pencerahan seperti Immanuel Kant dan para deis abad ke-18.

    Meskipun para humanis ini masih mempertahankan eksistensi Tuhan, peran-Nya dalam moralitas dikurangi hingga menjadi minimal, atau bahkan tidak ada.

    Mereka meyakini bahwa moral dapat ditemukan melalui nalar tanpa perlu mengandalkan wahyu ilahi.

    Namun, pertanyaan muncul, apakah iman akan Tuhan masih relevan ketika akal belaka sudah cukup untuk menentukan moralitas?

    Humanisme ateistis meyakini bahwa manusia bisa melakukan perbuatan baik terhadap sesamanya tanpa perlu menunggu pahala di akhirat.

    Mereka melihat sikap ini sebagai tanda kedewasaan dan penerimaan terhadap realitas dunia ini yang ada di hadapan kita.

    Oleh karena itu, manusia dapat bertindak adil, jujur, setia, andal, dan siap menolong sesamanya tanpa perlu diperintah oleh agama atau doktrin agama tertentu.

    Moral rasional meyakinkan kita bahwa nalar manusia mampu memberikan petunjuk etis tanpa harus bergantung pada wahyu ilahi.

    Moralitas rasional juga menciptakan dasar bersama bagi masyarakat plural yang terdiri dari berbagai kepercayaan dan keyakinan.

    Moral ini tidak terkait dengan keyakinan agama tertentu, sehingga mempromosikan toleransi dalam masyarakat modern yang semakin kompleks.

    Berbagai bentuk etika modern seperti etika politik, etika sains, etika profesi, etika biomedis, dan etika bisnis adalah hasil dari perkembangan moral rasional ini.

    Salah satu sumbangan penting humanisme ateistis adalah kritik terhadap agama sebagai pendekatan rasional yang membantu membersihkan dan memurnikan iman religius.

    Penting untuk memahami bahwa kritik terhadap agama bukanlah hal yang sama dengan ateisme. Seseorang yang beriman kepada Tuhan dapat mengambil manfaat dari kritik agama tanpa harus menjadi ateis.

    Kritik agama membantu individu untuk mengadopsi sikap kritis terhadap pengalaman religius mereka sendiri.

    Agama, sebagai pandangan dunia total, sering mengklaim kebenaran absolut, yang kadang-kadang membatasi pikiran dan tindakan individu.

    Namun, melalui kritik agama, para humanis ateistis menantang orang beriman untuk merenung secara mendalam mengapa dan bagaimana mereka beriman.

    Ini mendorong individu yang beragama untuk menghadapi iman mereka secara kritis dan tidak hanya memegang keyakinan tanpa pemikiran.

    Kritik agama memungkinkan individu untuk memisahkan keyakinan mereka dari dogma dan membantu mereka tumbuh dalam pemahaman iman mereka.

    Lewat kritik agama, humanisme ateistis memotivasi orang beriman untuk merenungkan mengapa mereka beriman.

    Ini membuka pintu bagi pemahaman yang lebih dalam tentang agama dan menciptakan ruang untuk pertumbuhan iman yang lebih mendalam dan beralasan.

    Dalam arti ini, humanisme ateistis dapat menjadi jalan bagi orang beriman untuk mengakui transendensi Tuhan yang mungkin berada di luar gambaran mereka tentang-Nya.

    Selain kontribusi moral dan kritik terhadap agama, humanisme ateistis juga mendorong perkembangan ilmu agama.

    Sebelumnya, studi tentang agama sering kali dipengaruhi oleh teologi yang cenderung membenarkan dan membela keyakinan agama mereka sendiri.

    Namun, ilmu-ilmu seperti psikologi agama, sosiologi agama, antropologi agama, dan sejarah agama sekarang memperlakukan fenomena keagamaan sebagai gejala manusiawi yang dapat dijelaskan secara rasional dan empiris.

    Pendekatan ini memungkinkan kita untuk melihat agama dari sudut pandang manusia, menjauh dari pengalaman subyektif yang mungkin dianggap sebagai kebenaran ilahi.

    Keterbukaan terhadap ilmu agama membutuhkan sikap rasional dalam agama.

    Agama atau pengalaman religius yang menutup diri terhadap pemikiran rasional dan hanya mengandalkan pengalaman batiniah dapat menghambat perkembangan bakat manusia.

    Dalam arti ini, humanisme ateistis mendorong peralihan dari “perspektif penghayat” ke “perspektif pengamat” dalam studi agama.

    Ini membantu membangun etika riset ilmiah yang lebih kuat tentang agama dan membantu umat beragama untuk menghayati iman mereka secara lebih dewasa.

    Seiring dengan moral rasional dan kritik agama, ilmu-ilmu agama telah menjadi bagian integral dari perkembangan ilmu pengetahuan dan pendidikan tinggi modern, membantu kita memahami kompleksitas agama dan memperkaya pemahaman tentang manusia dan peradaban kita.

    Editor: MajalahDUTA.Com
    Sumber: Buku Humanisme dan Sesudahnya (F. Budi Hardiman)

    Perjalanan Hidup Santo Hieronimus: Dari Penerjemah Alkitab Hingga Pujangga Agung

    ( Ilustrasi : Saint Jerome in the desert - by Francisco de Zurbaran, 1639 )

    MAJALAHDUTA.COM, SPRITUALITAS– 30 September 2023 – Hari ini, umat Kristen di seluruh dunia merayakan Santo Hieronimus, seorang pujangga besar Gereja Katolik yang juga dikenal sebagai penerjemah Alkitab yang terkenal.

    Kehidupan dan karya Hieronimus telah memberikan kontribusi besar terhadap pemahaman Alkitab dan ajaran Kristen.

    Santo Hieronimus lahir di Strido, sebuah daerah di perbatasan Pannonia dan Dalmatia, pada abad ke-4.

    Meskipun ayahnya mengajarkan agama kepadanya, Hieronimus pernah tersesat di jalur yang salah ketika dia menghadiri sekolah kafir terkenal.

    Namun, kehidupannya berubah ketika ia bertemu dengan sekelompok orang Kristen yang saleh, yang memimpinnya kembali kepada iman Kristiani.

    Ketertarikan Hieronimus pada hidup bermatiraga mendorongnya untuk meninggalkan Roma dan hidup sebagai seorang pertapa di Gurun Chalcis.

    Di sana, ia mempelajari bahasa Ibrani dan mulai tertarik pada kitab-kitab berbahasa Ibrani, yang menurutnya adalah sumber dari kitab Matius yang kanonik.

    Pada tahun 378 atau 379, Santo Hieronimus ditahbiskan menjadi imam oleh Uskup Paulinus di Antiokhia.

    Namun, ia tidak begitu berminat untuk menjadi imam dan lebih memilih untuk hidup bertapa dan bermatiraga.

    Kemudian, ia dipanggil ke Konstantinopel untuk belajar lebih lanjut di bawah bimbingan Santo Gregorius Nazianzen, seorang pujangga besar lainnya.

    Setelah beberapa tahun, Hieronimus pergi ke Roma dan bergabung dengan dewan penasehat kepausan.

    Salah satu tugas paling penting yang diberikan kepadanya adalah merevisi terjemahan Alkitab berbahasa Latin.

    Hieronimus memilih untuk menggunakan Kitab Perjanjian Lama berbahasa Ibrani, bukannya Septuaginta, meskipun ia ditentang oleh banyak orang.

    Terjemahan Alkitab yang dihasilkan kemudian dikenal sebagai Vulgata, karena menggunakan bahasa sehari-hari yang dipahami oleh orang banyak pada masa itu.

    Hieronimus juga menjadi seorang imam yang sangat berpengaruh di Roma.

    Ia hidup dengan pola hidup asketis yang keras dan berkomitmen untuk tetap hidup suci.

    Pada tahun 385, ia meninggalkan Roma bersama saudaranya dan beberapa orang bangsawan untuk menjalani hidup pertapaan di Tanah Suci.

    Mereka melakukan perjalanan ke Yerusalem, Betlehem, Galilea, dan Mesir sebelum menetap di Betlehem.

    Santo Hieronimus meninggal dunia di dekat Betlehem pada tanggal 30 September 420. Jenazahnya awalnya dimakamkan di Betlehem, tetapi kemudian dipindahkan ke gereja Santa Maria Maggiore di Roma.

    Santo Hieronimus adalah contoh teladan bagi umat Kristen dalam kesetiaannya kepada iman, keinginannya untuk memahami Alkitab dengan lebih baik, dan komitmennya untuk hidup dalam kesucian.

    Hari ini, umat Kristen merayakan warisannya yang berharga dan kontribusinya yang tak ternilai dalam menjaga integritas Kitab Suci.

    Editor: MajalahDUTA.Com
    Sumber: Berbagai Bahan Olahan

    Humanisme Ateistis dan Peradaban: Penggalian Pemahaman Baru tentang Manusia

    Kuil Pemujaan Dewi Yunani Kuno Berusia 2.500 Tahun Ditemukan di Turki (Sumber: OKEZONE)

    MAJALAHDUTA.COM, FEATURED– Dalam perjalanan sejarah, humanisme sering kali diidentifikasikan dengan ateisme, sekularisme, atau bahkan sebagai bagian dari tradisi filsafat Barat.

    Meskipun pandangan ini tidak sepenuhnya tepat, karena humanisme memiliki spektrum yang lebih luas dan mendalam, termasuk humanisme Kristiani, humanisme Islam, humanisme kultural, dan humanisme eksistensial-teistis yang memahami pentingnya kemanusiaan dan kehidupan di dunia tanpa mengesampingkan kepercayaan akan Tuhan.

    Namun, kadang-kadang, kelompok agama monoteis mendekati humanisme dengan curiga karena khawatir bahwa pendekatan rasionalis dapat mengancam iman dalam wahyu ilahi.

    Penggunaan nalar dalam hal keagamaan dikhawatirkan dapat merusak otoritas sakral dan tradisi religius yang telah ada selama berabad-abad.

    Sementara, sebaliknya, mereka yang mencurigai iman sebagai tanda keterbelakangan mental juga harus menerima kritik.

    Namun, penting untuk diingat bahwa nalar, meskipun merupakan ciri manusia, tidak berasal dari manusia itu sendiri, tetapi dari kekuatan yang melampaui dirinya.

    Oleh karena itu, saling curiga antara agama dan sekularisme tidaklah produktif dan dapat merugikan kemanusiaan secara keseluruhan.

    Kenyataannya adalah agama tetap ada, dan masyarakat sekuler harus hidup berdampingan dengan masyarakat religius dalam masyarakat yang plural.

    Semua bentuk humanisme dapat dilihat sebagai upaya intelektual yang berfokus pada makna kemanusiaan dan peran manusia di dunia.

    Beberapa humanis, seperti yang terlihat pada humanisme Renaisans, mencoba menggabungkan aspek-aspek kemanusiaan dengan ajaran agama.

    Namun, untuk melawan dogmatisme agama, beberapa humanisme lebih tegas dalam pendekatannya, bahkan menolak keyakinan religius dan peran mereka dalam kesadaran manusia.

    Salah satu kelompok ini adalah humanis ateistis, yang mengambil langkah ekstrem dengan menolak keyakinan religius dan perannya dalam kesadaran manusia.

    Pendekatan ini mengarah pada pertanyaan: Apakah kontribusi humanisme ateistis bagi pemahaman manusia dan kemanusiaan?

    Sementara kita tidak harus menjadi ateis untuk menjadi kritis terhadap agama, aspek ilmiah dan metodologis yang ditemukan dalam humanisme ateistis memberikan kontribusi penting terhadap pemahaman kita tentang manusia dan masyarakat.

    Ini adalah bukti bahwa masyarakat plural dapat tetap berdampingan meskipun perbedaan keyakinan, dan bahwa keragaman pandangan adalah bagian penting dari peradaban yang maju.

    Sebagai kesimpulan, penting bagi kita untuk tidak membatasi pandangan humanisme hanya pada ateisme, melainkan untuk menghargai beragam pendekatan dalam memahami kemanusiaan dan dunia di sekitar kita.

    Dengan demikian, kita dapat memetik manfaat dari aspek ilmiah dan metodologis yang beragam dalam membangun pemahaman yang lebih kaya tentang manusia dan peradaban kita.

    Editor: MajalahDUTA.Com
    Sumber: Buku Humanisme dan Sesudahnya (F. Budi Hardiman)

    Pertarungan Surgawi Santo Mikhael melawan Lucifer: Kemenangan Kebaikan

    ( Ilustrasi : The Fall of the Rebel Angels - by : Luca Giordano (1660 - 1665) )

    MAJALAHDUTA.COM, SPRITUALITAS– Dalam iman Kristen, Santo Mikhael adalah salah satu malaikat agung yang memainkan peran penting dalam pertempuran surga melawan Lucifer dan para pengikutnya.

    Dia dikenal sebagai pembela orang beriman dan penjaga yang setia dalam keimanan.

    Cerita-cerita mengenai Malaikat Agung Mikhael umumnya bersumber dari Kitab Wahyu Yohanes, yang menggambarkan konflik antara kebaikan dan kejahatan.

    Kitab Wahyu mencatat peran Mikhael dalam pertempuran melawan naga, yang melambangkan Lucifer atau Setan.

    Dalam bab 12, ayat 7-9, Yohanes menulis tentang pertarungan ini: “Mikael bersama malaikat-malaikatnya berperang melawan naga itu dan naga itu dibantu oleh malaikat-malaikatnya, tetapi mereka tidak dapat bertahan; mereka tidak mendapat tempat lagi di sorga.

    Dan naga besar itu, si ular tua, yang disebut Iblis atau Satan, yang menyesatkan seluruh dunia, dilemparkan ke bawah; ia dilemparkan ke bumi, bersama-sama dengan malaikat-malaikatnya.”

    Ini adalah gambaran klasik tentang perjuangan antara yang baik dan yang jahat, yang memuncak dengan kekalahan Lucifer oleh Mikhael dan para malaikat yang setia. Pertempuran ini melambangkan kemenangan kebaikan atas kejahatan dan kebenaran atas kebohongan.

    Tidak hanya sebagai prajurit surga, Mikhael juga dikenal sebagai pembela kaum beriman dalam iman Kristen.

    Kitab Wahyu Yohanes (pasal 12, ayat 10-12) melanjutkan dengan menggambarkan suara nyaring di surga yang mengumumkan kemenangan: “Sekaranglah saatnya Allah menyelamatkan umatNya!

    Sekarang Allah sudah menunjukkan kuasaNya sebagai Raja!… Mereka rela mengorbankan nyawa mereka sampai mati. Sebab itu, hendaklah surga dan semua yang tinggal di dalamnya, bersuka ria!”

    Selama berabad-abad, Santo Mikhael menjadi simbol pelindung dan pembela.

    Bangsa Israel memandangnya sebagai pembelanya dalam penganiayaan dan godaan.

    Kitab Daniel (pasal 10, ayat 13) menggambarkan bagaimana Mikhael datang untuk membantu dalam saat-saat sulit: ” . . . kemudian Mikhael, salah seorang dari pemimpin-pemimpin terkemuka, datang menolong aku.”

    Gereja Katolik dan umat Kristen secara luas juga memandang Santo Mikhael sebagai pelindung dan pembela dalam berbagai situasi sulit.

    Banyak gereja didedikasikan untuk menghormati Mikhael, dan banyak umat Kristen percaya bahwa ia adalah penjaga setia mereka dalam perjuangan melawan kejahatan.

    Penghormatan terhadap Santo Mikhael semakin besar setelah penampakannya di atas Gunung Gargano, Italia, pada abad ke-5.

    Di tempat ini, sebuah gereja megah didirikan untuk menghormatinya.

    Selain itu, legenda mengenai penghormatan Mikhael oleh Paus Gregorius dalam menghadapi wabah di Roma menunjukkan betapa pentingnya peranan malaikat agung ini dalam iman Kristen.

    Santo Mikhael adalah simbol kuat iman Kristen dalam melawan kejahatan dan kebingungan. Hari ini, kita merayakan keberaniannya dan berdoa agar kita semua dapat mengambil inspirasi dari kesetiaannya dalam iman dan perjuangan melawan kejahatan.

    Editor: MajalahDUTA.Com
    Sumber: Berbagai Bahan Olahan

    TERBARU

    TERPOPULER