Wednesday, April 29, 2026
More
    Home Blog Page 77

    Mengemban Tugas Literasi Digital: Pesan dari Uskup Agung Samarinda

    Salam Literasi: Keuskupan Agung Samarinda (27/09/2023)

    MAJALAHDUTA.COM, Samarinda-  Rabu 27 September 2023 – Bertempat di Hotel Harris Samarinda yang menjadi saksi perhelatan besar Literasi Digital bersama Komsos KWI dan Kominfo di Keuskupan Agung Samarinda.

    Acara yang dihadiri oleh lebih dari 300 orang muda Katolik ini dibuka dengan tarian khas Dayak, salah satu sub-suku Kalimantan Timur, yang memeriahkan suasana.

    Teknologi kini menjadi semakin canggih, ya – tak perlu kita sangkal lagi hal itu semakin mengubah pola dan cara pikir manusia dari hari ke hari.

    Hal ini bukan semata-mata sebagai fenomena perubahan teknologi saja, melainkan gerakan perubahan dalam peradaban manusia.

    Uskup Agung Samarinda, Mgr. Yustinus Harjosusanto MSF, dalam sambutannya, menyampaikan apresiasi dan terima kasih kepada Kementerian Komunikasi dan Informatika yang telah memberikan dukungan penuh dalam penyelenggaraan acara ini.

    Dia juga mengakui kerjasama erat antara Komsos KWI dan Kementerian Kominfo yang memungkinkan acara ini terlaksana.

    “Terima kasih juga kepada semua ketua Komsos perwakilan yang hadir, serta apresiasi khusus kepada peserta, yaitu para pemuda Katolik. Ini adalah kesempatan bagi kita semua untuk belajar, memahami, berhati-hati, cerdas, bijak, dan trampil dalam literasi media digital,” kata Uskup Yustinus MSF.

    Dia juga menambahkan bahwa semakin orang memahami dan berhati-hati dalam menggunakan teknologi, semakin juga dapat memanfaatkannya secara cerdas.

    “Selamat mengikuti kegiatan ini, semoga bermanfaat,” tutup Uskup Yustinus MSF.

    Menjadi Tuan atas Teknologi

    Pastor Anthonius Steven Lalu, Sekretaris Jendral Komsos KWI, turut memberikan pandangan penting mengenai literasi digital.

    Dia menyatakan bahwa perkembangan teknologi yang semakin maju seharusnya membuat kita menguasai teknologi, bukan sebaliknya.

    Pastor Steven juga menggarisbawahi bahwa teknologi bukanlah semata-mata digunakan hingga manusia diperbudak oleh teknologi, namun manusia itu mesti menjadi tuan dari teknologi itu sendiri.

    “Bahaya dari teknologi bukan terletak pada teknologi itu sendiri, tetapi pada bagaimana kita menggunakannya,” kata Pastor Anthonius Steven Lalu.

    Dia juga perpesan yang ingin Pastor Steven sampaikan adalah setiap orang mestinya mampu untuk menjadi adaptif, transformatif, dan produktif dalam menggunakan teknologi.

    “Mari kita menjadi duta damai di dunia digital,” tambah Pastor Steven.

    Pastor Anthonius Steven Lalu – Sekretaris Eksekutif Komsos KWI (27/09/2023)

    Cerdas dan Bijak Bermedsos

    Sebagai Keynote Speaker utama Samuel Abrijani Pangrapan, yang kini menjabat sebagai Dirjen Aptika Kominfo, memberikan sudut pikiran penting mengenai literasi digital dan peran pemerintah dalam mengembangkan literasi digital di masyarakat.

    Dia menghimbau kepada semua peserta untuk tanggap dan cepat dalam mengolah informasi yang tujuan akhirnya menjadi informasi yang baik dan membangun.

    Paling tidak hal itu dia sampaikan dalam rekaman saat dimulainya acara Literasi Digital di Keuskupan Agung Samarinda, (27/09).

    Hadir secara langsung narasumber pertama, Dr. Rosarita Niken Widiastuti, M.Si. Dia mengangkat tema “Cerdas dan Bijak Bermedia Sosial.”

    Dalam bahasannya Niken memaparkan saat ini tantangan yang dihadapi di era digital, seperti ketidakpastian, kompleksitas, dan ambiguitas mesti ditanggapi secara fleksibel.

    Fleksibel yang dia maksudkan yakni kemampuan manusia untuk tidak mudah terlena dalam perkembangan teknologi, namun justru menjadi penggerak utama dalam percepatan perkembangan teknologi tersebut.

    Dia juga mengingatkan tentang risiko seperti penipuan online dan memberikan tips untuk menghindari penipuan tersebut.

    Dr. Rosarita Niken Widiastuti juga menjelaskan empat pilar literasi digital, diantaranya ada keterampilan digital, budaya digital, etika digital, dan perlindungan data pribadi.

    Selain itu, dia menggarisbawahi pentingnya menjaga reputasi baik di media sosial.

    Poster: Literasi Digital kerjasama antara KOMSOS KWI dan KOMINFO

    Manfaat literasi digital kaum milenial

    Narasumber kedua, Mirza Yonathan S, Founder & Head of Exotic Kaltim, membahas pemanfaatan teknologi digital bagi kaum milenial, khususnya dalam promosi pariwisata di Kalimantan Timur.

    Mirza menyoroti peran video marketing dan keberhasilan timnya dalam mempromosikan desa wisata.

    Dari paparannya itu, dia mau menunjukkan bahwa sangat-amat: banyak manfaat literasi digital jika digunakan secara tepat dan tersasar.

    Seorang dosen di Fakultas Humas Vokasi Universitas Indonesia, dr. Devie Rahmawati dalam hal ini menjadi narasumber ketiga.

    Paparan materinya tentang keamanan digital dan pentingnya penggunaan kata sandi yang kuat.

    Dia juga membahas ciri-ciri pinjaman online ilegal dan memberikan nasihat tentang pengelolaan keuangan yang bijak.

    Acara Literasi Digital ini mengakhiri sesi dengan menguraikan lima etika di dunia cyber, yaitu bertanggung jawab, empati, autentik, arif, dan berintegritas, sebagai pedoman dalam berperilaku di dunia maya.

    Dengan berbagai informasi dan wawasan yang disampaikan oleh para narasumber, Pastor Moses Komela Avan sebagai Ketua Komsos Keuskupan Agung Samarinda mengharapkan peserta dapat lebih cerdas, bijak, dan aman dalam bermedia sosial serta menggunakan teknologi digital.

    Editor: MajalahDUTA.Com
    Sumber: Liputan KOMSOS KA. Pontianak dalam Temu KOMSOS Regio Kalimantan 

    Jean-Paul Sartre: Eksistensi Mendahului Esensi dan Kebebasan Mutlak Manusia

    Jean-Paul Sartre (www.dailyo.in) - Redaksi

    MAJALAHDUTA.COM, FEATURED- Dalam era kemajuan ilmiah dan pemikiran kritis, humanisme modern telah mengambil langkah-langkah radikal untuk menjauhkan pemikiran manusia dari konsep Tuhan.

    Humanisme ini memandang Tuhan sebagai konstruksi pikiran manusia, dan upaya untuk “membunuh” Tuhan adalah cara untuk mengubah pola pikir dan mentalitas masyarakat.

    Seiring dengan perkembangan sains dan pemikiran kritis, humanisme modern telah memimpin perjalanan menuju masyarakat yang tidak lagi bergantung pada konsep Tuhan atau otoritas agama.

    Salah satu pemikir humanisme yang berpengaruh, Friedrich Nietzsche, adalah musuh utama kekristenan.

    Nietzsche mengkritik kekristenan karena dianggapnya membuat manusia tidak otentik dengan mengajarkan penolakan terhadap dunia ini dan penundukkan diri di bawah roh.

    Baginya, agar manusia hidup secara otentik, ia harus menerima kehidupan di dunia ini dengan segala naik turunnya, tanpa takut pada dunia di balik kubur.

    Dengan pernyataan “Tuhan sudah mati” (Gott ist tot), Nietzsche menggarisbawahi bahwa masyarakat modern harus bergerak maju tanpa mengandalkan Tuhan atau agama.

    Namun, penghapusan Tuhan dari kesadaran manusia tidak selalu berjalan mulus.

    Agama tidak hanya merupakan pola pikir, tetapi juga bagian dari pola hidup dan pengalaman eksistensial manusia.

    Beberapa humanis “pembunuh Tuhan” berusaha untuk mengubah penghayatan eksistensial manusia agar mereka dapat tampil apa adanya tanpa bergantung pada agama atau Tuhan.

    Seorang filsuf Prancis abad ke-20, Jean-Paul Sartre, memperkenalkan konsep “eksistensi mendahului esensi.” Menurutnya, manusia ada di dunia ini terlebih dahulu sebelum esensinya bisa didefinisikan.

    Ini berarti bahwa manusia memiliki kebebasan mutlak tanpa campur tangan Tuhan atau takdir yang telah ditentukan sebelumnya.

    Dalam pandangan Sartre, tidak ada tujuan yang ditetapkan oleh Tuhan yang dapat membatasi kebebasan manusia.

    Sebaliknya, kebebasan manusia adalah satu-satunya tujuan yang ada.

    Dalam peradaban humanis, manusia dihargai bukan karena sesuai dengan standar kemanusiaan yang telah ditetapkan, tetapi karena manusia adalah manifestasi dari kebebasan itu sendiri.

    Oleh karena itu, humanisme modern memandang Tuhan sebagai penghalang bagi kebebasan dan realisasi potensi manusia yang sejati.

    Dengan pemikiran ini, humanisme modern telah membawa perubahan besar dalam pandangan masyarakat terhadap agama dan Tuhan.

    Ini adalah perjalanan menuju masyarakat yang lebih bergantung pada akal sehat dan kebebasan individu daripada pada otoritas agama.

    Meskipun pemikiran ini belum sepenuhnya diterima oleh semua kalangan, humanisme modern tetap menjadi kekuatan penting dalam pemikiran kontemporer.

    Editor: MajalahDUTA.Com
    Sumber: Buku Humanisme dan Sesudahnya (F. Budi Hardiman)

    Kisah Pahlawan Iman: Santo Chi Zhuse – Martir Kekristenan dalam Pemberontakan Boxer di China

    ( Photo : Memorial plaque for the 120 Martyr Saints of China at Saint Francis Xavier Church (Ho Chi Minh City) )

    MAJALAHDUTA.COM, SPRITUALITAS- Di tengah pemberontakan berdarah yang melanda China pada awal abad ke-20, seorang pria muda bernama Chi Zhuse menunjukkan ketabahan iman yang luar biasa.

    Hari ini, kita merayakan dan mengenang Santo Chi Zhuse, seorang martir Kekristenan yang menjadi saksi keberanian dan kesetiaan dalam menghadapi masa sulit.

    Chi Zhuse lahir di Dezhaoin, Shenzhou, Hebei, China, sekitar tahun 1882.

    Ia pertama kali mengenal Yesus Kristus sebagai Juru Selamatnya melalui pewartaan para misionaris Dominikan di Vikariat Apostolik Zhili Tenggara, Cina.

    Pada usia 18 tahun, pada tahun 1900, ia mengikuti kelas katekisasi untuk menjadi anggota resmi Gereja Katolik.

    Namun, takdir tragis menimpanya pada tahun yang sama.

    Pada tahun 1900, pemberontakan anti-Barat yang dikenal sebagai “Pemberontakan Boxer” meletus di China.

    Pemberontakan ini dipicu oleh kebencian terhadap orang asing, yang muncul akibat perubahan politik dan sosial pasca Perang Candu serta perjanjian-perjanjian tidak adil yang merugikan China dan menguntungkan negara-negara Barat.

    Para pemberontak didukung secara diam-diam oleh pejabat tinggi kekaisaran China.

    Selama pemberontakan ini, misi Kristen dan umat Kristen pribumi China menjadi target serangan kejam. Alasannya adalah kebencian terhadap agama Kristen.

    Para pemberontak bahkan mengeluarkan dekrit pada tanggal 1 Juli 1900, yang menyatakan bahwa para misionaris harus segera dipulangkan dan umat Katolik harus membatalkan imannya atau menghadapi kematian.

    Santo Chi Zhuse, karena imannya yang teguh, menjadi salah satu korban pemberontakan Boxer.

    Ia ditangkap oleh para pemberontak dan diseret ke alun-alun kota.

    Di sana, ia menderita penyiksaan yang mengerikan dan akhirnya meninggal dunia akibat penderitaan yang dialaminya.

    Martir-martir seperti Santo Chi Zhuse adalah teladan keberanian dan kesetiaan dalam menghadapi tantangan besar.

    Kisah hidupnya mengingatkan kita akan pentingnya menjaga iman kita dalam segala kondisi, bahkan di saat-saat paling sulit sekalipun.

    Pada hari ini, kita merayakan Santo Chi Zhuse sebagai pahlawan iman dan berdoa agar kita semua dapat mengambil inspirasi dari kesaksiannya yang luar biasa.

    Editor: MajalahDUTA.Com
    Sumber: Berbagai Bahan Olahan

    Perjalanan Menuju Masyarakat Positif: Transformasi Pemikiran Manusia Terhadap Agama dan Ilmu Pengetahuan

    Yunani Kuno - Sejarah Peradaban Umat Manusia (Sejarah Dot Com)

    MAJALAHDUTA.COM, FEATURED– Filsuf Ludwig Feuerbach, dalam pandangan pemikirannya yang kontroversial, menyatakan bahwa jika kitab suci mengatakan bahwa Tuhan menciptakan manusia sesuai dengan citranya, sebenarnya manusia menciptakan Tuhan sesuai dengan citra mereka sendiri.

    Ide ini memicu perdebatan mendalam tentang peran agama dalam pikiran manusia dan bagaimana pandangan manusia tentang Tuhan telah berkembang sepanjang sejarah.

    Feuerbach mengambil sebagian besar gagasan ini dari tradisi kritik agama yang telah ada selama ribuan tahun.

    Bahkan filsuf Yunani kuno Xenophanes sudah lebih dari dua milenium yang lalu menyatakan bahwa dewa-dewa yang ditaati oleh berbagai bangsa hanya merupakan bayangan dari diri bangsa-bangsa tersebut.

    Misalnya, dewa-dewa orang Ethiopia digambarkan berkulit hitam dan berhidung pesek, sementara dewa-dewa orang Trakia memiliki rambut merah dan mata biru.

    Feuerbach berpendapat bahwa gambaran kita tentang Tuhan dan keyakinan kita terhadap-Nya hanyalah gambaran dan keyakinan tentang diri manusia yang sudah “diproyeksikan” atau diidealkan hingga tampak sempurna dan di luar pemikiran.

    Dengan kata lain, ketika kita berbicara tentang Tuhan, kita sebenarnya tenggelam dalam pemikiran manusia yang ideal dan sempurna.

    Feuerbach menunjukkan bahwa konsep Tuhan ini dalam pemikiran kita telah menghambat realisasi diri manusia yang sejati.

    Lebih dari sekadar menindas melalui tekanan politis, agama telah menjadi penyebab isolasi manusia dari potensi kodratnya sendiri, karena manusia sering kali menindas bakat-bakat alaminya sendiri melalui imajinasinya.

    Jika manusia ingin mencapai potensi penuhnya dengan semua keunggulan dan kemuliaannya, maka perlu membebaskan diri dari pengaruh kepercayaan terhadap Tuhan.

    Beberapa filsuf seperti Karl Marx berpendapat bahwa perubahan struktural yang menghapus kesenjangan sosial-ekonomi akan secara otomatis menghapus agama.

    Marx melihat agama sebagai ilusi yang digunakan untuk menutupi akar masalah kemiskinan dan alienasi di kalangan masyarakat tertindas.

    Namun, Marx juga mengakui bahwa perubahan ini hanya akan terjadi ketika kesamaan sosial diwujudkan dalam sosialisme.

    Filsuf lainnya, seperti Auguste Comte, melihat tahapan dalam perkembangan masyarakat manusia.

    Comte menganggap bahwa manusia pada tahap tertentu dalam perkembangannya masih percaya pada ilmu pengetahuan yang belum matang, seperti dewa-dewa atau Tuhan yang diwakili oleh konsep-konsep abstrak.

    Namun, dengan perkembangan masyarakat dan ilmu pengetahuan, manusia akan melewati tahap ini menuju tahap positif, di mana ilmu pengetahuan dan pemahaman akan realitas material akan menggantikan keyakinan pada Tuhan atau konsep-konsep abstrak.

    Debat tentang peran agama dalam masyarakat dan pemikiran manusia masih berlanjut hingga saat ini, dan pemikiran Feuerbach, Marx, dan Comte tetap menjadi bagian penting dari sejarah filsafat dan sosiologi manusia.

    Editor: MajalahDUTA.Com
    Sumber: Buku Humanisme dan Sesudahnya (F. Budi Hardiman)

    Uskup Yustinus MSF Membuka Pertemuan Komsos Regio Kalimantan

    Uskup Yustinus MSF membuka Pertemuan Komisi Komunikasi Sosial Regio Kalimantan (26 Sept 23)

    MAJALAHDUTA.COM, SAMARINDA- 26 September 2023, Pembukaan Pertemuan Komsos Regio Kalimantan yang berlangsung pada selasa, 26 September 2023 kemudian berlanjut hingga 30 September 2023, bertempat di Keuskupan Agung Samarinda, 26-30 September 2023 yang berlokasi di Aula Wisma Keuskupan Agung Samarinda, Jalan DI Panjaitan No. 59 A, Gunung Lingai, Kecamatan Sungai Pinang Samarinda.

    Dihadapan 56 orang utusan Komsos Paroki Se-Keuskupan Agung Samarinda yang berkumpul di Aula Wisma Keuskupan Agung Samarinda.

    Temu Resmi itu dibuka dengan pemukulan gong sebanyak lima kali, oleh Uskup Agung Samarinda, Mgr. Yustinus Harjosusanto MSF, didampingi oleh Ketua KOMSOS Keuskupan Agung Samarinda (KOMSOS KASRI), Pastor Moses Komela Avan, serta Sekretaris Jenderal KOMSOS KWI, Pastor Antonius Steven Lalu, bersama Komsos Regio Kalimantan.

    Tema besar “Menjadi Pewarta Kabar Baik Melalui Media Sosial Secara Cerdas dan Bijak Untuk Mewartakan Kabar Baik” memang menjadi penantian yang menjadi antusias peserta untuk belajar dalam pertemuan sesama kerabat komsos.

    Dibuka dengan tarian etnik khas Dayak daerah Kalimantan Timur,pertemuan KOMSOS Regio Kalimantan menjadi corak tersendiri dari perjumpaan kasih itu.

    Mimbar pewartaan

    “Saya merasa sangat beruntung karena dapat mengalami perkembangan teknologi dari mainan telfon-telfonan rotan, telfon jadul hingga perkembangan android saat ini,” kata Ketua Komsos Keuskupan Agung Samarinda, Pastor Moses Komela Avan dalam pengantar sambutannya.

    Dia terkesan dengan anak muda sekarang, menurutnya, orang muda saat ini praktis dan mudah membuat sebuah konten dengan cepat- bahkan cepat pula tersebar di media sosial. Menurut Pastor Moses, orang muda saat ini mampu memproduksi hal yang sederhana dalam waktu singkat kemudian informasi itu tersebar luas. “Itu sungguh menggagumkan,” katanya.

    Dia berharap kesempatan luar biasa ini, bisa membangun dan memberikan pemahaman yang lebih dalam tentang gadget yang menurutnya- “tak sekedar alat pintar saja”, tetapi gadget sekarang sudah menjadi mimbar untuk pewartaan.

    Foto bersama usai Pembukaan oleh Uskup Yustinus MSF- dalam Foto tersebut merupakan perwakilan dari KomsosKeuskupan dari Regio Kalimantan

    Terima Kasih dan Apresiasi

    Sambutan Sekretaris Jendral KOMSOS KWI, Pastor Antonius Steve Lalu, mengungkapkan rasa terima kasihnya, karena panitia lokal dengan serius menyiapkan acara hingga menggumpulkan semua peserta untuk terlibat dalam seminar literasi media dan belajar bersama Komsos.

    Dia juga mengappresiasi kepada peserta lain diluar Keuskupan Agung Samarinda yang turut ikut dalam kegiatan ini. “Kehadiran anda mengungkapkan sebuah passion untuk menjadi pewarta kabar baik,” kata Pastor Steven.
    Bukan sekedar kehadiran

    Menurut Pastor Steven, kehadiran ini bukan semata-mata sekedar hadir, tetapi kehadiran ini juga merupakan sebuah tindakan ‘terlibat dan belajar bersama orang lain’.

    Intinya adalah kebersamaan. Ini bukan sekedar kata-kata belaka.

    Dalam kehadiran ada suasana terciptanya persaudaraan baru. Dalam kehadiran bahkan dapat meramu konten untuk mewartakan bersama itu merupakan berkat adanya ‘kehadiran’.

    “Kita harus berjalan bersama dengan orang lain, sebab kita tidak bisa bekerja sendiri karena itulah yang utama,” kata Pastor Steven.

    Dia juga mengajak seluruh peserta untuk memanfaatkan perjumpaan ini dengan perjumpaan kolaborasi dalam komunikasi.

    Dimana dalam kolaborasi itu pasti terdapat momen refleksi. Hal itu terutama perjumpaan dalam Komsos Regio Kalimantan.

    Samarinda merupakan kota ke sepuluh dari agenda kunjungan dan belajar bersama Kominfo dan KOMSOS KWI juga untuk semua Komsos di masing-masing keuskupan.

    “Keutamaan kerjasama antara Kominfo tidak lain – tidak bukan merupakan upaya untuk kesadaran media sosial,” tambah Pastor Steven.

    Literasi Digital

    Sebelum pemukulan Gong, Uskup Yustinus MSF juga mengungkapkan kegembiraannya bahwa kegiatan ini terlaksana di Keuskupan Agung Samarinda.

    “Saya Sungguh gembira dengan adanya literasi digital ini,” kata Uskup Yustinus MSF.

    Menurutnya ini merupakan sebuah gerakan yang penting dan strategis. Karena dengan inilah terdapat kesempatan yang sangat luas dalam membantu kesulitan-kesulitan masa lalu yang sekarang sudah tak lagi dirasakan.

    Uskup Yustinus MSF melihat bahwa pengaruh media sosial sangat cepat, luas, dan besar. Untuk semakin mengetahui ini, harapannya semakin pandai dan bijak dalam mengelola kabar kebenaran dan sukacita Injil Tuhan.

    Oleh karenanya dia mengajak seluruh peserta untuk memasukinya dengan penuh harapan.

    Karena dengan adanya harapan itulah, maka kesempatan akan hadir tanpa batas.

    Uskup Yustinus MSF juga menghimbau seluruh peserta untuk mulai belajarlah untuk menyampaikan informasi dengan pandai memfilter informasi tersebut sehingga menjadi berkat bagi banyak orang.

    “Harapan saya, dalam pertemuan ini, semoga sungguh bermanfaat sehingga dapat menjalin kerjasama dalam literasi media. Karena itu, kita tidak bisa bekerja sendiri,” katanya.

    Editor: MajalahDUTA.COM
    Sumber: Liputan Komisi Komunikasi Sosial Keuskupan Agung Pontianak

    Kisah Inspiratif Santo Vinsensius de Paul: Dari Petani Miskin Hingga Pelayan Kaum Paling Terpinggirkan

    ( Ilustrasi : Saint Vincent de Paul - presents the first daughters of charity to Queen Anne of Austria )

    MAJALAHDUTA.COM, SPRITUALITAS– Kisah Santo Vinsensius de Paul adalah kisah perjalanan hidup yang luar biasa, yang menginspirasi kita untuk melayani sesama manusia dengan tulus dan penuh kasih.

    Lahir pada tahun 1581 di Pouy, Perancis, dalam keluarga petani yang miskin, Vinsensius de Paul tumbuh menjadi salah satu tokoh yang paling dihormati dalam sejarah Gereja Katolik.

    Sejak usia muda, Vinsensius menunjukkan bakat dalam membaca dan menulis. Ayahnya, dengan penuh pengorbanan, menjual sapi keluarganya untuk membiayai pendidikan putranya.

    Setelah menyelesaikan studinya, Vinsensius ditahbiskan menjadi seorang imam pada usia yang sangat muda, sembilan belas tahun.

    Namun, hidup Vinsensius tidak berjalan mulus.

    Pada tahun 1605, kapalnya dibajak, dan ia menjadi budak selama dua tahun.

    Dia bahkan pernah dijual sebagai budak di Tunisia sebelum akhirnya berhasil melarikan diri.

    Setelah pulang ke Perancis, Vinsensius pergi ke Roma untuk melanjutkan studinya. Setelah selesai di Roma, ia kembali ke Perancis pada tahun 1609.

    Awalnya, dia memegang jabatan penting sebagai guru anak-anak orang kaya, hidup dengan cukup nyaman.

    Santo Vinsensius de Paul: Jika bukan karena kasih karunia Tuhan, aku ini seorang yang keras, kasar serta mudah marah…”

    Namun, peristiwa yang mengubah hidupnya terjadi saat ia dipanggil untuk memberikan sakramen terakhir kepada seorang petani miskin yang sekarat.

    Petani itu mengungkapkan bagaimana beratnya dosa-dosa yang pernah ia lakukan di masa lalu.

    Inilah momen penting yang membangkitkan kesadaran Vinsensius akan kebutuhan mendesak kaum miskin akan pertolongan rohani.

    Menginspirasi banyak orang, Vinsensius de Paul memutuskan untuk membentuk Kongregasi Misi atau Vincentian, yang bertujuan melayani orang-orang miskin.

    Dia mulai berkhotbah kepada mereka, dan orang-orang berduyun-duyun datang untuk mengaku dosa.

    Selain itu, ia mendirikan Kongregasi Suster-suster Puteri Kasih dan mendirikan rumah-rumah sakit serta tempat tinggal untuk anak-anak yatim piatu dan orang lanjut usia.

    Dia juga mengumpulkan dana untuk membantu daerah-daerah miskin dan mengirimkan para misionaris ke berbagai negara.

    Meskipun karya amalnya begitu besar, Vinsensius de Paul tetap rendah hati.

    Dia mengakui bahwa tanpa kasih karunia Tuhan, ia mungkin menjadi pribadi yang keras dan mudah marah.

    Santo Vinsensius de Paul wafat di Paris pada tanggal 27 September 1660 dan dinyatakan kudus pada tahun 1737 oleh Paus Klemens XII.

    Kisah hidup Santo Vinsensius de Paul mengajarkan kita tentang pentingnya pelayanan kepada sesama manusia, kasih karunia, dan rendah hati.

    Ia adalah teladan yang luar biasa tentang bagaimana seorang yang dulunya miskin bisa menjadi pelayan terbesar kaum miskin dan terpinggirkan.

    Editor: MajalahDUTA.Com
    Sumber: Berbagai Bahan Olahan

    Pertemuan KOMSOS Regio Kalimantan: Memperkuat Pewartaan Kabar Baik Melalui Media Sosial

    Foto: Uskup Yustinus MSF tengah memberikan homili (26 September 2023)

    MAJALAHDUTA.COM, SAMARINDA– Selasa 26 September 2023 – Dalam semangat kasih dan dedikasi, para utusan Komsos Paroki Se-Keuskupan Agung Samarinda berkumpul untuk menghadiri Pertemuan KOMSOS Regio Kalimantan yang berlangsung dari 26 hingga 30 September 2023 di Keuskupan Agung Samarinda.

    Pertemuan ini bertujuan untuk menguatkan pewartaan kabar baik di wilayah Kalimantan melalui media sosial.

    Kegiatan yang terlaksana ini merupakan gerakan KOMSOS Regio Kalimantan yang tidak sekadar pertemuan, tetapi juga merupakan upaya konkret untuk melayani gereja dengan cara yang berbeda.

    Para peserta diberikan kesempatan untuk belajar, berbagi pengalaman, dan memahami lebih dalam bagaimana media sosial bisa menjadi alat yang efektif dalam menyampaikan pesan positif dan sukacita kepada masyarakat luas.

    “Semoga pertemuan ini dapat menginspirasi lebih banyak individu untuk menjadi pewarta kabar baik yang cerdas dan bijak dalam era digital yang penuh potensi ini,” ungkap salah satu peserta.

    Pewarta kabar baik

    Tema yang diangkat dalam pertemuan ini sangat relevan: “Menjadi Pewarta Kabar Baik Melalui Media Sosial Secara Cerdas dan Bijak Untuk Mewartakan Kabar Baik.”

    Acara dimulai dengan Ekaristi Kudus yang berlangsung mulai pukul 17.30 WITA dan dihadiri oleh sejumlah utusan Komsos Paroki Se-Keuskupan Agung Samarinda serta perwakilan Komsos dari Regio Kalimantan.

    Adapun peserta yang tercatat mencapai 56 orang, belum termasuk panitia penyelenggara.

    Selain utusan dari Paroki-paroki Keuskupan Agung Samarinda, acara itu juga dihadiri oleh delegasi dari berbagai Keuskupan di Kalimantan, seperti Keuskupan Agung Pontianak, Keuskupan Ketapang, Keuskupan Tanjung Selor, dan Keuskupan Palangkaraya.

    Bahkan, Kominfo turut serta dalam acara ini bersama KOMSOS Konferensi Wali Gereja Indonesia (KOMSOS KWI), yang akan memberikan berbagai informasi penting selama pertemuan Literasi Rabu, 27 September 2023.

    Perayaan Ekaristi Kudus dipimpin oleh Uskup Keuskupan Agung Samarinda, Mgr. Yustinus Harjosusanto MSF, didampingi oleh Ketua KOMSOS Keuskupan Agung Samarinda (KOMSOS KASRI), Pastor Moses Komela Avan, serta Sekretaris Jenderal KOMSOS KWI, Pastor Antonius Steven Lalu dan timnya.

    Tempat Pelaksanaan di Keuskupan Agung Samarinda, 26-30 September 2023 yang berlokasi di Aula Wisma Keuskupan Agung Samarinda, Jalan DI Panjaitan No. 59 A, Gunung Lingai, Kecamatan Sungai Pinang Samarinda.

    Foto: Uskup Keuskupan Agung Samarinda, Mgr. Yustinus Harjosusanto MSF, didampingi oleh Ketua KOMSOS Keuskupan Agung Samarinda (KOMSOS KASRI), Pastor Moses Komela Avan, serta Sekretaris Jenderal KOMSOS KWI, Pastor Antonius Steven Lalu (KOMSOSKAP)

    Dalam homilinya, Uskup Yustinus mengajak semua peserta untuk menjalani pelatihan dan berlatih literasi di era digital saat ini dengan sukacita dan semangat.

    Dia menekankan pentingnya beradaptasi dengan kemajuan zaman digital untuk menyebarkan pesan sukacita.

    “Hal ini harus ada dalam diri kita, kita harus membebaskan diri kita untuk bergerak dan mewartakan injil dalam sarana-sarana digital dengan cerdas,” kata Uskup Yustinus.

    Persaudaraan bijaksana

    Uskup juga berharap bahwa pertemuan ini akan menjadi wadah persaudaraan yang bijaksana bagi semua peserta.

    Dia mengajak peserta untuk memanfaatkan pengalaman ini untuk semakin cerdas dalam mewartakan injil dengan tujuan persaudaraan.

    “Dengan semangat ini, diharapkan pewartaan kabar baik melalui media sosial akan semakin berkembang secara cerdas dan bijak,” tutup Uskup Yustinus.

    Editor: MajalahDUTA.COM
    Sumber: Liputan KOMSOS Keuskupan Agung Pontianak

    Para “Pembunuh Tuhan”: Bagaimana Humanisme Modern Mengubah Pandangan Manusia Terhadap Keberagamaan

    Ilustrasi Foto: Pagar Besi yang dibentuk tajam menjulang ke atas

    MAJALAHDUTA.COM, FEATURED- Pada awalnya abad ke-18, periode yang dikenal sebagai Zaman Pencerahan (Aufklärung) menjadi zaman yang mengesankan dalam perkembangan ilmu pengetahuan manusia dan pengetahuan alam.

    Ini adalah masa di mana manusia mulai melihat sejarah dan masa depan mereka dengan cara yang sama sekali berbeda.

    Perkembangan kesadaran ini, yang dipicu oleh Zaman Pencerahan, mengubah pandangan manusia terhadap keagamaan dan keyakinan tradisional.

    Menurut diskursus humanisme pada masa itu yang diwakili oleh filsuf Jerman Immanuel Kant, salah satu masalah besar yang dihadapi oleh masyarakat pada Abad Pertengahan adalah kurangnya keberanian untuk berpikir secara independen di luar batasan dogmatisme agama dan otoritas yang melindunginya.

    Pada masa itu, aturan-aturan politik yang ditegakkan dengan dalih agama menghasilkan tingkat ketaatan dan pengorbanan yang tinggi.

    Mempertanyakan aturan-aturan sakral ini bukan hanya berisiko menyebabkan seseorang diancam kematian di dunia ini, tetapi juga dianggap berisiko membuat seseorang dihukum di akhirat.

    Dalam konteks ini, humanisme ateis muncul sebagai reaksi terhadap pengalaman buruk ini.

    Orang-orang mulai melihat konsep Tuhan atau kepercayaan kepada-Nya sebagai sesuatu yang membatasi dan menghambat otonomi manusia.

    Menurut para ateis, ide tentang “Tuhan” harus dihapus dari kesadaran manusia. Namun, paradoksnya, untuk “membunuh” Tuhan, Tuhan harus ada dalam kesadaran manusia terlebih dahulu.

    Ini menciptakan kontradiksi karena ateis, yang tidak mengakui keberadaan Tuhan, tidak seharusnya berbicara tentang membunuh-Nya. Oleh karena itu, lebih tepatnya, ateis berupaya “menghapus” kesadaran tentang Tuhan.

    Selain pendekatan sejarah, ada juga pendekatan epistemologis terhadap humanisme ateis yang ditemukan oleh Immanuel Kant.

    Meskipun Kant tidak menolak kepercayaan kepada Tuhan, filsafatnya membuka jalan bagi para humanis setelahnya untuk menghilangkan konsep Tuhan sebagai realitas objektif.

    Dalam karyanya yang terkenal, “Kritik terhadap Akal Murni” (Kritik der reinen Vernunft), Kant menganggap Tuhan sebagai ‘ide’ a priori dalam akal kita.

    Dengan kata lain, Tuhan bukanlah sesuatu yang ada di luar pikiran kita, tetapi bagian dari pemahaman kita, sebagai dasar penyusunan atau bahkan program yang tertanam dalam pikiran kita.

    Para humanis “pembunuh Tuhan,” yang bisa kita sebut demikian, menghapus ide Tuhan sebagai sesuatu yang ada di luar pemikiran manusia dan membuat-Nya menjadi bagian dari pemikiran itu sendiri.

    Dengan cara ini, Tuhan dipahami sebagai hasil konstruksi manusia.

    Pada abad ke-19, filsuf Ludwig Feuerbach dengan tegas menyatakan bahwa teologi sebenarnya adalah antropologi.

    Dalam keseluruhan, humanisme modern telah mengubah cara manusia melihat keberagamaan dan keyakinan.

    Ia telah memindahkan konsep Tuhan dari realitas objektif menjadi sesuatu yang lebih bersifat subjektif dan kemanusiaan.

    Ini adalah perkembangan signifikan dalam sejarah pemikiran manusia yang terus memengaruhi pandangan dunia kita hingga saat ini.

    Editor: MajalahDUTA.Com
    Sumber: Buku Humanisme dan Sesudahnya (F. Budi Hardiman)

    Santo Kosmas dan Damianus: Dokter Tanpa Bayaran yang Setia pada Iman

    Saint Cosmas and Saint Damian Crucifixed and Stoned - Fra Angelico

    MAJALAHDUTA.COM, SPRITUALITAS- Kisah kedua saudara kembar, Santo Kosmas dan Santo Damianus, adalah bukti hidup bahwa kebaikan dan pengabdian dapat memperlihatkan cinta kepada Kristus dengan cara yang luar biasa.

    Keduanya, yang dikenal dengan julukan “The Moneyless” atau “The Silverless” karena mereka tidak pernah menerima bayaran atas pelayanan medis mereka, adalah sosok-sosok yang terkenal dalam dunia kedokteran dan spiritualitas Kristen.

    Kedua saudara ini memiliki bakat luar biasa dalam dunia kedokteran.

    Sebagai dokter, mereka dikenal karena pandangan mereka yang unik tentang pasien.

    Bagi Santo Kosmas dan Santo Damianus, setiap pasien adalah saudara dan saudari dalam Kristus.

    Dengan demikian, mereka memberikan perhatian besar kepada semua pasien mereka, berusaha yang terbaik untuk menyembuhkan mereka tanpa memandang status sosial atau kemampuan membayar.

    Hal yang luar biasa adalah bahwa kedua saudara ini tidak pernah menerima uang sebagai imbalan atas pelayanan medis mereka.

    Mereka menolak menerima bayaran apapun, sehingga diberi julukan dalam bahasa Yunani yang berarti “tanpa uang sepeser pun.”

    Keputusan ini muncul dari iman dan tekad mereka untuk melayani Allah dan sesama manusia dengan tulus.

    Selain menyembuhkan tubuh, Santo Kosmas dan Santo Damianus juga peduli terhadap kesehatan jiwa pasien mereka.

    Setiap kesempatan mereka gunakan untuk berbicara tentang Yesus Kristus, Putra Allah, kepada para pasien mereka.

    Kedua dokter ini bukan hanya penyembuh fisik, tetapi juga penyembuh jiwa.

    Banyak pasien yang datang meminta bantuan mereka, baik dari segi kesehatan maupun rohani.

    Namun, keberanian dan kesetiaan mereka kepada iman Kristiani membawa mereka pada penganiayaan yang mengerikan.

    Ketika Kaisar Diocletianus memulai penganiayaan terhadap umat Kristiani, Santo Kosmas dan Santo Damianus tidak pernah bersembunyi atau mengingkari iman mereka.

    Mereka bersedia menderita dan disiksa demi Kristus, tanpa pernah mengingkari iman mereka.

    Akhirnya, pada tahun 303, kedua saudara ini dijatuhi hukuman mati dengan cara dipenggal.

    Namun, warisan mereka yang luar biasa dalam pelayanan medis dan kesetiaan pada Kristus terus menginspirasi banyak orang hingga hari ini.

    Kisah Santo Kosmas dan Santo Damianus adalah bukti nyata bahwa kasih, pengabdian, dan kesetiaan terhadap iman dapat mengubah dunia.

    Editor: MajalahDUTA.Com
    Sumber: Berbagai Bahan Olahan

    Pembunuh Tuhan: Menguak Sejarah dan Epistemologi Humanisme Ateis

    Foto Ilustrasi: Pantai Labuan Bajo

    MAJALAHDUTA.COM, FEATURED– Dalam pembahasan yang mendalam dan menggugah, kita memasuki wilayah yang memicu pertanyaan kontroversial: Apakah sebenarnya yang dimaksud dengan “Pembunuh Tuhan”?

    Dalam konteks ini, kita akan menggali dua pendekatan, yaitu sudut pandang sejarah dan epistemologis, yang membawa kita melintasi masa Pencerahan abad ke-18 hingga pemikiran ateis yang lebih modern.

    Dari sudut pandang sejarah, Pencerahan abad ke-18 adalah era gemilang dalam perkembangan ilmu kemanusiaan dan ilmu alam yang mengubah cara pandang manusia terhadap diri mereka sendiri dan masa depan mereka.

    Pencerahan menciptakan pemahaman baru tentang sejarah dan masa depan, sering kali menempatkan masa lalu sebagai kesalahan besar.

    Pemikiran ini, yang diwakili oleh filsuf Jerman Immanuel Kant, menilai bahwa orang-orang “saleh” di Abad Pertengahan terlalu patuh pada dogma agama dan otoritas yang mengawasinya. Mereka tidak berani berpikir di luar kerangka dogmatis agama yang mereka yakini.

    Mempertanyakan doktrin-doktrin sakral seperti itu, dalam pandangan mereka, akan menghadirkan risiko bukan hanya di dunia ini tetapi juga di neraka.

    Humanisme ateis berkembang sebagai tanggapan historis terhadap pengalaman traumatis ini, yang membuat manusia melihat Tuhan atau kepercayaan kepada-Nya sebagai infantilisasi dan pengekangan otonomi manusia.

    Oleh karena itu, para ateis berpendapat bahwa “Tuhan” harus “dibunuh” dalam kesadaran manusia.

    Penting untuk dipahami bahwa istilah “membunuh” Tuhan dalam konteks ini bukanlah kontradiksi, karena para ateis sejati sebenarnya tidak mengakui keberadaan-Nya, sehingga Tuhan tidak perlu dibunuh.

    Lebih tepatnya, para ateis “membunuh” atau menghapus kesadaran akan Tuhan.

    Sementara dari sudut pandang epistemologis, Immanuel Kant memainkan peran kunci dalam membuka peluang bagi humanisme ateis.

    Meskipun Kant tidak menolak keberadaan Tuhan, filsafatnya membuka jalan bagi pandangan dunia sekuler. Dalam karyanya yang berjudul “Kritik der reinen Vernunft” (Kritik atas Akal Murni), Kant melihat Tuhan sebagai “ide” a priori dalam akal kita, bukan sebagai realitas di luar pemikiran kita.

    Dalam pandangan Kant, Tuhan adalah bagian dari struktur akal kita, suatu prinsip penataan yang tertanam sebagai perangkat lunak dalam pemikiran kita.

    Dengan kata lain, Tuhan ada karena kita berpikir, dan kita berpikir demikian karena Tuhan merupakan ide yang tertanam dalam akal kita.

    Para humanis “pembunuh Tuhan” yang mengikuti era Pencerahan membuang Tuhan dari eksistensi adikodrati dan menempatkannya sebagai bagian dari akal manusia.

    Dengan ini, Tuhan dianggap sebagai hasil konstruksi manusia, bukan sebaliknya.

    Dalam abad ke-19, Ludwig Feuerbach menyatakan dengan tegas bahwa teologi pada hakikatnya adalah antropologi.

    Dengan pemahaman ini, kita memasuki perdebatan yang panjang tentang peran Tuhan dalam pemikiran manusia, yang tetap relevan hingga hari ini.

    Tidak peduli apakah Anda seorang pengagum agama atau seorang ateis, pertanyaan-pertanyaan ini terus membentuk cara kita memahami eksistensi dan peran Tuhan dalam masyarakat manusia.

    Editor: MajalahDUTA.Com
    Sumber: Buku Humanisme dan Sesudahnya (F. Budi Hardiman)

    TERBARU

    TERPOPULER