Saturday, June 15, 2024
More

    Ilmu Agama yang Rasional: Kontribusi Humanisme Ateistis dalam Pengungkapan Kebenaran Manusia

    humanisme ateistis banyak mendorong peralihan sudut pandang dari ‘perspektif penghayat’ ke ‘perspektif pengamat’ yang banyak membantu mengembangkan etos riset ilmiah tentang agama yang hari ini dimiliki dunia ilmu. Bersama dengan moral rasional dan kritik agama, ilmu­ilmu empiris tentang agama banyak membantu umat beragama sen diri dalam menghayati imannya secara dewasa tanpa mengesampingkan peranan akal. ini terjadi dalam banyak studi baik di kalangan Katolik maupun Protestan di Barat untuk merekonstruksi suatu teologi yang sesuai dengan kompleksitas dunia modern kita dan karenanya juga menolong penghayatan iman yang lebih transformatif dan toleran. tentu saja keterbukaan terhadap ilmu­ilmu agama mengandaikan sikap rasional agama. suatu agama atau suatu cara penghayatan religius dalam agama yang menutup diri terhadap cahaya akal dan beralih ke persepsi batiniah belaka, yakni tanpa mediasi akal, akan menampik ilsafat dan ilmu­ilmu agama itu sebagai buatan iblis yang menyangsikan iman. Jelas itu sebuah kesalahpahaman yang berbahaya karena akan sangat memiskinkan bakat­bakat manusia.

    MAJALAHDUTA.COM, FEATURED- Sebuah Perjalanan Panjang Menuju Moralitas Rasional. Humanisme ateistis telah memberikan sumbangan berharga dalam pengembangan pemikiran moral yang independen dari wahyu agama.

    Moral rasional, yang berasal dari akal belaka, menjadi sorotan utama kaum humanis Pencerahan seperti Immanuel Kant dan para deis abad ke-18.

    Meskipun para humanis ini masih mempertahankan eksistensi Tuhan, peran-Nya dalam moralitas dikurangi hingga menjadi minimal, atau bahkan tidak ada.

    Mereka meyakini bahwa moral dapat ditemukan melalui nalar tanpa perlu mengandalkan wahyu ilahi.

    Namun, pertanyaan muncul, apakah iman akan Tuhan masih relevan ketika akal belaka sudah cukup untuk menentukan moralitas?

    Humanisme ateistis meyakini bahwa manusia bisa melakukan perbuatan baik terhadap sesamanya tanpa perlu menunggu pahala di akhirat.

    Mereka melihat sikap ini sebagai tanda kedewasaan dan penerimaan terhadap realitas dunia ini yang ada di hadapan kita.

    Oleh karena itu, manusia dapat bertindak adil, jujur, setia, andal, dan siap menolong sesamanya tanpa perlu diperintah oleh agama atau doktrin agama tertentu.

    Moral rasional meyakinkan kita bahwa nalar manusia mampu memberikan petunjuk etis tanpa harus bergantung pada wahyu ilahi.

    Moralitas rasional juga menciptakan dasar bersama bagi masyarakat plural yang terdiri dari berbagai kepercayaan dan keyakinan.

    Moral ini tidak terkait dengan keyakinan agama tertentu, sehingga mempromosikan toleransi dalam masyarakat modern yang semakin kompleks.

    Berbagai bentuk etika modern seperti etika politik, etika sains, etika profesi, etika biomedis, dan etika bisnis adalah hasil dari perkembangan moral rasional ini.

    Salah satu sumbangan penting humanisme ateistis adalah kritik terhadap agama sebagai pendekatan rasional yang membantu membersihkan dan memurnikan iman religius.

    Penting untuk memahami bahwa kritik terhadap agama bukanlah hal yang sama dengan ateisme. Seseorang yang beriman kepada Tuhan dapat mengambil manfaat dari kritik agama tanpa harus menjadi ateis.

    Kritik agama membantu individu untuk mengadopsi sikap kritis terhadap pengalaman religius mereka sendiri.

    Agama, sebagai pandangan dunia total, sering mengklaim kebenaran absolut, yang kadang-kadang membatasi pikiran dan tindakan individu.

    Namun, melalui kritik agama, para humanis ateistis menantang orang beriman untuk merenung secara mendalam mengapa dan bagaimana mereka beriman.

    Ini mendorong individu yang beragama untuk menghadapi iman mereka secara kritis dan tidak hanya memegang keyakinan tanpa pemikiran.

    Kritik agama memungkinkan individu untuk memisahkan keyakinan mereka dari dogma dan membantu mereka tumbuh dalam pemahaman iman mereka.

    Lewat kritik agama, humanisme ateistis memotivasi orang beriman untuk merenungkan mengapa mereka beriman.

    Ini membuka pintu bagi pemahaman yang lebih dalam tentang agama dan menciptakan ruang untuk pertumbuhan iman yang lebih mendalam dan beralasan.

    Dalam arti ini, humanisme ateistis dapat menjadi jalan bagi orang beriman untuk mengakui transendensi Tuhan yang mungkin berada di luar gambaran mereka tentang-Nya.

    Selain kontribusi moral dan kritik terhadap agama, humanisme ateistis juga mendorong perkembangan ilmu agama.

    Sebelumnya, studi tentang agama sering kali dipengaruhi oleh teologi yang cenderung membenarkan dan membela keyakinan agama mereka sendiri.

    Namun, ilmu-ilmu seperti psikologi agama, sosiologi agama, antropologi agama, dan sejarah agama sekarang memperlakukan fenomena keagamaan sebagai gejala manusiawi yang dapat dijelaskan secara rasional dan empiris.

    Pendekatan ini memungkinkan kita untuk melihat agama dari sudut pandang manusia, menjauh dari pengalaman subyektif yang mungkin dianggap sebagai kebenaran ilahi.

    Keterbukaan terhadap ilmu agama membutuhkan sikap rasional dalam agama.

    Agama atau pengalaman religius yang menutup diri terhadap pemikiran rasional dan hanya mengandalkan pengalaman batiniah dapat menghambat perkembangan bakat manusia.

    Dalam arti ini, humanisme ateistis mendorong peralihan dari “perspektif penghayat” ke “perspektif pengamat” dalam studi agama.

    Ini membantu membangun etika riset ilmiah yang lebih kuat tentang agama dan membantu umat beragama untuk menghayati iman mereka secara lebih dewasa.

    Seiring dengan moral rasional dan kritik agama, ilmu-ilmu agama telah menjadi bagian integral dari perkembangan ilmu pengetahuan dan pendidikan tinggi modern, membantu kita memahami kompleksitas agama dan memperkaya pemahaman tentang manusia dan peradaban kita.

    Editor: MajalahDUTA.Com
    Sumber: Buku Humanisme dan Sesudahnya (F. Budi Hardiman)

    Related Articles

    Stay Connected

    1,800FansLike
    905FollowersFollow
    7,500SubscribersSubscribe

    Latest Articles