DUTA, Pontianak – Sebagai seorang freelance videographer, saya hidup di tengah dunia digital yang sangat dekat dengan kamera, visual, dan media sosial. Hampir setiap hari saya berurusan dengan konten, tren, dan algoritma.
Dari pengalaman ini, saya melihat secara langsung bagaimana figur publik digitalseperti influencer, newsfluencer, YouTuber, dan selebritas media sosial memiliki pengaruh besar dalam kehidupan masyarakat saat ini. Mereka bukan lagi sekadar hiburan, tetapi sudah menjadi rujukan dalam banyak hal, mulai dari gaya hidup, cara berpikir, hingga pandangan terhadap isu sosial dan politik.
Media sosial membuat figur publik digital terasa sangat dekat dengan kehidupan kita semua. Lewat unggahan harian, video singkat, dan siaran langsung, seolah-olah kita mengenal mereka secara pribadi.
Banyak orang merasa terhubung, merasa “satu frekuensi”, dan akhirnya menaruh kepercayaan besar pada apa pun yang disampaikan figur tersebut. Dari sisi manusiawi, ini sebenarnya wajar. Manusia memang makhluk sosial yang membutuhkan contoh, inspirasi, dan rasa keterhubungan. Namun, masalah mulai muncul ketika ketertarikan ini berubah menjadi ketergantungan yang berlebihan.
Sebagai orang yang bekerja di balik layar, saya memahami bahwa konten digital tidak pernah sepenuhnya alami ya mungkin ada beberapa yang benar benar tanpa struktur dalam pembuatan konennya. Apa yang terlihat di layar adalah hasil dari proses yang panjang, ppembuatan ide sampai menjadi tulisan naskah, pengambilan sudut kamera yang tepat, penyuntingan, hingga narasi yang sudah direncanakan.

Semua itu dibuat agar terlihat menarik dan mudah diterima. Sayangnya, banyak penonton lupa bahwa kehidupan yang mereka lihat hanyalah potongan kecil dari realitas, bukan gambaran utuh.
Ketika kehidupan figur publik digital dijadikan standar hidup, muncul tekanan psikologis. Banyak orang mulai membandingkan dirinya dengan apa yang mereka lihat di media sosial. Hidup terasa kurang asik, kurang sukses, atau kurang bermakna.
Perasaan ini sering muncul secara perlahan, tanpa disadari. Dari sini, ketergantungan emosional terbentuk. Media digital yang seharusnya menjadi sarana hiburan dan informasi justru menjadi sumber kecemasan dan rasa tidak puas terhadap diri sendiri.
Pengalaman ini sangat terasa terutama pada generasi seperti saya yaitu gen Z. Kami tumbuh di lingkungan digital yang penuh visual sempurna dan pencitraan. Ketika validasi diri lebih banyak dicari dari jumlah likes, komentar, atau pengakuan figur publik digital, kesehatan mental menjadi rentan. Kecemasan, rasa takut tertinggal, dan tekanan untuk selalu mengikuti trend trend yang berbeda tiap minggu membuat hal itu menjadi hal yang umum dan harus diikuti
Dari sudut pandang saya sebagai videographer, algoritma media sosial punya peran besar dalam memperkuat kondisi ini. Platform digital tidak bekerja secara netral. Konten yang memicu emosi cenderung lebih sering ditampilkan.
Konten figur publik digital yang menarik perhatian akan terus muncul di FYP, membuat penonton merasa dekat dan terus ingin mengikuti. ,secara tidak disadari, figur ini menjadi bagian penting dalam kehidupan emosional penggunanya.

Ketergantungan ini juga memengaruhi cara masyarakat menerima informasi. Banyak orang kini lebih percaya pada opini figur publik digital dibandingkan berita dari media yang terverifikasi atau pendapat para ahli.
Padahal, tidak semua figur publik digital memiliki tanggung jawab untuk memeriksa kebenaran informasi yang mereka sampaikan. Hubungan emosional yang sudah terbangun membuat pengikut cenderung menerima informasi secara mentah, tanpa berpikir kritis.
Media massa pun mulai menyoroti fenomena ini. Beberapa pemberitaan menunjukkan bahwa influencer memiliki potensi besar menyebarkan informasi yang keliru, terutama ketika mereka membahas isu sensitif seperti kesehatan, politik, atau ekonomi. Namun, karena figur tersebut sudah dipercaya, pengaruhnya tetap kuat. Ini menjadi tantangan serius dalam masyarakat yang semakin bergantung pada media sosial sebagai sumber utama informasi.
Sebagai pekerja kreatif, saya juga melihat bagaimana figur publik digital memengaruhi cara orang berbicara dan mengekspresikan diri. Banyak gaya bahasa, istilah, dan cara menyampaikan opini yang awalnya populer di media sosial kini digunakan secara luas dalam kehidupan sehari-hari. Ini menunjukkan bahwa pengaruh figur publik digital tidak hanya pada perilaku, tetapi juga pada identitas dan budaya masyarakat.
Selain itu, ketergantungan terhadap figur publik digital juga berdampak pada pola konsumsi. Banyak orang membeli produk atau mengikuti gaya hidup tertentu bukan karena kebutuhan, tetapi karena ingin meniru figur yang mereka kagumi.
Media internasional melaporkan bagaimana konten media sosial mendorong budaya konsumsi berlebihan, terutama melalui video pendek yang menampilkan gaya hidup ideal. Dalam jangka panjang, hal ini dapat menimbulkan tekanan ekonomi dan kebiasaan konsumtif yang tidak sehat.
Namun, menurut saya, figur publik digital tidak sepenuhnya bisa disalahkan. Mereka adalah bagian dari sistem media digital yang memang dirancang untuk menarik perhatian. Sebagai kreator, saya juga memahami tekanan untuk mengikuti tren, mengejar algoritma, dan mempertahankan audiens. Dunia digital menuntut kecepatan dan konsistensi, dan tidak semua kreator punya panggung terhadap festivalnya sendiri.
Masalah utamanya terletak pada cara kita sebagai masyarakat menyikapi konten digital. Mengikuti figur publik digital adalah hal yang wajar. Mengambil inspirasi juga tidak salah. Namun, kita perlu menjaga jarak emosional. Kita perlu menyadari bahwa apa yang kita lihat di layar bukanlah kehidupan nyata secara utuh dari setiap public figure yang kita lihat di platform media social.
Pada akhirnya, ketergantungan berlebihan terhadap figur publik digital adalah soal keseimbangan. Media sosial bisa memberi manfaat besar jika digunakan dengan sadar. Namun, tanpa kontrol dan literasi digital yang baik, media tersebut justru dapat menggerus kesehatan mental, kemandirian berpikir, dan kualitas hubungan sosial kita. Dunia digital seharusnya membantu manusia berkembang, bukan membuat kita kehilangan kendali atas diri sendiri.

DAFTAR REFERENSI:
- Haidt, J. (2024). The Anxious Generation.
https://en.wikipedia.org/wiki/The_Anxious_Generation - Ruckenstein, M. (2023). The Feel of Algorithms.
https://en.wikipedia.org/wiki/The_Feel_of_Algorithms - Aleksic, A. (2025). Algospeak: How Social Media Is Transforming the Future of Language.
https://en.wikipedia.org/wiki/Algospeak_(book) - Kompas.id – Influencer Berpotensi Menyebarkan Informasi Salah, Saatnya Kembali ke Media
https://www.kompas.id/artikel/influencer-berpotensi-menyebarkan-informasi-salah-saatnya-kembali-ke-media - The Verge – Influencers, TikTok, and the Rise of Shopaganda
https://www.theverge.com/cs/features/836456/influencers-tiktok-debt-shopaganda - Fans Borong BTS Meal, McD Terpaksa Disegel Karena Picu Kerumunan Hingga Kericuhan Gaes
* Yendi Kurniawan _ 3B mahasiswa AKUB_San Agustin Kampus II Pontianak
*Editor – Samuel, S.E., M.M. – Dosen Manajemen Pemasaran.




