Wednesday, April 29, 2026
More
    Home Blog Page 6

    Ketika Komunitas Menjadi Kekuatan Pemasaran Berkelanjutan dari Tren Lari di Kubu Raya

    DUTA, Pontianak – Dalam beberapa tahun terakhir, pendekatan pemasaran mengalami pergeseran yang signifikan. pemasaran tidak lagi semata-mata berfokus pada transaksi jual beli tetapi semakin menekankan penciptaan nilai bersama berkelanjutan dan keterlibatan sosial salah satu elemen kunci dalam pergeseran ini adalah peran komunitas komunitas bukan hanya kumpulan konsumen melainkan ekosistem sosial yang membentuk identitas merek loyalitas dan keberlangsungan jangka panjang dalam konteks ini komunitas dapat dipandang sebagai pondasi utama pemasaran berkelanjutan.

    Gagasan ini sejalan dengan pemikiran kasali pada tahun (2023) yang menekankan bahwa bisnis modern harus bertumpu pada nilai dan hubungan jangka panjang  dengan masyarakat. Demikian pula, Yuswohady pada tahun (2024) menggaris bawahi pentingnya brand community loyalitas di era digital.

    Sementara itu, Suyanto (2023) menempatkan pemasaran sebagai alat perubahan sosial yang mampu mendorong perilaku positif masyarakat. Ketiga perspektif ini memperkuat argumen bahwa komunitas bukan sekadar alat promosi, tetapi jantung dari strategi pemasaran berkelanjutan.

    Komunitas dalam Perspektif Pemasaran Berkelanjutan

    Pemasaran berkelanjutan menurut perusahaan untuk memperhatikan tidak hanya keuntungan ekonomi, tetapi juga dampak sosial dan lingkungan. Kasali pada tahun (2023) menyebutkan bahwa bisnis yang bertahan lama adalah bisnis yang mampu membangun kepercayaan publik dan menciptakan nilai bersama dengan komunitas di sekitarnya.

    Dalam kerangka ini komunitas berfungsi sebagai mitra strategis, bukan sekedar target pasar. ketika sebuah merek berhasil membangun komunitas yang solid, hubungan antara merek dan konsumen berubah dari relasi transaksional menjadi relasi emosional dan sosial.

    Konsumen tidak lagi membeli produk semata karena harga atau kualitas, tetapi karena merasa menjadi bagian dari sebuah gerakan atau identitas bersama. inilah yang menjadikan komunitas sebagai fondasi yang kokoh bagi keberlanjutan pemasaran. 

    Brand Community dan Loyalitas Jangka Panjang

    yuswohadi pada tahun (2024) menjelaskan bahwa brand community adalah kelompok konsumen yang terhubung oleh minat, nilai, dan pengalaman bersama terhadap suatu merek atau aktivitas. dalam era digital komunitas semacam ini semakin mudah terbentuk melalui media sosial from daring dan event offline.

    keberadaan komunitas menciptakan efek jejaring yang kuat. anggota komunitas saling memengaruhi, berbagai pengalaman, dan memperkuat persepsi positif terhadap merek atau gerakan tertentu. hal ini berdampak langsung pada loyalitas jangka panjang. realitas yang dibangun melalui komunitas cenderung lebih tahan terhadap fluktuasi harga dan persaingan, karena didasarkan pada ikatan emosional dan rasa pemilik.

    dengan demikian, pemasaran yang berbasis komunitas bukan hanya lebih efektif tetapi juga lebih berkelanjutan. merek tidak perlu terus-menerus mengeluarkan biaya besar atau akuisisi pelanggan baru karena anggota komunitas dengan sukarela menjadi duta merk yang menyebarkan pesan positif.

    Pemasaran Sosial dan Perubahan Perilaku

    Suyanto (2023) menekankan bahwa pemasaran sosial berperan penting dalam mendorong perubahan perilaku masyarakat ke arah yang lebih positif. Dalam konteks ini, komunitas berfungsi sebagai agen perubahan sosial.

    Melalui interaksi sosial dan teladan kolektif, komunitas dapat memengaruhi anggotanya untuk mengadopsi gaya hidup sehat, ramah lingkungan, atau perilaku prososial lainnya. Pendekatan ini sangat relevan dengan konsep pemasaran berkelanjutan, karena mengintegrasikan tujuan bisnis dengan kepentingan sosial.

    Ketika sebuah gerakan atau merek mampu menciptakan dampak sosial yang nyata, legitimasi dan kepercayaan publik akan meningkat. Pada akhirnya, hal ini memperkuat posisi merek dalam jangka panjang.

    Studi Kasus: Komunitas Lari di Kubu Raya

    fenomena berkembangnya komunitas lari di kubu raya merupakan contoh konkret bagaimana komunitas dapat menjadi fondasi pemasaran berkelanjutan. berdasarkan pemberitaan media lokal dan unggahan Instagram Pontianak informasi Bupati Sujiwo menyatakan bahwa tren olahraga lari di kubu raya menunjukkan perkembangan yang positif.

    kegiatan seperti GIGI RUN 2 tidak hanya menjadi ajang olahraga tetapi juga ruang sosial bagi generasi muda dan masyarakat umum. dalam konteks pemasaran, komunitas hari ini mencerminkan beberapa prinsip utama pemasaran berkelanjutan : 

    pertama menciptakan nilai sosial komunitas lari mendorong gaya hidup sehat memperkuat interaksi sosial dan meningkatkan kualitas hidup masyarakat hal ini sejalan dengan pandangan Suyanto pada tahun (2023) tentang pemasaran sebagai alat perubahan perilaku.

     kedua, pembentukan identitas kolektif para pelari tidak hanya berpartisipasi dalam event, tetapi juga membangun identitas sebagai bagian dari komunitas lari kubu raya identitas ini memperkuat loyalitas dan keterikatan emosional sebagaimana dijelaskan dari Yosua Hadi pada tahun (2024), dalam ko   nsep brand community.

    ketiga, keberlanjutan jangka panjang dukungan pemerintah daerah dan antusiasme masyarakat menciptakan ekosistem yang kondusif bagi keberlanjutan gerakan ini dalam perspektif pada tahun (2023), inisiatif semacam ini mencerminkan bisnis dan kegiatan sosial yang berbasis nilai dan kepercayaan publik.

    selain itu, event lari juga membuka peluang bagi pelaku usaha lokal, sponsor, dan UMKM untuk terlibat. produk minuman, makanan sehat, Apparel olahraga, dan layanan pendukung lainnya dapat memanfaatkan momentum ini untuk membangun hubungan jangka panjang dan komunitas dengan demikian komunitas lari kubu raya tidak hanya berdampak sosial tapi juga memiliki potensi ekonomi yang berkelanjutan.

    Komunitas sebagai Media Pemasaran Alami

    Salah satu kekuatan utama komunitas adalah kemampuannya menjadi media pemasaran alami (organic marketing). Anggota komunitas lari Kubu Raya secara sukarela membagikan pengalaman mereka di media sosial, mengajak teman dan keluarga, serta mempromosikan event tanpa imbalan finansial langsung.

    Fenomena ini selaras dengan konsep brand advocacy yang dijelaskan Yuswohady (2024), di mana konsumen yang puas dan terikat secara emosional akan menjadi promotor merek atau gerakan. Dalam konteks ini, biaya promosi dapat ditekan secara signifikan, sementara dampak komunikasinya justru lebih kredibel karena datang dari sesama anggota masyarakat. Inilah salah satu alasan mengapa komunitas dapat menjadi fondasi pemasaran yang lebih berkelanjutan dibandingkan iklan konvensional.

    Dimensi Digital dalam Penguatan Komunitas

    Peran media sosial, khususnya instagram, sangat signifikan dalam memperkuat eksistensi  komunitas di Kubu Raya. Unggahan dari akun media lokal seperti Pontianak informasi tidak hanya menyebarkan informasi tetang event, tetapi juga membentuk narasi  positif mengenai gaya hidup sehat dan kebersamaan. Yuswohady (2024) menekankan bahwa di era digital, komunitas tidak lagi dibatasi oleh ruang fisik.

    Interaksi daring memperluas jangkauan komunitas, mempercepat penyebaran informasi, dan memperkuat identitas kolektif. Dengan demikian, integrasi antara aktivitas offline (lari bersama, event) dan aktivitas online (unggahan, tagar, cerita digital) menjadi kunci keberlanjutan gerakan ini.

    Tantangan dalam pemasaran berbais komunitas 

    Meskipun memiliki banyak keunggulan, pemasaran berbasis komunitas juga menghadapi sejumlah tantangan. Pertama, risiko komersialisasi berlebihan. Jika komunitas lari Kubu Raya terlalu dieksploitasi untuk kepentingan sponsor tanpa memperhatikan nilai-nilai awalnya, kepercayaan anggota dapat menurun.

    Kedua, keberlanjutan kepemimpinan. Komunitas yang bergantung pada segelintir tokoh kunci berisiko melemah jika tokoh tersebut tidak lagi aktif. Oleh karena itu, diperlukan regenerasi kepemimpinan dan pembagian peran yang jelas. Ketiga, inklusivitas. Agar tetap berkelanjutan, komunitas harus terbuka bagi berbagai lapisan masyarakat, tidak eksklusif, dan mampu mengakomodasi perbedaan usia, latar belakang, serta tingkat kemampuan fisik.

    Implikasi bagi Praktik Manajemen Pemasaran

    Dari sudut pandang manajemen pemasaran, kasus Kubu Raya memberikan beberapa implikasi penting. Pertama, perusahaan dan institusi perlu memandang komunitas sebagai aset strategis jangka panjang, bukan sekadar saluran promosi.

    Kedua, strategi pemasaran harus berorientasi pada penciptaan nilai bersama (shared value), sebagaimana ditekankan Kasali (2023). Dalam konteks ini, keberhasilan tidak hanya diukur dari peningkatan penjualan, tetapi juga dari dampak sosial dan keberlanjutan komunitas. Ketiga, integrasi pemasaran sosial ala Suyanto (2023) dengan konsep brand community ala Yuswohady (2024) dapat menghasilkan pendekatan yang holistik dan relevan dengan kebutuhan masyarakat modern. 

    kesimpulan

    Berdasarkan pembahasan di atas, dapat disimpulkan bahwa komunitas merupakan fondasi yang sangat kuat bagi pemasaran berkelanjutan. Melalui penciptaan nilai sosial, pembentukan identitas kolektif, dan penguatan loyalitas jangka panjang, komunitas mampu menopang keberlangsungan sebuah merek atau gerakan sosial.

    Studi kasus komunitas lari di Kubu Raya menunjukkan bahwa bahkan inisiatif lokal pun dapat menjadi contoh praktik pemasaran berkelanjutan yang efektif. Dengan dukungan pemerintah, partisipasi masyarakat, dan pemanfaatan media digital, komunitas ini tidak hanya mendorong gaya hidup sehat, tetapi juga membuka peluang ekonomi dan sosial yang berkelanjutan.

    Dengan demikian, membahas kekuatan komunitas sebagai fondasi pemasaran berkelanjutan bukan sekadar wacana teoretis, melainkan realitas yang dapat diamati dalam kehidupan sehari-hari masyarakat Indonesia, termasuk di Kubu Raya.

    DAFTAR REFERENSI:

    Kasali, R., & Tim Rumah Perubahan. (2023). Pemasaran berkelanjutan: Strategi membangun bisnis berbasis nilai dan komunitas. Jakarta: Mizan.

    Yuswohady. (2024). Branding berbasis komunitas: Membangun loyalitas di era digital. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.

    Suyanto. (2023). Pemasaran sosial dan perubahan perilaku masyarakat. Jakarta: Prenadamedia Group.

    Pontianak Informasi. (2026, 18 Januari). Bupati Sujiwo: Tren lari di Kubu Raya kian positif [Unggahan Instagram].

    https://www.instagram.com/pontianakinformasi

    *Gracesia Theresia _ 3B mahasiswa AKUB_San Agustin Kampus II Pontianak

    *Editor – Samuel, S.E., M.M.

    Manipulasi Konsumen, Iklan Menyesatkan, dan Tanggung Jawab Moral Pemasaran

    DUTA, Pontianak – Penjualan juga mencakup seluruh proses dari kegiatan menjual, mulai dari penetapan harga jual hingga pengiriman produk ke pembeli.

    Untuk memungkinkan transaksi terjadi, kegiatan penjualan dilakukan sebagai tampat penjualan secara umum dapat didefinisikan sebagai transaksi jual beli yang terjadi antara dua belah pihak atau lebih, dimana terjadi pertukaran dan pembayaran produk dengan alat pembayaran yang sah bahan atau komplementer dari pembelian sebelumnya, Dalam Pemasaran suatu Perusahaan harus memiliki Brend yang kuat dan unik agar bisa membuat konsumen tertarik dan mau membeli produk yang kalian jual.

    Dan Manipulasi Konsumen adakah Secara sengaja memengaruhi, menipu, atau mengarahkan keputusan konsumen dengan cara tidak transparan, tidak jujur, atau melanggar etika, sehingga konsumen membuat pilihan yang bukan berdasarkan informasi yang benar atau kesadaran penuh Sering terjadi contoh nya :

    • Diskon palsu di Toko Online Shop, menaikan harga lalu di berikan diskon 50 %, padahal harga nya sama saja.
    • Iklan berlebihan (Overclaim) missal nya pada BodyCare misa memutihan dalam 3 hari nyatanya tidak secepat itu.

    Manipulasi konsumen sering terjadi dalam aktivitas sehari-hari dan sulit disadari karena dibungkus dengan strategi pemasaran yang halus. Oleh karena itu, konsumen perlu bersikap kritis, sementara pelaku usaha wajib menerapkan etika dan kejujuran dalam pemasaran.

    Iklan Menyesatkan  menyampaikan informasi tidak benar, dilebih-lebihkan, tidak lengkap, atau ambigu sehingga membuat konsumen salah paham dan akhirnya mengambil keputusan pembelian yang merugikan dirinya. 

    Tujuan Perusahaan Menggunakan Iklan Menyesatkan, Iklan menyesatkan sering digunakan untuk:

    • Meningkatkan penjualan jangka pendek
    • Memenangkan persaingan pasar
    • Menciptakan keunggulan semu
    • Menarik konsumen baru secara cepat

    Namun, keuntungan ini bersifat sementara dan berisiko tinggi.dan dapat , membuat konsumen kecewa dan trauma berbelanja  dan bertentangan dengan relationship marketing

    Tanggung Jawab dan Moral Pemasar. Praktik pemasaran yang tidak etis dapat merusak reputasi perusahaan dan mengakibatkan kerugian jangka panjang. Misleading advertising atau manipulasi informasi produk dapat menyebabkan hilangnya kepercayaan konsumen dan munculnya kritik publik.

    Sebaliknya, mematuhi prinsip etika dapat meningkatkan citra positif perusahaan dan memperpanjang umur bisnis. Banyak aspek pemasaran, seperti iklan dan promosi, diatur oleh undang-undang untuk melindungi konsumen. Mematuhi etika pemasaran membantu perusahaan untuk tetap berada dalam batas hukum, sehingga menghindari sanksi atau tindakan hukum.

    Dalam banyak kasus, etika juga berfungsi sebagai landasan yang melampaui kepatuhan hukum, memastikan bahwa perusahaan juga beroperasi secara moral Perusahaan yang beretika dalam praktik pemasarannya cenderung lebih sukses dalam menerapkan program-program Tanggung Jawab Sosial Perusahaan (CSR).

    Tindakan etis, seperti mempromosikan produk ramah lingkungan dan berkelanjutan, menunjukkan bahwa perusahaan tidak hanya berfokus pada keuntungan, tetapi juga pada dampak sosial dan lingkungan yang lebih luas.

    Perusahaan harus bertanggung jawab atas dampak sosial dan lingkungan dari kegiatan pemasarannya. Ini mencakup pengelolaan dampak negatif terhadap Masyarakat atau ekosistem, serta tanggung jawab untuk mempromosikan praktik berkelanjutan.

     

     DAFTAR REFERENSI:

    BUKU-AJAR-MNJ.PENJUALAN-DAN-KEWIRANIAGAAN.pdf

    EBOOK Etika dan Hukum dalam Pemasaran.pdf

    BUKU_Pemasaran Digital Strategi

    *Nevty Inggrid Rai, _ 3B mahasiswa AKUB_San Agustin Kampus II Pontianak

    *Editor – Samuel, S.E., M.M.

    Banjir Konten Iklan Digital dan Dampaknya Terhadap Kepercayaan Publik

    DUTA, Pontianak – Foto di atas merupakan dokumentasi penulis sebagai mahasiswa Universitas Katolik Santo Agustinus Hippo  Pontianak yang sedang mengenakan almamater sebagai identitas akademik. Penggunaan foto pribadi dalam penulisan opini ini bertujuaan untuk menunjukan keaslian karya serta tanggung jawab penulis terhadap gagasan yang disampaikan.

    Sebagai mahasiswa yang hidup di tengah perkembangan pesat teknologi digital penulis secara langsung merasakan dampak banjir konten iklan digital dalam kehidupan sehari-hari khususnya melalui media sosial seperti Instagram dan Facebook.

    Paparan iklan yang muncul secara berulang, tidak relevan, dan terkadang bersifat manipulatif mendorong penulis untuk merefleksikan kembali peran etika dan kepercayaan dalam praktik pemasaran modern.

    Karangan opini ini disusun berdasarkan pengamatan penulis sebagai konsumen  digital sekaligus mahasiswa pemasaran /ekonomi, dengan dukungan data terbaru tahun 2026 dari bebagai sumber terpercaya dengan mencantumkan foto dan identitas diri, penulis menegaskan bahwa opini yang disampaikan bukan sekedar pendapat umum, melainkan refleksi akademik yang bertanggung jawab serta relevan dengan realitas masyarakat saat ini.

    Banjir Konten Iklan Digital dan Dampaknya terhadap kepercayaan Publik

    “Iklan ada untuk membantu konsumen memilih bukan membingungkan mereka.”

    Itulah yang seharusnya menjadi peran iklan di era digital. Namun kenyataan, ledakan volume konten iklan digital. justru sering berujung pada kepercayaan publik yang rusak,kelelahan iklan(ad fatigue) dan hilangnya relevansi pesan. Fenomena ini tidak hanya menjadi persoalan industri pemasaran, tetapi juga mencermikan tentang etis,piskologis, dan sosial di era informasi digital    

    Banjirnya Iklan Digital: Lebih Banyak Lebih Efektif

    Data terbaru menunjukkan bahwa industri iklan digital terus tumbuh drastis secara global — dengan total belanja mencapai ratusan miliar dolar dan terus meningkat setiap tahun. Menurut statisik terbaru proyeksi belanja iklan digital akan mencapai sekitar $854,9 miliar pada 2026 di seluruh dunia. Ini termasuk iklan pencarian, banner, video, dan beragam format lainnya.

    namun yang sering luput dicermati adalah bahwa konsumsi iklan sangat jauh melampaui kapasitas manusia untuk memprosesnya bahkan dalam satu studi rata-rata penggunaan internet disebut melihat lebih dari 5000 iklan digital per hari angka yang benar-benar menggambarkan banjir

    1. Ada Fatigue-ketika konsumen sudah tidak peduli lagi 

    fenomena ada fatigue atau kelelahan iklan juga nyata dirasakan oleh konsumen di Indonesia termasuk di kota Pontianak masyarakat perkotaan yang aktif menggunakan media sosial.

    Seperti, Instagram Facebook dan Tik tok sering terpaper iklan digital secara berulang dalam waktu singkat iklan yang sama dapat muncul berkali-kali dalam satu hari baik dalam bentuk feed story maupun video singkat sehingga menimbulkan rasa jenuh dan ketidakpedulian terhadap pesan yang disampaikan

    berdasarkan laporan Edelman Trust Barometer 2026 konsumen di kawasan Asia Pasifik termasuk Indonesia menunjukkan kecenderungan menurunnya perhatian dan kepercayaan terhadap iklan digital yang bersifat repetitif dan tidak relevan kondisi ini juga diperkuat oleh berbagai pemberitaan digital nasional sepanjang 2025 -2026 yang menyoroti meningkatnya keluhan penggunaan media sosial terkait iklan yang terlalu sering muncul dan tidak sesuai dengan kebutuhan mereka 

    di Pontianak fenomena ini dapat diamati dari perilaku penggunaan media sosial yang cenderung langsung melewati iklan menonaktifkan notifikasi promosi bahkan menggunakan fitur mute atau block ads.

    Hal tersebut menunjukkan bahwa paparan iklan yang berlebihan tidak lagi efektif dalam menarik perhatian konsumen melainkan justru memicu kelelahan psikologis dan menurunkan minat terhadap merek yang diiklankan 

    dengan demikian ad fatigue bukan hanya fenomena global tetapi juga menjadi realitas lokal yang dialami masyarakat Pontianak sebagai konsumen digital hal ini menegaskan bahwa strategi pemasaran digital perlu lebih mengutamakan relevansi frekuensi yang wajar serta pemahaman perilaku konsumen lokal agar pesan iklan tetap diterima secara positif

    1. kepercayaan publik menurun

    penting untuk membedakan antara trust in advertising kepercayaan terhadap iklan dan trust in online information kepercayaan terhadap informasi digital secara umum meskipun keduanya berbeda dalam praktiknya kedua bentuk kepercayaannya tersebut saling berkaitan terutama di era digital ketika iklan dan informasi sering muncul dalam format yang hampir serupa di media sosial

    di Indonesia tren penurunan kebersihan terhadap iklan digital semakin terlihat dalam beberapa tahun terakhir berdasarkan edelman trust barometer 2026 tingkat kepercayaan masyarakat Indonesia terhadap konten digital.

    Termasuk, iklan di media sosial mengalami penurunan akibat meningkatnya konten informasi yang dianggap berlebihan repetitif dan kurang transparan banyak konsumen menilai iklan digital tidak lagi memberikan informasinya yang jujur melainkan lebih menekankan persuasi yang berlebihan.

    Fenomena ini juga tercermin dari perilaku pengguna media sosial di berbagai daerah termasuk kota Pontianak masyarakat Pontianak yang aktif menggunakan platform, seperti Instagram Facebook dan Tik tok cenderung semakin selektif dalam mempercayai iklan.

    Digital iklan yang muncul secara berulang tanpa kejelasan manfaat seringkali dianggap sebagai gangguan bukan sebagai sumber informasi yang membantu pengambilan keputusan akibatnya konsumen memilih untuk mengabaikan iklan melewati konten promosi atau bahkan melakukan kredibilitas mereka yang terlalu agresif beriklan

    selain itu isu perlindungan data pribadi juga turun mengaruhi tingkat kepercayaan publik di Indonesia laporan indeks kepercayaan digital tahun 2006 menunjukkan bahwa sebagai konsumen Indonesia merasa beban perlindungan data pribadi terlalu besar dibebankan kepada pemerintah memanfaatkan data perilaku konsumen tanpa penjelasan yang jelas kepercayaan terhadap platform dan pesan iklan pun semakin menurun 

    dengan demikian penurunan kebersihan publik terhadap iklan digital bukan hanya fenomena global tetapi juga menjadi realitas yang dirasakan oleh masyarakat Indonesia termasuk di Pontianak kondisi ini menegaskan bahwa kepercayaan konsumen tidak dapat dibangun hanya melalui frekuensi iklim tinggi melainkan melalui transparansi relevansi serta penghormatan terhadap privasi konsumen

    1. iklan yang tidak relevan mengikis kredibilitas

    masalah utama dari banjir iklan bukan hanya jumlahnya tetapi juga relevansi dan kualitasnya ketika konsumen terus melihat iklan yang sama berulang kali atau iklan yang tidak sesuai dengan kebutuhan dan konteks mereka ini tidak hanya menciptakan kebosanan tetapi juga menurunkan kredibilitas merek 

    bahkan dalam perdebatan tentang kepercayaan terhadap platform iklan tertentu data menunjukkan bahwa iklan tradisional televisi masih dianggap lebih dapat dipercaya dibandingkan iklan di media sosial digital hanya 19% orang dewasa yang mengatakan iklan media sosial dapat dipercaya dibandingkan 46% yang mempercayai iklan tv ini menjadi alarm bahwa digital tidak selalu lebih baik dari media tradisional dalam hal trust

    1. dampak pada keputusan konsumen

    meski demikian hubungan antara iklan digital dan kepercayaan konsumen tetap kompleks penelitian di platform seperti Tik tok di Jakarta misalnya menemukan bahwa iklim promosi yang tepat tetap memiliki pengaruh positif terhadap keputusan pembelian asalkan iklan tersebut membangun kepercayaan dengan konsumen dengan kata lain kualitas pesan tetap menjadi pendorong penting dalam keputusan konsumen meskipun volume iklan sangat tinggi

    1. tantangan-tantangan etis dan kebutuhan literasi digital banjir konten iklan digital juga membawa masalah etis iklan yang menyesatkan skenario manipulatif dan penugasan ai tanpa transparansi konten digital bisa sangat fleksibel tetapi juga rawan disalahgunakan oleh pelaku yang tidak bertanggung jawab

    meskipun bukan fokus utama artikel ini laporan dari konferensi komunikasi menunjukkan bahwa kepercayaan publik kini menjadi mata uang utama di era ai dan hanya komunikasi yang transparan serta berbasis kemanusiaan yang dapat memperdalam makna di tengah eksplorasi konten digital

    selain itu selain itu pemerintah dan lembaga terkait ini semakin menekankan literasi digital sebagai bagian penting untuk membantu publik mengelola banjir konten dan membedakan antara konten kredibel dan kampanye pemasaran semata.

    1. solusi iklan yang lebih pintar bukan lebih banyak kesimpulan dari trend dan data di atas cukup jelas
    1. lebih banyak iklan tidak selalu lebih efektif
    2. kepercayaan publik menurun ketika iklan terlalu banyak atau tidak relevan
    3. iklan efektif adalah yang relevan menghormati privasi dan membangun hubungan jangka panjang

    merk harus berpikir ulang strategi mereka bukan sekedar mengejar impresi atau klik tetapi bagaimana menyampaikan pesan yang relevan menghormati prevensi audience dan membangun kepercayaan jangka panjang itu yang akan membuat iklan benar-benar efektif di era digital.

     

    DAFTAR REFERENSI:

    Kotler, P., Kartajaya, H., & Setiawan, I. (2024). Marketing 6.0: Technology for Humanity. Hoboken: John Wiley & Sons.

    Ryan, D. (2025). Digital Marketing Strategy: An Integrated Approach. London: Kogan Page

    Edelman. (2026). Edelman Trust Barometer 2026. New York: Edelman Global Research.

    *Yosefina Pika _ 3B mahasiswa AKUB_San Agustin Kampus II Pontianak

    *Editor – Samuel, S.E., M.M.

    Belajar di Alam Bertumbuh dalam Karakter Kegiatan Pramuka Mahasiswa PJKR San Agustin di Riam Anggan, Kecamatan Jelimpo, Kabupaten Landak.

    DUTA, PontianakKegiatan pramuka tidak hanya dikenal sebagai aktivitas untuk anak-anak di sekolah saja, tetapi juga memiliki peran yang signifikan dalam pembentukan karakter para mahasiswa.

    Hal ini terlihat dalam kegiatan Pramuka bagi Mahasiswa Program Studi Pendidikan Jasmani, Kesehatan, dan Rekreasi (PJKR) di Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Katolik Santo Agustinus Hippo angkatan 2023, yang dilaksanakan di area alam Riam Anggan tepatnya di Kecamatan Jelimpo, Kabupaten Landak.

    Sebanyak 65 mahasiswa dari dua kelas, yaitu PJKR A dan PJKR B, ikut serta dalam kegiatan ini, dibimbing secara langsung oleh dosen pengampu, Mauri Arpin Arus, M. Pd.

    Riam Anggan ditentukan sebagai tempat kegiatan karena menawarkan suasana alami yang segar dan indah. Lingkungan terbuka berfungsi sebagai tempat pembelajaran yang baik untuk menanamkan nilai-nilai kebersamaan, kedisiplinan, dan sikap bertanggung jawab.

    Aktivitas seperti camping, eksplorasi alam, dan latihan yang dilakukan secara teratur dapat menanamkan nilai-nilai keagamaan, kepedulian terhadap masyarakat, serta sikap menghormati lingkungan melalui pengalaman langsung, bukan hanya melalui teori (Karakter et al., n.d.).

    Fokus utama dari kegiatan pramuka mahasiswa dalam kesempatan ini adalah membangun persatuan dan kerja sama dalam satu regu. Mahasiswa akan dibagi ke dalam beberapa regu kecil yang harus bekerja sama untuk menghadapi berbagai tantangan yang ada. Setiap anggota regu memiliki tanggung jawab yang berbeda-beda, sehingga keberhasilan kelompok sangat bergantung pada kerjasama yang baik.

     

    Salah satu hal yang sangat menarik adalah empat pos tempat permainan yang telah disiapkan oleh penyelenggara. Setiap tempat menawarkan bermacam-macam jenis permainan, mulai dari yang berorientasi pada strategi, keterampilan, hingga interaksi kelompok.

    Permainan-permainan ini dirancang untuk mengembangkan kemampuan bekerja secara regu, konsentrasi, serta keterampilan menyelesaikan masalah secara bersama-sama. Atmosfer di setiap lokasi dipenuhi dengan keceriaan, tawa, dan semangat kebersamaan.

    Para mahasiswa saling mendukung dan berkolaborasi supaya regu mereka bisa mengatasi tantangan dengan baik. Keseruan ini tidak hanya menawarkan hiburan, tetapi juga memberikan pengalaman serta pemahaman baru mengenai pentingnya solidaritas dalam sebuah kelompok.

    John Dewey berpendapat, “Pengalaman langsung merupakan cara belajar yang paling signifikan. ” (Surono, 2017), menegaskan bahwa aktivitas pramuka berperan penting dalam membentuk karakter karena dapat mengaitkan pembelajaran dengan kehidupan sehari-hari.

    Oleh karena itu, belajar di alam bersama pramuka menjadi media yang strategis untuk mengembangkan karakter mahasiswa secara menyeluruh. Kegiatan ini memperkuat ikatan antara mahasiswa PJKR A dan PJKR B. Perbedaan dalam tingkat kelas tidak menjadi halangan untuk menjalin  keterhubungan.

    Mereka mengembangkan kemampuan untuk saling menghargai, bekerja sama, dan menempatkan kepentingan kelompok di atas segalanya.Menurut (Yusdinar et al., 2023), Melalui pendidikan pramuka, remaja diberi nilai-nilai nasionalisme dan rasa cinta kepada bangsa dan tanah air, yang sangat penting untuk membangun rasa setia dan semangat berdedikasi terhadap negara dan bangsa.

    (Yusdinar et al., 2023). Baden Powell, yang merupakan pendiri gerakan pramuka, menyatakan, “Kepramukaan merupakan cara untuk menciptakan ikatan persahabatan yang tulus. ”

    Dalam konteks pembelajaran olahraga, kegiatan ini sangat tepat. Mahasiswa PJKR tidak hanya membutuhkan tubuh yang sehat, tetapi juga kemampuan berinteraksi sosial dan ketahanan mental yang baik.

    Melalui aktivitas di luar ruangan, para mahasiswa memperoleh pelajaran dalam mengendalikan emosi, bersikap sportif saat berkompetisi, serta memiliki tanggung jawab dalam melaksanakan tugas yang diberikan.

    (Arfiah & Sumardjoko, 2017), Mengatakan bahwa salah satu materi yang sangat penting dalam kepramukaan adalah tentang karakter, seperti kemandirian dan tanggung jawab. Selain memperkuat persatuan, kegiatan ini juga mengajarkan rasa peduli terhadap lingkungan. Mahasiswa diminta menjaga kebersihan tempat pelaksanaan kegiatan dan tidak mengganggu alam sekitar.

    Kesadaran akan pentingnya lingkungan menjadi bagian dari pembentukan karakter. Mahatma Gandhi berkata, “Bumi mampu memberikan cukup untuk kebutuhan manusia, tetapi tidak mencukupi untuk keinginan yang tidak terbatas.”

    Peran dosen pengampu, Mauri Arpin Arus, M.Pd., sangat penting dalam mengarahkan pelaksanaan kegiatan. Beliau tidak hanya memberikan arahan teknis, tetapi juga menyampaikan pesan nilai tentang pentingnya kerja sama, disiplin, dan tanggung jawab. Contoh sikap dan perilaku dosen tersebut menjadi motivasi bagi mahasiswa.

    Albert Schweitzer mengatakan, “Memberi contoh adalah bentuk pendidikan terbaik.” Dengan berpartisipasi dalam kegiatan Pramuka, para siswa bisa meningkatkan kemampuan berpikir, perasaan, serta keterampilan fisiknya. Selain itu, tujuan dari Pramuka juga adalah untuk membentuk kepribadian yang baik, memupuk rasa ingin menjadi pemimpin, serta membangun rasa cinta tanah air para siswa (Studi et al., 2025).

    Di era digital saat ini, beraktivitas di luar ruangan menjadi semakin relevan. Para mahasiswa dapat bersosialisasi secara langsung tanpa bergantung pada teknologi. Interaksi sosial yang berlangsung secara fisik mendukung terciptanya komunikasi yang lebih baik. Erik Erikson pernah mengatakan, “Interaksi sosial memainkan peran penting dalam membentuk kepribadian seseorang.”

    Kegiatan pramuka mahasiswa PJKR Santo Agustinus di Riam Anggan menunjukkan bahwa belajar tentang karakter bisa dilakukan dengan cara yang menyenangkan. Empat pos permainan yang menarik menjadi sarana efektif untuk memperkuat persatuan dalam regu dan semangat kerja sama.

    Selain itu, mahasiswa juga mendapat pengalaman baru serta pelajaran penting dalam kehidupan sehari-hari. Masa depan, kegiatan semacam ini diharapkan bisa terus dilakukan secara rutin dengan program yang lebih menarik.

    Penambahan berbagai jenis permainan edukatif dan kegiatan sosial bisa membuat pengalaman para mahasiswa semakin beragam. Dengan demikian, pembinaan karakter mahasiswa bisa terus berjalan secara berkelanjutan.

    Sebagai penutup, kegiatan yang diikuti oleh 65 mahasiswa dan mahasiswi PJKR angkatan 2023 ini menunjukkan bahwa belajar di alam bisa membentuk karakter yang kuat. Fokus pada kerja sama dalam regu, persatuan, serta kesenangan di empat pos permainan memberikan pengalaman dan pengetahuan baru bagi para mahasiswa.

    Confucius pernah mengatakan, “Saya mendengar, maka saya lupa. Saya melihat, maka saya ingat. Saya melakukan, maka saya memahami.” Melalui kegiatan ini, mahasiswa tidak hanya memahami arti kerja sama, tetapi juga menerapkannya secara langsung.

    *Fernando Diansi _ Mahasiswa PJKR_San Agustin Kampus II Pontianak

    Pergeseran Pemasaran dari Sekedar Menjual Barang Ke Membangun Nilai Dan Identitas

    DUTA, Pontianak – Dulu pemasaran sering dipahami secara sederhana sebagai aktivitas menjual produk sebanyak mungkin. Peusahaan berfokus pada bagaimana barang produksi, dipromosikan, dan akhirnya dibeli oleh konsumen strategi seperti diskon besar-besaran, iklan agresif, serta penonjolan keunggulan fitur produk menjadi andalan utama.

    Namun, seiring berjalannya waktu atau perkembangan zaman pada saat ini, cara pandang tersebut semakin kehilangan relevansinya. Dunia pemasaran kini telah bergeser secara singifikan, bukan lagi sekedar menjual barang, melainkan membangun nilai dan identitas merek dibenak konsumen.

    Menurut literatur strategi pemasaran modern, keberhasilan perusahaan saat ini sangat dipengaruhi oleh kemampuannya membangun merek yang kuat serta menciptakan hubungan jangka panjang dengan konsumen, terutama di era digital (Minhaj Pustaka, 2023). Dengan demikian, pemasaran berkembang dari sekadar aktivitas menjual menjadi strategi membangun makna dan nilai.

    Perubahan ini dipengaruhi oleh banyak faktor, mulai dari kemajuan teknologi digital, meningkatnya daya kritis konsumen, hingga perubahan gaya hidup masyarakat. Konsumen masa kini tidak lagi pasif menerima pesan iklan.

    Mereka aktif mencari informasi, membandingkan produk, membaca ulasan, serta membentuk opini sendiri sebelum mengambil keputusan pembelian. Akibatnya, perusahaan dituntut untuk memahami konsumen secara lebih mendalam, bukan hanya menawarkan produk yang dianggap bagus.

    Pergeseran Orientsi Produk Ke Orientasi Pemasaran

    Pemasaran tradisional cenderung menggunakan pendekatan product oriented, yaitu menekankan kualitas produk dan harga sebagai faktor utama keberhasilan. Dalam pendekatan ini, konsumen sering diposisikan sebagai pihak pasif yang hanya menerima informasi dari perusahaan. Namun, kondisi pasar saat ini menunjukkan bahwa produk yang ditawarkan antarperusahaan cenderung homogen dan konsumen memiliki banyak alternatif pilihan.

    Disinilah muncul pergeseran menuju pemasaran berbasis konsumen (customer oriented), yaitu strategi pemasaran yang berfokus pada pemahaman kebutuhan, keinginan, dan perilaku konsumen.

    Menurut Penerbit Widina (2023), pemahaman perilaku konsumen merupakan dasar penting dalam merancang strategi pemasaran, karena keputusan pembelian dipengaruhi oleh faktor psikologis, sosial, dan emosional. Oleh karena itu, pemasaran tidak lagi hanya tentang menciptakan produk, tetapi tentang menciptakan nilai (value) bagi konsumen. 

    Nilai yang dimaksud bukan sekadar manfaat fungsional, tetapi juga mencakup nilai emosional, sosial, dan simbolik. Konsumen membeli bukan hanya karena butuh, tetapi juga karena merasa cocok, merasa bangga, atau merasa terwakili oleh suatu merek.

    Konsumen Membeli Makna Dan Identitas 

    Salah satu ciri penting pemasaran modern adalah meningkatnya peran merek sebagai simbol identitas. Konsumen tidak hanya membeli produk karena kebutuhan, tetapi juga karena makna yang melekat pada merek tersebut. Dalam kajian perilaku konsumen dijelaskan bahwa produk sering dipilih karena dapat merepresentasikan gaya hidup, status sosial, dan kepribadian konsumen (Penerbit Widina, 2023).

    Fenomena ini terlihat dari kecenderungan konsumen memilih merek tertentu karena diasosiasikan dengan nilai tertentu, seperti modernitas, profesionalisme, kepedulian lingkungan, atau religiusitas. Produk kemudian berfungsi sebagai alat ekspresi diri. Dengan demikian, merek bukan hanya nama, tetapi telah menjadi identitas simbolik yang memiliki nilai psikologis bagi konsumen.

    Oleh sebab itu, perusahaan perlu membangun identitas merek secara konsisten. Ketika konsumen memiliki keterikatan emosional dengan merek, maka hubungan yang terbentuk akan lebih kuat dibandingkan sekadar hubungan transaksional.

    Branding Sebagai Jantung Pemasaran Modern

    Branding menjadi elemen sentral dalam strategi pemasaran modern. Menurut Minhaj Pustaka (2023), membangun brand di era digital bukan hanya berkaitan dengan visual seperti logo dan slogan, tetapi juga mencakup penciptaan citra, kepribadian merek, serta pengalaman konsumen. Branding yang kuat mampu menciptakan persepsi positif dan membangun kepercayaan jangka panjang.

    Konsumen cenderung lebih loyal terhadap merek yang mereka percaya. Loyalitas ini muncul bukan karena promosi sesaat, melainkan karena pengalaman positif yang konsisten. Hal ini sejalan dengan temuan dalam jurnal Musytari yang menunjukkan bahwa keputusan dan loyalitas konsumen dipengaruhi oleh persepsi, pengalaman, serta hubungan emosional dengan merek (CIB Institut, 2022).

    Dengan demikian, pemasaran modern lebih menekankan pada pembangunan hubungan relationship marketing daripada sekadar pencapaian penjualan jangka pendek.

    Peran Era Digital Dalam Perubahan Pemasaran

    Perkembangan teknologi digital semakin memperkuat pergeseran paradigma pemasaran. Media sosial dan platform digital memungkinkan konsumen untuk mengakses informasi secara luas, menyampaikan opini, serta berbagi pengalaman dengan konsumen lain.

    Menurut (Minhaj Pustaka 2023), era digital menuntut perusahaan untuk lebih adaptif, komunikatif, dan interaktif dalam membangun merek.Komunikasi antara perusahaan dan konsumen kini bersifat dua arah. Konsumen dapat memberikan kritik, saran, bahkan mempengaruhi citra merek melalui ulasan dan komentar di media sosial.

    Oleh karena itu, perusahaan dituntut untuk bersikap lebih terbuka, responsif, dan berorientasi pada pengalaman konsumen. Pemasaran tidak lagi cukup dilakukan melalui iklan, tetapi juga melalui dialog dan keterlibatan.

    Relevansi Dalam Dunia Keuangan Dan Perbankan

    Pergeseran paradigma pemasaran juga sangat relevan dalam sektor keuangan dan perbankan. Lembaga keuangan tidak cukup hanya menawarkan produk seperti tabungan, kredit, atau investasi, tetapi juga harus membangun kepercayaan dan reputasi.

    Dalam industri jasa, kepercayaan merupakan aset utama yang menentukan keberlanjutan hubungan antara institusi dan nasabah.Nasabah memilih bank tidak hanya berdasarkan suku bunga, tetapi juga berdasarkan rasa aman, kualitas pelayanan, serta citra institusi. Oleh karena itu, pemasaran di sektor keuangan harus berlandaskan nilai seperti integritas, transparansi, dan orientasi pada kepentingan nasabah.

    Hal ini menunjukkan bahwa pemasaran telah berkembang menjadi refleksi etika dan karakter organisasi. Dalam konteks ini, pemasaran bukan lagi sekadar alat bisnis, tetapi juga cerminan etika dan karakter sebuah institusi.

    Pergeseran pemasaran dari sekadar menjual barang menuju membangun nilai dan identitas merupakan konsekuensi dari perubahan lingkungan bisnis dan perilaku konsumen. Konsumen modern tidak hanya mencari produk yang fungsional, tetapi juga makna, pengalaman, dan identitas yang sesuai dengan nilai hidup mereka.

    Oleh karena itu, perusahaan perlu mengembangkan strategi pemasaran yang berorientasi pada konsumen, membangun merek yang kuat, serta menciptakan hubungan jangka panjang yang berbasis kepercayaan.

    Bagi mahasiswa keuangan dan perbankan, pemahaman terhadap perubahan paradigma ini menjadi bekal penting dalam menghadapi dunia profesional. Keberhasilan bisnis di masa depan tidak hanya ditentukan oleh produk yang ditawarkan, tetapi oleh kemampuan membangun nilai dan makna di hati konsumen.

     

    DAFTAR REFERENSI:

    Minhaj Pustaka. (2023). Strategi pemasaran modern: Membangun brand di era digital. Repository Minhaj Pustaka.
    https://repository.minhajpustaka.id/media/publications/610247-strategi-pemasaran-modern-membangun-bran-d9f4423f.pdf

    CIB Institut. (2022). Analisis perilaku konsumen dan keputusan pembelian. Jurnal Musytari.
    https://ejournal.cibinstitut.com/index.php/musytari/article/view/4096/3600

    Penerbit Widina. (2023). Strategi pemasaran dan perilaku konsumen. Repository Penerbit Widina.
    https://repository.penerbitwidina.com/media/publications/569052-strategi-pemasaran-perilaku-konsumen-349f1a86.pdf

    *Septiani Niken _ 3B mahasiswa AKUB_San Agustin Kampus II Pontianak
    *Editor – Samuel, S.E., M.M.

    Resiliensi UMKM

    DUTA, Pontianak – Di tengah tantangan ekonomi dan ketatnya persaingan pasar, pelaku usaha dituntut lebih kreatif dalam memasarkan produknya. Tidak semua bisnis memiliki anggaran besar untuk iklan, namun bukan berarti tidak bisa bersaing.

    Faktanya, banyak strategi pemasaran hemat biaya yang justru lebih tepat sasaran dan berdampak besar terhadap penjualan serta loyalitas pelanggan. Memasarkan produk tidak selalu harus mahal. Dengan strategi yang tepat, UMKM bisa menjangkau konsumen lebih luas, membangun brand yang kuat, dan meningkatkan penjualan tanpa perlu menguras anggaran. Kunci utamanya terletak pada konsistensi, kreativitas, dan keberanian untuk mencoba pendekatan baru.

    Saat ini daya beli masyarakat yang sedang terkoreksi dan biaya iklan digital yang semakin mahal di platform seperti meta dan Goggle,Usaha Mikro,Kecil,dan menegah(UMKM) justru menentukan momentumnya.

    Refleksi ini lahir dari pengamantan lapangan bahwa kesuksesan sebuah merek kini tidak lagi ditentukan oleh seberapa tebal dompet pemasaranya,melainkan seberapa dalam pemahaman terhadap prilaku konsumen digital.UMKM yang cerdas tidak mencoba berteriak lebih keras melalui iklan berbayar,melainkan berbisik lebih tepat melalui konten yang relevan dan komuitas yang loyal.

    Untuk mampu bertahan, selain permodalan, SDM, dan manajemen UMKM itu sendiri harus peka dan mudah menyesuaikan diri terhadap perubahan, terus berinovasi, cakap teknologi, dan memunyai pemimpin yang terampil.Pemasaran UMKM tanpa anggaran besar bertumpu pada kreativitas, konsistensi, dan optimalisasi aset digital gratis.

    Strategi kunci meliputi pemanfaatan media sosial organik, pembuatan konten menarik, SEO lokal, kolaborasi dengan micro-influencer, serta membangun komunitas pelanggan. Fokus pada keunikan produk branding dan layanan pelanggan yang personal terbukti lebih efektif meningkatkan awareness daripada iklan berbayar yang mahal. 

     refleksi mendalam mengenai strategi pemasaran UMKM yang minim anggaran namun berdampak besar:

    • Optimalisasi Konten Organik dan Sosial Media: Tidak perlu iklan berbayar, konsistensi mengunggah konten menarik di Instagram, TikTok, atau Facebook dapat membangun engagement.
    • Membangun Identitas Unik (Branding): UMKM harus memiliki keunikan (Unique Selling Proposition) yang menonjol agar lebih mudah diingat konsumen.
    • Memanfaatkan E-commerce dan Marketplace : Bergabungdengan platform marketplace membantu memperluas jangkauan pasar tanpa biaya iklan.
    • Kolaborasi dengan Micro-Influencer: Memilih influencer mikro yang sesuai dengan target pasar seringkali lebih efektif dan murah dibanding influencer besar.
    • Evaluasi dan Konsistensi: Pemasaran hemat energi menuntut konsistensi tinggi. Evaluasi rutin pada konten yang paling banyak diminati sangat penting untuk efisiensi.
    • Fokus pada Pelanggan Setia: Membangun hubungan personal, seperti meminta ulasan (review), jauh lebih berharga untuk menciptakan pemasaran mulut ke mulut (word of mouth). 

    ini diharapkan pelaku UMKM dapat mengevaluasi diri dan meningkatkan kapasitasnya berdasarkan faktor-faktor tersebut sehingga ketahanan dalam segala kondisi dapat diwujudkan, tentu saja dengan dukungan berbagai pihak pemerintah, sektor swasta, LSM, dan semua stakeholder yang terkait.

    Bagaimana meningkatkan ketahanan UMKM yang berdampak pada kenaikan kinerjanya seharusnya menjadi perhatian penting pemerintah terutama Dinas Perdagangan, Koperasi, dan UMKM. Pemerintah perlu mengetahui dan menganalisis faktor-faktor ketahanan UMKM dari semua komponen sehingga dapat merumuskan strategi dan kebijakan sebagai solusi. Dan dari jumlah pelaku usaha di Indonesia.

    Pentingnya peran UMKM dalam meningkatkan kesejahteraan masyarakat telah banyak diteliti di berbagai Negara.UMKM berperan penting dalam menyediakan lapangan kerja, pengembangan kewirausahaan, pengentasan kemiskinan, dan pembangunan sosial dan ekonomi. Fenomena ini memicu lahirnya sebuah refleksi mendalam mengenai efektivitas strategi pemasaran.

    Apakah keberhasilan usaha selalu berbanding lurus dengan besaran anggaran?Kenyataan di lapangan menunjukkan bahwa strategi pemasaran konvensional yang mengandalkan alokasi dana besar mulai kehilangan relevansinya.

    Anggaran besar mungkin bisa membeli perhatian, tetapi tidak bisa membeli kesetiaan. UMKM yang mampu bertahan dan berkembang di tahun 2026 adalah mereka yang melihat keterbatasan modal bukan sebagai hambatan, melainkan sebagai pemicu inovasi.Refleksi ini membawa kita pada satu poin penting,pemasaran terbaik adalah komunikasi yang manusiawi.

    Selama UMKM tetap menjaga kedekatan emosional dengan konsumennya dan tangkas memanfaatkan alat digital yang ada, mereka akan selalu memiliki ruang untuk menang melawan raksasa industri.Pemasaran bukan lagi soal siapa yang paling kaya, tapi siapa yang paling mampu memberikan makna bagi konsumennya.

    Keberhasilan UMKM dalam mempertahankan eksistensinya di tengah persaingan global bergantung pada kemampuannya mengintegrasikan teknologi informasi dengan pemberdayaan komunitas lokal.

    Oleh karena itu, kedaulatan ekonomi rakyat akan tercapai apabila para pelaku usaha mampu mengoptimalisasi seluruh instrumen digital secara bijak, transparan, dan berkelanjutan, guna menciptakan nilai tambah yang berdampak luas bagi kesejahteraan masyarakat.

    UMKM yang memiliki resiliensi tinggi justru merupakan unit usaha yang mampu mengoptimalkan keterbatasan sumber daya melalui inovasi strategi yang lebih taktis, humanis, dan berbasis data.

    DAFTAR REFERENSI:

    • Referensi berita dari LINKUMKM(Strategi Pemasaran Hemat untuk UMKM: Terbukti Efektif, Mudah Dijalankan) Jumat, 25 April 2025
    •  Berita dari LINKUMKM Resiliensi UMKM jadi kuci Menuju Indonesia Emas 2045.18 Agustus 2025
    •  Kotler, P., & Setiawan, I. (2024). Marketing 6.0: The Future is Immersive. New Jersey: John Wiley & Sons. (Membahas integrasi teknologi imersif untuk usaha skala kecil).
    • Kartajaya, H. (2025). Entrepreneurial Marketing: Winning in the Digital Age. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama. (Strategi pemasaran tanpa modal besar melalui kelincahan bisnis).

      *Yuliana Illifia U.D_ 3B mahasiswa AKUB_San Agustin Kampus II Pontianak*Editor – Samuel, S.E., M.M.

    Krisis Kepercayaan Publik di Era Konten Digital

    DUTA, Pontianak – Di era konten digital, masyarakat tidak lagi kekurangan informasi, melainkan kelebihan klaim. Setiap hari, masyarakat disuguhi berbagai iklan dengan judul dramatis, janji hasil instan, dan testimoni yang tampak meyakinkan, namun sering kali tidak sebanding dengan realitas yang dialami konsumen.

    Alih-alih memperkuat kepercayaan, banjir konten iklan justru memunculkan tidak kepercayaan dengan apa yang diiklankan. Dari Banyak influencer yang membuat konten iklan ada beberapa justru membuat masyarakat tidak tertarik karena tidak realistis namun ada juga yang percaya, berharap apa yang diiklankan sesuai dengan realita.

    Tetapi banyak juga yang sesuai dengan apa yang diiklankan. Perkembangan media digital pada awalnya menjanjikan ruang informasi yang lebih demokratis dan relevan bagi publik. Iklan tidak lagi bersifat satu arah, melainkan dipersonalisasi sesuai minat dan kebutuhan audiens.

    Namun, dalam praktiknya, kemajuan ini justru melahirkan persoalan baru berupa banjir konten iklan yang sulit dibendung. Hampir setiap platform digital mulai dari media sosial, marketplace, hingga portal berita dipenuhi pesan promosi dengan intensitas tinggi dan repetitif.

    Akibatnya, iklan tidak lagi berfungsi sebagai sarana informasi, melainkan berubah menjadi kebisingandigital yang melelahkan. Dalam situasi ini, perhatian publik menjadi komoditas utama. Algoritma platform cenderung memprioritaskan konten yang sensasional, provokatif, dan menjanjikan hasil instan, karena dianggap lebih efektif menarik klik dan interaksi.

    Judul iklan dibuat semakin berlebihan, sering kali tanpa keseimbangan antara daya tarik dan akurasi isi. Ketika strategi semacam ini dilakukan secara masif dan terus-menerus, publik tidak hanya mengalami kejenuhan, tetapi juga mulai mempertanyakan kredibilitas pesan komersial yang mereka terima.

    Seperti kasus yang baru-baru ini klaim bahwa produk skincare pemutih yang mereka jual dan promosikan disosial media bisa memutihkan dengan hanya beberapa kali pemakaian. Mengiklankan produknya tetapi memakai produk pemutih atau tone up kulit, hal tersebut membuat banyak masyarakat skeptis, memang pikiran yang seperti ini yang masyarakat harus punya.

    melihat kenyataan bahwa tidak ada produk skincare yang bisa memutihkan dengan instan. Masyarakat Indonesia banyak yang tergila-gila dengan warna kulit putih. banyak iklan pemutih kulit yang berseliweran disosial media melakukan overclaim agar masyarakat langsung membeli tanpa harus berpikir skeptis.

    Krisis kepercayaan publik di era konten digital pada dasarnya bukan lahir dari satu atau dua iklan yang menyesatkan, melainkan dari akumulasi pesan komersial yang berlebihan, repetitif, dan kerap tidak sejalan dengan realitas.

    Ketika hampir setiap ruang digital dipenuhi janji promosi, publik tidak hanya menjadi lebih selektif, tetapi juga semakin skeptis terhadap klaim apa pun yang disampaikan. Dalam kondisi seperti ini, kepercayaan tidak lagi menjadi fondasi komunikasi pemasaran, melainkan sumber daya yang langka dan mudah terkikis.

    Situasi tersebut seharusnya menjadi refleksi bagi seluruh aktor dalam ekosistem digital mulai dari pelaku usaha, kreator konten, hingga platform media. Keberhasilan iklan tidak semestinya diukur semata dari jumlah tayangan atau tingkat keterlibatan, tetapi dari sejauh mana pesan yang disampaikan mampu mempertahankan integritas dan kejujuran.

    Tanpa perubahan pendekatan dari sekadar mengejar perhatian menuju membangun kredibilitas, banjir konten iklan justru akan terus memperdalam jurang ketidakpercayaan antara masyarakat dan pesan komersial yang mereka terima.

    Pada akhirnya, publik tidak menuntut iklan yang sempurna, melainkan komunikasi yang jujur dan proporsional. Di tengah kebisingan digital yang semakin padat, hanya konten yang menghargai kepercayaan masyarakat yang memiliki peluang untuk bertahan.

    Tanpa itu, iklan digital berisiko kehilangan fungsi utamanya sebagai jembatan informasi, dan justru menjadi simbol krisis kepercayaan yang terus berulang di masyarakat.

    SUMBER REFERENSI:

    BPOM temukan 26 kosmetik berbahaya yang mengandung bahan berbahaya dan/atau dilarang. TVOne
    News. 16 Januari 2026.

    https://www.tvonenews.com/berita/nasional/407392-bpom-kosmetik-temukan-26-produk-
    berbahaya-warga-diminta-cek-izin-edar-sebelum-pakai

    * Martina Angelina_ 3B mahasiswa AKUB_San Agustin Kampus II Pontianak

    *Editor – Samuel, S.E., M.M.

    Paus Leo XIV: Keadilan Gereja Harus Berakar pada Kebenaran dan Kasih

    Paus Leo XIV bertemu dengan para pejabat Pengadilan Rota Romawi untuk peresmian tahun peradilan mereka, (@Vatican Media)

    DUTA, Vatikan – Paus Leo XIV mengajak para auditor Pengadilan Rota Romawi untuk menegakkan kebenaran dengan ketelitian, namun tanpa sikap kaku, serta menghayati kasih sayang tanpa mengabaikan tuntutan keadilan. Seruan ini disampaikannya saat meresmikan Tahun Yudisial Pengadilan Rota Romawi di Vatikan, Senin lalu.

    Dalam pertemuan tersebut, Paus menegaskan bahwa para hakim gerejawi memikul tanggung jawab penting dalam menjaga hak-hak umat beriman dan menjamin kesatuan yurisprudensi Gereja.

    Pengadilan Rota Romawi sendiri berfungsi sebagai pengadilan banding tertinggi Takhta Suci, termasuk menangani perkara pembatalan perkawinan, dispensasi tertentu, serta kasus-kasus hukum kanonik lain sesuai norma universal Gereja.

    Mengawali sambutannya, Paus Leo XIV menyampaikan apresiasi atas pelayanan para hakim Rota Romawi yang dinilainya sebagai kontribusi berharga bagi tugas peradilan universal Gereja.

    Ia menekankan bahwa moto Veritatem facientes in caritate—melakukan kebenaran dalam kasih—menjadi inti dari misi peradilan gerejawi sehari-hari. Berdasarkan pengalamannya sendiri sebagai hakim, Paus mengaku memahami tantangan yang dihadapi para auditor dan makna gerejawi dari tugas mereka.

    Paus kemudian menyoroti tema klasik yang selalu mengiringi refleksi Gereja tentang peradilan, yakni hubungan erat antara keadilan dan kebenaran. Menurutnya, kebenaran dan kasih bukanlah dua nilai yang saling bertentangan atau sekadar perlu diseimbangkan secara pragmatis, melainkan dua dimensi yang menyatu secara hakiki dalam diri Allah yang adalah sekaligus Kasih dan Kebenaran.

    Paus Leo XIV menerima para pejabat Pengadilan Rota Romawi untuk peresmian tahun peradilan mereka (@Media Vatikan)

    Ia mengingatkan bahwa dalam praktik peradilan, sering muncul ketegangan antara tuntutan kebenaran objektif dan keprihatinan pastoral terhadap situasi umat. Jika tidak disikapi dengan kebijaksanaan, empati yang berlebihan dapat berujung pada relativisasi kebenaran, sehingga keputusan kehilangan dasar objektif yang kokoh. Hal ini, tegas Paus, dapat terjadi dalam perkara pembatalan perkawinan maupun proses hukum lainnya.

    Sebaliknya, Paus juga memperingatkan bahaya sikap legalistik yang dingin, yang menegaskan kebenaran tanpa mempertimbangkan belas kasih dan martabat pribadi mereka yang terlibat dalam proses hukum. Menurutnya, kasih sayang dan penghormatan terhadap sesama harus mewarnai setiap tahap peradilan.

    Mengutip Surat Santo Paulus kepada Jemaat Efesus, Paus Leo XIV menegaskan bahwa hidup dalam kebenaran dan kasih berarti “melakukan kebenaran” dalam tindakan nyata, bukan sekadar memegang kebenaran secara teoritis. Kasih, lanjutnya, merupakan daya penggerak utama bagi terwujudnya keadilan sejati.

    Paus menekankan bahwa proses peradilan Gereja bukanlah arena benturan kepentingan, melainkan sarana penting untuk membedakan kebenaran dan keadilan dalam setiap kasus konkret. Karena itu, ketelitian prosedural dan kesetiaan pada prinsip-prinsip dasar keadilan mutlak diperlukan agar tidak terjadi perlakuan yang tidak adil terhadap situasi serupa.

    Ia juga menyinggung prosedur singkat pembatalan perkawinan di hadapan Uskup diosesan, yang menurutnya harus diterapkan dengan kehati-hatian tinggi. Kejelasan alasan pembatalan tetap harus diuji melalui proses yang sah agar kebenaran hukum benar-benar terjamin.

    Menutup sambutannya, Paus Leo XIV menegaskan pentingnya pengembangan dan penerapan hukum perkawinan kanonik secara ilmiah dan setia pada Magisterium Gereja. Ia pun mempercayakan karya para hakim Rota Romawi kepada perantaraan Bunda Maria, Speculum iustitiae, sebagai teladan sempurna kebenaran yang dihayati dalam kasih. (Samuel- Vatikan News). 

    Strategi Adaptif Manajemen Pemasaran dalam Kondisi Penurunan Daya Beli Masyarakat

    DUTA, Pontianak – Strategi Adaptif Manajemen Pemasaran dalam Kondisi Penurunan Daya Beli Masyarakat Penurunan daya beli masyarakat merupakan tantangan serius bagi perusahaan di berbagai sektor. Kondisi ini umumnya dipicu oleh tekanan ekonomi makro seperti inflasi, kenaikan harga, kebutuhan pokok, ketidakpastian pendapatan, serta perlambatan pertumbuhan ekonomi.

    Dampaknya tidak hanya terlihat pada menurunnya volume penjualan tetapi juga pada perubahan perilaku konsumen yang menjadi lebih berhati-hati, selektif, dan rasional dalam mengambil keputusan pembelian. Dalam situasi seperti ini, manajemen pemasaran dituntut untuk bersikap adaptif, tidak sekadar mempertahankan strategi lama, tetapi mampu menyesuaikan pendekatan agar tetap relevan dengan kondisi pasar.

    Menurut pandangan penulis, strategi adaptif dalam manajemen pemasaran bukan hanya soal menurunkan harga produk, melainkan tentang bagaimana perusahaan mampu menciptakan dan mengkomunikasikan nilai yang sesuai dengan kebutuhan dan kemampuan konsumen.

    Ketika daya beli menurun, konsumen cenderung memprioritaskan produk yang benar-benar memberikan manfaat nyata, memiliki harga yang sepadan, serta didukung oleh kepercayaan terhadap merek. Oleh karena itu, fokus utama pemasaran harus bergeser dari orientasi penjualan jangka pendek menuju orientasi nilai dan hubungan jangka panjang dengan pelanggan.

    Salah satu strategi adaptif yang krusial adalah penyesuaian segmentasi dan targeting pasar. Dalam kondisi ekonomi normal, perusahaan mungkin menargetkan segmen yang lebih luas, namun saat daya beli melemah, pendekatan tersebut menjadi kurang efektif.

    Perusahaan perlu mengidentifikasi segmen konsumen yang masih memiliki kebutuhan kuat terhadap produk tertentu, meskipun dengan tingkat pengeluaran yang lebih terbatas. Segmentasi berbasis perilaku, seperti sensitivitas harga, frekuensi pembelian, dan loyalitas, menjadi lebih relevan dibandingkan sekadar segmentasi demografis.

    Salah satu strategi adaptif yang krusial adalah penyesuaian segmentasi dan targeting pasar. Dalam kondisi ekonomi normal, perusahaan mungkin menargetkan segmen yang lebih luas, namun saat daya beli melemah, pendekatan tersebut menjadi kurang efektif.

    Perusahaan perlu mengidentifikasi segmen konsumen yang masih memiliki kebutuhan kuat terhadap produk tertentu, meskipun dengan tingkat pengeluaran yang lebih terbatas. Segmentasi berbasis perilaku, seperti sensitivitas harga, frekuensi pembelian, dan loyalitas, menjadi lebih relevan dibandingkan sekadar segmentasi demografis.

    Dari sisi promosi, pendekatan komunikasi pemasaran juga perlu berubah. Dalam kondisi penurunan daya beli, pesan promosi yang bersifat emosional tanpa nilai fungsional yang jelas cenderung kurang efektif.

    Konsumen lebih tertarik pada komunikasi yang menekankan manfaat nyata, efisiensi, dan relevansi produk terhadap kebutuhan sehari-hari. Di sinilah peran pemasaran digital menjadi semakin penting, karena memungkinkan perusahaan menyampaikan pesan yang lebih personal, terukur, dan hemat biaya dibandingkan media konvensional.

    Strategi adaptif lainnya yang menurut penulis sangat penting adalah penguatan hubungan dengan pelanggan (relationship marketing). Ketika konsumen mengurangi pengeluaran, loyalitas menjadi faktor penentu keberlangsungan bisnis.

    Perusahaan yang mampu membangun hubungan emosional, memberikan pengalaman pelanggan yang konsisten, serta menunjukkan empati terhadap kondisi konsumen akan lebih mudah mempertahankan pelanggan. Program loyalitas, layanan purna jual yang baik, dan komunikasi dua arah melalui media digital dapat memperkuat kepercayaan dan keterikatan pelanggan terhadap merek.

    Namun demikian, strategi adaptif juga menuntut fleksibilitas internal organisasi. Manajemen pemasaran tidak dapat bekerja sendiri tanpa dukungan fungsi lain seperti keuangan, produksi, dan sumber daya manusia.

    Keputusan pemasaran harus selaras dengan kemampuan operasional perusahaan agar adaptasi yang dilakukan tidak menimbulkan masalah baru, seperti penurunan kualitas atau ketidakefisienan biaya.

    Sebagai refleksi, penurunan daya beli masyarakat seharusnya tidak selalu dipandang sebagai ancaman semata, tetapi juga sebagai momentum bagi perusahaan untuk mengevaluasi ulang strategi pemasarannya.

    Perusahaan yang mampu beradaptasi dengan cepat, memahami perubahan perilaku konsumen, serta berfokus pada penciptaan nilai yang relevan akan memiliki peluang lebih besar untuk bertahan bahkan tumbuh di tengah kondisi ekonomi yang sulit.

    Penurunan daya beli masyarakat merupakan fenomena yang kerap muncul dalam siklus ekonomi, terutama pada periode inflasi tinggi, perlambatan pertumbuhan ekonomi, atau ketidakpastian global. Dampak dari fenomena ini tidak hanya terlihat dari berkurangnya kemampuan konsumen untuk membeli barang dan jasa, tetapi juga dari perubahan perilaku dan preferensi konsumen yang menjadi lebih rasional, selektif, dan sensitif terhadap harga.

    Di sisi lain, perusahaan yang tidak merespons dinamika ini dengan strategi pemasaran yang adaptif berisiko kehilangan pangsa pasar dan hubungan dengan pelanggan. Karena itu, strategi adaptif dalam manajemen pemasaran menjadi alat penting untuk mempertahankan relevansi merek, mempertahankan loyalitas konsumen, dan membuka peluang pertumbuhan meskipun daya beli sedang melemah.

    Di samping itu, strategi adaptif juga mengharuskan perusahaan untuk mengembangkan kapabilitas internal yang fleksibel. Hal ini mencakup kemampuan pengambilan keputusan cepat berdasarkan data pasar, kolaborasi antar fungsi organisasi (pemasaran, produksi, keuangan), serta pembelajaran berkelanjutan dari respons pasar.

    Kemampuan untuk terus menyesuaikan strategi secara iteratif memungkinkan perusahaan untuk menghadapi perubahan daya beli konsumen dengan lebih tangguh.Sebagai refleksi, penurunan daya beli tidak semata menjadi ancaman, tetapi juga merupakan momentum bagi pemasar untuk mengevaluasi kembali strategi mereka, memperkuat pemahaman terhadap kebutuhan konsumen, dan berinovasi dengan cara yang lebih adaptif dan responsif.

    Perusahaan yang mampu memadukan pemahaman pasar, kecepatan adaptasi, serta komunikasi yang empatik akan memiliki keunggulan kompetitif yang berkelanjutan di tengah situasi ekonomi yang tidak menentu.

    DAFTAR REFERENSI:

    • Strategi Pemasaran dan Perilaku Konsumen di Era Digital (2025) — digital market adaptation perspective.
    • Perilaku Konsumen dan Strategi Pemasaran (2025) — hubungan perilaku konsumen dan strategi pemasaran.
    • Marketing in a Crisis: Strategies for Resilience and Growth (2023) — strategi pemasaran dalam kondisi krisis ekonomi.

      * Nesa sepriana _ 3B mahasiswa AKUB_San Agustin Kampus II Pontianak
      *Editor – Samuel, S.E., M.M.

    Figur Publik Digital dan Krisis Nalar Publik

    DUTA, Pontianak – Perkembangan teknologi digital dan media sosial telah melahirkan fenomena figur publik digital, seperti influencer, content creator, dan selebritas internet. Mereka hadir sebagai tokoh yang tidak hanya menghibur, tetapi juga membentuk opini, gaya hidup, serta pola konsumsi masyarakat.

    Dalam banyak kasus, figur publik digital bahkan lebih dipercaya dibandingkan institusi formal, pakar, atau media arus utama. Kondisi ini menunjukkan adanya ketergantungan berlebihan yang patut dikritisi, terutama dari sisi rasionalitas publik, kualitas informasi, dan kemandirian berpikir masyarakat digital.

    Ketergantungan berlebihan pada figur publik digital muncul karena kombinasi antara popularitas, kedekatan emosional, dan algoritma media sosial. Influencer sering membangun citra seolah-olah dekat dengan pengikutnya melalui narasi personal dan interaksi langsung.

    Kedekatan semu ini menciptakan rasa percaya yang kuat, meskipun tidak selalu didukung oleh kompetensi atau keahlian yang memadai. Akibatnya, opini dan rekomendasi yang disampaikan figur publik digital sering diterima tanpa proses verifikasi kritis. Masalah pertama dari ketergantungan ini adalah kaburnya batas antara opini personal dan kebenaran objektif.

    Banyak figur publik digital membahas isu kesehatan, keuangan, pendidikan, bahkan politik, tanpa latar belakang akademik atau profesional yang relevan. Penelitian karya ilmiah yang dipublikasikan pada tahun 2024 menunjukkan bahwa kepercayaan terhadap influencer lebih dipengaruhi oleh daya tarik personal dan interaksi emosional daripada kualitas informasi yang disampaikan.

    Hal ini membuat masyarakat rentan terhadap misinformasi dan simplifikasi isu kompleks (Binus Business Review, 2024). Kedua, algoritma media sosial memperparah ketergantungan ini. Algoritma cenderung mempromosikan konten yang memiliki tingkat keterlibatan tinggi, bukan konten yang paling akurat atau mendidik. Figur publik digital dengan jumlah pengikut besar akan semakin diuntungkan, sementara sumber alternatif yang lebih kredibel namun kurang populer menjadi tenggelam.

    Akibatnya, masyarakat semakin terjebak dalam echo chamber, di mana pandangan yang sama terus diulang tanpa ruang dialog kritis. Ketergantungan ini tidak hanya membentuk preferensi individu, tetapi juga memengaruhi opini publik secara luas. Ketiga, figur publik digital sering berperan sebagai agen komersial terselubung.

    Banyak konten yang tampak sebagai pengalaman pribadi ternyata merupakan bagian dari strategi pemasaran. Studi konseptual tentang influencer marketing tahun 2024 menegaskan bahwa keterlibatan emosional pengikut sering dimanfaatkan untuk mendorong keputusan pembelian impulsif.

    Dalam situasi ini, pengikut tidak lagi bertindak sebagai konsumen rasional, melainkan sebagai target persuasi berbasis emosi dan identifikasi sosial (ISC-BEAM Proceedings, 2024).Ketergantungan ini juga berdampak pada aspek psikologis dan sosial, terutama di kalangan generasi muda.

    Paparan terus-menerus terhadap gaya hidup ideal yang ditampilkan figur publik digital dapat menimbulkan tekanan sosial, rasa tidak percaya diri, dan kecemasan. Standar kesuksesan bergeser dari pencapaian nyata ke popularitas digital, seperti jumlah pengikut dan tingkat interaksi. Dalam jangka panjang, kondisi ini dapat melemahkan nilai kerja keras, proses belajar, dan pencapaian berbasis kompetensi.

    Lebih jauh lagi, ketergantungan berlebihan pada figur publik digital berpotensi melemahkan kualitas demokrasi dan diskursus publik. Ketika opini masyarakat dibentuk oleh individu yang memiliki kepentingan ekonomi atau popularitas, ruang publik kehilangan keseimbangannya.

    Narasi yang sederhana dan emosional lebih mudah diterima dibandingkan analisis yang mendalam dan berbasis data. Hal ini berbahaya karena masyarakat tidak lagi menilai argumen berdasarkan rasionalitas, melainkan berdasarkan siapa yang menyampaikannya.

    Namun demikian, kritik terhadap ketergantungan ini tidak berarti menolak sepenuhnya peran figur publik digital. Influencer yang bertanggung jawab dan memiliki kesadaran etis dapat menjadi sarana edukasi dan penyebaran nilai positif. Beberapa figur publik digital berhasil mengampanyekan literasi keuangan, kesehatan mental, dan isu sosial secara efektif.

    Masalahnya bukan pada keberadaan mereka, melainkan pada sikap masyarakat yang terlalu menggantungkan penilaian dan keputusan pada figur tersebut. Oleh karena itu, solusi utama dari persoalan ini adalah penguatan literasi media dan literasi digital.

    Masyarakat perlu dibekali kemampuan untuk menilai kredibilitas sumber, memahami motif di balik konten, serta membedakan antara opini, promosi, dan fakta. Pendidikan formal dan informal harus mendorong sikap kritis terhadap media sosial, bukan sekadar kemampuan teknis dalam menggunakannya.

    Sebagai penutup, ketergantungan berlebihan pada figur publik digital merupakan fenomena sosial yang tidak bisa dihindari, tetapi dapat dikendalikan. Masyarakat digital yang sehat adalah masyarakat yang mampu memanfaatkan pengaruh figur publik secara selektif, tanpa kehilangan nalar kritis dan kemandirian berpikir.

    Popularitas seharusnya tidak menjadi pengganti kebenaran, dan jumlah pengikut tidak boleh dijadikan ukuran utama kredibilitas. Dalam dunia digital yang semakin kompleks, berpikir kritis adalah bentuk kebebasan paling mendasar.

    Selain itu, ketergantungan pada figur publik digital juga menunjukkan adanya pergeseran otoritas dalam masyarakat modern. Jika sebelumnya otoritas pengetahuan berada pada institusi pendidikan, akademisi, dan media profesional, kini otoritas tersebut sering berpindah ke individu yang memiliki daya tarik visual dan kemampuan membangun persona digital.

    Pergeseran ini tidak selalu negatif, tetapi menjadi masalah ketika legitimasi sosial lebih ditentukan oleh popularitas daripada kompetensi. Dalam jangka panjang, kondisi ini berpotensi menurunkan penghargaan terhadap proses belajar, keahlian, dan pemikiran berbasis data.

    Dalam konteks mahasiswa dan kaum terdidik, fenomena ini seharusnya menjadi alarm penting. Mahasiswa memiliki peran strategis sebagai kelompok yang diharapkan mampu berpikir kritis dan rasional di tengah derasnya arus informasi. Ketergantungan berlebihan pada figur publik digital tanpa sikap kritis justru bertentangan dengan nilai akademik yang menjunjung tinggi analisis, argumentasi, dan pembuktian ilmiah.

    Oleh karena itu, mahasiswa perlu menempatkan media sosial sebagai sumber awal informasi, bukan sebagai rujukan akhir dalam membentuk pandangan dan keputusan. Lebih jauh, sikap kritis terhadap figur publik digital juga berkaitan dengan tanggung jawab sosial. Setiap individu memiliki peran dalam menciptakan ekosistem digital yang sehat, baik sebagai konsumen maupun produsen informasi.

    Dengan tidak serta-merta membagikan konten yang bersifat manipulatif, sensasional, atau menyesatkan, masyarakat turut berkontribusi dalam menekan dampak negatif dari dominasi figur publik digital. Kesadaran kolektif ini penting agar ruang digital tidak hanya menjadi sarana hiburan, tet api juga ruang pembentukan pengetahuan yang bertanggung jawab.

     

    DAFTAR REFERENSI:

    1).Dauhan, F. A., & Langi, F. K. (2024).

    Social Media Influencer: The Influence of Followers’ Purchase Intention through Online Engagement and Attitude.

    Binus Business Review.

    PDF: https://journal.binus.ac.id/index.php/BBR/article/view/10185

    2) .Mohd Khairulamiren, M. S., & Aziz, F. A. (2024).

    Influencer Marketing and Engagement of Social Media Influencers: A Conceptual Paper.

    ISC-BEAM Proceedings.

     PDF: https://journal.unj.ac.id/unj/index.php/isc-beam/article/view/46529

    3). Telkom University Open Library (2025).

    Pengaruh Media Sosial Influencer dan Scarcity terhadap Pembelian Impulsif dengan Fear of Missing Out sebagai Mediasi.

     PDF: https://openlibrary.telkomuniversity.ac.id/pustaka/2415495

    4). Mohd Khairulamiren, M. S., & Aziz, F. A. (2024).Influencer Marketing and Engagement of Social Media Influencers: A Conceptual Paper.

    ISC-BEAM Proceedings.

     PDF: https://journal.unj.ac.id/unj/index.php/isc-beam/article/view/46529

    5). Telkom University Open Library (2025).

    Pengaruh Media Sosial Influencer dan Scarcity terhadap Pembelianp Impulsif dengan Fear of Missing Out sebagai Mediasi.

     PDF: https://openlibrary.telkomuniversity.ac.id/pustaka/241549

    *Petronela Ribi _ 3B mahasiswa AKUB_San Agustin Kampus II Pontianak
    *Editor – Samuel, S.E., M.M.

     

    TERBARU

    TERPOPULER