Saturday, June 6, 2026
More
    Home Blog Page 23

    Mesin Produktivitas yang Harus Dijaga Kemanusiaannya

    Sumber Gambar: Kompasiana (diakses 28 Nov 2025)

    Duta, Pontianak | Dalam dunia ekonomi dan organisasi modern, pembagian kerja sering dianggap sebagai “obat mujarab” untuk meningkatkan produktivitas. Konsep ini bukanlah hal baru. Sejak abad ke-18, ekonomi klasik melalui Adam Smith telah mengajarkan bahwa pemisahan tugas menjadi bagian-bagian kecil mampu menghasilkan output jauh lebih banyak dibanding ketika satu orang mengerjakan seluruh proses sendirian.

    Melalui contoh sederhana pabrik jarum dalam The Wealth of Nations (1776), Smith menunjukkan bagaimana spesialisasi dapat mengalirkan efisiensi waktu, peningkatan keterampilan, dan pemanfaatan teknologi yang lebih baik.

    Kini, satu prinsip klasik itu telah menjelma menjadi pilar utama peradaban industri dan organisasi modern. Tanpa pembagian kerja, kita tidak akan pernah mencapai teknologi produksi berskala besar, rantai suplai global, hingga layanan publik yang efisien. Tetapi seiring perkembangannya, kita mulai menyadari bahwa pembagian kerja tidak hanya menghadirkan manfaat ekonomis—ia juga menimbulkan tantangan kemanusiaan yang tidak boleh diabaikan.

    Dari Produktivitas ke Standar Hidup

    Tidak berlebihan jika pembagian kerja disebut sebagai mesin peradaban ekonomi. Spesialisasi memungkinkan setiap individu mengerjakan tugas sesuai kompetensi terbaiknya sehingga produktivitas per jam kerja meningkat.

    Akumulasi kapital pun tumbuh seiring bertambahnya keuntungan yang kemudian dapat diinvestasikan kembali untuk memperluas pasar, meningkatkan teknologi, dan memperluas produksi.

    Smith menekankan dua syarat penting bagi tumbuhnya pembagian kerja:

    1. Akumulasi kapital—yang berasal dari tabungan dan surplus produksi.

    2. Luasnya pasar—spesialisasi tidak mungkin berkembang tanpa permintaan yang cukup besar.

    Prinsip inilah yang menjelaskan mengapa masyarakat urban dengan akses pasar lebih luas memiliki tingkat diferensiasi pekerjaan lebih tinggi dibanding pedesaan.

    Di kota, tukang roti hanya membuat roti, dokter spesialis hanya menangani satu bidang anatomi, dan insinyur perangkat lunak fokus pada satu aspek teknologi. Sementara di pedesaan, seseorang bisa menjadi petani, pedagang, sekaligus mekanik alat pertanian ketika diperlukan. Luas pasar menentukan kedalaman spesialisasi.

    Ketika pembagian kerja berkembang, peradaban bergerak lebih cepat. Barang lebih murah, teknologi maju pesat, jumlah pekerjaan bertambah. Sistem produksi modern—seperti yang dilakukan industri otomotif Jepang atau manufaktur elektronik di Tiongkok—menjadi bukti bahwa pembagian kerja mampu menggerakkan perekonomian global.

    Oleh: Samuel, S.E., M.M.
    Dosen di Universitas Katolik Santo Agustinus Hippo Kampus II Pontianak, Akademi Keuangan dan Perbankan Grha Arta Khatulistiwa Pontianak
    Efisiensi yang Menjauhkan dari Makna Kerja

    Namun pembagian kerja yang ekstrem tidak selalu menghadirkan kebahagiaan. Jika spesialisasi adalah mesin efisiensi, maka ia juga dapat menjadi penjara bagi kreativitas manusia. Di sinilah kritik Karl Marx relevan untuk direnungkan kembali. Menurutnya, ketika seseorang hanya mengulangi satu tugas sempit sepanjang hidupnya tanpa memahami hasil besarnya, ia akan terasing dari pekerjaannya—yang disebut alienasi.

    Realitas ini terlihat jelas pada pekerja lini produksi di pabrik besar atau pekerja layanan yang terikat prosedur baku. Mereka mungkin dapat mengerjakan tugasnya dengan cepat dan benar, namun sering kehilangan rasa makna dan keterhubungan dengan dampak pekerjaannya terhadap masyarakat.

    Fenomena kelelahan kerja (burnout), depresi akibat pekerjaan repetitif, dan rendahnya keterlibatan karyawan (employee engagement) merupakan sinyal bahwa pembagian kerja terlalu fokus pada produktivitas dan melupakan dimensi manusia.

    Seorang pegawai kasir supermarket, misalnya, mungkin terlatih memindai kode barang dengan cepat. Tetapi jika ia merasa tidak dihargai secara emosional atau tidak melihat peluang berkembang, pekerjaan itu menjadi sekadar “menghabiskan waktu untuk mendapat gaji” — bukan lagi bagian dari pertumbuhan diri.

    Ketergantungan pada Spesialis seperti Ancaman Terselubung

    Spesialisasi juga memunculkan ketergantungan yang besar terhadap individu tertentu. Ketika seorang spesialis hilang karena pensiun atau pindah kerja, organisasi sering kelimpungan mencari penggantinya.

    Ini menunjukkan bahwa pembagian kerja yang terlalu membagi-bagi peran dapat menciptakan silo informasi dan melemahkan pengetahuan organisasi secara keseluruhan.

    Di bidang medis, misalnya, spesialisasi sangat penting.

    Namun saat sistem terlalu tergantung pada sedikit dokter spesialis, akses layanan kesehatan menjadi sulit dan mahal. Dalam konteks bisnis, perusahaan rintisan yang terlalu bergantung pada satu ahli teknologi berisiko gagal ketika ahli tersebut hengkang.

    Artinya, pembagian kerja yang efektif harus diimbangi dengan transfer knowledge, rotasi pekerjaan, dan pengembangan kapasitas secara menyeluruh agar organisasi tetap tangguh menghadapi perubahan.

    Dilema Organisasi Modern tentang Fleksibilitas vs Efisiensi

    Struktur organisasi yang berkembang saat ini—mulai dari lini, fungsional, lini-staf, hingga matriks—adalah wujud institusional dari pembagian kerja. Perbedaannya terletak pada cara pengambilan keputusan dan jalur komando. Struktur lini mungkin cepat tetapi kaku. Struktur matriks fleksibel tetapi rentan konflik. Semua bentuk itu berupaya mencari keseimbangan terbaik antara efisiensi dan koordinasi.

    Namun dunia kerja sedang berubah. Revolusi digital menuntut ketangkasan (agility) dan inovasi berkelanjutan. Dalam konteks ini, pembagian kerja harus diinterpretasikan ulang. Masyarakat ekonomi kini tidak hanya membutuhkan pekerja yang mahir pada satu keahlian sempit, melainkan juga:

    ✔ mampu berkolaborasi lintas departemen
    ✔ beradaptasi dengan teknologi baru
    ✔ memahami tujuan besar organisasi

    Spesialisasi penting, tetapi interdisiplin menjadi keharusan baru. Dengan kata lain: kita tidak hanya perlu ahli, tetapi juga manusia yang mampu bekerja dalam ekosistem pengetahuan yang luas.

    Menjaga Kemanusiaan dalam Pembagian Kerja

    Pembagian kerja bukan hanya soal bagaimana meningkatkan produksi, melainkan juga tentang bagaimana kesejahteraan mental dan sosial pekerja terjaga. Jika organisasi hanya mengejar efisiensi mekanistik, ia berisiko kehilangan esensi keberadaannya: membangun nilai bagi manusia.

    Maka ada beberapa prinsip yang perlu diterapkan dalam desain organisasi masa kini:

    1. Humanisasi Pekerjaan

    Setiap tugas harus memberi ruang bagi kreativitas, tanggung jawab, dan pengakuan.

    2. Pengembangan Berkelanjutan

    Pekerja harus mendapatkan peluang peningkatan kompetensi dan karier agar tidak mandek pada satu tugas sempit.

    3. Rotasi dan Kolaborasi

    Agar tidak terjadi alienasi dan organisasi memiliki cadangan kapabilitas yang luas.

    4. Keamanan Pekerjaan dan Keseimbangan Hidup

    Pembagian kerja tidak boleh membuat manusia hanya dianggap roda mesin produksi.

    Dengan kata lain, efisiensi tidak boleh menghabisi kemanusiaan.

    Pembagian Kerja Itu Perlu—Namun Harus Dijaga Arah Tujuannya

    Pembagian kerja adalah fondasi ekonomi modern—penopang kemajuan teknologi, sumber peningkatan produktivitas, dan lokomotif kesejahteraan. Tetapi pembagian kerja juga menyimpan sisi gelap jika dijalankan tanpa memperhatikan martabat manusia. Kita tidak boleh mengorbankan kreativitas, kesehatan mental, dan rasa makna hanya demi angka produksi.

    Sejauh organisasi masih terdiri dari manusia, pembagian kerja harus ditempatkan dalam kerangka nilai kemanusiaan. Manusia bukan alat efisiensi, melainkan tujuan dari kerja itu sendiri. Tantangan terbesar kita hari ini bukanlah meningkatkan produktivitas semata, tetapi memastikan bahwa setiap tenaga yang dicurahkan di tempat kerja membawa manfaat bukan hanya bagi organisasi, melainkan juga bagi jiwa dan harga diri pekerja.

    Semoga organisasi kita ke depan tidak hanya menghasilkan barang dan jasa yang lebih banyak, tetapi juga menciptakan manusia yang lebih bermartabat.

    Missio Canonica STAKatN Pontianak: 200 Calon Wisudawan Diutus untuk Melayani Gereja dan Masyarakat

    Duta, Sungai Raya | Kamis, 27 November 2025, Sekolah Tinggi Agama Katolik Negeri (STAKatN) Pontianak menyelenggarakan Misio Kanonika / Missio Canonica (Misa Perutusan) bagi para calon wisudawan Program Sarjana (S1) dan Magister (S2) di Gereja Katolik Santo Agustinus, Sungai Raya. Sebanyak 200 calon lulusan menerima pengutusan sebagai persiapan rohani sebelum prosesi wisuda akademik.

    missio canonica STAKat Negeri Pontianak , 27/11/2025

    Perayaan Ekaristi dimulai pukul 09.00 WIB, dipimpin oleh Mgr. Agustinus Agus, didampingi lima imam konselebran. Misa ini dihadiri oleh seluruh calon wisudawan S1 dan S2, civitas akademika, para orang tua, serta tamu undangan.

    Jumlah calon lulusan yang menerima pengutusan terdiri dari 186 mahasiswa Program Sarjana (S1) Keagamaan Katolik, dan 14 mahasiswa Program Magister (S2) Teologi Katolik

    Dalam kata pembukanya, Mgr. Agustinus Agus menegaskan bahwa pencapaian akademik merupakan hasil dari proses panjang yang layak disyukuri. “Gelar tidak dapat diperoleh dengan mudah. Karena itu, kita patut bersyukur dan berterima kasih kepada orang tua, dosen, serta semua pihak yang telah mendampingi kalian,” ujarnya.

    Ia juga menegaskan makna perayaan ini sebagai persiapan menuju dunia pelayanan. “Hari ini adalah misa pengutusan, sebab kalian akan diutus ke tengah masyarakat. Kita memohon tuntunan Tuhan agar kita semua tetap berjalan sesuai dengan kehendak-Nya,” tambahnya.

    Identitas sebagai Rasul

    Dalam homilinya, Mgr. Agus menegaskan kembali identitas kerasulan para calon wisudawan.

    “Ketika masih di dunia, Yesus memanggil dua belas rasul untuk melanjutkan karya-Nya. Rasul artinya utusan. Kalian juga rasul yang akan diutus secara khusus karena kalian telah dipersiapkan,” jelasnya.

    Ia menekankan bahwa perutusan sejati bersumber dari Allah sendiri. “Bukan lembaga yang mengutus kalian, juga bukan uskup, tapi Tuhan,” tegasnya.

    Mgr. Agus menutup homili dengan sebuah dorongan. “Kalian harus bekerja keras dan pantang menyerah dalam menjalani tugas perutusan,” pesannya.

    Upacara Missio Canonica

    Usai homili, perayaan dilanjutkan dengan Upacara Missio Canonica. Dalam momen penuh makna ini, Ketua STAKatN Pontianak menyerahkan para calon penerima Missio Canonica kepada Mgr. Agustinus Agus sebagai wujud pengantar resmi lembaga.

    Ketua STAKat Negeri Pontianak Dr. Sunarso., S.T., M.Eng

    Selanjutnya, Mgr. Agustinus Agus melantik, mengukuhkan, dan memberikan berkat kepada seluruh penerima Missio Canonica. Melalui ritus ini, para calon wisudawan diteguhkan secara resmi untuk menjalankan tugas kerasulan yang dipercayakan kepada mereka.

    Suasana upacara berlangsung khidmat, meneguhkan, dan dipenuhi rasa syukur atas panggilan pelayanan yang kini mereka emban. #Paul

    San Agustin Wisuda 315 Lulusan: “Ilmu Harus Membawa Terang bagi Banyak Orang”

    Administrator Apostolik Keuskupan Agung Pontianak Mgr. Samuel Oton Sidin, OFMCap memberikan tanda penghargaan kepada lulusan terbaik

    Duta, Kubu Raya | Rabu, 26 November 2025, Universitas Katolik Santo Agustinus Hippo (San Agustin) dan Akademi Keuangan dan Perbankan Grha Arta Khatulistiwa menggelar prosesi wisuda di Qubu Resort, Kubu Raya Kalimantan Barat. Pada momentum akademik ini, 315 lulusan resmi dikukuhkan di hadapan Kepala Badan Layanan Pendidikan Tinggi Wilayah XI Kalimantan, pengurus yayasan, Administrator Apostolik Keuskupan Agung Pontianak, orang tua wisudawan/I, serta para undangan.

    Wisudawan/i D3 Keperawatan dan Kebidanan

    315 Lulusan Siap Mengabdi

    Berdasarkan laporan pendidikan yang disampaiakn oleh Wakil Rektor I, Dr. Monika Widyastuti Surtikanti, M.Pd, total lulusan terdiri dari: 158 lulusan D3 Keperawatan, 86 lulusan D3 Kebidanan, dan 71 lulusan D3 Keuangan & Perbankan Grha Arta Khatulistiwa

    Wakil Rektor I, menegaskan komitmen kampus dalam mencetak tenaga profesional, berkarakter, dan berintegritas.

    Wisudawan/i D3 Keuangan dan Perbankan

    Lulusan terbaik tahun ini adalah Fernanda Valentina, D3 Keperawatan (IPK 3,88), Yesa Putri Revalina, D3 Kebidanan (IPK 3,89), dan Yeni Leta, D3 Keuangan & Perbankan (IPK 3,95)

    Rektor: “Wisuda adalah permulaan, bukan pencapaian akhir”

    Rektor Universitas Katolik Santo Agustinus Hippo, Pastor Dr. Johanes Robini Marianto, S.Fil., M.A., OP, membuka pesan akademiknya dengan mengutip perikop Kitab Suci tentang kelahiran Yohanes Pembaptis: “Menjadi apakah anak ini nanti?”

    Prosesi penanda bagi para wisudawan/i oleh Rektor San Agustin

    “Pertanyaan itu saya tujukan kepada semua wisudawan. Dalam lima hingga sepuluh tahun ke depan, kalian ingin menjadi apa? Hari ini bukan garis akhir, melainkan titik berangkat,” tegasnya.

    Beliau mengingatkan bahwa gelar akademik tidak serta-merta menjadikan seseorang profesional sejati.

    “Yang membedakan seseorang bukan sekadar kecerdasan, tetapi kehadirannya yang membawa manfaat bagi banyak orang. Universitas menjadi besar bukan karena banyaknya orang pintar, melainkan karena hadirnya pribadi-pribadi yang baik dan memberi pengaruh,” ujarnya.

    Rektor juga menegaskan arah universitas Katolik: kekudusan yang diwujudkan dalam hidup sehari-hari.

    “Carlo Acutis, seorang ahli IT, mampu mencapai kekudusan. Mengapa kita tidak?”

    Ia mengajak seluruh civitas untuk bertumbuh melalui pertobatan.

    “Bertobat berarti berani mengakui kelemahan dan memperbaikinya. Dari sana kualitas pendidikan akan bertumbuh.”

    Ketua Dewan Pembina Yayasan: “Membangun dari Pinggir, Merangkul yang Kecil”

    Ketua Dewan Pembina Yayasan Landak Bersatu, Mgr. Agustinus Agus, OP, menekankan semangat sinodalitas dalam karya pendidikan.

    Ketua Dewan Pembina Yayasan Landak Bersatu Mgr., Agustinus Agus, OP

    “Tanggung jawab kita adalah mendidik anak-anak dari pedesaan dan pedalaman. Universitas harus hadir bagi mereka yang paling kecil dan kerap terpinggirkan,” ujarnya.

    Ia optimistis kampus dapat menjalankan misi itu selama semua pihak berjalan bersama dan membuka diri terhadap kerja sama yang berkehendak baik.

    Administrator Apostolik: “Ilmu harus sejalan dengan iman dan keadaban”

    Administrator Apostolik Keuskupan Agung Pontianak, Mgr. Samuel Oton Sidin, OFMCap, menyebut wisuda ini sebagai momen bersejarah bagi San Agustin.

    “Saya memberikan apresiasi kepada seluruh pengelola. Anda telah kembali menghadirkan lulusan yang siap menempati peran penting di masyarakat,” ungkapnya.

    Mgr. Samuel Oton Sidin, OFMCap

    Kepada para wisudawan, beliau menegaskan bhawa masyarakat menunggu Anda. Tunjukkan kompetensi yang telah ditempa selama studi.”

    Ia mengingatkan bahwa penguasaan teknologi dan ilmu pengetahuan tidak otomatis menghadirkan kebahagiaan, sebab tantangan seperti kemiskinan dan ketidakadilan tetap ada.

    “Karena itu, kembangkan iman dan keadaban, agar ilmu yang kalian bawa benar-benar memberi manfaat dan akhirnya menuntun pada makna kehidupan yang sesungguhnya.” #Paul

    Kebebasan Digital dan Krisis Kemanusiaan

    Sumber: Samuel – Dosen Keuangan dan Perbankan Grha Arta Khatulistiwa, UNIKA San Agustin.

    Duta, Pontianak | Dalam satu dekade terakhir, gadget telah menjelma dari sekadar alat elektronik menjadi bagian intim dari diri manusia. Gadget bangun bersama kita, tidur bersama kita, bekerja bersama kita.

    Celakanya ia menemani obrolan, makan malam, perjalanan, bahkan ibadah. Kita mengandalkannya untuk berkomunikasi, mencari informasi, memotret, membayar, menghibur diri, hingga membangun identitas digital. Muncul persepsi bahwa kita mungkin tidak lagi memegang gadget—kitalah yang dipegang olehnya.

    Sekarang dilema mulai dari pertanyaan ini, apakah gadget mempermudah hidup kita, ataukah kita sedang pelan-pelan dikendalikan olehnya?

    Identitas Manusia Terbelah

    Dalam buku David Chalmers, Reality (2022) mengatakan bahwa dunia digital bukan ruang palsu melainkan “realitas lain” yang memiliki konsekuensi nyata. Kita hidup secara bersamaan dalam dua dunia, hal itu relevan dalam dunia fisik dan dunia digital. Disini, maka terbentuklah dua identitas, aku yang offline dan aku yang online.

    Aduhai – sayangnya batas keduanya kian samar, Identity curation  yang merupakan upaya merawat citra diri digital seolah mendorong kita untuk selalu tampil, membuktikan eksistensi melalui unggahan, reaksi, like, komentar. Secara sosial, kita mungkin hadir di ruangan yang sama, tetapi secara psikis pikiran kita melayang ke dunia digital.

    Hal itu menimbulkan fenomena yang oleh para psikolog disebut absence presence, artinya kita hadir secara fisik, tetapi tidak benar-benar hadir di dunia nyata.

    Selaras dengan itu, Kevin Kelly dalam The Inevitable (2016) menyatakan bahwa perkembangan teknologi bersifat tak terelakkan, namun ironinya yang tak terhindarkan ini tidak selalu menghadirkan kebebasan bagi manusia. Dalih bahwa kita merasa bebas karena gadget memudahkan segala hal, padahal kita juga semakin tak berdaya tanpanya.

    Mulai dari alarm, peta, kamera, dompet, perpustakaan, jam, catatan, permainan—semua dilebur ke dalam satu layar. Hidup menjadi efisien, tetapi ‘kerapuhan’ kita meningkat. Kita mudah cemas saat baterai hampir habis lalu muncul kegelisahan jika notifikasi berhenti maka ketakutan jika koneksi terputus.

    Celakanya, Gadget yang didesain untuk memperkuat otonomi manusia justru menciptakan ketergantungan emosional.

    Oleh: Samuel, S.E., M.M.
    Dosen di Universitas Katolik Santo Agustinus Hippo Kampus II Pontianak, Akademi Keuangan dan Perbankan Grha Arta Khatulistiwa Pontianak

    Dimensi yang Tak Terlihat

    Sama halnya seperti yang dikatakan Kate Crawford dalam Atlas of AI (2021) bahwa fakta teknologi tidak netral. Ada struktur kuasa di baliknya, artinya perusahaan raksasa, algoritma, iklan, dan data menjadikan perhatian manusia sebagai komoditas ekonomi terpenting masa kini.

    Jika notifikasi bukan bentuk komunikasi, maka ia adalah pemanggil perhatian yang dirancang untuk mengintervensi kesadaran, dengan kata lain ketika kita berpikir bahwa kita sedang memilih konten, sesungguhnya kontenlah yang sedang memilih kita.

    Inilah paradoks terbesar era digital, ‘kita merasa bebas, padahal kita sedang diarahkan’.

    Meminjam pikiran Jean Twenge dalam iGen (2017) meneliti anak muda yang tumbuh bersama gadget. Ia menyimpulkan bahwa generasi sekarang sekurang-kurangnya ada 3 hal,  pertama ebih toleran. Kedua, lebih paham teknologi dan yang ketiga adalah kondisi lebih kesepian, lebih cemas, dan kurang percaya diri.

    Rasa kebahagiaan generasi digital menurun bukan karena kesulitan ekonomi atau sosial, melainkan karena ‘hidup mereka selalu terhubung dan selalu dibandingkan’. Media sosial membuat kita tidak hanya melihat pencapaian orang lain, tetapi juga membandingkannya dengan diri sendiri sepanjang waktu.

    Kita semakin terhubung secara digital, tetapi semakin terasing secara emosional maka tak heran jika di sini muncul fenomena kesunyian modern, sebuah kesepian yang ironis karena muncul bukan dari ketiadaan komunikasi tetapi dari berlimpahnya komunikasi.

    Masalah Individu atau Sosial? Ini soal Efisiensi Melelahkan

    Sekilas lihat resume dari buku Handbook of Research on Society and Technology Addiction (2023) menegaskan bahwa kecanduan gadget bukan sekadar kelemahan personal, melainkan fenomena sosial yang dibentuk industri teknologi.

    Mulai notifikasi dibuat untuk memicu dopamin ditambah fitur infinite scroll yang seakan menghilangkan titik berhenti alami bahkan aplikasi sebenarnya sudah tampak ‘telanjang’ dimata yang sengaja dibuat agar tidak pernah selesai.

    Ketika penggunaan gadget bukan lagi pilihan, tetapi dorongan kompulsif seolah kita telah memasuki wilayah adiksi. Dalam dunia manajemen, gadget juga membawa dua sisi mata uang, sebagaimana yang dituliskan oleh Turban dkk. (2018) mencatat bahwa gadget meningkatkan produktivitas, mempercepat komunikasi, dan mendukung kerja jarak jauh, namun konsekuensinya tidak kecil yakni digital burnout.

    Karyawan bekerja dari rumah, tetapi rumah bukan lagi rumah hal itu berubah menjadi kantor yang tak pernah tutup. Jika Turban, dkk menuliskan tentang digital burnout maka Peppard (2019) menegaskan bahwa organisasi perlu mengatur digital hygiene dengan kebijakan jam bebas notifikasi, pelatihan literasi digital, dan manajemen waktu layar.

    Jika institusi pendidikan dan perusahaan ingin menjaga kesehatan mental penggunanya, kebijakan digital bukan lagi pilihan—melainkan keharusan.

    Keseimbangan

    Saya pernah merenung bagaimana jika kita kembali ke settingan dimana semua manual, namun hal itu tampak sia-sia, sebab faktanya kita tidak mungkin kembali ke masa sebelum gadget.

    Yang bisa kita lakukan sekarang adalah beriringan bersama  dengan perkembangan zaman yang semakin kompleks, tetapi kita juga tidak boleh membiarkan gadget mengambil alih kemanusiaan kita. Solusinya bukan demonisasi teknologi, tetapi kesadaran digital.

    Beberapa langkah kecil namun berdampak:

    1. Zona tanpa gadget — kamar tidur, ruang makan, gereja/masjid, dan ruang keluarga.
    2. Waktu offline harian — 1–2 jam tanpa layar untuk membaca, olahraga, atau hening.
    3. Notifikasi sadar — matikan notifikasi yang tidak mendesak.
    4. Hening digital mingguan — satu hari tanpa media sosial.
    5. Mengukur screen time — bukan untuk menghukum, tetapi untuk memulihkan kendali.

    Sekarang yang perlu kita pulihkan bukan akses teknologi—melainkan akses atas perhatian, keheningan, dan relasi manusia.

    Akhir kata, teknologi adalah berkah tetapi seperti semua berkah, ia datang dengan harga. Kehilangan perhatian berarti kehilangan kendali atas diri sendiri maka kehilangan keheningan berarti kehilangan kemampuan berpikir, sekarang jika kehilangan relasi berarti kehilangan kemanusiaan.

    Gadget tidak akan berhenti meminta perhatian kita, pertanyaannya apakah kita berani berhenti sejenak untuk kembali kepada diri sendiri?

    Pada akhirnya, dilema gadget bukan tentang teknologi, tetapi tentang manusia. Tentang bagaimana kita ingin hidup dan tentang siapa yang memegang kendali. Sekarang kita mesti berani untuk  mengatakan “Saya hadir—di sini, sekarang—bukan di balik layar.” Semoga!!!

    *Penulis: Samuel – Dosen Keuangan dan Perbankan Grha Arta Khatulistiwa, UNIKA San Agustin.

    Kesepian di Tengah Koneksi

    Bahan Seminar di Sekolah Tinggi Agama Katolik Negeri Pontianak, Samuel. 2025

    Duta, Pontianak | Setiap hari kita bangun, dan hal pertama yang menyentuh tubuh kita bukan lagi tangan orang yang kita cintai, bukan udara pagi, bukan cahaya matahari — tetapi layar dingin sebuah gadget.

    Kita bukan lagi makhluk yang memegang teknologi, teknologi kini yang menggenggam kita. Dalam masyarakat yang semakin terhipnotis oleh notifikasi, kita diajarkan untuk percaya bahwa kita pengguna aktif smartphone. Namun kenyataannya satu, kitalah produk yang diperjualbelikan.

    Perusahaan teknologi tidak lagi menjual barang. Mereka menjual perhatian, waktu, dan perilaku manusia. Kita menatap layar — mereka menambang data. Kita klik tautan — mereka menghitung uang.

    Kita menggeser layar tanpa henti — mereka memperpanjang jam kerja algoritma yang mempelajari ketakutan, hasrat, kecemasan, dan mimpi kita. Konsekuensinya jauh lebih besar daripada sekadar “kecanduan gadget”. Kita sedang memasuki era baru dalam sejarah manusia, era di mana kesadaran dijinakkan oleh layar.

    Perang sunyi antara manusia dan algoritma

    David Chalmers dalam Reality+ (2022) menulis bahwa realitas digital kini begitu kuat sehingga tidak lagi hanya mewakili dunia — ia menggantikannya.

    Ketika lebih banyak orang merasa “hidup” di media sosial dibandingkan kehidupan nyata, kita melihat bukan perkembangan, tetapi pelepasan diri dari kenyataan. Dunia virtual menawarkan hal-hal yang dunia nyata tidak lagi sudi memberikan, validasi instan, hiburan tanpa batas, dan pelarian dari luka eksistensial.

    Namun sebagaimana dikemukakan Kate Crawford dalam Atlas of AI (2021), di balik kesenangan digital ada struktur kekuasaan yang brutal — manusia hanyalah bahan bakar bagi kecerdasan buatan yang terus memperkaya korporasi global.

    Kita kira kita sedang “menggunakan” teknologi. Sebenarnya teknologi sedang menggunakan kita.

    Oleh: Samuel, S.E., M.M.
    Dosen di Universitas Katolik Santo Agustinus Hippo Kampus II Pontianak, Akademi Keuangan dan Perbankan Grha Arta Khatulistiwa Pontianak

    Disilaukan cahaya layar

    Jean Twenge dalam iGen (2017) menunjukkan bagaimana generasi remaja pasca-1995 tumbuh dengan tingkat kecemasan dan kesepian tertinggi dalam sejarah, namun ironisnya berada dalam koneksi sosial terbanyak secara virtual. Kita telah membesarkan generasi yang tidak mampu bersanding langsung tanpa layar, tetapi bisa berselisih tajam lewat teks. Kita menciptakan anak-anak yang menguasai teknologi, tetapi gagal menguasai diri.

    Kita menyebut gadget sebagai alat komunikasi. Tetapi budaya yang dihasilkannya semakin bisu secara emosional. “Typing…” telah menggantikan percakapan. Emoji menggantikan empati. Unggahan menggantikan pertemuan. Hubungan terasa dekat, namun hati terasa jauh.

    Gadget bukan netral. Perangkat lunaknya dirancang untuk ketagihan. Setiap notifikasi, suara kecil, angka “like”, dan guliran tak berujung dibuat untuk merekayasa sistem dopamin.

    Hal yang paling utama menjadi tolak pikir kita bahwa, “kita tidak kecanduan gadget — gadget sengaja didesain untuk membuat kita kecanduan.”

    Silverman dalam The Smartphone Society (2019) menyebutnya sistem behavioral extraction: aplikasi mempelajari pola psikologis manusia bukan untuk membebaskan, tapi untuk mengeksploitasi. Kecanduan bukan kecelakaan — ia adalah fitur bisnis.

    Ketika kita berpikir gadget memudahkan hidup, manajemen teknologi justru melihatnya sebagai mekanisme pengendalian perilaku.

    Peppard & Edwards (2019) menjelaskan bahwa di era digital, keberhasilan perusahaan tidak lagi ditentukan oleh penjualan, tetapi oleh kemampuan mempertahankan pengguna selama mungkin dalam ekosistem.

    Kita dikurung — hanya saja penjaranya estetis.

    Hidup yang didikte algoritma

    Apa yang kita baca, siapa yang kita temui, apa yang kita beli, bahkan apa yang kita anggap “kebenaran” — semuanya ditentukan algoritma.

    Internet bukan lagi jendela informasi — ia telah menjadi filter bias. Kita diberi ilusi pilihan, padahal setiap klik telah diprediksi sebelum kita mengambil keputusan.

    Vrgovic & Vidicki (2018) menulis bahwa dalam manajemen teknologi modern, manusia bukan lagi pusat inovasi, melainkan objek pemetaan. Kita semakin jelas bukan subjek berdaulat, kita sama saja seperti variabel statistik.

    Di titik ini, pertanyaan wajar muncul, apakah kita benar-benar berpikir sendiri — atau kita hanya mengulang apa yang algoritma ingin kita pikirkan?

    Krisis paling berbahaya yakni kehilangan batin

    Masalah gadget bukan sekadar budaya malas membaca, turunnya fokus, atau kesehatan mata. Yang jauh lebih berbahaya adalah hilangnya keheningan batin. Kita tidak lagi tahan pada kesunyian. Kita tidak lagi terbiasa bercakap dengan diri sendiri. Kita tidak lagi mampu merasa tanpa distraksi.

    Manusia yang kehilangan keheningan adalah manusia yang kehilangan kedalaman.

    Kita menyembunyikan kesepian dengan hiburan, kecemasan dengan notifikasi, luka batin dengan belanja daring. Kita tidak mencari ketenangan; kita mencari pelarian. Kita tidak mencari makna; kita mencari stimulasi.

    Solusinya bukan demonisasi teknologi — tetapi pembebasan manusia

    Teknologi tidak jahat. Gadget bukan musuh. Musuh kita adalah sistem yang mengubah manusia menjadi sumber daya ekonomi berbasis perhatian. Maka solusinya bukan “kurangi layar” atau “jadwalkan detoks digital” — itu pendek, moralistik, dan tidak struktural.

    Solusinya harus dimulai dari kesadaran radikal:

    1. Bangun kembali subjektivitas manusia. Kita harus menghidupkan kembali kemampuan untuk berpikir, merasa, dan memilih tanpa dikendalikan algoritma.
    2. Kembalikan relasi manusia. Pelukan lebih kuat dari emoji; percakapan lebih penuh dari komentar.
    3. Rebut kembali waktu. Waktu adalah aset paling berharga yang sedang dicuri pasar digital.
    4. Gunakan teknologi sebagai alat — bukan identitas. Gadget harus kembali menjadi objek; bukan penentu harga diri.

    Pertarungan terbesar manusia abad ini

    Penulis lain, Kevin Kelly (2016) mengatakan bahwa evolusi teknologi tidak akan berhenti. Kita tidak bisa melawan masa depan. Tetapi kita bisa menentukan apakah kita masuk ke masa depan sebagai ‘tuan’ atau sebagai budak digital.

    Jangan salah, ini peperangan. Tetapi bukan antara manusia melawan mesin — melainkan antara manusia melawan hilangnya kemanusiaan sendiri.

    Hari ini, pilihan itu masih ada.
    Besok, mungkin tidak.

    Sebelum layar berikutnya menyala, sebelum notifikasi berikutnya berbunyi, sebelum hidup kita kembali ditarik algoritma… Mari kita bertanya, Apakah saya sedang menggunakan gadget — atau gadget sedang menggunakan saya?

    Jika pertanyaan itu tidak lagi mampu dijawab, maka pertempuran itu telah hilang.

    Kita tidak membutuhkan lebih banyak teknologi. Kita membutuhkan lebih banyak manusia.
    Teknologi seharusnya memperbesar martabat, bukan menggerogotinya. Kita tidak boleh membiarkan masa depan dibangun tanpa jiwa manusia.

    Dunia digital bukan takdir — ia pilihan maka dari itu semua kembali pada kesadaran manusia untuk menggunakannya sebagai alat yang dengan sadar dan batas. Semoga!!!

    *Penulis: Samuel – Dosen Keuangan dan Perbankan_AKUB_ Unika San Agustin.

    Jangan Takut Berorganisasi

    Dok: Senat Mahasiswa AKUB Ponrianak (2025)

    Duta, Pontianak | Di lorong-lorong kampus, seringkali kita mendengar nasihat yang berbisik ragu: “Jangan terlalu sibuk organisasi, nanti nilai turun,” atau “Jangan ikut politik kampus, nanti ribet.”

    Stigma bahwa organisasi adalah “pengganggu” prestasi akademik masih melekat kuat. Terlebih lagi jika bicara soal masuk ke dalam Senat Mahasiswa (SEMA/DPM)—lembaga legislatif atau perwakilan tertinggi mahasiswa. Banyak yang mundur teratur karena takut pada tanggung jawab besar, konflik kepentingan, atau tekanan birokrasi kampus.

    Namun, jika kita menelusuri biografi para tokoh besar—mulai dari menteri, anggota parlemen, hingga CEO perusahaan multinasional—kita akan menemukan benang merah yang sama: Mereka pernah ditempa dalam riuh rendahnya dunia organisasi kemahasiswaan.

    Mengapa kita tidak boleh takut berorganisasi, bahkan menargetkan posisi strategis seperti Senat? Karena di sanalah “laboratorium” kepemimpinan yang sesungguhnya berada. Ada pepatah mengatakan, “Pelaut yang tangguh tidak lahir dari laut yang tenang.” Demikian pula pemimpin.

    Foto: Paulinus Jang, S.E.,M.M. – Dosen Akademi Keuangan dan Perbankan Grha Arta Khatulistiwa, Unika San Agustin.

    Tidak ada pemimpin hebat yang lahir hanya dengan duduk diam di kelas mendengarkan ceramah dosen.

    Organisasi mengajarkan apa yang tidak ada di buku teks: Manajemen Konflik yaitu Menyatukan puluhan kepala dengan ego berbeda untuk satu tujuan.

    Resiliensi yaitu Kemampuan bangkit kembali setelah program kerja dikritik habis-habisan atau gagal terlaksana. Namun, pembelajaran ini mencapai puncaknya ketika Anda memberanikan diri masuk ke ranah yang lebih strategis: Senat Mahasiswa.

    Senat Mahasiswa; Ujian Diplomasi dan Kebijakan. Jika organisasi biasa (UKM/Himpunan) mengajarkan Anda cara membuat acara (event organizer), maka menjadi Senat Mahasiswa mengajarkan Anda cara membuat kebijakan dan perubahan sistem.

    Inilah korelasi kuat antara organisasi kampus dan kepemimpinan tingkat tinggi. Menjadi bagian dari Senat Mahasiswa melatih skill yang sangat langka dan dicari di dunia professional.

    Arsip Dokumentasi, Senat – AKUB – Unika San Agustin

    Disana terdapat Seni Bernegosiasi dan Diplomasi (Advokasi) Sebagai Senat, Anda adalah jembatan antara mahasiswa dan rektorat.

    Anda tidak bisa hanya berteriak demo; Anda harus duduk di meja perundingan. Anda belajar bagaimana menyampaikan aspirasi mahasiswa (soal UKT, fasilitas, kurikulum) dengan data, argumen yang logis, dan etika birokrasi yang tepat agar didengar oleh pimpinan kampus. Ini adalah skill negosiasi tingkat tinggi.

    Terdapat seni berpikir Sistemik (System Thinking) Senat tidak hanya memikirkan satu acara, tapi memikirkan kesejahteraan seluruh mahasiswa. Anda belajar merancang undang-undang kemahasiswaan, mengawasi anggaran organisasi lain (BEM), dan memastikan keadilan berjalan.

    Pemimpin besar selalu memiliki visi makro seperti ini—melihat hutan, bukan hanya pohon. Serta terdapat Mentalitas Melayani di Tengah Kritik Posisi Senat seringkali tidak populer. Jika sukses tidak dipuji, jika gagal dicaci maki.

    Di sinilah mental kepemimpinan Anda diuji. Anda belajar bekerja bukan untuk tepuk tangan, melainkan untuk integritas dan pengabdian.

    Jangan Menjadi Penonton di Kampus Sendiri

    Ketakutan terbesar untuk terjun ke organisasi atau mencalonkan diri sebagai Senat biasanya adalah takut gagal, takut citra rusak, atau takut lelah.

    Padahal, kampus adalah tempat paling aman untuk melakukan kesalahan. Lebih baik Anda salah mengambil keputusan saat menjadi Senat Mahasiswa, daripada salah mengambil keputusan saat menjadi Direktur Perusahaan atau Pejabat Negara yang menyangkut hajat hidup orang banyak. Lebih baik Anda belajar menghadapi konflik politik kampus sekarang, daripada kaget menghadapi politik kantor (office politics) nanti.

    Dunia modern membutuhkan pemimpin yang tidak hanya pintar secara akademik, tetapi juga luwes dalam berdiplomasi dan berani mengambil risiko. Kualitas-kualitas ini tumbuh subur di tanah organisasi.

    Jangan takut lelah, jangan takut dikritik, dan jangan takut mengambil tanggung jawab besar di Senat Mahasiswa. Investasi waktu dan emosi yang Anda tanam hari ini adalah harga yang Anda bayar untuk kapasitas kepemimpinan Anda di masa depan.

    Ingatlah, sejarah tidak mencatat nama mereka yang hanya duduk diam di tribun penonton atau kantin kampus. Sejarah mencatat mereka yang berani turun ke lapangan dan memimpin perubahan. Jadi, beranilah berorganisasi!

    *Penulis: Paulinus Jang, S.E.,M.M. – AKUB _ Unika San Agustin.

    Struktur Organisasi dan Pembagian Kerja

    Ilustrasi Gambar: Menata Struktur untuk Menata Peradaban, (bahan Kuliah Samuel)

    Duta, Pontianak | Tulisan ini kurang lebih membahas tentang dua hal, yang pertama adalah tentang ‘Menata Kerja’ dan kedua ‘Menata Peradaban’.

    Ketika kita berbicara tentang organisasi, sering kali pikiran kita langsung tertuju pada bagan kotak-kotak — direktur, manajer, supervisor, staf. Namun, jika ditarik lebih jauh, organisasi bukan sekadar susunan posisi.

    Ia adalah salah satu penemuan terbesar manusia dalam sejarah peradaban, sejajar dengan bahasa, teknologi, dan pertanian. Tanpa organisasi, manusia mungkin masih hidup terpisah sebagai individu pemburu yang kesepian.

    Organisasi memungkinkan manusia bekerja bersama, menghasilkan sesuatu yang mustahil dilakukan sendirian. Karena itu, ketika kita membahas struktur organisasi dan pembagian kerja, sesungguhnya kita sedang membicarakan fondasi peradaban.

    Pada tingkat paling dasar, organisasi adalah upaya sadar untuk mencapai tujuan melalui kerja kolektif. Tetapi organisasi tidak bekerja dalam ruang hampa; ia membutuhkan struktur.

    Struktur organisasi menentukan siapa melakukan apa, bagaimana tugas dibagi, bagaimana wewenang dan tanggung jawab mengalir, hingga bagaimana keputusan diambil. Struktur organisasi adalah “arsitektur sosial” — rancangan mengenai bagaimana semua bagian bekerja bersama sebagai sebuah kesatuan.

    Di sinilah pembagian kerja memainkan peran fundamental.

    Adam Smith pernah menjelaskan bagaimana pembagian kerja pada pabrik jarum meningkatkan produktivitas secara dramatis satu orang yang membuat jarum dari awal hingga akhir hanya mampu memproduksi beberapa buah per hari tetapi jika proses dipecah menjadi puluhan tugas kecil, hasilnya bisa melonjak ratusan kali lipat.

    Secara ekonomi, pembagian kerja menghasilkan efisiensi, spesialisasi, dan output yang lebih tinggi. Namun pembagian kerja bukan sekadar persoalan ekonomi, ia merupakan persoalan sosial, filosofis, bahkan moral.

    Struktur sebagai Cermin Pandangan tentang Manusia

    Struktur organisasi merefleksikan cara kita memandang manusia. Apakah manusia dipandang sebagai roda kecil dalam mesin raksasa — patuh, dapat diprediksi, hanya menjalankan fungsi?

    Atau manusia dianggap sebagai subjek bebas yang memiliki kreativitas, inisiatif, dan martabat?

    Struktur yang sangat hierarkis mengandaikan bahwa keputusan terbaik hanya bisa berasal dari atas, sementara individu di tingkat bawah hanya perlu menjalankan perintah.

    Struktur seperti ini mungkin efisien dari perspektif kontrol, tetapi rentan menumpulkan kreativitas dan kemerdekaan berpikir.

    Sebaliknya, struktur yang terlalu longgar sering gagal karena kurangnya kejelasan tanggung jawab; semua memiliki suara, tetapi tidak ada yang memikul tanggung jawab.

    Sejarah organisasi adalah sejarah pencarian keseimbangan antara otoritas dan kebebasan, antara kendali dan kreativitas.

    Kita sering lupa bahwa struktur organisasi tidak “netral secara nilai” ia selalu membawa muatan ideologis — tentang siapa yang berhak memerintah, siapa yang layak mendengar, siapa yang boleh berbicara, siapa yang dianggap ahli.

    Oleh: Samuel, S.E., M.M.
    Dosen di Universitas Katolik Santo Agustinus Hippo Kampus II Pontianak, Akademi Keuangan dan Perbankan Grha Arta Khatulistiwa Pontianak

    Struktur sebagai Strategi Mengelola Sumber Daya

    Organisasi juga merupakan institusi ekonomi. Dalam dunia nyata, sumber daya tidak tak terbatas; modal, waktu, tenaga, dan informasi harus dikelola. Di sinilah struktur organisasi berfungsi sebagai mekanisme penjatahan dan koordinasi.

    Struktur yang tepat dapat menekan biaya koordinasi, mengurangi konflik antar fungsi, dan mempercepat pengambilan keputusan.

    Sebaliknya, struktur yang buruk berbiaya mahal. Organisasi tersendat bukan karena kurang modal atau teknologi, tetapi karena mekanisme kerja yang tidak tertata.

    Betapa banyak perusahaan yang tumbang bukan karena krisis pasar, tetapi karena konflik internal, tumpang tindih peran, ambiguitas wewenang, dan birokrasi yang membuat inovasi mustahil.

    Secara ekonomi, pembagian kerja membawa produktivitas, tetapi juga risiko. Spesialisasi yang terlalu ekstrem dapat menciptakan “silo” — setiap divisi bekerja terpaku pada kepentingannya sendiri tanpa memahami tujuan besar organisasi.

    Itulah sebabnya desain struktur organisasi tidak pernah final, ia harus terus menyesuaikan diri dengan perubahan teknologi, kompetisi, dan perilaku konsumen.

    Struktur sebagai Alat Mewujudkan Tujuan

    Jika filosofi memberikan nilai dan ekonomi memberikan alasan, maka manajemen memberikan eksekusi. Dalam perspektif manajemen, struktur organisasi adalah instrumen untuk menyelaraskan strategi, orang, dan proses.

    Manajer yang baik tidak hanya merancang struktur, tetapi memastikan struktur tersebut “hidup” — dipahami, dijalankan, dan dievaluasi.

    Masalahnya: banyak organisasi di Indonesia masih terjebak pada obsesi bagan. Struktur berhenti pada kertas, bukan pada aksi.

    Kotak-kotak dan garis pelaporan dipenuhi, tetapi budaya koordinasi, komunikasi, dan kesalingpercayaan tidak dibangun. Manajer sibuk mempertahankan wilayah kekuasaan, bukan kolaborasi; setiap fungsi mengejar prestasinya sendiri, bukan keberhasilan organisasi secara keseluruhan.

    Padahal struktur organisasi pada akhirnya harus mempermudah orang untuk bekerja lebih baik, bukan menciptakan sarang birokrasi.

    Struktur seharusnya menjadi jembatan untuk menyelesaikan pekerjaan, bukan dinding pemisah antara unit. Organisasi yang baik akan terus bertanya, apakah struktur ini membantu orang mencapai tujuan, atau justru menghambatnya?

    Kegagalan Struktur = Kegagalan Pembagian Kerja = Kegagalan Organisasi

    Ketika struktur tidak jelas, pembagian kerja menjadi kabur. Ketika pembagian kerja kabur, tanggung jawab hilang.

    Ketika tanggung jawab hilang, konflik dan kegagalan menjadi tak terhindarkan. Kita melihat fenomena ini di banyak tempat: institusi pemerintahan, organisasi masyarakat, hingga perusahaan-perusahaan besar.

    Semua pihak mengklaim telah bekerja keras, tetapi organisasi tetap gagal. Masalahnya bukan pada kemalasan atau kurangnya talenta, melainkan pada ketidakjelasan struktur dan pembagian kerja.

    Siapa harus mengerjakan apa? Siapa membuat keputusan? Siapa mengawasi? Bagaimana unit berkomunikasi?

    Jika pertanyaan-pertanyaan ini tidak dijawab, maka organisasi bukan hanya tidak efisien — ia menjadi tempat tumbuhnya kesalahpahaman, kecurigaan, dan ketidakpercayaan.

    Mengembalikan Organisasi kepada Tujuan Manusia

    Pada akhirnya, kita perlu melihat struktur organisasi bukan hanya sebagai mesin ekonomi, tetapi sebagai ruang eksistensial manusia.

    Ketika organisasi sehat, manusia di dalamnya merasa dihargai, mampu berkontribusi, dan menemukan makna melalui kerja. Ketika organisasi sakit, manusia hanya menjadi alat; bekerja bukan untuk berkembang, melainkan untuk bertahan hidup.

    Karena itu, desain struktur organisasi tidak boleh berhenti pada efisiensi, tetapi harus mempertimbangkan martabat manusia.

    Pembagian kerja ideal bukan hanya membagi tugas, tetapi juga membagi peluang — untuk tumbuh, belajar, memberi makna. Struktur organisasi terbaik bukan yang paling rapi di atas kertas, tetapi yang paling manusiawi dalam praktik bukan yang paling hierarkis, tetapi yang paling produktif dalam memuliakan kerja.

    Di tengah dunia yang berubah cepat hari ini — digitalisasi, kecerdasan buatan, dan budaya kerja fleksibel — organisasi ditantang untuk merancang struktur baru yang lebih adaptif. Pertanyaannya bukan lagi sekadar bagaimana membagi kerja, tetapi bagaimana menata kerja agar manusia tetap menjadi pusatnya.

    Organisasi yang mampu menjawab tantangan ini bukan hanya akan memenangkan kompetisi ekonomi, tetapi juga memainkan peran sosial yang lebih mulia: menjadi ruang tempat manusia bekerja sekaligus bertumbuh.

    Struktur organisasi dan pembagian kerja bukan sekadar wacana akademik — ia adalah persoalan pembangunan peradaban.

    Ketika kita merancang struktur, sesungguhnya kita merancang masa depan, bagaimana manusia hidup, bekerja, saling berhubungan, dan menciptakan nilai. Karena itu, organisasi yang baik bukan hanya mencapai tujuan, tetapi juga membangun masyarakat yang lebih beradab.

    Refrensi Bahan Ajar, temu 10 – Pengantar Manajemen – AKUB _ San Agustin.

    Ilmu Ekonomi dan Guna Mempelajarinya

    Dokumentasi Samuel - Tengah Menyampaikan materi Jurnalistik dan Manajemen waktu menulis di SMA N 1 Siantan (Mempawah) - 2025

    Duta, Pontianak | Ekonomi alias economic dalam banyak sumber (literatur) disebut berasal dari bahasa Yunani yaitu kata “Oikos atau Oiku” dan  “Nomos” yang berarti peraturan rumah tangga.

    Dengan kata lain pengertian ekonomi berbicara tentang semua yang menyangkut hal-hal yang berhubungan dengan perikehidupan dalam rumah tangga – tentu saja yang dimaksud dan dalam perkembangannya kata rumah tangga bukan hanya sekedar merujuk pada suatu keluarga yang terdiri dari suami, istri dan anak-anaknya, melainkan juga rumah tangga yang lebih luas yaitu lebih luas yaitu rumah tangga bangsa, negara dan dunia.

    Dalam perkembangan selanjutnya kata ekonomi selalu diidentifikasikan dengan “dapat terjangkau, hemat dan sederhana”, misalnya sering kita mendengan kata “kemasan ekonomi”, atau “kelas ekonomi” dan lain sebagainya. Seiring dengan perkembangan teknologi pemikiran. maka ekonomi dijadikan suatu kata dari suatu ilmu, yaitu Ilmu ekonomi – salah satu fungsinya yakni mengatur “rumah tangga”. Mengapa harus diatur?

    Salah satu kunci kata ekonomi yang membuat ilmu tersebut dapat berkembang, berubah dan menjalar untuk kehidupan konkret adalah “kelangkaan”.

    Maksudnya seperti ini. Secara etimologi bahasa, ekonomi merupakan gambaran apa yang dimaksud di awal paragraf, namun perlu disadari bahwa ekonomi berjalan hingga melahirkan cabang-cabang ilmu lain sebut saja seperti ilmu manajemen pemasaran, keuangan, akuntansi, sumber daya manusia dan mungkin ada cabang-cabang baru berdasarkan trend perkembangan dunia digital dikarenakan satu kata yang memicu ini berkembang. Apakah itu?

    Dokumentasi Samuel – Tengah Menyampaikan materi Jurnalistik dan Manajemen waktu menulis di SMA N 1 Siantan (Mempawah) – 2025

    “Kelangkaan” dari kelangkaan inilah maka segala sesuatu mesti diatur secara terukur dan merata. Karena kebutuhan dan keinginan manusia itu terus berkembang dan berubah – sedangkan penyedia atau ketersediaan barang dan jasa terbatas maka dibutuhkan pengelolaan yang tepat, guna perikehidupan manusia berlangsung.

    Dengan semakin majunya zaman dan pesatnya pembangunan ternyata membawa dampak dan warna sendiri bagi kehidupan manusia, terlebih  di mana kebutuhan berupa sandang dan pangan tidak lagi sesederhana dulu. Telah terjadi pergeseran (perubahan) antara kebutuhan sekarang dengan kebutuhan yang lalu. Pada masa kondisi perekonomian yang marak dan sekarang ditandai oleh semakin berkembangnya sektor industri, mulai dari manufaktur (pengolahan) dan zaman digitalisasi.

    Celakanya, kebutuhan manusiapun – suka atau tidak semakin berubah, bergeser mulai dari kebutuhan primer, sekunder dan tersier (mewah). Konsumsi pangan dan sandang tidak lagi hanya sekedar mengenyangkan perut dan melindungi/ menutupi badan semata, akan tetapi perkembangan ini telah dijadikan sebagai simbol masyarakat tertentu yang menunjukkan status (kekuasaan dan kekayaan).

    Persoalannya kemudian muncul, yaitu ternyata untuk mendapatkan kebutuhan yang diinginkan itu, tidak semua orang bisa dan mampu. Sebab hal ini berhubungan dengan kesempatan dan kemampuan finansial (daya beli). Padahal kemampuan (daya beli) berhubungan dengan seberapa besar uang yang dimiliki.

    Karena banyaknya uang (mendapatkan uang) berhubungan dengan pekerjaan. Masalahnya muncul lagi, tidak semua orang yang bekerja mendapatkan imbalan yang sama besarnya, padahal semua orang pada hakikatnya memilik sifat dan rasa yang sama untuk memiliki dan menikmati produk kebutuhan.

    Sehingga masing-masing orang ‘harus’ menyesuaikan dan mengatur uangnya agar dapat dipergunakan se-efektif mungkin dalam rangka memenuhi kebutuhannya tadi. Dalam selubung ‘kelangkaan’ ini, dapat dikata bahwa segala sesuatu tak terbatas, tetapi alat untuk memuaskan kebutuhan tersebut itulah yang terbatas, maka mesti diatur agar mendapatkan nilai bagi pengguna secara efektif dengan cara (penggunaan uang) yang efisien.

    Dokumentasi Samuel – Tengah Menyampaikan materi Jurnalistik dan Manajemen waktu menulis di SMA N 1 Siantan (Mempawah) – 2025

    Dalam keterangan di atas, disadari atau tidak – sementara kita dapat melihat bahwa yang memegang uang banyak akan memiliki kesempatan yang besar untuk memuaskan kebutuhannya dengan berbagai macam produk. Sementara yang memiliki uang yang sedikit harus (mau atau tidak) puas dengan sekedar memenuhi kebutuhan hidup – untuk bertahan hidup. Kira-kira sampai disini apakah persoalan sudah selesai?

    Pasti dong tidak. Dari sudut pandang yang memiliki uang banyak dihadapkan pada pemilihan kebutuhannya yang juga beragam dengan demikian ia juga harus (mengelola) dapat mengguanakan uangnya untuk kebutuhan yang paling tepat untuk saatnya (prioritas). Sedangkan yang sedikit memiliki uang dihadapkan pada bagaimana menggunakan yang sedikit itu agar dapat bertahan hidup.

    Peran Ilmu Ekonomi

    Jadi masalah yang dihadapi oleh manusia dalam rangka memenuhi kebutuhannya itu tidak terbatas, sementara alat pemuas kebutuhannya terbatas. Di sinilah ilmu ekonomi berperan, karena ilmu ekonomi memberikan pengertian dan dasar bagaimana memenuhi kebutuhan dengan sumber daya yang terbatas.

    Ilmu ekonomi ini tentu saja  dikaji dari pengalaman kehidupan sehari-hari dalam rangka memberikan kebutuhan dan informasi, saran kemudian teknik tentang perilaku manusia dalam pemenuhan kebutuhan masyarakat baik tentang suatu produk maupun pertanyaan tentang bagaimana cara dan tindakan untuk memenuhi kebutuhan tersebut.

    Menurut Prof. P.A Samuelson dalam buku Iskandar Putong, Economics Pengantar Mikro dan Makro, Edisi 4 (2010), dikatakan bahwa ilmu ekonomi adalah suatu studi tentang bagaimana orang-orang dan masyarakat membuat pilihan, dengan atau tanpa penggunaan uang, dengan menggunakan sumber-sumber daya yang terbatas tetapi dapat dipergunakan dalam berbagai cara untuk menghasilkan berbagai jenis barang dan jasa kemudian mendistribusikannya untuk keperluan konsumsi, sekarang dan di masa datang, kepada berbagai orang dan golongan masyarakat.

    Sejalan dengan itu, menurut Sadono Sukirno (1990, h 3) menulis bahwa ilmu ekonomi berperan untuk menganalisa biaya dan keuntungan dan memperbaiki corak penggunaan sumber daya, dalam hal ini adalah sumber daya alam dan manusia.

    Selanjutnya menurut Mankiw dalam bukunya, Principles of Economics (Sixth Edition – 2012) – penulis mengambil intisari singkat  bahwa ilmu ekonomi sebagai “studi tentang bagaimana masyarakat mengelola sumber daya – sumber daya yang selalu terbatas atau langka”.

    Sekarang, secercah kejelasan bahwa ilmu ekonomi itu memusatkan perhatiannya pada bagaimana perilaku manusia memenuhi kebutuhannya, yang dalam usaha mendapatkannya dibutuhkan pengorbanan karena ketersediaanntya yang terbatas alias langka.

    Oleh karenanya pokok dari ilmu ekonomi ini menilik pada perhatian dan analisanya pada barang-barang (sesuatu) yang berguna bagi manusia (baik langsung atau tidak langsung) dan langka (scarcity). Semoga!!!

    *Penulis: Samuel – Dosen Akademi Keuangan dan Perbankan Grha Arta Khatulistiwa, Universitas Katolik Santo Agustinus Hippo, Kampus II Pontianak. 

    Mahasiswa dan Tantangan Menjadi Versi Terbaik dari Diri

    Foto: Fernando Diansi

    Duta, Landak | Menjadi mahasiswa adalah sebuah perjalanan Panjang yang tidak hanya menuntut kemampuan akademik, tetapi juga kekuatan mental, ketegasan dalam mengambil keputusan, serta kemauan untuk berkembang.

    Dalam dunia perkuliahan yang serba cepat dan penuh tantangan, setiap mahasiswa memiliki kesempatan untuk bertumbuh menjadi pribadi yang lebih matang.

    Masa kuliah bukan hanya soal mengikuti jadwal kelas lalu pulang ini soal membangun diri dari awal, soal mengelola harapan, tekanan, dan pilihan yang belum pernah di hadapi sebelumnya. Tantangan terbesar bukan sekadar mengejar IPK tinggi, tetapi bagaimana menjadi versi terbaik dari dirinya sendiri.

    1. Tantangan manajemen diri

    Salah satu aspek kunci dalam menjadi versi terbaik dari diri sendiri adalah kemampuan manajemen diri (Self-management).

    Mahasiswa harus mengatur waktu, menetapkan tujuan, dan mengevaluasi kemajuan secara mandiri. Menurut studi tentang manajemen diri dalam konteks mahasiswa, aspek-aspek seperti pengaturan waktu, motivasi diri, dan evaluasi diri sangat krusial untuk pencapaian akademik (Hutagaol, 2023).

    Dalam (Journal et al., 2024), menegaskan bahwa manajemen diri memungkinkan mahasiswa mengatur waktu, mengidentifikasi tujuan, menganalisis masalah serta mengelola diri secara efektif. Tanpa kemampuan ini pontensi mahasiswa tercecer ditengah beban akademik, sosial, dan finasial.

    1. Membongkar dan menggali potensi diri

    Menjadi versi terbaik berarti mengenali kekuatan dan kelemahan diri sendiri. Tanpa pemahaman itu, sulit untuk tumbuh secara autentik. (Journal et al., 2024) menuliskan bahwa program sosialisasi untuk mengenal diri sendiri dan menggali potensi sangat penting dalam pemberdayaan mahasiswa. Dengan kesadaran potensi diri, mahasiswa bisa menetapkan arah hidup yang jelas dan relevan dengan bakat dan minat mereka.

    Sementara itu, di ranah psikologi positif, sebuah artikel (Fath et al., 2025), menyatakan bahwa menjadi versi terbaik dari diri sendiri dapat dicapai dengan “mengenali strength dan virtues” (kekuatan karakter dan Kebajikan) dalam diri seseorang. Konsep kekuatan karakter ini memberi fondasi moral dan psikologis untuk mahasiswa agar tidak hanya berkembang, tetapi berkembang dengan intergritas.

    1. Pengembangan kepemimpinan dan Soft Skills

    Tidak cukup hanya berprestasi akademik. Untuk menjadi versi terbaik diri sendiri, mahasiswa perlu mengasah keterampilan kepemimpinan dan pengembangan diri (self development).

    Penelitian oleh (Salim & Fakhrurrozi, 2020), menyatakan bahwa pengembangan soft skill merupakan keharusan mutlak bagi calon pemimpin dan profesional untuk mencapai kinerja yang maksimal dan sukses dalam menghadapi tantangan dunia kerja modern.

    Keteramapilan juga mebantu mahasiswa untuk memperngaruhhi dan mengorganisir, tetapi pengembangan diri (self- development), memastikan bahwa kepemimpinan itu berbasis nilai, kesadaran diri, dan keinginan untuk terus tumbuh.

    1. Keberanian dan karakter di era modern

    Menjadi versi terbaik dari sendiri tidak selalu nyaman. diperlukan keberanian untuk menghadapi kegagalan, tantangan, dan ketidakpastina.

    Menurut (Hutabarat, 2019), menekankan bahwa Pendidikan dan penguatan karakter menjadi sangat penting dan mendesak (urgensi) sebagai pondasi bagi generasi muda untuk menghadapi tantangan dan dampak negatif dari perkembangan teknologi dan globalisasi yang pesat.

    Keberanian ini bukan hanya untuk berani mngambil risiko, tetapi juga untuk menjadi diri sendiri, perpegang pada prinsip, dan tetap tegar dalam badai tekanan sosial.

    1. Efikasi diri dan resiliensi akademik

    Untuk terus berkembang, mahasiswa perlu memiliki efikasi diri keyakinan bahwa mereka bisa mengatasi tantangan dan berhasil. Dalam kajian literatur oleh (Marlinda et al., 2025),  efikasi diri terbukti berperan signifikan dalam kesiapan mahasiswa untuk menghadapi tugas professional (misalnya menjadi guru), karena membantu membangun kepercayaaan, motivasi, dan adaptasi.

    Lebih jauh, dalam konteks tugas akhir dan beban akademik, sebuah studi pada mahasiswa menunjukan bahwa peofil “resiliensi akademik” sangat penting.

    Ketika mahasiswa menyadari kekuatan dalam diri mereka, mereka bisa mengurangi stress akademik dan tetap optimistis. (Luh et al., 2025), menyatakan ini adalah inti dari menjadi versi terbaik, bukan hanya meraih sukses, tetapi mampu bangkit dari kegagalan dan terus maju meski tekanan berat.

    1. Self-Determination dan ketekunan belajar

    Mahasiswa saat ini hidup di era digital dengan gangguan besar: media sosial, distrak, dan ekspektasi yang tinggi. Agar tetap focus dan berkembang, mereka butuh motivasi intrinsic dan otonomi terhadap tujuan hidup mereka.

    Kajian (Badriah, 2025), menunjukan bahwa “self- determination” (penentuan diri sendiri) sangat berkontribusi pada ketekunan belajar mahasiswa di era digital.

    Ketika mahasiswa merasa memiliki control atas pembelajaran mereka, mereka lebih gigih dan tekun dalam mengejar tujuan jangka Panjang.

    1. Mengubah Tantangan Menjadi Peluang

    Sikap mental sangat menentukan apakah tantangan menjadi beban atau batu loncatan.

    Dalam sebuah tulisan di kompasiana berjudul “kampus kehidupan: seni mengubah tantangan menjadi peluang,” di katakana bahwa setiap masalah di kampus bisa menjadi kelas terbaik untuk membentuk versi diri yang lebih kuat. Dengan self-love, kesabaran, dan keyakinan atas diri sendiri, mahasiswa bisa menyalurkan kegagalan menjadi motivasi, dan kegelisahan menjadi energi produktif.

    1. Tantangan eksistensial dan tekanan sosial

    Selain tekanan akademik, mahasiswa menghadapi beban sosial: harapan orang tua, perbandingan media sosial, dan keraguan identitas diri. Saat mereka berusaha menjadi versi terbaik, kadang muncul pertanyaan, siapa “diri terbaik” itu? Apakah versi terbaik berarti mengikuti ekspektasi sosial, atau menemukan definisi mereka sendiri?

    Mereka perlu melawan tekanan eksternal dan menemukan definisi sukses menurut versi diri sendiri.

    1. Solusi dan Refleksi

    Bangun komunitas positif bergaul dengan teman yang suportif, yang juga punya visi untuk berkembang dan menjadi lebih baik, tetapkan tujuan jangka Panjang bukan hanya IPK atau karier, tetapi siapa yang ingin kamu jadi sebagai manusia apa nilai-nilai yang peting untukmu, dan juga belajar dari kegagalan, tidak takut mencoba, dan memaknai tantangan sebagai proses pembelajaran.

    1. Kesimpulan

    Menjadi versi terbaik dari diri sendiri mahasiswa adalah perjalanan yang penuh liku. Tantangan bukan hanya akdemik, tetapi meliputi manajemen diri, efikasi, kepemimpinan, ketahan mental, dan identitas diri.

    Namun, tantangan tersebut juga membuka peluang besar untuk tumbuh lebih dewasa, lebih sadar akan pontesi, dan lebih siap menghadapi dunia setelah kampus.

    Mahasiswa yang mampu mengelola diri, mengenali keunikan mereka, mengembangkan karakter, dan merespons tekanan dengan refleksi positif sedang menapaki jalan untuk versi terbaik dari diri mereka sendiri. Mungkin tidak mudah, dan mungkin butuh waktu tetapi hasilnya jauh lebih berarti dari pada sekadar gelar.

    *Penulis: Fernando Diansi adalah Mahasiswa PJKR Di Univeritas Katolik Santo Agustinus Hippo Kampus 1  Ngabang, Fakultas Keguruan Dan Ilmu Pendidikan ( Ngabang Kabupaten Landak) 

     

    Saatnya Mahasiswa Lulusan Baru Memahami Aset dan Rencana Keuangan

    Foto: Agustinus Pabayo, S.Pd saat bertugas. (Landak) - 2025

    Duta, Landak | Krisis 2030 adalah isu yang tidak dapat kita sepelekan. Sebuah dokumen dari Forum Ekonomi Dunia (2023) mengutarakan bahwa dunia akan masuk ke dalam “Great Reset” dengan berbagai tantangan, seperti inflasi global di kisaran 5-7% setiap tahunnya, fluktuasi harga barang akibat perubahan iklim, serta hilangnya pekerjaan akibat pengaruh AI dan dinamika politik global (contohnya ketegangan perdagangan antara AS dan Tiongkok).

    Di tanah air, Bank Indonesia memprediksi pertumbuhan ekonomi akan melambat menjadi 4-5% jika kita tidak segera melakukan perubahan. Semua ini menandakan bahwa dunia menuju fase ekonomi baru yang penuh ketidak pastian serta mahasiswa seperti Anda harus bersiap-siap.

    Bagi mahasiswa dan lulusan yang baru, keadaan ini merupakan sinyal bahwa kita perlu memberi perhatian serius.

    Kenapa? Sebab Anda baru mulai menapaki jalur karier, keuangan, dan hidup masa depan.

    Jika Anda tidak mengelola sumber daya yang ada sejak awal dengan bijaksana, konsekuensinya bisa sangat panjang, bahkan sebelum Anda merasa stabil secara keuangan. Bayangkan saja: gaji awal Rp5-7 juta per bulan dapat habis hanya dalam beberapa tahun jika tidak dikelola dengan tepat.

    1. Tidak Semua Aset itu Aman

    Banyak individu percaya bahwa menyimpan uang di lembaga keuangan atau menginvestasikan kepada barang-barang seperti properti atau kendaraan adalah strategi paling aman untuk melindungi kekayaan mereka. Namun, pada kenyataannya, tidak semua jenis aset dapat bertahan menghadapi tantangan ekonomi.

    Beberapa di antaranya bisa menjadi sekadar beban keuangan yang perlahan mengikis nilai uang Anda contohnya, barang-barang elektronik yang baru dibeli yang nilainya bisa merosot antara 30-50% dalam waktu setahun, atau tabungan konvensional yang mengalami penurunan nilai sebesar 3-5% setiap tahun akibat inflasi tanpa memberikan keuntungan yang nyata.

    Bagi mahasiswa atau alumni baru, sangat krusial untuk memahami mana aset yang “memberdayakan” dan mana yang “menyesatkan”.

    Aset yang memberdayakan mencakup elemen-elemen yang mampu menghasilkan nilai baru, seperti keterampilan pemrograman yang dapat mendatangkan pendapatan Rp10-20 juta per bulan sebagai freelancer, jaringan profesional di LinkedIn yang membuka pintu untuk kesempatan berkarir, pengetahuan finansial yang diperoleh dari buku-buku seperti “Rich Dad Poor Dad”, atau investasi dalam reksa dana yang memberikan imbal hasil sebesar 7-10% setiap tahun.

    Sebaliknya, aset yang menyesatkan meskipun tampak berharga di awal (seperti mobil mahal untuk menunjukkan status), tidak berkontribusi pada peningkatan nilai seiring berjalannya waktu. Mulailah dengan menganalisis aset-aset Anda: apa yang benar-benar mengalami pertumbuhan?

    1. Kesalahan Umum yang Dilakukan Anak Muda Saat Menghadapi Krisis

    Banyak generasi muda terjebak dalam dua kesalahan utama: Pengambilan keputusan investasi yang tidak tepat: Terpancing oleh mode yang sedang tren seperti perdagangan kripto atau saham tanpa memahami prinsip dasarnya, atau hanya meniru langkah investasi orang lain tanpa menganalisis resikonya.

    Sebuah penelitian dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK, 2023) menunjukkan bahwa banyak pemuda di Indonesia kehilangan uang karena ketakutan kehilangan tren yang mereka lihat di aplikasi seperti TikTok, di mana banyak di antara mereka mengalami kerugian antara 20-50% dari investasi mereka.

    Seperti yang saya dengar dari Fawzi di Festival Literasi Keuangan di Universitas Bengkulu yang dilaporkan di majalah daring TEMPO pada Jumat, 27 September 2024, ia menyampaikan, “Selain memahami risikonya, mahasiswa perlu menyadari untuk apa mereka membutuhkan uang. Jangan hanya mengikuti arus dan melakukan tindakan yang berisiko. Apabila Anda memiliki sedikit uang, jangan habiskan semua untuk belanja. ”

    Manajemen yang buruk terhadap aset yang Anda miliki: Menggunakan pendapatan baru untuk membeli barang-barang yang sifatnya tidak awet, seperti perangkat baru, gaya hidup glamor untuk konsumsi media sosial, atau kendaraan, tanpa merenungkan kestabilan finansial di masa depan.

    Nyatanya, sebuah riset dari Bank Dunia (2022) menyatakan bahwa 40% anak muda yang baru lulus di kawasan Asia Tenggara menghabiskan seluruh uang mereka setiap bulannya akibat pembelian yang dilakukan tanpa pertimbangan.

    Menghadapi tantangan bukanlah soal memiliki banyak dana; sebaliknya, ini berhubungan dengan bagaimana kita mempersiapkan diri serta memahami dinamika ekonomi global. Atasi masalah ini dengan mengikuti strategi 50/30/20: alokasikan 50% untuk kebutuhan pokok, 30% untuk hal-hal yang diinginkan, dan 20% untuk simpanan atau investasi.

    1. Saatnya Memusatkan Perhatian pada Aspek yang Dapat Bertahan di Masa Sulit

    Alih-alih terfokus pada “Krisis 2030”, manfaatkan periode ini untuk memperbaiki keadaan finansial Anda. Salurkan dana Anda ke dalam “pengembangan keterampilan dan pengetahuan tambahan” hal-hal yang tidak akan terpengaruh oleh krisis apa pun.

    Sebagai contoh, pelajari cara menganalisis data lewat kursus gratis di Google Digital Garage; keahlian ini diperkirakan akan sangat dibutuhkan dalam 70% pekerjaan di masa mendatang, menurut McKinsey&Company (2023) https://www.mckinsey.com › capabilities › our-insights.

    Ciptakan beragam metode untuk menghasilkan uang: jangan hanya mengandalkan satu pekerjaan atau sumber pendapatan; coba lakukan “pekerjaan tambahan” seperti menciptakan konten online atau memberikan les privat, yang dapat menambah pemasukan sekitar Rp2-5 juta per bulan.

    Pahami prinsip dasar manajemen keuangan: pahami perbedaan antara investasi jangka pendek (seperti deposito satu tahun, berisiko rendah dengan pengembalian 4-6%), jangka menengah (reksa dana campuran, 8-12%), dan jangka panjang (saham yang berkualitas tinggi, dengan kemungkinan pengembalian 15%+ meskipun fluktuatif).

    Tingkatkan cara pikir finansial Anda dengan belajar untuk menunggu apa yang Anda kehendaki (menunda untuk memperoleh sesuatu segera), atur pengeluaran Anda menggunakan aplikasi seperti Finansialku, dan pertimbangkan dengan matang tentang uang. Mulailah dari hal kecil: sisihkan Rp100. 000 setiap bulan untuk kebutuhan darurat.

    1. Krisis Sebagai Ujian dan Kesempatan

    Sejarah telah berulang kali menunjukkan bahwa setiap krisis besar menciptakan dua tipe individu: mereka yang kehilangan segalanya, dan mereka yang berhasil menggandakan kekayaan mereka karena mampu melihat kesempatan di tengah kondisi yang sulit.

    Contohnya, Krisis Keuangan Global 2008; saat banyak lembaga keuangan besar mengalami kebangkrutan, investor foresight seperti Warren Buffett malah memanfaatkan penurunan pasar untuk membeli aset berkualitas dengan harga miring, secara signifikan memperkaya portofolionya.

    Di Indonesia, terdapat banyak kisah yang menginspirasi. Saat Krisis Moneter 1998 menyerang, banyak perusahaan besar tutup.

    Namun, krisis tersebut juga menjadi pendorong lahirnya sejumlah inovator dan wirausahawan baru. Misalnya, beberapa bisnis UMKM yang saat ini menjadi besar di sektor makanan atau fesyen memulai perjalanan mereka dari keterbatasan akibat krisis tersebut, mengandalkan inovasi dan adaptasi.

    Dengan cara yang sama, di tengah pandemi COVID-19, ketika banyak sektor mengalami penurunan, industri digital, e-commerce, dan logistik justru merasakan lonjakan pertumbuhan, menciptakan miliaran dolar kekayaan baru serta membuka peluang kerja.

    Ini menegaskan bahwa suatu krisis bukanlah sebuah akhir, melainkan merupakan penyaring dan pengganda. Kamu memiliki pilihan untuk berada di satu sisi: menjadi bagian dari mereka yang gagal, atau menjadi bagian dari mereka yang menemukan kesempatan di balik setiap kesulitan.

    Persiapan finansial dan mental yang kita bangun saat ini adalah kunci untuk bergabung dengan kelompok yang kedua. Ingatlah, bertahan di tengah krisis bukan tentang siapa yang memiliki kekayaan terbanyak, tetapi tentang siapa yang paling siap, paling fleksibel, dan paling berani mengambil langkah-langkah strategis.

    Persiapan itu dimulai dari sekarang, melalui setiap pilihan finansial kecil yang kamu ambil hari ini dan dari kemampuanmu untuk terus belajar serta berinovasi. Langkah awal: buatlah rencana keuangan untuk enam bulan ke depan. Apakah kamu sudah siap?

    *Penulis: Agustinus Pabayo, S.Pd adalah Tendik Di Univeritas Katolik Santo Agustinus Hippo Kampus 1  Ngabang, Fakultas Keguruan Dan Ilmu Pendidikan ( Ngabang Kabupaten Landak).   

    TERBARU

    TERPOPULER