Duta, Pontianak | Setiap hari kita bangun, dan hal pertama yang menyentuh tubuh kita bukan lagi tangan orang yang kita cintai, bukan udara pagi, bukan cahaya matahari — tetapi layar dingin sebuah gadget.
Kita bukan lagi makhluk yang memegang teknologi, teknologi kini yang menggenggam kita. Dalam masyarakat yang semakin terhipnotis oleh notifikasi, kita diajarkan untuk percaya bahwa kita pengguna aktif smartphone. Namun kenyataannya satu, kitalah produk yang diperjualbelikan.
Perusahaan teknologi tidak lagi menjual barang. Mereka menjual perhatian, waktu, dan perilaku manusia. Kita menatap layar — mereka menambang data. Kita klik tautan — mereka menghitung uang.
Kita menggeser layar tanpa henti — mereka memperpanjang jam kerja algoritma yang mempelajari ketakutan, hasrat, kecemasan, dan mimpi kita. Konsekuensinya jauh lebih besar daripada sekadar “kecanduan gadget”. Kita sedang memasuki era baru dalam sejarah manusia, era di mana kesadaran dijinakkan oleh layar.
Perang sunyi antara manusia dan algoritma
David Chalmers dalam Reality+ (2022) menulis bahwa realitas digital kini begitu kuat sehingga tidak lagi hanya mewakili dunia — ia menggantikannya.
Ketika lebih banyak orang merasa “hidup” di media sosial dibandingkan kehidupan nyata, kita melihat bukan perkembangan, tetapi pelepasan diri dari kenyataan. Dunia virtual menawarkan hal-hal yang dunia nyata tidak lagi sudi memberikan, validasi instan, hiburan tanpa batas, dan pelarian dari luka eksistensial.
Namun sebagaimana dikemukakan Kate Crawford dalam Atlas of AI (2021), di balik kesenangan digital ada struktur kekuasaan yang brutal — manusia hanyalah bahan bakar bagi kecerdasan buatan yang terus memperkaya korporasi global.
Kita kira kita sedang “menggunakan” teknologi. Sebenarnya teknologi sedang menggunakan kita.

Dosen di Universitas Katolik Santo Agustinus Hippo Kampus II Pontianak, Akademi Keuangan dan Perbankan Grha Arta Khatulistiwa Pontianak
Disilaukan cahaya layar
Jean Twenge dalam iGen (2017) menunjukkan bagaimana generasi remaja pasca-1995 tumbuh dengan tingkat kecemasan dan kesepian tertinggi dalam sejarah, namun ironisnya berada dalam koneksi sosial terbanyak secara virtual. Kita telah membesarkan generasi yang tidak mampu bersanding langsung tanpa layar, tetapi bisa berselisih tajam lewat teks. Kita menciptakan anak-anak yang menguasai teknologi, tetapi gagal menguasai diri.
Kita menyebut gadget sebagai alat komunikasi. Tetapi budaya yang dihasilkannya semakin bisu secara emosional. “Typing…” telah menggantikan percakapan. Emoji menggantikan empati. Unggahan menggantikan pertemuan. Hubungan terasa dekat, namun hati terasa jauh.
Gadget bukan netral. Perangkat lunaknya dirancang untuk ketagihan. Setiap notifikasi, suara kecil, angka “like”, dan guliran tak berujung dibuat untuk merekayasa sistem dopamin.
Hal yang paling utama menjadi tolak pikir kita bahwa, “kita tidak kecanduan gadget — gadget sengaja didesain untuk membuat kita kecanduan.”
Silverman dalam The Smartphone Society (2019) menyebutnya sistem behavioral extraction: aplikasi mempelajari pola psikologis manusia bukan untuk membebaskan, tapi untuk mengeksploitasi. Kecanduan bukan kecelakaan — ia adalah fitur bisnis.
Ketika kita berpikir gadget memudahkan hidup, manajemen teknologi justru melihatnya sebagai mekanisme pengendalian perilaku.
Peppard & Edwards (2019) menjelaskan bahwa di era digital, keberhasilan perusahaan tidak lagi ditentukan oleh penjualan, tetapi oleh kemampuan mempertahankan pengguna selama mungkin dalam ekosistem.
Kita dikurung — hanya saja penjaranya estetis.
Hidup yang didikte algoritma
Apa yang kita baca, siapa yang kita temui, apa yang kita beli, bahkan apa yang kita anggap “kebenaran” — semuanya ditentukan algoritma.
Internet bukan lagi jendela informasi — ia telah menjadi filter bias. Kita diberi ilusi pilihan, padahal setiap klik telah diprediksi sebelum kita mengambil keputusan.
Vrgovic & Vidicki (2018) menulis bahwa dalam manajemen teknologi modern, manusia bukan lagi pusat inovasi, melainkan objek pemetaan. Kita semakin jelas bukan subjek berdaulat, kita sama saja seperti variabel statistik.
Di titik ini, pertanyaan wajar muncul, apakah kita benar-benar berpikir sendiri — atau kita hanya mengulang apa yang algoritma ingin kita pikirkan?
Krisis paling berbahaya yakni kehilangan batin
Masalah gadget bukan sekadar budaya malas membaca, turunnya fokus, atau kesehatan mata. Yang jauh lebih berbahaya adalah hilangnya keheningan batin. Kita tidak lagi tahan pada kesunyian. Kita tidak lagi terbiasa bercakap dengan diri sendiri. Kita tidak lagi mampu merasa tanpa distraksi.
Manusia yang kehilangan keheningan adalah manusia yang kehilangan kedalaman.
Kita menyembunyikan kesepian dengan hiburan, kecemasan dengan notifikasi, luka batin dengan belanja daring. Kita tidak mencari ketenangan; kita mencari pelarian. Kita tidak mencari makna; kita mencari stimulasi.
Solusinya bukan demonisasi teknologi — tetapi pembebasan manusia
Teknologi tidak jahat. Gadget bukan musuh. Musuh kita adalah sistem yang mengubah manusia menjadi sumber daya ekonomi berbasis perhatian. Maka solusinya bukan “kurangi layar” atau “jadwalkan detoks digital” — itu pendek, moralistik, dan tidak struktural.
Solusinya harus dimulai dari kesadaran radikal:
- Bangun kembali subjektivitas manusia. Kita harus menghidupkan kembali kemampuan untuk berpikir, merasa, dan memilih tanpa dikendalikan algoritma.
- Kembalikan relasi manusia. Pelukan lebih kuat dari emoji; percakapan lebih penuh dari komentar.
- Rebut kembali waktu. Waktu adalah aset paling berharga yang sedang dicuri pasar digital.
- Gunakan teknologi sebagai alat — bukan identitas. Gadget harus kembali menjadi objek; bukan penentu harga diri.
Pertarungan terbesar manusia abad ini
Penulis lain, Kevin Kelly (2016) mengatakan bahwa evolusi teknologi tidak akan berhenti. Kita tidak bisa melawan masa depan. Tetapi kita bisa menentukan apakah kita masuk ke masa depan sebagai ‘tuan’ atau sebagai budak digital.
Jangan salah, ini peperangan. Tetapi bukan antara manusia melawan mesin — melainkan antara manusia melawan hilangnya kemanusiaan sendiri.
Hari ini, pilihan itu masih ada.
Besok, mungkin tidak.
Sebelum layar berikutnya menyala, sebelum notifikasi berikutnya berbunyi, sebelum hidup kita kembali ditarik algoritma… Mari kita bertanya, Apakah saya sedang menggunakan gadget — atau gadget sedang menggunakan saya?
Jika pertanyaan itu tidak lagi mampu dijawab, maka pertempuran itu telah hilang.
Kita tidak membutuhkan lebih banyak teknologi. Kita membutuhkan lebih banyak manusia.
Teknologi seharusnya memperbesar martabat, bukan menggerogotinya. Kita tidak boleh membiarkan masa depan dibangun tanpa jiwa manusia.
Dunia digital bukan takdir — ia pilihan maka dari itu semua kembali pada kesadaran manusia untuk menggunakannya sebagai alat yang dengan sadar dan batas. Semoga!!!
*Penulis: Samuel – Dosen Keuangan dan Perbankan_AKUB_ Unika San Agustin.




