Friday, March 6, 2026
More

    Kebebasan Digital dan Krisis Kemanusiaan

    Duta, Pontianak | Dalam satu dekade terakhir, gadget telah menjelma dari sekadar alat elektronik menjadi bagian intim dari diri manusia. Gadget bangun bersama kita, tidur bersama kita, bekerja bersama kita.

    Celakanya ia menemani obrolan, makan malam, perjalanan, bahkan ibadah. Kita mengandalkannya untuk berkomunikasi, mencari informasi, memotret, membayar, menghibur diri, hingga membangun identitas digital. Muncul persepsi bahwa kita mungkin tidak lagi memegang gadget—kitalah yang dipegang olehnya.

    Sekarang dilema mulai dari pertanyaan ini, apakah gadget mempermudah hidup kita, ataukah kita sedang pelan-pelan dikendalikan olehnya?

    Identitas Manusia Terbelah

    Dalam buku David Chalmers, Reality (2022) mengatakan bahwa dunia digital bukan ruang palsu melainkan “realitas lain” yang memiliki konsekuensi nyata. Kita hidup secara bersamaan dalam dua dunia, hal itu relevan dalam dunia fisik dan dunia digital. Disini, maka terbentuklah dua identitas, aku yang offline dan aku yang online.

    Aduhai – sayangnya batas keduanya kian samar, Identity curation  yang merupakan upaya merawat citra diri digital seolah mendorong kita untuk selalu tampil, membuktikan eksistensi melalui unggahan, reaksi, like, komentar. Secara sosial, kita mungkin hadir di ruangan yang sama, tetapi secara psikis pikiran kita melayang ke dunia digital.

    Hal itu menimbulkan fenomena yang oleh para psikolog disebut absence presence, artinya kita hadir secara fisik, tetapi tidak benar-benar hadir di dunia nyata.

    Selaras dengan itu, Kevin Kelly dalam The Inevitable (2016) menyatakan bahwa perkembangan teknologi bersifat tak terelakkan, namun ironinya yang tak terhindarkan ini tidak selalu menghadirkan kebebasan bagi manusia. Dalih bahwa kita merasa bebas karena gadget memudahkan segala hal, padahal kita juga semakin tak berdaya tanpanya.

    Mulai dari alarm, peta, kamera, dompet, perpustakaan, jam, catatan, permainan—semua dilebur ke dalam satu layar. Hidup menjadi efisien, tetapi ‘kerapuhan’ kita meningkat. Kita mudah cemas saat baterai hampir habis lalu muncul kegelisahan jika notifikasi berhenti maka ketakutan jika koneksi terputus.

    Celakanya, Gadget yang didesain untuk memperkuat otonomi manusia justru menciptakan ketergantungan emosional.

    Oleh: Samuel, S.E., M.M.
    Dosen di Universitas Katolik Santo Agustinus Hippo Kampus II Pontianak, Akademi Keuangan dan Perbankan Grha Arta Khatulistiwa Pontianak

    Dimensi yang Tak Terlihat

    Sama halnya seperti yang dikatakan Kate Crawford dalam Atlas of AI (2021) bahwa fakta teknologi tidak netral. Ada struktur kuasa di baliknya, artinya perusahaan raksasa, algoritma, iklan, dan data menjadikan perhatian manusia sebagai komoditas ekonomi terpenting masa kini.

    Jika notifikasi bukan bentuk komunikasi, maka ia adalah pemanggil perhatian yang dirancang untuk mengintervensi kesadaran, dengan kata lain ketika kita berpikir bahwa kita sedang memilih konten, sesungguhnya kontenlah yang sedang memilih kita.

    Inilah paradoks terbesar era digital, ‘kita merasa bebas, padahal kita sedang diarahkan’.

    Meminjam pikiran Jean Twenge dalam iGen (2017) meneliti anak muda yang tumbuh bersama gadget. Ia menyimpulkan bahwa generasi sekarang sekurang-kurangnya ada 3 hal,  pertama ebih toleran. Kedua, lebih paham teknologi dan yang ketiga adalah kondisi lebih kesepian, lebih cemas, dan kurang percaya diri.

    Rasa kebahagiaan generasi digital menurun bukan karena kesulitan ekonomi atau sosial, melainkan karena ‘hidup mereka selalu terhubung dan selalu dibandingkan’. Media sosial membuat kita tidak hanya melihat pencapaian orang lain, tetapi juga membandingkannya dengan diri sendiri sepanjang waktu.

    Kita semakin terhubung secara digital, tetapi semakin terasing secara emosional maka tak heran jika di sini muncul fenomena kesunyian modern, sebuah kesepian yang ironis karena muncul bukan dari ketiadaan komunikasi tetapi dari berlimpahnya komunikasi.

    Masalah Individu atau Sosial? Ini soal Efisiensi Melelahkan

    Sekilas lihat resume dari buku Handbook of Research on Society and Technology Addiction (2023) menegaskan bahwa kecanduan gadget bukan sekadar kelemahan personal, melainkan fenomena sosial yang dibentuk industri teknologi.

    Mulai notifikasi dibuat untuk memicu dopamin ditambah fitur infinite scroll yang seakan menghilangkan titik berhenti alami bahkan aplikasi sebenarnya sudah tampak ‘telanjang’ dimata yang sengaja dibuat agar tidak pernah selesai.

    Ketika penggunaan gadget bukan lagi pilihan, tetapi dorongan kompulsif seolah kita telah memasuki wilayah adiksi. Dalam dunia manajemen, gadget juga membawa dua sisi mata uang, sebagaimana yang dituliskan oleh Turban dkk. (2018) mencatat bahwa gadget meningkatkan produktivitas, mempercepat komunikasi, dan mendukung kerja jarak jauh, namun konsekuensinya tidak kecil yakni digital burnout.

    Karyawan bekerja dari rumah, tetapi rumah bukan lagi rumah hal itu berubah menjadi kantor yang tak pernah tutup. Jika Turban, dkk menuliskan tentang digital burnout maka Peppard (2019) menegaskan bahwa organisasi perlu mengatur digital hygiene dengan kebijakan jam bebas notifikasi, pelatihan literasi digital, dan manajemen waktu layar.

    Jika institusi pendidikan dan perusahaan ingin menjaga kesehatan mental penggunanya, kebijakan digital bukan lagi pilihan—melainkan keharusan.

    Keseimbangan

    Saya pernah merenung bagaimana jika kita kembali ke settingan dimana semua manual, namun hal itu tampak sia-sia, sebab faktanya kita tidak mungkin kembali ke masa sebelum gadget.

    Yang bisa kita lakukan sekarang adalah beriringan bersama  dengan perkembangan zaman yang semakin kompleks, tetapi kita juga tidak boleh membiarkan gadget mengambil alih kemanusiaan kita. Solusinya bukan demonisasi teknologi, tetapi kesadaran digital.

    Beberapa langkah kecil namun berdampak:

    1. Zona tanpa gadget — kamar tidur, ruang makan, gereja/masjid, dan ruang keluarga.
    2. Waktu offline harian — 1–2 jam tanpa layar untuk membaca, olahraga, atau hening.
    3. Notifikasi sadar — matikan notifikasi yang tidak mendesak.
    4. Hening digital mingguan — satu hari tanpa media sosial.
    5. Mengukur screen time — bukan untuk menghukum, tetapi untuk memulihkan kendali.

    Sekarang yang perlu kita pulihkan bukan akses teknologi—melainkan akses atas perhatian, keheningan, dan relasi manusia.

    Akhir kata, teknologi adalah berkah tetapi seperti semua berkah, ia datang dengan harga. Kehilangan perhatian berarti kehilangan kendali atas diri sendiri maka kehilangan keheningan berarti kehilangan kemampuan berpikir, sekarang jika kehilangan relasi berarti kehilangan kemanusiaan.

    Gadget tidak akan berhenti meminta perhatian kita, pertanyaannya apakah kita berani berhenti sejenak untuk kembali kepada diri sendiri?

    Pada akhirnya, dilema gadget bukan tentang teknologi, tetapi tentang manusia. Tentang bagaimana kita ingin hidup dan tentang siapa yang memegang kendali. Sekarang kita mesti berani untuk  mengatakan “Saya hadir—di sini, sekarang—bukan di balik layar.” Semoga!!!

    *Penulis: Samuel – Dosen Keuangan dan Perbankan Grha Arta Khatulistiwa, UNIKA San Agustin.

    Related Articles

    spot_img
    spot_img

    Latest Articles