Saturday, June 6, 2026
More
    Home Blog Page 22

    Turnamen Internal Kampus Merajut Silaturahmi dan Memperkuat Institusi

    Dokumentasi : AKUB Futsal Tournament 2025

    Duta, Pontianak | Setiap tahun ajaran, hampir semua Perguruan Tinggi disibukkan dengan berbagai ajang kompetisi internal, mulai dari turnamen futsal, basket, catur, hingga lomba debat dan seni. Secara kasat mata, kegiatan ini terlihat sebagai ajang perebutan piala dan pembuktian siapa yang terkuat di antara fakultas atau unit kerja.

    Namun, jika kita melihat lebih dalam, turnamen internal kampus adalah manifestasi silaturahmi yang efektif, menjadi fondasi penting untuk memperkuat kohesi dan loyalitas institusi.

    Kompetisi internal memang memiliki nilai positif; ia memacu semangat sportivitas, mendorong bakat tersembunyi, dan mengajarkan nilai kerja tim.

    Namun, jika semangat hanya berhenti pada ambisi mengalahkan unit lain, PT telah kehilangan esensi utama dari kegiatan tersebut. Tujuan sejati dari sebuah turnamen internal melampaui skor akhir.

    Ia adalah platform yang secara organik menyatukan seluruh elemen civitas akademika—mahasiswa, dosen, hingga staf administrasi—dalam suasana yang santai dan suportif. Di lapangan, gelar akademik atau jabatan fungsional sejenak dilepaskan, digantikan oleh jersey  tim dan semangat kebersamaan.

    2025 – Silaturahmi Akademik Pelebur Sekat Institusional

    Silaturahmi Akademik Pelebur Sekat Institusional

    Lingkungan akademik seringkali rentan terhadap pengotak-ngotakan. Mahasiswa hanya mengenal rekan se-program studi, dosen hanya berinteraksi dengan kolega se-departemen, dan staf administrasi terpisah berdasarkan unit kerjanya.

    Turnamen internal berfungsi sebagai pelebur sekat-sekat institusional ini. Ambil contoh yang baru-baru ini diselenggarakan oleh Akademi Keuangan dan Perbankan Pontianak (AKUB Pontianak), yaitu Turnamen Futsal Internal.

    Kegiatan ini merupakan bukti nyata kesadaran pimpinan dan mahasiswa akan pentingnya kohesi non-akademik. Wakil Direktur III Bidang Kemahasiswaan dan Senat Mahasiswa (SEMA) AKUB berinisiatif bersama mengadakan turnamen ini.

    Inisiatif kolaboratif antara pimpinan dan organisasi mahasiswa ini menunjukkan adanya sinergi yang kuat, dengan tujuan utama bukan sekadar mencari bakat atletik, tetapi sebagai cara yang fun dan efektif untuk mempererat tali silaturahmi.

    Dokumentasi: AKUB Futsal Tournament 2025

    Dampak inisiatif tersebut terlihat jelas di lapangan: Pertukaran Lintas Angkatan: Dalam Turnamen Futsal di AKUB, mahasiswa dari berbagai angkatan program studi keuangan dan perbankan harus berjuang dalam satu tim. Hal ini menumbuhkan rasa saling kenal dan menghilangkan sekat-sekat senioritas di luar konteks formal perkuliahan.

    Dokumentasi: AKUB Futsal Tournament 2025

    Membangun Loyalitas dan Kepercayaan Institusi

    Silaturahmi yang terbentuk di lapangan hijau atau panggung seni memiliki dampak jangka panjang pada kesehatan institusi:

    Peningkatan Sense of Belonging

    Ketika individu merasa menjadi bagian dari tim yang lebih besar, rasa kepemilikan mereka terhadap institusi meningkat. Loyalitas ini sangat penting dalam menghadapi tantangan eksternal dan menjaga reputasi kampus.

    Jalur Komunikasi Informal yang Kuat

    Hubungan yang akrab di luar konteks formal menciptakan saluran komunikasi informal yang lebih efektif. Masalah-masalah kecil dapat diselesaikan dengan lebih cepat karena adanya rasa percaya yang sudah terbangun saat berjuang bersama dalam tim.

    Ekspresi Branding Positif

    Turnamen internal yang dikelola dengan baik dan menjunjung tinggi sportivitas akan memancarkan citra kampus sebagai lingkungan yang sehat, peduli, dan manusiawi. Ini adalah branding institusi yang otentik dan kuat di mata publik dan calon mahasiswa baru.

    Dokumentasi: AKUB Futsal Tournament 2025

    Kesimpulan

    Turnamen internal kampus, seperti Turnamen Futsal Internal yang sukses diselenggarakan adalah investasi strategis dalam modal sosial institusi.

    Ia mengajarkan kita bahwa persaingan yang sehat adalah katalis, tetapi silaturahmi adalah perekat yang menjaga seluruh elemen kampus tetap solid dan kuat.

    Dengan memprioritaskan kebersamaan di atas persaingan semata, sebuah perguruan tinggi tidak hanya mencetak pemenang di lapangan, tetapi juga membangun keluarga besar yang loyal dan berintegritas.

    *Paulinus Jang, Dosen Akademi Keuangan dan Perbankan Grha Arta Khatulistiwa – San Agustin. (S) 

    Jangan Monoton di Bangku Kuliah Saja, Mahasiswa Mesti Aktif dan Berperan

    Dokumentasi Kegiatan Sosialisasi Pengelolaan informasi Administrasi Kependudukan di Kantor Gubernur Kal-Bar

    Duta, Pontianak | Pernahkah kamu mendengar istilah “Mahasiswa Kupu-Kupu”? Istilah ini merujuk pada pola Kuliah-Pulang-Kuliah-Pulang. Rutinitas yang hanya berkutat antara mendengarkan dosen di kelas dan kembali ke rumah, tanpa ada aktivitas tambahan yang membangun nilai diri.

    Memang, tugas utama mahasiswa adalah belajar dan mengejar Indeks Prestasi Kumulatif (IPK). Namun, di era yang dinamis ini, kampus bukan satu-satunya tempat menimba ilmu. Dunia nyata adalah laboratorium sesungguhnya. Mahasiswa dituntut untuk tidak hanya menyerap teori, tetapi juga aktif berperan dan terjun langsung ke masyarakat.

    Semangat untuk tidak monoton inilah yang baru saja ditunjukkan oleh para mahasiswa dari Akademi Keuangan dan Perbankan (AKUB) Pontianak.

    Dokumentasi Kegiatan Sosialisasi Pengelolaan informasi Administrasi Kependudukan di Kantor Gubernur Kal-Bar

    Belajar dari Lapangan dan Sosialisasi Administrasi Kependudukan

    Mematahkan stigma mahasiswa yang hanya duduk diam di kelas, mahasiswa AKUB Pontianak mengambil langkah konkret dengan melakukan kegiatan edukasi di luar kampus. Fokus kegiatan mereka sangat krusial dan relevan dengan kebutuhan masyarakat modern, yakni Sosialisasi Pengelolaan Informasi Administrasi Kependudukan.

    Mengapa kegiatan ini menjadi contoh nyata bahwa mahasiswa harus berperan? Yang pertama karena Relevansi Ilmu Keuangan dengan Data Kependudukan ,mahasiswa keuangan dan perbankan, memahami administrasi kependudukan bukan sekadar wawasan umum, melainkan fondasi profesional.

    Dalam dunia perbankan, prinsip Know Your Customer (KYC), pembukaan rekening, hingga analisis kredit, semuanya bermuara pada validitas data kependudukan (KTP, KK, dsb).

    Dengan terjun langsung menyosialisasikan hal ini, mahasiswa AKUB Pontianak tidak hanya belajar teori, tetapi memahami betapa vitalnya data yang valid bagi integritas sistem keuangan dan negara. Yang kedua yaitu karena Mengasah Soft Skill Melalui Interaksi Nyata.

    Ketika melakukan sosialisasi pengelolaan informasi ini kepada masyarakat atau pihak terkait, mahasiswa sedang mengasah kemampuan yang tidak diajarkan di buku teks: Komunikasi Publik: Menjelaskan prosedur birokrasi yang rumit menjadi bahasa yang mudah dimengerti. Empati: Memahami kendala yang dihadapi masyarakat dalam mengurus administrasi.

    Problem Solving: Membantu memberikan solusi atas ketidaktahuan informasi di lapangan.

    Dan yang ketiga yaitu karena Menjalankan Peran sebagai Agent of Change Mahasiswa AKUB Pontianak dalam kegiatan ini bertindak sebagai jembatan informasi.

    Di saat masih banyak masyarakat yang mungkin abai atau bingung tentang pentingnya pemutakhiran data penduduk, mahasiswa hadir untuk memberikan pencerahan. Ini adalah bentuk nyata pengabdian masyarakat.

    Dokumentasi Kegiatan Sosialisasi Pengelolaan informasi Administrasi Kependudukan di Kantor Gubernur Kal-Bar

    Pentingnya Aktif di Luar Kelas

    Langkah yang diambil oleh mahasiswa AKUB Pontianak ini seharusnya menjadi inspirasi bagi mahasiswa lainnya.

    Aktif di luar kampus memberikan manfaat jangka panjang yang tak ternilai: Membangun Jejaring (Networking): Berinteraksi dengan dinas terkait, tokoh masyarakat, dan warga memperluas koneksi yang kelak berguna di dunia kerja.

    Portofolio Nyata: Saat lulus nanti, CV kamu tidak hanya berisi daftar nilai, tetapi juga pengalaman riil: “Pernah menjadi inisiator sosialisasi administrasi publik.”

    Kedewasaan Berpikir: Masalah di lapangan seringkali lebih kompleks daripada soal ujian. Menghadapinya akan mendewasakan pola pikirmu.

    Jadilah Mahasiswa yang Berdampak

    Masa kuliah adalah waktu yang singkat. Jangan biarkan tahun-tahun berhargamu berlalu hanya dengan menatap papan tulis. Apa yang dilakukan oleh mahasiswa Akademi Keuangan dan Perbankan Pontianak adalah bukti bahwa belajar bisa dilakukan di mana saja. Mereka memilih untuk peduli, mereka memilih untuk aktif, dan mereka memilih untuk berperan dalam menata tertib administrasi di lingkungannya.

    Sekarang giliranmu. Keluarlah dari zona nyaman, temukan isu di sekitarmu, dan jadilah bagian dari solusi. Karena mahasiswa bukan hanya tentang apa yang kamu pelajari, tapi tentang apa yang kamu berikan bagi lingkunganmu.

    *Paulinus Jang – Dosen AKUB – San Agustin. 

    Sawit itu Penyokong Ekonomi atau Merusak Lingkungan?

    Gambar: Antara Penyokong Ekonomi atau Kerusakan Lingkungan? Pianus Tutuk

    Duta, Landak | Ketika kita berbicara tentang kelapa sawit, Indonesia di hadapi di antara narasi besar yaitu pahlawan ekonomi atau penjahat lingkungan.

    Dua dua nya antara benar dan salah terjadi di lapangan. Minyak sawit adalah salah satu minyak nabati yang sangat penting di seluruh dunia namun ada satu masalah yang selalu beriringan dengan nya yaitu kerusakan lingkungan akibat pohon penghasil minyak ini.

    Dan saya melihat sendiri bagaimana kelapa sawit memberi makan keluarga dan membuka lapangan pekerjaan bagi masyarakat masyarakat di desa. Tetapi saya juga melihat bagaimana hutan mulai pelan pelan terbabat, warna sungai mulai berubah, dan lahan gambut mengering tahun demi tahun.

    Sawit sebagai penyokong ekonomi fakta yang tak bisa dibantah.

    Jika kita bicara angka, sawit memang luar biasa dampak nya bagi perekonomian masyarakat. Jutaan pekerja menggantungkan hidup pada sektor ini baik sebagai petani mandiri, tukang panen, sopir TBS, sampai pekerja pabrik seperti mandor lapangan dan karyawan penggolahan.

    Di banyak desa seperti di Amboyo Inti, sawit bukan sekadar komoditas, tetapi fondasi ekonomi masyarakat lokal. Ketika harga sawit naik, roda ekonomi desa otomatis ikut bergerak warung hidup, pembelian pupuk meningkat, bahkan biaya kuliah bagi anak anak petani pun tercukupi.

    Bagi pemerintah daerah, sawit bahkan menjadi sumber PAD dari pajak dan retribusi. Infrastruktur seperti jalan dan jembatan sering dibangun karena tuntutan mobilitas perusahaan sawit. Ada desa yang dulunya terisolasi, kini bisa terhubung dengan kota karena akses dibuka oleh perusahaan dan ada juga desa yang hingga saat ini belum bisa terhubung dengan kota dikarenakan perusahaan yang ada di desa tersebut hanya mencari keuntungan pribadi.

    Dari statement saya di atas sawit memang mengangkat ekonomi masyarakat. Itu fakta.

    Namun realitas lapangan tidak sesederhana itu.

    Di sisi lain, kerusakan lingkungan akibat ekspansi sawit juga tidak bisa dipungkiri. Pembukaan lahan besar-besaran di masa lalu baik oleh perusahaan besar maupun oleh petani swadaya meninggalkan jejak kerusakan yang masih terlihat hingga sekarang.

    Hutan primer di beberapa wilayah habis, diganti barisan sawit yang seragam, habitat satwa liar, terutama di Kalimantan semakin terancam punah dan populasi nya kini sulit di dapatkan, lahan gambut yang seharusnya dijaga malah dikeringkan demi penanaman sawit, menyebabkan risiko kebakaran hebat dan kurang nya resapan air yang menyebabkan kebanjiran.

    Ini bukan prasangka dan dugaan kita, tetapi realita yang terjadi di Kalimantan dan Sumatra. Bahkan masyarakat yang menggantungkan hidup pada sawit pun menyadari situasi ini. Mereka menikmati hasil ekonominya, tetapi juga merasakan dampak ekologisnya misalnya, banjir yang terjadi di Ngabang pada 23 Janusri 2025 lalu.

    Jadi, Penyokong Ekonomi atau Perusak Lingkungan?

    Menurut saya, masalahnya bukan pada sawit sebagai tanaman. Sawit itu efisien jauh lebih tinggi produktivitasnya dibanding minyak nabati lain seperti kedelai atau bunga matahari. Jika Indonesia tidak menanam sawit, komoditas minyak nabati lain akan membutuhkan lahan yang jauh lebih besar untuk menghasilkan minyak yang sama. yang salah bukan tanamannya, tetapi cara pengelolaannya.

    Sebagai mahasiswa Agribisnis, saya merasa memiliki tanggung jawab moral. Saya tidak boleh hanya melihat sawit dari sisi keuntungan ekonomi semata.

    Saya juga harus kritis terhadap dampak lingkungannya, karena masa depan pertanian tidak hanya soal keuntungan, tetapi soal keberlanjutan generasi berikutnya.

    Kita tidak memihak perusahaan, tetapi kita juga tidak akan menyalahkan petani. Realitanya sawit adalah penyelamat ekonomi bagi sebagian besar masyarakat, tetapi juga penyebab kerusakan lingkungan yang nyata.

    Kita harus berani mengakui dua-duanya. Solusi yang dibutuhkan bukanlah menolak sawit, tetapi memperbaiki cara kita mengelola sawit. Kalau kita terus mengulang kesalahan yang sama, suatu saat kita akan kehilangan hutan, satwa liar bahkan flora dan fauna endemik.

    Sawit tidak harus menjadi musuh. Tapi ia juga tidak boleh terus dibiarkan menjadi raja tanpa aturan. Yang kita perlukan adalah sawit yang kuat secara ekonomi dan bersih secara lingkungan bukan hanya di dokumen, tetapi di lapangan.

    *Penulis adalah Pianus Tutuk mahasiswa aktif Agribisnis semester 5 di Universitas Katolik Santo Agustinus Hippo Kampus 3 Plasma 2, Fakultas Sains Dan Teknologi (Ngabang, Kabupaten Landak).

     

     

    Perubahan Wajah Epidemi HIV: Apa yang Harus Disiapkan Profesi Keperawatan?

    Penulis Adalah Dosen di Prodi Keperawatan – Unika San Agustin

    Duta, Pontianak | Selama lebih dari empat dekade, HIV/AIDS menjadi salah satu isu kesehatan global yang paling kompleks. Jika dulu HIV identik dengan angka kematian tinggi, stigma yang buruk dan gambaran penyakit mematikan, saat ini wajah epidemi HIV telah berubah secara signifikan. Perkembangan terapi antiretroviral (ART) membuat HIV tidak lagi menjadi vonis akhir.

    Orang dengan HIV kini dapat hidup panjang, sehat, dan produktif melalui therapi yang teratur.

    Namun perubahan epidemi ini justru melahirkan tantangan baru, tantangan yang menuntut profesi keperawatan untuk memperbarui kompetensi, perspektif, dan strategi layanan.

    Hari HIV/AIDS Sedunia tanggal 1 Desember menjadi momentum refleksi, sudah sejauh mana profesi keperawatan siap mendampingi fenomena epidemi HIV yang terus bergerak dinamis?

    Perubahan Wajah Epidemi HIV: Kompleks, Sunyi, dan Tidak Terduga

    Walaupun HIV merupakan penyakit kronis yang berkembang perlahan, secara epidemiologis HIV tetap dikategorikan sebagai epidemi karena penularannya berlangsung secara berkelanjutan dalam populasi.

    Dalam epidemiologi, epidemi tidak selalu berarti wabah yang muncul tiba-tiba, tetapi mencakup setiap peningkatan jumlah kasus suatu penyakit di atas yang diperkirakan dalam populasi tertentu, terutama apabila terdapat pola penularan yang berkelanjutan.

    HIV memenuhi seluruh kriteria tersebut ia memiliki mekanisme transmisi antarindividu, menunjukkan dinamika penularan yang terus berlangsung dalam populasi, dan memperlihatkan perubahan pola risiko dari waktu ke waktu. Karena itulah para ahli kesehatan masyarakat dan WHO menggunakan istilah “epidemi HIV” untuk menegaskan bahwa HIV merupakan fenomena populasi yang membutuhkan pemetaan, pengendalian, dan intervensi kesehatan publik secara berkelanjutan bukan sekadar penyakit individual.

    1. HIV tidak lagi identik dengan kematian, tetapi penyakit kronis yang dapat dikelola

    Kemajuan ART generasi baru telah mengubah HIV menjadi kondisi kronis yang dikelola jangka panjang. Viral load dapat ditekan hingga “tidak terdeteksi”, kualitas hidup meningkat, efek samping lebih minimal.

    Tantangan baru muncul: bagaimana perawat membantu ODHA mempertahankan kepatuhan terapi, menjaga kesehatan mental, dan mengelola komorbid yang makin sering ditemukan?

    1. Pergeseran kelompok usia dan pola risiko

    Epidemi HIV kini banyak ditemukan pada kelompok remaja hingga dewasa muda (15–24 tahun). Faktor pemicunya antara lain: rendahnya literasi seksual, eksplorasi hubungan digital, seks tanpa pengaman, tekanan sosial dan emosi remaja, ketidakpercayaan diri untuk melakukan tes. Kelompok heteroseksual menikah, termasuk perempuan ibu rumah tangga, juga menjadi segmen penting karena risiko sering terkait perilaku pasangan.

    1. Penularan yang semakin “sunyi”

    Perubahan perilaku sosial membuat banyak orang merasa “saya bukan kelompok risiko”, sehingga tidak mau melakukan tes. Hal ini menyebabkan banyak ODHA terdiagnosis pada stadium lanjut, ketika imunitas sudah menurun. Perawat akan semakin sering menemui pasien yang datang dengan komplikasi atau komorbid, bukan dengan gejala HIV awal.

    1. Stigma tetap bertahan meski ilmu terus berkembang

    Walaupun terapi dan edukasi sudah maju, stigma terhadap ODHA masih kuat di masyarakat. Banyak pasien menyembunyikan status karena takut ditolak, dicibir, atau dikucilkan. Stigma inilah yang mendorong banyak kasus terlambat terdeteksi. Perawat menjadi figur penting dalam membantu pasien melewati hambatan emosional dan sosial tersebut.

    1. Teknologi digital mengubah perilaku risiko sekaligus peluang intervensi

    Media sosial, aplikasi pertemanan, dan dinamika hubungan digital dalam beberapa studi dikaitkan dengan peningkatan perilaku berisiko. Namun di sisi lain, teknologi dapat menjadi kanal edukasi kesehatan, pengingat obat, dan telekonseling. Perawat perlu siap mengoptimalkan hal ini.

    Apa yang Harus Disiapkan Profesi Keperawatan?

    Perubahan epidemi HIV menuntut kesiapan yang tidak hanya bersifat klinis, tetapi juga budaya, sosial, dan teknologi. Berikut kompetensi inti yang perlu diperkuat:

    1. Kompetensi klinis dan konseling HIV yang komprehensif

    Perawat harus menguasai: prinsip terapi ART terbaru, termasuk penggunaan obat ARV generasi baru, monitoring efek samping, konseling pra- dan pasca-tes, penilaian risiko, pendampingan pasien dalam menghadapi ketakutan, kecemasan, dan beban stigma. Konseling menjadi kunci keberhasilan pencegahan maupun terapi, dan perawat adalah garda terdepan dalam proses ini.

    1. Keperawatan tanpa stigma: sensitivitas budaya dan non-discrimination care

    Praktik keperawatan harus aman bagi semua pasien termasuk kelompok kunci (key populations), seperti remaja berisiko, pekerja seks, populasi LGBTQ+, dan pengguna NAPZA suntik serta pasangan heteroseksual risiko tinggi. Perawat perlu membiasakan penggunaan bahasa yang tidak mendiskriminasi, empatik, dan menghargai privasi. Asuhan keperawatan yang bebas dari bias dapat meningkatkan kepercayaan pasien dan mendorong mereka mempertahankan terapi.

    1. Literasi digital untuk edukasi dan pendampingan

    Era baru epidemi HIV menuntut perawat untuk mampu: memberikan edukasi melalui konten digital, memanfaatkan telehealth untuk follow-up, memberikan pengingat obat, menjelaskan penggunaan HIV self-test kit, mendampingi pasien yang takut datang ke fasilitas kesehatan. Digital care dapat menjembatani hambatan geografis, sosial, dan emosional.

    1. Peran strategis perawat dalam pencegahan HIV

    Saat ini perawat tidak hanya merawat ODHA, tetapi juga menjadi agen pencegahan. Fokus yang perlu ditegaskan antara lain: edukasi penggunaan PrEP (pre-exposure prophylaxis) bagi individu risiko tinggi, edukasi PEP (Post-exposure prophylaxis) bagi korban kekerasan seksual atau nakes yang mengalami pajanan, promosi perilaku seksual aman, penguatan edukasi remaja di sekolah, komunitas, dan layanan kesehatan. Program pencegahan akan lebih efektif apabila perawat dapat memberikan edukasi yang jelas, mudah dipahami, dan bebas dari stigma.

    1. Manajemen kasus (case management) sebagai pendekatan keperawatan modern

    ODHA membutuhkan pendampingan jangka panjang. Perawat berperan dalam: koordinasi rujukan, evaluasi kepatuhan ARV, dukungan psikososial, edukasi keluarga, pemantauan komorbid seperti TB, hepatitis, dan IMS. Pendampingan yang terstruktur meningkatkan kualitas hidup dan menurunkan risiko putus obat (loss to follow-up).

    1. Kolaborasi interprofesional

    HIV adalah isu multidimensi. Perawat perlu bekerja bersama dokter, pekerja sosial, psikolog, kader komunitas, dan organisasi pendukung ODHA. Kolaborasi menempatkan perawat sebagai jembatan antara sistem kesehatan dan kebutuhan riil pasien.

    1. Kontribusi riset keperawatan

    Perawat memiliki peluang besar untuk melakukan riset layanan tentang: stigma pada ODHA, kepatuhan ART, efektivitas telekonseling, kesehatan mental pasien HIV, perilaku risiko remaja dan kualitas hidup ODHA. Riset menjadi dasar penguatan kebijakan kesehatan dan pengembangan praktik keperawatan berbasis bukti.

    Penutup

    Perubahan wajah epidemi HIV adalah kenyataan yang tidak bisa dihindari.  Epidemi kini bergeser dari dominasi kelompok tertentu menuju populasi yang lebih luas dari penyakit mematikan menjadi penyakit kronis, dari penularan terang menjadi penularan yang sunyi. Di tengah dinamika ini, profesi keperawatan memegang posisi strategis: sebagai edukator, pendamping, advokat, dan garda terdepan pelayanan kesehatan.

    Menyambut Hari HIV/AIDS Sedunia 1 Desember, kita perlu menegaskan kembali komitmen bahwa pelayanan keperawatan harus senantiasa adaptif, berbasis bukti, dan berlandaskan empati. HIV bukan hanya isu klinis tetapi sudah menjadi isu kemanusiaan. Dan perawat, dengan kedekatannya pada pasien dan komunitas, adalah sosok yang paling mampu menjembatani ilmu, pelayanan, dan harapan.

    *Penulis: Ns. Elisabeth Wahyu Savitri, M.Kep, Adalah Dosen di Prodi Keperawatan – Unika San Agustin.

     

    Mimpi Kemajuan dan Kutukan Kesibukan

    Foto: Penulis saat menjadi narasumber di STAKATN (2025)

    Duta, Pontianak | Jika ada satu kata yang menjadi mantra zaman ini, maka itu adalah “produktif”.

    Kita hidup dalam era di mana jam kerja yang panjang dianggap sebagai bukti keberhasilan, dan hari yang kosong tanpa pekerjaan terasa sebagai kesia-siaan atau bahkan kegagalan moral. Media sosial dibanjiri slogan—grind harder, hustle all day, sleep is for the weak—yang mengubah hidup menjadi perlombaan tanpa garis akhir.

    Namun, jika kita berhenti sejenak dan bertanya, Untuk apa semua kesibukan ini? Siapa yang sebenarnya diuntungkan? Apakah produktivitas selalu berarti kemajuan?—jawabannya tidak lagi sederhana.

    Produktivitas, dalam pandangan ekonomi arus utama, diukur dari output yang dihasilkan per satuan waktu. Semakin cepat, semakin banyak, semakin baik. Tetapi pandangan filsafat mengingatkan bahwa ‘manusia bukan mesin’.

    Kita adalah makhluk bernalar, yang menginginkan hidup bermakna, bukan sekadar hidup sibuk.

    Di sinilah persoalan bermula. Produktivitas telah direduksi menjadi angka—jumlah unit yang diproduksi, proyek yang diselesaikan, konten yang diposting, dan uang yang dihasilkan. Kita jarang mempertanyakan nilai yang terkandung dalam apa yang kita kerjakan. Kita sibuk mengejar kuantitas, dan sering lupa pada kualitas.

    Sebuah paradoks pun muncul, di dunia yang lebih produktif dari sebelumnya, manusia justru semakin kelelahan dan kehilangan arti.

    Manusia seperti Mesin yang Dipaksa Efisien

    Filsuf Prancis, Michel Foucault, pernah mengingatkan bagaimana kekuasaan modern beroperasi melalui disiplin tubuh dan waktu. Dalam dunia kerja kontemporer, ini menjelma dalam bentuk target, KPI, jam lembur, dan algoritma yang melacak performa setiap detik. Kita dipaksa terus bergerak—bukan karena pilihan bebas, tetapi karena sistem menuntutnya.

    Produktivitas bukan lagi sarana untuk hidup lebih baik. Hal itu berubah menjadi tujuan yang membelenggu.

    Kita tak lagi bekerja ‘untuk hidup.
    Kitalah yang hidup ‘untuk’ bekerja.

    Padahal, seperti dikatakan Hannah Arendt, hidup manusia terdiri dari tiga dimensi, labor (bertahan hidup), work (mencipta dunia), dan action (berekspresi secara bebas di hadapan sesama). Ketika produktivitas hanya menekankan “labor”, maka dua dimensi penting lainnya layu. Hidup mengecil menjadi sekadar upaya bertahan, sementara kesenangan, kreativitas, dan relasi sosial—fondasi kemanusiaan—semakin terpinggirkan.

    Lalu, siapa yang diuntungkan? Banyak analisis kontemporer menunjukkan bahwa produktivitas modern sering memihak pada pemilik modal dan perusahaan besar, bukan pekerja. Pekerja bekerja lebih cepat, tetapi jarang menikmati hasil efisiensi itu. Mereka dikejar waktu, tetapi waktu personalnya menguap tanpa arti.

    Muncul pertanyaan, apakah ini bentuk baru perbudakan? Jawabannya mungkin belum final, tetapi gejalanya sudah sangat terasa.

    Kita Tidak Punya Banyak Waktu — Benarkah Produktivitas Membuat Hidup Lebih Baik?

    Oliver Burkeman, dalam Four Thousand Weeks, mengingatkan: hidup manusia sangat singkat—sekitar 4.000 minggu. Logika produktivitas memberi ilusi bahwa hidup bisa sepenuhnya dikontrol: semua tugas bisa diselesaikan, semua target bisa tercapai, semua waktu bisa dimaksimalkan. Namun, itu utopia. Kenyataannya, hidup selalu lebih besar dari perencanaan kita.

    Saat kita memaksa diri mengejar kesempurnaan produktivitas, kita justru kehilangan kesempatan merasakan kehidupan. Burkeman menyebutnya “tirani efisiensi” setiap detik harus berfaedah, setiap aktivitas harus berdampak, setiap jeda adalah pemborosan.

    Padahal, kebebasan manusia justru lahir dari ruang jeda, saat kita merenung, bermain, tertawa, atau sekadar diam.

    Kita lupa bahwa ketidakproduktifan sering menjadi akar kreativitas. Tidak ada penemuan besar lahir dari kalender penuh rapat dan notifikasi tak henti. Sejalan dengan itu bahwa Mozart, Picasso, Einstein—mereka tidak produktif dalam arti birokratis.

    Mereka justru “tidak efisien” banyak merenung, bereksperimen, melakukan hal “tidak penting”—hingga akhirnya menghadirkan sesuatu yang sangat penting.

    Ironinya, upaya menjadi produktif justru sering menghalangi pencapaian nilai yang lebih tinggi.

    Hal serupa dikatakan oleh Mark Carney, mantan Gubernur Bank of England, menegaskan dalam bukunya Value(s) bahwa krisis besar zaman ini adalah krisis ‘nilai’. Pasar membingungkan harga dengan nilai.

    Sesuatu yang tidak menghasilkan uang dianggap tidak bernilai—padahal justru paling penting bagi keberlangsungan hidup pendidikan moral, kesehatan mental, cinta, persahabatan, udara bersih, dan waktu luang.

    Produktivitas ekonomi bisa naik, sementara kualitas hidup turun.

    Maka kita harus bertanya:

    • Untuk apa kita memproduksi lebih banyak?

    • Apakah barang yang dihasilkan benar-benar meningkatkan martabat dan kebahagiaan manusia?

    • Apakah pertumbuhan ekonomi sepadan dengan kerusakan lingkungan dan rapuhnya relasi sosial?

    Pertanyaan-pertanyaan ini bersifat filosofis, tetapi sangat praktis – maksudnya tanpa menjawabnya, produktivitas hanya menjadi mesin yang berjalan liar—menggilas manusia dan semua nilai yang ingin kita jaga.

    Produktivitas yang Menyamar sebagai Kebebasan

    Karl Marx pernah mengkritik sistem yang menukar tenaga manusia menjadi komoditas asing bagi dirinya sendiri.

    Hari ini, kritik itu menemukan bentuk baru. Kita merasa bebas memilih pekerjaan, tetapi pilihan itu sering dibentuk oleh logika pasar. Kita merasa “mengembangkan diri” dengan bekerja keras, tetapi sering justru menjadi budak ambisi perusahaan.

    Bahkan hobi dipaksa produktif:

    • Foto jadi konten yang harus viral

    • Berlari jadi angka di aplikasi

    • Membaca jadi kompetisi jumlah buku per tahun

    Hidup menjadi portofolio yang harus terus diperbarui demi validasi sosial. Media sosial mempercepat alienasi ini, kita sibuk mengejar impresi, bukan refleksi.

    Nietzsche pernah berkata “Manusia modern kehilangan seni untuk berhenti” kemudian kita masih membuktikan itu setiap hari.

    Saatnya Mendesain Ulang Makna Produktivitas

    Jika produktivitas tidak lagi berpihak pada manusia, maka kita harus merebut kembali kendali. Manajemen memberi tiga arah perubahan yakni:

    1. Produktivitas yang Berorientasi Makna

    Produktif bukan berarti selalu sibuk, melainkan mengarah pada kebaikan yang pantas dikejar.
    Bukan seberapa banyak kita hasilkan, tetapi apa yang kita hasilkan dan untuk siapa.

    2. Mengembalikan Waktu sebagai Milik Manusia

    Waktu bukan alat perusahaan atau algoritma. Waktu adalah habitat kehidupan. Mengelola waktu berarti menjaga ruang bagi diam, pertemuan manusiawi, dan kehadiran penuh terhadap hidup.

    3. Menyatukan Nilai Moral dengan Nilai Ekonomi

    Setiap kebijakan dan inovasi harus menjawab:

    • Apakah ini memuliakan manusia?

    • Apakah ini melestarikan kehidupan?
      Jika tidak, maka itu bukan kemajuan—hanya percepatan menuju kehancuran.

    Produktivitas tidak boleh lagi menjadi ukuran tunggal keberhasilan.

    Dokumentasi Penulis saat menjadi narasumber di STAKAN 25 November 2025
    Produktivitas yang Memuliakan Kehidupan

    Produktivitas adalah pisau bermata dua. Ia dapat membebaskan manusia dari kerja kasar, memperpanjang usia, dan meningkatkan kesejahteraan. Tetapi ia juga bisa mengubah manusia menjadi alat produksi yang kehilangan arah spiritualnya. Filsafat mengingatkan bahwa kemajuan sejati hanya mungkin jika produktivitas berpihak pada martabat manusia.

    Ekonomi harus melayani kehidupan, bukan sebaliknya. Kesibukan harus memberi ruang bagi kebebasan, bukan menindasnya. Kerja harus menjadi bagian dalam seni hidup, bukan penjara tak kasat mata.

    Pada akhirnya, ukuran keberhasilan hidup bukanlah jumlah pencapaian, melainkan kedalaman kita dalam mengalami hidup itu sendiri.

    Jika produktivitas menjauhkan kita dari kehidupan, maka saatnya kita mengatakan “cukup”—dan mulai membangun dunia kerja yang memuliakan manusia sebagai manusia.

    Karena hidup hanya punya sekitar 4.000 minggu.
    Dan kita tak boleh menyia-nyiakannya hanya untuk menjadi mesin.

    *Penulis: Samuel – Dosen AKUB – San Agustin Kampus II Pontianak. 

    Jika Tidak Ada Guru, Siapakah Kita Hari Ini?

    Foto Penulis: Fernando Diansi

    Duta, Landak | Ketika kita memperingati Hari Guru, sering muncul satu pertanyaan yang terdengar sederhana namun penuh makna, “Jika tidak ada guru, siapakah kita hari ini?” pertanyaan tersebut bukan hanya refleksi sentimental, tetapi sebuah kebenaran yang menegaskan bahwa hampir semua pencapaian manusia berakar dari peran seorang guru. Tanpa guru, tidak ada ilmuwan, tidak ada perawat, tidak ada pemimpin, bahkan tidak ada mahasiswa seperti saya yang sedang menulis opini ini.

    Guru bukan sekadar profesi; Guru adalah fondasi dari semua profesi. Sikap, cara berpikir, kecerdasan emosional, hingga kemampuan intelektual banyak ditanam melalui tangan seorang guru. Dalam jurnal yang ditulis oleh indrawati dikatakan bahwa “guru memegang peranan yang amat penting dalam Upaya pengembangan sumber daya manusia melalui Pendidikan” (Teknologi et al., 2022).

    Peran guru bahkan menjadi semakin krusial Ketika dunia Pendidikan menghadapi tantangan abad ke-21. (Elitasari, 2022), menegaskan bahwa kualitas guru di Indonesia masih rendah sebab masih banyak guru yang menganggap pekerjaanya mudah dan hanya sekedar mencari penghasilan.

    Pernyataan tersebut bukan untuk menyalahkan guru, tetapi untuk mengingatkan bahwa kualitas Pendidikan nasional tidak bisa dilepaskan dari kompetensi dan kondisi kerja guru. Sebab, seperti yang ditegaskan (Susiani 2021), Peningkatan kualitas Pendidikan di Indonesia untuk mengejar keteringgalan dari negara lain sangat bergantungan pada peningkatan kualitas guru.

    Guru tidak hanya menjadi pusat pembelajaran, tetapi juga aktor yang memengaruhi keberhasilan belajar peserta didik. Penelitian (Maullidina et al., n.d.), menemukan bahwa profesionalisme guru sangat berpengaruh terhadap kualitas Pendidikan terutama melalui disiplin kerja dan kemampuan mengelola kelas.

    Tanpa profesionalisme dan dedikasi guru, kualitas pembelajaran akan terhenti di tegah jalan. Bahkan penelitian (Aini et al., 2018), menegaskan bahwa terdapat pengaruh positif yang signifikan antara kualitas pengajaran guru terhadap prestasi belajar siswa. Mengingat kenyataan tersebut, kita dapat membayangkan betapa rapuhnya Pendidikan jika peran guru tidak dihargai. Kita bisa memiliki Gedung sekolah yang megah, kurikulum yang inovatif, dan teknologi pembelajaran yang canggih, tetapi tanpa guru, semuanya sia-sia.

    Kajian (Ketaren et al., 2025), menulis bahwa optimalisasi peran guru sebagai fasilitator dapat dilakukan melalui pelatihan profesional, dukungan teknologi, dan kolaborasi dengan orang tua. Walau demikian, guru bukan hanya fasilitator. Mereka Adalah agen perubahan yang mampu mempengaruhi cara berpikir generasi masa depan. (Nisaa et al., 2022),dalam jurnalnya menegaskan: sebagai sumber ilmu, guru perlu memahami teknologi yang berkembang agar dapat membimbing siswanya di era digital.

    Guru Adalah pelita di Tengah derasnya arus digitalisasi. Tanpa kemampuan adaptif seorang guru, pembelajaran modern tidak akan mampu membentuk karakter peserta didik. Sejalan dengan itu,(Rohmah & N, 2023), menulis bahwa di era revolusi industry 4.0, peran guru sebagai agen pembaharu dituntun untuk menguasai keterampilan abad 21. Selain kemampuan teknis, guru juga memegang peran moral. Mereka mengajarkan empati, kedisiplinan, dan kejujuran nilai-nilai yang tidak selalu ada dalam buku teks. (Oktoberia, 2025), menegaskan bahwa guru sebagai elemen utama Pendidikan formal memerlukan kompetensi pedagogic, Solusi, pribadi, dan professional demi proses pembelajaran optimal.

    Melalui peran yang begitu besar, guru tidak hanya menyampaikan materi, tetapi membentuk karakter bangsa. Bahkan pada era digital yang serba cepat, guru tetap menjadi kunci keberhasilan pembelajaran, penelitian (Dunggio et al., 2023) menunjukan bahwa guru memanfaatkan media digital seperti video, kuis daring, dan aplikasi edukatif untuk memperkuat pemahaman peseta didik.

    Dari berbagai penelitian tersebut, jelas bahwa kontribusi guru tidak dapat digantikan teknologi. Kecerdasan buatan mungkin bisa menjelaskan materi, tetapi tida bisa menanamkan nilai moral. Aplikasi digital mampu memberi Latihan soal, tetapi tidak bisa memberi teladan. Guru memberi sesuatu yang tidak dapat diberikan mesin: setuhan manusia.

    Karena itu, pertanyaan “Jika tidak ada guru, siapakah kita hari ini?” bukanlah semata retorika, tetapi refleksi yang dalam. Tanpa guru, mungkin kita tidak akan mengenal huruf, tidak memahami logika, tidak bisa berpikir kritis, dan tidak mampu menjawab tantangan kehidupan.

    Hari Guru seharusnya bukan sekadar seremoni tahunan. Hari Guru adalah momentum untuk menuntut keadilan bagi mereka yang menjalani profesi paling mulia namun sering dianggap “biasa saja”. Kita merayakan dokter karena menyembuhkan tubuh; kita merayakan ilmuwan karena menemukan pengetahuan baru; tetapi kita lupa bahwa dokter dan ilmuan pun lahir dari seorang guru.

    Guru Adalah akar, sedangkan kita Adalah buah. Guru Adalah Cahaya, sedangkan kita berjalan mengikuti terangnya. Guru Adalah pondasi, sedangkan kita berdiri kokoh di atas bangunan yang mereka dirikan.

    Sebagai mahasiswa, kita pun tak lepas dari kontribusi guru. Ketika kitab bisa membaca, memahami teori, menulis skripsi, hingga berdiskusi secara kritis di kelas perkuliahan, semua itu Adalah hasil dari rangkaian Panjang bimbimgan guru sejak masa kanak-kanak. (Harvard Education, 2023) menulis bahwa guru bukan hanya mengajar, tetapi membentuk karakter berpikir kita.

    Kita semua Adalah produk dari Pendidikan. Dan Pendidikan Adalah hasil kerja guru. Maka, jika tidak ada guru, siapakah kita hari ini? Kita mungkin tidak dapat membaca tulisan ini. Kita mungkin tidak memahami logika, etika, atau nilai-nilai kehidupan. Kita mungkin tidak dapat bermimpi sejauh ini.

    Akhirnya, Hari Guru Adalah pengingat sederhana bahwa tanpa guru, kita mungkin tidak memiliki kemampuan menulis opini ini, tidak memiliki keterampilan untuk duduk di ruang kuliah, dan tidak memiliki keberanian untuk bermimpi. Guru Adalah cermin masa depan. Maka merayakan guru berarti merayakan perjalanan Panjang kita menuju manusia yang lebih baik.

    *Penulis: Fernando Diansi Mahasiswa FKIP San Agustin, Kampus 1 Landak.

    Turnamen Mobile Legends, Bang-bang Universitas Katolik Santo Agustinus Hippo

    Gambar. Dokumentasi kejuaraan turnamen MLBB

    Duta, Landak | Turnamen Mobile Legends, Bang-Bang Universitas Katolik Santo Agustinus Hippo.

    1. Pengenalan Game Mobile Legends.

    Mobile Legends merupakan game yang populer disemua kalangan dan bahkan sudah dipertandingkan secara resmi dibeberapa Negara, sudah banyak orang memainkan game Mobile Legends dari yang muda hingga yang tua.

    Mobile Legends bukan hanya hiburan semata namun juga merupakan sebuah ajang untuk berprestasi dan berkompetisi, bahkan tidak sedikit orang yang menciptakan sumber penghasilan melalui game Mobile Legends, hanya menggunakan ponsel sudah dapat menciptakan sumber penghasilan yang baru jika dimanfaatkan dengan benar, sudah banyak orang memanfaatkannya sebagai sumber penghasilan utama ataupun penghasilan tambahan, melalui joki rank (menaikkan peringkat pada akun orang lain) sekaligus joki winrate yang sering disebutkan dengan istilah WR jika memiliki skill bermain diatas rata-rata player lain.

    Store jual akun, tidak sedikit orang yang sudah membuat toko sendiri, dengan membeli dan menjual kembali akun Mobile Legends dengan harga yang berbeda sudah bisa menambahkan penghasilan dan harga akun juga bervariasi biasanya sesuai dengan jumlah skin dan kualitas skin.

    Menjadi proplayer (E-Sport), menjadi player di tingkat profesional dapat menciptakan penghasilan  melalui turnamen dan sekaligus streamer. Buka jasa store diamond (DM), dengan menjual diamond dapat menciptakan penghasilan yang bervariasi tergantung banyaknya transaksi masuk.

    Menjadi streamer di beberapa platform yang sering digunakan seperti platform YouTube, Facebook, Tiktok. Jasa main bareng (mabar) melalui platform seperti aplikasi Lita maupun saat sedang siaran langsung (Live Streaming). Menjadi content creator, banyak orang menjadi konten kreator dengan membuat konten seperti tutorial hero, review skin, dan masih banyak ide lainnya yang dapat dijadikan konten.

    Menjadi desainer model skin atau hero, biasanya pihak Moonton mengadakan event besar-besaran secara resmi untuk orang-orang yang memiliki kreativitas tinggi untuk mendesain model hero atau skin, dan masih ada cara lain untuk menghasilkan pendapatan (uang) melalui game ini.

    1. Pelaksanaan Turnamen.

    Pada tanggal 21-22 November 2025 Universitas Katolik Santo Agustinus Hippo mengadakan turnamen esport, Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) E-Sport Dara Itapm berkolaborasi dengan Himpunan Mahasiswa Pendidikan Olahraga (HIMPORA) sebagai penyelenggara pada turnamen ini dan didukung oleh Universitas Katolik Santo Agustinus Hippo.

    Turnamen ini diikuti oleh 30 tim dari civitas akademika kampus utama dan kampus 3 Universitas Katolik Santo Agustinus Hippo, pada pembukaan event tournament Ibrah Fastabiqi Bawana Mukti (penanggung jawab event) mengatakan bahwa “awalnya saya prediksi hanya 15 tim yang akan berpartisipasi dalam turnamen ini, namun ternyata melebihi perkiraan saya, terdapat 30 tim yang ikut berpartisipasi dari berbagai Prodi dan Fakultas” dia juga mengungkapkan rasa terimakasih kepada semua pihak terkait yang telah ikut serta berpartisipasi dalam event yang dibuat, dan ucapan terimakasih kepada pihak kampus yang memberikan izin, serta bantuan dalam turnamen yang dibuat sehingga dapat terlaksana.

    Pelaksanaan turnamen ini dilakukan di kampus 1 (kampus utama), juara pertama pada turnamen ini dimenangkan oleh tim ARINDAMA yang diketua oleh Ibrah Fastabiqi Bawana Mukti, kemenangan diraih berkat koordinasi tim dan chemistry tim sehingga mampu bertahan hingga meraih juara pertama, juara kedua diraih oleh tim Penjinak Handal (PH) dengan Antolius Boki sebagai ketua tim, dan juara ketiga didapatkan tim Darkness Crow yang diketua oleh Riski Galuh Toha, serta Most Valuable Player (MVP) atau pemain terbaik diraih oleh Rifky Ibanes dari tim ARINDAMA, MVP dilihat dari kontribusi player dalam tim, dapat dilihat pada Kill, Damage, Assist (KDA) dan pengaruh player terhadap kemenangan tim.

    Tujuan dilaksanakan turnamen ini untuk menggali potensi pada diri seseorang terutama skill dalam bermain, kerjasama tim, kesiapan mental, dan kesiapaan untuk menjadi juara sekaligus memberikan suatu hiburan atau tontonan untuk civitas akademika Universitas Katolik Santo Agustinus Hippo.

    1. Kendala Dalam Pelaksanaan Turnamen.

    Pada pelaksanaannya turnamen ini mengalami beberapa kendala yang terjadi, diantaranya kendala koneksi internet, beberapa pemain merasakan performa jaringan pada device yang digunakan terasa tidak stabil, sehingga mengurangi tingkat keahliannya dalam bermain. Selain kendala jaringan, faktor cuaca juga menjadi penghambat pada turnamen ini, rundown yang seharusnya berjalan dengan lancar menjadi terhambat akibat cuaca hujan yang disertai dengan angin kencang, tim yang seharusnya bermain di jam yang ditentukan tidak dapat hadir di tempat dikarenakan hujan.

    Pada H-2 tempat atau gedung yang seharusnya digunakan untuk turnamen digunakan untuk kegiatan lain sehingga panitia harus menyiapkan tempat baru untuk melaksanakan pertandingan agar tetap berjalan dan selesai sesuai dengan rundown yang dibuat.

    Kekurangan anggota panitia juga menjadi faktor yang menghambat jalannya acara, anggota panitia terbilang kurang dari kata cukup sehingga waktu yang digunakan lebih lama, kurangnya panitia divisi perwasitan adalah salah satunya, untuk memainkan beberapa pertandingan diwaktu yang bersamaan memerlukan wasit yang cukup sehingga waktu yang digunakan dapat menjadi lebih sedikit.

    1. Solusi Mengatasi Masalah Yang Terjadi.

    Berbagai kendala yang terjadi saat pelaksanaan dapat diatasi dengan baik, panitia mengambil keputusan untuk melanjutkan pertandingan di tempat baru, yang memberikan kualitas jaringan lebih stabil, dan tempat yang mudah dijangkau meskipun cuaca hujan.

    Kekurangan panitia divisi perwasitan dapat diatasi dengan menambahkan beberapa orang yang telah bersedia membantu menjadi wasit dalam turnamen ini sehingga pertandingan dapat dilaksanakan lebih dari satu pertandingan diwaktu yang bersamaan. Pertandingan perebutan juara tiga, final juara satu dan dua digelar kembali di tempat yang sebelumnya digunakan pada H-1. Dengan demikian kendala dapat ditangani dengan baik yang memberikan pengalaman bertanding peserta lebih menyenangkan dan event dapat selesai tepat waktu sesuai dengan rundown yang dibuat.

    1. Faktor Keberhasilan Event.

    Turnamen ini dapat diselesaikan sesuai dengan yang telah direncanakan, berkat partisipasi mahasiswa-mahasiswi, dosen, tenaga kependidikan (tendik) serta civitas akademika yang menjadi faktor keberhasilan event. Suport dari Kampus menjadi faktor utama berjalannya event esport ini, pihak Kampus telah bersedia memberikan tempat untuk mengadakan event, memberikan kualitas jaringan yang optimal dan stabil sehingga player dapat menikmati keseruan dalam bertanding dan dapat menunjukan kehebatan saat bermain, selain itu Universitas Katolik Santo Agustinus Hippo juga memudahkan administrasi berupa perizinan untuk mengadakan event dan memfasilitasi event esport ini sehingga dapat berjalan lancar dan berhasil terlaksana dengan baik.

    Faktor lain yang menjadikan turnamen ini dapat terselenggara dengan baik adalah kekompakan panitia dalam bekerja-sama secara tim dan ketersediaan tenaga tambahan yang secara sukarela membantu mencukupi posisi divisi yang kurang sehingga event esport ini dapat selesai sesuai dengan waktu yang diinginkan dan kendala yang terjadi dapat ditangani dengan baik.

    *Penulis (Junaydi, junaydizions@gmail.com) adalah Mahasiswa PJKR di Universitas Katolik Santo Agustinus Hippo Kampus I Ngabang, Fakultas Keguruan dan ilmu Pendidikan (Ngabang Kabupaten Landak).

     

    Berkebun Sebagai Bagian Cinta Alam

    Foto: Stepanus Agung-Email :stepanusagung1@gmail.com - Fakultas Keguruan Universitas Katolik Santo Agustinus Hippo

    Duta, Landak | Fakultas Keguruan Universitas Katolik Santo Agustinus Hippo. Apa itu berkebun. Menurut (Febriyona et al. 2023)Berkebun adalah aktivitas yang melibatkan menanam,merawat dan memanen tanaman,baik untuk keperluan komsumsi,hiasan maupun tujuan lingkungan.kegiatan ini bisa dilakukan dilahan yang luas,seperti kebun atau dalam skala kecil seperti pot dirumah.

    Berkebun sebagai aktivitas lanjutan

    Aktivitas berkebun memiliki peran penting yang sangat signifikan dalam menjaga keseimbangan ekosistem dan mempromosikan keberlanjutan.dalam praktik berkebun,kita tidak hanya menanam tanaman untuk komsumsi,tetapi juga berkontribusi pada penyerapan karbondioksida,peningkatan kualitas udara dan kebutuhan habitat berbagai spesies.

    Praktik ini mendukung penggunaan sumber daya ramah lingkungan,seperti pupuk organic dan teknik irirgasi yang efisien dapat mengurangi limbah dan polusi.selain itu,berkebun juga membantu masyarakat memahami pentingnya siklus alam,sehingga mendorong mereka untuk lebih bertanggung jawab terhadap lingkungan.dengan cara ini,berkebun bukan hanya sekedar hobi melainkan juga sebuah komitmen terhadap keberlanjutan yang bermanfaat bagi kita,generasi yang akan datang.(Fitriah et al. n.d.)

    Pentingnya merawat tanaman

    Merawat tanaman memiliki banyak manfaat yang tidak hanya berdampak pada lingkungan tetapi juga pada kesehatan mental dan kesajahteraan bagi kita.tanaman berperan sebagai penyedia oksigen dan penyaring polusi,sehingga menjaga kualitas udara dan keseimbangan ekosistem.selain itu aktivitas berkebun terbukti dapat mengurangi stress dan meningkatkan suasana hati,serta memberikan rasa puas saat melihat hasil dari usaha yang kita lakukan.(Edukasi et al. 2024) menanam tanaman pangan dirumah juga mendukung ketahanan pangan dan gaya hidup sehat dengan menyediakan makanan segar dan bergizi,namun tak hanya itu merawat tanaman mengajarkan tentang siklus hidup dan tanggung jawab terhadap lingkungan sekitar dan juga meningkatkan kesadaran akan isu-isu ekologis yang semakin penting.

    Kegiatan berkebun juga dapat memperkuat hubungan sosial terutama ketika dilakukan dalam kelompok atau komunitas yang dapat menciptakan rasa kebersamaan dan dukungan,namun  tanaman juga dapat memperindah lingkungan,memberikan keindahan visual yang meningkatkan estetika bai dirumah maupun dipublik.dengan demikian,merawat tanaman adalah investasi penting untuk kesehatan indivudu,komunitas dan ligkungan sekaligus berkontribusi pada keberlanjutan dan kesejahteraan dunia.(Rudini, Kuswanto, and Yudistiro 2021)

    Merawat tanaman sebagai ekspresi cinta

    Merawat tanaman adalah sebuah perjalanan yang menggambarkan cinta sejati terhadap kehidupan,dari saat pertama kita menanam biji atau bibt maka kita menginvestasikan harapan dan perhatian kita terhadap tanaman itu.proses ini dimulai dengan mempersiapkan tanah yang baik menggemburkan media dengan penuh ketelitian dan memilih tempat yang tepat,semua ini adalah awal langkah yang melambangkan komitmen kita.jiwa atau karakter  cinta alam perlu ditanamkan pada diri kita dengan menanamkan rasa cinta alam secara tidak langsung turut memberikan kontribusi dan menyelamatkan alam sekitar dibumi agar tidak terjadi kerusakan dan permasalahan yang memberikan dampak buruk bagi bumi,jadi karakter cinta alam ialah tindakan atau sikap ditunjukan dengan perbuatan melindungi dan menjaga lingkungan sekitar.

    Menurut (Di et al. 2024) membangun karakter cinta alam salah satunya dapat dilakukan dengan kegiatan berkebun.kegiatan berkebun bukan hanya sekedar aktivitas fisik,tetapi juga merupakan sarana yang efektif dalam pembentukan karakter pada diri kita.memlalui kegiatan ini kita tidak hanya belajar tentang siklus kehidupan tanaman tetapi juga menginternalisasikan nilai-nilai positif yang dapat membentuk ke pribadian kita.salah satu nilai yang ditanamkan melalui kegiatan berkebun adalah sikap tanggung jawab.

    Dan kita benih mulai berkecambah rasa gembira tak tertuga muncul saat melihat tunas kecil menembus tanah.setiap hari,kita menyiramnya dengan penuh kasih,merawat nya dari sinar matahari yang berlebihan agar tanaman kita tidak kepanasan.dalam momen ini kita belajar bahwa pertumbuhan bukanlah proses instan,karena memerlukan waktu,kesabaran,dan dedikasi.maka kita akan lebih menghargai setiap daun yang tumbuh,tanda bahwa cinta kita tak sia-sia.

    Seiring waktu kita menyaksikan tanaman mulai berbuah,dan rasa bangga bahagia tidak dapat diungkapkan dengan kata-kata.

    Hasil kerja keras kini terbayar dengan keindahan dan manfaat,baik secara visual maupun nutrisi,setiap buah yang dipetik menjadi simbol cinta kita yang telag ditanam bukan hanya untuk tanaman itu sendiri tetapi juga untuk diri kita dan untuk orang-orang sekitar kita.

    Tanaman sebagai keseimbangan ekosistem

    Tanaman memainkan peran penting dalam mempertahankan keseimbangan ekosistem yang mendukung flora dan fauna disekitar kita,pertama unruk flora,tanaman bertanggung jawab atas produksi oksigen melalui fotosintesis,yang diperlukan oleh mehkluk hidup,sambal menyerap karbon dioksida(CO2) dari atmosfer(Rudini et al. 2021).

    Proses ini tidak hanya menjaga kualitas udara tetapi juga mengurangi dampak pemanasan global.tanaman juga menyediakan menyediakan tempat hidup dan sumber makanan bagi berbagai spesies hayati,menciptakan ekosistem yang kaya akan keanekaragaman,akar tanaman berfungsi menstabilkan tanah dan mendukung kehidupan flora lainnya,selain itu tanaman berkontribusi pada siklus nutrisi dengan menyerap mineral dari tanah dan mengembalikannya setelah mereka mati,sehingga memperkaya tanah dengan bahan organik.(Amin, Ode, and Ahmad 2024)

    Menurut(Pribadi and Rahmadhini 2020)Kegiatan berkebun menghadapi sejumlah tantangan yang dapat menghambat keberhasilannya,salah satu masalah yang dialami adalah ketersediannya lahan,dimana urbanisasi yang pesat mengurangi ruang untuk berkebun,terutama dikota-kota besar.selain itu,kualitas tanah yang buruk akibat pencemaran dan praktik pertanian yang tidak berkelanjutan dapat mengurangi kesuburan lahan.

    Disisi lain,tanaman juga sangat penting untuk menjaga keseimbangan ekosistem uang mendukung fauna,mereka menyediakan habitat bagi berbagai jenis spesies hewan,Mulai dari serangga hingga burung dan mamalia,hingga menciptakan lingkungan yang bervariasi tanaman sebagai produsen utama dalam rantai makanan bagi kanrnivora,membentuk jaringan interkasi vital.

    Selain itu penanaman kembali dan pemeliharaan area tanaman membantu mengurangi dampak perubahan iklim,secara langsung untuk mrndukung keberlangsungan hidup berbagai spesies hewan.keberadaan tanaman langsung mendukung keanekaragaman fauna dan menjaga keseimbangan ekosistem secara keseluruhan,sehingga menjadi krusialbagi kesehatan populasi hewan itu sendiri.

    Dengan demikian tanaman berfungsi sebagai pondasi vital untuk keberlangsungan hidup baik flora maupun fauna,jadi disini peran kita sangat penting untuk merawat tanaman dengan sepenuh hati agar tanaman tersebut tumbiuh dengan subur karena dengan mengunakan hati dan kesebaran kita.

    Merawat tanaman sebagai terapi

    Merawat tanaman telah diakui sebagai bentuk terapi efektif yang memberikan dampak positif pada kesehatan mental dan emosional.aktivitas berkebun tidak hanya menawarkan kesempatan untuk terhubung dengan alam,tetapi juga memberikan berbagai manfaat psikologis yang mendalam yakni salah satunya manfaat utama merawat tanaman yaitu dapat  mengurangi stress ketika kita melibatkan diri dan hati dalam kegiatan berkebun,maka otak tidak dapoat berfokus pada aktivitas fisik dan estetika yang menyenangkan.

    Pada proses ini kita menyiangi,menyiram dan melihat pertumbuhan tanaman dapat menjauhkan pikiran dari kecemasan dan kekhawatiran sehari-hari.dalam banyak penelitian,orang yang terlibat dalam berkebun menunjukan tingkat kecemasan yang lebih rendah dan suasana hati yang lebih baik.(Hasyim et al. 2024)

    Namun,berkebun juga dapat meningkatkan rasa pencapaian,melihat tanaman tumbuh,,berbunga atau berbuah juga merupakan hasil dari kerja keras dan perhatian kita,setiapa tahapan perubahan membuat kita merasa bangga dan berkontribusi pada keberhasilan hidup yang lebih besar,menciptakan ikatan yang kuat anatara kita dan tanaman.

    Merawat tanaman juga menunjukkan manfaat sosial,kegiatan ini dapat dilakukan Bersama orang lain,baik dalam komunitas maupun keluarga.berkebun kolaboratif memungkinkan kita berbagi pengalaman,pengetahuan,dan menumbuhkan hubungan interpersonal yang positif,hal ini sangat bermanfaat terutama dalam membantu orang dengan masalah kesepian atau isolasi.(Tanggulangin 2024)

    Dalam konteks rehabilitas beberapa terapi hortikultura telah digunakan untuk membantu individu dengan berbagai kondisi,seperti PTSD,depresi,atau ganguan kecemasan.keterampilan yang dibutuhkan untuk merawat tanaman mendorong rasa tanggung jawab dan pengendalian diri,membantu diri merasa lebih terkendali.

    Kesimpulan

    Berkebun merupakan salah satu cara yang efektif untuk menunjukan cinta dan kepedulian terhadap alam.kegiatan ini tidak hanya memberikan manfaat ekologis,sperti meningkatkan kualitas udara dan keberagaman hayati,tetapi juga menawarkan manfaat psikologis dan sosial bagi individu dan komunitas,melalui berkebun kita dapat berkontribusi terhadap kelestarian lingkungan,memperkuat ketahanan pangan dan meningkatkan kualitas hidup.

    Saran

    Untuk memulai,ada baiknya kita mulai dari yang kecil,seperti melilih tanaman yang mudah dirawat,misalnya sayuran atau tanaman hias.ini dapat memberikan rasa pencapaian dan motivasi untuk terus berkebun.selain itu,edukasi didi dan orang lain tentang terknik berkebun yang ramah lingkungan sangat penting,sehingga kita bisa menyebarkan pengetahuan tentang keberlanjutan.

    Berkebun komunitas  juga bisa menjadi pilihan yang menarik,dimana kita bisa bergabung dengan orang lain untuk berbagi pengetahuan,sumber daya,serta pengalaman.ini sekaligus memperkuat ikatan sosial antar anggota komunitas ,selain itu dukungan terhadap gerakan lingkungan hidup melalui partisipasi dalam kampanye atau proyek restorasi lingkungan dapat meningkatkan kesadaran dan menciptkan dampak positif.

    *Penulis (Stepanus Agung) mahasiswa PJKR Di Universitas Katolik Santo Agustinus Hippo Kampus 1 Ngabang,Fakultas Keguruan Dan Ilmu Pendidikan ( Ngabang Kabupaten Landak

    Kehadiran Pasionis di Bumi Borneo Kalimatan Barat

    Santo Paulus dari Salib - Gambar sumber Internet.

    Duta, Landak | Kehadiran Kongregasi Pasionis (CP) di pulau Borneo khususnya di Kalimatan Barat adalah sebuah kisah misi yang kaya akan semangat Rohani, tantangan historis, dan dampak sosial kultural yang signifikan. Sejak pertama kali Misionaris tiba pada tahun 1946, Pasionis tidak hanya hadir sebagai pemuka iman katolik, tetapi juga sebagai agen Pembangunan manusia: mendirikan sekolah, membina komunitas lokal, dan menerapkan metode pewartaan yang kontekstual.

    Menurut Gema Pasionis, misi Pasionis di Kalimatan barat secara yuridis dimulai pada tahun 1939, Ketika Provinsi Mater Sanctae Spei dari Belanda menerima mandat untuk menjangkau wilayah misi di Ketapang. Namun karena Perang Dunia II, kehadiran fisik baru nyata saat Tiga orang misionaris: P. Canisius Pijnapples, P. Plechelmus Dullaert, dan P. Bernardinus Knippenberg berangkat pada 18 juni 1946, dan tiba di Pontianak pada 26 juli 1946. P. Bernardinus Knippenberg, Superior Misi, kemudian tiba di Ketapang pada 1 Oktober 1946.

    Sejak saat itu Pasionis terus menerus mengembangkan misi mereka dengan membuka daerah-daerah baru: misalnya pada 1948 di Randau, awal 1949 di Tanjung, dan pada 1953 di Sepotong  (Sungai Laur). Pada 14 januari 1955, wilayah misi Ketapang diangkat menjadi prefektur Apostolik dengan Prefek pertama, Mgr. Gabriel Wilhelmus Sillekens, CP. Uskup pertama keuskupan Ketapang adalah Mgr. Sillekens sendiri, ditahbiskan 17 juni 1962.

    Salah satu kontribusi terbesar Pasionis adalah dalam Pembangunan sumber daya manusia lokal. Menurut Fransiskus Emanuel dan Pius Pandor dalam studi mereka, misionaris Pasionis tidak hanya menginjili, tetapi juga membangun sekolah dan program beasiswa untuk anak-anak Dayak Ketapang dan Sekadau. Dalam pandagan (Emanuel & Pandor, 2022), hal ini menunjukan bahwa misi Pasionis berperan signifikan dalam Pendidikan dan kemajuan sosial Masyarakat lokal.

    Lebih jauh, (Kwirinus et al., 2023).menegaskan bahwa strategi “Misi Umat” Pasionis Adalah model katekese kontekstual yang sangat relevan di Kalimatan Barat. Dalam pendekatan ini, pasionis mendorong partisipasi umat, terutama mereka hidup dalam situasi ekonomi terbelakang, ketidakadilan, dan penderitaan. Ini menunjukan bahwa misi Pasionis tidak hanya bersifat spiritual, tetapi juga sosial mereka menyentuh kehidupan nyata umat yang menderita.

    Dalam konteks organisasi, integrasi antara Pasionis Belanda (Mater Sanctae Spei) dan Pasionis Italia (Provinsi Pieta) sangat penting. Menurut tulisan Gema Pasionis, Provinsi “Maria Ratu Damai” Indonesia lahir dari persilangan kedua aliran ini. Pada 17-20 Agustus 1987, diselenggarakan Kongres I Vikariat Regional Jenderal di Sekadau untuk meresmikan penyatuan dua vikariat menjadi satu. Ini Adalah Langkah strategis untuk memperkuat struktur misi Pasionis di Indonesia.

    Namun, misi Pasionis juga menghadapi tantangan serius, menurut (Paul & Lynch, 2015), pada masa dekolonisasi Indonesia, pemerintah melarang masuknya misionaris berkebangsaan asing dan mengancam eksklusi misionaris Belanda. Konflik politik ini memperlihatkan bahwa misi Rohani tidak pernah terlepas dari dinamika politik dan kekuasaan.

    Di era modern, Pasionis tetap relevan. Sebagai contoh, pada tahun 2024, dilaporkan bahwa Misi Umat Pasionis di Riam Panjang (Sekadau) dihadiri oleh Bupati Aron dan Ketua PKK Kabupaten Sekadau, Bersama 14 Pastor Pasionis dari berbagai wilayah. Ini menunjukan bahwa Pasionis masih menjadi aktor peting dalam kehidupan Gereja lokal, membangun relasi dengan pemimpin pemerintah sekaligus menguatkan iman umat.

    Sebuah kisah inspiratif adalah figur Mgr. Giulio Mencuccini, uskup Pasionis asal Italia yang berkarya di kalimatan selama puluhan tahun. Dikenal sebagai “bishop motorcyclist”, ia menempuh ribuan kilometer di jalan jelek perjalanan sulit di perdalaman kalimatan demi melayani komunitas terpencil. Dedikasi semacam ini menegaskan bahwa misi Pasionis bukan sekadar misi gereja, tetapi juga misi kemanusian.

    Menelaah Kembali perjalanan Panjang Pasionis di bumi Borneo sejak 1939 hingga hari ini, kita melihat bahwa kehadiran mereka bukan sekadar catatan Sejarah misi, tetapi ibarat pohon kehidupan yang terus berakar dalam, bertumbuh kuat, dan menghasilkan buah bagi Masyarakat Kalimatan Barat.

    Seperti di tulis dalam Gema Pasionis, “Misi Pasionis adalah benih yang ditanam dengan pengorbanan, tetapi tumbuh menjadi pohon yang menaungi banyak kehidupan”

    Sejak kedatangan para misionaris pertama pada 18 juni 1946 dan kedatangan mereka di Pontianak pada 26 Juli 1946, pelayanan mereka telah membuka jalan bagi Pendidikan, pendampingan iman, serta pemberdayaan sosial Masyarakat Dayak. Dalam pandangan (Emanuel & Pandor, 2022), mencatat bahwa para Pasionis “tidak hanya berkotbah, tetapi membangun manusia melalui Pendidikan dan pembinaan karakter”.

    Kekuatan Rohani Pasionis tidak pernah terlepas dari pusat panggilan mereka: Salib Yesus di puncak Golgota. Salib ini menjadi sumber inspirasi bagi keberanian para misionaris yang melintas Sungai, hutan, dan pedalaman demi menjangkau umat. Dalam dokumen Misi Umat, disebutkan bahwa “spiritualitas sengsara Kristus menjadi tenaga yang mendorong pelayanan yang tidak kenal Lelah” (Kwirinus et al., 2023).

    Karya Pasionis benar-benar menyerupai Pohon Kehidupan:

    • Akar mereka tertanam kuat dalam Spiritualitas Golgota
    • Batang berdiri kokoh melalui dedikasi para Misionaris Belanda dan Italia
    • Dahan menjulur melalui Sekolah misi, pembinaan umat, rumah ibadat, dan pendampingan sosial.
    • Buah mereka hadir dalam bentuk kemajuan Pendidikan, pertumbuhan Gereja, kedewasaan iman umat, Serta lahirnya Iman dan Bruder Pasionis putra daerah.

    Kehadiran mereka hingga saat ini tetap nyata. Misi Umat tahun 2024 di Riam Panjang, yang juga dihadiri pemerintah daerah, menegaskan bahwa pelayanan Pasionis tidak pernah berhenti memberi hidup. Pemerintah mencatat, “Misi Pasionis menompang persaudaraan, pemulihan iman, dan semangat kebersamaan Masyarakat”.

    Bagi, saya perjalanan Pasionis di Borneo khususnya di Kalimatan Barat adalah kesaksian nyata bahwa Salib di Golgota bukan hanya Simbol Penderitaan, tetapi sumber kekuatan. Dari Salib itu lahir keberanian, ketekunan, dan cinta yang membuat Pohon Kehidupan itu terus hidup di Tanah Kalimatan.

    Maka, dapat disimpulkan bahwa Kehadiran Pasionis di Borneo warisan iman yang terus bertumbuh sebuah karya yang menyalurkan kehidupan, harapan, dan terang bagi generasi masa kini serta yang akan datang.

    *Penulis: Fernando Diansi dan Bruder Marsianus Suparmo CP – Kampus I Landak, San Agustin.

    Kala Pasar Menentukan Peran Kita

    Pembagian Job Desk - Sumber Gambar Internet, diakses 28 Nov 2025.

    Duta, Pontianak – Struktur Organisasi Modern tentang Efisiensi dan Tantangan Kemanusiaan di Tempat Kerja.

    Ketika kita berbicara mengenai keberhasilan sebuah organisasi—baik perusahaan besar, lembaga pemerintahan, maupun institusi pendidikan—maka satu hal yang menjadi pondasinya adalah struktur organisasi.

    Struktur bukan hanya sekadar bagan yang terpampang di dinding kantor, ia merupakan sistem yang menentukan arah, peran, alur komunikasi, hingga budaya dalam organisasi itu sendiri. Dalam sejarah perkembangan ilmu manajemen, struktur organisasi lahir dari filosofi efisiensi dan produktivitas yang berakar pada pembagian kerja serta spesialisasi tugas.

    Fayol dan Weber sebagai dua ilmuwan klasik memperkenalkan gagasan bahwa organisasi perlu diatur secara sistematis dan rasional.

    Dalam General and Industrial Management (1949), Henry Fayol memandang manajemen sebagai fungsi universal dengan perencanaan, pengorganisasian, pengarahan, dan pengendalian sebagai pilar utamanya.

    Max Weber dalam Economy and Society (1978) menekankan pentingnya birokrasi, aturan formal, dan hierarki sebagai cara menjamin kepastian dalam pengelolaan organisasi. Kedua gagasan ini masih menjadi rujukan kuat hingga sekarang.

    Namun, seiring dengan perubahan zaman, kita mulai mempertanyakan, masihkah struktur organisasi klasik yang kaku itu relevan untuk dunia kerja modern yang serba berubah cepat?

    Untuk menjawabnya, kita perlu melihat kembali inti dari pembagian kerja dan struktur organisasi dalam konteks kontemporer.

    Pembagian Kerja dan Spesialisasi dengan Mesin Utama Efisiensi

    Adam Smith adalah tokoh yang pertama kali secara eksplisit menguraikan manfaat pembagian kerja dalam ekonomi.

    Melalui contoh pabrik jarum yang terkenal, Smith membuktikan bahwa pemisahan tugas meningkatkan produktivitas secara drastis—dari hanya beberapa unit per hari menjadi ribuan unit.

    Tepat pada poin inilah struktur organisasi modern dibangun pembagian peran yang jelas demi kecepatan dan output yang optimal.

    Pembagian kerja bukanlah konsep yang berdiri sendiri. Smith menyatakan bahwa pembagian kerja mensyaratkan:

    1. Akumulasi kapital — modal untuk membiayai alat, fasilitas, dan tenaga kerja.

    2. Luas pasar — semakin besar pasar, semakin tinggi peluang spesialisasi.

    Oleh karena itu, kota-kota besar dengan pasar luas memunculkan banyak pekerjaan spesifik, mulai dari spesialis IT keamanan jaringan hingga analis risiko pasar modal. Sementara di pedesaan, satu individu masih harus menjalankan banyak peran narik—petani, pedagang, perbaikan alat, dan seterusnya.

    Tetapi seperti dua sisi mata uang, spesialisasi yang memberikan efisiensi juga memiliki konsekuensi serius terhadap aspek kemanusiaan dalam bekerja.

    Struktur Organisasi dari Lini hingga Matriks

    Dalam dunia manajemen, struktur organisasi dikembangkan untuk menjawab kebutuhan efisiensi melalui pembagian kerja. Empat bentuk utama struktur menjadi rujukan:

    1) Struktur Lini

    Jalur komando jelas dari pimpinan puncak ke bawahan. Struktur ini sederhana, keputusan cepat, namun cenderung kaku dan otoriter.

    2) Struktur Fungsional

    Individu dikelompokkan berdasarkan fungsi: produksi, pemasaran, SDM, keuangan, dan lain-lain. Struktur ini efisien tapi sering menimbulkan konflik koordinasi antar departemen.

    3) Struktur Lini dan Staf

    Kombinasi komando langsung dengan staf ahli sebagai pendukung. Kelemahannya adalah potensi dualisme wewenang antara pelaksana dan penasihat.

    4) Struktur Matriks

    Individu memiliki dua atasan: berdasarkan fungsi dan proyek. Struktur ini paling fleksibel, namun sangat kompleks dan rawan tarik-menarik kepentingan.

    Perkembangan struktur ini terus dilakukan untuk menyesuaikan dinamika kompetisi, teknologi, dan kebutuhan inovasi. Perusahaan dunia seperti Google, Tesla, dan Unilever menggunakan struktur matriks agar dapat beradaptasi cepat dalam perubahan.

    Di luar bentuk formalnya, struktur organisasi adalah cermin dari budaya kerja – apakah otoritas terpusat atau terbuka, apakah birokratis atau dinamis, apakah manusia ditempatkan di atas sistem atau sebaliknya.

    Produktivitas Bukan Satu-satunya Tujuan

    Kita tidak bisa memungkiri bahwa perkembangan struktur organisasi selama ratusan tahun ini berhasil meningkatkan produktivitas global secara besar-besaran. Tetapi sisi gelapnya mulai tampak—utamanya pada masa industri modern hingga era digital saat ini:

    ✔ Pekerjaan makin repetitif
    ✔ Hubungan antar manusia makin impersonal
    ✔ Waktu interaksi semakin sempit
    ✔ Tekanan target makin besar

    Dalam situasi tersebut, pekerja sering mengalami monotoni dan kejenuhan.

    Psikologi modern menunjukkan bahwa manusia membutuhkan variasi, rasa dicintai, dan rasa bangga terhadap pekerjaannya. Jika pembagian kerja terlalu sempit, pekerja akan merasa menjadi sekadar roda kecil dalam mesin besar yang tidak mereka pahami.

    Di titik ini, kritik Karl Marx mengenai alienasi pekerja menjadi relevan kembali: pekerja kehilangan kendali atas hasil kerja dan tidak lagi merasa menjadi bagian dari proses yang bermakna.

    Ironisnya, struktur organisasi yang diciptakan untuk meningkatkan efisiensi dapat berbalik menurunkan motivasi dan kesejahteraan jiwa jika tidak dikelola dengan benar.

    Tantangan Baru dalam Abad Digital

    Revolusi digital, globalisasi, dan penggunaan otomatisasi merombak cara kita memandang struktur organisasi. Perubahan lingkungan bisnis yang cepat menuntut:

    • kemampuan mengambil keputusan mandiri

    • kolaborasi lintas disiplin

    • fleksibilitas peran

    • adaptasi konstan terhadap teknologi

    Model struktur yang kaku kini mulai ditinggalkan. Bahkan perusahaan raksasa beralih dari birokrasi hirarkis ke struktur yang lebih cair seperti team-based organization atau agile organization.

    Spesialisasi tetap penting—tetapi pekerja tidak boleh menjadi robot yang hanya bisa satu hal.

    Organisasi harus mulai mengembangkan multiskilling, pelatihan ulang (reskilling), dan peningkatan kompetensi (upskilling). Inilah bentuk baru pembagian kerja yang tetap menjaga manusia sebagai pusatnya.

    Penulis: Samuel_Dosen Universitas Katolik Santo Agustinus Hippo, Akademi Keuangan dan Perbankan Grha Arta Khatulistiwa.

    Departmentalisasi itu Penting, Namun Harus Mengalir

    Departmentalisasi—pengelompokan pekerjaan berdasarkan fungsi, wilayah, produk, pelanggan, atau proses—tetap menjadi alat penting untuk mengatur organisasi. Namun jika terlalu kaku, ia dapat menciptakan tembok birokrasi yang menghambat inovasi. Kita sering mendengar istilah silo, yakni kondisi ketika satu departemen tidak mau tahu tentang kepentingan departemen lain.

    Di sinilah pimpinan memainkan peran penting:

    memastikan setiap unit bekerja secara terpadu
    memberi ruang koordinasi lintas fungsi
    menanamkan visi bersama
    menyeimbangkan kepentingan spesialis dengan kolaborasi

    Karena dalam konteks organisasi modern, keberhasilan tidak lagi ditentukan satu fungsi saja, melainkan sinergi seluruh bagian.

    Mengembalikan Kemanusiaan dalam Struktur Organisasi

    Pertanyaan terpentingnya ialah:

    Bagaimana menciptakan struktur organisasi yang tetap efisien tanpa mengorbankan martabat manusia?

    Jawabannya bukan dengan menghapus pembagian kerja. Tanpa itu, kita akan kembali pada keterbelakangan ekonomi. Solusinya adalah desain organisasi berlandaskan kemanusiaan, yaitu:

    1. Peran yang memberi makna
      Pekerja harus memahami kontribusi mereka terhadap visi besar organisasi.

    2. Pengembangan berkelanjutan
      Peluang rotasi, peningkatan keterampilan, dan jalur karier yang jelas.

    3. Komunikasi dua arah
      Keputusan tidak melulu top-down, tetapi mengakomodasi aspirasi pekerja.

    4. Keseimbangan hidup dan kerja
      Teknologi harus memudahkan hidup, bukan memperpanjang jam kerja.

    5. Budaya apresiatif
      Kinerja baik dihargai secara nyata dan manusiawi.

    Dengan prinsip ini, organisasi tidak hanya mengejar laba, tetapi juga kesejahteraan mental dan sosial pekerjanya.

    Masa Depan Struktur Organisasi adalah Human-Centric

    Struktur organisasi dan pembagian kerja telah membawa dunia pada tingkat kemakmuran yang belum pernah terjadi sebelumnya dalam sejarah manusia. Tetapi pesannya jelas: kita tidak boleh menjadikan efisiensi sebagai satu-satunya Tuhan. Organisasi bukan mesin tanpa jiwa—ia adalah komunitas manusia.

    Jika struktur organisasi dibuat kaku dan hanya mengejar output, maka organisasi akan rapuh menghadapi perubahan dan ditinggalkan oleh manusia yang bekerja di dalamnya. Tetapi jika struktur dibuat fleksibel, kolaboratif, dan peduli pada martabat manusia, maka ia akan melahirkan organisasi yang adaptif sekaligus berkelanjutan di masa depan.

    Perjalanan kita berikutnya bukan lagi tentang menemukan struktur yang paling efisien, tetapi yang paling manusiawi.

    Karena pada akhirnya, keberhasilan organisasi bukan diukur dari berapa banyak produk dihasilkan, melainkan dari seberapa besar pengaruhnya dalam meningkatkan kualitas hidup manusia.

    *Oleh: Samuel – Dosen Keuangan dan Perbankan Grha Arta Khatulistiwa, San Agustin, Kampus II Pontianak. 

    TERBARU

    TERPOPULER