SEGENAP CIVITAS AKADEMIK UNIVERSITAS KATOLIK SANTO AGUSTINUS HIPPO MENGUCAPKAN TERIMA KASIH Kepada PLN PEDULI UNTUK BANTUAN PENINGKATAN RUANG BACA PERPUS KAMPUS UTAMA dan LAPANGAN BASKET KAMPUS UTAMA
Duta, Landak | Segenap civitas akademika Universitas Katolik Santo Agustinus Hippo menyampaikan apresiasi dan ucapan terima kasih kepada PLN Peduli atas dukungan nyata dalam pengembangan fasilitas kampus.
Melalui program tanggung jawab sosial perusahaan, PLN Peduli telah memberikan bantuan yang berdampak langsung pada peningkatan kualitas layanan pendidikan di kampus utama universitas tersebut.
Bantuan tersebut meliputi peningkatan ruang baca perpustakaan kampus utama serta pembangunan lapangan basket yang kini dapat dimanfaatkan untuk menunjang kegiatan olahraga mahasiswa.
Fasilitas baru itu tentu diharapkan oleh Universitas agar mampu memperkaya pengalaman belajar mahasiswa, sekaligus membuka ruang bagi pengembangan minat dan bakat melalui aktivitas akademik maupun non-akademik.
Unika San Agustin – (2025)
Pihak universitas menyambut baik komitmen PLN Peduli dan perhatian Drs. Cornelis, M.H yang terus menunjukkan perhatian terhadap dunia pendidikan.
Bagi kampus San Agustin, dengan adanya ruang baca yang lebih nyaman serta sarana olahraga yang representatif, universitas yakin dan optimistis bahwa layanan pendidikan akan semakin meningkat dan memberikan manfaat luas bagi lingkungan kampus.
Melalui poster resmi yang dirilis oleh Romo Kehi sebagai Sekjen Universitas Katolik Santo Agustinus Hippo bahwa hal itu kembali menegaskan penghargaan atas kontribusi PLN Peduli dan Drs Cornelis, M.H sebagai anggota DPRRI Komisi XII. Universitas berharap kerja sama ini dapat berlanjut untuk mendukung pembangunan generasi muda yang unggul dan berintegritas. (Sam).
Jaringan Caritas Indonesia mendistribusikan bantuan untuk penyintas banjir di Sibolga
Duta, Sibolga|Caritas Indonesia (Yayasan KARINA-KWI) bersama jaringan Caritas–PSE di berbagai keuskupan yang terdampak bergerak cepat merespons bencana banjir bandang di wilayah Sumatera. Hanya beberapa hari setelah bencana melanda, mereka sudah membuka pos layanan kemanusiaan di Desa Hutagodang, Kecamatan Sungai Kanan, Tapanuli Selatan.
Direktur Eksekutif Caritas Indonesia, Rm. Fredy Rante Taruk, meninjau langsung kondisi desa yang luluh lantak diterjang banjir.
Hampir seluruh bangunan rata dengan tanah; hanya sedikit rumah yang masih berdiri, termasuk satu gereja yang kini dipenuhi lumpur dan tumpukan kayu. Material banjir berupa batu besar, lumpur, dan gelondongan kayu menghanyutkan hampir semua rumah warga.
Seorang perempuan yang selamat menunjukkan lokasi bekas rumahnya sambil menahan tangis. Ia menyebutkan bahwa seluruh harta miliknya hilang dan kini ia hanya memiliki pakaian yang melekat di tubuhnya. Di banyak titik, gelondongan kayu menumpuk setinggi lebih dari tinggi orang dewasa.
Dalam kunjungan tersebut, Rm. Fredy bersama perwakilan Keuskupan Sibolga—di antaranya Pastor Vikjen dan Ketua Komisi PSE—mendistribusikan 150 paket makanan kepada para penyintas.
Melihat dampak kerusakan yang besar, Rm. Fredy memastikan akan mendirikan pos layanan kemanusiaan di Desa Hutagodang sebagai pusat dapur umum, layanan kesehatan, serta distribusi kebutuhan dasar. Ia juga mengajak masyarakat luas untuk berpartisipasi memberikan donasi.
Tak hanya di Hutagodang, bantuan juga mengalir dari Medan. Caritas Keuskupan Agung Medan mengirimkan 11 truk logistik ke wilayah-wilayah terdampak di Keuskupan Padang, Medan, dan Sibolga. Langkah ini menjadi wujud nyata solidaritas jaringan Caritas nasional yang menggerakkan umat dan lembaga-lembaga kemanusiaan Gereja Katolik.
Tragedi banjir bandang yang menelan hampir 1.000 korban jiwa di tiga provinsi ini mendorong keuskupan-keuskupan di seluruh Indonesia untuk menggalang dana, termasuk Keuskupan Surabaya. Melalui media sosial, Uskup Surabaya, Mgr. Agustinus Tri Budi Utomo, mengimbau umat untuk menunjukkan solidaritas bagi para penyintas. Ajakan serupa juga disampaikan oleh keuskupan lainnya dan berbagai kelompok masyarakat.
Hingga saat ini, dana publik yang terkumpul melalui Caritas Indonesia mencapai Rp 1,8 miliar. Selain donasi uang, Caritas juga membuka penerimaan kebutuhan prioritas seperti genset air, selimut, terpal, tenda, beras, minyak goreng, sepatu boot, perlengkapan dapur, seragam dan peralatan sekolah, ember mandi, serta pakaian baru.
Mereka menolak bantuan berupa makanan kedaluwarsa, minuman kemasan, makanan instan, maupun pakaian bekas.
Menurut data Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), jumlah korban meninggal akibat banjir bandang dan longsor di tiga provinsi di Sumatera mencapai 914 orang.
“Hingga sore 6 Desember 2025, total korban meninggal bertambah menjadi 914 jiwa dari sebelumnya 867 jiwa,” ujar Kepala Pusat Data, Informasi dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Abdul Muhari, di Banda Aceh.
Korban meninggal tercatat masing-masing: 359 jiwa di Aceh, 329 jiwa di Sumatera Utara, dan 226 jiwa di Sumatera Barat. Sementara itu, 389 orang masih dinyatakan hilang dan dalam pencarian tim SAR. (E – Sam).
Makam Irene Sokoy, meninggal 17 November 2025 lalu karena ditolak 4 Rumah Sakit di Papua | Foto: Dokumentasi Keluarga
Duta, Pontianak | Malam hari saya yang sejuk dan lelah, tiba-tiba berubah menjadi membara, panas dan menggelora; sebenarnya gemas sekaligus sedih. Algoritma Instagram yang sedang saya scroll membawa saya ke status akun Instagram seorang kawan Kader Malaria yang pernah saya kunjungi Mei 2025 lalu di Jayapura, Papua: “Irene Sokoy. TIDAK DITOLONG. RSUD Yowari. RS Dian Harapan. RSUD Abepura. RS Bhayangkara.” (Instagram @jayapurakitongpukota).
Singkat cerita, Irene Sokoy, berpulang ke penciptanya, karena tak tertolong saat hendak bersalin anak yang sedang dikandungnya. Kita mengetahui dari postingan itu, Irene tidak berpulang saat tengah bersalin, tapi berpulang karena tidak ditolong untuk bersalin! Ibu dan bayi di kandungannya berpulang.
Dan, satu kalimat yang paling menyedihkan hati saya saat membaca lebih banyak dari berbagai sumber berita mengenai kisah Irene Sokoy, seorang ibu hamil yang meninggal setelah ditolak di berbagai rumah sakit di Papua: “Ia dibiarkan berpindah dari satu pintu ke pintu lain, bukan karena kekurangan alat, tetapi karena kekurangan empati.” Dan pada titik inilah, awal jari saya mulai mengetik: apa sejatinya yang sedang rusak dalam tubuh empati manusia hari ini?
Saya dan Anda semua bisa menduga, jawaban yang paling mudah ketika menemukan kasus seperti ini adalah menyalahkan fasilitas, ketersediaan dokter, koordinasi layanan, kedisiplinan kerja, efisiensi ruang atau bisa juga soal regulasi atau soal takut melanggar birokrasi. Tetapi, tragedi semacam ini sudah terlalu berulang untuk hanya sekadar dijelaskan dengan topik-topik tadi. Kita pernah menyalahkan ini dan itu, padahal di masa canggih hari ini, sistem ini dan itu sudah mampu dibangun manusia. Lalu? Tragedi serupa tetap terus terjadi.
Sementara, menurut saya, akar kerusakannya bukan pada sistem—tetapi pada jiwa yang menggerakkan sistem. Dan jiwa itu bernama etika.
Etika sebagai Inti Pembentukan Manusia
Akan banyak perdebatan, jika saya mengatakan bahwa dalam setiap upaya membentuk manusia, misalnya melalui pendidikan, yang terpenting hanyalah satu hal: etika. Kenapa kok etika sebagai mata pelajaran bisa diperdebatkan? Ya, karena yang dianggap penting ialah “bagaimana saya menjadi ahli?” Banyak institusi pendidikan telah menempatkan mata pelajaran etika di tempat signifikan dalam sistem pendidikannya. Itu bagus. Tetapi masih lebih banyak juga yang setengah-setengah, keliru, atau bahkan tidak sama sekali.
Mengapa etika? Dalam konteks hidup-mati, misalnya, etika adalah horizon tertinggi, kompas normatif yang menilai apakah tindakan kita merawat kehidupan atau merusaknya. Manusia tidak dinilai dari kepintarannya, bagaimana ia mencintai bangsanya, atau seperti apa kecepatan kerjanya, atau sebesar apa loyalitasnya kepada institusi, dan juga soal seberapa banyak ia menghemat uang, tetapi dari kemampuannya bertindak benar terhadap sesama. Etika bukan sekadar aturan moral; ia adalah arah. Ia adalah medan di mana seluruh nilai lain harus bermuara.
Di bawah etika berdiri nilai-nilai yang sering diagungkan oleh negara dan institusi: keahlian, ilmu pengetahuan, patriotisme, loyalitas, keteraturan, dan disiplin. Kita diajari untuk bekerja cepat, taat prosedur, hormat pada hierarki, dan setia kepada institusi. Semua ini penting—tetapi penting sebagai alat, bukan sebagai tujuan.
Ketika alat dijadikan tujuan, manusia berubah menjadi teknisi tanpa hati. Dan itulah yang terjadi dalam tragedi Irene Sokoy.
Almarhumah Irene Sokoy | Foto: Dokumentasi Keluarga
Etika Bukan Sekadar Kebiasaan
Banyak orang mengira bahwa etika lahir dari kebiasaan. Bahwa membiasakan diri taat aturan, teratur, disiplin, dan loyal, akan otomatis melahirkan moralitas. Padahal pemikiran etis klasik, dari Aristoteles dari Yunani hingga Levinas dari Prancis, justru menekankan hal sebaliknya: kebiasaan membutuhkan etika sebagai penuntun.
Kebiasaan menyebabkan sesuatu diulang-ulang begitu saja setiap hari, rutinitas saja! Tetapi tanpa etika, ia hanya mengulang kekosongan. Disiplin tanpa etika hanyalah rutinitas tanpa jiwa. Loyalitas tanpa etika berubah menjadi kepatuhan yang membutakan. Bahkan ilmu pengetahuan, tanpa etika, dapat menjadi alat penindasan.
Kebiasaan yang berulang setiap hari, aturan yang disusun tanpa sekali-kali direfleksikan kemudian dianggap rutinitas biasa saja: aturan A maka A, B maka B, misalnya, termasuk ketika Irene Sokoy datang ke RS Bhayangkara setelah berjuang dari tiga rumah sakit lainnya: bisa dirawat di VIP, tapi harus bayar! Ya! Kamar VIP itu “biasanya” untuk orang berduit, jadi ketika orang tidak berduit butuh, VIP ya VIP untuk orang berduit, aturan itu sudah pakem, dan tidak bisa diubah demi menjadi tempat merawat Irene agar ia dan kandungannya dapat terus hidup!
Maka, lagi-lagi etika tidak lahir dari kebiasaan. Justru kebiasaan harus tunduk kepada etika. “Mari Irene, rawat saja dulu, lahir dulu dengan selamat anaknya, lalu kita bicarakan uangnya nanti,” kata angan-angan saya yang mencoba berpikir apakah karena kebiasaan birokrasi, hati mereka yang menolak Irene, terlalu sulit untuk “agak fleksibel” mengubah kebiasaan, demi merawat kehidupan.
“O, kamar VIP ini buat orang yang punya bayar Rp4 juta, kalau tidak ada dana itu, lebih baik kosong, daripada dipakai Irene yang tidak punya uang sebesar itu,” itu kalimat yang saya karang sendiri untuk menggambarkan bagaimana kebiasaan yang tertulis itu lalu telah merenggut nyawa Irene dan kandungannya.
Ketika seseorang menempatkan etika sejajar, atau bahkan lebih rendah dari kebiasaan, kepatuhan pada pakem, atau misalnya dari disiplin mengikuti seperangkat prosedur administrasi di atas kertas yang digariskan oleh pengelola “agar operasional berjalan lancar,” ia telah melakukan kesalahan kategoris: ia menyamakan kompas dengan langkah kaki, padahal langkah kaki bergantung pada kompas agar tidak tersesat.
Tragedi Irene: Ketika Prosedur Menjadi Lebih Penting daripada Orang, Etika Tidak Lagi “Rujukan”
Dalam kasus Irene Sokoy, banyak pihak terjebak pada logika teknis: rujukan penuh, fasilitas tidak tersedia, prosedur harus dijalankan, administrasi harus lengkap, dan seterusnya. Kita tidak menolak kebutuhan prosedur. Namun tragedi muncul ketika prosedur dijadikan lebih suci daripada hidup manusia. Yang terjadi pada Irene bukan sekadar kegagalan koordinasi, tetapi pembalikan struktur moral: disiplin dan kepatuhan telah ditinggikan melebihi etika.
Karena ketika etika digeser dari posisi puncak, semua nilai di bawahnya kehilangan orientasi: keahlian menjadi dingin dan impersonal, ilmu pengetahuan menjadi buta terhadap penderitaan, loyalitas menjadi sempit, hanya kepada institusi—bukan kepada kemanusiaan.
Penulis dengan anak-anak di Kampung Skyland, Jayapura, Mei 2025 | Foto: Dokumen Penulis
Disiplin berubah menjadi ritual mekanis tanpa jiwa. Agar Irene “tidak ditolak”, tenaga kesehatan tak perlu lebih pintar, tak perlu lebih nasionalis, tak perlu lebih disiplin. Yang dibutuhkan adalah sesuatu yang jauh lebih sederhana—dan jauh lebih sulit: empati yang diarahkan oleh etika.
Etika itu melampaui seragam, institusi, dan ritual ketaatan. Di negeri ini, banyak orang begitu bangga dengan disiplin ala militer, dengan retorika bela negara, dengan kesetiaan pada institusi. Ada yang mengira bahwa membentuk manusia berarti membentuk tubuhnya: baris-berbaris, tegap sigap, taat aba-aba, bekerja teratur, mematuhi senior. Apa yang perlu kita bentuk itu tadi benar dan penting. Namun mereka keliru besar bila menyamakan ketertiban fisik dengan ketertiban moral.
Ketaatan institusional tidak pernah sama dengan etika. Dan nasionalisme tidak otomatis melahirkan kemanusiaan. Nasionalisme tanpa etika hanya menumbuhkan agresi. Disiplin tanpa etika hanya melahirkan kekerasan prosedural. Loyalitas tanpa etika hanya memperkuat impunitas. Keahlian tanpa etika hanya mempercepat kerusakan. Etika adalah kompas yang mengoreksi semuanya, bukan turunannya.
Indonesia sedang menghadapi krisis yang jauh lebih dalam daripada krisis ekonomi, politik, atau teknologi: krisis etika. Di berbagai sektor: kesehatan, pendidikan, hukum, perlindungan masyarakat, pemerintahan, bahkan di soal beragama, kita melihat pola yang sama: prosedur lebih penting daripada manusia; kepatuhan lebih dihargai daripada belas kasih; loyalitas lebih utama daripada keadilan.
Siapapun yang membaca refleksi malam saya ini, tolong jangan marah atau merasa “loh kok itu saya, Carlos menulis tentang saya ya?” Maaf. Saya mau meneropong soal kematian Irene Sokoy. Kematiannya mengidentifikasi bagaimana saya dan kita sekalian mudah untuk kehilangan orientasi etis pada hari-hari ini.
Kita sering memuja keahlian teknis tetapi melupakan empati. Kita bangga pada keseragaman tetapi abai pada kemanusiaan. Kita sibuk menghafal sumpah profesi tetapi lupa makna sumpah itu. Dan selama etika tidak dikembalikan ke tempat tertinggi, kematian Irene-irene selanjutnya akan kembali terjadi.
Mengembalikan Etika ke Inti: Irene dan Cermin Kemanusiaan Kita
Apa yang harus kita lakukan? Jawaban paling jujur dan paling sederhana adalah: mengembalikan etika ke singgasananya. Bukan disiplin yang menjadi pusat. Bukan kepatuhan. Bukan prosedur. Bukan seragam. Bukan nasionalisme. Bukan keahlian teknis. Semua itu penting, tetapi semuanya harus tunduk kepada etika. Dan etika itu sendiri, bila ditelusuri sampai ke akarnya, bermuara pada satu kata paling manusiawi: empati. Empatilah yang membuat seorang dokter menunda administratif demi menyelamatkan nyawa.
Empatilah yang membuat perawat melawan rasa takut pada atasan demi melindungi pasien. Empatilah yang membuat institusi mengutamakan manusia, bukan prosedur. Etika tanpa empati hanyalah teori. Empati tanpa etika hanyalah sentimen. Keduanya harus bersatu agar kehidupan bisa dirawat.
Kematian Irene Sokoy adalah luka saya dan Anda, semua kita. Ia adalah cermin yang menampilkan wajah kita apa adanya: masyarakat yang berhasil melatih disiplin tetapi gagal melatih kemanusiaan. Dan karena itu, pesan ini harus menjadi kesimpulan moral kita bersama: dalam setiap upaya membentuk manusia, puncaknya selalu etika. Di bawahnya berdiri keahlian, ilmu pengetahuan, cinta tanah air, keteraturan, kedisiplinan, dan berbagai kebiasaan-kebiasaan.
Semua itu penting, tetapi semuanya hanyalah alat, dan alat kehilangan makna bila tidak diarahkan oleh etika. Tanpa etika, keahlian menjadi dingin, ilmu pengetahuan menjadi buta, loyalitas menjadi sempit, dan disiplin berubah menjadi ritual tanpa jiwa. Ketika etika menjadi yang tertinggi, segala yang berada di bawahnya menemukan tujuan: merawat kehidupan dengan empati.
Untuk mengenang Irene Sokoy dan untuk memastikan tidak ada lagi Irene berikutnya.**
*Michael Carlos Kodoati – Dosen dan Kepala Lembaga Pengembangan Humaniora dan Religiusitas (LENTERA) Universitas Katolik Santo Agustinus Hippo. _ Tulisan ini adalah opini pribadi dari sudut pandang keahlian akademis penulis di bidang filsafat, bukan pendapat institusi.
Digitalisasi dan Teknologi Berbasis AI: Apakah Kita Sudah Benar-benar Siap?
Duta, Pontianak | Gelombang digitalisasi dan adopsi Kecerdasan Buatan (AI) telah menyapu hampir setiap sektor kehidupan. Dari otomatisasi pabrik, analisis data prediktif di bisnis, hingga asisten virtual di rumah kita, teknologi ini menjanjikan efisiensi, inovasi tanpa batas, dan peningkatan kualitas hidup. Namun, di balik janji-janji kemajuan ini, muncul pertanyaan mendasar: Apakah kita sebagai individu, masyarakat, dan negara sudah benar-benar siap untuk menghadapi transformasi radikal ini?
Kesiapan terhadap digitalisasi dan AI tidak hanya diukur dari seberapa banyak smartphone yang kita miliki, tetapi dari fondasi infrastruktur yang merata dan kuat.
Di banyak negara, termasuk Indonesia, disparitas akses internet dan teknologi masih tinggi antara wilayah perkotaan dan pedesaan. AI dan digitalisasi hanya akan memperlebar kesenjangan ini jika aksesibilitas tidak diatasi. Bagaimana masyarakat dapat memanfaatkan layanan digital atau AI jika koneksi internet yang stabil pun menjadi kemewahan?
Ambisinya adalah AI dan smart city, tetapi realitas di banyak daerah terpencil adalah perjuangan untuk mendapatkan koneksi dasar.
Bagaimana kita bisa berbicara tentang Machine Learning dan Big Data jika saudara-saudara kita di pelosok desa harus naik ke bukit, mendaki atap rumah, atau bahkan memanjat pohon tinggi hanya demi mendapatkan satu bar sinyal telepon seluler?
Kenyataan ini merupakan kontras yang menyakitkan bagi narasi digitalisasi nasional. Bukan hanya sinyal, tetapi ketersediaan listrik (energi) juga menjadi penghalang utama. AI, cloud computing, dan perangkat digital adalah teknologi yang sangat bergantung pada pasokan listrik yang stabil. Tanpa listrik 24 jam, perangkat digital tidak dapat diisi ulang, modem tidak dapat beroperasi, dan potensi digitalisasi pun mati suri.
Fokus harus dialihkan dari “teknologi canggih” ke “infrastruktur dasar yang merata”. Jika kita mengabaikan masalah akses sinyal (konektivitas) dan akses listrik (energi) di daerah 3T (Terdepan, Terluar, Tertinggal), maka digitalisasi dan AI hanya akan dinikmati oleh segelintir orang, sementara sisanya terperangkap dalam kemiskinan akses.
Teknologi AI yang canggih memerlukan infrastruktur cloud computing, jaringan 5G, dan pusat data yang memadai. Keamanan siber juga menjadi perhatian utama. Semakin terdigitalisasi suatu negara, semakin rentan pula ia terhadap serangan siber yang dapat melumpuhkan layanan publik dan ekonomi.
Foto: Paulinus Jang, S.E.,M.M. – Dosen Akademi Keuangan dan Perbankan Grha Arta Khatulistiwa, Unika San Agustin.
Tantangan Kesiapan Sumber Daya Manusia (SDM)
Ancaman terbesar AI bukanlah menciptakan robot yang akan mengambil alih dunia, melainkan menciptakan kesenjangan keahlian (skill gap) di mana sebagian besar angkatan kerja menjadi tidak relevan.
Banyak pekerjaan rutin akan diotomatisasi. Kesiapan SDM berarti kemampuan untuk bertransisi dari pekerjaan yang bersifat repetitif ke pekerjaan yang menuntut keterampilan kognitif tingkat tinggi, seperti: Pemikiran Kritis, Kreativitas dan Inovasi, Kolaborasi Lintas Disiplin, Literasi Data dan AI.
Pemerintah dan lembaga pendidikan harus mereformasi kurikulum dengan cepat untuk melatih generasi baru agar menjadi pengembang AI atau mitra kerja AI (AI collaborators), bukan sekadar korban otomatisasi.
Rasa cemas terhadap hilangnya pekerjaan adalah reaksi alami. Kesiapan sosial membutuhkan adanya jaring pengaman dan program pelatihan ulang (reskilling dan upskilling) yang masif dan terstruktur untuk memfasilitasi transisi karier.
Tantangan Kesiapan Etika dan Regulasi
Teknologi AI bekerja berdasarkan algoritma dan data. Hal ini memunculkan isu etika yang sangat kompleks yang belum memiliki kerangka hukum yang mapan.
Sistem AI belajar dari data yang dimasukkan oleh manusia. Jika data tersebut mengandung bias historis (ras, gender, kelas sosial), maka AI akan mereplikasi dan bahkan memperkuat diskriminasi tersebut dalam keputusannya, seperti dalam proses rekrutmen atau penentuan kredit. Kesiapan berarti memiliki mekanisme audit untuk memastikan keadilan (fairness) dan transparansi (transparency) algoritma.
Digitalisasi berarti pengumpulan data pribadi dalam skala yang belum pernah terjadi sebelumnya. AI memproses data ini untuk mengambil keputusan. Pertanyaan mengenai kepemilikan data, bagaimana data digunakan, dan hak individu untuk dilupakan, menjadi isu krusial. Diperlukan regulasi perlindungan data pribadi yang kuat dan penegakan hukum yang tegas.
Kesimpulan
Kesiapan sejati terhadap Digitalisasi dan AI bukanlah tentang mengimpor teknologi terbaru, melainkan tentang membangun fondasi yang memungkinkan masyarakat untuk tidak hanya mengonsumsi, tetapi juga menciptakan dan mengontrol teknologi tersebut.
Kita harus memastikan bahwa AI berfungsi sebagai alat untuk memperkuat nilai-nilai kemanusiaan, bukan sebagai kekuatan yang merusak ekuitas dan etika sosial. Tanpa mengatasi masalah fundamental seperti akses sinyal dan listrik, semua diskusi tentang AI hanyalah ilusi kemajuan bagi sebagian besar populasi.
Ini adalah panggilan bagi semua pihak—pemerintah untuk regulasi yang visioner, industri untuk praktik yang bertanggung jawab, dan masyarakat untuk adaptasi yang proaktif—agar kita dapat menavigasi masa depan yang didominasi AI dengan bijak, inklusif, dan etis. Kesiapan bukan hanya kewajiban, tetapi investasi dalam masa depan yang adil.
*Paulinus Jang, S.E.,M.M. – Dosen Akademi Keuangan dan Perbankan Grha Arta Khatulistiwa, Unika San Agustin.
Kami bukan hanya pengguna teknologi kami adalah generasi yang belajar bertahan di dalamnya. Cempaka, Radelis Sanjani, Theresia Oktaviana Lita Safira, Stevani Sena, Agnes Safitri, Maria Gabriella. Fakultas Kesehatan Prodi DIII Kebidanan.
Duta, Pontianak | Seiring berkembangnya zaman, kita menyadari bahwa teknologi juga mengalami peningkatan yang pesat. Peningkatkan ini merambat sampai ke sektor hiburan yang dapat di akses oleh siapa saja dan kapan saja. Sayangnya, perkembangan ini tidak melulu tentang konten positif namun juga termuat didalamnya konten negative dan salah satunya adalah judi online.
Judi online merupakan salah satu permainan judi yang digemari oleh berbagai kalangan baik dewasa maupun remaja dengan berbagai model yang dikemas semenarik mungkin. Judi online atau yang biasa dikenal dengan judol adalah aktivitas taruhan atau permainan yang dilakukan melalui internet di mana pemain mempertaruhkan uang atau nilai lainnya untuk kesempatan memperoleh keuntungan.
Menurut survei yang dilakukan oleh BNN dan Kementerian Sosial, hasil survei menunjukkan bahwa 2,6% remaja di Indonesia pernah mencicip judi online. Walaupun angkanya terlihat kecil, dampak yang ditimbulkan cukup besar.
Tapi mengapa remaja lebih terdampak judi online? Kristiana Siste, Dokter Spesialis Kedokteran Jiwa Indonesia mengatakan bahwa perilaku kecanduan bisa tumbuh sejak usia dini.
Bagian emosi otak pada remaja itu berkembang dengan pesat namun bagian otak yang mengendlikan diri lambat, mudahnya adalah remaja itu mudah terbawa emosi dan kombinasi dari kurangnya pengawasan serta perhatian dari orang tua, pengaruh teman sebaya juga akses internet yang tidak dibatasi.
Ada banyak faktor sebenarnya yang menjadi penyebab berkembangnya judi online dikalangan remaja. Beberapa faktor yang ditemukan oleh penulis antara lain: lingkungan, ekonomi, kesempatan dan kesadaran.
Selain adanya legalisasi kegiatan judi dari negara di luar Indonesia yang kemudian masuk ke Indonesia lewat situs-situs, aplikasi media sosial seperti Instagram, Facebook, Youtube, X, Tiktok dan File Sharing menjadikan hal ini semakin mudah untuk diakses dan disebarkan (Data Penanganan Konten Perjudian periode 2018-2023).
Apabila hal ini terus dibiarkan, remaja akan semakin terjebak dalam lingkaran kecanduan yang sulit di hentikan. Oleh karena itu peran orang tua sangat penting dalam membentuk kebiasan anak terutama dalam hal bermain gadget.
Tidak hanya memberikan akses ke anak dalam menggunakan teknologi namun juga orangtua diharapkan mampu memahami dunia digital. Ketika orang tua kehilangan pengawasan atas remaja, hal ini bisa menyebabkan berbagai dampak yang sangat berpengaruh terhadap perilaku dan pertumbuhan remaja.
Remaja yang tidak diawasi dalam menggunakan ponsel atau gadget berisiko besar terpapar situs judi online dan kecanduan digital. Dampak pertama yang dapat muncul adalah gangguan pada kesehatan mental, seperti merasa stres, cemas, dan bersalah karena kehilangan uang atau waktu.
Selain itu, prestasi belajar remaja juga bisa menurun karena waktu yang seharusnya digunakan untuk belajar malah dihabiskan untuk bermain judi online.
Dampak secara sosial, remaja cenderung menjauhi lingkungan yang positif dan mulai berbohong kepada orang tua atau teman untuk menutupi kebiasaan buruknya. Sedangkan dari segi ekonomi, remaja bisa menghabiskan uang saku, bahkan sampai mencuri untuk terus bermain.
Upaya untuk mencegah remaja terjebak dalam perjudian daring sebaiknya dimulai dari lingkungan terdekatnya, yaitu keluarga terutama orangtua.
Peran orang tua sangat penting dalam mengawasi dan membimbing penggunaan perangkat elektronik oleh anak-anak. Anak-anak yang diberikan keleluasaan dalam menggunakan gadget tanpa pengawasan dari orang tua kemungkinan besar lebih mudah terpapar situs judi serta konten berbahaya lainnya.
Oleh karena itu, orang tua perlu secara aktif mengambil peran sebagai pengawas dan pendamping digital bagi anak-anak mereka dengan cara mengawasi penggunaan gadget, edukasi anak, konsultasi ke psikolog dan laporkan ke pihak berwajib apabila menemukan situs atau aplikasi judi online dalam gadget mereka.
*Cempaka, Radelis Sanjani, Theresia Oktaviana Lita Safira, Stevani Sena, Agnes Safitri, Maria Gabriella. Fakultas Kesehatan Prodi DIII Kebidanan.
Kami menulis, kami belajar, tentang peduli dan tentang tahu.Karena kesehatan remaja putri bukan hal sepele.
Gloria Anastasia • Fellysia Agie Evangelista • Febih Yowola Giri • Fransiska Hellaria Jesika • Ardita Fakultas kesehatan prodi dIII Kebidanan & Keperawatan Semester 3 (2025)
Duta, Pontianak | Menurut WHO, terdapat sekitar 191 juta remaja putri di dunia yang mengalami anemia. Indonesia sendiri menempati urutan ke-8 dari 11 negara di Asia dengan jumlah penderita mencapai 7,5 juta orang.
Data tersebut menunjukkan bahwa anemia masih menjadi masalah kesehatan yang sangat serius di kalangan remaja putri. Berdasarkan laporan Kementerian Kesehatan Republik Indonesia (2024), sebanyak 22,6% remaja putri kelas 7 dan 10 di Indonesia mengalami anemia.
Sementara itu, di tingkat daerah, Kepala Dinas Kesehatan Kota Pontianak, Kalimantan Barat, melaporkan bahwa prevalensi anemia pada remaja putri usia sekolah di wilayahnya mencapai 29%, berdasarkan hasil pemeriksaan darah yang dilakukan di sejumlah sekolah.
Anemia pada remaja putri umumnya disebabkan oleh defisiensi zat besi (Fe) akibat pola makan yang tidak seimbang, konsumsi makanan olahan yang berlebihan, serta rendahnya asupan sumber makanan kaya zat besi seperti daging merah, hati ayam, sayuran hijau, dan kacang-kacangan. Kondisi ini menimbulkan berbagai gejala, antara lain mudah lelah, pucat, pusing, dan kesulitan berkonsentrasi.
Dampaknya dapat memengaruhi prestasi belajar, produktivitas, dan daya tahan tubuh remaja. Dalam jangka panjang, anemia yang tidak tertangani dapat mengganggu kesiapan remaja putri dalam menghadapi kehamilan di masa depan. Saat memasuki masa kehamilan, remaja yang sebelumnya telah mengalami anemia akan lebih rentan terhadap komplikasi seperti bayi berat lahir rendah (BBLR) dan kelahiran premature.
Sebagai bentuk upaya nyata dalam menanggulangi anemia, pemerintah Indonesia sejak tahun 2014 telah meluncurkan program Weekly Iron and Folic Acid Supplementation (WIFAS) atau program pemberian Tablet Tambah Darah (TTD) untuk remaja putri. TTD mengandung 60 mg zat besi elemental dan 400 µg asam folat yang diberikan secara gratis melalui sekolah, puskesmas, atau fasilitas kesehatan lainnya. Pemberian TTD dilakukan satu tablet per minggu selama 52 minggu, dengan tujuan untuk menjaga keseimbangan kadar zat besi dalam tubuh secara berkelanjutan.
Meskipun cakupan distribusi TTD tergolong tinggi, yakni 80,9%, namun tingkat kepatuhan remaja putri dalam mengonsumsinya masih sangat rendah, yaitu hanya 1,4%. Hal ini menunjukkan adanya kesenjangan antara ketersediaan program dan perilaku penerima manfaat.
Rendahnya kepatuhan remaja dalam mengonsumsi TTD disebabkan oleh berbagai faktor, seperti kurangnya pengetahuan tentang manfaat tablet Fe, pola makan yang tidak sehat, rasa dan aroma tablet yang tidak disukai, serta efek samping ringan seperti mual, sembelit, atau tinja berwarna hitam yang menimbulkan ketidaknyamanan.
Menurut Glanz, Rimer, dan Viswanath dalam buku Health Behavior: Theory, Research, and Practice, tingkat pengetahuan seseorang memiliki pengaruh besar terhadap perubahan perilaku kesehatan. Individu yang memiliki pemahaman baik tentang pentingnya tindakan pencegahan akan lebih mudah untuk mengadopsi perilaku sehat secara konsisten.
Oleh karena itu, peningkatan pengetahuan gizi dan pemahaman tentang manfaat TTD menjadi langkah strategis yang perlu diperkuat dalam upaya menurunkan prevalensi anemia pada remaja putri.
Selain faktor pengetahuan, pola konsumsi makanan modern juga berperan besar dalam meningkatnya kasus anemia. Banyak remaja yang cenderung mengonsumsi makanan cepat saji seperti mi instan, seblak, bakso, dan jajanan pinggir jalan yang rendah zat gizi. Kebiasaan meminum teh atau kopi setelah makan juga dapat menghambat penyerapan zat besi dalam tubuh karena kandungan tanin dan kafeinnya. Paparan iklan makanan rendah gizi turut memperburuk kondisi ini karena membentuk persepsi keliru tentang gaya hidup praktis namun tidak sehat.
Di sisi lain, efek samping dari konsumsi TTD juga kerap menjadi alasan utama remaja putri enggan mengonsumsinya. Beberapa keluhan yang sering muncul antara lain mual, nyeri perut, sembelit, atau tinja berwarna hitam.
Namun, gejala ini umumnya bersifat ringan dan akan berkurang seiring adaptasi tubuh terhadap suplementasi zat besi. Untuk mengurangi efek samping tersebut, disarankan agar TTD dikonsumsi satu jam setelah makan atau sebelum tidur malam, dan diminum bersama jus jeruk atau air dengan vitamin C untuk membantu penyerapan zat besi. Sebaliknya, konsumsi TTD sebaiknya tidak bersamaan dengan teh atau kopi karena dapat menghambat penyerapan zat besi dalam usus.
Konsumsi TTD secara rutin, disertai dengan pola makan bergizi seimbang dan peningkatan pengetahuan gizi, menjadi langkah nyata dalam mencetak generasi muda yang sehat, cerdas, dan siap menjalani kehamilan yang berkualitas di masa depan.
Pencegahan anemia bukan hanya soal memenuhi kebutuhan zat gizi, tetapi juga tentang membangun kesadaran remaja akan pentingnya menjaga kesehatan sejak dini. Dengan demikian, program pencegahan anemia pada remaja putri bukan sekadar intervensi kesehatan, melainkan investasi jangka panjang untuk meningkatkan kualitas hidup dan generasi bangsa. Semoga!!!
“Kami menulis, kami belajar, tentang peduli dan tentang tahu.Karena kesehatan remaja putri bukan hal sepele.”
Duta, Pontianak | Dalam dunia yang terus berubah dengan kompleksitas yang meningkat, tantangan terbesar organisasi bukan hanya tentang visi yang hebat atau strategi yang brilian, tetapi kemampuan untuk menyatukan orang, sumber daya, dan informasi dalam sebuah gerak bersama yang efektif.
Manajemen modern menyadari bahwa organisasi bukan sekadar mesin yang dapat dikendalikan secara linear, melainkan sebuah ekosistem sosial yang penuh dinamika. Di dalamnya, koordinasi menjadi jiwa yang menghubungkan seluruh fungsi, sementara rentang manajemen menentukan batas kemampuan seorang pemimpin dalam mengendalikan dan membimbing orang-orang yang bekerja bersamanya.
Jika koordinasi diibaratkan sebagai aliran darah yang memungkinkan tubuh tetap hidup, rentang manajemen adalah batas fisiologis tubuh untuk melakukan fungsi tanpa ‘kolaps’.
Ketika aliran ini terganggu, organisasi mengalami kebingungan, pemborosan sumber daya, dan kehilangan arah. Ketika rentang pengawasan terlalu luas, pemimpin kehilangan kemampuan untuk memberikan perhatian yang tepat pada tiap individu. Namun ketika terlalu sempit, organisasi menjadi kaku dan boros struktur.
Dalam konteks inilah manajemen hadir untuk melihat dasar-dasar dari apa yang kita sebut kendali, bagaimana otoritas bekerja, serta bagaimana manusia yang terlibat di dalam organisasi seharusnya diperlakukan. Sementara ekonomi membantu kita memahami efisiensi, biaya koordinasi, dan bagaimana struktur memengaruhi nilai yang diciptakan.
Koordinasi sebagai Kebijaksanaan Kolektif dalam Organisasi
Pada hakikatnya, koordinasi adalah seni menyatukan tindakan manusia dalam arah yang sama, walaupun mereka memiliki pikiran, perasaan, dan kepentingan yang berbeda.
Pakar manajemen, Henry Fayol menyebut koordinasi sebagai harmonisasi aktivitas—upaya memastikan bahwa setiap bagian organisasi tidak bekerja melawan, melainkan saling melengkapkan. Dalam organisasi modern, koordinasi bukan lagi sekadar penataan tugas, tetapi juga penyelarasan makna serta komunikasi yang mengalir dalam seluruh struktur.
Dari perspektif filsafat, koordinasi menyentuh pertanyaan tentang relasi antar manusia. Martin Buber pernah mengatakan bahwa kehidupan manusia adalah kehidupan yang dialogis: manusia menjadi manusia melalui relasi.
Dalam organisasi, relasi inilah yang membuat pekerjaan tidak sekadar berjalan, tetapi juga bernilai. Koordinasi menjadi proses dialog berkelanjutan, di mana organisasi menemukan dirinya melalui komunikasi antar individu di dalamnya. Tanpa komunikasi yang jernih, struktur terbaik pun hanya menjadi ilusi efisiensi.
Ekonomi kemudian memberikan dimensi pragmatis, koordinasi memiliki biaya. Setiap pesan yang disampaikan, setiap rapat yang dilakukan, setiap prosedur yang ditetapkan—semuanya adalah investasi.
Seorang ekonom dan sarjana hukum peraih Nobel asal Inggris yang terkenal karena teorinya tentang ekonomi biaya transaksi dan Teorema Coase, Ronald Coase menekankan bahwa organisasi ada karena ia dapat menurunkan biaya transaksi dibandingkan bila semua dilakukan melalui pasar bebas. Oleh karena itu, manajemen harus memastikan bahwa model koordinasi yang dipilih tidak menambah biaya secara berlebihan.
Digitalisasi memberikan peluang sekaligus tantangan baru, serupa juga dengan teknologi informasi memungkinkan koordinasi berlangsung secara real-time tanpa batas ruang.
Namun, banjir informasi justru dapat menimbulkan overload alias terlalu banyak koordinasi dapat menyebabkan lambannya keputusan, oleh karena itu manajemen memerlukan kebijaksanaan untuk menyeimbangkan kapan berkoordinasi dan kapan memberikan otonomi.
Rentang Manajemen
Rentang manajemen atau span of control merujuk pada jumlah bawahan yang dapat diawasi secara efektif oleh seorang pemimpin. Secara klasik, Lyndall F. Urwick (1891-1983) adalah seorang ahli teori manajemen dan konsultan terkenal dari Inggris merekomendasikan angka 5–6 orang.
Namun realitas organisasi modern tidak lagi dapat terikat pada angka kaku. Teknologi, kultur kerja, dan kompetensi SDM membuat rentang manajemen menjadi variabel yang sangat kontekstual.
Dalam perspektif lain, rentang manajemen tidak hanya tentang kemampuan teknis seorang pemimpin, tetapi tentang kepercayaan. Semakin besar kepercayaan kepada kemampuan pegawai, semakin besar pula ruang yang dapat diberikan tanpa harus diawasi ketat. Pemimpin ideal bukanlah seseorang yang ingin melihat setiap detail, melainkan yang mampu menciptakan sistem sehingga detail berjalan sendiri.
Seperti diungkapkan Lao Tzu, “Pemimpin terbaik adalah yang keberadaannya nyaris tidak terasa, karena organisasi dapat berjalan seolah tanpa dirinya.”
Namun ekonomi memberi peringatan penting bahwa struktur yang terlalu datar membuat koordinasi menjadi mahal dan sulit dikendalikan.
Sebaliknya, struktur yang terlalu tinggi (banyak lapisan) menambah birokrasi, memperlambat arus informasi, dan menaikkan biaya operasional. Oleh karena itu, pencarian rentang manajemen ideal menjadi upaya mencari titik ekuilibrium antara dua ekstrem: kontrol penuh dan otonomi tanpa arah.
Organisasi modern menyadari bahwa rentang manajemen yang sehat bukan hanya soal angka, tetapi kualitas interaksi maka muncul pertanyaan apakah pemimpin cukup hadir untuk membimbing? Apakah ia cukup percaya untuk melepas? Di sinilah rentang manajemen menjadi persoalan kemanusiaan, bukan sekadar matematika organisasi.
Oleh: Samuel, S.E., M.M. Dosen di Universitas Katolik Santo Agustinus Hippo Kampus II Pontianak, Akademi Keuangan dan Perbankan Grha Arta Khatulistiwa Pontianak
Manusia di Pusat Sistem
Organisasi sering dipahami sebagai mesin rasional, tetapi manusia yang menggerakkannya tidak selalu rasional. Pandangan manajemen menegaskan bahwa manusia adalah makhluk yang mencari makna—bukan sekadar insentif.
Karena itu, manajemen yang hanya fokus pada efisiensi ekonomi dapat berhasil secara angka tetapi gagal secara moral.
Aristoteles menekankan bahwa tujuan tertinggi aktivitas manusia adalah kebaikan (good life). Organisasi ideal adalah organisasi yang menciptakan ruang bagi manusia untuk berkembang, bukan yang memeras tenaga dan kreativitas hingga kering. Dalam konteks ini, koordinasi yang baik adalah yang menghormati martabat manusia, bukan memaksanya tunduk secara mekanis pada aturan.
Ekonomi modern pun mulai mengakui hal ini melalui konsep ekonomi partisipatif, human capital, hingga well-being economics. Produktivitas jangka panjang berasal dari manusia yang merasa dihargai, memiliki ruang ekspresi, dan merasa menjadi bagian penting dari tujuan bersama.
Karena itu, koordinasi bukan hanya proses mengatur, tetapi membangun pemaknaan bersama. Dan rentang manajemen bukan hanya tentang pengawasan, tetapi memberi ruang tumbuh. Manajemen yang tidak memahami dimensi etis manusia hanya menciptakan efisiensi semu.
Struktur, Budaya, dan Teknologi
Struktur menentukan alur komando, budaya menentukan bagaimana manusia bertindak tanpa diperintah, dan teknologi menjadi medium yang menghubungkan keduanya. Namun hubungan ketiganya tidak selalu harmonis.
Struktur tanpa budaya akan menciptakan kepatuhan semu ini berarti bahwa orang bekerja karena takut, bukan karena memahami tujuan. Budaya tanpa struktur menciptakan ‘chaos’ semua bergerak, tetapi tidak ada arah. Teknologi tanpa keduanya hanya menjadi alat mahal tanpa makna.
Organisasi masa kini berjuang mencari struktur yang memungkinkan aliran informasi cepat tanpa kehilangan akuntabilitas. Di sinilah konsep koordinasi lateral (melintasi fungsi) melengkapi koordinasi hierarkis (melalui atasan). Tim lintas bidang, matriks, hingga agile method muncul sebagai respons atas kebutuhan fleksibilitas.
Namun fleksibilitas memiliki risiko, artinya ketika garis otoritas kabur, konflik kepentingan muncul. Karena itu, koordinasi modern harus dikelola dengan kepekaan tinggi terhadap peran, tanggung jawab, dan komunikasi.
Koordinasi terbaik terjadi ketika struktur mendukung kolaborasi, budaya memelihara saling percaya, dan teknologi mempercepat pemahaman.
Kritik terhadap Arah Manajemen Modern
Meskipun banyak perbaikan telah terjadi, manajemen modern masih menghadapi dilema mendasar yakni semakin organisasi tumbuh besar dan kompleks, semakin sulit manusia di dalamnya merasa menjadi bagian dari sesuatu yang bermakna.
Ada risiko bahwa koordinasi berubah menjadi kendali birokratis—setiap langkah harus dilaporkan, setiap ide harus ditinjau, sehingga kreativitas pun layu. Ada pula risiko bahwa rentang manajemen yang terlalu besar mengubah pemimpin menjadi simbol, bukan pembimbing.
Kaca mata filsafat mengingatkan kita agar tidak mengarahkan manusia hanya sebagai alat menuju tujuan ekonomi. Immanuel Kant menyatakan bahwa manusia harus diperlakukan sebagai tujuan pada dirinya sendiri. Ketika organisasi mengabaikan prinsip ini, ia kehilangan legitimasi moralnya.
Dari sudut pandang ekonomi pun mengingatkan, struktur yang tidak sehat akan meningkatkan biaya koordinasi yang menggerogoti kinerja jangka panjang. Pemborosan birokrasi, rapat tak berkesudahan, dan miskomunikasi adalah bentuk kehancuran yang tak terlihat.
Manajemen yang baik harus berani bertanya ulang:
Untuk siapa organisasi ini bekerja? Tujuan apa yang sebenarnya kita kejar?
Jawaban jujur dari pertanyaan itu menjadi awal transformasi.
Transformasi Menuju Organisasi yang Manusiawi dan Efisien
Organisasi masa depan harus mampu menggabungkan tiga nilai utama:
Efektivitas — tujuan tercapai dengan jelas
Efisiensi — biaya koordinasi dikelola dengan cerdas
Kemuliaan manusia — individu dihargai sebagai pribadi yang bermartabat
Koordinasi yang efektif mengalir di sepanjang tujuan yang dipahami bersama. Rentang manajemen yang baik memberi kejelasan bimbingan tanpa melakukan intervensi berlebihan.
Pemimpin dalam organisasi modern tidak lagi dapat berperan sebagai pengendali tunggal. Ia harus menjadi:
Kurator makna
Desainer struktur yang bijaksana
Perajut relasi antar manusia
Ketika pemimpin gagal memahami dimensi relasional organisasi, koordinasi menjadi sekadar instruksi, dan rentang manajemen menjadi angka tanpa ruh.
Sebaliknya, ketika pemimpin memahami bahwa manusia adalah pusat dari keseluruhan dinamika, struktur akan menjadi alat untuk membebaskan potensi, bukan untuk membelenggu.
Organisasi sebagai Rumah Bersama
Organisasi bukanlah arena perebutan kekuasaan atau sekadar mesin produksi keuntungan. Ia adalah rumah bersama bagi manusia untuk mengabdi pada tujuan yang lebih besar dari dirinya sendiri. Dalam rumah ini, koordinasi menjadi cara kita saling memahami peran, sementara rentang manajemen menjadi batas sehat dalam memimpin satu sama lain.
Puncak dari manajemen bukanlah kendali, melainkan keberdayaan bersama. Ketika koordinasi bekerja sebagai dialog, dan rentang manajemen dilandasi kepercayaan, organisasi akan tumbuh bukan hanya dalam ukuran, tetapi dalam makna.
Manajemen yang sejati adalah pengabdian pada keberlangsungan hidup manusia dalam sebuah tatanan yang lebih baik. Dan dalam pengabdian itu, koordinasi dan rentang manajemen menjadi dua pilar yang memastikan rumah ini tetap berdiri tegak, bahkan ketika zaman berubah dengan cepat.
*Samuel – Dosen AKUB _ San Agustin, (bahan diskusi Pengantar Manajemen Pertemuan ke 12 – Rentang Kendali)
Foto: Yuliana Illfia U.D. - AKUB San Agustin - 3 B.
Duta, Pontianak | Dalam lanskap pemerintahan dan sektor publik saat ini, pelayanan publik bukan lagi dipandang sebagai beban biaya operasional, melainkan aset strategis yang menentukan keberhasilan pemerintah.
Pemerintah yang unggul bukanlah yang sekadar memiliki struktur jabatan tinggi, melainkan yang mampu memberikan pelayanan efektif, mulus, dan berkesan bagi masyarakat.
Kepuasan masyarakat merupakan tujuan utama pelayanan publik, dan kualitas layanan (service quality) menjadi jembatan untuk mencapainya.
Kualitas layanan erat kaitannya dengan aspek manusia, proses, dan lingkungan pelayanan yang dinamis. Penilaian atas kualitas ini terjadi langsung saat pelayanan diberikan—dan di situ pula kepercayaan masyarakat diuji.
SERVQUAL Mengukur Kesenjangan Harapan dan Realita
Model SERVQUAL hadir sebagai alat diagnostik untuk mengukur kualitas pelayanan melalui perspektif masyarakat, bukan melalui persepsi internal birokrasi. SERVQUAL menilai sejauh mana pelayanan mampu memenuhi atau bahkan melampaui harapan masyarakat.
Kesenjangan antara harapan dan persepsi merupakan indikator kepuasan. Pelayanan yang dianggap baik oleh penyedia layanan belum tentu dirasakan demikian oleh pengguna layanan. Maka, keberhasilan pelayanan diukur bukan dari klaim internal, tetapi dari pengalaman nyata masyarakat.
Di era digital, standar pelayanan publik mengalami peningkatan drastis. Masyarakat kini membandingkan respons birokrasi dengan layanan cepat perusahaan digital:
Kecepatan respon bank dibandingkan pengiriman Gojek.
Pelayanan customer service e-commerce menjadi tolok ukur keramahan aparatur negara.
Harapan meningkat, dan persepsi menjadi medan pertarungan utama.
Pengalaman pelayanan bersifat holistik—lebih dari sekadar menyelesaikan tugas administratif. Setiap interaksi membentuk citra pemerintah.
Empati sebagai Kunci Pelayanan Manusiawi
Dimensi Empathy dalam SERVQUAL sering kali menjadi aspek yang paling lemah sekaligus paling menentukan.
Empati mencakup:
Perhatian yang bersifat personal
Pemahaman kebutuhan spesifik masyarakat
Perlakuan yang menghargai martabat individu
Masyarakat ingin dilihat sebagai manusia, bukan hanya nomor antrean. Sentuhan empati mampu mengubah interaksi mekanis menjadi pelayanan yang bermakna.
Peristiwa demonstrasi mahasiswa yang berhasil disampaikan langsung di ruang paripurna DPRD Kalimantan Barat—dengan keterlibatan tokoh seperti Agus Sudarmansyah, Rizka A. Wahab, dan Wahyudi—menunjukkan pentingnya respons empatik dalam hubungan pemerintah dan publik. Ketika aspirasi didengar, kepercayaan masyarakat akan meningkat.
Kesimpulan
SERVQUAL memberi landasan bagi transformasi pelayanan publik dari sekadar menjalankan prosedur menjadi memberikan pengalaman yang memuaskan.
Pemerintah harus mengelola harapan dan memperkuat persepsi positif masyarakat melalui empati, kecepatan, keandalan, dan jaminan pelayanan.
Pelayanan adalah wajah negara. Ketika kualitasnya meningkat, kepuasan dan kepercayaan publik pun tumbuh seiring waktu.
Daftar Pustaka
Artikel Ilmiah:
Sri Rahayu dan Nasrawati. “SERVQUAL dalam Kualitas Pelayanan terhadap Kepuasan Pasien Pengguna JKN di Puskesmas Karangrayung.” Jurnal …, November 2023. Disetujui Januari 2024, Publikasi Januari 2024.
Berita:
Hamdani, Deny. “Aksi Mahasiswa Berlanjut ke Ruang Paripurna DPRD Kalbar, Ini Poin Tuntutannya.” Pontianak Post.
Duta, Pontianak | Aktivitas “nongkrong” atau nongki di coffee shop telah menjadi bagian dari gaya hidup masyarakat, khususnya Generasi Z.
Kegiatan ini tidak hanya dilakukan untuk bersantai, tetapi juga digunakan sebagai tempat bekerja, mengerjakan tugas, berdiskusi, hingga memperkuat hubungan sosial. Julukan “Kota Seribu Kopi” menunjukkan betapa kuatnya budaya ngopi serta tingginya jumlah coffee shop di Pontianak.
Saat ini, Pontianak tidak hanya dikenal sebagai kota khatulistiwa yang memiliki sungai terpanjang di Indonesia, tetapi juga sebagai kota dengan budaya kopi yang sangat berkembang. Hampir di setiap sudut kota, terdapat coffee shop atau warung kopi (warkop) dengan konsep yang beragam, mulai dari café modern hingga kedai tradisional.
Fenomena ini menunjukkan pertumbuhan ekonomi kreatif yang dinamis. Namun, semakin banyaknya coffee shop juga memicu persaingan pasar yang ketat. Hanya pelaku usaha dengan fondasi manajemen pemasaran kuat dan inovasi yang berkelanjutan yang mampu bertahan dalam kompetisi ini.
Dinamika dan Ketidakpastian Pasar
Menurut Philip Kotler, analisis perilaku konsumen merupakan aspek kritis dalam pemasaran karena membantu memahami bagaimana individu atau kelompok memilih dan menggunakan produk.
Pemahaman ini penting bagi pelaku usaha kopi di Pontianak agar dapat menghadirkan layanan sesuai kebutuhan konsumen, sehingga mampu bersaing di tengah perubahan tren pasar yang cepat (Marjun, Bachri, dan Sutomo 2024).
Selain itu, strategi pemasaran digital menjadi kunci penting. Kotler menjelaskan bahwa pemasaran digital bukan hanya menawarkan produk, tetapi menciptakan pengalaman bernilai bagi konsumen. Brian Solis juga menegaskan bahwa media sosial adalah platform untuk membangun hubungan yang berkelanjutan dengan pelanggan (Solis 2024).
Tren pasar kopi sangat dinamis. Hari ini konsumen menggemari single origin, esok mereka menuntut suasana estetik lengkap dengan live music serta Wi-Fi cepat.
Konsumen Generasi Z menginginkan inovasi pada teknologi layanan dan konsep tempat. Warkop tradisional pun perlu beradaptasi tanpa kehilangan identitas.
Di sisi lain, pelaku usaha juga menghadapi ketidakpastian terkait persepsi dan perilaku konsumen serta persaingan yang selalu berubah. Di sinilah pentingnya positioning. Regis McKenna menekankan bahwa diferensiasi produk menjadi dasar dalam menciptakan posisi yang kuat di pasar (Rahmawati 2023).
Contoh positioning yang baik di Pontianak dapat ditemui pada:
Kopi Asiang yang mempertahankan sensasi kopi hitam khas dengan nuansa jadul.
Kopling yang menawarkan harga terjangkau namun tetap menjaga kualitas.
Coffee shop modern yang menonjolkan kenyamanan dan suasana estetik untuk bekerja (working space).
Kunci Bertahan dalam Seleksi Alam Bisnis Kopi
Menurut Amirullah, ketika produk tidak memiliki perbedaan, perusahaan akan terjebak dalam perang harga yang berisiko tinggi (2021). Oleh karena itu, membangun merek yang kuat menjadi solusi terbaik.
Di Pontianak, ikon kopi seperti Kopi Asiang dan Aming Coffee tetap eksis di tengah serbuan coffee shop kekinian seperti Level Up Café, CW Coffee, Lokale, hingga yang beroperasi 24 jam seperti Kopi Nomor Dua, 5cm Untan, dan Tropic. Hal ini menunjukkan adanya segmen pasar yang beragam.
Pemerintah Kota Pontianak menilai perkembangan ini sebagai indikator positif. Jumlah warkop meningkat dan penyerapan tenaga kerja semakin besar. Hal ini membuktikan bahwa sektor kopi memainkan peran penting dalam mendorong pertumbuhan ekonomi kreatif di Pontianak.
Fenomena coffee shop di Pontianak merupakan laboratorium nyata dalam penerapan manajemen pemasaran. Seleksi alam bisnis tidak bisa dihindari. Hanya coffee shop yang memiliki kapabilitas dinamis, cepat beradaptasi terhadap pasar, serta memiliki orientasi pelanggan yang kuat yang akan terus bertahan.
Kesimpulan
Budaya ngopi sudah menjadi identitas sosial dan ekonomi Kota Pontianak. Namun, semakin tingginya persaingan menuntut pelaku usaha untuk menyesuaikan strategi pemasaran berbasis digital, memperkuat brand, dan memahami perilaku konsumen.
Dengan inovasi, diferensiasi, dan kemampuan membaca tren pasar, coffee shop di Pontianak dapat terus berkembang serta berkontribusi besar bagi ekonomi kota dan masyarakatnya.
Foto: Wilhemina Niwin - (3 B) AKUB San Agustin Kampus II Pontianak.
Duta, Pontianak | Pontianak bukan hanya menarik dari sisi geografis sebagai Kota Khatulistiwa, tetapi juga sebagai destinasi wisata kuliner yang berkembang melalui kekayaan rasa dan budaya.
Dalam konsep marketing places menurut Philip Kotler, sebuah kota dapat membangun citra dan nilai ekonominya melalui keunikan produk lokal yang mampu menciptakan pengalaman berkesan bagi pengunjung.
Pontianak telah menerapkan konsep ini melalui kuliner yang tidak hanya menjadi konsumsi makanan, tetapi juga pengalaman budaya.
Kuliner khas Pontianak seperti choi pan, sotong pangkong, mi tiaw, dan bubur pedas menjadi representasi identitas lokal. Kotler menyatakan bahwa produk bernilai tinggi bukan hanya yang memenuhi kebutuhan fisik, tetapi juga memberikan makna, simbol, cerita, dan pengalaman emosional.
Setiap hidangan Pontianak mengandung sejarah, cita rasa otentik, serta kebanggaan kultural yang menjadi daya tarik wisatawan.
Dalam teori marketing places, kota harus mampu menciptakan diferensiasi agar dapat berkembang. Pontianak memiliki diferensiasi kuat yang sulit ditemukan di kota lain. Misalnya, sotong pangkong yang hanya muncul saat bulan Ramadan, menciptakan pengalaman musiman yang unik.
Kawasan kuliner seperti Jalan Gajah Mada dan Jalan Pattimura juga dikenal sebagai pusat makanan malam yang penuh variasi. Keunikan ini menjadi identitas yang dapat terus dipromosikan untuk menarik wisatawan.
Tidak hanya kuliner lokal, perkembangan kuliner di Pontianak juga menunjukkan adanya keberagaman budaya. Contohnya, restoran bergaya Yogyakarta seperti Ningrat Eatery di Jalan Parit Demang.
Dekorasi berunsur Jawa, penyajian makanan tradisional seperti gudeg, nasi liwet, bakmi Jawa, sekoteng, hingga cendol memberikan pengalaman multikultural dalam satu kota. Strategi diferensiasi ini sejalan dengan pandangan Kotler, yaitu menciptakan kedekatan emosional konsumen melalui pengalaman yang unik.
Dari perspektif ekonomi, wisata kuliner membawa kontribusi nyata. Setiap wisatawan yang membeli makanan turut mendorong perputaran ekonomi—mulai dari sektor bahan baku, tenaga kerja, transportasi, hingga industri kreatif seperti fotografi dan konten media sosial. Hal ini sesuai dengan teori Kotler bahwa place marketing berdampak pada pertumbuhan ekonomi jangka panjang. Dampaknya tidak hanya dirasakan pelaku usaha besar, tetapi juga UMKM yang sedang berkembang.
Selain itu, kuliner menjadi pembentuk brand image kota. Ketika orang mendengar kata Pontianak, sebagian langsung mengingat cita rasa kulinernya.
Kotler menekankan pentingnya citra kota karena membantu kota lebih dikenal, diingat, dan dipromosikan. Di era digital, konten kreator dan wisatawan yang membagikan pengalaman makan mereka di media sosial tanpa sadar turut mempromosikan kota secara luas dan gratis.
Agar potensi ini semakin optimal, dibutuhkan strategi yang terarah dari pemerintah daerah, seperti penyelenggaraan festival kuliner tahunan, pembangunan pusat kuliner yang nyaman, perbaikan akses kawasan wisata kuliner, serta pelatihan UMKM untuk meningkatkan kualitas layanan.
Semua langkah ini sesuai dengan prinsip Kotler bahwa pemasaran kota memerlukan kolaborasi pemerintah, masyarakat, pelaku bisnis, dan media.
Potensi kuliner Pontianak sangat besar, bukan hanya karena rasa yang lezat, tetapi karena setiap hidangan memiliki nilai budaya. Misalnya, choi pan yang berasal dari budaya Tionghoa atau bubur pedas yang merupakan kuliner khas Melayu dan Dayak. Pengalaman inilah yang kini lebih dicari wisatawan daripada sekadar objek wisata.
Kuliner adalah cara paling mudah untuk memperkenalkan Pontianak ke dunia. Meski wisatawan belum mengenal sejarah maupun bangunan kotanya, mereka bisa dengan cepat mengenali makanan khas melalui media sosial. Dengan strategi pemasaran yang tepat, kuliner dapat menjadi pintu masuk untuk menarik wisatawan menjelajahi destinasi lainnya, sekaligus memperluas peluang ekonomi.
Pada akhirnya, kuliner bukan hanya makanan, tetapi identitas yang mampu memperkuat daya saing kota. Jika dikelola sesuai konsep marketing places Kotler, kuliner dapat menjadi motor utama pembangunan ekonomi di Pontianak—dari pelaku UMKM hingga sektor pariwisata.
Karena itu, wisata kuliner bukan sekadar pelengkap, tetapi aset penting yang dapat membawa Pontianak semakin dikenal dan mampu bersaing dengan kota lain.
Daftar Pustaka
Kotler, Philip. Kotler on Marketing. New York: Free Press, 1999.
Kotler, Philip, Donald Haider, dan Irving Rein. Marketing Places: Attracting Investment, Industry, and Tourism to Cities, States, and Nations. New York: The Free Press, 1993.