Thursday, April 2, 2026
More

    Kurang Peduli atau Kurang Tahu? Alasan Remaja Putri Tidak Minum Tablet FE

    Duta, Pontianak | Menurut WHO, terdapat sekitar 191 juta remaja putri di dunia yang mengalami anemia. Indonesia sendiri menempati urutan ke-8 dari 11 negara di Asia dengan jumlah penderita mencapai 7,5 juta orang.

    Data tersebut menunjukkan bahwa anemia masih menjadi masalah kesehatan yang sangat serius di kalangan remaja putri. Berdasarkan laporan Kementerian Kesehatan Republik Indonesia (2024), sebanyak 22,6% remaja putri kelas 7 dan 10 di Indonesia mengalami anemia.

    Sementara itu, di tingkat daerah, Kepala Dinas Kesehatan Kota Pontianak, Kalimantan Barat, melaporkan bahwa prevalensi anemia pada remaja putri usia sekolah di wilayahnya mencapai 29%, berdasarkan hasil pemeriksaan darah yang dilakukan di sejumlah sekolah.

    Anemia pada remaja putri umumnya disebabkan oleh defisiensi zat besi (Fe) akibat pola makan yang tidak seimbang, konsumsi makanan olahan yang berlebihan, serta rendahnya asupan sumber makanan kaya zat besi seperti daging merah, hati ayam, sayuran hijau, dan kacang-kacangan. Kondisi ini menimbulkan berbagai gejala, antara lain mudah lelah, pucat, pusing, dan kesulitan berkonsentrasi.

    Dampaknya dapat memengaruhi prestasi belajar, produktivitas, dan daya tahan tubuh remaja. Dalam jangka panjang, anemia yang tidak tertangani dapat mengganggu kesiapan remaja putri dalam menghadapi kehamilan di masa depan. Saat memasuki masa kehamilan, remaja yang sebelumnya telah mengalami anemia akan lebih rentan terhadap komplikasi seperti bayi berat lahir rendah (BBLR) dan kelahiran premature.

    Sebagai bentuk upaya nyata dalam menanggulangi anemia, pemerintah Indonesia sejak tahun 2014 telah meluncurkan program Weekly Iron and Folic Acid Supplementation (WIFAS) atau program pemberian Tablet Tambah Darah (TTD) untuk remaja putri. TTD mengandung 60 mg zat besi elemental dan 400 µg asam folat yang diberikan secara gratis melalui sekolah, puskesmas, atau fasilitas kesehatan lainnya. Pemberian TTD dilakukan satu tablet per minggu selama 52 minggu, dengan tujuan untuk menjaga keseimbangan kadar zat besi dalam tubuh secara berkelanjutan.

    Meskipun cakupan distribusi TTD tergolong tinggi, yakni 80,9%, namun tingkat kepatuhan remaja putri dalam mengonsumsinya masih sangat rendah, yaitu hanya 1,4%. Hal ini menunjukkan adanya kesenjangan antara ketersediaan program dan perilaku penerima manfaat.

    Rendahnya kepatuhan remaja dalam mengonsumsi TTD disebabkan oleh berbagai faktor, seperti kurangnya pengetahuan tentang manfaat tablet Fe, pola makan yang tidak sehat, rasa dan aroma tablet yang tidak disukai, serta efek samping ringan seperti mual, sembelit, atau tinja berwarna hitam yang menimbulkan ketidaknyamanan.

    Menurut Glanz, Rimer, dan Viswanath dalam buku Health Behavior: Theory, Research, and Practice, tingkat pengetahuan seseorang memiliki pengaruh besar terhadap perubahan perilaku kesehatan. Individu yang memiliki pemahaman baik tentang pentingnya tindakan pencegahan akan lebih mudah untuk mengadopsi perilaku sehat secara konsisten.

    Oleh karena itu, peningkatan pengetahuan gizi dan pemahaman tentang manfaat TTD menjadi langkah strategis yang perlu diperkuat dalam upaya menurunkan prevalensi anemia pada remaja putri.

    Selain faktor pengetahuan, pola konsumsi makanan modern juga berperan besar dalam meningkatnya kasus anemia. Banyak remaja yang cenderung mengonsumsi makanan cepat saji seperti mi instan, seblak, bakso, dan jajanan pinggir jalan yang rendah zat gizi. Kebiasaan meminum teh atau kopi setelah makan juga dapat menghambat penyerapan zat besi dalam tubuh karena kandungan tanin dan kafeinnya. Paparan iklan makanan rendah gizi turut memperburuk kondisi ini karena membentuk persepsi keliru tentang gaya hidup praktis namun tidak sehat.

    Di sisi lain, efek samping dari konsumsi TTD juga kerap menjadi alasan utama remaja putri enggan mengonsumsinya. Beberapa keluhan yang sering muncul antara lain mual, nyeri perut, sembelit, atau tinja berwarna hitam.

    Namun, gejala ini umumnya bersifat ringan dan akan berkurang seiring adaptasi tubuh terhadap suplementasi zat besi. Untuk mengurangi efek samping tersebut, disarankan agar TTD dikonsumsi satu jam setelah makan atau sebelum tidur malam, dan diminum bersama jus jeruk atau air dengan vitamin C untuk membantu penyerapan zat besi. Sebaliknya, konsumsi TTD sebaiknya tidak bersamaan dengan teh atau kopi karena dapat menghambat penyerapan zat besi dalam usus.

    Konsumsi TTD secara rutin, disertai dengan pola makan bergizi seimbang dan peningkatan pengetahuan gizi, menjadi langkah nyata dalam mencetak generasi muda yang sehat, cerdas, dan siap menjalani kehamilan yang berkualitas di masa depan.

    Pencegahan anemia bukan hanya soal memenuhi kebutuhan zat gizi, tetapi juga tentang membangun kesadaran remaja akan pentingnya menjaga kesehatan sejak dini. Dengan demikian, program pencegahan anemia pada remaja putri bukan sekadar intervensi kesehatan, melainkan investasi jangka panjang untuk meningkatkan kualitas hidup dan generasi bangsa. Semoga!!!

    “Kami menulis, kami belajar, tentang peduli dan tentang tahu.Karena kesehatan remaja putri bukan hal sepele.”

    *Gloria Anastasia • Fellysia Agie Evangelista • Febih Yowola Giri • Fransiska Hellaria Jesika • Ardita Fakultas kesehatan prodi dIII Kebidanan & Keperawatan Semester 3 (2025)

    *Editor: Marsela Renasari Presty, S.ST., M.Keb

    Related Articles

    spot_img
    spot_img

    Latest Articles