Monday, May 11, 2026
More

    Etika yang Hilang di Ruang Gawat Darurat: Sebuah Refleksi Mengenai Kematian Irene Sokoy di Papua

    Duta, Pontianak | Malam hari saya yang sejuk dan lelah, tiba-tiba berubah menjadi membara, panas dan menggelora; sebenarnya gemas sekaligus sedih. Algoritma Instagram yang sedang saya scroll membawa saya ke status akun Instagram seorang kawan Kader Malaria yang pernah saya kunjungi Mei 2025 lalu di Jayapura, Papua: “Irene Sokoy. TIDAK DITOLONG. RSUD Yowari. RS Dian Harapan. RSUD Abepura. RS Bhayangkara.” (Instagram @jayapurakitongpukota).

    Singkat cerita, Irene Sokoy, berpulang ke penciptanya, karena tak tertolong saat hendak bersalin anak yang sedang dikandungnya. Kita mengetahui dari postingan itu, Irene tidak berpulang saat tengah bersalin, tapi berpulang karena tidak ditolong untuk bersalin! Ibu dan bayi di kandungannya berpulang.

    Dan, satu kalimat yang paling menyedihkan hati saya saat membaca lebih banyak dari berbagai sumber berita mengenai kisah Irene Sokoy, seorang ibu hamil yang meninggal setelah ditolak di berbagai rumah sakit di Papua: “Ia dibiarkan berpindah dari satu pintu ke pintu lain, bukan karena kekurangan alat, tetapi karena kekurangan empati.” Dan pada titik inilah, awal jari saya mulai mengetik: apa sejatinya yang sedang rusak dalam tubuh empati manusia hari ini?

    Saya dan Anda semua bisa menduga, jawaban yang paling mudah ketika menemukan kasus seperti ini adalah menyalahkan fasilitas, ketersediaan dokter, koordinasi layanan, kedisiplinan kerja, efisiensi ruang atau bisa juga soal regulasi atau soal takut melanggar birokrasi. Tetapi, tragedi semacam ini sudah terlalu berulang untuk hanya sekadar dijelaskan dengan topik-topik tadi. Kita pernah menyalahkan ini dan itu, padahal di masa canggih hari ini, sistem ini dan itu sudah mampu dibangun manusia. Lalu? Tragedi serupa tetap terus terjadi.

    Sementara, menurut saya, akar kerusakannya bukan pada sistem—tetapi pada jiwa yang menggerakkan sistem. Dan jiwa itu bernama etika.

    Etika sebagai Inti Pembentukan Manusia

    Akan banyak perdebatan, jika saya mengatakan bahwa dalam setiap upaya membentuk manusia, misalnya melalui pendidikan, yang terpenting hanyalah satu hal: etika. Kenapa kok  etika sebagai mata pelajaran bisa diperdebatkan? Ya, karena yang dianggap penting ialah “bagaimana saya menjadi ahli?” Banyak institusi pendidikan telah menempatkan mata pelajaran etika di tempat signifikan dalam sistem pendidikannya. Itu bagus. Tetapi masih lebih banyak juga yang setengah-setengah, keliru, atau bahkan tidak sama sekali.

    Mengapa etika? Dalam konteks hidup-mati, misalnya, etika adalah horizon tertinggi, kompas normatif yang menilai apakah tindakan kita merawat kehidupan atau merusaknya. Manusia tidak dinilai dari kepintarannya, bagaimana ia mencintai bangsanya, atau seperti apa kecepatan kerjanya, atau sebesar apa loyalitasnya kepada institusi, dan juga soal seberapa banyak ia menghemat uang, tetapi dari kemampuannya bertindak benar terhadap sesama. Etika bukan sekadar aturan moral; ia adalah arah. Ia adalah medan di mana seluruh nilai lain harus bermuara.

    Di bawah etika berdiri nilai-nilai yang sering diagungkan oleh negara dan institusi: keahlian, ilmu pengetahuan, patriotisme, loyalitas, keteraturan, dan disiplin. Kita diajari untuk bekerja cepat, taat prosedur, hormat pada hierarki, dan setia kepada institusi. Semua ini penting—tetapi penting sebagai alat, bukan sebagai tujuan.

    Ketika alat dijadikan tujuan, manusia berubah menjadi teknisi tanpa hati. Dan itulah yang terjadi dalam tragedi Irene Sokoy.

    Almarhumah Irene Sokoy | Foto: Dokumentasi Keluarga

    Etika Bukan Sekadar Kebiasaan

    Banyak orang mengira bahwa etika lahir dari kebiasaan. Bahwa membiasakan diri taat aturan, teratur, disiplin, dan loyal, akan otomatis melahirkan moralitas. Padahal pemikiran etis klasik, dari Aristoteles dari Yunani hingga Levinas dari Prancis, justru menekankan hal sebaliknya: kebiasaan membutuhkan etika sebagai penuntun.

    Kebiasaan menyebabkan sesuatu diulang-ulang begitu saja setiap hari, rutinitas saja! Tetapi tanpa etika, ia hanya mengulang kekosongan. Disiplin tanpa etika hanyalah rutinitas tanpa jiwa. Loyalitas tanpa etika berubah menjadi kepatuhan yang membutakan. Bahkan ilmu pengetahuan, tanpa etika, dapat menjadi alat penindasan.

    Kebiasaan yang berulang setiap hari, aturan yang disusun tanpa sekali-kali direfleksikan kemudian dianggap rutinitas biasa saja: aturan A maka A, B maka B, misalnya, termasuk ketika Irene Sokoy datang ke RS Bhayangkara setelah berjuang dari tiga rumah sakit lainnya: bisa dirawat di VIP, tapi harus bayar! Ya! Kamar VIP itu “biasanya” untuk orang berduit, jadi ketika orang tidak berduit butuh, VIP ya VIP untuk orang berduit, aturan itu sudah pakem, dan tidak bisa diubah demi menjadi tempat merawat Irene agar ia dan kandungannya dapat terus hidup!

    Maka, lagi-lagi etika tidak lahir dari kebiasaan. Justru kebiasaan harus tunduk kepada etika. “Mari Irene, rawat saja dulu, lahir dulu dengan selamat anaknya, lalu kita bicarakan uangnya nanti,” kata angan-angan saya yang mencoba berpikir apakah karena kebiasaan birokrasi, hati mereka yang menolak Irene, terlalu sulit untuk “agak fleksibel” mengubah kebiasaan, demi merawat kehidupan.

    “O, kamar VIP ini buat orang yang punya bayar Rp4 juta, kalau tidak ada dana itu, lebih baik kosong, daripada dipakai Irene yang tidak punya uang sebesar itu,” itu kalimat yang saya karang sendiri untuk menggambarkan bagaimana kebiasaan yang tertulis itu lalu telah merenggut nyawa Irene dan kandungannya.

    Ketika seseorang menempatkan etika sejajar, atau bahkan lebih rendah dari kebiasaan, kepatuhan pada pakem, atau misalnya dari disiplin mengikuti seperangkat prosedur administrasi di atas kertas yang digariskan oleh pengelola “agar operasional berjalan lancar,” ia telah melakukan kesalahan kategoris: ia menyamakan kompas dengan langkah kaki, padahal langkah kaki bergantung pada kompas agar tidak tersesat.

    Tragedi Irene: Ketika Prosedur Menjadi Lebih Penting daripada Orang, Etika Tidak Lagi “Rujukan”

    Dalam kasus Irene Sokoy, banyak pihak terjebak pada logika teknis: rujukan penuh, fasilitas tidak tersedia, prosedur harus dijalankan, administrasi harus lengkap, dan seterusnya. Kita tidak menolak kebutuhan prosedur. Namun tragedi muncul ketika prosedur dijadikan lebih suci daripada hidup manusia. Yang terjadi pada Irene bukan sekadar kegagalan koordinasi, tetapi pembalikan struktur moral: disiplin dan kepatuhan telah ditinggikan melebihi etika.

    Karena ketika etika digeser dari posisi puncak, semua nilai di bawahnya kehilangan orientasi: keahlian menjadi dingin dan impersonal, ilmu pengetahuan menjadi buta terhadap penderitaan, loyalitas menjadi sempit, hanya kepada institusi—bukan kepada kemanusiaan.

    Penulis dengan anak-anak di Kampung Skyland, Jayapura, Mei 2025 | Foto: Dokumen Penulis

    Disiplin berubah menjadi ritual mekanis tanpa jiwa. Agar Irene “tidak ditolak”, tenaga kesehatan tak perlu lebih pintar, tak perlu lebih nasionalis, tak perlu lebih disiplin. Yang dibutuhkan adalah sesuatu yang jauh lebih sederhana—dan jauh lebih sulit: empati yang diarahkan oleh etika.

    Etika itu melampaui seragam, institusi, dan ritual ketaatan. Di negeri ini, banyak orang begitu bangga dengan disiplin ala militer, dengan retorika bela negara, dengan kesetiaan pada institusi. Ada yang mengira bahwa membentuk manusia berarti membentuk tubuhnya: baris-berbaris, tegap sigap, taat aba-aba, bekerja teratur, mematuhi senior. Apa yang perlu kita bentuk itu tadi benar dan penting. Namun mereka keliru besar bila menyamakan ketertiban fisik dengan ketertiban moral.

    Ketaatan institusional tidak pernah sama dengan etika. Dan nasionalisme tidak otomatis melahirkan kemanusiaan. Nasionalisme tanpa etika hanya menumbuhkan agresi. Disiplin tanpa etika hanya melahirkan kekerasan prosedural. Loyalitas tanpa etika hanya memperkuat impunitas. Keahlian tanpa etika hanya mempercepat kerusakan. Etika adalah kompas yang mengoreksi semuanya, bukan turunannya.

    Indonesia sedang menghadapi krisis yang jauh lebih dalam daripada krisis ekonomi, politik, atau teknologi: krisis etika. Di berbagai sektor: kesehatan, pendidikan, hukum, perlindungan masyarakat, pemerintahan, bahkan di soal beragama, kita melihat pola yang sama: prosedur lebih penting daripada manusia; kepatuhan lebih dihargai daripada belas kasih; loyalitas lebih utama daripada keadilan.

    Siapapun yang membaca refleksi malam saya ini, tolong jangan marah atau merasa “loh kok itu saya, Carlos menulis tentang saya ya?” Maaf. Saya mau meneropong soal kematian Irene Sokoy. Kematiannya mengidentifikasi bagaimana saya dan kita sekalian mudah untuk kehilangan orientasi etis pada hari-hari ini.

    Kita sering memuja keahlian teknis tetapi melupakan empati. Kita bangga pada keseragaman tetapi abai pada kemanusiaan. Kita sibuk menghafal sumpah profesi tetapi lupa makna sumpah itu. Dan selama etika tidak dikembalikan ke tempat tertinggi, kematian Irene-irene selanjutnya akan kembali terjadi.

    Mengembalikan Etika ke Inti: Irene dan Cermin Kemanusiaan Kita

    Apa yang harus kita lakukan? Jawaban paling jujur dan paling sederhana adalah: mengembalikan etika ke singgasananya. Bukan disiplin yang menjadi pusat. Bukan kepatuhan. Bukan prosedur. Bukan seragam. Bukan nasionalisme. Bukan keahlian teknis. Semua itu penting, tetapi semuanya harus tunduk kepada etika. Dan etika itu sendiri, bila ditelusuri sampai ke akarnya, bermuara pada satu kata paling manusiawi: empati. Empatilah yang membuat seorang dokter menunda administratif demi menyelamatkan nyawa.

    Empatilah yang membuat perawat melawan rasa takut pada atasan demi melindungi pasien. Empatilah yang membuat institusi mengutamakan manusia, bukan prosedur. Etika tanpa empati hanyalah teori. Empati tanpa etika hanyalah sentimen. Keduanya harus bersatu agar kehidupan bisa dirawat.

    Kematian Irene Sokoy adalah luka saya dan Anda, semua kita. Ia adalah cermin yang menampilkan wajah kita apa adanya: masyarakat yang berhasil melatih disiplin tetapi gagal melatih kemanusiaan. Dan karena itu, pesan ini harus menjadi kesimpulan moral kita bersama: dalam setiap upaya membentuk manusia, puncaknya selalu etika. Di bawahnya berdiri keahlian, ilmu pengetahuan, cinta tanah air, keteraturan, kedisiplinan, dan berbagai kebiasaan-kebiasaan.

    Semua itu penting, tetapi semuanya hanyalah alat, dan alat kehilangan makna bila tidak diarahkan oleh etika. Tanpa etika, keahlian menjadi dingin, ilmu pengetahuan menjadi buta, loyalitas menjadi sempit, dan disiplin berubah menjadi ritual tanpa jiwa. Ketika etika menjadi yang tertinggi, segala yang berada di bawahnya menemukan tujuan: merawat kehidupan dengan empati.

    Untuk mengenang Irene Sokoy dan untuk memastikan tidak ada lagi Irene berikutnya.**

    *Michael Carlos Kodoati – Dosen dan Kepala Lembaga Pengembangan Humaniora dan Religiusitas (LENTERA) Universitas Katolik Santo Agustinus Hippo. _ Tulisan ini adalah opini pribadi dari sudut pandang keahlian akademis penulis di bidang filsafat, bukan pendapat institusi.

    Related Articles

    spot_img
    spot_img

    Latest Articles