Duta, Pontianak | Pontianak bukan hanya menarik dari sisi geografis sebagai Kota Khatulistiwa, tetapi juga sebagai destinasi wisata kuliner yang berkembang melalui kekayaan rasa dan budaya.
Dalam konsep marketing places menurut Philip Kotler, sebuah kota dapat membangun citra dan nilai ekonominya melalui keunikan produk lokal yang mampu menciptakan pengalaman berkesan bagi pengunjung.
Pontianak telah menerapkan konsep ini melalui kuliner yang tidak hanya menjadi konsumsi makanan, tetapi juga pengalaman budaya.
Kuliner khas Pontianak seperti choi pan, sotong pangkong, mi tiaw, dan bubur pedas menjadi representasi identitas lokal. Kotler menyatakan bahwa produk bernilai tinggi bukan hanya yang memenuhi kebutuhan fisik, tetapi juga memberikan makna, simbol, cerita, dan pengalaman emosional.
Setiap hidangan Pontianak mengandung sejarah, cita rasa otentik, serta kebanggaan kultural yang menjadi daya tarik wisatawan.
Dalam teori marketing places, kota harus mampu menciptakan diferensiasi agar dapat berkembang. Pontianak memiliki diferensiasi kuat yang sulit ditemukan di kota lain. Misalnya, sotong pangkong yang hanya muncul saat bulan Ramadan, menciptakan pengalaman musiman yang unik.
Kawasan kuliner seperti Jalan Gajah Mada dan Jalan Pattimura juga dikenal sebagai pusat makanan malam yang penuh variasi. Keunikan ini menjadi identitas yang dapat terus dipromosikan untuk menarik wisatawan.
Tidak hanya kuliner lokal, perkembangan kuliner di Pontianak juga menunjukkan adanya keberagaman budaya. Contohnya, restoran bergaya Yogyakarta seperti Ningrat Eatery di Jalan Parit Demang.
Dekorasi berunsur Jawa, penyajian makanan tradisional seperti gudeg, nasi liwet, bakmi Jawa, sekoteng, hingga cendol memberikan pengalaman multikultural dalam satu kota. Strategi diferensiasi ini sejalan dengan pandangan Kotler, yaitu menciptakan kedekatan emosional konsumen melalui pengalaman yang unik.
Dari perspektif ekonomi, wisata kuliner membawa kontribusi nyata. Setiap wisatawan yang membeli makanan turut mendorong perputaran ekonomi—mulai dari sektor bahan baku, tenaga kerja, transportasi, hingga industri kreatif seperti fotografi dan konten media sosial. Hal ini sesuai dengan teori Kotler bahwa place marketing berdampak pada pertumbuhan ekonomi jangka panjang. Dampaknya tidak hanya dirasakan pelaku usaha besar, tetapi juga UMKM yang sedang berkembang.
Selain itu, kuliner menjadi pembentuk brand image kota. Ketika orang mendengar kata Pontianak, sebagian langsung mengingat cita rasa kulinernya.
Kotler menekankan pentingnya citra kota karena membantu kota lebih dikenal, diingat, dan dipromosikan. Di era digital, konten kreator dan wisatawan yang membagikan pengalaman makan mereka di media sosial tanpa sadar turut mempromosikan kota secara luas dan gratis.
Agar potensi ini semakin optimal, dibutuhkan strategi yang terarah dari pemerintah daerah, seperti penyelenggaraan festival kuliner tahunan, pembangunan pusat kuliner yang nyaman, perbaikan akses kawasan wisata kuliner, serta pelatihan UMKM untuk meningkatkan kualitas layanan.
Semua langkah ini sesuai dengan prinsip Kotler bahwa pemasaran kota memerlukan kolaborasi pemerintah, masyarakat, pelaku bisnis, dan media.
Potensi kuliner Pontianak sangat besar, bukan hanya karena rasa yang lezat, tetapi karena setiap hidangan memiliki nilai budaya. Misalnya, choi pan yang berasal dari budaya Tionghoa atau bubur pedas yang merupakan kuliner khas Melayu dan Dayak. Pengalaman inilah yang kini lebih dicari wisatawan daripada sekadar objek wisata.
Kuliner adalah cara paling mudah untuk memperkenalkan Pontianak ke dunia. Meski wisatawan belum mengenal sejarah maupun bangunan kotanya, mereka bisa dengan cepat mengenali makanan khas melalui media sosial. Dengan strategi pemasaran yang tepat, kuliner dapat menjadi pintu masuk untuk menarik wisatawan menjelajahi destinasi lainnya, sekaligus memperluas peluang ekonomi.
Pada akhirnya, kuliner bukan hanya makanan, tetapi identitas yang mampu memperkuat daya saing kota. Jika dikelola sesuai konsep marketing places Kotler, kuliner dapat menjadi motor utama pembangunan ekonomi di Pontianak—dari pelaku UMKM hingga sektor pariwisata.
Karena itu, wisata kuliner bukan sekadar pelengkap, tetapi aset penting yang dapat membawa Pontianak semakin dikenal dan mampu bersaing dengan kota lain.
Daftar Pustaka
Kotler, Philip. Kotler on Marketing. New York: Free Press, 1999.
Kotler, Philip, Donald Haider, dan Irving Rein. Marketing Places: Attracting Investment, Industry, and Tourism to Cities, States, and Nations. New York: The Free Press, 1993.
*Wilhemina Niwin – (3 B) AKUB San Agustin – Sam.


