Saturday, May 2, 2026
More
    Home Blog Page 130

    Paus Fransiskus bertemu dengan Metropolitan Ortodoks Rusia Antonij

    Metropolitan Antonij of Volokolamsk with Pope Francis in the Vatican (Vatican Media)

    MajalahDUTA.Com, Vatikan- Metropolitan Ortodoks Rusia Antonij dari Volokolamsk mengunjungi Vatikan untuk pertama kalinya pada hari Jumat, 5 Agustus 2022.

    Pertemuan antara Kepala Departemen Hubungan Eksternal Patriarkat Moskow dan Paus Fransiskus merupakan bagian dari kontak ekumenis antara Paus dan Patriarkat Moskow, dan mengikuti percakapan antara Paus Fransiskus dan Patriark Ortodoks Kirill Moskow, yang berlangsung pada 16 Maret.

    Metropolitan Antonij dari Volokolamsk menggantikan Metropolitan Hilarion pada bulan Juni sebagai presiden Departemen Luar Negeri Patriarkat Moskow.

    Metropolitan Hilarion telah duduk di sebelah Patriark Kirill selama konferensi video pada bulan Maret, ketika Paus menyatakan kepada Patriark Moskow dan seluruh Rusia keyakinannya bahwa, mengenai perang di Ukraina, tugas orang Kristen dan pendeta mereka adalah untuk “melakukan segalanya” mungkin “untuk membantu perdamaian, untuk membantu mereka yang menderita “dan untuk menghentikan api” karena “mereka yang membayar tagihan untuk perang adalah orang-orang.”

    Selanjutnya, pada tanggal 25 April, Paus Fransiskus mengirim surat ucapan selamat kepada Patriark Kirill pada kesempatan Paskah Gereja Katolik dan Ortodoks yang mengikuti kalender Julian.

    “Semoga Roh Kudus,” tulis Paus dalam surat itu, “mengubah hati kita dan menjadikan kita pembawa damai sejati, terutama untuk Ukraina yang dilanda perang”, sementara “kita merasakan semua beban penderitaan keluarga manusia kita, hancur karena kekerasan. , perang dan banyak ketidakadilan.”

    Misa Tahbisan Diakon: Menjawab Panggilan Yesus dan Menjadikan-Nya Kekuatan dalam Pelayanan

    Komisi Komunikasi Sosial Keuskupan Agung Pontianak

    MajalahDUTA.Com– Gereja Katedral Santo Yoseph pada Kamis 4 Agustus 2022 telah dilaksanakannya misa tahbisan  diakon untuk Fr. Yokobus Lagar Witin dan Fr. Christianus Atun.

    Dalam perayaan itu dipimpin oleh Uskup Keuskupan Agung Pontianak, Mgr. Agustinus Agus.  

    Misa tahbisan  juga turut dihadiri puluhan pastor, suster, frater, umat serta keluarga Diakon yang akrab disapa Frater Yakobus dan Frater Christ yang kini telah resmi menjadi Diakon pada kamis 4 Agustus. 

    Baca Juga: Sharing Jurnalistik untuk Anggota Komunikasi Sosial (KOMSOS) Keuskupan Agung Pontianak

    Dalam homilinya Uskup Agustinus  menyampaikan tujuan utama dari motivasi untuk menjalani kehidupan selibat. Kedepan sebagai diakon yang dimana adalah proses mereka menjadi imam haruslah kembali melihat motto panggilan karena dari itulah kekuatan kaum berjubah. 

    “Satu hal yang sepatutnya diingatkan oleh seorang imam adalah yang memanggil imam itu adalah Tuhan sendiri,Tuhan Yesus.” kata Uskup Agustinus.

    Tugas Diakon 

    Setelah menjadi diakon Uskup Agustinus menyampaikan kepada kedua Diakon ini akan tugas yang diemban oleh mereka yaitu untuk turut membantu imam dan Uskup dalam pelayanan sosial, dalam pelayanan yang berhubungan terhadap kasih terhadap sesama dalam pelayanan karitatif dan membantu imam dan uskup dalam pelayanan yang berhubungan dengan misteri-misteri iman khususnya dalam ekaristi.

    Sudah saat nya untuk kedua Diakon ini untuk memasuki kehidupan masyarakat yang konkret dan tidak bisa berteori lagi, banyak hal yang perlu dipelajari dari pertemuan dengan baik umat maupun sesama pelayan Tuhan, baik yang berhasil maupun yang mengalami kegagalan. Keduanya supaya dapat menjadi suatu inspirasi dan batasan dalam pelayanan dan pewartaan.

    Selain itu untuk menghadapi tantangan-tantangan dan kesulitan yang terjadi di masyarakat para diakon ini diharapkan untuk menyadari bahwa mereka sejatinya dipanggil oleh Tuhan Yesus dan Ia sendirilah yang akan menguatkan mereka. Karena Tuhan Yesus pun pernah mengeluh bahkan sampai di kayu salib. 

    Baca juga: Ketua Komsos KAP Paulus Mashuri: Jangan Mandai-mandai Buat Berita

    “Setiap kali kita merayakan perayaan ekaristi dengan sendirinya semangat yang ada pada Yesus pelan-pelan akan masuk pada diri kita sebagai seorang imam. Saya sendiri tidak khawatir kalau itu kalian laksanakan,Tuhan sendiri yang akan menguatkan kalian,tapi jika kalian berdua hanya mengandalkan intelektual, kemampuan duniawi suatu ketika juga akan jatuh. Kekuatan kita bagi saya adalah Tuhan sendiri yang harus kita andalkan dalam hidup kita.karena Tuhan yang memanggil kalian berdua,” ungkap Uskup Agus dalam misa tahbisan yang dimulai dari jam 09.00 wib itu. 

    Mohon Doa dan Dukungan 

    Frater Yakobus mengungkapkan perlunya dukungan dari para Pastor, Bapa Uskup, para suster dan umat jika  dalam perjalan menuju tabisan menjadi seorang imam melakukan kesalahan.

    “Mohon doa dari semuanya bagi kami karena kami juga lemah tetapi kami berusaha untuk menjadi pelayan Tuhan yang baik.”  tambah Diakon Christ dalam kesempatan menyampaikan sambutan. 

     

    Sharing Jurnalistik untuk Anggota Komunikasi Sosial (KOMSOS) Keuskupan Agung Pontianak

    Komisi Komunikasi Sosial Keuskupan Agung Pontianak

    MajalahDUTA.Com– Jumat tanggal 5 Agustus 2022,Komisi Sosial (KOMSOS) KAP mengadakan penyegaran pengetahuan tentang jurnalistik serta menyatukan visi dan misi KOMSOS KAP, dihadiri oleh 12 anggota KOMSOS KAP. Dihadiri pula oleh Pak Paulus Mashuri, S.Pd., M.Si. selaku ketua KOMSOS KAP  dan Fransiskus Edy, OP sebagai manager radio Diah Rosanti.

    Kegiatan ini dimulai dengan pemaparan Bapak Fransiskus Edy, OP mengenai pengenalan radio serta membahas tugas-tugas penyiar agar dapat menghasilkan siaran yang berkualitas dan mampu menarik pemasang iklan untuk memasang memasang iklannya di radio.

    Sedangkan Pak Paulus Mashuri, S.Pd., M.Si. dalam kesempatan ini berbagi pengalaman mengenai siaran di TV dan membahas mengenai jurnalistik radio.

    Diskusi juga dilakukan untuk menyusun organisasi keanggotaan KOMSOS KAP dan juga menyerap aspirasi-aspirasi dari anggota dengan memberikan waktu 10 menit bagi tiap anggota untuk mempresentasikan ide yang berhubungan dengan kegiatan KOMSOS KAP maupun radio Diah Rosari. 

     

    Uskup Agustinus Tegaskan Pendidikan Berkualitas Harus Menangkap Peluang

    Uskup Agustinus Tegaskan Pendidikan Berkualitas Harus Menangkap Peluang- Komisi Komunikasi Sosial Keuskupan Agung Pontianak

    MajalahDUTA.Com- “Sebagaimana yang disampaikan oleh Pastor Robini, tentang imajinasi liar, begitu juga dengan visi kita tentang pendidikan di Keuskupan Agung Pontianak, jangan menjadi biasa-biasa saja. Apalagi kita dihadapkan dengan perkembangan zaman yang kian cepat berubah. Kita harus bangkit dari ketertinggalan ini,” ujar Uskup Agustinus dalam press realise resmi, Rabu 3 Agustinus 2022.

    Hal tersebut menjadi dasar dari ungkapan Uskup Agustinus ditambah dukungan gerakan menangkap imajinasi liara oleh Pastor Robini. Secara  tegas Pastor Robini mengatakan justru karena adanya “Imajinasi liar” itulah menjadi awal pijakan dalam gerakan-gerakan mustahil (yang sebagian orang anggap Utopia). Untuk membuktikan hal itu gerakan tersebut bisa digapai dengan dukungan untuk menangkap ‘imajinasi liar’ tentang kemajuan dan potensi pendidikan di Kalimantan Barat.

    Peristiwa 3 Agustus 2022

    Hari ini, tepat pada Rabu 3 Agustus 2022, Yayasan Landak Bersatu yang baru mendapatkan SK Menteri Pendidikan Kebudayaan Riset dan Tehnologi Republik Indonesia Nomor 489/E/O/2022 tanggal 13 Juli 2022 yang lalu, mengadakan press release resmi kembali dengan informasi hangat tentang rencana falkutas Ekonomi Bisnis.

    Peristiwa ini dihadiri oleh Ketua Yayasan Landak Bersatu Pastor Dr. Johanes Robini Marianto, S.Fil., M.A, OP dan Anggota Yayasan Pelita Kasih, Angelina Carolin, SE, MM juga di hadiri Uskup Keuskupan Agung Pontianak, Mgr. Agustinus Agus serta Dr. Drs. Adrianus Asia Sidot, M.Si selaku perwakilan DPR komisi X dan seluruh tenaga pengajar di Akub Grha Arta Khatulistiwa.

    Baca juga: Serah Terima Alih Kelola AKUB Grha Arta Khatulistiwa ke Yayasan Landak Bersatu (USA)

    Pada Rabu 3 Agustus 2022, Yayasan Landak Bersatu resmi mengumumkan, AKUB Grha Artha Katulistiwa yang berlokasi di Jalan K.H. Ahmad Dahlan No. 101 Akcaya, Tengah, Kec. Pontianak Kota, Kota Pontianak, Kalimantan Barat, dengan ini resmi menggabungkan diri kepada Yayasan Landak Bersatu.

    Pada peristiwa itu, Ketua Yayasan Pelita Kasih yang menaungi AKUB Graha Artha Katulistiwa beserta jajarannya, di tempat Aula Lantai 1 Falkutas Kesehatan Kampus 2 Universitas Katolik Santo Agustinus Hippo alias USA telah menandatangani dokumen penyerahan penggabungan alias alih kelola yang selanjutnya akan ditindaklanjuti ke Dirjen Dikti Vokasi.

    Sebagai ketua Yayasan Landak Bersatu Universitas Katolik Santo Agustinus Hippo Pastor Johanes Robini Marianto, OP telah mengumumkan secara resmi pada Rabu 3 Agustus 2022, paling tidak secara legal di antara kedua Yayasan, yang selanjutnya akan ditindaklanjuti ke Dirjen Dikti Vokasi, AKUB Grha Artha Katulistiwa di bawah pengelolaan Yayasan Landak Bersatu (YLB).

    Tujuan Alih kelola AKUP Graha

    Kegiatan tersebut, menurut Pastor Dr. J. Robini Marianto, S. Fil., MA., OP tujuannya adalah menyelaraskan tujuan yang sama dan memang sejalan dengan visi Yayasan Landak Bersatu, dan Unika Santo Agustinus Hippo di bawah pengelolaan Yayasan Landak Bersatu.

    Menurutnya hal ini kedepan akan memberikan pelayanan Pendidikan tinggi yang baik dari tata kelolah manajemen dan akademis kepada masyarakat dan untuk Kalimantan Barat.

    Sebagai ketua Yayasan Landak Bersatu, Pastor Robini  juga menyampaikan misi dari pendirian USA yang seperti yang dicita-citakan oleh Uskup Keuskupan Agung Pontianak, Mgr Agustinus Agus yaitu untuk menjadikan USA sebagai sarana membangun sumber daya manusia Kalimantan Barat dan dapat menghimpun sampai ke pelosok-pelosok serta tidak bersifat eksklusif hanya untuk anggota gereja Katolik saja.

    “Untuk memberikan pendidikan yang seluas-luasnya bagi kaum muda Kalimantan Barat bahkan lebih jauh dari Kalimantan Barat,supaya bisa memberikan pendidikan yang bermutu, berkualitas tapi terjangkau dan dimulai dari pinggiran,” ujar Pastor Robini.

    Pendidikan yang berkualitas

    Yayasan Pelita Kasih bukan menjual atau memperjualbelikan AKUB Grha Artha Katulistiwa; melainkan setelah diskusi Panjang lebar, Yayasan Pelita Kasih dengan sukarela dan sukacita menyerahkan pengelolaan Lembaga AKUB Grha Artha Katulistiwa kepada Yayasan Landak Bersatu.

    Secara praktis untuk tahun akademik 2022/2023 kampus akan dipindahkan dari jalan K.H. Ahmad Dahlan No. 101 Akcaya, Tengah, Kec. Pontianak Kota, Kota Pontianak, Kalimantan Barat ke jalan Merdeka yakni satu gedung dengan Falkutas Kesehatan di Jl. Hasanuddin No.115 C, Sungai Jawi Dalam, Kec. Pontianak Bar., Kota Pontianak, Kalimantan Barat.

    Baca juga: “PRESS RELEASE”- Serah Terima Alih Kelola AKUB Grha Artha Katulistiwa ke Yayasan Landak Bersatu

    Harus diakui ada kesamaan persepsi di antara kedua Yayasan; yaitu Yayasan Pelita Kasih dan Yayasan Landak Bersatu, bahwa perlu memajukan secara professional dan penuh berkualitas pendidikan kaum muda di daerah Kalbar. Karena kesamaan visi tersebut; tanpa memikirkan untung-rugi pengelolaan, Yayasan Pelita Kasih dengan penuh sukacita menyerahkan pengelolaan AKUB Grha Artha Katulistiwa ke pihak Yayasan Landak Bersatu.

    Yayasan Landak Bersatu tentu berterima kasih atas kepercayaan ini dan mengucapkan banyak terima kasih atas dedikasi semua pengurus Yayasan Pelita Kasih yang selama hampir 20 tahun telah menaungi AKUB Grha Artha Katulistiwa dan menghasilkan banyak alumni yang bekerja di wilayah Kalbar dan mungkin di luar Kalbar.

    Menutup sambutannya Pastor Robini Marianto juga berterima kasih atas jasa dan pengorbanan mengelolah institusi ini demi kemajuan kaum muda di Kalbar.

    Selanjutnya tentu beban ada di tangan Yayasan Landak Bersatu untuk mengembangkannya lebih lanjut.

    “Kami, pihak Yayasan Landak Bersatu mohon dia restu dan pasti tidak akan melupakan sejarah institusi ini yang dimulai oleh Yayasan Pelita Kasih,” katanya.

    Lulusan Berkualitas

    Dalam kesempatan wawancara bersama DPR komisi X, Adrianus Asia Sidot  melihat bahwa ada potensi besar di Kalimantan Barat terutama potensi sumber daya manusia dan pengembangannya.

    Menurutnya pendidikan yang sudah ada ini adalah hal yang paling esensial dan kesempatan untuk meningkatkan daya saing mahasiswa.Hal ini didorong oleh adanya kemajuan digital yang mengharuskan lembaga pendidikan membuat pembelajaran yang mutakhir agar mampu melahirkan lulusan yang mampu bersaing dalam dunia kerja.

    Adrianus Asia Sidot menegaskan bahwa dunia Keuangan dan Perbankan ke depan akan berubah sesuai kemajuan teknologi digital. Oleh karenanya mau tidak mau lembaga pendidikan harus menyesuaikan diri dengan penyesuaian materi-materi pembelajaran yang sesuai dengan tuntutan kompetensi kerja.

    Misi Gereja Katolik dari dulu hingga kini

    Dalam kesempatan yang sama itu pula, Uskup Agustinus selalu mengingatkan pertama-tama misi dari Gereja Katolik yang paling utama adalah tentang pendidikan.

    Pendidikan yang dimaksudkan adalah gerakan untuk kepentingan semua orang tanpa memandang ras dan agama. Sejak pertama gereja Katolik masuk ke Kalimantan Barat mulai dari itulah Kalimantan Barat sudah menjadi misi dari Katolik untuk mengembangkan pendidikan, ekonomi dan kesehatan.

    Menurut Uskup Agustinus, pendidikan zaman ini tidak bisa ditangani dengan cara yang biasa, tetapi harus dengan cara yang dinamis bahkan dalam tanda kutip harus memiliki imajinasi ‘liar’ agar  bisa menangkap kesempatan yang bagi sebagian orang menganggap masih Utopia.

    Mgr. Agustinus Agus juga mengingatkan kembali dengan berdirinya Universitas Katolik Santo Agustinus Hippo adalah sebagai tanda hadirnya gereja Katolik di tengah masyarakat dalam misi pelayanan, terlebih mau  mengatakan bahwa Universitas Katolik ini terbuka untuk seluruh masyarakat.

    “Memang Universitas Santo Agustinus sebagai sebuah Universitas, tetapi tidak berarti hanya orang Katolik yang bisa ambil bagian. Karena gereja Katolik hadir untuk keselamatan umat manusia, Yesus hadir untuk umat manusia tidak pernah memaksa-maksa orang untuk ikut agama Katolik,” tegas Uskup Agustinus.

    Semakin Jaya dan semakin sukses

    “Kami bersyukur dan berterima kasih kepada Yayasan Cinta Kasih karena mereka terbuka dan percaya kepada kami untuk mengolah seterusnya AKUP Grha Arta Katulistiwa ini.” Kesempatan wawancara yang sama pula, sebagai  Anggota Dewan Pembina Yayasan Pelita Kasih, Angelina Carolin, S.E., M.M. berharap setelah bergabungnya AKUP ke Yayasan Landak Bersatu dan akan segera menjadi Fakultas Ekonomi Bisnis di USA harapnya dapat menjadi lebih berkembang dan maju, terutama dalam kualitas pendidikan dan pengembangan sumber daya manusia.

    “Semoga AKUP di tangan Yayasan Landak Bersatu semakin maju, semakin besar, dan pastinya semakin jaya,” harap Angelina.

    Bangga Bisa Berkuliah di Fakultas Kesehatan Universitas Katolik Santo Agustinus Hippo

    Bangga Bisa Berkuliah di Fakultas Kesehatan Universitas Katolik Santo Agustinus Hippo, Foto: Rio Kusuma Pratama- KOMSOSKAP

    MajalahDUTA.Com– Reporter Majalah Duta berkesempatan  menyambangi gedung fakultas kesehatan Universitas Santo Agustinus (USA) pada rabu 3 Agustus 2022, yang terletak di Jalan Merdeka No. 55 Pontianak Barat. 

    Fakultas Kesehatan USA merupakan gabungan antara AKPER Dharma Insan  dengan AKBID St. Benedicta Pontianak yang kini bernaung di bawah kepengursan Yayasan Landak Bersatu

    Memasuki area kampus yang berwarna putih ini, memberikan kesan rapi dan bersih pada tiap mata yang memandang. 

    Baca juga: Serah Terima Alih Kelola AKUB Grha Arta Khatulistiwa ke Yayasan Landak Bersatu (USA)

    Serasi dengan pakaian yang digunakan oleh para mahasiswa yang menggunakan seragam putih dengan bubuhan topi bagi mahasiswi-nya. 

    Sekilas seolah tak ada bedanya dengan bangunan rumah sakit, namun tentunya memiliki perbedaan pada fungsinya.

    Josua Manda dari Kapuas Hulu yang merupakan salah satu mahasiswi keperawatan mengungkapkan bahwa fakultas kesehatan memiliki fasilitas yang lengkap untuk menunjang aktivitas pembelajaran yang dilaksanakan di kampus. 

    Panorama pemandangan kampus

    Ketika memasuki ruangan kelas tim Majalah DUTA  melihat berbagai alat peraga baik itu patung manekin maupun alat-alat yang berhubungan dengan kesehatan. Sedangkan di lorong di depan kelas-kelas itu terdapat cukup banyak mahasiswi yang sedang berkumpul di depan kelas sambil menunggu masuk ke kelas. 

    Trisnawati Indah mahasiswi semester 2 keperawatan mengungkapkan hal yang sama seperti Josua. 

    Baginya fakultas ini memiliki fasilitas yang lengkap dan ia juga menyampaikan beberapa hal yang telah didapatkan selama berkuliah. 

    Baca juga: “PRESS RELEASE”- Serah Terima Alih Kelola AKUB Grha Artha Katulistiwa ke Yayasan Landak Bersatu

    “Kelebihan dari kampus ini fasilitasnya sangat lengkap dan memuaskan, sampai saat ini saya sudah bisa mengukur tekanan darah dan memberikan penyuntikan” ungkapnya.  

    “Harapanya dengan bergabungnya AKPER Dharma Insan kedalam Universitas Santo Agustinus kedepannya menjadi lebih baik lagi serta untuk adik-adik tamatan SMA/SMK dapat mendaftar di UAS terutama pada Fakultas Kesehatan” ungkap Yunda Seffiyana kepada reporter Majalah Duta.

    “PRESS RELEASE”- Serah Terima Alih Kelola AKUB Grha Artha Katulistiwa ke Yayasan Landak Bersatu

    Komisi Komunikasi Sosial Keuskupan Agung Pontianak

    MajalahDUTA.Com- Hari ini, tanggal 3 Agustus 2022, Yayasan Landak Bersatu yang baru mendapatkan SK Menteri Pendidikan Kebudayaan Riset dan Tehnologi Republik Indonesia Nomor 489/E/O/2022 tanggal 13 Juli 2022 yang lalu, mengadakan press release resmi lagi dengan informasi sebagai berikut:

    Pada hari ini tangal 3 Agustus 2022, resmi Yayasan Landak Bersatu umumkan, AKUB Grha Artha Katulistiwa yang berlokasi di Jalan K.H. Ahmad Dahlan No. 101 Akcaya, Tengah, Kec. Pontianak Kota, Kota Pontianak, Kalimantan Barat, dengan ini resmi menggabungkan diri kepada Yayasan Landak Bersatu. Hari ini, Ketua Yayasan Pelita Kasih yang menaungi AKUB Grha Artha Katulistiwa beserta jajarannya, di tempat ini akan menandatangani dokumen penyerahan penggabungan/alih kelolah yang selanjutnya akan ditindaklanjuti ke Dirjen Dikti Vokasi.

    Dengan demikian kami umumkan secara resmi pada hari ini tanggal 3 Agustus 2022, paling tidak secara legal di antara kedua Yayasan, yang selanjutnya akan ditindaklanjuti ke Dirjen Dikti Vokasi, AKUB Grha Artha Katulistiwa di bawah pengelolaan Yayasan Landak Bersatu (YLB).

    Tujuan alih kelolah ini adalah sejalan dengan visi Yayasan Landak Bersatu, dan Unika Santo Agustinus Hippo di bawah pengelolaan Yayasan Landak Bersatu, untuk memberikan pelayanan Pendidikan tinggi yang baik (tata kelolah manajemen dan akademis) kepada masyarakat Kalimantan Barat.

    Yayasan Pelita Kasih bukan menjual atau memperjualbelikan AKUB Grha Artha Katulistiwa; melainkan setelah diskusi Panjang lebar, Yayasan Pelita Kasih dengan sukarela dan sukacita menyerahkan pengelolaan Lembaga AKUB Grha Artha Katulistiwa kepada Yayasan Landak Bersatu. Secara praktis untuk tahun akademik 2022/2023 kampus akan dipindahkan dari jalan Jalan K.H. Ahmad Dahlan No. 101 Akcaya, Tengah, Kec. Pontianak Kota, Kota Pontianak, Kalimantan Barat ke jalan Jl. Hasanuddin No.115 C, Sungai Jawi Dalam, Kec. Pontianak Bar., Kota Pontianak, Kalimantan Barat.

    Harus diakui ada kesamaan persepsi di antara kedua Yayasan; yaitu Yayasan Pelita Kasih dan Yayasan Landak Bersatu, bahwa perlu memajukan secara professional dan penuh berkualitas pendidikan kaum muda di daerah Kalbar.

    Karena kesamaan visi tersebut; tanpa memikirkan untung-rugi pengelolaan, Yayasan Pelita Kasih dengan penuh sukacita menyerahkan pengelolaan AKUB Grha Artha Katulistiwa ke pihak Yayasan Landak Bersatu.

    Yayasan Landak Bersatu tentu berterima kasih atas kepercayaan ini dan mengucapkan banyak terima kasih atas dedikasi semua pengurus Yayasan Pelita Kasih yang selama hampir 20 tahun telah menaungi AKUB Grha Artha Katulistiwa dan menghasilkan banyak alumni yang bekerja di wilayah Kalbar dan mungkin di luar Kalbar.

    Terima kasih atas jasa dan pengorbanan mengelolah institusi ini demi kemajuan kaum muda di Kalbar. Selanjutnya tentu beban ada di tangan Yayasan Landak Bersatu untuk mengembangkannya lebih lanjut. Kami, pihak Yayasan Landak Bersatu mohon dia restu dan pasti tidak akan melupakan sejarah institusi ini yang dimulai oleh Yayasan Pelita Kasih.

    Cium Pertobatan

    Cium Pertobatan- Bruder Flavianus MTB

    Cerpen-MajalahDUTA.Com- Dony….!!!. Dony……….!!! Ada apa kamu nak???.. apa salah saya!!. Kamu tidak pernah berubah sikapmu! Dengarkan saya! Teriakan mamaku tidak kupedulikan. Aku cepat-cepat masuk ke dalam mobil. Dari kejauhan saya  juga melihat papa dengan wajah kecewa.

    Dan mama lari kedalam rumah sambil menangis dengan kuat. Tapi aku tak peduli situasi di pagi itu. Yang jelas aku mau ingin lari dari rumah. Aku lebih memilih bergabung dengan rekan-rekanku ketimbang situasi dirumah bak kapal pecah. Yeahh.. Aku memang anak remaja dewasa yang ga mau diatur kayak anak kecil lagi. Omelanku menggoda temanku di mobil tertawa terbahak-bahak..

    “Haaa…Dony..Dony…Dony… kamu memang pandai akting di rumah”. Sambung Denis. “ Ngapain kamu bersikap seperti itu dengan papa dan mamamu!  Kitakan bukan anak kecil lagi! Haaa hari gini masih ada ya gaya nasehat seperti itu haaa!!!” Ejekan Tony semakin memojok perasaanku saat itu. Sialan kalian!! Busyet!!! “Sudahlah pokoknya gua mau bebas kayak kalian!!.

    Ketika malam hari aku pulang ke rumah lagi, dan keluarga tetap dengan ramah mengajak  aku untuk makan bersama di malam itu. Saya begitu lahap dengan menu yang disediakan oleh mama.

    Baca Juga: Serah Terima Alih Kelola AKUB Grha Arta Khatulistiwa ke Yayasan Landak Bersatu (USA)

    Tetapi rasanya ada yang ga beres dalam kebersamaan dengan mereka. Menu mie pangsit pun terasa pahit bagiku. Sungguh ada yang ga beres dengan orang tuaku. Aku terlalu egokah? Pikirku dalam hati. Tetapi mengapa papa memandang saya dengan tatapan menuduh?  Sadis benar sih Papa nih! Bathinku saat itu sambil melirik ke piring adik sebelahku. Mengapa tak ada satu katapun yang keluar dari papa kalau saya sedang mengecewakan mereka?

    Papa sepertinya  diam dengan penuh misteri. Aku pikir biarlah papa dan mama semakin jauh dariku. Untuk apa saya menikmati malam bersama keluarga tak ada satu senyum pun yang bisa menghiasi menu di malam itu. Aku semakin cuek dan sepertinya memang sengaja aku acting tidak peduli dihadapan mereka.

    “Papa dan mama nih ga ngerti dengan perasaanku”. Aku dikekang kayak penjara aja nih hidup ini.

    Papa selalu mengintip saya dari bilik tirai saat saya asyik tidur-tiduran di sofa. Sambil tertawa ria  aku chating dengan teman-temanku, untuk mengimbang kejengkelan terhadap sikap papa. Sepertinya papa terasa jauh dari hadapanku.

    “Bro… Dony.. Let’s go boy!!” Teriakan satu team basket memanggilku dengan gembira di pagi itu. Oke boy!! Da.aa Papa.. da.aaa Mama saya pergi lagi. Tiap hari kerjaku hanya kumpul dengan teman-teman tanpa memikirkan bagaimana masa depanku nanti.

    Baca juga: Preman Berbaik Hati

    “ Hari itu juga semaki lesu semangat hidupku! Aku kecewa dengan teamku! . Masa competisi basket kali ini kalah lagi! Pada hal persiapan kita udah satu tahun. Wahh kalian mematahkan semangatku coi… tulis statusku di twitter, mengundang kicauan miring dari dari teman-temanku.

    Doorr!!… gebrak!!… ini sudah tengah malam Dony!!!. Jam segini orang sudah tidur terlelap dari kerjanya!!  Malahan kamu asyik dengan Handphone tanpa menghiraukan papa lagi!” Mulai sekarang tidak ada lagi makan di tengah malam. Kata-kata papa seperti sambaran petir ditelingaku. Entah setan apa yang menggodaku malam itu aku langsung mendorongnya sekalian  melemparkan semangkok nasi panas ke mukanya.

    Anak durhaka kamu ya!! Keluar!! Dan jangan ada tampang muka kamu lagi di rumah ini!!” aku cepat lari dan lompat lewat jendela belakang rumah dan untungnya ada temanku yang bersedia tumpangan  bagiku dimalam itu.

    “Huhhh…..Kalau ga konflik seperti ini, belum tentu aku kuat menghadapi masalahku”. “Aku juga tidak tahu memecahkanya! Keselku sambil menghirup sebatang rokok kesayangaku saat itu. Ya, aku ga bisa tidur hingga pagi memikirkan kemarahan papa. “Bakalan ga kulupakan selamanya, dari peristiwa ekstrem ini!!!”” Terikan suaraku begitu meggema hingga temanku terbangun dari lelap tidurnya di saat itu.

    Aku harus mandiri!!! Aku tidak mau merepotkan mereka lagi. Saya berjanji demi rasa kehormatan sebagai remaja yang bertanggung jawab atas hidupku. Keesokan harinya aku berangkat kerja. Ahh.. kerjanya dibangunan hotel gini, aku tidak suka !! Kesalku sambil mengepalkan tangan didadaku. “Tuhan jangan menguji aku  dong! Mengapa memberikan pekerjaan seperti ini!!  Lepaskan aku dari derita ini!

    Gugatku pada Tuhan di pagi itu. Jujur bahwa  aku ingin  suatu tantangan baru sesuai dengan kemampuaku. Aku merasa ga nyaman pekerjaan seperti ini. Dan ini  bukan pilihanku. Aku sebenarnya di dunia panggung hiburan. Dunia entertaitment. Entah kenapa nasibku bisa berubah seperti ini. Tetapi saya tetap bersyukur kepada Tuhan karena hampir setahun saya menikmatinya meskipun hati saya bercokol atas nasibku ini. Cetusku sambil membolak balik album kenangan bersama keluarga besarku.

    Suatu hari, saya mengalami despresi. Aku mulai membayangkan kasih sayang papa dan mama di masa kecilku. Aku merindukan lagi bagaimana Papa seorang dokter yang penuh perhatian kepada saya.

    Aku ingin lagi  papa yang setia mengajar saya berjalan, lari, hingga menjadi  driver yang smart. Kenangan itu menjadi kilas balik yang tidak bisa terulang lagi. Saat itulah saya baru sadar kalau saya jatuh dari hotel lantai 5  dan saya memang posisi di Rumah sakit kala itu.

    “Tidak! Tidak!! Oh no!! “Tidak dokter!” Saya tidak mau hidup seperti ini!! Aku tidak siap menerima penderitaan ini!!. Ketika dokter dan perawat meninggalkan aku sendirian di kamar, aku berjuang sekuat tenaga untuk melepas infus yang mengganggu aku untuk bernapas.

    “Aku mau mati dok!! Saya tidak mau mengecewakan orang yang mencintaku selama ini!!. Papa… mama… dimana kalian!! Kalian jahat!!! Kenapa kalian melahirkan saya dengan menderita seperti in!!i. Setiap pagi saya diteraphi oleh dokter untuk bisa berjalan normal seperti biasa, namun sakitnya luar biasa, seperti sendi terlepas semua dari sambungan otot kakiku.

    Baca juga: Paguyuban Wartawan Katolik Anugerahkan Tropi Terima Kasihku KepadaMu kepada Ketua KPK H Firli Bahuri

    Sungguh Tuhan menguji saya dengan menderita seperti ini. Apakah Sakitku ini sebagai awal pertobatanku?. Apakah melalui derita orang baru bertobat? Gumulku dalam hati sambil mata memandang kosong di rumah sakit saat itu. Makanan yang mama bawa pun saya tidak menyentuhnya. Pulang kalian!! Pulang!! Saya tidak butuh kasih sayang kalian!!.  Biarkan aku sendiri di sini!! Aku melihat mama dengan air mata berlinang dan tak  bisa dibendung lagi untuk merangkul aku. Aku terasa  sekali dekapan dan sentuhan tangan mama, seolah-olah  tidak mau saya menderita berkepanjangan di Rumah sakit.

    Kira-kira pukul 09.00 pagi, tiba-tiba ada lelaki yang begitu kuat menggedong saya dan mengajar saya untuk berjalan perlahan-lahan. Aku berteriak dengan keras jangan lakukan itu.

    Mendingan racuni aku supaya saya tidak hidup seperti ini. Aku digendong dari rumah sakit hingga merebah tubuhku di kamar yang begitu lama aku tinggalkan. Lelaki itu ternyata papaku. Teriakanku semakin kuat hingga Papa tidak mau lepas tanganku dari dekapannya.  Please.. papa lepaskan aku dari genggamanmu!!. Papa… Mama…. !! aku minta maaf!!. Aku berjalan terseok-seok  menuju meja makan.

    Menu itu ternyata menyadarkan saya kalau hari itu adalah hari kebersamaan keluarga besarku. Menu Sam sip puam adalah menu yang istimewa dalam perayaan hari itu Pa.ma.. Akong.. Ama… kakak adik makan ya. Maafkan aku untuk segalanya . Hari itu menjadi sukacita yang terbesar dalam hidupku dan memang di hari Imlek itulah aku merasa sukacita kasih sayang Tuhan dan Orang tuaku.  “GONG XI FA CAI”  ke 2566 ya Papa dan Mama”. Ku cium tangan mereka dengan penuh cinta kasih, sebagai cium pertobatan dan cinta kasihku pada mereka.***

     

    Perjumpaan Hati Sebagai Jalan Keindahan

    Foto: Perjumpaan Hati Sebagai Jalan Keindahan- Bruder Flavianus, MTB

    MajalahDUTA.Com-Suasana terasa teduh,  penuh khusuk dan khidmat di Audotorium Pendikkat-USD, Yogyakarta, Minggu (31/7/2022). Empat penari dari mahasiswa mengiring perarakan 16 imam dan 1 diakon MSC  menuju altar diriingi oleh alunan musik khas gamelan semi kontemporer.

    Para kaum berjubah ini diundang khusus oleh panitia,  baik romo dari Kevikepan Barat dan Timur Keuskupan Agung Semarang, para imam alumni Pendikkat maupun  imam SJ selaku dosen di lembaga tersebut. Suara koor yang merdu, semakin mendukung suasana saat itu. Perayaan ekaristi tersebut, sebagai puncak Dies Natalis Pradnyawidya-Penddikat USD ke- 60.

    Rm. Yohanes Dwi Harsanto Pr, selaku selebaran utama, mengungkapkan rasa bangga lembaga pusat katekik ini berdiri, sebagai produk tenaga katekis yang handal dan bermutu.  “Kita bersyukur kepada Allah, karena melalui kampus tercinta ini,  menghasilkan para katekis (guru agama Katolik) yang profesional dalam bidangnya, baik dalam mengajar dan mendidik umat berkatekese maupun mengantar orang (inisiasi) untuk mengenal Kristus dalam Gereja Katolik.

    “Saya percaya banyak lulusan yang sukses, nyatanya banyak yang hadir dengan usia yang masih produktif dan penuh semangat.” Puji Harsanto dalam homilinya di hadapan 300 peserta yang hadir.

    Selain itu Bpk. Albertus Magnus Adiyarto Sumardjono, S.E. M. Hum Plt. Selaku Ditjen Bimas Katolik Kemenag RI ikut hadir dalam acara yang spetakuler ini.  “Tempat ini begitu indah, karena  hari ini kita mengalami sebuah perjumpaan langka saat ini, yakni: perjumpaan hati”. “Kitab bisa berbagi dan sharing bersama tentang pengalaman apa saja dalam hidup ini”.

    Di saat pandemi ini kita masih bisa bertemu dan saya bersyukur lembaga ini bisa menyelenggarakan sebuah kegiatan, dengan prokes ketat dan cermat.” Bagi saya perjumpaan langsung tetap beda.”

    “Selain itu, saya merasa  ikatan emosi tatap langsung begitu kuat, karena respon realistis yang terjadi saat ini, suka tidak suka maupun tidak tahu harus bersahabat dengan pandemi ini”.  “Semoga Dies Natalis ini, kita saling meneguhkan dan bersinergi dalam bersaksi tentang hidup ini. “Ayah saya pensiunan dosen USD. “Sejak kecil saya sudah mengenal tempat ini, ayah saya selalu membawa saya di lembaga ini, maka ruang perjumpaan ini sebagai kenangan indah bagi saya”. Kata Bpk. Albertus Magnus Adiyarto Sumardjono dengan disambut tepuk tangan meriah dari para alumni.

    Aurea Retno Dewanti Retno, selaku ketua paniti sangat gembira. “Saya berterima kasih kepada lembaga ini, para panitia dan donator yang mendukung kegiatan Hut ini sejak 29 Juli  sampai hari ini berjalan dengan lancar”. Di depan 300 peserta yang hadir Retno mengapresiasi kerja keras mahasiswa  HIMKA dan dosen Pendikkat yang tidak patah semangat dan tak padam sinarnya.

    Ketua umum ikatan Alumni Pendikkat terpilih Nikolas Saragih, S.Pd, mengatakan;  “Senang bisa mengikuti acara ini dan lebih-lebih dipercaya untuk menjadi ketua umum ikatan alumni. Hal ini juga dikuatkan oleh ketua Alumni USD,  Drs. Tarsisius Sarkim, M.Ed., Ph.D. “Salah satu  dukungan mutu sebuah lembaga adalah membangun jejaring  kuat dengan alumni”. Kata Sarkim dengan bangga. “Mereka sebagai jembatan bagi kita. “saat ini beberapa alumi sudah membentuk ikatan alumni di regio masing-masing baik di Sumatera, Jawa, Nusra  sampai Papua. “Bangga kita satu keluarga besar Universitas Sanata Dharma”. “Bila mengunjungi untuk sekedar ngopi dan ngobrol, sudah ada lho space khusus buat alumn”.

    Ajak Dekan Sekaligus ketua ikatan Alumni USD ini, sambil mempromosi kaus kampus untuk penggalangan dana pendidikan di USD Yogyakarta. .

    Hadir juga Wakil Rektor I Prof. Ir. Sudi Mungkasi, Ph.D  mewakili  Romo Rektor Albertus Bagus Laksana, S.J., S.S., Ph.D. “Mohon maaf, Romo Rektor lagi di Amerika, maka saya mewakili beliau untuk ikut memberi apresiasi prodi ini, “Saat masuk di tempat ini, saya sedikit bingung kog  ada kata tulisan Pradnyawidya”.

    Setelah dijelaskan oleh Romo Ruky selaku Kaprodi Pendikkat, ternyata lembaga ini mempunyai sejarah nama yang begitu banyak”. “Semoga perjumpaan  dalam dies natalis ini, tidak hanya sampai di sini saja, akan tetapi kita tetap membangun jejaring demi keutuhan relasi kita di mana saja kita berada sebagai keluarga besar yang berhumanis dan cerdas di USD tercinta”. Tutup Sudi Mungkasi dengan mantap. Semoga kebergegasan dalam gawe ini   menjadi kenangan yang indah untuk dikenang.  Mari kita terus “Berjalan Bersama untuk Bersaksi” sebagai jalan keindahan dalam ziarah hidup ini. ***

    Preman Berbaik Hati

    Bruder Flavianus MTB- foto Ilustrasi Cerpen

    Cerpen-MajalahDUTA.Com- “Seharian aku mencari kost, semuanya ditolak bang,” Kata Boy mengawali percakapan  di malam itu.

    “Terus apa urusan dengan saya?” Sahut Tino dengan nada tidak bersahabat.  “Lho… kamu khan udah lama kuliah di sini bang!”

    “Bagi saya, tidak ada satu kesan yang menarik,  bahwa abang mau membantu saya!” “Apa aku harus balik ke daerahku?” Timpa Boy sambil menendang lemari pakaian yang sudah tidak layak di pakai lagi.

    Malam itu Boy tidak bisa tidur. Ia gelisah karena sudah satu bulan menumpang di tempat tinggalnya Tino, yang sudah lama kuliah di kota itu. Ia merasa malu dan tidak tahu bagaimana caranya agar segera mendapat kost sehingga ia bebas dari pergumulan diri sebagai mahasiswa baru di kota itu.

    Pagi-pagi pukul 07.30 wib, Tino bangun cepat-cepat. Dia tidak biasanya bangun awal. Pada hal sebelum pandemic covid 19, dia malas bangun. Untung saja kuliah online. Tidak semestinya harus buru-buru mandi dan sarapan. Belum lagi sibuk mengambil makalah yang sering dititipkan di tempat  foto copy langgananya.

    Sambil menikmati secangkir kopi kapal api dan mengisap rokok elektrik (baca: vape) kesukanyaa, tiba-tiba ia melihat Boy dengan tidur pulas. “ Hemm… sedang mimpi apa  dia ya?”  Bathin Tino sambil membuka pesanan  di grup WhatsApp melihat teman-teman yang sudah registrasi ujian skripsi  di tengah pandemi.  Tino semakin bingung. Skripsinya sudah lama, tidak ada lagi respon dari dosen pembimbingnya. Entah bab berapa saja yang harus diperbaikinya lagi.

    “Woy….., bangunlah sekarang! “ Sudah jam 10.. Boy?”. Pinta Tino dengan nada jengkelnya. Tino pun  sedikit tidak fokus antara memperhatikan Boy atau  sedang galau, karena teman-temannya hampir 80 % sudah mau pendadaran alias ujian skripsi. Tangan Tino tidak karuan mengotak atik jarinya di depan laptop yang hampir warnanya berubah jadi orange. Maklum kamarnya tiap hari membakar dupa dan kemenyam dari produk kapitalis perusak paru-paru dan ekologi.

    “…Wuah…ahh… segar rasanya udara pagi ini?”  teriakan Boy ini  tidak mengagetkan Tino. Boy pura-pura memuji kamar tidur mereka yang berukuran 3×2 meter persegi. Lantaran asapnya seperti sedang mendupa sang dewi fortuna.  “Boy sering  begitu ya, kalau bangun pagi mirip kicau love bird yang berkicau 24 jam karena belum ada yang kencan neh?” Nada canda dan rayuan Tino tidak memancing Boy untuk memperlebar ruang  berdebat mengapa harus terlambat bangun pagi di saat itu.

    ***

     “Bang Tino?” Sapa Boy dengan ramah. “Apa lagi topik hari ini?” Tanya Boy sambil menikmati secangkir kopi susu buatan Tino. “Bang kemarin saya lewat depan kost, ada nada sumbang yang membuat saya tidak mau ceritakan kepada abang”. Kata Boy sambil menatap Tino dengan serius. “ Maksudnya apa sich?” Sahut Tino dengan tidak sabar. “Aku ingin bicara bang!” Pinta Boy dengan nada serius. “Saya sudah tiga bulan tinggal di tempat abang!” “Sudah terlalu lama buat aku bang”.

    “Selama ini abang sudah membantu saya lebih dari yang saya pikirkan”. Jujur  Boy tentang kebaikan Tino. “Barang kali ini saatnya, saya membuka cerita!” Agaknya sich menyinggung perasaan abang?” “Tapi lebih baik saya jujur apa adanya!” “Dari pada menyiksa bathin bang!”

    Tino tidak gubris dengan kata-kata yang keluar dari lelaki berkumis tipis itu. Karena dia tetap konsen dengan skripsinya yang belum tahu kapan selesainya. Tino tidak tertarik dengan namanya isu berbau  LGBT (Lesbian, Gay, Biseksual, dan Transgender) feminisme dan maskulinitas dibahan berduan.  Bagi dia topik itu buang jauh jauh dari otaknya. Boy mendengar gosib pemilik kost, bahwa mereka dua adalah sepasang kekasih yang sudah melanggar norma masyarakat sebagai anak-anak kost pada umumnya. Alias pasangan gay.

    Kurang lebih 30 menit Boy menceritkannya. Tak satu katapun yang keluar dari Tino. Tino membisu dan sekali lagi isu itu tidak menarik untuk meresponnya. Bahkan menanggapi isu yang tidak jelas baginya.  Ibarat bunyi guntur di siang hari. Tidak tahu  dari mana getaran dasar suaranya.  Akan tetapi, dalam hati ia memuji atas kejujuran Boy dalam mengungkapakan perasaanya apa yang menjadi pergumulan dirinya tinggal bersama Tino. Cuma Tino, pura-pura tidak mau bahas lebih luas lagi apa yang terjadi dengan berita tersebut. “..

    “Hemm hari gini masih percaya berita hoaks ya?… Eh Boy.. cerdaslah secara intelektual!”  “Pagi pagi  gini,  bikin abang naik tensi aja lho!”  “Topik kamu tuh bikin abis energi positif dalam diriku lho! “Kalau ga benar ngapain ditanggapi! “ Titik !… “Mulai hari ini jangan bicara sensentif gituan dengan saya!” “Ruang tidur orang  kog diatur oleh tentangga!”  “Kalau ga benar ya diam saja kan?” “Habis Perkara!” Tino mengisap sebatang rokok L.A Menthol dengan menghirup kuat kuat. Dia  tidak bisa menerima  obrolan di saat itu.

    ****

    “…Gubrak..!!” bunyi meja setinggi lutut kaki dari hadapan Tino. Boy kaget dan takut. Karena Tino sebelumnya tidak seperti itu. “Abang marahkah!”. Sahut Boy dengan penuh keheranan. “Sekarang kamu mandi cepat!” Perintah Tino dengan tegas. Boypun dengan segera menikmati dua ember air yang bisa menyegarkan pikirannya, karena  pagi pagi sudah mendapat kopi pahit. Rupanya kejujuran itu bisa membuat masalah baru bagi Boy. Tino dengan Boy, diam sepanjang hari. Mereka tidak saling sapa. Siletium magnum.

    Mereka seharian bermotor tanpa berbicara, sambil mencari kost yang pantas buat si Boy. “Jangan menyentuh aku!”  Pinta Tino dengan tegas. “Bang ada apa sich?” “Awas jatuh lho?” Goda  si Boy sambil melirik kaca spion bagian kanan apakah Tino marah benaran terhadapnya.  “Kita enggak ada ansurasi,  jika kita mengalami kecelakaan demi sebuah kamar kost!. Tino pura-pura senyum dan sengaja untuk memancing kemarahan Boy.

    ***

     “Permisi bu!” Sapa Boy dengan sopan. “Bu mau nanya, di sini masih ada kamar kosongkah?” “Wah mas masuk aja dulu”. Ajak si ibu muda itu dengan senyum yang merekah.  Boy begitu senang. Ia  berpikir,  inilah  saatnya menikmati kost sendiri. “Saatnya saya harus keluar dari ketergantungan dengan Tino”. Bathinya sambil menatap Tino.

    “Mas, boleh saya minta KTP-nya?” pinta ibu kost dengan ramah. Selang 10 menit tiba tiba ibu kost  menghampiri mereka. “Mas… maaf ya, kami udah lama tidak menerima mas-mas dari daerah yang kami anggap mengganggu kohesi sosial kami di sini!”. “ Maksud Ibu bagaimana ya?” Timpal Boy dan Tino bersamaan.

    “Saya tidak bisa berterus terang sama kalian!”  “Jujur mas ini bukan ruang berjumpaan diskusi mas!”. Silakan mas cari kost lain!”  “Maaf ya mas, saya lanjutkan kerjaan saja!”  “Permisi! Pamit ibu itu dengan segera dari hadapan mereka berdua.

    Pada pukul 16.00 mereka lelah dan tiba-tiba bunyi menggelegar  guntur saat itu, membuat mereka ingin cepat-cepat cari tempat aman. Bunyi alam itu seakan-akan memberi isyarat kepada mereka tentang misteri kehidupan manusia di muka bumi ini dalam relasi dan bersaudara.

    Tino mengajak Boy untuk berteduh di sebuah warung yang sering mahasiswa nongkrong untuk sekedar makan bakso atau nge-teh di sore hari.

    “Boy,.. kamu mau makan apa?” Pinta Tino dengan ketus. “Terserah apa aja yang ada bang!” Sahut Boy sambil melap dahinya yang sudah terlanjur basah kuyup dari tetesan air hujan yang mengelinding dari helem baunya Tino.

    Selesai makan, Tino mengajaknya   untuk berdikusi tentang penolakan warga terhadap Boy. “Bu permisi, boleh ga nambah kopi lagi ya? “ Ijinkan kami untuk beberapa jam di sini bu?” Pinta Tino dengan sopan. “Monggo Om… silakan, senang kog Om!” Sahut Bu Nining, sambil merapihkan tempe dan tahu bacem yang sudah menjadi jajanan murah di kota itu.

    Boy semakin bingung. “Bang kenapa ibu itu panggil Om?” “Biasanya disapa mas bang?” “Haaaaaa… haaaa!. Tino tidak gubris pertanyaan yang lebay itu. Tetapi untuk Boy tetap ingin dijelaskan apa perbedaam om dan mas bagi dia pendatang baru di kota itu. “Haaaaa…aaaa Boy! Haaaa, kamu itu aneh?” Haaaaa… gitu aja dipersoalkan?” Tino menjelaskan  bahwa kalau disapa om, biasanya tanda hormat bagi orang asing. Dan bisa saja ditelisik diri mereka yang secara fisik dari warna kulit, rambut bahkan bahasanya sudah dikategori bukan orangnya atau warganya. Boy semakin bingung dengan penjelasan Tino yang tidak masuk akal baginya.

    Tino mengajak Boy untuk semakin serius bercerita tentang penolakan terhadap Boy. Tipe Boy ini memang bukan kategori wajah yang humanis. Tetapi hatinya lembut dan ramah. Bagi Tino, Boy harus cepat menyesuikan diri di mana kita berada di muka bumi ini. Ibarat peribahasa dimana bumi dipijak, di sana langit dijunjung. Artinya hendaklah patuh pada adat dan aturan yang berlaku di tempat yang kita kunjungi/tinggali.

    Tino pun mulai menceritakan kisah yang menohok baginya dalam politik identitas di kota itu. Menurut cerita Tino, bahwa sekitar tahun 2003 di sebuah Selokan air, dekat tempat  tinggalnya terjadi sebuah konflik yang serem. Gara-gara rebut lahan parkir. Mungkin  juga mempersoalkan urusan perut.  Nyawa  sesamapun melayang tragis. “Kasihan  ya waktu itu mereka meninggal secara tidak manusiawi!”  “Seperti hewan gitu? “  Hemmm mungkin hewan masih terhormat,  kalau dibantai jika memang manusia ingin menghabis hewan itu untuk jadi lauk!” Tutur Tino sambil menatap Boy yang makin sore wajahnya makin ketakutan ada apa dengan warga yang menolaknya.

    Lanjut Tino, bahwa menurut saksi mata saat itu ada ketidakadilan kasus yang menimpa warga tetangganya. “Pokoknya saya kasihanlah Boy!”  “Usia mereka masih produktif mati sia-sia lagi!”  “Begitulah kalau sudah disemat preman, matinya pun tidak diakui sebagai bagian dari masyarakat yang layak menghuni di muka bumi ini!” Cerita Tino semakin menyakinkan Boy bahwa itu benar benar kisah nyata.    “Sure…  Boy, mereka mati tidak wajar!” Tino mengangkat kedua jarinya symbol bahwa dia tidak bohong. “Hemm… mungkin menyakitkan orang-orang yang ditinggakannya, karena tidak tahu mengapa keluarganya dicap sebagai preman dengan dibantai tanpa perikemanusiaan!” Tutup Tino, sambil mereguk kopinya yang tinggal ampasnya lagi.

    ”Bang.. kisahnya kog bikin aku penasaran?” Tanya Boy dengan mendesak supaya diceritakan ke pokok persoalan yang sebenarnya. Ketika Boy mendengar alur kisahnya,  ia juga mulai memikirkan dirinya bahkan curiga dengan Tino.  Jangan-jangan narasi yang dibagun Tino, hanya untuk mengelabui persoalan dalam diri Tino sendiri. Tino pun melanjutkan kisah pilu itu.

    Menurut Tino, di sebuah kafe, tiba-tiba ada seorang berbadan tegap menghampiri para penjaga parkir dengan tidak sopan. Mereka ini  sudah lama diberi kepercayaan mengamankan kafe 24 jam.  Si tukang pukul itu tanpa basa basi meminta KTP dengan kasar.  Jelas saja si penjaga itu takut dan heran. Karena selama 5 tahun kafe itu berdiri, tidak ada  tamu yang perilakunya jauh dari seorang pribadi yang santun dan terhormat sebagaimana tamu awam lainnya.

    Kata Tino waktu itu, demi menyelamat nyawanya ia cepat cepat lari ke dalam Kafe dan menelpon ketua kelompok mereka. Dalam sekejap ketua kelompok penjaga ini menghunus pisaunya hingga si badan tegap ini terkapar tak berdaya. Keesokan harinya peristiwa itu cepat viral di mass media dengan gambar gambar berbau kekerasan. Dua hari kemudian, ditangkaplah sekelompok pemuda yang diduga menghabis teman mereka.  Mereka dijemput dengan paksa.

    Tanpa diadili sebagaimana layaknya  praktik hukum sipil yang tepat bagi masyarakat pada umumnya. Mereka langsung dicebloskan ke dalam penjara, tanpa manusiawi. Di penjara inilah mereka diberondol senjata misterius. Sampai hari ini tidak tahu apakah yang menembak preman atau orang lain. Keluarga, istri dan anak mereka tidak tahu. Karena ditangkap malam hari. Isi berita pun menggelinding narasi yang menyakitkan  bahwa si preman itu merebut bahan rejeki orang yang berjasa bagi negeri ini.

    Mendengar kisah itu pun,  Boy semakin bingung. “Eh bang.. saya makin enggak percaya kisah ini?” Lanjut Boy, “Hem, ya preman itu siapa? “Apakah si badan tegap itu atau penjaga parkir?”. Tanya Boy dengan nada kritis. “Nah… ini dia!”. Sambung Tino sambil memuji Boy yang sudah mulai kritis dari kisah tersebut.

    Dari kisah  tersebut, rupanya Tino diam-diam membuat sebuah penelitian dengan mempersoalkan mengapa stereotip tentang preman masih dipelihara oleh masyarakat di  kota itu. Mengapa orang-orang yang tidak sama dengan mereka langsung dicap preman. Bahkan kalau tampangnya tidak menarik, langsung disemat sebagai preman.

    Bagi Tino persoalan ini perlu dibongkar. Sampai kapan pun kita tidak maju karena belum bisa menerima keberagaman diri seorang menjadi kekayaan dalam hidup bersama. Perlu ada standar yang baku tentang preman. Sebab menurut Tino orang yang tampangnya ganteng, cakep dan berdasi bisa saja di sebut preman. Mana kala mereka merebut hak rakyat kecil. Mereka menguasa tanah dan segala harta dengan tidak adil. Menurut dia inilah preman kelas kakap di negeri ini.

    “Bang apakah kisah ini yang membuat Bang Tino juga menjadi persoalan baru dalam menyelesaikan skripsi?” Tanya Boy semakin memojok dirinya. Tino memang tidak mau mengakui secara jujur bahwa dalam tulisan skripsinya hanya ingin membela para penjaga atau tukang parkir yang sudah mendapat stereotip dari masyarakat yang membelenggu nasib tukang parkir. Bagi Tino, sampai kapan pun di masyarakat kita berbincang soal masalah preman tidak pernah berakhir. Dan  mengapa stereotip tentang preman lebih dilihat dari penampilan fisik ketimbang perilakunya yang jahat.

    Narasi preman semacam dipelihara dalam pikiran masyarakat yang ingin menghindari dari relasi antara mereka golongan superior dan inferior. Jadi diskriminasi sosial selalu muncul dari stereotip yang ada dalam diri seseorang  baik yang tinggal dalam bingkai masyarakat pluralis maupun multikultur di mana saja kita tinggal di negeri ini. Stereotip itu sudah melekat dalam diri kita.

    ****

            Keesokan harinya Boy lari dari Kost  Tino tanpa pamit. Tino seharian mencari Boy. Namun tidak satu tetangga pun yang bisa memberitahu kemana  si rambut ikal dan kulit itam manis itu bersembunyi. “Ah.. saya merasa bersalah!” Kesal Tino sendirian di ruang kamarnya yang sudah bau apek.

    Tiga tahun kemudian,  Boy tiba tiba hadir di hadapan Tino. Secara tidak kebetulan,  waktu itu ada acara Dies Natalis ke-20 kampus mereka berkuliah. Tino kaget, karena Boy berada di atas panggung dalam pentas seni bertajuk “ Seni Serasi Dalam Keberagaman”. Boy membawa berapa  puisi  bertema tentang perlawanan berbau anti rasisme, menolak stereoptif yang mengarah politik identitas memecahkan kesatuan bangsa. Malam itu Boy dengan diiringi  kelompok musical berteriak dengan lantang di hadapan ribuan mahasiswa, dosen dan alumni. Tepukan tangan bergemuruh di ruang auditorium itu, semakin membuat malam itu miliknya si Boy.

    Setelah usai pentas seni, Tino mengajak Boy untuk mendengar kisah apa yang terjadi setelah ia lari dari kostnya si Tino. “Bang.. saya pikir kita terlalu tenggelam bicara stereotip dan rasis yang berlebihan lho?” Buka Boy menghantar Tino untuk memberi ruang berdiskusi semi intelektual organik.

    Dalam kisah Boy, bahwa selama ini terjadi salah paham karena kita terlalu terbelenggu dengan pikiran kita sendiri.  Menurut Boy yang sudah duduk di bangku kuliah tingkat 4 ini bahwa sejak zaman prasejarah, pengalaman diskriminasi sosial  merupakan  masalah biasa yang dialami oleh manusia dalam hidup bersama di masyarakat.

    Dalam kajian postmoderen, persoalan diskriminasi mungkin tidak menarik lagi untuk diperdebatkan, apa lagi diskriminasi ras terlalu sensitif dan naif untuk dibahas di ruang akademik maupun publik. Kata Boy sambil menatap Tino yang sudah lama tidak kuliah  gara-gara skripsi yang berbau rasisme.

    “Begini ya bang, kita sadar bahwa cara pikiran kita pun tidak bisa memaksa kepada orang lain soal stereotip”.  Akan tetapi, ketika masalah tersebut dibahas dalam ranah kajian akademik,  maka kita dapat menemukan ruang dan akar persoalan mengapa diskriminasi  sosial khususnya tentang preman selalu muncul di tengah masyarakat?”

    “Menurut saya bang,  diskursus sosial diskriminasi sosial itu  sangat erat dengan relasi kuasa, konstruksi sosial, kelas sosial, resistensi, hegemoni dan politik identitas  dalam hidup bersama!”. “Misalnya, saya sendiri kadang-kadang  tidak siap mengoreksi identitas saya sebagai Indonesia Timur!”

    “Abainya kita bang,  karena kita sendiri tidak fair dalam mengkontruksi sejarah identitas kita masing-masing!” “Makanya  kita sering terjadi terjebak untuk mengglorifikasi identitas kita masing-masing sebagai terhebat?” Inilah permasalahan terbesar dalam relasi kita selama ini!”   “Jujur bang, kita terpaku pada keegoaan intelektual kita!”

    “Wah.. hebat kamu Boy! “Malam ini kita kuliah tanpa bayar? Pujian Tino semakin Boy mengajaknya  untuk melihat banyak aspek tentang hidup manusia dalam kehidupan di negeri ini. Menurut catatan Boy, Si Tino tergoda dengan kesombongan intelektualnya. Dia semacam anti sosial. Kostnya saja sepi. Dia  tidak mau bergaul dengan teman-teman dari pulau lain.

    Menurut observasi Boy bahwa Tino kehilangan satu dimensi analisis diri yang justru dekat dengan  diri Tino. Tino tidak berani menganalisis identitasnya sendiri. Tino mengabaikan kecacatan, ketidaksempurnaan itu.  Justru Tino menjadi tidak adil, tidak fair.  Justru menjadikan Tino sedang menciptakan rasis secara tak sadar dalam tulisan skripsinya.

    ***

            “Eh.. Tino.. maaf ya, aku harus bongkar masalah ini!” Masalah  Apa Boy? Tino semakin kaget karena Boy bisa melebih cara berpikirnya tentang bagamana membangun opini  untuk tidak memecahkan masyarakat kita sebagai warga yang humanis di negeri tercinta ini.

    Boy mengisahkan waktu dia mencari kost sendirian tanpa Tino, ia mengajak diskusi dengan pemilik indeks kost. Boy mengyakinkan, bahwa tampang dia memang seperti preman. namun hatinya berhelo kitty. Nyatanya ibu kost selama tiga tahun sangat terbantu dengan kehadiran si Boy. Cucunya yang duduk di SMP makin pintar dengan ilmu matematika. Boy mengajarnya dengan humanis bahkan tanpa bayar.

    Ibu kost pun menganggap Boy seperti anaknya sendiri.  Bahkan selama 3 tahun ia tidak membayar kost tempat tinggalnya.Ternyata kata preman itu hanya hoaks bagi Boy.  Mulai saat itu Boy dengan ruang bathin merdeka, meminta Tino untuk memberi semat baru kepadanya dengan menyandang “Preman Berbaik Hati.” ***

    Serah Terima Alih Kelola AKUB Grha Arta Khatulistiwa ke Yayasan Landak Bersatu (USA)

    Penandatangan Dokumen oleh Pastor Dr. J. Robini Marianto, S. Fil., MA., OP - Ketua Yayasan Landak Bersatu - USA disaksikan oleh Uskup Agustinus.

    MajalahDUTA.Com, Pontianak – Seremoni serah terima alih kelola Akademi Keuangan dan Perbankan (AKUP) Graha Arta Khatulistiwa kepada Yayasan Landak Bersatu dilakukan di kampus Universitas Katolik Santo Agustinus Hippo (USA) Fakultas Kesehatan, Rabu 3 Agustus 2022. 

    Kegiatan ini dihadiri oleh Ketua Yayasan Landak Bersatu Pastor Dr. Johanes Robini Marianto, S.Fil., M.A, OP dan Angelina Carolin, SE, M.M. sebagai perwakilan dari AKUP Grha Arta Khatulistiwa, juga di hadiri Mgr. Agustinus Agus serta Dr. Drs. Adrianus Asia Sidot, M.Si. selaku perwakilan DPR komisi X dan seluruh tenaga pengajar di Akub Grha Arta Khatulistiwa. 

    Romo Robini bersyukur dan berterima kasih atas bergabungnya AKUP ke dalam Yayasan Landak Bersatu yang mana selanjutnya akan dijadikan sebagai Fakultas Ekonomi Bisnis di USA. 

    “ Kami bersyukur dan berterima kasih kepada Yayasan Cinta Kasih karena mereka terbuka dan percaya kepada kami untuk mengolah seterusnya AKUP Grha Arta Katulistiwa ini,” ujar Angelina Carolin. 

    Membangun SDM- Kalimantan Barat

    Sebagai ketua Yayasan Landak Bersatu, Pastor Robini  juga menyampaikan misi dari pendirian USA yang seperti yang dicita-citakan oleh Uskup Keuskupan Agung Pontianak, Mgr. Agustinus Agus yaitu untuk menjadikan USA sebagai sarana membangun sumber daya manusia Kalimantan Barat dan dapat menghimpun sampai ke pelosok-pelosok serta tidak bersifat eksklusif hanya untuk anggota gereja Katolik saja.   

    “Untuk memberikan pendidikan yang seluas-luasnya bagi kaum muda Kalimantan Barat bahkan lebih jauh dari Kalimantan Barat,supaya bisa memberikan pendidikan yang bermutu, berkualitas tapi terjangkau dan dimulai dari pinggiran,” ujar Pastor Robini. 

    Melahirkan lulusan yang berkualitas

    Sejalan dengan hal itu, Dr. Drs. Adrianus Asia Sidot, M.Si  mengatakan pentingnya untuk meningkatkan daya saing mahasiswa.Hal ini didorong oleh adanya kemajuan digital yang mengharuskan lembaga pendidikan membuat pembelajaran yang mutakhir agar mampu melahirkan lulusan yang mampu bersaing dalam dunia kerja. 

    Adrianus Asia Sidot menegaskan bahwa dunia Keuangan dan Perbankan ke depan akan berubah sesuai kemajuan teknologi digital. Oleh karenanya mau tidak mau lembaga pendidikan harus menyesuaikan diri dengan penyesuaian materi-materi pembelajaran yang sesuai dengan tuntutan kompetensi kerja. 

    Misi dari pelayanan

    Mgr. Agustinus Agus juga mengingatkan kembali bahwa dengan berdirinya USA juga sebagai tanda hadirnya gereja Katolik di tengah masyarakat dalam misi pelayanan, beliau juga mengatakan bahwa UAS terbuka untuk seluruh masyarakat merupakan kampus yang inklusif.

    “Memang Universitas Santo Agustinus universitas Katolik,tapi tidak berarti hanya orang katolik yang bisa ambil bagian. Karena gereja Katolik hadir untuk keselamatan umat manusia, Yesus hadir untuk umat manusia tidak pernah memaksa-maksa orang untuk ikut agama Katolik,” kata Uskup Agustinus. 

    Sebagai  Anggota Dewan Pembina Yayasan Pelita Kasih, Angelina Carolin, S.E., M.M. berharap setelah bergabungnya AKUP ke Yayasan Landak Bersatu dan akan segera menjadi Fakultas Ekonomi Bisnis di USA dapat menjadi lebih berkembang dan maju, terutama dalam kualitas pendidikan dan pengembangan sumber daya manusia. 

    “Saya harap semoga AKUP di tangan Yayasan Landak Bersatu semakin maju, semakin besar semakin jaya pastinya,” harap Angelina. 

    TERBARU

    TERPOPULER