Saturday, May 2, 2026
More
    Home Blog Page 129

    Meminjam Kata Santo Fransiskus: Bila Terjadi Penghinaan, Jadikanlah Kita Pembawa Damai

    Komisi Komunikasi Sosial Keuskupan Agung Pontianak

    MajalahDUTA.Com, Suara DUTA- Dalam kasus yang terjadi baru-baru ini, tidak terlepas dari isu tentang pengaruh radikalisme yang dikumandangkan layaknya sebuah asupan bagi publik. Kemudian terjadilah bermacam-macam respon dari publik.

    Celakanya anak-anak yang belum tahu membedakan antara ‘kejahatan paham radikalisme’ dengan ‘senjata debat logika’ yang dipakai oleh kaum-kaum tertentu kemudian yang ditafsir salah oleh kaum muda.

    Contoh dari kasus tersebut adalah kasus Bang Ade Armando. Ade Armando yang akarab disapa Bang Ade, memang acap kali bersuara lantang bahkan keras dalam memerangi paham radikalisme di Indonesia. Terlebih paham ini berkembang dalam era Presiden Jokowi. Bisa dilihat pikiran-pikiran ‘kristis’ Bang Ade dalam channel Youtube Cokro TV.

    Baca Juga: Hadeh – Tiktok Buat Lupa Realitas

    Perperangan logika yang ia utarakan di Youtube ternyata dan memang sejak dari dulu tidak disenangi oleh lawan politiknya kita sebut saja dalam hal ini kaum-kaum ‘radikalisme’.

    Belum lama ini kita dihebohkan dengan terjadinya pembantaian yang dialami oleh Bang Ade soal pengeroyokan yang dialami Ade Armando saat aksi demo di gedung DPR RI, Senin (11/4/2022). Memang faktanya Bang Ade di lokasi pendemo saat itu bertujuan untuk mendukung gerakan pendemo yaitu mahasiswa dalam mengaspirasikan penolakan penundaan pemilu.

    Berbagai spekulasi muncul, misalnya Rocky Gerung yang menyatakan bahwa pembantaian yang dilakukan itu bukan sekedar fisik secara biologis semata. Menurut Rocky Gerung, pembantain yang terjadi di sini adalah pembantaian dalam konteks sosial lebih tepatnya pembantaian yang terjadi pada Bang Ade Armando adalah pembantaian pada tubuh politiknya artinya dibalik tubuh biologis ada tubuh politiknya.  Sejauh ini, statmen Rocky Gerung bisa kita tafsirkan demikian.

    Faktanya Dosen Universitas Indonesia itu dianiaya dengan paham (yang kita katakan kelompok radikalisme itu) dengan motif dan tujuan yang jelas yakni sentimen atas pernyataan Ade Armando tentang isu agama yang sering disinggung oleh Bang Ade Armando di channel Cokro TV.

    Pengakuan-pengakuan tersangka saat ditanggap oleh kepolisian, tidak lain adalah motif sakit hati dengan pernyataan dari Bang Ade.

    Sekarang pertanyaannya ada apa yang sedang terjadi di Indoensia? Mengapa begitu banyak bermunculan krisis-krisis paham semacam ini?

    Apakah kita krisis moral?

    Pengertian tentang krisis moral akan lebih mudah dipahami apabila terlebih dahulu diberikan pemaparan singkat tentang moralitas atau sistem moral.

    Setidaknya moralitas dijelaskan sebagai suatu sistem terdiri dari seperangkat nilai, keyakinan dan norma yang dimiliki suatu masyarakat secara kolektif ang membatasi pikiran dan tindakan setiap individu yang mejadi warganya.

    Moralitas atau sistem moral itu harus memiliki otoritas – artinya setiap orang merasa harus mengindahkannya, dan mereka mau diikat oleh aturan-aturan itu.

    Baca juga: Ada 4 Poin dari Podcast ini !

    Selain itu, aturan-aturan moral merupakan produk dari deliberasi yang berlangsung dalam kelompok, yang begitu menjadi kesepakatan akan mengikat orang-orang ke dalam kelompok bersangkutan dan membuat mereka sebagai bagian dari jaringan hubungan atau network of relations yang berada di atas eksistensi individunya masing-masing.

    Moralitas memberi semangat disiplin kepada setiap anggota guna melakukan penegndalian dan pengikatan diri kepada kelompok. Jacques Ellul (1969) menggolongkan moralitas ke dalam tiga kategori, yakni: moralitas hidup (lived Morality), kebiasaan moral (moral custom), dan moralitas teoritis (theoritical morality).

    Moralitas hidup adalah seperangkat sikap-sikap moral yang efektif dalam suatu masyarakat pada masa tertentu. Sikap-sikap moral ini tidak sepenuhnya konsisten sepanjang waktu, dan sebagian besar juga tidak diciptakan secara sadar.

    Moralitas hidup lebih merupakan pencerminan keadaan saat ini tentang apa yang dianggap penting dan baik untuk keberlangsungan hidup masyarakat dan tentang citra yang ideal dari masyarakat mengenai dirinya sendiri. Kebiasaan moral adalah moralitas hidup pada masa lalu yang masih diteruskan hingga waktu ini. Moralitas semacam ini hanya bisa tetap bertahan sejauh tidak bertentangan dengan moralitas hidup yang berlaku pada saat ini.

    Sementara itu, moralitas teoritis adalah seperangkat etika normatif dari para filosof atau rohaniwan yang seringkali diwujudkan dalam bentuk sistem filsafat. Untuk dapat mengatakan suatu sikap atau tindakan sesuai dengan moral atau tidak, perlu pemahaman akan adanya tatanan yang wajar tentang segala sesuatu (naural order of things), dan pemahaman bahwa semua fenomena yang ada di jagad raya ini diikat oleh tata aturan yang diperlukan ,yang disebut hukum (Durkheim, 1965).

    Masalah moral yang terpenting menurut Durkheim adalah keperluan akan adanya keseimbangan yang dapat diterima antara kebutuhan dan kehendak individu dengan kebutuhan dan kehendak masyarakat keseluruhan dan bagaimana keseimbangan ini bisa dicapai (dalam Marske, 1996).

    Bila kebutuhan dan kehendak masyarakat keseluruhan yang merupakan kesadaran kolektif terlalu kuasa, penyimpangan yang betapapun kecilnya diharamkan, kebebasan, inisiatif dan kreativitas individu menjadi terpasung. Akibatnya, bahkan perubahan sosial yang sebenarnya diperlukan juga tak dapat berlangsung.

    Dalam suasana semacam itu, masyarakat yang diwakili keyakinan, nilai dan norma bersama atau kolektif, mendominasi kesadaran individu dengan otoritas yang begitu mutlak, sehingga perubahan moral tidak mungkin terjadi (Durkheim, dalam Lukes, 1972: 191-225).

    Baca juga: Dosen-dosen Fakultas Kesehatan Universitas Katolik Santo Agustinus Hippo adakan Pengabdian Masyarakat di Paroki Stella Maris Siantan, Pontianak

    Durkheim (dalam Turner et al, 1985) mengukur tingkat moralitas yang ada pada setiap kelompok masyarakat dengan menggunakan empat variabel: (1) volume, (2) intensitas, (3) kejelasan atau determinatenessi dan (4) muatan. Volume menunjukkan sejauh mana nilai-nilai, norma-norma dan keyakinan-keyakinan yeng merupakan bagian dari moralitas dimiliki secara bersama oleh setiap anggota suatu masyarakat. Intensitas menunjukkan sejauh mana moralitas atau kesadaran kolektif itu memiliki kekuatan untuk mengarahkan pikiran, sikap dan tindakan seseorang atau kelompok.

    Determinateness menunjukkan tingkat kejelasan setiap komponen yang merupakan bagian moralitas. Muatan berkaitan dengan perbandingan jumlah antara simbol-simbol yang bersumber pada religi atau agama dan pemikiran sekuler yang menjai bagian dari moralitas.

    Bila sistem moral tetap bisa berjalan sebagaimana mestinya, artinya bila keseimbangan antara kebutuhan dan kehendak individu dengan kebutuhan dan kehendak masyarakat keseluruhan bisa tetap terjaga, maka suatu kelompok masyarakat tidak akan mengalami permasalahan moral.

    Krisis moral baru mulai timbul apabila (1) berbagai unsur moralitas mulai mengalami erosi, (2) sebagian penting anggota masyarakat tidak lagi merasa terikat dengan aturan-aturan moral yang telah menjadi kesepakatan bersama, (3) moralitas mengalami pelemahan sehingga tidak lagi memiliki otoritas atau kekuasaa untuk tidak mengendalikan sikap dan perilaku anggota masyarakat, (4) tidak terjadi lagi kemarahan moral atau moral outrage dari sebagian besar anggota masyarakat terhadap seseorang yang melanggar aturan moral (Durkheim, dalam Lukes, 1972).

    Bagaimana sikap kita sebagai orang muda Katolik?

    Pilihan yang paling logis untuk menyingkapi berbagai isue politik sebagai orang muda Katolik adalah berpedoman pada ajaran magisterium gereja. Paling sederhana yaitu mendengarkan apa kata Paus, Uskup dan Imam tentang moral hidup dalam setiap homili.

    Hal ini dimungkinkan untuk diikuti, sebab doktrin dari Ajaran Gereja Katolik sendiri banyak mengajarkan untuk bersikap damai.

    Kalau kita meminjam bahasa Santo Fransiskus Assisi, Bila terjadi kebencian, semoga kita dapat menjadi pembawa cinta kasih. Bila terjadi penghinaan di Negeri tercinta kita Indonesia, semoga kita menjadi pembawa pengampunan. Bila terjadi perselisihan antara umat beragama, semoga kita menjadi pembawa kerukunan.

    Bila terjadi kebimbangan dalam hidup, semoga kita menjadi pembawa kepastian. Bila terjadi kesesatan di tengah masyarakat, semoga kita menjadi pembawa kebenaran. Bila terjadi kecemasan, semoga kita menjadi pembawa harapan.

    Bila terjadi kesedihan, semoga kita menjadi sumber kegembiraan dan bahkan bila terjadi kegelapan, semoga kita menjadi pembawa terang.

    Ajaran Santo Fransiskus Assisi ini, saya pikir masih sangat relevan dengan krisis moral yang terjadi di masyarakat saat ini. Pengetahuan dan penghayatan akan iman, memungkinkan manusia untuk tidak ikut arus dalam fenomena politik yang semakin banyak terkontaminasi oleh kepentingan-kepentingan politik yang tak berujung. Semoga!!!

    Ada 4 Poin dari Podcast ini !

    Podcast- KOMSOSKAP

    MajalahDUTA.Com – Apa itu Dominikan. Siapa itu Dominikus?

    – Ada hubungan apa antara Dominikan & Jesuit?

    – Mengapa Pesta Dominikan harus dipimpin oleh Fransiskan?

    – Ternyata Kristoforus Kolumbus adalah Asuhan Dominikan- terjawab sudah dengan adanya Negara Dominikan Republic.

    Mari Saksikan di Channel Youtube Majalah DUTA:

    Lihat Selengkapnya: https://www.youtube.com/watch?v=9bRuS1myJiM&ab_channel=MajalahDuta

    Hadeh – Tiktok Buat Lupa Realitas

    Tiktok-SS Google- Komisi Komunikasi Sosial Keuskupan Agung Pontianak

    MajalahDUTA.Com, Suara DUTA– Hanya sekarang konsumsi media sosial di Indonesia mengalami peningkatan yang cukup signifikan. Sebut saja perkembangan teknologi yang “melesat’ itu kini sudah menjadi-jadi.

    Tidak sedikit orang berketergantungan dengan media sosial. Istilah kasarnya sambil “buang hajat”-pun anak sekarang tidak terlepas dari telepon selulernya, kalau bahasa canggihnya lebih dikenal dengan “HP”.

    Sekrang media sosial seolah-olah menjadi kebutuhan sehari-hari, sebab dengan adanya itu memungkinkan penggunanya untuk saling berinteraksi serta membagikan hal apapun ke dalamnya.

    Baca Juga: Persekolahan Katolik Nyarumkop Sosialisasi Rumah Pendidikan Bersama Orang Tua Peserta Didik

    Menurut data terbukti dari jumlah pengguna aktif media sosial untuk Indonesia telah mencapai 191 juta orang pada Januari 2022. Fenomena pengguna aktif tersebut telah naik 12,35% dari tahun sebelumnya.

    Salah satu media sosial yang populer dikalangan anak muda di Indonesia adalah tiktok.

    Bagaimana dengan kasus Tiktok?

    Tak usah jauh-jauh, pengalaman pribadi dengan mertua dirumah. Menurut Ibu mertua saya, sekarang tiktok banyak informasi update dan bermacam-macam. Ada motivasi, ada pencemaran nama baik, ada berita yang sedang hot, ada juga kasus-kasus dan banyak lagi informasi lainnya.

    Setidaknya pengakuan semacam ini adalah sebuah reaksi dari indikasi mulai ketergantungan informasi hanya bersumber dari satu hal. Untung saja Ibu mertua saya tidak demikian.

    Kembali lagi, jika dilihat dari sejarahnya, sejatinya tiktok merupakan media sosial berbasis video dan musik yang diinisiasi oleh Zhang Yiming pendiri Bytedance pada September 2016.  Aplikasi Tiktok menawarkan kemudahan bagi para penggunanya dalam membuat maupun menonton konten video yang ada di dalamnya.

    Eksepsi karena kemudahan yang ditawarkan, platform digital tiktok juga memiliki filter video dan musik yang dianggap lebih mempersona daripada media sosial yang lainnya.

    Gelagat pengguna platform digital tiktok merupakan hal yang dinilai berpengaruh kuat terlebih bagi kalangan anak muda di Indonesia, celakanya banyak pengguna tiktok yang berlomba-lomba untuk membangun identitasnya demi mendapatkan citra yang mereka inginkan sehingga dapat menuai respon dan pujian dari masyarakat yang melihat mereka di aplikasi tiktok.

    Keinginan untuk membangun citra di media sosial tiktok itu ternyata membuat para pengguna terbuai dan hanyut bahkan tidak sedikit yang terpengaruh untuk melakukan dan meniru konten video yang sedang populer, seperti menari, melakukan lip sync dan sebagainya.

    Data menurut riset

    Dalam kasus ini, aplikasi tiktok disisi lain memang menawarkan hal baru dalam berkomunikasi. Hal itu tampak pada penggunaannya yang lebih mudah dan menarik menjadikannya begitu populer di kalangan anak muda Indonesia.

    Masalahnya akibat pengaruh dari ketersediaan teknologi itu mau atau tidak mau menimbulkan kebiasaan baru yang secara sadar atau tidak merubah pola pikir, analisis, ketajaman berpikir akibatnya informasi hoax pun “dilahap” tanpa dipikirkan terlebih dahulu.

    Pada 3 Juli 2018 Kementrian Komunikasi dan Informasi di Indonesia pernah mengumumkan pemblokiran media sosial tiktok karena banyak mendapat laporan informasi negatif. Informasi itu memuat beberapa pelanggaran konten, seperti; pornografi, asusila, pelecehan agama, kekerasan dan sebagainya.

    Consumer News and Business Channel Indonesia (CNBC Indonesia) belum lama ini mempublikasikan artikel mengenai riset baru di bidang psikologi dengan mengutip Psypost. Dalam temuan yang diterbitkan pada International Journal Of Environmental Research and Public Health dikatakan untuk remaja atau orang yang kecanduan platform media sosial seperti tiktok cenderung mengalami depresi dan gangguan kecemasan yang bahkan dapat mengurangi kapasitas memori otak.

    Baca Juga: Pelatihan Jurnalistik Radio untuk Tim KOMSOS-KAP

    Keterangan itu dinilai dapat mempertegas sebenarnya aplikasi tiktok bukan hanya menyajikan konten-konten yang melanggar moral, tetapi dapat membawa pengaruh buruk terhadap mental penggunanya.

    Jika mau dibawa dalam obrolan tentang hak asasi dan kebebasan, memang dalam kasus semacam ini tidak terlepas dari kehendak bebas si subjek itu sendiri. Bicara tentang kehendak bebas sering kali masyarakat terperangkap dalam lubang penerimaan berita yang tergolong ambiguitas.

    Yang harusnya menjadi pusat keprihatinan adalah dampak pada masyarakat yang belum bisa memilih dan memilah mana berita yang kadar kebenarannya penuh, kurang, ataukah berita yang tidak mengandung kadar kebenaran.

    Akhirnya masyarakat tidak mendapatkan informasi atau berita yang mutlak benar terjadi. Refleksi dari fenomena ini mengajak pembaca secara sadar sebagai manusia yang bermartabat untuk secara sadar menerima berita secara benar, minimal tidak ditipu-tipu kayak kasus ‘flexing’-lah.

    Media sosial tiktok saat ini tidak terlepas dari pola yang sama dengan aplikasi lain yang dianggap dapat menjadi media pertunjukan seni baik suara, tarian bahkan unjuk gigi lewat konten videonya.

    Kegiatan untuk menunjukkan kebolehan di aplikasi tiktok itu celakanya dianggap “benar” bahwa hal tersebut bisa dijadikan alternatif bagi pertunjukan kesenian yang disebutkan sebelumnya.

    Baca Juga: KOMSOS KAP Mengadakan Pelatihan Jurnalistik Radio

    Dalam hal ini, saya melihat pertunjukan ‘lenggak-lenggo’ bentuh tubuh di aplikasi tiktok justru menunjukkan betapa kasihannya kaum muda saat ini. Fenomena semacam ini saya analogikan seperti seorang manusia yang tidak bisa berenang yang suatu ketika terjatuh di tengah air. Karena ia tidak bisa berenang, maka ia berupaya untuk menggapai apapun yang ada diatas kepalanya untuk bertahan, kalau tidak ranting yang besar, apapun yang ada diatas menjadi pegangannya.

    Pertanyaannya, mengapa ia terjatuh ditengah air? Udah tahu ia tidak bisa berenang? Nampaknya memang paradoks. Namun inilah analogi dari kemampuan otak manusia. Umumnya orang tidak tahu bahwa dirinya tidak mengetahui banyak hal, termasuk yang baik dan yang tidak baik. Untuk itu tidak heran juga kalau orang muda berlomba-lomba untuk eksis di media sosial.

    Pengaruh konsumsi media sosial semacam ini seolah mau mengatakan bahwa adanya distraksi pada pengguna yang mengarahkan mereka pada keadaan hiperrealitas.

    Apa itu hiperrealitas?

    Secara teoritis hiperrealitas adalah realitas-realitas buatan tanpa rujukan asal-usul yang bahkan tampak lebih nyata dibandingkan yang sebenarnya. Disisi lain hiperealitas juga digunakan di dalam semiotika dan filsafat pascamodern untuk menjelaskan ketidakmampuan kesadaran hipotetis untuk membedakan kenyataan dan fantasi, khususnya di dalam budaya pascamodern berteknologi tinggi.

    Dari pengertian diatas sudah jelas bahwa keadaan hiperrealitas untuk konteks ini yakni kondisi fantasi yang dipersepsikan seolah nyata, dimana manusia sudah tidak bisa membedakan mana realitas dan mana yang hanya sekedar fantasi.

    Kebiasaan ini dapat ditemui dalam kehidupan sehari-hari, tidak usah jauh-jauh lihat saja anggota keluarga kita atau sekitar kita, seberapa tahan lama mereka tidak memegang android mereka?

    Kasus yang paling sederhana, “awalnya hanya balas WhatsApp (WA), eh buka instragram (IG) dulu ah kemudian ‘scroll’, sampai ‘bercucuran air mata-plus mata merah’, kemudian bengong, lanjut rebahan, lanjut buka FaceBook (FB), lanjut lagi nonton Tiktok, satu jam, dua jam, ujung-ujung tiga jam hanya melototi HP, kemudian lupa apa yang mau dibuat.”

    Ini bukanlah sekedar cerita atau khayalan yang dibuat-buat, tapi begitulah faktanya. Ada yang pernah menjadi korban dari fenomena hiperrealitas?

    Jika ada, berbahagialah karena usai membaca naskah ini anda hanya sekedar tahu saja informasi ini dan kembali pada kebiasaan sebelumnya, “bercanda, hehe”.

    Baca Juga: Paus Fransiskus bertemu dengan Metropolitan Ortodoks Rusia Antonij

    Maksud saya, berbahagialah karena ini justru sebuah kesempatan untuk merenung dan mengosongkan diri. Ada banyak cara untuk mengosongkan diri, salah satunya puasa untuk mengurangi penggunaan HP. Bagi yang Katolik, maksimalkan waktu untuk ikut pelayanan entah itu mengikuti retret, atau ziarah.

    Jika suka hobi, misalnya olah raga, berlatih musik atau mengikuti kegiatan yang tidak banyak bersentuhan dengan HP. Tidak ada cara lain untuk mengurangi dampak itu, selain mengurangi penggunaannya. Bagi yang suka membaca, smartphone bisa dimaksimalkan dengan membaca artikel-artikel tajam dan ilmu pengetahuan yang bertebaran di internet. Semoga!!!

    Mengasah Spritualitas, SD Santa Klara Misa Bersama Umat Paroki St Maria Nyarumkop

    Majalah DUTA- Oyent Andreas.

    MajalahDUTA.Com- Nyarumkop, 07/08/22. Usia tidak menjadi persoalan bagi para muridnya dalam membentuk kepribadian dibidang kerohanian dijenjang Sekolah Dasar.

    Tampil maksimal, menjadi petugas Koor, Organisasi, dan Lektor pada Misa Ekaristi Kudus setingkat Paroki merupakan suatu kebanggaan bagi SDS Santa Klara Nyarumkop.

    Dengan sekolah bercirikan sekolah Katolik, para muridnya penuh percaya diri ambil bagian dalam perayaan Misa bersama Umat di Paroki Santa Maria Nyarumkop dalam implementasi visi dan misi sekolah.

    Dengan konsep “Sekolah Katolik yang Unggul, humanis serta religius” menjadikannya Sekolah Dasar Santa Klara Nyarumkop tetap menjadi pilihan bagi orang tua untuk menyekolahkan anak-anaknya disekolah ini.

    Seperti disampaikan oleh Marsiana, orang tua murid merasa nyaman dengan model pendidikan dan pembelajaran yang diberikan oleh Pendidik dalam mengembangkan kemampuan talenta anak dibidang kerohanian.

    “Kami selaku orang tua merasa bangga melihat para anak-anak sekelas Sekolah Dasar berani dan kompak bertugas dalam Perayaan Misa Ekaristi” ungkap Marsiana.

    Sementara itu, Pastor Yosef Ekatom, OFM Cap juga mengapresiasi kepada seluruh petugas liturgi SD Santa Klara Nyarumkop yang telah memberikan pelayanan terbaik dalam perayaan Misa Ekaristi ini, semoga peristiwa hari ini (Misa) menjadi berkat bagi banyak orang.

     

    Dosen-dosen Fakultas Kesehatan Universitas Katolik Santo Agustinus Hippo adakan Pengabdian Masyarakat di Paroki Stella Maris Siantan, Pontianak

    (Div.Media-AKPERAKBID) No: 10/PUSKOM/MED/2022

    MajalahDUTA.Com, Pontianak- (Minggu, 7 Agustus 2022) 25 Dosen dari Program Studi Keperawatan dan Kebidanan beserta 8 Mahasiswa yang dikoordinir oleh LPPM (Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat) Fakultas Kesehatan Univ. Katolik Santo Agustinus Hippo melaksanakan kegiatan pengabdian masyarakat di Paroki Stella Maris Siantan, Pontianak setelah Misa ke 2 di gereja tersebut.

    “Tujuan dari program pengabdian masyarakat ini dilakukan untuk meningkatkan edukasi kesehatan kepada masyarakat khususnya saat ini umat gereja setempat.” papar Lina Astuty, SST.,M.K.M dan Ns. Florida Listavia Panggus, M.Kep mewakili LPPM Fakultas Kesehatan Univ. Katolik Santo Agustinus Hippo
    Menurut hasil survey data dari Dinas Kesehatan, Kota Pontianak menempati urutan tertinggi Hipertensi dan Gula Darah diantara kota dan daerah lain di Kalimantan Barat.

    Program kerja yang dilakukan dalam kegiatan ini berupa sosialisasi bahaya Hipertensi dan pemeriksaan/ screening Gula Darah dengan umat gereja setempat. Program pertama berupa sosialisasi intensif dilakukan dengan presentasi langsung yang dibawakan oleh Maria Goretik, SST., M.Kes bersama Ns. Lydia Moji Lautan, M.Kep dan Ns. Elisabeth Wahyu Savitri, M.Kep terkait pencegahan dan penanganan Hipertensi dengan umat gereja setempat yang dihadiri 39 orang di ruang pertemuan gereja.

    Program kedua yang dibawa, yaitu Screening Gula Darah dan Tensi. Program ini dilaksanakan berupa pemeriksaan Gula Darah dan tensi kepada umat, yang dimulai dengan pemeriksaan tekanan darah dilanjutkan dengan screening gula darah di halaman gereja.

    Program kedua ini cukup mendapatkan antusias umat dengan jumlah umat yang melakukan pemeriksaan sebanyak 109 orang.

    Turut hadir juga dalam kegiatan tersebut Dekan Fakultas Kesehatan Univ. Katolik Santo Agustinus Hippo Kolonel CKM Purn. Dra. Rosmariana Sihombing, M.Si. ikut memberikan dukungan positif untuk kemajuan Tri Dharma Perguruan Tinggi dalam kegiatan ini pengabdian kepada masyarakat. Beliau menanggapi bahwa kegiatan ini sudah cukup berjalan dengan lancar dan perlu koodinasi lebih intensif lagi serta harapannya untuk perkembangan kedepan Pengabdian kepada Masyarakat dapat dilaksanakan di beberapa tempat ibadah lain serta area publik dengan tema tema dalam bidang kesehatan tentunya.

    Indonesian Homebrewer Club Gelar Webinar Bertajuk dari AM ke PWM Solusi Tingkatkan Kualitas Modulasi

    Nasional Pos- Mintra Media

    MajalahDUTA.Com, Jakarta- Dalam meningkatkan pengetahuan mengenai perkembangan teknologi di bidang komunikasi radio pemancar, maka Indonesian Homebrewer Club menyelenggarakan Webinar dengan tema: Dari AM Ke PWM Solusi Untuk Meningkatkan Kualitas Modulasi, dengan menghadirkan para narasumber yakni Ir Daryono YD1CAH asal Bekasi ini mantan pengurus ORARI Pusat di Era Kepemimpinan Pak Sutiyoso, dan Acmad Yusuf Asifudin ( Didit) YCØLGE asal Banyumas, tinggal di Jakarta,yang berprofesi sebagai guru Elektronik di sebuah SMK, demikian disampaikan oleh Hernandy R. Karli YBØTOY sebagai moderator, pada acara Webinar, Sabtu, 6 Agustus 2022 kemaren di Jakarta.

    “Di acara ini, tentunya diharapkan bertambahnya pengetahuan dari para amatir radio dimanapun berada, pengetahuan tentang modulator PWM, beserta bagaimana pemanfaatan maupun teknis merangkainya”ucap Hernandy R. Karli YBØTOY yang juga bersama Ir Agus Suryahadi YBØXI/JZ1ØXI (calsign RAPI) sebagai moderator kegiatan ini, sedangkan sebagai MC memandu acara ini adalah YL Tania-YDØRHE sebagai MCnya
    Sedangkan dalam paparannya, dengan materi berjudul “Dari AM Ke PWM Solusi Untuk Meningkatkan Kualitas Modulasi”, Ir Daryono YD1CAH menyampaikan kelebihan dari AM, salah satunya bahwa AM mode voice yang lebih dulu dari FM, SSB ataupun Digital Voice, mudah dibuat, sederhana dan cocok digunakan bagi pemula, selain itu, dirinya juga menyampaikan kekurangan dari AM, diantaranya adalah harga trafo yang mahal, kualitas trafo modulasi mempengaruhi kualitas audio, dan adanya stigma bahwa AM dapat menimbulkan Splatter masuk ke pengeras suara sehingga dapat mengganggu TV dan perangkat elektronik lainnya, tentunya dalam penggunaan Mode Voice AM, diperlukan adanya solusi agar AM dapat berfungsi dengan baik, serta memperbaiki kualitas modulasi AM.

    “ Tentunya hal itu dapat dicari solusinya dengan menggunakan modulator system PWM (Pulse Width Modulation) merupakan sebuah mekanisma untuk membangkitkan sinyal keluaran yang periodenya berulang antara high dan low dimana kita dapat mengontrol durasi sinyal high dan low sesuai dengan yang kita inginkan. Duty cycle merupakan prosentase periode sinyal high dan periode sinyal, prosentase duty cycle akan bebanding lurus dengan tegangan rata-rata yang dihasilkannya ”jelas Ir Daryono YD1CAH
    Lebih Lanjut Ir Daryono YD1CAH menjelaskan keunggulan dari modulator PWM, antara lain adalah bentuk sangat kompak, tidak banyak komponen, tanggapan frekwensinya bagus, menggunakan komponen yang mudah didapat, dan Efisiensi modulator tinggi karena bekerja seperti Swicth on-of.

    Sedangkan prinsip dasar PWM adalah bahwa Modulasi lebar pulsa PWM dapat diperoleh dengan bantuan sebuah gelombang kotak yang mana siklus kerja duty cycle gelombang dapat diubah-ubah untuk mendapatkan sebuah tegangan keluaran yang bervariasi yang merupakan nilai rata- rata dari gelombang tersebut.

    Dengan modulasi pulsa, pembawa informasi terdiri dari pulsa- pulsa persegi yang berulang- ulang.

    Salah satu teknik modulasi yang sering digunakan adalah teknik modulasi durasi atu lebar dari waktu tunda positif ataupun waktu tunda negatif pulsa-pulsa persegi tersebut.

    Untuk membangkitkan sinyal PWM adalah dengan menggunakan fungsi timercounter yang dibandingkan nilainya dengan sebuah register tertentu.

    “Nah pada perkembangannya hingga saat ini, Mode AM sudah banyak sekali dilakukan perbaikan antara lain; penggunaan komponen solid state, transistor, IGBT dll, kemudian adanya penggunaan rangkaian PPL maupun DDS pada bagian isolator, lalu juga penggunaan Transciever AM dan tentu saja Modulator PWM”tukas Ir Daryono YD1CAH
    Sementara itu, Acmad Yusuf Asifudin ( Didit) YCØLGE sebagai narasumber kedua di acara Webinar ini menyampaikan materi paparannya tentang mengenai contoh rangkaian modulasi PWM dan juga memaparkan secara teknik pembuatannya yang ternyata lebih efisien dibandingkan modulator lainnya, adapun inti atau jantungnya penggunaan modulator PWM adalah generator sebesar handphone, dan itu dengan modul sekecil itu pada akhirnya dikuatkan sampai 10.000Watt, ya tetap segitu kebutuhannya, tidak seperti modulator lainnya.

    Baca juga: “PRESS RELEASE”- Serah Terima Alih Kelola AKUB Grha Artha Katulistiwa ke Yayasan Landak Bersatu

    “Modulator PWM ini sangat membantu dan komponennya tidak terlalu mahal, saya merakit AM dengan modulator PWM ini sangat terjangkau harga dan mudah didapat komponennya, dan juga dapat menggunakan barang yang dapat dimodifikasi dari barang yang lama tak terpakai, mungkin yang mahal harganya adalah trafo, tergantung dari besaran ampere nya, saya pernah membuat rangkaian modul dengan biaya kurang dari Rp500ribu-an ” tukas Acmad Yusuf Asifudin ( Didit) YCØLGE.

    Acara webinar ini, yang di ikuti sekitar 200-an peserta yang mengikuti secara during dari berbagai wilayah yang ada di Indonesia ini, nampak sekali sikap antusias untuk menyampaikan berbagai pertanyaan, yang sebagian besar menanyakan tentang secara teknis merangkai modulator PWM ini, akan tetapi tidak semua pertanyaan tersebut dijawab oleh kedua narasumber itu, dikarenakan waktu yang terbatas.

    Diakhir acara ini, Ir Agus Suryahadi YBØXI/JZ1ØXI (calsign RAPI) sebagai moderator menyampaikan suatu harapan, agar kegiatan Webinar ini bukan hanya sebagai ajang menambah wawasan dan pengetahuan dari para anggota Indonesian Homebrewer Club melainkan juga sebagai ajang silahturahmi rekan-rekan yang ada di wilayah Nusantara ini.

    “ Kami sangat berterima kasih atas keikutsertaan rekan-rekan dari seluruh wilayah Nusantara ini, semoga kegiatan Webinar ini dapat bermanfaat bagi kita semua. Amin,”pungkas Ir Agus Suryahadi YBØXI/JZ1ØXI (calsign RAPI).

    KOMSOS KAP Mengadakan Pelatihan Jurnalistik Radio

    Clara Vianney Yoananda- Peserta Pelatihan Jurnalistik Radio

    MajalahDUTA.Com– Ketua KOMSOS KAP, Paulus Mashuri, S.Pd, M.Si, menggelar pelatihan jurnalistik selama tiga hari, Jumat-Sabtu (5-7/8/2022) di kantor pusat KOMSOS KAP.
    Sebanyak 12 peserta berpartisipasi dalam pelatihan ini.

    Paulus mengatakan pelatihan ini diadakan supaya anak muda bisa mendapatkan keterampilan praktik di bidang jurnalistik.

    Meurutnya, kegiatan ini diadakan membantu jurnalisme berkembang dengan menggunakan cara-cara inovatif dalam menyajikan data, menyediakan informasi berbasis fakta kepada pembaca, dan memperluas jaringan antara jurnalis.

    Paulus berharap dengan adanya kegiatan ini, anak muda tertarik menjadi jurnalis.

    Pelatihan Jurnalistik Radio untuk Tim KOMSOS-KAP

    Pelatihan Jurnalistik Radio Anggota KOMSOS-KAP. By. Monica Yesi

    MajalahDUTA.Com- Komisi Komunikasi Sosial Keuskupan Agung Pontianak mengadakan Pelatihan jurnalistik kepada anggota calon penerus Komsos-KAP.

    Kegiatan ini dilaksanakan dua hari mulai tanggal 5-6 Agustus 2022.

    Kegiatan bertempat di gedung KOMSOS-KAP yang dimentori oleh Fransiskus Edy selaku Manager Stasiun Radio Diah Rosanti, Paulus Mashuri selaku Ketua KOMSOS-KAP, dan Willy sebagai penyiar Radio Sonora.

    Peserta yang mengikuti pelatihan ini sebanyak 12 orang.

    Suasana dalam ruangan sangat tenang saat para mentor membagikan ilmu kepada peserta, tentunya peserta menyimak dengan seksama materi yang diberikan.

    Pada saat sesi tanya jawab, baik peserta dan panitia tampak bersemangat. Semua peserta tampil percaya diri pada saat praktik langsung.

    Menurut Paulus Mashuri, Kegiatan ini bertujuan untuk melatih skill jurnalistik kepada anggota penerus Komsos KAP agar kedepannya semakin produktif dan lebih baik.

    Pelatihan Jurnalistik Komisi Sosial Keuskupan Agung Pontianak (KOMSOS KAP)

    Helmi Samuel, Fransiskus Edy dan Rudi Hartono dalam latihan Presenter- di Komsos KAP

    MajalahDUTA.Com– Anggota komisi sosial keuskupan agung pontianak (KOMSOS KAP) mengikuti kegiatan pelatihan jurnalistik yang dilakukan di gedung Komsos KAP.

    Pelatihan dilakukan 5 sampai 7 agustus 2022. Sebanyak 12 anggota mengikuti kegiatan di hari pertama yang membahas radio serta jurnalisme radio,selain itu disampaikan pula materi mengenai presenter televisi.

    Dalam pelatihan jurnaslitik ini juga dihadiri Paulus Mashuri selaku ketua KOMSOS KAP beserta Fransiskus Edy dari radio Diah Rosanti.

    Harapannya pelatihan ini akan menambah wawasan akan jurnalisme radio maupun televisi.

    Pastor Luigi Maria Epicoco: Dua hal yang harus dilakukan setiap murid

    MajalahDUTA.Com- Dalam tulisan Pastor Luigi Maria Epicoco yang diterbitkan pada 08/05/22 (Aleteia) ia mengulas tentang peristiwa Yesus menjabarkan jalan pemuridan dalam sebuah bagian dari Injil St. Matius.

    Yesus berkata kepada murid-murid-Nya,
    “Barangsiapa ingin mengikut Aku, ia harus menyangkal dirinya,
    pikul salibnya, dan ikuti aku.
    Karena barangsiapa ingin menyelamatkan nyawanya, ia akan kehilangan nyawanya,
    tetapi barangsiapa kehilangan nyawanya karena Aku, ia akan menemukannya.
    Apa untungnya bagi seseorang untuk mendapatkan seluruh dunia?
    dan kehilangan nyawanya?

    Matius 16:24-25

    Apa artinya, dalam istilah yang sangat konkret, menjadi murid Yesus?

    Hal ini tampaknya dijawab oleh perikop Injil hari ini: “Barangsiapa ingin mengikut Aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya, dan mengikut Aku.”

    Kita dapat mengatakan bahwa menjadi murid Kristus melibatkan dua gerakan eksistensial yang esensial. Yang pertama adalah “menyangkal dirimu sendiri.” Dalam arti harfiah mungkin terdengar seperti hal yang jelek, cara menyakiti diri sendiri, tidak menghargai diri sendiri, dan sebagainya.

    Tetapi arti sebenarnya dari “menyangkal diri sendiri” adalah kemampuan yang kita semua harus miliki untuk “bebas dari diri kita sendiri.” Dan siapakah orang-orang yang benar-benar bebas dari dirinya sendiri? Mereka yang juga tahu bagaimana mengatakan “tidak” pada diri mereka sendiri. Dengan demikian, menyangkal diri sendiri berarti mengetahui bagaimana mengatakan “tidak” pada diri sendiri.

    Baca Juga: Paus Fransiskus bertemu dengan Metropolitan Ortodoks Rusia Antonij

    Bagian kedua dari pemuridan adalah dalam “memikul salibmu dan mengikut Yesus.” Kata kerja “ambil” menyiratkan memilih untuk bertanggung jawab atas apa yang datang dalam hidup. Itu berarti berhenti untuk sekadar menanggung hal-hal dan menghadapinya. Kita adalah orang Kristen ketika kita menghadapi hal-hal tanpa terus bertindak seperti korban pasif, terutama semua hal yang terjadi pada kita yang tidak kita pilih.

    Dan setelah kita melakukan ini, apa yang terjadi selanjutnya? Injil mengatakan bahwa kita harus “mengikuti dia.” Ini berarti bahwa kita tidak tahu dari awal ke mana kita akan pergi dan apa hal yang benar untuk dilakukan. Ini adalah perjalanan harian di mana dari waktu ke waktu kita memahami apa yang terbaik untuk dilakukan, tanpa berimprovisasi tetapi mengikuti Yesus langkah demi langkah.

    TERBARU

    TERPOPULER