MajalahDUTA.Com | Persatuan tidak boleh berhenti sebagai slogan yang diulang setiap peringatan Hari Sumpah Pemuda.
Bagi Rektor Universitas Widya Dharma Pontianak (UWDP), Dr. M. Hadi Santoso, S.E., M.M., yang akrab disapa Hadi menggarisbawahi tentang semangat persatuan mesti menjelma menjadi tindakan nyata seperti bekerja lebih keras, berpikir lebih cerdas, membangun hal-hal positif, serta menghargai perbedaan demi kemajuan bangsa.
Pandangan itu disampaikannya dalam wawancara digital bersama alumnus UWDP pada Rabu, 28 Oktober 2026, pukul 10.32 WIB, bertepatan dengan peringatan Hari Sumpah Pemuda.
Menurut Hadi, peringatan 28 Oktober tidak semestinya hanya membawa masyarakat kembali pada romantisme sejarah perjuangan pemuda.
Lebih dari itu, momentum ini perlu menjadi kesempatan untuk menguji sejauh mana nilai persatuan yang diwariskan generasi pendahulu benar-benar hidup dalam perilaku masyarakat Indonesia saat ini.
“Sejarah membuktikan bahwa tanpa persatuan, tidak mungkin ada kekuatan untuk melawan penjajah,” ungkapnya.
Bagi Hadi, sejarah tersebut mengandung pelajaran mendasar bahwa kekuatan bangsa tidak semata-mata ditentukan oleh kemampuan individu atau kelompok, tetapi juga oleh kesediaan untuk menyatukan langkah demi tujuan bersama. Persatuan menjadi modal penting untuk menghadapi tantangan dan menggerakkan perubahan.
Dalam konteks Indonesia masa kini, tantangannya bukan lagi perjuangan melawan penjajah dalam pengertian historis, melainkan bagaimana menjaga kebersamaan di tengah perbedaan dan mengarahkan energi masyarakat untuk membangun masa depan bangsa.
“Semangat Sumpah Pemuda masa kini harus diartikan sebagai semangat untuk tetap bersatu dalam memajukan bangsa dan negara menuju Indonesia yang makmur dan sejahtera,” tegas Hadi.
Dari pernyataan tersebut Hadi memandang persatuan bukan sebagai tujuan yang berdiri sendiri, melainkan sebagai kekuatan untuk mencapai kemajuan bersama.
Persatuan harus menghasilkan sesuatu yang dapat dirasakan masyarakat, baik melalui peningkatan kualitas kerja, kontribusi sosial, maupun keterlibatan dalam berbagai kegiatan yang membangun.
Bekerja Lebih Keras, Berpikir Lebih Cerdas
Hadi menekankan bahwa komitmen terhadap bangsa perlu diwujudkan melalui tindakan konkret.
Ajakan untuk bekerja lebih keras dan lebih cerdas menunjukkan bahwa semangat kebangsaan harus disertai etos kerja, kemampuan berpikir, dan kemauan untuk terus memperbaiki diri.
Dalam pandangannya, membangun Indonesia tidak cukup dilakukan dengan menyampaikan seruan tentang nasionalisme. Setiap orang perlu mengambil bagian melalui pekerjaan dan tanggung jawabnya masing-masing, dengan menghasilkan kontribusi positif bagi lingkungan dan masyarakat.
Dia mengajak masyarakat untuk tetap bersatu dalam melakukan berbagai hal positif yang membangun. Semangat tersebut relevan bagi generasi muda yang memiliki peran strategis dalam menentukan arah masa depan Indonesia.
Generasi muda, dalam konteks ini, tidak hanya mewarisi sejarah Sumpah Pemuda, tetapi juga memikul tanggung jawab untuk meneruskan cita-cita persatuan melalui karya, kompetensi, dan tindakan yang bermanfaat.
Menghargai Perbedaan, Merawat Kesatuan
Selain kerja keras dan kecerdasan, Hadi menempatkan penghargaan terhadap perbedaan sebagai bagian penting dari upaya menjaga persatuan dan kesatuan bangsa.
Keberagaman merupakan kenyataan dalam kehidupan masyarakat Indonesia. Karena itu, persatuan tidak berarti menghilangkan perbedaan, melainkan membangun kesediaan untuk hidup bersama, saling menghormati, dan bekerja menuju kepentingan yang lebih besar.
Pesan ini menjadi penting karena semangat kebangsaan membutuhkan lebih dari sekadar kesamaan identitas. Persatuan juga memerlukan kedewasaan dalam menyikapi perbedaan serta kesadaran bahwa kemajuan bangsa merupakan tanggung jawab bersama.
Bagi Hadi, nilai Sumpah Pemuda perlu hadir dalam keseharian, bukan hanya dalam upacara, pidato, atau perayaan tahunan. Semangat itu harus tampak dalam cara masyarakat bekerja, berinteraksi, menyelesaikan persoalan, dan membangun kehidupan bersama.
Pada peringatan Hari Sumpah Pemuda 2026, pesan Rektor UWDP tersebut mengarahkan perhatian pada satu hal mendasar yaitu persatuan ‘harus dibuktikan melalui kerja nyata’.
Mengenang perjuangan pemuda masa lalu menjadi bermakna ketika generasi sekarang mampu menjaga kebersamaan, menghargai perbedaan, dan menyatukan upaya untuk mewujudkan Indonesia yang makmur dan sejahtera.(Samuel)





