Wednesday, October 28, 2026
More

    Krisis Lingkungan Hidup

    MajalahDUTA.Com | Krisis lingkungan hidup sekarang ini bukan sekadar persoalan alam yang rusak, melainkan cermin dari krisis manusia itu sendiri.

    Sebagai Bruder MTB, kami melihat bahwa kerusakan lingkungan berakar pada cara pandang manusia, pola dan gaya hidup yang menempatkan diri sebagai pusat (antroposentrisme), bukan sebagai bagian dari ciptaan.

    Pohon di hutan ditebang tanpa batas, sungai tercemar oleh sampah-bahan kimia, dan udara kehilangan kemurniannya. Semuanya ini lahir dari keserakahan dan ketidakpedulian manusia terhadap alam.

    Dalam terang iman, bumi bukanlah objek untuk dieksploitasi, melainkan rumah bersama yang dipercayakan Tuhan kepada manusia yang Imago Dei untuk diusahakan dan dirawat dengan penuh tanggung jawab.

    Seruan ini sejalan dengan semangat ensiklik Laudato Si’ Paus Fransiskus, yang menegaskan bahwa krisis ekologis adalah panggilan untuk pertobatan ekologis.

    Pertobatan ini bukan hanya perubahan perilaku luar, tetapi perubahan hati—dari sikap konsumtif menjadi sikap sederhana, dari eksploitasi menjadi perawatan.

    Bruder MTB dipanggil untuk menjadi saksi hidup dari spiritualitas ini: hidup sederhana, dekat dengan alam, dan mengajarkan nilai cinta terhadap segenap ciptaan kepada semua orang dan khususnya generasi muda sebagai penerus.

    Dalam karya pendidikan dan pelayanannya, perhatian terhadap lingkungan menjadi bagian integral dari hidup Bruder MTB. Anak-anak dan kaum muda dibina-dibentuk untuk memiliki kesadaran ekologis sejak dini: mencintai alam, mengurangi sampah, dan menghargai kehidupan.

    Hal ini bukan hanya soal menjaga lingkungan, tetapi membangun masa depan yang lebih manusiawi. Pendidikan ekologis (ekopedagogi) yang berakar pada iman akan melahirkan pribadi yang bermartabat. Anak didik tidak hanya cerdas, tetapi juga bijaksana dalam menghormati, menghargai dan merawat bumi.

    Jadi, perhatian kami Bruder MTB terhadap lingkungan hidup sebagai wujud konkret dari iman dan kasih yang terangkum dalam program JPIC Bruder MTB “Bersih dan Hijau”. Bersih artinya mengolah sampah (yang organik dijadikan kompos-pupuk) dan hijau berarti menjadikan komunitas hijau dengan pohon atau tanaman.

    Bahkan kami mempunyai Gerakan “menanam apa yang dimakan dan makan apa yang ditanam” (kami mengutamakan bahan makanan yang organik, misalnya sayuran, buah-buahan, apotik hidup-bumbu dapur karena sekarang bahan makanan sebagian besar mengandung bahan kimia-instan).

    Kasih kepada Tuhan terungkap dalam cara kami menghormati ciptaan-Nya, dan kasih kepada sesama tampak dalam usaha menjaga bumi agar tetap layak dihuni oleh generasi mendatang.

    Dalam menghadapi krisis ini, Bruder MTB terus berusaha dengan caranya masing-masing pribadi dan dalam komunitas mengusahakan hal-hal kecil yang berguna.

    Kami dipanggil untuk bersuara, bertindak, dan menjadi tanda harapan bahwa perubahan itu mungkin—dimulai dari hal kecil, dari setiap Bruder di komunitas, dan dari hati yang mau bertobat.

    Kami tidak hanya bersuara tentang krisis ekologi, tetapi bagaimana mewujudnyatakan iman (ekoteologi) sesuai dengan harapan Laudato Si’. (Br. Gerardus Weruin, MTB – Selat Panjang)

    Related Articles

    spot_img
    spot_img
    spot_img

    Latest Articles