Tuesday, October 27, 2026
More

    Pater Pio OFM.Cap katakan “Orang Tua Jangan Selalu Menyingkirkan Kesulitan Anak”

    MajalahDUTA.Com | Membentuk anak menjadi pribadi yang memiliki daya juang bukan berarti menjauhkan mereka dari setiap kesulitan. Sebaliknya, anak perlu diberi kesempatan untuk menghadapi persoalan, menemukan solusi, belajar dari kegagalan, dan bertanggung jawab atas keputusan yang diambilnya.

    Pesan tersebut menjadi salah satu pokok materi Pater Pionius Hendi, OFMCap, dalam Seminar Parenting bertajuk “Membentuk Pribadi yang Memiliki Daya Juang” di Aula SD Plus Gembala Baik, Sabtu, 24 Oktober 2026, pukul 08.00–10.00 WIB.

    Mengangkat Efesus 6:1, “Hai anak-anak, taatilah orang tuamu di dalam Tuhan, karena haruslah demikian,” Pater Pio mengajak orang tua memahami bahwa pendidikan anak tidak berhenti pada pemenuhan kebutuhan dan pemberian perlindungan.

    Keluarga juga memiliki tanggung jawab membentuk karakter, kemandirian, ketekunan, serta kemampuan anak menghadapi tantangan kehidupan.

    Dalam materi seminar, dia menekankan pentingnya mengubah pola pengasuhan yang terlalu memanjakan anak menjadi pola pendampingan yang memberdayakan. Orang tua perlu hadir sebagai pendamping yang membantu anak bertumbuh, bukan selalu menjadi pihak yang menyelesaikan setiap persoalan bagi mereka.

    Keluarga bertumbuh dalam kasih

    Pater Pio mengawali gagasan tentang pendidikan keluarga dengan mengutip pesan Paus Fransiskus pada 19 Maret 2016.

    “Tidak ada keluarga yang jatuh dari surga dalam keadaan yang siap pakai, keluarga perlu terus menerus bertumbuh dan matang dalam kemampuannya untuk mengasihi,” demikian kutipan Paus Fransiskus yang dicantumkan dalam materi seminar.

    Pesan tersebut menempatkan keluarga sebagai lingkungan yang terus berkembang. Orang tua tidak dituntut menjadi pribadi yang sempurna, tetapi perlu terus belajar mendampingi anak sesuai dengan kebutuhan dan tahap perkembangannya.

    Dalam menghadapi tantangan pengasuhan, orang tua perlu menyadari bahwa anak tumbuh di tengah lingkungan yang semakin kompleks. Paparan digital, tuntutan akademik, perubahan perilaku, dan pengaruh pergaulan menjadi sejumlah persoalan yang memerlukan perhatian serius.

    Penggunaan gawai (medsos) dan permainan digital yang berlebihan, misalnya, dapat berkaitan dengan gangguan tidur, kesulitan berkonsentrasi, dan hambatan dalam membangun relasi. Anak juga berisiko terpapar konten kekerasan dan pornografi.

    Di bidang akademik, orang tua menghadapi tantangan ketika anak mudah bosan, kehilangan motivasi belajar, sulit mempertahankan fokus, atau merasa cemas saat menghadapi ujian.

    Sementara itu, perkembangan emosi dan keinginan untuk mandiri dapat membuat anak mulai mempertanyakan aturan, menunjukkan sikap membangkang, atau mengalami kesulitan mengelola emosinya.

    Lingkungan sosial juga membawa tantangan tersendiri. Ketika mulai memperluas pergaulan, anak dapat menghadapi perundungan (bullying) dan tekanan untuk meniru perilaku, bahasa, maupun gaya hidup teman sebaya.

    “Berbagai tantangan tersebut menunjukkan bahwa pengasuhan membutuhkan kesabaran, komunikasi, dan ketegasan yang seimbang. Anak perlu mendapatkan perlindungan, tetapi juga perlu belajar mengembangkan kemampuan untuk menghadapi persoalan secara mandiri,” kata Pater Pio.

    Seminar Parenting, MEMBENTUK PRIBADI YANG MEMILIKI DAYA JUANG. Oleh: Pater Pionius Hendi, OFM.Cap. AULA SD PLUS GEMBALA BAIK
    Sabtu, 24 Oktober 2026 | Pk. 08:00 – 10:00 WIB.

    Dari manja menuju berdaya

    Salah satu gagasan utama dalam materi Pater Pio ialah perubahan pola pengasuhan dari manja menuju berdaya.

    Orang tua diajak tidak selalu memberikan jawaban ketika anak menghadapi masalah, tetapi membantu mereka menemukan solusi melalui pemikiran dan kreativitasnya sendiri.

    Dalam paparan materi tersebut, terdapat tiga prinsip penting. Pertama, anak perlu diajarkan menemukan jawaban. Orang tua tidak harus selalu memberikan solusi langsung, melainkan memberi ruang bagi anak untuk berpikir, mencoba, dan mempertimbangkan pilihan.

    Kedua, anak perlu belajar menghadapi kesulitan. Orang tua tidak selalu harus menghilangkan setiap hambatan yang dialami anak. Ada persoalan yang perlu dihadapi sendiri oleh anak dengan pendampingan yang sesuai agar tumbuh mental pejuang.

    Ketiga, orang tua perlu menghargai usaha, proses, dan keberanian anak untuk bangkit. Penghargaan tidak semestinya hanya diberikan ketika anak menang atau memperoleh nilai tinggi, tetapi juga ketika dia telah berusaha, berani mencoba, dan bersedia memperbaiki kesalahan.

    Pater Pio juga mengingatkan pentingnya mengajarkan kesabaran dan tanggung jawab. Orang tua tidak harus selalu memenuhi keinginan anak. Sebaliknya, anak perlu memahami bahwa pencapaian membutuhkan proses, kerja keras, dan ketekunan.

    Dalam materi yang sama, dia mengajak orang tua mempersiapkan anak agar mampu menghadapi masa depannya sendiri. Tugas orang tua bukan hanya menyiapkan masa depan anak, melainkan juga membantu anak membangun kemampuan untuk memperjuangkan masa depannya.

    Gagasan ini sejalan dengan pesan bahwa kesuksesan bukanlah ketiadaan kegagalan, melainkan kemampuan menjadikan kegagalan sebagai bagian dari perjalanan menuju puncak.

    Belajar dari keberanian Daud menghadapi Goliat

    Untuk menggambarkan keberanian menghadapi tantangan, materi seminar mengangkat kisah Raja Daud ketika berhadapan dengan Goliat.

    Daud dikenal sebagai sosok yang menunjukkan keberanian luar biasa karena mengandalkan keyakinannya kepada Tuhan saat menghadapi lawan yang jauh lebih besar.

    Kisah tersebut dikutip dari 1 Samuel 17:48–49, yang menggambarkan bagaimana Daud berlari menyongsong orang Filistin, mengambil sebuah batu dari kantungnya, lalu mengumbannya hingga mengenai dahi Goliat.

    Kutipan Kitab Suci itu berbunyi:

    “Ketika orang Filistin itu bergerak maju untuk menemui Daud, maka segeralah Daud berlari ke barisan musuh untuk menemui orang Filistin itu; lalu Daud memasukkan tangannya dalam kantungnya, diambilnyalah sebuah batu dari dalamnya, diumbannya, maka kenalah dahi orang Filistin itu, sehingga batu itu terbenam ke dalam dahinya, dan terjerumuslah ia dengan mukanya ke tanah.” (1Sam. 17:48–49).

    Kisah tersebut, keberanian dapat dipahami sebagai kesediaan menghadapi tantangan dengan keyakinan, keteguhan, dan tindakan nyata. Daud tidak membiarkan besarnya lawan membuatnya menyerah sebelum berjuang.

    Dalam konteks pendidikan anak, kisah Daud mengingatkan bahwa anak perlu memiliki keberanian untuk menghadapi masalah, bukan terus-menerus menghindarinya. Mereka perlu dibantu mengenali potensi diri, menggunakan kemampuan yang dimiliki, dan tetap berusaha meskipun menghadapi tantangan yang tampak lebih besar daripada dirinya.

    Pater Pio juga menegaskan bahwa identitas seseorang tidak sepenuhnya ditentukan oleh keadaan awal atau warisan keluarganya.

    “Investasi awal kita adalah warisan dari orang tua, namun identitas terakhir kita ditentukan oleh keputusan-keputusan yang kita ambil sendiri dengan berani,” demikian salah satu pesan dalam materi seminar yang diberikan Pater Pio.

    Orang tua memang memberikan dasar bagi pertumbuhan anak melalui pendidikan, nilai, dan lingkungan keluarga. Namun, seiring bertambahnya usia, anak perlu belajar mengambil keputusan dan bertanggung jawab atas pilihan hidupnya.

    Hidup harus bermental baja

    Pembentukan daya juang juga digambarkan melalui perumpamaan tentang baja. Dalam materi seminar, Pater Pio mengibaratkan proses pembentukan manusia seperti baja yang harus dilebur dengan api agar menjadi kuat.

    “Baja harus dilebur dengan api agar menjadi kuat, manusia harus diuji dengan tantangan agar menjadi tangguh. Daya banting hanya bisa dinilai ketika dihadapkan dengan situasi yang paling sulit,” qoutes Pater Pionius Hendi, OFM.Cap.

    Dalam pesan tersebut Pater Pio menekankan bahwa ketangguhan tidak dapat dinilai hanya ketika kehidupan berjalan lancar. Kemampuan menghadapi tekanan, bangkit dari kegagalan, dan memperbaiki keadaan menjadi bagian penting dari pembentukan daya juang.

    Dia juga mengingatkan bahwa masa sulit tidak berlangsung untuk selamanya. Kesulitan dapat menjadi ruang pembelajaran yang membantu seseorang berkembang menjadi pribadi yang lebih matang, tangguh, dan bijaksana.

    “Masa-masa yang berat tidak dicipta untuk menetap, melainkan untuk membentuk. Mereka yang berani menjalaninya akan keluar bukan hanya sebagai pemenang, melainkan menjadi pribadi yang lebih matang, tangguh dan bijaksana.”

    Karena itu, orang tua perlu membedakan antara kesulitan yang membahayakan anak dan tantangan yang masih dapat dihadapi anak secara sehat. Perlindungan tetap diperlukan, tetapi tidak setiap persoalan harus langsung diselesaikan oleh orang tua.

    Anak membutuhkan ruang untuk mencoba, melakukan kesalahan, menerima konsekuensi yang wajar, dan belajar memperbaiki keadaan. Dengan pendampingan yang tepat, pengalaman tersebut dapat membantu membangun ketahanan diri.

    Pater Pio juga menekankan pentingnya kerja keras sebagai investasi jangka panjang. Dalam materi seminar, ditegaskan bahwa setiap tetes keringat yang dicurahkan dengan bijaksana hari ini merupakan investasi bagi martabat, kebebasan, dan kualitas hidup pada masa tua.

    Artinya, pembiasaan tanggung jawab sejak dini bukan sekadar tuntutan orang tua, melainkan bekal bagi anak untuk menjalani kehidupan secara mandiri pada masa depan.

    DOKUMENTASI – Seminar Parenting, MEMBENTUK PRIBADI YANG MEMILIKI DAYA JUANG. Oleh: Pater Pionius Hendi, OFM.Cap. AULA SD PLUS GEMBALA BAIK . Sabtu, 24 Oktober 2026 | Pk. 08:00 – 10:00 WIB.

    Orang tua dan guru harus memiliki satu tujuan

    Selain pola pengasuhan di rumah, Pater Pio memberikan perhatian khusus pada hubungan antara orang tua dan sekolah.

    Keduanya memiliki kepentingan yang sama, yakni membantu anak bertumbuh dan memperoleh pendidikan yang baik. Namun, perbedaan pandangan dapat menimbulkan konflik apabila masing-masing pihak lebih mengutamakan pembelaan terhadap posisinya sendiri.

    Dalam situasi ini disebut sebagai paradoks dua kepentingan. Orang tua ingin memberikan yang terbaik bagi anaknya, sementara guru juga berusaha memberikan yang terbaik bagi muridnya.

    Ironisnya, kedua pihak dapat terlibat pertengkaran atas nama kepentingan anak yang sama.

    Orang tua terkadang memandang sekolah sebagai penyedia jasa yang harus selalu memenuhi tuntutannya. Sebaliknya, pihak sekolah dapat merasa bahwa orang tua terlalu mencampuri kewenangan guru.

    Pater Pio menggarisbawahi bahwa perbedaan pendapat tidak seharusnya menghilangkan tujuan bersama.

    “Boleh beda pendapat, tetapi harus SATU tujuan yang sama!” demikian penegasan dalam materi seminar.

    Pesan ini menempatkan komunikasi dan kerja sama sebagai fondasi penting pendidikan anak. Orang tua dan guru boleh memiliki pendekatan berbeda, tetapi keduanya perlu mengarahkan perbedaan tersebut pada kepentingan terbaik anak.

    Rumah merupakan sekolah pertama bagi anak, sedangkan sekolah menjadi rumah kedua tempat anak bertumbuh. Apabila keduanya saling menyalahkan, anak berisiko kehilangan arah. Sebaliknya, ketika keluarga dan sekolah bekerja sama, anak memperoleh fondasi yang lebih kuat untuk menghadapi kehidupan.

    Daya juang anak tidak hanya dibentuk oleh kesulitan yang dialaminya, tetapi juga oleh cara orang dewasa menyelesaikan konflik di hadapannya.

    Ketika orang tua langsung memarahi guru karena anak memperoleh nilai rendah, anak dapat belajar bahwa kegagalan selalu merupakan kesalahan orang lain. Sebaliknya, ketika guru mempermalukan anak karena melakukan kesalahan, anak dapat merasa dirinya tidak berharga.

    Kedua situasi tersebut tidak membantu anak membangun tanggung jawab. Anak justru perlu belajar mengakui kesalahan, menghadapi konsekuensi secara sehat, dan berusaha memperbaiki keadaan.

    Menghargai pemberian dan memperbaiki hal kecil

    Pater Pio juga mengajak orang tua mengembangkan sikap menghargai apa yang dimiliki. Kebahagiaan tidak semata-mata ditentukan oleh terpenuhinya seluruh keinginan, tetapi juga oleh kemampuan menyadari nilai dari apa yang telah diterima.

    “Orang yang bahagia bukanlah mereka yang selalu mendapatkan apa yang diharapkan, melainkan mereka mampu melihat rahmat dari apa yang diberikan. Sebab kedamaian lahir ketika penerimaan menjadi lebih kuat dari pada tuntutan.”

    Dalam pengasuhan, prinsip ini dapat diterapkan dengan mengajarkan anak untuk bersyukur, menghargai usaha orang lain, dan memahami bahwa tidak semua keinginan dapat langsung dipenuhi.

    Anak juga perlu belajar membedakan kebutuhan dan keinginan, menghargai proses memperoleh sesuatu, serta memahami nilai kerja keras, oleh karenanya mereka tidak hanya terbiasa menerima, tetapi juga belajar berusaha dan bertanggung jawab.

    Pembentukan karakter tersebut membutuhkan konsistensi. Materi seminar menegaskan bahwa keunggulan tidak selalu lahir dari perubahan besar yang spektakuler, melainkan dari kedisiplinan memperbaiki hal-hal kecil setiap hari.

    Apa yang tampak sederhana dapat berkembang menjadi pencapaian besar apabila dilakukan secara konsisten. Kebiasaan belajar, menepati janji, menyelesaikan tugas, mengakui kesalahan, dan menghormati orang lain merupakan contoh pembiasaan kecil yang berperan dalam membentuk karakter anak.

    Karena itu, orang tua perlu memberikan teladan melalui tindakan sehari-hari. Nasihat akan lebih bermakna ketika anak melihat bahwa nilai yang diajarkan juga dijalankan oleh orang dewasa di sekitarnya.

    Membangun sinergi melalui komunikasi

    Untuk memperkuat hubungan keluarga dan sekolah, Pater Pio menawarkan sejumlah langkah strategis.

    Pertama, mengubah pola pikir dari saling menyalahkan menjadi tanggung jawab bersama, dengan tetap menghormati kewenangan masing-masing pihak.

    Kedua, membiasakan diri mendengarkan sebelum menghakimi dan mengevaluasi fakta, bukan hanya mengandalkan laporan sepihak.

    Ketiga, membangun komunikasi rutin, bukan hanya ketika masalah muncul.

    Komunikasi antara orang tua dan guru dapat diarahkan pada tiga hal utama, yakni kemajuan anak, kesulitan yang sedang dihadapi, dan langkah bersama yang dapat dilakukan untuk membantu perkembangannya.

    Selain itu, orang tua dan sekolah perlu menyepakati pedoman pengasuhan dan pendidikan yang mencakup penggunaan gawai, komunikasi, perlindungan anak, kehadiran, pekerjaan rumah, serta penyelesaian konflik.

    Materi tersebut juga mendorong pembentukan budaya koreksi yang positif. Menghormati guru bukan berarti guru tidak boleh dikritik. Demikian pula, membela anak tidak berarti membenarkan seluruh perilakunya.

    Koreksi tetap diperlukan, tetapi harus disampaikan dengan cara yang menghormati martabat anak dan membantu mereka memperbaiki diri. Orang tua dan guru perlu menghindari tindakan yang mempermalukan anak, sekaligus tidak membiarkan perilaku yang merugikan dirinya maupun orang lain.

    Dengan kerja sama yang baik, keluarga dan sekolah dapat menciptakan lingkungan pendidikan yang konsisten. Anak memperoleh pesan yang sejalan mengenai disiplin, tanggung jawab, penghargaan, dan konsekuensi dari setiap tindakan.

    Menyiapkan anak menghadapi masa depan

    Seminar parenting adalah pembentukan daya juang ditempatkan sebagai proses pendidikan jangka panjang.

    “Anak tidak cukup hanya dibekali fasilitas, nilai akademik, atau masa depan yang telah dirancang orang tua. Mereka juga perlu dibantu membangun kemampuan untuk memperjuangkan kehidupan mereka sendiri,” ujarnya.

    Dia juga menambahkan bahwa orang tua dapat memulai proses tersebut melalui langkah sederhana: memberi kesempatan anak mencari solusi, melatih kesabaran, membiasakan tanggung jawab, menghargai proses, dan mendampingi anak ketika menghadapi kegagalan.

    Pada saat yang sama, sekolah dan keluarga perlu menjadi mitra yang saling mendukung. Perbedaan pandangan harus diselesaikan melalui dialog, sedangkan kesalahan perlu dijadikan kesempatan untuk belajar dan memperbaiki keadaan.

    Pesan utama Pater Pio ialah pribadi yang tangguh tidak lahir dari kehidupan tanpa masalah. Ketangguhan bertumbuh melalui pengalaman, keputusan, kedisiplinan, serta keberanian untuk kembali bangkit setelah mengalami kegagalan.

    “Tugas orang tua bukan menghilangkan seluruh kesulitan dari perjalanan anak, melainkan mendampingi mereka agar memiliki kemampuan untuk menghadapi kesulitan secara bijaksana,” tulisnya.

    Dalam paparan itu, Pater Pio berharap agar dari keluarga yang menanamkan kasih, tanggung jawab, dan ketekunan, anak diharapkan bertumbuh menjadi pribadi yang tidak mudah menyerah, mampu mengambil keputusan dengan berani, serta siap menghadapi masa depannya sendiri.*(Samuel). 

    Related Articles

    spot_img
    spot_img
    spot_img

    Latest Articles