Wednesday, October 28, 2026
More

    Panggilan yang Tetap Hidup dalam Kesetiaan dan Rasa Syukur

    MajalahDUTA.Com | Masih dalam topik melanjutkan refleksi atas 50 tahun hidup membiara, Fr. Bienvenido S. Trinilla Jr., OP, alias Father Bien  menegaskan bahwa panggilan religius tidak kehilangan makna di tengah perubahan zaman. Baginya, teknologi dan modernisasi justru dapat memperkaya kehidupan religius, selama seseorang tetap setia kepada Tuhan yang telah memanggilnya.

    Perjalanan 50 tahun hidup religius bukan sekadar kisah tentang lamanya seseorang bertahan dalam panggilan. Lebih dari itu, perjalanan tersebut merupakan kesaksian tentang kesetiaan, penyerahan diri, dan keyakinan akan penyelenggaraan Tuhan. Bagi Father (Fr) Bien, inti kehidupan religius tetap sama, meskipun dunia terus berubah dengan cepat.

    Dalam wawancara pada 6 Oktober 2026, Fr. Bien merefleksikan makna panggilan religius di tengah perkembangan zaman, termasuk modernisasi, kemajuan teknologi, dan hadirnya kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI).

    Menurut dia, perubahan tersebut tidak mengubah hakikat panggilan yang telah diterimanya dari Tuhan. Sebaliknya, perkembangan zaman dapat menjadi kesempatan untuk memperdalam dan menghidupi panggilan secara lebih bermakna.

    Selama 50 tahun menjalani hidup religius, Fr. Bien mengaku tidak melihat perubahan zaman sebagai alasan untuk meninggalkan atau mengubah hakikat panggilannya. Baginya, yang terpenting bukanlah mengganti panggilan itu, melainkan terus bertumbuh dalam kesetiaan terhadap panggilan yang telah dipercayakan Tuhan kepadanya.

    “We cannot change the vocation that God has given us,” tegasnya. (Kita tidak dapat mengubah panggilan yang telah diberikan Tuhan kepada kita.)

    Dia menjelaskan bahwa seorang religius dipanggil untuk tetap teguh, taat, dan setia dalam menjalani kehidupan yang telah dipilihnya. Makna panggilan tidak terutama ditentukan oleh perubahan yang terjadi di luar diri seseorang, tetapi oleh kesungguhannya dalam menghidupi panggilan tersebut.

    Foto Father Bienvenido S. Trinilla Jr., OP, berada di Unika San Agustin Kampus I Ngabang, Landak. (Dokumentasi Pribadi)

    Perubahan Zaman sebagai Kesempatan Bertumbuh

    Fr. Bien tidak memandang modernisasi dan perkembangan teknologi sebagai ancaman yang dengan sendirinya melemahkan kehidupan religius. Sebaliknya, ia melihat perubahan itu sebagai kesempatan untuk belajar, memperluas pemahaman, dan memperkaya cara menghayati panggilan.

    “The present time, the challenge of the world, the modernization, technology, the AI world do not change my religious vocation, but rather enhance it,” ungkapnya.

    Menurut Fr. Bien, perkembangan zaman justru memperkaya panggilannya. Dengan pertolongan dan bimbingan Tuhan, ia dapat mempelajari berbagai hal baru serta menyesuaikan cara menjalani hidup religius dengan situasi yang dihadapi.

    Baginya, kesetiaan terhadap panggilan tidak berarti menutup diri terhadap perubahan. Seorang religius tetap perlu belajar dan memahami dunia tempat dia menjalankan perutusannya. Namun, keterbukaan tersebut harus berakar pada identitas panggilan yang tidak berubah.

    Ia menegaskan bahwa kehidupan religius akan tetap hidup dan bermakna apabila dijalani dengan kesetiaan. Perkembangan zaman dapat memperkuat panggilan ketika seorang religius menghadapinya dengan keterbukaan, kebijaksanaan, dan kesadaran akan tanggung jawabnya di hadapan Tuhan.

    “It makes my vocation more alive and meaningful,” katanya, hal ini merujuk pada perkembangan zaman dapat memperkaya penghayatan panggilannya.

    Bagi Fr. Bien, kesetiaan bukanlah sikap pasif yang sekadar mempertahankan kebiasaan lama. Kesetiaan merupakan komitmen untuk terus menghidupi panggilan secara sungguh-sungguh di tengah keadaan yang terus berubah.

    Tuhanlah yang Memanggil

    Senada dengan keterangan sebelumnya bahwa Fr. Bien mengingatkan bahwa panggilan hidup religius berawal dari inisiatif Tuhan, bukan semata-mata dari kehendak manusia. Kesadaran inilah yang menjadi dasar baginya untuk terus menjalani panggilan selama lima dekade.

    “Remember that God calls us, that God calls me. I do not call God, but God had appointed me,” tuturnya.

    Dia menyadari bahwa dirinya dipanggil oleh Tuhan untuk menjadi seorang imam religius. Karena itu, tanggung jawab yang harus dijalankannya adalah menghidupi panggilan tersebut dengan penuh kesetiaan dan makna.

    “God calls me to become His religious priest. And what I need only is to live it meaningfully and faithfully,” lanjutnya.

    Menurut Fr. Bien, kesadaran bahwa Tuhanlah yang memanggil memberikan kekuatan untuk bertahan dan bertumbuh dalam kehidupan religius. Panggilan tidak hanya menjadi keputusan yang dibuat pada masa lalu, tetapi juga komitmen yang diperbarui melalui kehidupan sehari-hari.

    Fr. Bien percaya bahwa selama seorang religius setia kepada panggilan Tuhan, kehidupan religius akan terus bertumbuh dan menjadi semakin kuat. Kesetiaan tersebut menjadi dasar bagi seseorang untuk menghadapi tantangan, belajar dari perubahan, dan menemukan kembali makna pelayanannya.

    Dominican Apostolic School, Jaro, Iloilo City, Philippines (1971-1972). Father Bien di urutan ketiga dari kanan ke bawah (Dokumentasi Pribadi)

    Lima Puluh Tahun Dipersembahkan kepada Tuhan

    Ketika ditanya kepada siapa seluruh hidupnya dipersembahkan setelah 50 tahun menjalani profesi religius, Fr. Bien menjawab dengan tegas: kepada Tuhan.

    Ia mengenang perjalanan menuju kaul kekal dalam kehidupan religius Dominikan. Setelah menjalani tiga tahun kaul sementara, ia mengajukan diri untuk mengikrarkan kaul kekal. Dalam profesi tersebut, ia menyatakan komitmen untuk menyerahkan hidupnya kepada Tuhan sampai akhir hayat.

    “I profess my vows, not only temporarily for one year, two years, three years, but until death,” jelasnya.

    Bagi Fr. Bien, kaul kekal bukan sekadar pernyataan formal, melainkan penegasan arah hidup yang hendak dijalaninya. Seluruh perjalanan hidupnya ditempatkan dalam kerangka penyerahan diri kepada Tuhan.

    “So, for whom? Certainly no other, no other person, object or thing, but to God,” tegasnya.

    Keyakinan tersebut juga berkaitan erat dengan kepercayaannya akan penyelenggaraan ilahi. Menurut dia, ketika seseorang sungguh-sungguh menyadari bahwa hidupnya dipersembahkan kepada Tuhan, dia tidak perlu dikuasai oleh ketakutan dan kekhawatiran.

    “And when you have that aim, that goal that your life is for God, then nothing to be worried, nothing to be afraid of,” katanya.

    Ia menambahkan, “I believe in God’s providence. God will provide.”

    Bagi Fr. Bien, kepercayaan akan penyelenggaraan Tuhan bukan berarti hidup tanpa tantangan. Sebaliknya, kepercayaan itu memberinya keyakinan bahwa perjalanan panggilan perlu dijalani dengan penyerahan diri, sekaligus kesediaan untuk melaksanakan tugas dan tanggung jawab yang dipercayakan kepadanya.

    First profession as Dominican. Dokumentasi Pribadi Father Bien.

    Indonesia sebagai Rumah Bersama Komunitas

    Penyerahan diri kepada Tuhan juga tercermin dalam keputusannya merayakan 50 tahun hidup religius di Indonesia, bukan di negara asalnya, Filipina.

    Fr. Bien menjelaskan bahwa kehadirannya di Indonesia merupakan bagian dari perutusan yang dipercayakan kepadanya. Ia meyakini bahwa Tuhan mengutusnya ke Indonesia dan bahwa penugasan tersebut juga diteguhkan melalui keputusan pemimpin provinsinya.

    “I believe God sent me here. God sent me here, assigned me here,” ungkapnya.

    Dalam kehidupan Dominikan, menurut dia, perayaan 50 tahun profesi religius merupakan kesempatan untuk bersyukur bersama komunitas. Karena itu, Biara Santo Dominikus menjadi tempat yang tepat baginya untuk merayakan perjalanan panggilannya.

    Dia memilih merayakan peristiwa tersebut bersama komunitas di Indonesia, meskipun tidak ada anggota keluarga atau kerabatnya dari Filipina yang hadir. Baginya, komunitas religius tempat ia tinggal dan menjalankan perutusan merupakan keluarga yang menyertainya dalam perjalanan hidup.

    “I am with my family here in Indonesia,” katanya.

    Pernyataan tersebut memperlihatkan bahwa makna keluarga dalam kehidupan religius tidak terbatas pada ikatan darah. Komunitas menjadi tempat seseorang berbagi kehidupan, menjalankan perutusan, saling mendukung, dan bertumbuh bersama dalam panggilan yang sama.

    Fr. Bien juga menghubungkan kehadiran komunitas dengan pengalaman konkret akan belas kasih Tuhan. Ia mengenang ketika dirinya ditanya mengenai apa yang dimintanya, lalu menjawab, “God’s mercy and yours.”

    Ungkapan “God’s mercy and yours” (belas kasih Tuhan dan belas kasih kalian) memiliki makna khusus baginya.

    Belas kasih Tuhan, menurut Fr. Bien, tidak hanya dialami melalui relasi pribadi dengan Tuhan, tetapi juga melalui kehadiran orang-orang yang berjalan bersamanya dalam kehidupan religius.

    “My community is a concrete manifestation of God’s mercy,” tuturnya.

    Fr Bien memandang komunitas sebagai perwujudan nyata belas kasih Tuhan. Orang-orang yang hadir dalam perayaan 50 tahun profesinya menjadi bagian dari pengalaman tersebut. Kehadiran mereka mengingatkannya bahwa perjalanan panggilan tidak dijalani sendirian, melainkan dalam kebersamaan dengan mereka yang turut menopang dan menghidupinya.

    Karena itu, seluruh pengalaman hidupnya, baik yang telah terjadi maupun yang akan datang, ingin ia kembalikan kepada Tuhan sebagai ungkapan syukur atas belas kasih yang telah diterimanya.

    Syukur sebagai Inti Perjalanan Hidup

    Pada bagian akhir wawancara, Fr. Bien diminta merangkum perjalanan 50 tahun hidup religiusnya dalam satu kata. Tanpa mengesampingkan berbagai pengalaman, tantangan, dan jawaban yang telah disampaikan sebelumnya, ia memilih satu kata yang merangkum seluruh refleksinya yakni gratitude, atau rasa syukur.

    “Sam, everything, all the questions, all the answers could be summarized into one word, and that is gratitude,” ujarnya.

    Dia menjelaskan bahwa segala sesuatu yang dialaminya dalam hidup diyakini berasal dari Tuhan dan kehendak-Nya. Karena itu, ia bersyukur atas kesempatan untuk menjalani panggilan dan menjadi bagian dari kehidupan Gereja.

    Baginya, seorang religius merupakan pemberian Tuhan bagi Gereja. Kehidupan religius bukan hanya tentang pilihan pribadi untuk mengikuti jalan tertentu, tetapi juga tentang kesediaan menjadi sarana kehadiran Tuhan bagi umat-Nya.

    “God sent me as His gift to the Church,” ungkapnya.

    Fr. Bien mengungkapkan rasa syukurnya karena melalui panggilan tersebut, ia dapat membawa dan menghadirkan kehadiran Tuhan bagi orang-orang yang dijumpainya. Ia menyadari bahwa kehadiran seorang religius semestinya tidak berhenti pada keberadaan fisik atau statusnya dalam Gereja, tetapi diwujudkan melalui cara hidup, pelayanan, dan relasi dengan sesama.

    “I manifest His presence through my presence,” katanya.

    Ia pun menghubungkan rasa syukur dengan tindakan nyata. Bagi Fr. Bien, bersyukur bukan hanya mengucapkan terima kasih kepada Tuhan, melainkan juga menghidupi rasa syukur tersebut melalui kesediaan menghadirkan kasih dan kehadiran Tuhan bagi umat.

    “That is why I think putting gratitude into practice is bringing the presence of God to His people,” jelasnya.

    Refleksi itu sekaligus menjadi penegasan atas makna 50 tahun hidup religius yang telah dijalaninya. Kesetiaan terhadap panggilan, keterbukaan terhadap perubahan zaman, penyerahan diri kepada Tuhan, serta kebersamaan dalam komunitas bermuara pada satu sikap mendasar yakni rasa syukur.

    Di akhir wawancara, Fr. Bien kembali menegaskan rasa terima kasihnya kepada Tuhan yang telah menjadikannya sarana kehadiran-Nya bagi orang lain.

    “I am very grateful to God for making me an instrument of His presence,” tutupnya.

    Lima puluh tahun hidup religius, bagi Fr. Bien OP, pada akhirnya bukan hanya tentang berapa lama seseorang bertahan dalam panggilan.

    Perjalanan itu adalah tentang kepada siapa hidup dipersembahkan, bagaimana panggilan tetap dihidupi di tengah perubahan, dan sejauh mana kehidupan tersebut menjadi sarana belas kasih Tuhan bagi sesama.(Samuel)

    Related Articles

    spot_img
    spot_img
    spot_img

    Latest Articles