MajalahDUTA.Com | Minister Provinsial Ordo Saudara Dina Kapusin (OFM Cap) Provinsi Pontianak, Pater Faustus Bagara Darmawan, OFMCap, mengingatkan bahwa pendidikan tidak hanya membawa manusia dari ketidaktahuan menuju pengetahuan, tetapi juga menuntun mereka menemukan keutuhan diri, kebenaran, dan kasih.
Pendidikan bukan sekadar proses memperoleh pengetahuan. Pendidikan juga merupakan perjalanan untuk membentuk manusia yang utuh, menemukan keteraturan dalam kehidupan, dan bertumbuh dalam kebenaran serta kasih. Pesan tersebut disampaikan Pater Faustus Bagara Darmawan, OFMCap, dalam homili Ekaristi pembukaan Hari Studi Asosiasi Perguruan Tinggi Katolik Indonesia (APTIK) 2026, Kamis (22/10), di Novotel Pontianak Convention Center.
Dalam homilinya, Pater Bagara mengajak peserta untuk kembali melihat tujuan mendasar pendidikan.
Menurut dia, pendidikan merupakan proses yang membawa manusia dari ketidaktahuan menuju pengetahuan, dari keadaan yang terpecah menuju keutuhan, serta dari kekacauan menuju keteraturan.
Refleksi tersebut menempatkan pendidikan sebagai proses yang lebih luas daripada sekadar pengembangan kemampuan intelektual. Pendidikan juga menyentuh cara manusia memahami dirinya, membangun relasi dengan sesama, dan menjalani kehidupan secara bertanggung jawab.
Bagi perguruan tinggi Katolik, pesan ini menjadi pengingat bahwa keberhasilan pendidikan tidak hanya ditentukan oleh kemampuan akademik atau keterampilan profesional lulusan. Pendidikan juga memiliki tanggung jawab membentuk karakter dan menumbuhkan kesadaran akan nilai-nilai kehidupan.

Pendidikan yang berpusat pada Kristus
Pater Bagara menempatkan Yesus Kristus sebagai dasar dan arah pendidikan Katolik. Dalam perspektif iman Kristiani, pendidikan tidak dapat dipisahkan dari upaya membentuk manusia yang mengenal kebenaran, hidup dalam kasih, dan mampu menjalankan tanggung jawabnya.
Kristus sebagai jalan, kebenaran, dan hidup menjadi landasan bagi pendidikan yang memandang manusia secara utuh. Pengetahuan bukan tujuan yang berdiri sendiri, melainkan bagian dari perjalanan manusia untuk menemukan makna hidup dan mengembangkan kemampuannya demi kebaikan.
Karena itu, pendidikan Katolik perlu melampaui pengembangan kecerdasan akademik. Pembentukan karakter, kehidupan moral, dan kemampuan menjalin hubungan yang baik dengan sesama merupakan bagian penting dari proses pendidikan.
Perguruan tinggi tidak cukup hanya mengukur keberhasilan melalui prestasi akademik atau kompetensi profesional. Pendidikan juga perlu memperhatikan bagaimana seseorang menggunakan pengetahuan, mengambil keputusan, serta menghadirkan kebaikan dalam kehidupan masyarakat.
Dalam perspektif tersebut, pendidikan menjadi proses yang menyatukan pengetahuan dan kehidupan. Apa yang dipelajari seseorang tidak berhenti di ruang kelas, tetapi diharapkan membentuk cara berpikir, sikap, dan tindakan.

Perubahan sebagai jalan menuju pembaruan
Dalam homilinya, Pater Bagara juga mengangkat pesan Injil tentang Yesus yang membawa pembaruan sekaligus menghadirkan ketegangan dalam kehidupan manusia.
Pesan tersebut dapat dipahami sebagai pengingat bahwa perubahan tidak selalu berlangsung tanpa tantangan. Ketika seseorang berkomitmen pada kebenaran dan berusaha memperbarui kehidupan, dia dapat berhadapan dengan perbedaan pandangan, ketidaknyamanan, bahkan penolakan.
Dalam konteks pendidikan, pembaruan menuntut keberanian untuk mengevaluasi cara-cara lama dan membuka diri terhadap perkembangan baru. Namun, perubahan tidak boleh kehilangan arah dan nilai yang menjadi dasar kehidupan.
Pendidikan Katolik perlu terus berkembang menghadapi perubahan zaman, tetapi perkembangan tersebut harus tetap berakar pada penghormatan terhadap manusia dan nilai-nilai Kristiani.
Perubahan yang sejati tak hanya mengikuti perkembangan teknologi atau menyesuaikan diri dengan tuntutan zaman tetapi perubahan juga harus membawa manusia kepada kehidupan yang lebih utuh, teratur, dan bermakna.

Menemukan kembali tujuan pendidikan
Homili Pater Bagara adalah salah sudut pandang refleksi bagi perguruan tinggi Katolik di tengah berbagai perubahan yang memengaruhi dunia pendidikan. Kemajuan teknologi, perkembangan kecerdasan buatan, dan perubahan kebutuhan masyarakat menuntut lembaga pendidikan untuk terus memperbarui diri.
“Namun, di tengah berbagai tuntutan tersebut, pendidikan tetap memiliki tugas mendasar: membentuk manusia,” katanya.
Perguruan tinggi Katolik perlu memastikan bahwa pengembangan pengetahuan berjalan seiring dengan pembentukan karakter dan kehidupan moral. Mahasiswa tidak hanya dipersiapkan untuk memahami persoalan dan menguasai keterampilan, tetapi juga untuk menggunakan kemampuan tersebut secara bijaksana.
Pendidikan yang berakar pada Kristus mengajak setiap lembaga untuk melihat manusia bukan hanya sebagai penerima pengetahuan, melainkan sebagai pribadi yang memiliki martabat, tanggung jawab, dan potensi untuk bertumbuh.
Pater Bagara mengingatkan bahwa pendidikan pada akhirnya merupakan perjalanan menuju keutuhan manusia. Pengetahuan, kebenaran, keteraturan, dan kasih perlu berjalan bersama agar pendidikan sungguh-sungguh menjadi jalan bagi manusia untuk berkembang.
Hari Studi APTIK 2026 menjadi kesempatan bagi perguruan tinggi Katolik untuk kembali menegaskan tujuan tersebut, menghadirkan pendidikan yang tidak hanya mencerdaskan pikiran, tetapi juga membentuk manusia yang utuh.*(Samuel).





