MajalahDUTA.Com | Krisis ekologi menuntut perubahan cara pandang dan gaya hidup manusia terhadap alam. Kerusakan hutan, pencemaran, alih fungsi lahan, serta pengelolaan lingkungan yang mengabaikan keberlanjutan menjadi persoalan yang membutuhkan keterlibatan banyak pihak.
Menanggapi situasi tersebut, komunitas Bruder MTB berupaya mengambil bagian melalui pendidikan ekologis, pembiasaan hidup sederhana, dan tindakan nyata dalam kehidupan sehari-hari.
Br. Filipus Neri, MTB, dalam tulisannya tentang keterlibatan komunitas Bruder MTB dalam menanggapi krisis ekologi, menekankan pentingnya kepemimpinan ekologis yang diwujudkan melalui pendidikan dan penghayatan iman. Menurutnya, tanggung jawab menjaga lingkungan bukan hanya urusan pemerintah atau lembaga tertentu, melainkan tanggung jawab moral bersama.
Pendidikan ekologis, karena itu, perlu tumbuh dalam keluarga, komunitas biara, sekolah, paroki, serta lembaga pemerintah dan swasta. Kesadaran tersebut diharapkan tidak berhenti pada pengetahuan, tetapi menjadi kebiasaan yang diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.
Belajar dari Alam dan Kearifan Lokal
Salah satu upaya yang dikembangkan Bruder MTB adalah pendidikan ekologi sejak dini melalui program kerja JPIC Bruder MTB. Program ini menggunakan pendekatan ekopedagogi dengan memperhatikan tiga pilar, yakni pendidikan tentang lingkungan, pendidikan di atau dari lingkungan, dan pendidikan untuk lingkungan.
Pendekatan tersebut menempatkan lingkungan sebagai sumber pembelajaran sekaligus ruang untuk membangun kepedulian. Sekolah, asrama, dan kelompok binaan Bruder MTB menjadi bagian penting dari upaya membentuk generasi yang lebih peka terhadap persoalan lingkungan hidup.
Untuk mendukung pembelajaran tersebut, JPIC Bruder MTB menyiapkan tiga tempat pembelajaran, yaitu Selat Panjang, Kuala Dua, dan Merauke. Pembelajaran diarahkan pada pengalaman langsung yang memadukan kepedulian lingkungan dengan kearifan lokal.
Berbagai kegiatan dilakukan, antara lain mengolah sampah menjadi pupuk organik, menanam sayuran, buah-buahan dan pohon, serta memelihara ikan, ayam, dan kambing. Komunitas juga belajar membuat eco enzyme dan memahami kembali nilai-nilai adat serta budaya yang membantu membangun relasi harmonis antarmanusia, dengan Tuhan Sang Pencipta, dan dengan alam semesta.
Melalui kegiatan tersebut, pendidikan ekologis diharapkan menjadi pengalaman hidup, bukan sekadar materi yang dipelajari. Anak-anak dan kelompok binaan diajak memahami bahwa merawat bumi dapat dimulai dari tindakan sederhana yang dilakukan secara konsisten.
Biara sebagai Ruang Pembelajaran
Kepedulian Bruder MTB terhadap lingkungan juga tampak dalam kehidupan komunitas. Baik di Belanda maupun di Indonesia, komunitas Bruder MTB dikenal memiliki beragam tanaman dan pepohonan di lingkungan biara. Kehadiran vegetasi tersebut membuat lingkungan menjadi lebih indah, rindang, dan sejuk.
Kesan para pengunjung terhadap lingkungan biara menjadi gambaran bahwa merawat tanaman dan pepohonan dapat menghadirkan ruang hidup yang lebih nyaman. Namun, upaya ekologis tidak berhenti pada penghijauan. Komunitas juga didorong untuk membangun kesadaran tentang pengelolaan sampah, pemanfaatan sumber daya, dan pola hidup yang tidak berlebihan.
Dalam bidang ekopastoral, JPIC Bruder MTB melalui Br. Joni merespons kebutuhan anak-anak dengan menghadirkan pondok atau bevak pintar. Kegiatan ini mencakup literasi, pembinaan iman, dan latihan keterampilan lainnya.
Upaya tersebut memperlihatkan bahwa kepedulian ekologis dapat berjalan beriringan dengan pendampingan pendidikan, pengembangan iman, dan pemberdayaan anak-anak. Merawat bumi menjadi bagian dari pembentukan pribadi yang mampu menghargai kehidupan dan peduli terhadap sesama.
Gaya Hidup Sederhana ke Ekologi Integral
Bagi Bruder MTB, pendidikan ekologi juga berkaitan dengan pembentukan gaya hidup. Masyarakat diajak mengembangkan sikap cukup, ugahari, tidak berlebihan, dan penuh belas kasih. Pola konsumsi perlu diperhatikan dengan mengutamakan makanan alami dan organik serta mengurangi ketergantungan pada makanan instan atau cepat saji.
Kesadaran tersebut sejalan dengan gagasan ekologi integral, yang menghubungkan relasi manusia dengan Tuhan, sesama, budaya, dan alam. Krisis ekologi tidak dapat dipisahkan dari cara manusia memandang alam. Pandangan antroposentrisme yang menempatkan alam semata-mata sebagai alat pemuas kebutuhan manusia perlu dikritisi agar manusia semakin menyadari tanggung jawabnya terhadap keberlangsungan ciptaan.
Karena itu, pendidikan ekologis perlu membentuk pengetahuan sekaligus sikap dan kebiasaan. Kepedulian terhadap lingkungan harus tampak dalam cara manusia mengonsumsi, mengelola sampah, menggunakan sumber daya, dan memperlakukan makhluk hidup lainnya.
Bagi komunitas Bruder MTB, langkah-langkah sederhana tetap memiliki arti ketika dilakukan dengan tulus dan berkelanjutan. Melalui pendidikan ekologi, kearifan lokal, penghayatan iman, serta praktik hidup yang bersahaja, komunitas berupaya mengambil bagian dalam menanggapi krisis multidimensi.
Merawat bumi sebagai rumah bersama pada akhirnya bukan hanya tentang menjaga lingkungan agar tetap hijau. Lebih dari itu, upaya tersebut merupakan panggilan untuk membangun relasi yang harmonis dengan seluruh ciptaan dan mewariskan masa depan yang lebih baik bagi generasi mendatang. (Sumber: Br. Filipus Neri, MTB tinggal di komunitas Putussibau)





