Thursday, October 22, 2026
More

    Alam adalah Saudara, Bukan untuk Dieksploitasi, kata Pater Pio

    MajalahDUTA.Com | “Kebahagiaan sejati tidak selalu ditemukan dalam kepemilikan, melainkan dalam relasi kita dengan Tuhan,” kata Pater Pio.

    Menjawab dua pertanyaan yang diberikan kepadanya yakni tentang, Santo Fransiskus memiliki kehidupan yang sederhana dan dekat dengan kaum miskin, di tengah dunia yang mengukur keberhasilan berdasarkan harta, jabatan, dan pencapaian. Apakah manusia justru dapat menemukan kebahagiaan ketika berani melepaskan apa yang dimilikinya?

    Dilanjutkan dengan pertanyaan berikut, Santo Fransiskus menyebut matahari sebagai saudara dan bulan sebagai saudari, di tengah kerusakan lingkungan dan eksploitasi alam. Apa yang perlu diubah dalam cara manusia memandang alam: sebagai milik yang boleh dikuasai atau sebagai sesama ciptaan Tuhan?

    Pesan pada awal naskah ini, dijawab oleh Ketua INFO JPIC Indonesia, Pater Pionius Hendi, OFMCap, ketika merefleksikan spiritualitas Santo Fransiskus dari Assisi di tengah kehidupan modern yang kerap mengukur keberhasilan berdasarkan kekayaan, jabatan, status sosial, dan pencapaian pribadi.

    Dalam wawancara pada 4 Oktober 2026 di Provinsialat Ordo Kapusin, Kompleks Rumah Retret Tirta Ria, Jalan Adisucipto Km 9,6, Sungai Raya, Kalimantan Barat, Pater Pio mengajak umat untuk kembali menemukan makna kesederhanaan, merawat persaudaraan dengan alam, dan membangun kehidupan yang berlandaskan kasih kepada Tuhan serta sesama.

    Bagi Pater Pio, spiritualitas Fransiskan menawarkan cara pandang yang relevan di tengah dunia yang semakin berorientasi pada kepemilikan dan penguasaan. Kesederhanaan bukan sekadar hidup dengan sedikit harta, melainkan keberanian untuk menempatkan Tuhan sebagai pusat kehidupan.

    Kesederhanaan di tengah perlombaan mengejar status

    Menurutnya, hidup sederhana dan semangat kemiskinan memiliki keunikan tersendiri pada zaman sekarang. Ketika banyak orang berlomba-lomba mengejar jabatan, kekayaan, status, dan berbagai privilese, semangat kemiskinan justru membuka ruang bagi manusia untuk membangun relasi yang lebih mendalam dengan Tuhan.

    “Ketika dunia berlomba-lomba mengejar jabatan, kekayaan, status, dan berbagai privilese, orang-orang yang memiliki jiwa sederhana dan semangat kemiskinan justru menjadi pribadi yang terbuka kepada Tuhan,” katanya, (04/10/2026).

    Dia menjelaskan bahwa kesederhanaan tidak berarti menolak segala sesuatu yang dimiliki manusia. Sebaliknya, kesederhanaan membantu seseorang menempatkan harta, jabatan, dan kenikmatan duniawi secara proporsional agar tidak menjadi pusat kehidupannya.

    Ketika seseorang menyadari bahwa semua pencapaian duniawi bukanlah hal yang utama, dia dapat melihat kehidupan dari sudut pandang yang lebih luas. Ada sesuatu yang lebih besar daripada apa yang dapat dilihat dan dimiliki secara material.

    Pater Pio juga menghubungkan pemikiran tersebut dengan refleksi Santo Agustinus dari Hippo mengenai kerinduan jiwa manusia akan Allah. Kerinduan itu mengingatkan bahwa manusia tidak dapat menemukan seluruh makna hidup hanya melalui kepemilikan materi.

    Dalam perspektif ini, kebahagiaan tidak semata-mata ditentukan oleh seberapa banyak yang berhasil dikumpulkan seseorang, tetapi juga oleh kedalaman relasinya dengan Tuhan.

    Kesederhanaan, menjadi jalan untuk membebaskan manusia dari keterikatan berlebihan pada hal-hal duniawi. Manusia tetap dapat berkarya, memiliki tanggung jawab, dan mencapai keberhasilan, tetapi tidak menjadikan semuanya itu sebagai ukuran tertinggi nilai dirinya.

    Alam adalah saudara, bukan objek eksploitasi

    Selain kesederhanaan, Pater Pio menyoroti persaudaraan dengan alam sebagai salah satu ciri khas spiritualitas Fransiskan. Pemikiran ini berangkat dari teladan Santo Fransiskus dari Assisi yang menyebut matahari sebagai saudara dan bulan sebagai saudari dalam Gita Sang Surya, yang juga dikenal sebagai Kidung Saudara Matahari.

    Melalui kidung tersebut, Santo Fransiskus mengungkapkan bahwa persaudaraan tidak berhenti pada hubungan antarmanusia. Seluruh alam semesta juga merupakan bagian dari persaudaraan ciptaan Allah.

    “Dalam Gita Sang Surya atau Kidung Saudara Matahari, Santo Fransiskus menegaskan bahwa kita bukan hanya bersaudara dengan sesama manusia, tetapi juga dengan seluruh alam semesta,” kata Pater Pio (04/10/2026).

    Pandangan ini menjadi penting ketika kerusakan lingkungan dan eksploitasi alam semakin menjadi persoalan di berbagai belahan dunia, termasuk Kalimantan dan Indonesia.

    Menurut dia, eksploitasi alam yang berlangsung secara masif bertentangan dengan semangat Fransiskan apabila alam hanya diperlakukan sebagai objek yang dapat dikuasai dan dimanfaatkan tanpa batas.

    Alam, dalam perspektif Fransiskan, bukan sekadar sumber daya untuk memenuhi kebutuhan manusia. Alam merupakan bagian dari ciptaan Allah yang memiliki nilai dan keberadaannya sendiri.

    Pater Pio juga mengingatkan bahwa sikap manusia yang merasa berhak menguasai alam secara mutlak dapat menempatkan manusia seolah-olah memiliki kuasa seperti Allah atas ciptaan lainnya.

    Karena itu, perubahan mendasar perlu dimulai dari cara manusia memandang alam. Perubahan perilaku dan kebudayaan akan sulit terwujud apabila manusia tetap mempertahankan cara pandang yang membenarkan eksploitasi.

    “Ketika cara pandang berubah, kebudayaan pun akan berubah. Sebab, kebudayaan tidak mungkin mengalami perubahan mendasar apabila cara pandang manusia tetap sama,” katanya.

    Dia menegaskan bahwa alam tidak boleh dieksploitasi secara serakah. Alam dapat dimanfaatkan untuk memenuhi kebutuhan hidup, tetapi pemanfaatan tersebut harus disertai penghormatan terhadap ciptaan dan tanggung jawab untuk menjaganya.

    Sejalan dengan semangat yang diwariskan Santo Fransiskus, alam bukan untuk dikuasai secara sewenang-wenang, melainkan untuk dirawat dan dipelihara. Cara pandang ini juga sejalan dengan tanggung jawab manusia terhadap ciptaan sebagaimana direfleksikan dalam Kitab Kejadian.

    Bumi menjerit, orang kecil turut menjerit

    Kepedulian terhadap lingkungan, menurutnya tidak dapat dipisahkan dari kepedulian terhadap martabat manusia. Kerusakan alam bukan hanya persoalan ekologis, tetapi juga menyangkut kehidupan masyarakat yang bergantung pada lingkungan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.

    Dalam hal ini, dia mengingatkan kembali pesan ensiklik Laudato Si’ yang diterbitkan Paus Fransiskus, yang mengajak manusia membangun kepedulian terhadap rumah bersama.

    “Ketika kita merusak alam, sesungguhnya kita membuat bumi menjerit. Ketika bumi menjerit, orang-orang kecil pun turut menjerit,” tuturnya.

    Pernyataan tersebut menegaskan bahwa kerusakan lingkungan membawa konsekuensi yang melampaui perubahan kondisi alam. Dampaknya dapat menyentuh kehidupan manusia, terutama mereka yang paling rentan dan memiliki keterbatasan untuk melindungi diri dari akibat kerusakan tersebut.

    Masyarakat kecil sering kali menjadi pihak yang paling merasakan dampak ketika lingkungan tempat mereka hidup mengalami kerusakan. Karena itu, menjaga alam sekaligus berarti menjaga kehidupan dan martabat manusia.

    Pater Pio memandang bahwa kerusakan alam berkaitan erat dengan persoalan moral manusia. Ketika keserakahan mengalahkan tanggung jawab, alam kehilangan perlindungan dan sesama manusia berisiko kehilangan hak untuk hidup dalam lingkungan yang baik.

    Spiritualitas Fransiskan mengajak manusia keluar dari cara pandang yang menempatkan kepentingan pribadi sebagai pusat segala sesuatu. Sebaliknya, manusia dipanggil untuk membangun relasi yang lebih seimbang dengan Tuhan, sesama, dan seluruh ciptaan.

    Dari kesederhanaan hingga persaudaraan dengan alam, pesan Santo Fransiskus tetap relevan bagi kehidupan masa kini. Di tengah budaya yang mengejar kepemilikan dan kecenderungan mengeksploitasi sumber daya, manusia diajak untuk menilai kembali arti keberhasilan dan tanggung jawabnya terhadap kehidupan.

    Baginya, perubahan itu bermula dari cara pandang. Ketika manusia belajar melihat alam sebagai saudara dan bukan sekadar objek, kepedulian dapat tumbuh menjadi tindakan nyata. Pada saat yang sama, kesederhanaan membantu manusia menempatkan kekayaan dan pencapaian pada tempat yang semestinya.

    Menutup dua pertanyaan yang diberikan itu, Pater Pio mengatakan bahwa spiritualitas Fransiskan menawarkan sebuah jalan hidup yakni menemukan kebahagiaan dalam relasi dengan Tuhan, menghormati martabat sesama, serta merawat alam sebagai bagian dari persaudaraan seluruh ciptaan.*(Samuel).

    Related Articles

    spot_img
    spot_img
    spot_img

    Latest Articles