Saturday, September 5, 2026
More

    Generasi Muda, Jangan Tunggu Gaji Besar untuk Belajar Pajak

    MajalahDUTA.Com | “Pajak itu urusan orang yang sudah bekerja dan punya banyak uang.”

    Kalimat semacam ini mungkin masih sering terdengar di kalangan generasi muda. Pajak dianggap sebagai sesuatu yang rumit, penuh angka, dan jauh dari kehidupan mahasiswa. Padahal, justru sejak muda pemahaman tentang pajak perlu dibangun.

    Sebab, ketika seseorang mulai memperoleh penghasilan, memiliki usaha, atau bekerja di dunia digital, persoalan pajak perlahan menjadi bagian dari kehidupannya.

    Saya merasakan sendiri perubahan cara pandang tersebut ketika memasuki semester tiga sebagai mahasiswa DIII Keuangan dan Perbankan di Universitas Katolik Santo Agustinus Hippo.

    Melalui mata kuliah perpajakan, saya tidak hanya belajar mengenai tarif, perhitungan, dan aturan pajak. Saya mulai memahami bahwa pajak sesungguhnya berkaitan dengan kehidupan masyarakat dan bagaimana setiap warga negara mengambil bagian dalam pembangunan.

    Persoalannya, generasi muda hari ini memasuki dunia kerja yang jauh berbeda dari generasi sebelumnya. Seseorang dapat memperoleh penghasilan bukan hanya dari pekerjaan kantoran, tetapi juga dari bisnis daring, freelance, jasa digital, hingga menjadi kreator konten.

    Fleksibilitas ini membuka peluang ekonomi yang besar, tetapi juga menghadirkan tanggung jawab baru, yakni memahami bagaimana penghasilan tersebut diperlakukan secara perpajakan.

    Di sinilah literasi perpajakan menjadi penting. Generasi muda tidak harus menjadi ahli pajak.

    Namun, mereka perlu memahami hal-hal mendasar seperti, kapan seseorang memiliki kewajiban pajak, bagaimana penghasilan diperhitungkan, bagaimana melaporkan kewajiban perpajakan, dan ke mana harus mencari informasi ketika menghadapi persoalan pajak. Pengetahuan sederhana tersebut dapat mencegah kesalahan sekaligus membantu seseorang merencanakan keuangannya dengan lebih baik.

    Bayangkan seorang pekerja muda yang setiap bulan melihat jumlah gaji yang diterima tanpa memahami mengapa terdapat potongan pajak. Atau seorang freelancer yang memperoleh penghasilan dari berbagai proyek tetapi tidak pernah memikirkan kewajiban perpajakannya.

    Ketika literasi rendah, pajak akan terasa seperti kejutan yang muncul tiba-tiba. Sebaliknya, ketika seseorang memahami sejak awal, kewajiban tersebut dapat diperhitungkan sebagai bagian dari perencanaan keuangan.

    Lebih dari sekadar persoalan angka, pajak juga berkaitan dengan kesadaran sebagai warga negara. Jalan yang digunakan untuk beraktivitas, fasilitas pendidikan, layanan kesehatan, perlindungan sosial, serta berbagai pelayanan publik membutuhkan pembiayaan negara. Pajak menjadi salah satu sumber penting untuk membiayai kebutuhan tersebut.

    Sayangnya, hubungan antara pajak dan manfaat yang diterima masyarakat belum selalu dipahami dengan baik. Pajak lebih sering dibicarakan sebagai “beban” daripada sebagai bentuk kontribusi.

    Di sinilah tantangan terbesar pendidikan perpajakan, tentang bagaimana mengubah persepsi bahwa pajak bukan sekadar kewajiban yang harus dibayar, tetapi bagian dari tanggung jawab bersama.

    Karena itu, edukasi perpajakan tidak cukup hanya dilakukan ketika seseorang sudah menjadi wajib pajak. Sekolah dan perguruan tinggi perlu menjadi ruang awal untuk memperkenalkan literasi perpajakan dengan bahasa yang sederhana dan dekat dengan kehidupan generasi muda.

    Pemerintah, khususnya Direktorat Jenderal Pajak, juga perlu terus memanfaatkan media yang paling dekat dengan anak muda.

    Konten pendek di Instagram, TikTok, YouTube, maupun platform digital lainnya dapat digunakan untuk menjelaskan persoalan perpajakan melalui contoh sehari-hari, seperti: bagaimana memahami potongan gaji, apa yang perlu diketahui pekerja freelance, bagaimana menjalankan usaha kecil secara tertib, atau bagaimana melaporkan pajak secara benar.

    Generasi muda tidak seharusnya baru mengenal pajak ketika menerima surat atau berhadapan dengan kewajiban administrasi. Pemahaman itu harus tumbuh jauh sebelumnya.

    Pada akhirnya, membangun kepatuhan pajak bukan hanya persoalan membuat aturan yang lebih banyak atau memberikan sanksi yang lebih tegas. Kepatuhan juga lahir dari pengetahuan dan kesadaran.

    Generasi muda yang memahami pajak sejak dini akan lebih siap memasuki dunia kerja, mengelola keuangan, menjalankan usaha, sekaligus menjalankan tanggung jawab sebagai warga negara. Jadi, jangan menunggu memiliki gaji besar untuk belajar pajak.

    Jangan pula menunggu memiliki usaha untuk memahami kewajiban perpajakan.

    Belajar pajak sejak muda adalah investasi pengetahuan, bukan hanya untuk diri sendiri, tetapi juga untuk masa depan Indonesia.*April, Lusia Sedati, (Sam). 

    Related Articles

    spot_img
    spot_img

    Latest Articles