MajalahDUTA.Com | Rumah di Selat Panjang, Siantan, sejak tahun 2022 dijadikan sebagai Sekretariat JPIC (Justice Peace and Integrity of Creation) Bruder MTB. Dalam perjalanan dan penataan (kolam, tanaman, dan pondok) terbesit sebuah kata derita. Agar kata tersebut terkesan gaul, kami menulisnya dengan “Pondok TheRita”.
Ada beraneka pemaknaan dari setiap pengunjung yang datang terhadap nama ini. Kami pun membiarkan pikiran mereka berkelana. Namun, lama kelamaan hal ini mendorong kami untuk memberi pemahaman ketika ditanya, mengapa namanya Pondok TheRita?
Nama itu sebenarnya spontan saja. Setelah perjalanan baru sadar bahwa pelayanan di JPIC didasarkan pada proyek-misi Yesus, “Roh Tuhan ada padaKu untuk membawa kabar baik bagi orang miskin, membebaskan tawanan, memulihkan penglihatan orang buta, membebaskan orang tertindas, dan memberitakan tahun rahmat Tuhan telah datang” (Luk 4:18-19).
Dalam ber-JPIC kami berkiblat pada spiritualitas Santo Fransiskus Assisi yang berfokus pada “Perbaikilah rumah-gerejaKu yang nyaris roboh itu”.
Suara dari salib San Damiano itu membuka pemahaman bahwa JPIC Bruder MTB sebagai pelayan Allah bergerak melayani manusia yang terkontaminasi oleh konsep antroposentrisme mengeksploitasi ibu bumi rumah kita dan kembali menyerukan semangat menjaga dan memeliharan ciptaan Allah (ekologi) secara adil, damai dan utuh.
Karena krisis ekologi berdampak langsung pada orang-orang miskin dan orang miskin itu sendiri adalah wajah Allah (Mat 25:40) di dunia.
Sebagai pondok bernalar, Pondok TheRita memberi perhatian pada animasi edukasi ekologi bagi orang muda dan masyarakat sekitarnya.
Edukasi tidak hanya pada mengolah sampah, membuat eco enzyme dan pupuk serta menanam agar hijau, tetapi membangun sebuah kesadaran tentang paradigma-cara berpikir dan memberi perspektif mengenai ekologi integral.
Karena ke depan kita menghadapi tantangan yang semakin kompleks di mana Artificial Intelligence (AI-kecerdasan buatan) akan mendominasi hidup manusia, perendahan martabat baik manusia dan alam demi ekonomi-uang, sehingga tidak mungkin mengurangi krisis ekologi.
Generasi muda sebagai penerus perlu dibekali dengan cara berpikir yang holistik tentang ekologi dan manusia, terutama dalam menjalin relasi yang harmonis dengan Tuhan, sesama dan alam ciptaan sesuai dengan harapan Ensiklik Magnifica Humanitas Paus Leo XIV yang dirilis 25 Mei 2026 lalu.
Dalam pelayanan JPIC, kami belajar dari semangat Santo Paulus. Ia tidak menolak penderitaan, tetapi mengolahnya menjadi jalan pertumbuhan iman dan kesaksian.
Derita bukan akhir, melainkan proses menuju kematangan rohani. Dalam kasih karunia Allah, penderitaan dapat berubah menjadi sumber sukacita dan harapan. Semangat Paulus sebagai pelayan dalam kasih karunia Allah sangat kuat (2 Korintus 6:3–10).
Dalam teks itu, Paulus menunjukkan bahwa ia adalah pelayan Allah. Apa artinya menjadi pelayan Allah? Ia menggambarkan dalam pelayanan apapun tidak memberi orang tersandung, supaya jangan dicela.
Sebaliknya, pelayan menahan kesabaran dalam penderitaan, kesesakan dan kesukaran. Pelayan menanggung dera, dalam penjara dan kerusuhan, dalam berjerih payah, berjaga-jaga dan berpuasa. Pelayan menjaga kemurnian hati, pengetahuan, kesabaran dan kemurahan hati, dalam Roh Kudus dan kasih yang tidak munafik.
Pelayan memberitakan kebenaran dengan menggunakan senjata keadilan untuk membela ketika dihormati dan dihina, ketika diumpat atau dipuji, ketika dianggap penipu, tapi dipercaya, dianggap nyaris mati, tetapi sungguh masih hidup, berdukacita namun bersukacita, dianggap orang tak bermilik sekalipun pelayan memiliki segala sesuatu.
Secara logis, Paulus ingin menunjukkan bahwa nilai pelayanan tidak diukur dari kenyamanan, tetapi dari kesetiaan.
Ia tidak menghindari derita, melainkan menjalaninya dengan iman. Menariknya, Paulus menggambarkan paradoks hidupnya: “Seolah-olah berdukacita-menderita, namun selalu bersukacita; seolah-olah miskin, namun memperkaya banyak orang; seolah-olah tidak memiliki apa-apa, namun memiliki segala sesuatu.”
Ini menunjukkan bahwa kebahagiaan sejati tidak tergantung pada keadaan luar, tetapi pada relasi-perjumpaan dengan Allah.

Bagi JPIC, semangat ini sangat relevan. Perjuangan untuk keadilan, perdamaian, dan keutuhan ciptaan sering kali penuh tantangan dan rintangan yang kadang-kadang datang dari dalam diri sendiri. Bisa ada penolakan, ketidakadilan, bahkan membiarkan dalam kelelahan. Namun seperti Paulus, kami diajak untuk tetap setia.
Karena ketika kita hidup dalam kasih karunia Allah, setiap derita tidak sia-sia. Justru di sanalah Allah bekerja, mengubah luka menjadi kekuatan, dan perjuangan menjadi kemuliaan.
Belajar dari Paulus berarti berani menjalani proses. Tidak cepat menyerah ketika menghadapi kesulitan, tetapi tetap percaya bahwa Allah berkarya dalam segala hal. Dari derita, kita dibentuk. Dari kesetiaan, lahirlah sukacita. Dan akhirnya, hidup kita menjadi tanda kemuliaan Allah bagi dunia.
Sebagai Pelayan Allah, buah kepercayaan itu dihayati dengan sukacita. Sukacita tidak sama dengan kesenangan, tetapi kuasa iman bahwa kasih karunia Allah tidak pernah sia-sia. Firman kasih karunia itu adalah karya Allah tidak akan gagal.
Hidup di dalam kasih karunia berarti hidup pelayanan yang mendatangkan sukacita, walaupun tidak luput dari tantangan dan rintangan, dengan aneka rasa kecil hati, cemas yang berlebihan, namun, yakin bahwa Allah yang telah memulai karya yang baik akan menyelesaikannyas dengan baik juga.
Kami memulai pelayanan dengan mengikuti amanat Laudato Si’. Dengan program kerja Bersih dan Hijau.
Lingkungan bersih dari sampah baik organik maupun anorganik. Kami mengurangi bahkan stop menghasilkan sampah anorganik (plastik-plastik dan sejenisnya) dan yang organik (daun-daun, sampah dapur) diolah menjadi kompos-pupuk organik dan Eco Enzyme.
Hijau kami mulai dengan menanam buah-buahan baik dalam pot maupun di tanah, bunga-bunga dan sayuran. Dalam program hijau ini fokus pada menanam apa yang dimakan dan makan apa yang ditanam, sehingga konsumsinya natural-organik.
Hal ini untuk mencegah makanan yang mengandung bahan kimia. Kami juga menyiapkan apotik hidup (jahe, kunyit, temulawak, kencur, serai, sirih hijau dan merah, dsb.).
Selain itu juga sebagai animasi edukasi bagi kaum muda. Animasi dapat terjadi baik di pondok TheRita maupun di luar; sekolah dan asrama yang membutuhkan pendampingan. Kami terus bersuara menjaga dan merawat ibu bumi.
Bahwa ada yang tergerak hati datang mau belajar, dengan senang hati kami menyambutnya. Semua pelayanan di Pondok TheRita semata-mata sebagai implementasi harapan dari Laudato Si’.*Br. Gerardus, MTB. JPIC MTB.





