MajalahDUTA.Com | Perguruan tinggi tidak selalu bermula dari gedung megah atau fasilitas yang lengkap. Ada kalanya, sebuah institusi pendidikan lahir dari keprihatinan sederhana: bagaimana memberikan kesempatan kepada generasi muda untuk memperoleh pendidikan tinggi yang bermutu dan terjangkau.
Gagasan itulah yang menjadi bagian penting dari perjalanan Universitas Widya Dharma Pontianak (UWDP). Dalam sambutannya pada kegiatan Campus Visit and Dinner Hari Studi Asosiasi Perguruan Tinggi Katolik (APTIK), Jumat, 23 Oktober 2026, Pater Kosmas Jang, OFMCap, mengajak para peserta mengenal kembali sejarah dan semangat awal pendirian kampus tersebut.
Pater Kosmas menceritakan bahwa UWDP berawal dari kepedulian sejumlah umat Katolik dan para Kapusin pada 1983 terhadap keterbatasan akses pendidikan tinggi bagi generasi muda di Kalimantan Barat.
Pada masa itu, pendidikan tinggi yang terjangkau menjadi kebutuhan penting agar anak-anak muda memiliki kesempatan mengembangkan kemampuan dan masa depan mereka.
“Tujuannya bukan terutama untuk membangun gedung yang megah, melainkan membuka pintu bagi generasi muda agar mereka dapat memperoleh akses pendidikan tinggi dengan biaya yang terjangkau, tetapi tetap bermutu,” demikian inti pesan Pater Kosmas dalam sambutannya.
Semangat tersebut menjadi landasan yang mengiringi perkembangan lembaga pendidikan itu, dari bentuk awal akademi hingga bertumbuh menjadi Universitas Widya Dharma Pontianak.
Perjalanan tersebut memperlihatkan bahwa pendidikan tinggi dapat berkembang dari sebuah kepedulian terhadap kebutuhan masyarakat.

Kamis-Jumat, 22-24 Oktober 2026
Belajar dari pengalaman perguruan tinggi lain
Pater Kosmas menyampaikan terima kasih kepada APTIK yang telah mempercayakan UWDP sebagai tuan rumah Hari Studi.
Dia memandang pertemuan tersebut sebagai kesempatan bagi UWDP untuk belajar dari pengalaman perguruan tinggi Katolik lainnya, khususnya institusi yang telah lebih dahulu berkembang dalam tata kelola dan pengelolaan kelembagaan.
Baginya, perjumpaan antarkampus bukan sekadar agenda seremonial.
“Pertemuan itu perlu menjadi ruang untuk berbagi pengalaman, memperluas wawasan, serta menemukan praktik baik yang dapat disesuaikan dengan kebutuhan masing-masing institusi,” katanya.
Pater Kosmas juga melanjutkan bahwa dalam menghadapi tantangan pendidikan tinggi, perguruan tinggi perlu terus memperkuat tata kelola, menjaga keberlanjutan lembaga, dan meningkatkan mutu pelayanan pendidikan.
“Pengalaman institusi lain dapat menjadi bahan pembelajaran bagi UWDP untuk mengembangkan potensinya,” katanya.
Pater Kosmas juga menyampaikan harapan agar UWDP terus bertumbuh dan semakin dikenal melalui karya pendidikan yang dijalankannya. Pertumbuhan itu diharapkan tidak membuat kampus melupakan cita-cita awal yang melandasi pendiriannya.

Nama gedung dan ingatan akan spiritualitas Fransiskan
Dalam sambutannya, Pater Kosmas turut memperkenalkan lingkungan kampus UWDP yang menggunakan nama sejumlah santo dalam tradisi Fransiskan, antara lain Santo Fransiskus dari Assisi, Santa Klara dari Assisi, Santo Padre Pio, Santo Lorenzo da Brindisi, dan Santo Leopoldo Mandic.
Penamaan tersebut menjadi pengingat akan akar spiritualitas yang mewarnai perjalanan lembaga. Nilai kesederhanaan, persaudaraan, pelayanan, dan keberpihakan kepada masyarakat kecil menjadi bagian dari warisan yang perlu terus dihidupi.
Bagi perguruan tinggi yang bertumbuh, identitas bukan sekadar nama atau simbol yang melekat pada bangunan.
“Identitas memperoleh maknanya ketika diterjemahkan ke dalam cara lembaga mendidik, melayani mahasiswa, dan membangun hubungan dengan masyarakat,” tuturnya.
Kunjungan para peserta APTIK ke UWDP berlangsung di Gedung Santo Fransiskus Assisi lantai 10, kampus yang berlokasi di Jalan HOS Cokroaminoto, Kelurahan Daratsekip, Kecamatan Pontianak Kota, Kota Pontianak.
Malam kebersamaan itu juga diisi penampilan mahasiswa berupa tarian tradisional, nyanyian khas Pontianak, dan musik tradisional Tiongkok. Pertunjukan tersebut menghadirkan suasana budaya dalam pertemuan yang berfokus pada pembelajaran dan transformasi perguruan tinggi.
Kegiatan ini berlangsung bertepatan dengan peringatan Hari Jadi ke-255 Kota Pontianak pada 2026. Kehadiran seni dan tradisi dalam agenda kampus menjadi kesempatan untuk memperkenalkan kekayaan budaya lokal kepada para tamu dari berbagai perguruan tinggi.

Kamis-Jumat, 22-24 Oktober 2026
Bertumbuh tanpa melupakan tujuan
Bagi Pater Kosmas, kesempatan menjadi tuan rumah Hari Studi APTIK juga menjadi ruang untuk mempererat hubungan antarlembaga pendidikan Katolik.
Ia berharap UWDP dapat memperoleh banyak pembelajaran dari pertemuan tersebut dan menggunakannya untuk memperkuat langkah pengembangan kampus.
Pesan yang disampaikan dalam sambutannya menempatkan sejarah pendirian UWDP sebagai pengingat bahwa pendidikan tinggi memiliki tanggung jawab yang lebih luas daripada sekadar mengelola institusi. Pendidikan perlu membuka kesempatan, mengembangkan potensi manusia, dan memberikan manfaat bagi masyarakat.
“Di tengah tuntutan transformasi perguruan tinggi, semangat awal itu tetap relevan. Tata kelola yang baik, keberlanjutan finansial, dan pemanfaatan teknologi memang penting, tetapi semuanya perlu diarahkan pada tujuan pendidikan yang bermakna,” pungkasnya.
Pater Kosmas mendeskripsikan bahwa perjalanan UWDP menunjukkan bagaimana sebuah gagasan yang lahir dari kepedulian dapat berkembang menjadi institusi pendidikan tinggi. Tantangan berikutnya adalah memastikan bahwa pertumbuhan tersebut tetap berpijak pada cita-cita awal yakni menghadirkan pendidikan yang terjangkau, bermutu, dan memberi kesempatan bagi generasi muda untuk membangun masa depan.*(Samuel).





