Monday, October 26, 2026
More

    Belajar dari Praktik Baik, APTIK Perkuat Transformasi Perguruan Tinggi

    MajalahDUTA.Com | Kunjungan ke Universitas Widya Dharma Pontianak menjadi bagian dari rangkaian Hari Studi Asosiasi Perguruan Tinggi Katolik (APTIK) yang berlangsung pada 22–24 Oktober 2026 di Pontianak.

    Melalui kegiatan Campus Visit and Dinner pada Jumat (23/10/2026), para peserta tidak hanya mengenal lingkungan kampus, tetapi juga berbagi pengalaman mengenai pelayanan pendidikan tinggi, identitas kelembagaan, dan tantangan pengembangan universitas Katolik di Indonesia.

    Bertepatan dengan Hari Ulang Tahun (HUT) atau Hari Jadi ke-255 Kota Pontianak diperingati pada 23 Oktober 2026 (23 Oktober 1771 – 23 Oktober 2026). Bertempat di Gedung Santo Fransiskus Assisi lantai 10, kampus UWDP di Jalan HOS Cokroaminoto, Kelurahan Daratsekip, Kecamatan Pontianak Kota, Kota Pontianak, kegiatan Campus Visit and Dinner berlangsung.

    Kegiatan yang berlangsung pukul 17.30–21.00 WIB tersebut menjadi kelanjutan dari agenda hari kedua bertema “Belajar dari Praktik Baik Transformasi Perguruan Tinggi”.

    Sebelumnya, peserta mengikuti panel praktik baik transformasi perguruan tinggi Indonesia dengan menghadirkan Rektor Universitas Internasional Batam, Dr. Iskandar Itan, S.E., M.M., CRBC., CSRS., CSRA., CSP, serta Rektor Universitas Muhammadiyah Yogyakarta, Prof. Dr. Achmad Nurmandi, M.Sc. Agenda kemudian dilanjutkan dengan diskusi kelompok mengenai adaptasi praktik baik bagi perguruan tinggi Katolik.

    Rektor Universitas Widya Dharma Pontianak, Dr. M. Hadi Santoso, S.E., M.M., menyambut kunjungan tersebut sebagai kehormatan sekaligus kesempatan untuk belajar dari perguruan tinggi lain.

    “Pertemuan ini merupakan kesempatan yang sangat besar bagi kami untuk berbagi cerita dan pengalaman,” kata Hadi.

    Menurut dia, kehadiran para pimpinan dan perwakilan perguruan tinggi Katolik dari berbagai daerah menjadi kesempatan untuk memperluas wawasan serta mempelajari praktik pengelolaan perguruan tinggi yang telah berkembang di tempat lain. Dia berharap pertemuan tersebut tidak berhenti pada kegiatan seremonial, tetapi mendorong kemajuan pendidikan tinggi di Pontianak.

    Hadi menjelaskan, persiapan menyambut peserta telah dilakukan sejak September 2026, ketika Pontianak menghadapi kabut asap. Kondisi tersebut sempat menimbulkan kekhawatiran bagi para tamu yang akan datang.

    “Hampir setiap hari kami dihubungi oleh para tamu yang akan datang. Mereka bertanya bagaimana kondisi asap di Pontianak,” ujarnya.

    Dia mengaku rutin mengirimkan foto kondisi kota kepada para tamu untuk memberikan gambaran situasi terkini. Pada akhirnya, kegiatan dapat berlangsung dengan lancar.

    Hadi juga menyampaikan bahwa APTIK memiliki 26 yayasan dan 27 perguruan tinggi. Dalam kegiatan tersebut, 26 perguruan tinggi hadir mengikuti rangkaian pertemuan.

    DOKUMENTASI – Campus Visit dan Dinner di Universitas Widya Dharma Pontianak. Rangkaian HARI STUDI APTIK
    Kamis-Jumat, 22-24 Oktober 2026

    Mengembangkan pelayanan yang relevan

    Kesan positif terhadap Universitas Widya Dharma juga disampaikan P. Cyprianus Kuntoro Adi, S.J., Ketua Yayasan Sanata Dharma Yogyakarta.

    Dia melihat perkembangan Widya Dharma sebagai perjalanan kelembagaan yang patut diperhatikan. Ketika pertama kali berkunjung, institusi tersebut masih berstatus sekolah tinggi. Kini, Widya Dharma telah berkembang menjadi universitas.

    Menurut Romo Adi, Widya Dharma berupaya mengoptimalkan potensi yang dimiliki dan memberikan perhatian serius terhadap pelayanan mahasiswa. Dia juga melihat adanya bidang-bidang pendidikan yang dikembangkan secara lebih spesifik, termasuk program yang tidak selalu tersedia di perguruan tinggi lain.

    Pengalaman selama Hari Studi APTIK turut mendorongnya merefleksikan kembali cara perguruan tinggi melayani masyarakat.

    “Suka atau tidak suka, kita sebagai perguruan tinggi mau tidak mau perlu melayani dengan cara yang berbeda agar tetap relevan,” ujarnya.

    Romo Adi juga menilai kebutuhan masyarakat terhadap pendidikan terus berubah. Perguruan tinggi tidak lagi hanya dapat berorientasi pada lulusan sekolah menengah atas, tetapi juga perlu mempertimbangkan kebutuhan orang-orang yang telah bekerja, para profesional, serta masyarakat yang membutuhkan pelatihan atau kursus tertentu.

    Perubahan tersebut, menurut dia, menuntut perguruan tinggi untuk menata kembali program pendidikan, fungsi pengelolaan, dan strategi pengembangan kelembagaan. Tantangan ini semakin penting bagi perguruan tinggi swasta yang menghadapi penurunan jumlah mahasiswa dan perlu menjaga keberlanjutan keuangan tanpa mengorbankan mutu pendidikan.

    Dia mengaku mendapatkan banyak inspirasi dari pertemuan tersebut. Baginya, perguruan tinggi tidak seharusnya menunggu perubahan besar terjadi sebelum melakukan pembenahan.

    “Kita tidak perlu menunggu sampai terjadi perubahan yang drastis, baru kemudian kita tergagap-gagap menghadapi keadaan,” katanya.

    Romo Adi mendorong setiap perguruan tinggi untuk mulai mengenali kekuatan yang dimiliki, menentukan hal-hal yang perlu dikembangkan, dan menata kembali aspek-aspek yang belum optimal. Dengan begitu, universitas dapat terus memberikan pelayanan yang bermakna dan membuka peluang masa depan bagi mahasiswa.

    DOKUMENTASI – Campus Visit dan Dinner di Universitas Widya Dharma Pontianak. Rangkaian HARI STUDI APTIK
    Kamis-Jumat, 22-24 Oktober 2026

    Kolaborasi untuk mengejar ketertinggalan

    Pentingnya kerja sama antarkampus juga menjadi perhatian Yosefin Dewi, yang mengikuti kegiatan APTIK di Pontianak. Dia menilai pertemuan tersebut penting bagi perguruan tinggi Katolik yang menghadapi persaingan dengan perguruan tinggi negeri maupun institusi pendidikan tinggi lainnya.

    Dalam pandangannya, sejumlah perguruan tinggi Katolik telah memiliki sejarah panjang, tetapi usia kelembagaan tidak dengan sendirinya menjamin keunggulan dalam setiap aspek pengelolaan.

    Melalui sesi berbagi praktik baik bersama Universitas Internasional Batam dan Universitas Muhammadiyah Yogyakarta, peserta memperoleh kesempatan untuk melihat pengalaman perguruan tinggi lain dalam pengembangan akreditasi, tata kelola, organisasi, dan pengelolaan keuangan.

    Yosefin menilai perguruan tinggi yang telah lebih maju dapat berperan membantu institusi yang masih membutuhkan penguatan, terutama yang berada di luar Pulau Jawa. Pendampingan dan pertukaran pengalaman dapat menjadi jalan untuk mengurangi kesenjangan kapasitas antarkampus.

    “Jadi, akan sangat baik apabila kita bisa saling berbagi pengalaman dan menguatkan satu sama lain,” ujarnya.

    Ketika diminta menyampaikan satu kata sebagai harapan bagi masa depan APTIK, Yosefin menjawab singkat, “Kolaborasi.”

    Pesan tersebut menegaskan pentingnya membangun hubungan antarlembaga yang tidak hanya bersifat administratif, tetapi juga menghasilkan dukungan konkret bagi peningkatan mutu dan keberlanjutan perguruan tinggi.

    DOKUMENTASI – Campus Visit dan Dinner di Universitas Widya Dharma Pontianak. Rangkaian HARI STUDI APTIK
    Kamis-Jumat, 22-24 Oktober 2026

    AI dan masa depan perguruan tinggi

    Tantangan transformasi pendidikan tinggi juga berkaitan dengan perkembangan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI). Prof. Henky Muljana dari Universitas Katolik Parahyangan (UNPAR), Bandung, yang turut membantu APTIK sebagai koordinator jaringan lembaga penelitian dan optimalisasi pengabdian kepada masyarakat, menilai perkembangan AI perlu direspons secara serius oleh perguruan tinggi Katolik.

    “Kami merasakan pentingnya transformasi perguruan tinggi akibat keberadaan AI yang memang tidak bisa kita elakkan,” kata Prof. Henky.

    Menurut dia, perguruan tinggi perlu menyikapi perkembangan tersebut dengan menyusun strategi yang sesuai dengan kebutuhan dan kondisi masing-masing institusi, dengan arahan APTIK. Hari Studi APTIK yang diselenggarakan setiap tahun menjadi ruang untuk membahas perubahan, berbagi pengalaman, dan merumuskan langkah pengembangan kelembagaan.

    Prof. Henky juga mengapresiasi Universitas Widya Dharma sebagai tuan rumah. Kunjungan ke Pontianak kali ini merupakan kunjungan ketiganya, dan pada ketiga kesempatan tersebut Universitas Widya Dharma menjadi tuan rumah kegiatan yang diikutinya.

    Dia berharap Pontianak terus berkembang dengan tetap menjaga kekayaan budaya dan kuliner khasnya. Bertepatan dengan peringatan hari jadi Kota Pontianak ke-255, Prof. Henky menyampaikan harapan agar kota ini terus maju.

    DOKUMENTASI – Campus Visit dan Dinner di Universitas Widya Dharma Pontianak. Rangkaian HARI STUDI APTIK
    Kamis-Jumat, 22-24 Oktober 2026 (Musik tradisi Tiongkok)

    Kampus sebagai ruang persaudaraan dan pembelajaran

    Dalam sambutannya, Pater Kosmas Jang, OFMCap, menyampaikan bahwa Universitas Widya Dharma Pontianak lahir dari kegelisahan para awam Katolik bersama para kapusin pada 1983.

    Saat itu, banyak anak muda di Kalimantan Barat mengalami kesulitan memperoleh akses pendidikan tinggi.

    Pendirian perguruan tinggi tersebut, menurut Pater Kosmas, tidak semata-mata bertujuan membangun institusi pendidikan, tetapi membuka kesempatan bagi generasi muda untuk memperoleh pendidikan bermutu dengan biaya terjangkau.

    “Tujuannya bukan terutama untuk membangun gedung yang megah, melainkan membuka pintu bagi generasi muda agar mereka dapat memperoleh akses pendidikan tinggi dengan biaya yang terjangkau, tetapi tetap bermutu,” ujarnya.

    Dia juga menjelaskan bahwa sejumlah gedung kampus menggunakan nama orang-orang kudus dalam tradisi Fransiskan dan Kapusin. Nama-nama tersebut menjadi pengingat akan nilai kesederhanaan, pelayanan, persaudaraan, dan keberpihakan kepada kaum kecil.

    Pater Kosmas berharap kunjungan APTIK tidak berhenti pada jamuan dan pertemuan malam itu. Universitas Widya Dharma ingin terus belajar dari perguruan tinggi lain, terutama mengenai identitas dan misi, tata kelola, keberlanjutan, serta praktik-praktik baik dalam pengelolaan pendidikan tinggi.

    “Kami ingin terus belajar dari universitas-universitas yang besar dan ternama. Kami ingin belajar tentang identitas dan misi, tentang tata kelola, tentang keberlanjutan, serta tentang praktik-praktik baik dari kita semua,” katanya.

    Dia berharap kampus yang berada di Kota Khatulistiwa tersebut dapat terus bertumbuh, berkembang, berbuah, dan bercahaya.

    Lebih dari sekadar agenda kunjungan, pertemuan tersebut juga disajikan dengan berbagai penampilan dari Mahasiwa Universitas Widya Dharma Pontianak dengan menyajikan tarian tradisional Dayak, Tionghua dan berbagai penampilan nusantara lainnya.

    Bagi rektor UWDP, Hadi Santoso mengatakan bahwa kolaborasi mencerminkan semangat belajar bersama dalam menghadapi perubahan pendidikan tinggi, memperkuat kolaborasi, dan menjaga agar perguruan tinggi Katolik tetap relevan bagi masyarakat.*(Samuel).

    Related Articles

    spot_img
    spot_img
    spot_img

    Latest Articles