Friday, June 26, 2026
More

    Figur Publik Digital dan Krisis Nalar Publik

    DUTA, Pontianak – Perkembangan teknologi digital dan media sosial telah melahirkan fenomena figur publik digital, seperti influencer, content creator, dan selebritas internet. Mereka hadir sebagai tokoh yang tidak hanya menghibur, tetapi juga membentuk opini, gaya hidup, serta pola konsumsi masyarakat.

    Dalam banyak kasus, figur publik digital bahkan lebih dipercaya dibandingkan institusi formal, pakar, atau media arus utama. Kondisi ini menunjukkan adanya ketergantungan berlebihan yang patut dikritisi, terutama dari sisi rasionalitas publik, kualitas informasi, dan kemandirian berpikir masyarakat digital.

    Ketergantungan berlebihan pada figur publik digital muncul karena kombinasi antara popularitas, kedekatan emosional, dan algoritma media sosial. Influencer sering membangun citra seolah-olah dekat dengan pengikutnya melalui narasi personal dan interaksi langsung.

    Kedekatan semu ini menciptakan rasa percaya yang kuat, meskipun tidak selalu didukung oleh kompetensi atau keahlian yang memadai. Akibatnya, opini dan rekomendasi yang disampaikan figur publik digital sering diterima tanpa proses verifikasi kritis. Masalah pertama dari ketergantungan ini adalah kaburnya batas antara opini personal dan kebenaran objektif.

    Banyak figur publik digital membahas isu kesehatan, keuangan, pendidikan, bahkan politik, tanpa latar belakang akademik atau profesional yang relevan. Penelitian karya ilmiah yang dipublikasikan pada tahun 2024 menunjukkan bahwa kepercayaan terhadap influencer lebih dipengaruhi oleh daya tarik personal dan interaksi emosional daripada kualitas informasi yang disampaikan.

    Hal ini membuat masyarakat rentan terhadap misinformasi dan simplifikasi isu kompleks (Binus Business Review, 2024). Kedua, algoritma media sosial memperparah ketergantungan ini. Algoritma cenderung mempromosikan konten yang memiliki tingkat keterlibatan tinggi, bukan konten yang paling akurat atau mendidik. Figur publik digital dengan jumlah pengikut besar akan semakin diuntungkan, sementara sumber alternatif yang lebih kredibel namun kurang populer menjadi tenggelam.

    Akibatnya, masyarakat semakin terjebak dalam echo chamber, di mana pandangan yang sama terus diulang tanpa ruang dialog kritis. Ketergantungan ini tidak hanya membentuk preferensi individu, tetapi juga memengaruhi opini publik secara luas. Ketiga, figur publik digital sering berperan sebagai agen komersial terselubung.

    Banyak konten yang tampak sebagai pengalaman pribadi ternyata merupakan bagian dari strategi pemasaran. Studi konseptual tentang influencer marketing tahun 2024 menegaskan bahwa keterlibatan emosional pengikut sering dimanfaatkan untuk mendorong keputusan pembelian impulsif.

    Dalam situasi ini, pengikut tidak lagi bertindak sebagai konsumen rasional, melainkan sebagai target persuasi berbasis emosi dan identifikasi sosial (ISC-BEAM Proceedings, 2024).Ketergantungan ini juga berdampak pada aspek psikologis dan sosial, terutama di kalangan generasi muda.

    Paparan terus-menerus terhadap gaya hidup ideal yang ditampilkan figur publik digital dapat menimbulkan tekanan sosial, rasa tidak percaya diri, dan kecemasan. Standar kesuksesan bergeser dari pencapaian nyata ke popularitas digital, seperti jumlah pengikut dan tingkat interaksi. Dalam jangka panjang, kondisi ini dapat melemahkan nilai kerja keras, proses belajar, dan pencapaian berbasis kompetensi.

    Lebih jauh lagi, ketergantungan berlebihan pada figur publik digital berpotensi melemahkan kualitas demokrasi dan diskursus publik. Ketika opini masyarakat dibentuk oleh individu yang memiliki kepentingan ekonomi atau popularitas, ruang publik kehilangan keseimbangannya.

    Narasi yang sederhana dan emosional lebih mudah diterima dibandingkan analisis yang mendalam dan berbasis data. Hal ini berbahaya karena masyarakat tidak lagi menilai argumen berdasarkan rasionalitas, melainkan berdasarkan siapa yang menyampaikannya.

    Namun demikian, kritik terhadap ketergantungan ini tidak berarti menolak sepenuhnya peran figur publik digital. Influencer yang bertanggung jawab dan memiliki kesadaran etis dapat menjadi sarana edukasi dan penyebaran nilai positif. Beberapa figur publik digital berhasil mengampanyekan literasi keuangan, kesehatan mental, dan isu sosial secara efektif.

    Masalahnya bukan pada keberadaan mereka, melainkan pada sikap masyarakat yang terlalu menggantungkan penilaian dan keputusan pada figur tersebut. Oleh karena itu, solusi utama dari persoalan ini adalah penguatan literasi media dan literasi digital.

    Masyarakat perlu dibekali kemampuan untuk menilai kredibilitas sumber, memahami motif di balik konten, serta membedakan antara opini, promosi, dan fakta. Pendidikan formal dan informal harus mendorong sikap kritis terhadap media sosial, bukan sekadar kemampuan teknis dalam menggunakannya.

    Sebagai penutup, ketergantungan berlebihan pada figur publik digital merupakan fenomena sosial yang tidak bisa dihindari, tetapi dapat dikendalikan. Masyarakat digital yang sehat adalah masyarakat yang mampu memanfaatkan pengaruh figur publik secara selektif, tanpa kehilangan nalar kritis dan kemandirian berpikir.

    Popularitas seharusnya tidak menjadi pengganti kebenaran, dan jumlah pengikut tidak boleh dijadikan ukuran utama kredibilitas. Dalam dunia digital yang semakin kompleks, berpikir kritis adalah bentuk kebebasan paling mendasar.

    Selain itu, ketergantungan pada figur publik digital juga menunjukkan adanya pergeseran otoritas dalam masyarakat modern. Jika sebelumnya otoritas pengetahuan berada pada institusi pendidikan, akademisi, dan media profesional, kini otoritas tersebut sering berpindah ke individu yang memiliki daya tarik visual dan kemampuan membangun persona digital.

    Pergeseran ini tidak selalu negatif, tetapi menjadi masalah ketika legitimasi sosial lebih ditentukan oleh popularitas daripada kompetensi. Dalam jangka panjang, kondisi ini berpotensi menurunkan penghargaan terhadap proses belajar, keahlian, dan pemikiran berbasis data.

    Dalam konteks mahasiswa dan kaum terdidik, fenomena ini seharusnya menjadi alarm penting. Mahasiswa memiliki peran strategis sebagai kelompok yang diharapkan mampu berpikir kritis dan rasional di tengah derasnya arus informasi. Ketergantungan berlebihan pada figur publik digital tanpa sikap kritis justru bertentangan dengan nilai akademik yang menjunjung tinggi analisis, argumentasi, dan pembuktian ilmiah.

    Oleh karena itu, mahasiswa perlu menempatkan media sosial sebagai sumber awal informasi, bukan sebagai rujukan akhir dalam membentuk pandangan dan keputusan. Lebih jauh, sikap kritis terhadap figur publik digital juga berkaitan dengan tanggung jawab sosial. Setiap individu memiliki peran dalam menciptakan ekosistem digital yang sehat, baik sebagai konsumen maupun produsen informasi.

    Dengan tidak serta-merta membagikan konten yang bersifat manipulatif, sensasional, atau menyesatkan, masyarakat turut berkontribusi dalam menekan dampak negatif dari dominasi figur publik digital. Kesadaran kolektif ini penting agar ruang digital tidak hanya menjadi sarana hiburan, tet api juga ruang pembentukan pengetahuan yang bertanggung jawab.

     

    DAFTAR REFERENSI:

    1).Dauhan, F. A., & Langi, F. K. (2024).

    Social Media Influencer: The Influence of Followers’ Purchase Intention through Online Engagement and Attitude.

    Binus Business Review.

    PDF: https://journal.binus.ac.id/index.php/BBR/article/view/10185

    2) .Mohd Khairulamiren, M. S., & Aziz, F. A. (2024).

    Influencer Marketing and Engagement of Social Media Influencers: A Conceptual Paper.

    ISC-BEAM Proceedings.

     PDF: https://journal.unj.ac.id/unj/index.php/isc-beam/article/view/46529

    3). Telkom University Open Library (2025).

    Pengaruh Media Sosial Influencer dan Scarcity terhadap Pembelian Impulsif dengan Fear of Missing Out sebagai Mediasi.

     PDF: https://openlibrary.telkomuniversity.ac.id/pustaka/2415495

    4). Mohd Khairulamiren, M. S., & Aziz, F. A. (2024).Influencer Marketing and Engagement of Social Media Influencers: A Conceptual Paper.

    ISC-BEAM Proceedings.

     PDF: https://journal.unj.ac.id/unj/index.php/isc-beam/article/view/46529

    5). Telkom University Open Library (2025).

    Pengaruh Media Sosial Influencer dan Scarcity terhadap Pembelianp Impulsif dengan Fear of Missing Out sebagai Mediasi.

     PDF: https://openlibrary.telkomuniversity.ac.id/pustaka/241549

    *Petronela Ribi _ 3B mahasiswa AKUB_San Agustin Kampus II Pontianak
    *Editor – Samuel, S.E., M.M.

     

    Related Articles

    spot_img
    spot_img

    Latest Articles