Friday, June 5, 2026
More
    Home Blog Page 37

    Jagung Tidak Suka Genangan

    Temuan Penelitian Mahasiswa di Belakang Kampus Ungkap Risiko Gagal Panen (Pianus Tutuk)

    Duta, Landak | Pengamatan yang dilakukan oleh mahasiswa agribisnis dan Ketua Program Studi agribisnis di Universitas Katolik Santo Agustinus Hippo menemukan bahwa genangan air yang terdapat di lokasi pengamatan berpengaruh negatif atas perkembangan pertumbuhan tanaman jagung.

    Penelitian ini dilaksanakan lansung di lahan percobaan di belakang kampus III Universitas Katolik Santo Agustinus Hippo yang berlokasi di plasma dua kecamatan Ngabang, Kabupaten Landak.

    “tujuan kami adalah melihat bagaimana perkembangan tanaman jagung di area lahan yang lembab dan tergenang air serta melihat seberapa besar dampak dari risiko gagal panen,” ujar peneliti utama, Pianus Tutuk, yang merupakan mahasiswa agribisnis semester 4.

    Hasil awal menunjukan bahwa tanaman jagung yang tergenang oleh air atau lembab selama lebih dua hari mengalami pertumbuhan yang lambat, daun menguning, dan pembusukan batang. Hal ini sangat sesuai dengan teori bahwa jagung tidak tahan terhadap genangan air, terutama pada sistem perakarannya.

    Temuan Penelitian Mahasiswa di Belakang Kampus Ungkap Risiko Gagal Panen (Pianus Tutuk)

    Ketua program studi agribisnis yang mendampingi penelitian ini menyampaikan bahwa hasil ini penting untuk mengedukasi para petani lokal yang ada di kecamatan Ngabang. “banyak petani jagung yang masih menanam jagung di lahan rendah tanpa menggunakan sistem drainase yang dimana ini adalah salah satu resiko yang sangat mengancam hasil panen mereka,” ujar beliau.

    Penelitian ini membuka ruang diskusi tentang perlu nya memilih waktu tanam, pengelolaan air, membuat drainase, serta pengelolaan air yang tepat dalam budidaya tanaman jagung. Terutama di daerah dataran rendah seperti di plasma II kecamatan Ngabang.

    Rencananya, hasil penelitian ini akan dipublikasikan dalam bentuk laporan akademik dan digunakan sebagai bahan edukasi bagi petani mitra kampus maupun mahasiswa baru di mata kuliah praktikum ekologi pertanian.

    Pengamatan ini dilakukan selama lebih dari empat mimggu, dengan membandingkan dua perlakuan utama yaitu jagung yang di tanam dengan drainase baik dan jagung yang di tanam di areal tergenang air. Kedua lahan ini masih berada di kawasan praktek kampus III Universitas Katolik Santo Agustinus Hippo, yang saat ini di manfaatkan sebagai lahan praktek terbuka bagi mahasiswa agribisnis.

    Menurut pengamatan harian yang dicatat dalam jurnal lapangan, jagung pada lahan tergenang mulai menunjukkan gejala stres sejak hari ketiga. Daun mulai menguning, batang tampak lemah, dan perkembangan tinggi tanaman jauh lebih lambat dibandingkan tanaman yang ditanam di lahan kering.

    “Selisih pertumbuhannya sangat nyata dan mulai terlihat. Di minggu kedua, tanaman di lahan kering sudah mencapai 35 cm, sedangkan yang tergenang hanya sekitar 20 cm dan warnanya menguning,” ujar Tutuk.

    Hasil pengamatan menunjukan hasil rata rata mengalami penurunan pertumbuhan hingga mencapai 45% pada lahan tergenang. Jumblah daun dan ukuran batang mengalami penurunan signifikan.

    Melalui penelitian ini, mahasiswa dan dosen berharap bisa meningkatkan kesadaran petani lokal khusus nya Kabupaten Landak, terutama yang bertani di dataran rendah, agar lebih memperhatikan kondisi fisik lahan sebelum menanam jagung. Kesalahan umum yang masih sering terjadi adalah penanaman jagung tanpa memperhitungkan drainase, waktu tanam, dan pola hujan.

    “Jagung itu tidak butuh air banyak seperti padi. Justru akar dan batangnya cepat rusak kalau tergenang. Ini penting untuk terus disosialisasikan,” tambah Ketua Program Studi Agribisnis.

    Sebagai tindak lanjut, hasil penelitian ini akan dijadikan bahan diskusi dalam seminar kampus dan disusun menjadi modul praktikum. Tim peneliti juga berencana melakukan demonstrasi lahan percontohan dengan sistem guludan atau bedengan yang lebih tahan genangan, serta melihat efektivitas varietas jagung toleran cekaman air.

    Mahasiswa berharap hasil penelitian ini tidak hanya bermanfaat bagi kampus, tetapi juga bisa diterapkan di lapangan secara nyata demi terus menjaga ketahanan pangan.

    Dengan meningkatnya pengetahuan dan keterampilan budidaya jagung berbasis kondisi lahan, petani di Kecamatan Ngabang dan sekitarnya diharapkan mampu menghindari kerugian akibat kegagalan panen di musim hujan yang dimana rata rata curah hujan di plasma 2  selama 28 hari adalah 14,35 mm/hari menurut hasil pengamatan dari mata kuliah Agroklimatologi yang di amati oleh mahasiswa agribisnis dan di dampingi dosen agroklimatologi yaitu Yuvensius Ampari Pratama, ST.P.,M.Si.

    “Kalau kita mulai dari riset kecil seperti ini, lalu dikembangkan ke kelompok tani dan sekolah lapang, lama-lama petani kita pasti akan lebih siap menghadapi perubahan iklim dan cuaca yang tak menentu,” tutup Tutuk.

    * Pianus Tutuk adalah mahasiswa aktif Agribisnis semester 5 di Universitas Katolik Santo Agustinus Hippo Kampus 3 Plasma 2, Fakultas Sains Dan Teknologi (Ngabang, Kabupaten Landak).

    Memilih Solidaritas Semu atau Sejati?

    Oleh: Samuel, S.E., M.M. Dosen di Universitas Katolik Santo Agustinus Hippo Kampus II Pontianak, Akademi Keuangan dan Perbankan Grha Arta Khatulistiwa Pontianak

    Duta, Pontianak | Dalam kehidupan masyarakat modern yang kompleks sekarang, pertanyaan tentang bagaimana menjaga keteraturan sosial, menghindari perpecahan, dan membangun kerja sama yang ‘sehat’ menjadi topik relevan. Hal ini juga pernah saya bawa untuk mahasiswa saya di Universitas Katolik Santo Agustinus Hippo (San Agustin) untuk Keuangan dan Perbankan, terutama dalam membahas topik seputar ekonomi dan sosial.

    Salah satu tokoh penting yang membahas persoalan ini secara mendalam adalah Émile Durkheim, sosiolog asal Prancis yang dikenal sebagai salah satu pendiri sosiologi modern. Ia memperkenalkan dua konsep kunci: fakta sosial dan solidaritas sosial — dua hal yang, jika dipahami dengan baik, dapat menjadi fondasi kuat untuk kehidupan bermasyarakat yang adil dan beradab.

    Durkheim mendefinisikan fakta sosial sebagai cara berpikir, merasa, dan bertindak yang berada di luar individu namun memiliki daya memaksa atasnya. Dengan kata lain, ketika kita mengikuti hukum, berpakaian sesuai norma, atau merayakan hari besar nasional, kita sedang mengikuti fakta sosial — struktur yang lebih besar dari diri kita sendiri. Fakta sosial bersifat eksternal, kolektif, dan memaksa- dalam arti ini bahwa “fakta sosial dengan kekuasaan tak terlihat itulah yang membentuk kita”.

    Konsep ini penting untuk memahami bahwa masyarakat bukan sekadar kumpulan individu. Ada kekuatan tak terlihat — norma, hukum, adat, dan nilai — yang membentuk perilaku kita, dan karenanya harus dikaji secara ilmiah. Jika masyarakat mengalami krisis atau ketidakteraturan, bukan karena individu “jahat” semata, melainkan karena ada keretakan dalam sistem sosial yang mendasarinya.

    Solidaritas Sosial

    Dari fakta sosial, Durkheim melangkah ke konsep solidaritas sosial — yakni ikatan yang menyatukan individu dalam masyarakat (ibarat: lem yang merekatkan masyarakat). Dia membedakan dua bentuk solidaritas yakni mekanik dan organik.

    Dalam masyarakat tradisional, solidaritas mekanik muncul karena adanya kesamaan. Orang merasa terikat karena mereka memeluk nilai, agama, dan pekerjaan yang sama. Ini bisa dilihat dalam masyarakat pedesaan, di mana semua orang saling mengenal dan menjalani hidup dengan ‘ritme’ yang serupa. Hukum bersifat represif — pelanggaran terhadap norma dianggap sebagai ancaman terhadap seluruh tatanan sosial.

    Sebaliknya, dalam masyarakat modern yang kompleks, solidaritas organik menjadi dominan. Di sini, perbedaan bukan halangan, melainkan dasar untuk saling melengkapi. Masyarakat kota modern, misalnya, terdiri dari dokter, guru, petani, sopir, dan programmer — semua berbeda, namun saling bergantung. Hukum yang berlaku lebih bersifat restitutif: bukan menghukum secara moral, tetapi memulihkan tatanan yang terganggu.

    Solidaritas sosial sangat penting. Tanpa solidaritas, masyarakat akan tercerai-berai, penuh kecurigaan, konflik, dan bahkan kekerasan. Tapi pertanyaannya kemudian: bagaimana solidaritas yang sehat bisa dibentuk? Dan apakah harus selalu ada “musuh bersama” agar masyarakat bisa bersatu?

    Mengapa Solidaritas Perlu Dibangun?

    Solidaritas bukan sesuatu yang bisa diasumsikan begitu saja. Ia perlu terus menerus dibentuk, dirawat, dan diperbarui, karena masyarakat terus berubah. Dalam era globalisasi dan digitalisasi, masyarakat menjadi lebih plural, terhubung tapi sekaligus rentan terhadap keterasingan dan polarisasi.

    Adapun beberapa alasan mengapa solidaritas penting, pertama – menjamin keteraturan sosial. Tanpa rasa keterikatan dan tanggung jawab bersama, masyarakat akan kehilangan arah dan tujuan bersama. Kedua, untuk embangun rasa saling percaya. Kepercayaan adalah modal sosial yang ‘sangat’ mahal. Dari sana solidaritas menciptakan ruang untuk membangun kepercayaan, bahkan di tengah perbedaan. Ketiga, untuk mencegah eksklusi dan ketimpangan.

    Dalam hal ini, solidaritas yang sehat mendorong inklusi sosial. Ia menuntut agar semua orang, termasuk kelompok marjinal, diberi tempat yang setara dalam masyarakat. Kemudian yang keempat, untuk menumbuhkan kemanusiaan dan empati. Dalam masyarakat yang terlalu kompetitif dan individualistis, solidaritas mengingatkan bahwa kita semua saling terhubung dan tidak bisa hidup sendirian. Namun, sejarah menunjukkan bahwa solidaritas sering kali dibangun melalui cara yang berbahaya: dengan menciptakan “musuh bersama”.

    Efektif tapi Berbahaya

    Sering masyarakat menjadi bersatu justru ketika mereka merasa diancam oleh pihak luar. Ini bisa berupa musuh politik, etnis, agama, atau bahkan bencana. Dalam jangka pendek, ini memang efektif — masyarakat bersatu, bekerja sama, bahkan saling membantu. Namun, solidaritas semacam ini bersifat semu, rapuh, dan penuh risiko.

    Mengapa? Karena solidaritas yang dibangun atas dasar kebencian atau ketakutan mudah berubah menjadi kekerasan, diskriminasi, atau perang. Ia menciptakan batas palsu antara “kita” dan “mereka”, dan membuat kehidupan sosial bergantung pada keberadaan musuh. Jika musuh tidak ada, maka masyarakat kehilangan arah dan kembali terpecah. Apakah mungkin membangun solidaritas yang sehat tanpa musuh bersama? Jawabannya: sangat mungkin. Bahkan, itulah bentuk solidaritas yang ideal.

    Solidaritas yang baik seharusnya tidak dibentuk melalui ketakutan, melainkan melalui harapan. Emile Durkheim menawarkan beberapa cara membangun solidaritas sosial yang sehat dan tahan lama.

    1. Tujuan Bersama yang Positif. Daripada menyatukan masyarakat lewat kebencian pada kelompok lain, lebih baik menyatukannya melalui tujuan positif: Menjaga lingkungan hidup, Menghapus kemiskinan. Meningkatkan akses pendidikan dan kesehatan, Membangun ekonomi berbasis komunitas. Ketika masyarakat diarahkan pada tujuan bersama yang baik, mereka bisa bekerja sama tanpa harus membenci siapa pun.
    2. Pendidikan Kritis dan Humanistik. Pendidikan memiliki peran sentral dalam membentuk solidaritas. Bukan hanya pendidikan akademik, tetapi pendidikan nilai: Mengajarkan empati, Menghargai keberagaman, Melatih dialog dan berpikir kritis. Durkheim sendiri percaya bahwa sistem pendidikan adalah alat utama negara untuk membentuk solidaritas sosial dalam masyarakat modern.
    1. Keadilan Sosial sebagai Prasyarat Solidaritas. Tidak akan ada solidaritas sejati jika sebagian masyarakat hidup dalam kemiskinan, diskriminasi, atau pengucilan. Keadilan sosial harus diwujudkan melalui kebijakan yang nyata: Redistribusi sumber daya, Perlindungan kelompok minoritas, Akses yang setara terhadap layanan dasar.
    1. Ruang Publik yang Inklusif. Solidaritas lahir ketika orang merasa didengar dan dihargai. Maka penting menciptakan ruang publik — baik fisik maupun digital — yang memungkinkan orang berdialog secara terbuka tanpa rasa takut.

    Solidaritas Semu atau Sejati?

    Solidaritas sosial bukan warisan tetap, melainkan proyek kolektif yang harus terus dibangun. Kita bisa memilih bentuk solidaritas yang kita inginkan: solidaritas semu yang dibentuk oleh musuh bersama, atau solidaritas sejati yang dibentuk oleh harapan bersama.

    Durkheim mengajarkan bahwa masyarakat modern harus menemukan cara baru untuk tetap terikat, bukan dengan kesamaan yang sempit, tetapi dengan kerja sama dalam keberagaman. Dan itu hanya mungkin jika kita membangun solidaritas berdasarkan keadilan, empati, dan tujuan bersama yang luhur.

    Solidaritas yang sehat bukan tentang siapa yang harus kita lawan, tetapi tentang siapa yang ingin kita rangkul. Bukan tentang rasa takut, tetapi tentang rasa percaya. Dan di situlah masa depan masyarakat yang damai dan bermartabat bisa dibangun. Semoga!!!

    Seks Edukasi di Sekolah; Siapa aku, Siapa kamu, Siapa kita, Kisah Kasih di Sekolah, kisah Remaja yang menjanjikan

    Ilustrasi Pendidikan Seks, di Sekolah. Berbagai Sumber.

    Oleh: Mawarda Karoni, A.Md. Kep., , Dewi Candra, A.Md.Kep., Ns. Usu Sius, S.Kep, M.Biomed., Tim C’SN

    Duta, Pontianak | Remaja merupakan masa transisi dari anak-anak menuju dewasa, yang ditandai dengan perubahan fisik, emosional, dan sosial. Salah satu aspek penting dalam fase ini adalah pendidikan seks atau seks edukasi. Namun, topik ini sering kali dianggap tabu oleh masyarakat, terutama dalam lingkungan keluarga dan sekolah.

    Apalagi budaya kita masyarakat Indonesia pada umumnya jika membahas tentang seks dipandang sesuatu yang negatif. Persepsi dan pandangan ini mungkin ada benarnya, jika pembahasannya tidak pada tempatnya, serta yang memberi pembahasan dan pembicaraan bulan orang yang tepat dan bidangnya.

    Selain itu ada beberapa kasus saat remaja mencari informasi tentang seks itu sendiri juga tidak tepat. Padahal seks edukasi dimulai dari keluarga yaitu orang tuanya. Sehingga diperlukan seks edukasi itu sendiri dimulai dari orang tua, remaja dan masyarakat pada umumnya.

    Memang untuk mendapatkan informasi di zaman digital sekarang ini, namun pemahaman yang benar dan baik tujuan yang harus dicapai, agar resiko-resiko tentang seksualitas dapat dihindarkan dan dicegah.

    Oleh: Mawarda Karoni, A.Md. Kep., , Dewi Candra, A.Md.Kep., Ns. Usu Sius, S.Kep, M.Biomed., Tim C’SN

    Apa itu seks edukasi?

    Seks edukasi adalah proses pemberian informasi dan pemahaman yang benar mengenai seksualitas, kesehatan reproduksi, hubungan antar pribadi, dan tanggung jawab seksualitas diri sendiri.

    Tujuannya bukan untuk mendorong remaja melakukan perilaku seks, tetapi untuk membekali para remaja dengan pengetahuan dan sikap yang tepat agar dapat mengambil keputusan yang bijaksana dan bertanggung jawab.

    Mengapa Seks Edukasi Diperlukan?

    1. Mencegah Kehamilan Remaja
      Kurangnya informasi menyebabkan banyak remaja melakukan hubungan seksual tanpa perlindungan. Seks edukasi membantu mereka memahami konsekuensi dari tindakan tersebut dan cara mencegahnya.
    2. Menurunkan Risiko Penyakit Menular Seksual (PMS)
      Dengan pemahaman tentang cara penularan PMS dan pentingnya penggunaan alat kontrasepsi seperti kondom, remaja dapat melindungi diri mereka dan pasangannya.
    3. Mengembangkan Sikap Positif terhadap Diri Sendiri dan Orang Lain
      Seks edukasi mengajarkan remaja untuk menghargai tubuh mereka sendiri dan orang lain, serta pentingnya persetujuan dan batasan dalam hubungan.
    4. Menghindari Kekerasan Seksual dan Pelecehan
      Remaja yang memahami hak-hak mereka cenderung lebih mampu mengenali tanda-tanda kekerasan dan berani melaporkannya.
    Ilustrasi Gambar- Edukasi Seks. (Berbagai Sumber).

    Tantangan dalam Penerapan Seks Edukasi

    Meskipun penting, seks edukasi masih menghadapi banyak hambatan, antara lain:

    • Pandangan Konservatif Masyarakat
      Banyak orang tua dan guru merasa tidak nyaman membicarakan topik ini karena dianggap tidak pantas atau terlalu dini.
    • Kurangnya Kurikulum yang Komprehensif
      Di beberapa sekolah, seks edukasi masih disampaikan secara terbatas, hanya dari sisi biologis tanpa menyentuh aspek emosional, sosial, dan etika.
    • Minimnya Pelatihan untuk Pengajar
      Guru yang tidak terlatih bisa menyampaikan materi dengan cara yang kurang efektif atau Kurang Mendalami Materi Tersebut

    Peran Keluarga dan Sekolah

    Keluarga dan sekolah memiliki peran penting dalam memberikan seks edukasi yang sehat dan holistik:

    • Keluarga: Orang tua sebaiknya menjadi sumber informasi pertama. Komunikasi terbuka dan tanpa menghakimi akan membuat anak merasa nyaman bertanya dan berdiskusi.

    Sekolah: Harus menyediakan kurikulum yang komprehensif dan berbasis bukti, serta melatih guru agar mampu menyampaikan materi dengan benar dan sensitif.

    Ilustrasi Edukasi Seks. (Berbagai Sumber).

    Penutup

    Seks edukasi bukanlah tentang mendorong remaja untuk aktif secara seksual, melainkan untuk melindungi mereka dengan pengetahuan yang benar.

    Dengan pendekatan yang terbuka, ilmiah, dan empatik, kita bisa menciptakan generasi muda yang sehat secara fisik, emosional, dan sosial. Sudah saatnya kita menghapus stigma terhadap seks edukasi dan menjadikannya bagian dari pendidikan yang menyeluruh.

    Referensi Penting

    1. Handayani et al. (2023). Konsep Pendidikan Seks Terhadap Remaja… membahas perspektif Islam dan peran keluarga/guru ihc.idcounselia.faiunwir.ac.id
    2. Amir et al. (literature review). Persepsi remaja dan sumber informasi seks edukasiReddit+15Jurnal Nasional UMP+15mpi.co.id+15
    3. Gunawan & Tadjudin (2022). Intervensi edukasi di SMP Tarakanita sukses meningkatkan pengetahuanJournal Untar
    4. Sarwinanti & Frintika (2021). Studi pada remaja tunagrahita menyoroti efektivitas pendidikan seksual khususunisayogya.ac.id+1UPI Repository+1
    5. Sujarwati dkk. (SMAN 1 Turi). Peran orang tua dan sumber informasi dalam perilaku seksual remajaEjournal Almaata
    6. Sius, Usu (2024). Tuak Dayak, Radikal Bebas, Sistem Reproduksi Pada Pria. NEM. Semarang.
    7. Kartini, Tedy Febriyanto, Usu Sius. (2024). Dasar-Dasar Ilmu Biomedks Struktur Dan Fungsi. Eureka Media Aksara; Jawa Tengah.

     

    Sejenak Melupakan “Handphone”

    Sumber: Jayadi- Kaprodi PJKR San Agustin. (2025)

    Duta, Kalbar– Kita telah melihat banyak sekali aplikasi untuk berbagai jenis dan fitur ponsel, yang ditawarkan dengan berbagai harga. Hal ini terutama terlihat dikalangan pengguna dengan selera rata-rata bawah dan menengah maupun yang memiliki selera gaya hidup tinggi era modern. Ponsel tidak memilih siapa yang memegangnya, baik anak-anak maupun orang dewasa.

    Dunia kini ada di ujung jari, membuat apa pun yang diinginkan menjadi lebih mudah, selama terhubung keinternet. Pengguna paket data, IndiHome, dan Starlink kemungkinan akan lebih banyak lagi. Tak heran jika pengguna melupakan segalanya, dari masakan gosong, lupa mandi, lupa makan, lupa waktu hingga subuh hari dan banyak lagi hal-hal terjadi pada saat menatap layar penuh warna platform media sosial seperti Facebook, Instagram, TikTok, Google, YouTube, dan lainnya.

    Bagaimana kotak persegi panjang ini dapat membuat kita nyaman hingga berhayal menyendiri, tersenyum sendiri, menangis, tertawa tersipu ini semua karena segala keinginan dapat disajikan dengan lengkap sehingga membuat seseorang merasa nyaman ada disampingnya. Mau tidur ditemani, mau jalan ditemani, mau makan ditemani dari semua aktivitas apapun selalu ada. Mungkin pengguna yang sudah cukup umur dapat dikontrol atau diminimalisir tetapi tidak pada anak-anak.

    Apa penyebab yang akan terjadi, banyak kita jumpai diusia anak-anak dan remaja sudah tidak mampu untuk membaca tanpa adanya kaca mata, terganggunya psikologis anak selalu lebih cepat emosi, anak semakin malas untuk belajar, malas untuk mendengarkan nasehat kedua orang tua hingga meniru apa yang sudah ditonton secara positif atau negatif. Hal ini cukup menjadi perhatian serius dari kedua orang tua dalam mengatasi masalah, kemajuan teknologi tidak harus ditentang sangat dibutuhkan edukasi yang tinggi bagaimaan menjelaskan secara baik dan benar dalam setiap penggunaan handphone.

    Disaat sekarang kita selalu merindukan permainan kotok umpet, bermain kelereng, bermai layangan, mengejar layangan putus, bermain sepeda, bermain diparit untuk mendapatkan anak ikan, hingga dimarahin kedua orang tua karena pulang kerumah penuh dengan pakaian yang berlumpur, begitu indah kenangan itu diingat.

    Bagaimana kita bisa mengulang masa lalu, mungkin ini hanya tersimpan dalam ingatan masa kecil. Namun, sedikit demi sedikit, perlahan, melalui kegiatan bermain, setiap anak seharusnya memiliki rasa bermain yang lebih besar, termasuk orang dewasa. Untuk menumbuhkan anak-anak yang lebih aktif, cukup dengan menyediakan ruang ramah anak pada lingkungan melalui sarana dan prasarana bermain.

    Kita telah melihat banyak daerah memiliki tempat bermain yang ramah lingkungan bagi anak. Dengan membangun lapangan sederhana, yang tidak sulit untuk didanai, olahraga seperti bulu tangkis dan lain sebagainya.

    Menyiapkan dua tiang dan jaring net, mungkin terbuat dari batang pohon pinang dengan garis dari pohon yang dibelah, membuat anak-anak senang bermain. Beberapa anak terlihat menunggu giliran. Kegiatan olahraga ini dapat melatih anak sejak dini, membiasakan mereka dengan gerakan dan teknik bermain. Solusi yang diberikan, apakah hal ini dapat menjadi permanen, mungkin dengan jawaban secara langsung hanya melupakan handphone sejenak. *Jay

    *Penulis adalah Dosen dan Kaprodi Pendidikan Jasmani Kesehatan dan Rekreasi di Universitas Katolik Santo Agustinus Hippo Kampus I Ngabang, Fakultas Keguruan dan ilmu Pendidikan (Ngabang Kabupaten Landak).

     

    Unika San Agustin Buka Lowongan Dosen Program Studi Pendidikan Bahasa Inggris dan Sistem Informasi

    Ilustrasi gambar: Jurusan Bahasa Inggris_diolah 2025.

    Duta – Pontianak, Kalimantan Barat |  Universitas Katolik Santo Agustinus Hippo kembali membuka lowongan dosen tetap untuk dua program studi, yakni Pendidikan Bahasa Inggrisdan Sistem Informasi.

    Kesempatan ini terbuka bagi para akademisi muda dan profesional yang ingin berkarya dalam dunia pendidikan tinggi di Kalimantan Barat.

    Sumber: HRD Unika San Agustin_YLB

    Dalam pengumuman yang dirilis pada 18 Juli 2025, pihak universitas menyampaikan sejumlah persyaratan yang harus dipenuhi oleh calon pelamar:

    1. Sehat jasmani dan rohani.

    2. Lulusan S2 atau S3 dari program studi yang sesuai:

      • Pendidikan Bahasa Inggris (diutamakan linear)

      • Sistem Informasi atau Teknik Informatika (diutamakan linear)

    3. Memiliki komitmen tinggi dan dedikasi di dunia pendidikan.

    4. Bersedia ditempatkan di Kampus Ngabang atau Kampus Pontianak.

    Lowongan ini menjadi bagian dari upaya Yayasan Landak Bersatu dan Universitas Katolik Santo Agustinus Hippo untuk terus mengembangkan kualitas pendidikan di Kalimantan Barat, sekaligus memperkuat kontribusi tenaga profesional lokal dan nasional.

    Ilustrasi Gambar: Sistem Informasi_diolah 2025.

    Bagi pelamar yang memenuhi kualifikasi, CV dan lamaran dapat disampaikan melalui tautan berikut:
    bit.ly/PELAMARKERJAYLB

    Informasi lebih lanjut juga dapat diperoleh melalui email resmi rekrutmen: hrd@yayasanlandakbersatu.org.

    Rekrutmen diatas terbuka hingga formasi terpenuhi.

    Diharapkan para pelamar memiliki semangat untuk mengabdi dan membangun pendidikan di wilayah yang membutuhkan, sejalan dengan visi universitas yang mengedepankan “Misericordia Veritatis” — belas kasih dalam kebenaran.

    Sumber: HRD_ Unika San Agustin – YLB. 

    Unika San Agustin Buka Lowongan Dosen Agribisnis, Penempatan di Ngabang

    Sumber: Agribisnis Plus Kreativitas_ olahan (2025).

    Duta – Landak, Kalimantan Barat | Universitas Katolik Santo Agustinus Hippo membuka kesempatan bagi para akademisi muda dan profesional di bidang pertanian untuk bergabung sebagai Dosen Program Studi Agribisnis.

    Rekrutmen ini ditujukan untuk memenuhi kebutuhan tenaga pengajar di Kampus III Unika Santo Agustinus Hippo yang berlokasi di Jl Raya Km. 14 Plasma 2, Desa Amboyo Utara, Kecamatan Ngabang, Kabupaten Landak, Provinsi Kalimantan Barat.

    Flayer_HRD_YLB – San Agustin (2025)

    Dalam pengumuman resmi yang dirilis pihak universitas, terdapat beberapa kriteria utama yang harus dipenuhi oleh pelamar:

    1. Memiliki jenjang pendidikan minimal S2 atau S3 di bidang Agribisnis atau Agronomi, dengan latar belakang pendidikan yang linear.

    2. Sehat jasmani dan rohani.

    3. Bersedia untuk ditempatkan di Ngabang.

    Peluang ini terbuka bagi individu yang memiliki dedikasi di bidang pendidikan tinggi dan ingin berkontribusi dalam pengembangan sumber daya manusia, khususnya di sektor agribisnis yang menjadi sektor unggulan di Kalimantan Barat.

    Bagi yang berminat, lamaran dan CV dapat disampaikan melalui tautan:
    bit.ly/PELAMARKERJAYLB

    Informasi lebih lanjut dapat diperoleh melalui email: hrd@yayasanlandakbersatu.org.

    Rekrutmen tersebut merupakan komitmen Yayasan Landak Bersatu dan Universitas Katolik Santo Agustinus Hippo (Unika San Agustin) dalam memperluas akses pendidikan tinggi yang berkualitas serta mendukung pembangunan wilayah pedalaman Kalimantan melalui pendidikan dan pengembangan agribisnis.

    Sumber: HRD Unika San Agustin_YLB

    Uskup Agustinus Perkenalkan “Dango Page” di Nyarumkop

    Dango Page_Nyarukop. Sumber: Uskup Agustinus

    Duta, Pontianak | Uskup Agung Pontianak, Mgr. Agustinus Agus, memperkenalkan proyek terbarunya yang diberi nama “Dango Page” atau Pondok Pastoran, melalui sebuah vlog yang diunggah di akun Instagram pribadinya pada 23 Juli 2025.

    Lokasi ini berada di Kompleks Persekolahan Katolik Nyarumkop, Singkawang Timur, Kalimantan Barat, dan masih dalam proses pembangunan.

    Dalam video berdurasi beberapa menit itu, Uskup Agustinus menjelaskan bahwa Dango Page dibangun sebagai tempat istirahat yang bersifat multifungsi, baik untuk para imam maupun masyarakat umum yang ingin menginap di kawasan persekolahan Katolik tersebut.

    “Saya sekarang sedang di Nyarumkop, di bangunan yang saya sebut sebagai Dango Page, Pondok Pastoran, Bangunan ini dibangun untuk para pastor atau supir yang mau istirahat. Jadi multifungsi,” kata Uskup Agustinus,

    Dango Page dirancang dengan nuansa budaya lokal dan etnis yang kental. Kompleks ini terdiri dari berbagai bangunan yang menampilkan ciri khas arsitektur dan fungsionalitas komunitas Kalimantan Barat.

    Dango Page_Kompleks Persekolahan Katolik Nyarumkop. (2025)

    Di dalam area tersebut terdapat kolam renang, gazebo dengan corak Tionghoa, serta rumah Betang — rumah panjang tradisional masyarakat Dayak — yang dilengkapi dengan empat kamar penginapan.

    “Di belakang saya ini ada rumah panjang, ada rumah Betang. Ini adalah penginapan untuk umum. Ada empat kamar, dan nanti, saya rasa, di bawahnya itu nanti ada kamar makan dan dapur,” jelas Uskup Agustinus.

    Tak hanya itu, Uskup juga menunjukkan adanya kapel kecil berwarna kayu dan bangunan khusus dengan empat kamar, yang dipersiapkan bagi tamu istimewa seperti para pastor maupun ibu-ibu yang membutuhkan tempat beristirahat.

    “Khusus ada empat kamar. Satu kamar untuk ibu, satu kamar untuk pastor. Kalau saya ingin istirahat di sini, atau pastor yang ingin istirahat di sini, ada tempat itu maksudnya,” tuturnya.

    Menurut Uskup, Dango Page juga dapat digunakan sebagai lokasi pertemuan kecil antarimam atau kegiatan komunitas gereja dalam skala terbatas. Ia menyebutkan bahwa pilihan lokasi Dango Page sangat strategis karena dikelilingi pemandangan alam yang indah dan menenangkan.

    Dango Page_Kompleks Persekolahan Katolik Nyarumkop. (2025)

    “Kalau ada perlumbaan kecil para pastor atau repi kecil para imam, bisa pakai depannya juga. Dan saya pilih tempat ini karena pemandangannya sangat indah,” katanya sambil tersenyum ke arah kamera.

    Inisiatif itu merupakan bagian dari upaya Keuskupan Agung Pontianak untuk memaksimalkan pemanfaatan lahan di Nyarumkop, sembari tetap menjaga nilai-nilai budaya lokal dan semangat pelayanan pastoral.

    Selain menjadi tempat transit atau istirahat, Dango Page diharapkan bisa menarik perhatian umat Katolik maupun masyarakat umum yang ingin merasakan pengalaman menginap di lingkungan yang religius dan berbudaya.

    Dengan adanya fasilitas seperti penginapan, dapur, ruang tamu, kolam renang, dan kapel, harapan Uskup Agustinus agar Dango Page depannya juga berpotensi menjadi salah satu destinasi spiritual atau retret di Kalimantan Barat, sekaligus memperkenalkan keragaman budaya yang hidup berdampingan secara harmonis di wilayah ini. *Samuel.

    FKES San Agustin Hadirkan Edukasi Seks di Sekolah SMA Kalam Kudus Pontianak

    Universitas Katolik Santo Agustinus Hippo berpartisipasi sebagai narasumber dalam kegiatan Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah MPLS di SMA Kalam Kudus Pontianak (2025)

    Duta, Pontianak | Dalam rangka mendukung pembentukkan karakter dan pemahaman kesehatan reproduksi remaja, Falkutas Kesehatan Universitas Katolik Santo Agustinus Hippo (FKES San Agustin) berpartisipasi sebagai narasumber dalam kegiatan Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah MPLS di SMA Kalam Kudus Pontianak.

    Sesi edukasi seksual ini menjadi salah satu rangkaian penting dalam MPLS tahun ajaran 2025/2026.

    Sesi edukasi seksual ini menjadi salah satu rangkaian penting dalam MPLS tahun ajaran 2025/2026.

    Bertempat di SMA Kalam Kudus, kegiatan edukasi seksual hari itu diikuti oleh seluruh siswa baru dan para guru pendamping. Materi disampaikan oleh Ns. Usu Sius, S.Kep., M.Biomed (keynote speaker) dengan pendekatan yang ramah, interaktif, dan disesuaikan dengan usia perkembangan remaja, (Rabu, 16 Juli 2025).

    Dalam sesi pemaparan, narasumber menekankan pentingnya pengenalan diri, batasan pribadi, cara menjaga kebersihan reproduksi, serta tanggung jawab sosial dalam seksualitas. Tidak hanya sisi biologis, tetapi juga aspek emosional, menjadi fokus utama.

    “Edukasi seksual yang benar dapat membantu siswa menjaga diri, menghargai tubuhnya, percaya diri, berperilaku sesuai dengan gender dan menghindari risiko pergaulan bebas,” jelas Ns. Usu Sius.

    Materi edukasi selanjutnya disampaikan oleh Mawarda Karoni, A,Md.Kep dengan pendekatan interaktif, ramah dan sesuai dengan usia perkembangan remaja. Ia menjelaskan berbagai aspek penting dalam pendidikan seksual, mulai dari kebersihan organ reproduksi, hingga tanggung jawab sosial dalam berprilaku.

    Ns. Usu Sius, S.Kep., M.Biomed (keynote speaker) (2025)

    Universitas Katolik Santo Agustinus Hippo dalam kegiatan MPLS menjadi bentuk kolaborasi antara perguruan tinggi dan sekolah menengah dalam mendidik generasi muda yang cerdas dan bertanggung jawab secara seksual.

    Pihak sekolah menyampaikan harapan agar kegiatan semacam ini dapat terus dilakukan secara berkelanjutan demi menciptakan ruang edukasi yang aman, terbuka, dan membangun kesadaran siswa sejak dini.

    “Kami ingin siswa tidak hanya pintar secara akademik, tetapi juga bijak dalam menjaga diri dan bersikap di tengah perkembangan zaman hal ini bagus untuk bekal mereka,” ujar salah satu guru pendamping kegiatan MPLS.

    Oleh: Dewi Candra, Usu Sius, Mawarda Karoni, Tim C’SN.

     

    Pejuang Tugas Akhir PJKR San Agustin

    Sidang Skripsi, - Foto: Jayadi, (2025)

    Duta, Landak | Bagaimana engkau dapat tersenyum ketika tugas akhirmu belum diselesaikan, ditambah lagi dua bulan akan masuk semester Sembilan. Akankah ini akhir segalanya atau sekedar cobaan dari tantangan akan dilalui. Mana mungkin ini hanya berlalu saja kalo cukup berdiam diri dikampung halaman. Tak terima dengan coretan oleh dosen pembimbing, kenapa yang lain sudah sampai tahapan akhir. Inikah yang dinamakan mentalitas sebelum berperang sudah mengaku kalah duluan.

    Sudah sepuluh atau lebih koreksian dari hasil coretan indah dari dosbing dengan pulpen berwarna warni seperti pelangi, dari kesalahan  typo penulisan, baris yang kejauhan, tidak sesuai rata kiri dan kanan, aturan penulisan tidak sesuai, penggunaan mendeley, kebermaknaan rangkaian kata mungkin banyak lagi yang harus disesuaikan.

    Sudah dianggap sempurna tapi masih saja ada yang harus diperbaiki dan ditambahkan lagi. Seakan-akan dosen pembimbing adalah dewa kebenaran. Belum lagi disaat seminar dan sidang mesti ada koreksian baik minor ataupun mayor.

    Kertas koreksian sudah banyak menumpuk untungnya dosen pembimbing mempermudah dibalik dan digunakan lagi kertas sebelumnya. Persepsi dosen-dosen pembimbing sangat berbeda ada yang lewat soft copy ada juga melalui hard copy. Alasan menggunakan hard copy itu lebih cepat koreksian karena langsung dicoret dan diarahkan, itulah lika liku perjuangan ini.

    Teringat ungkapan awal dari seorang mamak dikampung, diwaktu pertama memulai perkuliahan, harus berhasil membawa gelar sarjana untuk ubah kehidupan dan keluarga. Setelah mendapatkan sarjana agar dapat membantu adik-adik menjadi panutan keluarga dan dikampung. Ungkapan tersebut masih ‘terngiang-ngiang’ ditelinga dijadikan pembakar semangat untuk selesai bergelar.

    Berapa banyak teman-teman yang merasa tidak peduli akan tugas akhir ini mungkin dia lupa harapan dari kata-kata nasehat kedua orang tuanya. Barang kali kuliah hanya untuk bercanda gurauan, bermain, jalan-jalan dan banyak lagi hingga tidak dimengerti. Berdiam dikampung halama orang tanpa adanya saudara membuat tantangan ini akan lebih terasa itulah konsekuensi harus dihadapi.

    Perjuangan ini sangat berat, namun harus tetap konsisten dengan segala aturan. Perasaan sangat yakin sarjana ini bukan singkatan S.Pd yang banyak orang-orang sampaikan yaitu, sarjana pemberian dosen namun akan diwujudkan dengan sarjana pendidikan sebenarnya.

    Derai air mata yang dilakukan ketika seminar proposal ketidak mampu menjawab pertanyaan dari peguji ataupun dengan sengaja penguji bertanya apa yang membuat sudah sampai pada tahapan ini, sambil menjawab dengan mata kemerahan, tersedu-sedu menjelaskan perjuanngan ini untuk kedua orang tua.

    Belum lagi yang sudah menikah dengan jawaban perjuangan ini untuk kedua anak dan istri, dan ada juga kata perjuangan ini untuk sang ayah yang telah pergi meninggal dunia demi senyuman seorang mamak dikampung.

    Beberapa alasan dari penyemangat perjuangan dapat diartikan bahwa kita mampu untuk meraih semua impian dengan tetap teguh pendirian, konsisten dan menerima konsekuensi yang dihadapi. Kesulitan itu bukan halangan untuk meraih keberhasilan, jangan pernah mengangap dosen sebagai serigala pemangsa, akan tetapi ambil hikmah yang akan didapatkan setelah meraih gelar sarjana.

    Ini bukanlah akhir perjuangan, masih banyak tantangan-tantangan rintangan-rintangan secara nyata yang akan dihadapi disaat mencari pekerjaan.

    Apa yang sudah ditanamkan dari keteguhan, kedisiplinan, ketelitian, ketepatan dan pemahaman dari tugas akhir, itu yang akan menjadi bekal awal terus bersama dalam mendampingi. Seorang guru ataupun dosen tidak akan pernah meminta sesuatu dari siswa atau mahasiswanya, namun ketika berhasil dan mapan dari segala sesuatunya, hal tersebut membuat rasa bangga, walau tak akan pernah mengingat lagi apa yang mereka lakukan. – Jay.

    *Penulis adalah Dosen dan Kaprodi Pendidikan Jasmani Kesehatan dan Rekreasi di Universitas Katolik Santo Agustinus Hippo Kampus I Ngabang, Fakultas Keguruan dan ilmu Pendidikan (Ngabang Kabupaten Landak).

    Silahturahmi IBI Kota Pontianak dan Unika San Agustin Bangun Sinergi Penguatan Profesi

    Wakil Rektor Umum Unika San Agustin, Brigjen Pol. (Purn.) Drs. Sumirat Dwiyanto, M.Si., dan ketua IBI Kota Sri Mulyati, A.Md.Keb, SKM, (2025)

    Duta, Pontianak – Universitas Katolik Santo Agustinus Hippo (Unika San Agustin) menerima kunjungan silaturahmi dari jajaran pengurus Ikatan Bidan Indonesia (IBI) Kota Pontianak dalam rangka mempererat hubungan kelembagaan dan menjajaki kerja sama strategis di bidang pendidikan, profesi, dan pelayanan kesehatan masyarakat.

    Pertemuan yang berlangsung di Aula Lantai 1 Fakultas Kesehatan ini dibuka secara resmi oleh Wakil Rektor Umum Unika San Agustin, Brigjen Pol. (Purn.) Drs. Sumirat Dwiyanto, M.Si., dan, Agnes Dwiana Widu Astuti, S.Si.T.,M.Kes dan Kaprodi Kebidanan, Intanwati, MTr.KEB yang menyambut hangat tamu dari IBI dikomandani oleh ketua IBI Kota  Sri Mulyati, A.Md.Keb, SKM, Senin 14 Juli 2025.

    Bersama dengan beberapa pengurus harian IBI, Sri Mulyati, A.Md.Keb, SKM dalam sambutannya, beliau menegaskan pentingnya kolaborasi antara institusi pendidikan dan organisasi profesi dalam menjaga mutu dan kompetensi tenaga kesehatan, khususnya bidan.

    Dokumentasi, 14 Juli 2025. (San Agustin)

    Pengurus IBI Kota Pontianak menyampaikan sejumlah isu penting, antara lain:

    • Rendahnya tingkat keaktifan administratif anggota, meskipun secara data ada 770 anggota tercatat, namun hanya 6 yang aktif secara formal.
    • Masih lemahnya pemahaman prosedur keanggotaan, terutama bagi profesional yang berpindah wilayah kerja.
    • Pentingnya sistem pendataan digital agar status keanggotaan tetap terpantau meskipun terjadi perpindahan tempat tugas.
    • Harapan agar Unika dapat menjadi mitra dalam penyediaan narasumber akademik, pelatihan keprofesian, dan sosialisasi keanggotaan melalui kelas-kelas kuliah.

    IBI juga menyoroti penanganan stunting sebagai program prioritas, mengingat prevalensinya di Kalimantan Barat masih cukup tinggi.

    Diharapkan, melalui kolaborasi dengan perguruan tinggi, program pendampingan dan edukasi kepada orang tua bisa diperkuat.

    Dalam waktu dekat, IBI juga berencana mengadakan donor darah dalam rangka Hari Kemerdekaan RI pada 17 Agustus, sebagai bagian dari kampanye sosial dan kesehatan.

    Menanggapi hal itu, Sumirat menekankan pentingnya latihan rutin bagi profesional, bahkan untuk hal-hal dasar seperti cara memberikan pelayanan prima atau berinteraksi dengan pasien.

    Penerimaan Mahasiswa Baru San Agustin (2025)

    “Tanpa latihan, profesional bisa menjadi kaku, tidak fleksibel,” ujarnya sambil mencontohkan betapa pentingnya pembiasaan dan penyegaran kompetensi.

    Dalam suasana penuh kekeluargaan, beliau juga menyampaikan dukungan Unika terhadap penggunaan fasilitas kampus bagi kegiatan organisasi profesi, selama tetap dikoordinasikan dengan Bagian Umum dan tidak mengganggu jadwal kuliah reguler.

    Di akhir pertemuan, beliau mengajak seluruh pihak untuk bersatu membangun visi bersama: menjadikan IBI Kota Pontianak sebagai organisasi profesi unggul di Kalimantan, bahkan pelopor inovasi di tingkat nasional.

    Mari bersatu dalam satu hati, satu kata, dan satu perbuatan,” seru Sumirat menutup pertemuan, disambut tepuk tangan dari seluruh peserta.

    Oleh: RD. Rupinus Kehi Sekretaris Jenderal_Universitas Katolik Santo Agustinus Hippo (Dari Dokumen Notulen Pertemuan)

    TERBARU

    TERPOPULER