Sunday, May 3, 2026
More
    Home Blog Page 147

    Bawaslu Targetkan 200 Vaksinasi Masyarakat

    Bawaslu Targetkan 200 Vaksinasi Masyarakat-Komisi Komunikasi Sosial Keuskupan Agung Pontianak

    MajalahDUTA.Com, Pontianak- Dalam rangka memperingati HUT Bawaslu Kota Pontianak ke – 3, Bawaslu Kota Pontianak bekerjasama dengan Dinas Kesehatan Kota Pontianak menggelar vaksinasi Covid 19 tahap 1 di Kampus AKPER Dharma Insan – AKBID St Benedicta Jalan Merdeka No 55 Pontianak dengan jumlah sasaran 200 vaksinasi bagi masyarakat sekitar.

    Dalam kesempatan tersebut, Ns. Florensius Andri, M.Kep, Direktur AKPER Dharma Insan mewakili kedua institusi menyambut baik kerjasama dan pelaksanaannya di Kampus AKPER Dharma Insan – AKBID St Benedicta, Sabtu (21/8/21).

    Baca juga: Jalan Terbuka Pendidikan yang Memerdekakan

    “Akper Dharma Insan Pontianak, Akbid Benedicta Pontianak bersama Bawaslu kota Pontianak melaksanakan vaksinasi covid 19 di kampus Akper Akbid Pontianak,” kata Andri.

    Ia juga menjelaskan tujuan kegiatan tersebut untuk membantu pemerintah dalam program percepatan vaksinasi di Indonesia pada umumnya dan Kalimantan barat pada khususnya dalam mengatasi pandemi covid 19. Vaksinasi diberikan untuk membuat sistem kekebalan tubuh dalam mengenali dan mampu melawan saat terkena covid 19.

    “Diharapkan bagi yang telah menerima vaksin agar tetap menerapkan protokol kesehatan untuk memutus rantai penyebaran covid 19 di wilayah kota Pontianak” ujar Andri.

    Baca juga: Uskup Agung Pontianak, Mgr. Agustinus Agus Resmikan Berdirinya Paroki Santo Montfort Kec. Monterado, Kab. Bengkayang Keuskupan Agung Pontianak

    Kordiv Pengawasan, Humas & Hubal Bawaslu Kota Pontianak – Irwan Manik Radja, S.T, M.T senada dengan Direktur AKPER tentang pentingnya vaksin di masa Pendemic ini, sekaligus mengapresiasi kegiatan yang telah terlaksana hari ini sangat bagus serta bersyukur telah berjalan dengan lancar dan kegiatan kedepannya tetap disupport AKPER AKBID.

    “Harapan kedepannya semakin banyak lagi warga kota yang mau vaksin” ucap Irwan.
    Vaksinasi pada hari Sabtu ini, 21 Agustus 2021 merupakan vaksin pertama, akan di selenggarakan vaksin kedua pada tanggal 18 September 2021 di kampus Akper-Akbid Pontianak kembali. – (Div.Media-AKPERAKBID)-No: 1/PUSKOM/MED/2021.

    Jalan Terbuka Pendidikan yang Memerdekakan

    Majalah DUTA-Komisi Komunikasi Sosial Keuskupan Agung Pontianak

    MajalahDuta.Com, Kalbar- Kehadiran buku “Pendidikan yang Memerdekakan”ini patut diapresiasi. Buah pena Francis Wahono  ini adalah satu dari sedikit teks berbahasa Indonesia tentang critical pedagogy yang lazim diindonesiakan menjadi pedagogi kritis atau pendidikan kritis.

    Ada banyak cara memaknai apa itu pendidikan kritis. Salah satu di antaranya dan yang kurang lebih juga dipakai sebagai perspektif dalam penulisan buku ini adalah pendidikan sebagai proses pembentukan subjek dalam rangka formasi sosial atau pembentukan masyarakat.

    Buku ini merupakan kelanjutan dari seri buku ‘Kapitalisme Pendidikan; antara Kompetensi dan Keadilan Sosial’.

    Kalau dalam buku tersebut, Francis Wahono banyak melontarkan kritik terhadap pendidikan di Indonesia, seraya mengajukan beberapa usulan perbaikan, di mana usulan peningkatan budget untuk pendidikan yang 25% dari APBN sudah diluluskan sampai 20% meskipun dengan penghitungan termasuk gaji guru dan karyawan, maka di buku ini lebih jauh memberikan solusi yang merupakan road map apa itu pendidikan yang memerdekakan rintisan Ki Hadjar Dewantara dan Y.B. Mangunwijaya.

    Implementasi visi pendidikan

    Sebagaimana ditunjukkan oleh Francis Wahono dalam buku ini, Sekolah Rakyat Pancasila sebagai salah satu wujud implementasi visi pendidikan Ki Hadjar Dewantara di era 1950-an, Sekolah Dasar Eksperimental Mangunan Romo Y.B. Mangunwijaya, dan Sekolah “Biasa Saja”Sanggar Anak Alam adalah sebagian contoh praksis pendidikan kritis yang bisa kita temukan di dunia pendidikan tanah air.

    Dalam rumusannya, sekolah-sekolah itu mengandalkan penerapan metode ‘Induk Ayam’ dalam pembelajaran di mana guru bersikap sebagai pamong yang secara pelan-pelan mendewasakan dan memerdekakan peserta didik di dalam dan melalui kehidupan mereka, bukan mengandalkan metode ‘Anjing’ di hadapan sang tuan di mana secara tidak sadar peserta didik justru dibuat terus tergantung melalui pembelajaran a la bank serba indoktrinatif yang diterapkan oleh guru.

    Buku yang ditulis oleh Dr. Francis Wahono ini sangat menarik, bernas, tajam, dan alur logikanya sangat runtut sehingga siapa saja yang ingin membacanya akan merasa menemukan suatu model pendidikan yang memerdekakan setiap manusia.

    Kita semua tahu, bahwa dua tokoh pendidikan yang menjadi rujukan utama buku ini adalah sosok pribadi yang nyata memperlihatkan sebagai manusia merdeka, meskipun mereka hidup dalam kurun waktu yang berbeda dan suasana politik yang berbeda pula.

    Dalam perjalanan bangsa ini, konsep pendidikan yang memerdekakan itulah yang hilang dari praksis pendidikan di bangku sekolah ataupun kuliah; dan kemudian dimunculkan kembali oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nadiem Makarim.

    Terlepas dari apakah konsep ‘Merdeka Belajar’ yang ditawarkan Menteri sama sebangun dengan yang dikonsepsikan oleh Ki Hadjar Dewantara dan Romo Mangunwijaya atau tidak, itu persoalan semantik yang dapat diperbincangkan dalam forum tersendiri. Yang pasti, konsepsi ‘Merdeka’ini kembali hadir dalam praksis pendidikan formal kita, setelah lebih dari setengah abad menghilang.

    Pendidikan yang memerdekakan

    Di halaman awal buku, Francis Wahono mengkaji konsep pendidikan yang memerdekakan. Dalam perspektif negara, pendidikan mestinya dipandang sebagai investasi jangka panjang, bukan sebagai konsumsi atau sebagai belanja negara.

    Cara negara memperlakukan pendidikan bukan sebagai investasi wajib publik inilah yang akhirnya menghasilkan pendekatan pendidikan komersial. Negara lepas tangan tanggung jawab atas dalih pendidikan sebagai konsumsi atau pengeluaran, sebagai belanja negara bukan inestasi negara (hlm 3).

    Gugatan pertama dan utama dari Dr. Francis Wahono adalah bahwa negara harus hadir, berdaulat atas pendidikan rakyatnya. Negara tidak boleh diskriminatif terhadap sekolah swasta, karena bagaimanapun sekolah swasta membayar pajak sama seperti sekolah negeri.

    Negara yang berdaulat tentu tak memasrahkan pendidikan sebagai barang yang diperjualbelikan dan menjadi investasi asing untuk menanam modal. Negara berdaulat dalam pendidikan adalah negara yang merdeka dalam mengelola pendidikan, mulai dari kebijakan, kurikulum, sarana dan prasarana tanpa campur tangan dari investor asing.

    Investor asing hanya akan menggerogoti kedaulatan dan kemerdekaan dalam mengelola pendidikan. Disinilah peran politik pendidikan itu perlu dipancangkan kuat-kuat.

    Selain itu, Francis Wahono melontarkan kritik terkait dengan metodologi pendidikan dengan berpijak pada Ki Hadjar Dewantara dan Paulo Freire. Kedua tokoh tersebut memang menjadi ikon pendidikan yang memerdekakan.

    Untuk mencapai pendidikan yang memerdekakan Ki Hadjar Dewantara mengusulkan metode pamong dengan rumusannya’Ing ngarsa sung tulada, ing madya mangun karsa, tut wuri handayani’ (di depan memberikan contoh, di tengah ikut membangun, di belakang berdaya guna mendorong kebaikan.

    Metode mendidik anak bagi Ki Hadjar Dewantoro mengedepankan keteladanan, untuk orang dewasa guru harus menjadi fasilitator dan bahkan bersama-sama memecahkan masalah, menjadi inspirasi dan berkolaborasi dan terus memberi dorongan.

    Substansi dari pendidikan yang memerdekakan, baik yang ditawarkan oleh Ki Hadjar Dewantara maupun Romo Mangun adalah pendidikan tanpa kekerasan yang dibahas secara khusus di dalam Bab II buku ini.

    Kekerasan yang dimaksud oleh Francis Wahono bukan hanya kekerasan yang kasatmata seperti yang kita lihat selama ini, melainkan juga kekerasan yang tersembunyi dibalik sistem ekonomi, sosial, politik, budaya, dan agama. Kekerasan tersebut dibalut dengan berbagai nama dan penjelasan-penjelasan yang mempesona dan meninabobokan.

    Francis Wahono memberikan konsep pendidikan Nir Kekerasan, kurikulum pendidikan tidak mendikte peserta didik, kurikulum diperlakukan sebagai rambu-rambu saja, selebihnya adalah sangat bergantung pada penjiwaan pendidik dan guru. Pada dasarnya, kurikulum dibuat dengan acuan kerangka dan pranata pendidikan seperti pada pendekatan top-down.

    Dengan begitu, pendidikan tidak terjebak pada kurikulum yang kaku dan guru yang otoriter karena peserta didik mempunyai kemerdekaan untuk mengkonstruksi pengalaman dan pengetahuan serta pengayaan nilai-nilai dalam dalam diri, lingkungan sosial budaya.

    Sekolah Rakyat Pancasila

    Pada bab selanjutnya buku ini mencoba menelusuri jejak sejarah pendidikan di Indonesia. Sebuah pandangan kritis yang melihat sejarah pendidikan bukan hanya sebagai perjalanan waktu dan tempat, tapi pandangan kritis terhadap lika-liku sejarah pendidikan di Indonesia.

    Sekolah Rakyat Pancasila menjadi bagian sejarah penting di dalamnya, karena bagaimanapun dengan hadirnya Sekolah Rakyat Pancasila akan melahirkan masyarakat yang bersifat nasional, demokratis, berperikemanusiaan dan berketuhanan, untuk mewujudkan keadilan sosial.

    Tujuan pendidikan dan pengajaran ialah membentuk manusia susila, yang cakap dan warga negara yang demokratis serta tanggung jawab tentang kesejahteraan masyarakat di tanah air.

    Akhirnya, membaca buku ini kita diajak untuk berpikir dan berjalan jalan pada kebun gagasan praktik-praktik pendidikan yang memerdekakan dan membebaskan.

    Meskipun tetap mengacu pada aspek historis dan konsep-konsep teoritis pendidikan zaman bahula, tetapi Dr. Francis Wahono mampu melakukan kontekstualisasi dengan kondisi pendidikan yang mengalami penjajahan baru sehingga pembaca tak hanya membaca sejarah (pendidikan) tapi juga disuguhi dengan ragam permasalahan pendidikan terkini, dimulai dari paradigma pendidikan yang salah kaprah, kurikulum tidak berpihak pada lingkungan, metode pendidikan yang hanya menciptakan para pekerja untuk perusahaan, hingga para pengelola pendidikan yang berpikir konsumtif untuk pendidikan.

    Francis Wahono mampu melakukan kritik sekaligus memberikan solusi untuk mengembalikan peran pendidikan yang memerdekakan dengan berpijak dan melakukan kajian refleksi dari para tokoh pendidikan kita serta menampilkan tokoh masa kini yang mencoba menghidupkan gagasan para pendahulu.

    Semoga buku ini bisa menjadi bahan refleksi bagi para pengambil kebijakan, bagi para aktivis pendidikan, pengelola pendidikan, serta seluruh insan pendidikan di Indonesia. PACE E BENE.

     

    Paus: Maria mengingatkan kita bahwa Tuhan memanggil kita untuk kemuliaan melalui kerendahan hati

    Sumber: VatikanNews Youtube- Komisi Komunikasi Sosial Keuskupan Agung Pontianak

    MajalahDUTA.Com, Vatikan- Pada hari Minggu yang menandai Hari Raya Kenaikan Santa Perawan Maria ke Surga, Paus Fransiskus mengatakan Maria mengingatkan kita bahwa rahasia perjalanan dari kehidupan duniawi ke surga terkandung dalam kata “kerendahan hati”. Dia mengatakan Pengangkatan Maria menunjukkan kepada kita bahwa Tuhan memanggil Anda juga untuk tujuan yang mulia ini.

    Berbicara kepada umat beriman yang berkumpul di Lapangan Santo Petrus untuk Angelus Minggu pada Hari Raya Kenaikan Maria Diangkat ke Surga tanggal 15 Agustus, Paus Fransiskus menawarkan refleksi pembukaannya tentang pentingnya Pesta ini, dengan mengatakan “rahasia Maria adalah kerendahan hati.”

    Tuhan melihat hati, katanya, dan kerendahan hati Maria menarik pandangan Tuhan kepadanya. Dia mengamati bahwa sering kali mata manusia disusul dengan penampilan dan keagungan, sementara mengabaikan pentingnya kerendahan hati.

    Dengan melihat Maria diangkat ke surga, Paus mengatakan kita melihat bagaimana “kerendahan hati adalah cara yang membawanya ke Surga”. Untuk naik ke Surga, kita perlu rendah hati katanya, mencatat asal kata rendah hati berasal dari kata Latin humus yang berarti “bumi”.

    Paus menggarisbawahi bahwa karunia atau kekayaan kita bukanlah apa yang memungkinkan kita untuk dimuliakan oleh Tuhan, tetapi justru kerendahan hati kita, kasih dan pelayanan kita kepada Tuhan dalam pemberian total yang penting.

    Ini berarti kita harus memeriksa diri kita sendiri dan bagaimana kita melakukannya dengan kerendahan hati dalam hidup kita sendiri, kata Paus. Kita perlu bertanya pada diri sendiri apakah kita sering mencari pengakuan dan pujian hanya untuk diri kita sendiri, atau apakah kita bisa lebih menekankan pada pelayanan.

    Apakah kita mendengarkan, seperti Maria, atau ingin menjadi orang yang selalu berbicara agar mendapat perhatian dan pujian. Apakah kita mencoba untuk menurunkan ketegangan di antara orang-orang dan menemukan persatuan, atau apakah kita mencoba untuk selalu mendominasi situasi? Ini adalah pertanyaan penting untuk ditanyakan kepada diri kita sendiri, kata Paus, dan terutama ketika melihat ke Madonna, dengan mengatakan “dalam masa kecilnya, Maria memenangkan surga terlebih dahulu”, karena dia mengenali “kerendahan hatinya” karena bersama Tuhan, “hanya mereka yang mengakui diri mereka sebagai tidak ada yang bisa menerima semuanya”. Paus mengatakan Maria adalah “penuh rahmat” karena kerendahan hatinya.

    Kita juga harus melihat kerendahan hati sebagai titik awal dalam perjalanan iman kita, lanjut Paus, dengan mencatat bahwa kita perlu miskin dalam roh, yang berarti “membutuhkan Tuhan”, sehingga melalui kita Tuhan dapat “menyelesaikan hal-hal besar”.
    Mengingat penyair Dante yang menyebut Perawan Maria sebagai “lebih rendah hati dan lebih mulia dari makhluk mana pun”, Paus mengatakan kenyataan indah ini harus membawa kita untuk merenungkan Maria, “yang pertama memenangkan surga dengan seluruh keberadaannya, dalam jiwa dan tubuh” yang menjalani hidupnya di dalam keluarga dalam kehidupan sehari-hari yang biasa, sering “dalam keheningan … secara eksternal, tidak ada yang luar biasa”.

    Pada saat yang sama, dia menambahkan, “Tatapan Tuhan selalu tertuju padanya, mengagumi kerendahan hatinya, ketersediaannya, keindahan hatinya yang tidak pernah ternoda oleh dosa.”

    “Ini adalah pesan harapan yang besar bagi kita”, Paus menyimpulkan, mencatat bahkan dalam kehidupan kita yang biasa dan seringkali sulit, kita dapat mengikuti contoh yang sama. “Mary mengingatkan Anda hari ini bahwa Tuhan memanggil Anda juga untuk takdir yang mulia ini.”, Dia menekankan, dan ini bukan hanya kata-kata manis, tetapi “kenyataan murni” katanya, “sehidup dan benar seperti yang diangkat Madonna ke Surga”.

    Sebagai penutup, ia meminta semua orang untuk berdoa agar Maria dapat “menemani kita dalam perjalanan kita yang mengarah dari Bumi ke Surga”, berjuang untuk hidup dengan kerendahan hati, rahasia perjalanan kita.

    Caritas: Ekologi integral adalah solusi untuk krisis iklim

    Sumber: Vatikan-Integral ecology is solution to climate crisis -Komisi Komunikasi Sosial Keuskupan Agung Pontianak

    MajalahDUTA.Com, Vatikan- Pada Hari Kemanusiaan Sedunia 2021 dirayakan pada hari Kamis, Caritas Internationalis menyoroti bahwa ekologi integral dan menempatkan manusia sebagai pusat dari semua keputusan dan tindakan akan membantu dunia mengatasi krisis iklim yang dihadapi umat manusia.

    Hari Kemanusiaan Sedunia diperingati setiap tahun pada tanggal 19 Agustus. Ini adalah hari yang disisihkan untuk menghormati semua kemanusiaan, serta mereka yang kehilangan nyawa karena bekerja untuk tujuan kemanusiaan.

    Tahun ini, peringatan tahunan difokuskan pada tema krisis iklim, mengundang mitra di seluruh dunia untuk menyoroti dampak langsung dari krisis ini dengan menekan para pemimpin politik untuk mengambil tindakan yang berarti terhadap perubahan iklim dan untuk melindungi orang-orang yang paling rentan di dunia.

    Dengan keadaan darurat iklim yang mendatangkan malapetaka di seluruh dunia pada skala yang sulit ditangani oleh komunitas kemanusiaan dan orang-orang di garis depan, Hari Kemanusiaan Sedunia 2021 menyoroti pentingnya tindakan bersama dan terpadu untuk memerangi satu-satunya ancaman terbesar yang dihadapi umat manusia ini.

    Dunia dalam tantangan

    Dalam semangat tema tahun ini, Caritas Internationalis meminta para pengambil keputusan untuk mengambil langkah berani untuk mengatasi isu-isu terkait perubahan iklim, pandemi dan konsekuensinya, serta gejolak politik di Afghanistan dan Lebanon.

    Organisasi bantuan Gereja juga menunjuk pada tantangan kemanusiaan di Haiti yang disebabkan oleh gempa bumi berkekuatan 7,2 SR baru-baru ini, di tengah kekacauan politik dan ekonomi negara itu.

    Lebih jauh lagi, ketika dunia menyaksikan gelombang panas yang memecahkan rekor, badai yang menghancurkan, banjir, perubahan pola cuaca dan kebakaran hutan yang merusak pada tahun 2021, Caritas mengatakan semua ini “diciptakan oleh kurangnya kepedulian terhadap lingkungan, yang mengarah pada perubahan iklim dan krisis ekologi.”

    Dalam sebuah pernyataan di situs web organisasi, badan amal menekankan bahwa “bencana alam yang berdampak buruk pada negara-negara yang paling miskin juga merupakan seruan untuk tindakan politik yang ditentukan dan terpadu untuk melindungi, membela dan menyelamatkan nyawa,” dan menunjukkan bahwa “di mana satu bagian dari umat manusia menderita, seluruh keluarga manusia juga menderita”.

    Bertindak konkrit

    Mengusulkan langkah-langkah praktis, Caritas meminta para pemimpin politik untuk memastikan keamanan penduduk Afghanistan dan penyediaan kebutuhan dasar bagi rakyat Lebanon.

    Dalam hal ini, pemerintah didesak untuk mengalokasikan dana yang cukup bagi masyarakat lokal untuk terlibat dalam kegiatan pembangunan berbasis masyarakat pertanian dan non-pertanian untuk memastikan mata pencaharian dan ketahanan pangan mereka.

    Selain itu, badan amal mendorong keterlibatan masyarakat lokal dalam aksi kemanusiaan dan menegaskan bahwa prioritas diberikan kepada manajemen bencana di masyarakat lokal melalui pembentukan pengurangan risiko dan kegiatan untuk memastikan keselamatan melalui sistem peringatan dini.

    Untuk memastikan hal ini, pemerintah daerah diundang untuk bekerja sama dengan organisasi masyarakat sipil lokal dan kelompok berbasis agama untuk memperkuat mekanisme respons mereka.

    Caritas juga menekankan pentingnya memastikan akses ke perawatan kesehatan dasar integral bagi mereka yang paling rentan, termasuk vaksin terhadap penyakit; dan komitmen terhadap kebijakan ekonomi dan industri global untuk meminimalkan dampak pemanasan global dan degradasi ekosistem.

    Ekologi integral adalah solusinya

    Sejalan dengan ajaran Paus Fransiskus, Caritas mencatat bahwa satu-satunya tanggapan yang tepat terhadap krisis iklim adalah ekologi integral, serta menempatkan “kepentingan dan martabat pribadi manusia sebagai pusat dari semua kegiatan dan keputusan” di hadapan “penderitaan tak terhingga yang disebabkan oleh krisis alam dan buatan manusia ini” disaksikan oleh jaringan anggota badan amal yang bekerja dengan komunitas akar rumput di 200 negara dan wilayah.

    Dan dengan persiapan yang sedang berlangsung untuk Konferensi Perubahan Iklim PBB (COP26) pada bulan November, Caritas mendesak COP26 untuk mengatasi ini sebagai “prioritas mendesak” dan untuk “mengajukan solusi yang nyata dan memadai serta mengalokasikan sumber daya atau sarana yang cukup untuk mewujudkannya.”
    Pernyataan itu diakhiri dengan pengingat bahwa “tanpa kemauan politik yang kuat dari para pengambil keputusan dan pemimpin politik, tidak akan ada perubahan, dan kesejahteraan orang-orang termiskin tidak dapat dipastikan.”

    Uskup Agustinus Bersama Kongregasi MTB Bagikan 250 Paket Sembako

    Foto: Komisi Komunikasi Sosial Keuskupan Agung POntianak- Potret Uskup Agustinus sedang mambagikan sembako

    MajalahDUTA.Com, PONTIANAK– Gereja Katolik St Yoseph Katedral Pontianak, Uskup Agustinus bersama Pimpinan Umum Bruder MTB Indonesia, Br Donatus Rafael MTB bagikan 250 paket sembako, Minggu (15/08/2021) pukul 10.00 WIB. Sembako ini berasal dari sumbangan Uskup Agustinus bersama Kongregasi MTB yang dikoordinir oleh Wanita Katolik Paroki Katedral Pontianak.

    Pagi yang diguyur hujan rintik tak menyurutkan niat baik Gereja Katolik Pontianak dalam melakukan aksi sosial untuk membagikan 250 paket sembako kepada orang-orang jalanan, pengemis, tukang becak, grab, bahkan ibu penjual jamu keliling.

    Sekitar 30-an petugas tampak menyiapkan paket sembako dalam kantong merah yang siap dibagikan kepada masyarakat. Sebagai ketua wanita Katolik Katedral, Wike menjelaskan kegiatan ini berupaya berbagi kasih dan kali ini pembagian paket minggu ke lima selama masa PPKM di Kota Pontianak.

    Wike menjelaskan, sebelumnya dana yang diberikan merupakan kontribusi dari banyak pihak yang ingin membantu menyalurkannya melalui program berbagi kasih. Ia berharap program ini menginspirasi banyak pihak untuk melakukan kegiatan yang serupa.

    Simbol kepedulian Gereja

    Pakaian abu-abu dengan masker putih, Uskup Agustinus tampak semangat membagikan sembako disudut kanan masuk gereja dan berdampingan dengan Br Rafael MTB dengan jubah abu-abu turut antusias membagikan sembako.

    Sebagai Pimpinan umum Bruder MTB, Br Rafael sedikit menceritakan bahwa kemarin Jumat (13/08/2021) pagi, ditelpon oleh Uskup Agustinus mengajak untuk turut menyumbang 100 paket sembako sebagai tanda terima kasih atas hidup membiara yang dirayakan Sabtu (14/08/2021) dalam bagi kasih kepada masyarakat.

    “Kemarin saya jawab telpon dari Uskup Agustinus, saya pikir ini juga kesempatan kami juga berbagi kasih dengan mereka yang terdampak, apalagi kita membagikan kepada mereka yang membutuhkan seperti buruh kasar, orang jalanan dan mereka yang kesulitan mencari nafkah,” kata Br Rafael.

    Uskup Agung Pontianak, Mgr Agustinus  Agus mengungkapkan pemberian sembako tersebut merupakan salah satu simbol kepedulian Gereja kepada mereka yang kesulitan ekonomi akibat terdampak covid-19.

    “Sembako ini diberikan bagi mereka yang kesulitan makan terutama buruh-buruh kasar yang di PHK dan sebagainya,” kata Uskup Agustinus.

    Sebagai tokoh agama Katolik, Uskup Agustinus juga mengaku simbol tanda perhatian ini tentu tidak menyelesaikan masalah begitu saja namun baginya paling tidak jika kegiatan serupa seperti ini dilakukan oleh paroki-paroki tentu sudah membantu ratusan buruh yang terdampak.

    Uskup Agustinus menggarisabawahi bahwa kegiatan ini sebetulnya mau mengajak banyak kelompok-kelompok masyarakat dan paroki untuk melakukan kegiatan yang serupa.

    “Seperti kisah dimana Yesus memberi makan 5000 orang dengan lima roti dan dua ikan, jika diberikan oleh seratus orang maka hal tersebut menjadi berganda-ganda,” kata Uskup Agustinus.

    Dipenghujung wawancara Uskup Agustinus mengingatkan bahwa Gereja Katolik peduli dengan orang-orang yang terdampak akibat covid-19 meskipun disisi lain gereja tidak serta-merta bisa menyelesaikan masalah ekonomi.

    Paus Fransiskus: Sastra dan seni tidak boleh mengeksploitasi tenaga kerja budak

    Sumber: Pope Francis calls on authors to make sure their books are not printed using slave labor (©yupachingping - stock.adobe.com)- Komisi Komunikasi Sosial Keuskupan Agung Pontianak

    MajalahDUTA.Com, Vatikan- Paus Fransiskus menanggapi surat terbuka dari penulis Italia Maurizio Maggiani, dan mendesak semua penulis untuk memastikan buku mereka tidak dicetak dengan menggunakan tenaga kerja eksploitatif atau budak.

    Maurizio Maggiani, seorang penulis Italia yang menulis novel roman, baru-baru ini menemukan bahwa buku-bukunya dicetak dengan mengeksploitasi orang-orang dalam kondisi seperti budak di Pakistan.

    Penulis Liguria itu kemudian menulis surat terbuka kepada Paus Fransiskus—diterbitkan di situs berita online Il Secolo XIX—bertanya: “Apakah layak menghasilkan keindahan berkat karya para budak?”

    Paus menerima undangan itu dan menulis suratnya sendiri, yang diterbitkan pada hari Jumat di situs web yang sama.

    Tidak ada pertanyaan kosong

    Dalam surat tertanggal 9 Agustus, Paus Fransiskus menjawab pertanyaan terbuka penulis, dan memujinya karena berani menghadapi masalah yang “banyak orang akan diam.”

    “Saya terkesan dengan kata-kata Anda,” tulis Paus. “Pertanyaan Anda bukanlah pertanyaan kosong, karena yang dipertaruhkan adalah martabat manusia, martabat yang saat ini terlalu sering dan mudah diinjak-injak melalui ‘kerja budak’ dan keterlibatan diam-diam banyak orang.”

    Dia ingat bagaimana hari-hari awal penguncian Covid-19 tahun lalu mengungkapkan bahwa banyak makanan diproduksi dengan mengandalkan pekerja harian yang tidak memiliki hak dasar.

    Eksploitasi dan dosa

    Paus Fransiskus mengatakan pertanyaan Maggiani telah mengungkapkan poin yang lebih mencolok. “Bahkan sastra—roti jiwa dan ekspresi jiwa manusia—dilukai oleh kerakusan eksploitasi yang berlangsung dalam bayang-bayang, memusnahkan wajah dan nama.”

    Paus mengatakan dia berpikir bahwa “menerbitkan teks-teks yang indah dan membangun sambil menciptakan ketidakadilan adalah tindakan yang pada dasarnya tidak adil.”

    Baca juga: Paus menyampaikan belasungkawa atas kematian Kardinal Martinez Somalo

    “Dan bagi seorang Kristen,” tambahnya, “setiap bentuk eksploitasi adalah dosa.”
    Namun, katanya, “meninggalkan kecantikan akan menjadi bentuk retret yang juga tidak adil, penghilangan kebaikan.”

    Kewajiban melaporkan

    Paus kemudian mendesak Maggiani, bersama dengan semua orang di bidang sastra, untuk mengambil tindakan terhadap praktik penggunaan tenaga kerja budak untuk mencetak buku.

    “Namun, pena—atau keyboard komputer—menawarkan kita kemungkinan lain: melaporkan dan menulis hal-hal tidak nyaman yang dapat mengguncang kita dari ketidakpedulian, untuk merangsang hati nurani”.

    Paus Fransiskus menambahkan bahwa dia mencintai Dostoevskij baik karena rasa religiusnya maupun karena kebiasaannya menulis tentang “kehidupan yang terhina, menderita, dan miskin.”

    Menurut surat penulis Italia, Maggiani juga menulis tentang “kisah-kisah mereka yang diam, yang terakhir, dan yang terhina.”

    Paus memuji kecenderungan ini dan tindakan Maggiani untuk “menempatkan suara hati nurani yang tidak nyaman dalam warna hitam-putih.”

    Penolakan terhadap eksploitasi

    Paus Fransiskus juga meminta semua orang untuk “meninggalkan”—bukan karya budaya dan sastra—tetapi “sikap dan keuntungan yang… kita temukan yang mendorong intrik eksploitasi yang merusak, yang merusak martabat saudara dan saudari kita.”

    Baca juga: Paus ungkapkan kesedihan atas pembunuhan dua saudara perempuan di Sudan Selatan

    Dan dia berterima kasih kepada penulis Italia karena telah membawa masalah penting ini ke perhatiannya dan untuk “laporannya yang membantu.”

    “Terima kasih kepada semua yang melakukan pelepasan keduniawian yang baik dan membuat keberatan hati nurani untuk mempromosikan martabat manusia.”

    Paus menyampaikan belasungkawa atas kematian Kardinal Martinez Somalo

    Sumber: Cardinal Eduardo Martínez Somalo pictured here with Pope St. John Paul II

    MajalahDUTA.Com, Vatikan- Paus Fransiskus menyampaikan belasungkawa atas kematian Kardinal Eduardo Martinez Somalo, yang meninggal pada hari Selasa.

    Kardinal Eduardo Martinez Somalo meninggal di Vatikan pada hari Selasa pada usia 94 tahun, setelah karir yang panjang dan terhormat di Tahta Suci.

    Sebagai pengakuan atas tahun-tahun pelayanan mendiang Kardinal, Paus Fransiskus mengirimkan belasungkawa pada hari Rabu dalam sebuah telegram yang ditujukan kepada Mgr. Fernando Loza Martinez, keponakannya.

    “Saya ingin mengungkapkan kedekatan saya dengan Anda, kepada kerabat Anda, dan kepada semua orang yang mengenal dan menghargai [almarhum Kardinal Martinez Somalo], dengan hangat mengingat kesaksiannya yang berbuah secara rohani,” tulis Paus.

    Bertahun-tahun pelayanan

    Dia mengingat “pengalaman panjang dan kaya” mendiang Kardinal dalam pelayanan yang rajin kepada “enam pendahulu saya yang mempercayakannya dengan jabatan yang rumit dan penting.”

    Paus Fransiskus juga berterima kasih kepada Tuhan atas “pelayanannya yang setia dan murah hati kepada Gereja dan Takhta Suci.”

    “Saya meminta Tuhan, melalui perantaraan keibuan Perawan Maria, untuk menyambutnya ke tanah air surgawi kita untuk menikmati janji yang diberkati dari para hamba Injil yang setia,” kata Paus.

    Upacara pemakaman

    Kardinal Martinez Somalo memulai pelayanannya di Vatikan pada tahun 1956, di mana ia melayani dalam sejumlah peran penting.

    Dia bertindak sebagai Camerlengo (“Chamberlain”) selama sede vacante pada tahun 2005 setelah kematian Paus St. Yohanes Paulus II.

    Pemakaman Kardinal Martinez Somalo akan diadakan pada hari Jumat pagi di Basilika Santo Petrus, dan akan dipimpin oleh Kardinal Giovanni Battista Re.

    Paus ungkapkan kesedihan atas pembunuhan dua saudara perempuan di Sudan Selatan

    Sumber: Amedeo Lomonaco – Vatican City-Komisi Komunikasi Sosial Keuskupan Agung Pontianak

    MajalahDUTA.Com, Vatikan– Paus mengungkapkan kesedihan mendalam menerima berita tentang “serangan brutal” terhadap sekelompok Suster Hati Kudus Yesus yang mengakibatkan kematian Suster Mary Abud dan Suster Regina Roba.

    Dalam telegram yang dikirim melalui Kardinal Pietro Parolin, Menteri Luar Negeri, Paus menyampaikan “belasungkawa yang tulus” kepada keluarga dan komunitas agama mereka dalam gelombang “tindakan kekerasan yang tidak masuk akal” ini.

    Paus Fransiskus mengungkapkan kesedihannya atas pembunuhan dua religius Kongregasi Suster-Suster Hati Kudus yang terjadi Minggu lalu di Sudan Selatan.

    Dia mengungkapkan harapannya bahwa “pengorbanan mereka akan memajukan perdamaian, rekonsiliasi dan keamanan di kawasan itu” dan memanjatkan doa untuk “peristirahatan abadi mereka dan kenyamanan mereka yang berduka atas kehilangan mereka”.

    Baca juga: Kompendium Katekismus Gereja Katolik

    Kedua saudara perempuan itu tewas setelah penyergapan di jalan yang menghubungkan ibu kota Sudan Selatan, Juba, ke Nimule, di perbatasan dengan Uganda. Para biarawati, bersama dengan beberapa suster dan beberapa umat, kembali ke Juba setelah berpartisipasi dalam perayaan seratus tahun pendirian paroki Loa, di keuskupan Torit, di mana gereja didedikasikan untuk Our Lady of the Assumption.

    Mereka bepergian dengan bus yang diserang oleh orang-orang bersenjata. Sumber-sumber lokal melaporkan bahwa Suster Mary, Suster Regina dan tiga orang lainnya tewas akibat serangan tersebut.

    tes

    Kompendium Katekismus Gereja Katolik

    Sumber: Buku Kompendium Katekismus Gereja Katolik – Komisi Komunikasi Sosial Keuskupan Agung Pontianak

    MajalahDUTA.Com, Pontianak – Gereja Katolik memiliki “teks acuan” tentang iman dan moral ajaran-ajaran Katolik yaitu Kompendium Katekismus Gereja Katolik. Pada tanggal 11 Oktober 1992 lalu, Paus yohanes Paulus II menyerahkan Katekismus Gereja Katolik kepada umat beriman dari seluruh penjuru dunia. Paus menjelaskan buku itu sebagai “teks acuan” untuk katekese yang bersumber pada hidup iman.

    Tiga puluh tahun sesudah pembukaan Konsili Vatikan II (1962-1965), akhirnya terwujudlah kerinduan akan sebuah Katekismus yang lengkap mengenai ajaran-ajaran Katolik tentang iman dan moral. Keinginan ini pernah diungkapkan pada tahun 1985 oleh Sinode luar biasa para Uskup sedunia.

    Baca Juga: Apakah Yesus mengenal Kakek dan nenek-Nya?

    Lima tahun kemudian, pada tanggal 15 Agustus 1997, Paus mengesahkan edisi khusus Katekismus Gereja Katolik dan menandaskan tujuan mendasarnya “sebagai sarana yang penuh dan lengkap untuk mengomunikasikan ajaran Katolik tentang iman dan moral sehingga setiap orang dapat mengetahui apa yang sesungguhnya diimani, dirayakan, dihayati, dan didoakan oleh Gereja dalam kehidupan sehari-hari.”

    Teks Acuan 

    Dalam rangka merealisasikan potensi Katekismus sehingga lebih berguna, dan untuk memenuhi permintaan yang muncul pada Kongres Kateketik Internasional pada bulan Oktober 2002, pada tahun 2003 Paus Yohanes Paulus II mentepkan sebuah Komisi yang diketuai Kardinal Joseph Ratzinger, Prefek Kongregasi Ajaran Iman, untuk membuat draf Kompendium dari Katekismus Gereja Katolik, sebagai rumusan isi iman yang lebih ringkas.

    Sesudah bekerja selama dua tahun, draf Kompendium itu dibagikan kepada para Kardinal dan Ketua-Ketua Konferensi Para Uskup untuk mengetahui pandangan dan komentar serta kritik-kritik mereka. Secara keseluruhan, draf itu dinilai positif oleh mayoritas responden . karena itu, komisi segera melanjutkan pekerjaan mereka, merevisi, dan mempertimbangkan usul-usul yang masuk demi perbaikan. Kemudian, Komisi mempersiapkan teks finalnya.

    Baca Juga: Ikan pun mendengarkan khotbah St. Antonius

    Ada tiga ciri khas Kompendium ini, yaitu acuannya yang erat pada Katekismus Gereja Katolik, bentuknya yang dialogis, dan penggunaan lukisan-lukisan artistik dalam katekesenya. Kompendium ini bukanlah buku yang berdiri sendiri, bukan pula dimaksudkan untuk menggantikan Katekismus Gereja Katolik, melainkan justru secara konstan mengacu pada Katekismus itu dengan mencantumkan nomor-nomor acuan yang tertera pada tepi halaman, dan secara konsisten mengikuti struktur, perkembangan dan isinya.

    Jadi, Kompendium ini dimaksudkan untuk menimbulkan kembali minat dan antusiasme kepada Katekismus yang merupakan dasar untuk katekese dalam Gereja sekarang ini. Seperti dalam Katekismus, Kompendium ini terdiri dari empat bagian, sesuai dengan dinamika dasar hidup dalam Kristus.

    Bagian Satu berjudul “Pengakuan Iman”, berisi sintesis dari lex credendi (hukum iman), yaitu iman yang diakui oleh Gereja Katolik, yang diungkapkan dalam Pengakuan Iman para rasul yang kemudian dikembangkan oleh Pengakuan Iman Nicea-Konstatinopel. Dalam Pengakuan Iman liturgis, umat Kristen menghidupkan kebenaran-kebenaran pokok iman mereka dalam ingatan.

    Bagian Dua berjudul “Perayaan Misteri Kristen”, menyajikan unsur-unsur esensial dari lex celebrandi (hukum perayaan liturgi). Pewartaan injil mendapatkan jawabannya yang autentik dalam hidup Sakramental. Melalui hal ini, para pengikut Kristus mengalami dan memberikan kesaksian setiap saat dalam hidup mereka tentang daya penyelamatan misteri Paskah yang telah dilaksanakan oleh Kristus untuk penebusan kita.

    Bagian Tiga berjudul “Hidup dalam Kristus”, menjelaaskan lex vivendi (hukum kehidupan), orang-orang yang dipermandikan mewujudkan komitmen mereka terhadap iman yang sudah mereka akui dan rayakan melalui tindakan dan pilihan etis dalam hidup mereka. Umat Kristen dipanggil oleh Yesus untuk bertindak sesuai dengan martabat mereka sebagai anak-anak Bapa dalam kasih Roh Kudus.

    Bagian Empat berjudul “Doa Kristen”, meringkas lex orandi (hukum doa). Dengan mengikuti teladan Yesus, model sempurna bagi orang yang berdoa, orang-orang Kristen juga dipanggil untuk berdialog dengan Allah dalam doa. Ungkapan doa yang istimewah ialah Bapa Kami, doa yang diajarkan oleh Yesus sendiri.

    Katekese

    Ciri kas kedua Kompendium ini ialah bentuk dialogisnya yang mengingatkan kita akan bentuk literer tanya- jawab dari katekese lama. Ide yang ada dibelakangnya untuk menggambarkan dialog imajinatif anatara guru dan murid, dan melalui pertanyaan-pertanyaan yang menggelitik pembaca dibawa masuk lebih dalam untk menemukan aspek-aspek imannya yang selalu baru. Bentuk dialogisnya ini juga membuat teksnya menjadi ringkas dengan mengatakan apa yang esensial. Hal ini diharapkan dapat membantu pembaca untuk memahami isinya, dan kalau mungkin menghafalkannya.

    Baca Juga: Tentang Kerendahan Hati Menurut St. Ignatius

    Ciri khas ketiga Kompendium ini memuat lukisan-lukisan artistik yang diambil dari khazanah ikonografi Kristen. Tradisi dari konsili-konsili dari abad-abad yang lampau mengajarkan kepada kita bahwa lukisan-lukisan itu juga merupakan bentuk pewartaan injil.

    Para seniman dalam setiap zaman menyajikan fakta-fakta pokok misteri keselamatan lewat keindahan lukisan mereka yang kemudian menjadi bahan permenungan dan kekaguman umat beriman. Hal ini menjadi indikasi terutama pada zaman sekarang, dalam kebudayaan gambar, bagaimana sebuah lukisan suci dapat menjadi sebentuk ungkapan yang jauh melebihi apa yang dapat diungkapkan lewat kata-kata dan dapat menjadi cara yang dinamis, juga sangat efektif untuk menyampaikan pesan injil.

    Empat puluh tahun sesudah Konsili Vatikan Kedua dan pada tahun Ekaristi, Kompendium ini menyajikan sumber tambahan untuk memuaskan dahaga akan kebenaran diantara umat Kristen dari segala macam umur dan kondisi, dan juga pemuas dahaga akan kebenaran dan keadilan bagi mereka yang menyebut diri tidak beriman.

    Publikasi Kompendium ini bertepatan dengan Hari Raya Rasul Santo Petrus dan Paulus, tiang penyangga Gereja universal dan penginjil teladan dari zaman kuno. Para Rasul ini mewartakan dan menjadi saksi kebenaran Kristus, bahkan sampai pada kemartiran. Marilah kita meneladan semangat misioner mereka dan berdoa kepada Allah agar Gereja selalu mengikuti pengajaran para Rasul, orang-orang yang pertama kali menyampaikan pewartaan iman.

    TERBARU

    TERPOPULER