Sunday, June 7, 2026
More
    Home Blog Page 14

    Pergeseran Pemasaran dari Sekedar Menjual Barang Ke Membangun Nilai Dan Identitas

    DUTA, Pontianak – Dulu pemasaran sering dipahami secara sederhana sebagai aktivitas menjual produk sebanyak mungkin. Peusahaan berfokus pada bagaimana barang produksi, dipromosikan, dan akhirnya dibeli oleh konsumen strategi seperti diskon besar-besaran, iklan agresif, serta penonjolan keunggulan fitur produk menjadi andalan utama.

    Namun, seiring berjalannya waktu atau perkembangan zaman pada saat ini, cara pandang tersebut semakin kehilangan relevansinya. Dunia pemasaran kini telah bergeser secara singifikan, bukan lagi sekedar menjual barang, melainkan membangun nilai dan identitas merek dibenak konsumen.

    Menurut literatur strategi pemasaran modern, keberhasilan perusahaan saat ini sangat dipengaruhi oleh kemampuannya membangun merek yang kuat serta menciptakan hubungan jangka panjang dengan konsumen, terutama di era digital (Minhaj Pustaka, 2023). Dengan demikian, pemasaran berkembang dari sekadar aktivitas menjual menjadi strategi membangun makna dan nilai.

    Perubahan ini dipengaruhi oleh banyak faktor, mulai dari kemajuan teknologi digital, meningkatnya daya kritis konsumen, hingga perubahan gaya hidup masyarakat. Konsumen masa kini tidak lagi pasif menerima pesan iklan.

    Mereka aktif mencari informasi, membandingkan produk, membaca ulasan, serta membentuk opini sendiri sebelum mengambil keputusan pembelian. Akibatnya, perusahaan dituntut untuk memahami konsumen secara lebih mendalam, bukan hanya menawarkan produk yang dianggap bagus.

    Pergeseran Orientsi Produk Ke Orientasi Pemasaran

    Pemasaran tradisional cenderung menggunakan pendekatan product oriented, yaitu menekankan kualitas produk dan harga sebagai faktor utama keberhasilan. Dalam pendekatan ini, konsumen sering diposisikan sebagai pihak pasif yang hanya menerima informasi dari perusahaan. Namun, kondisi pasar saat ini menunjukkan bahwa produk yang ditawarkan antarperusahaan cenderung homogen dan konsumen memiliki banyak alternatif pilihan.

    Disinilah muncul pergeseran menuju pemasaran berbasis konsumen (customer oriented), yaitu strategi pemasaran yang berfokus pada pemahaman kebutuhan, keinginan, dan perilaku konsumen.

    Menurut Penerbit Widina (2023), pemahaman perilaku konsumen merupakan dasar penting dalam merancang strategi pemasaran, karena keputusan pembelian dipengaruhi oleh faktor psikologis, sosial, dan emosional. Oleh karena itu, pemasaran tidak lagi hanya tentang menciptakan produk, tetapi tentang menciptakan nilai (value) bagi konsumen. 

    Nilai yang dimaksud bukan sekadar manfaat fungsional, tetapi juga mencakup nilai emosional, sosial, dan simbolik. Konsumen membeli bukan hanya karena butuh, tetapi juga karena merasa cocok, merasa bangga, atau merasa terwakili oleh suatu merek.

    Konsumen Membeli Makna Dan Identitas 

    Salah satu ciri penting pemasaran modern adalah meningkatnya peran merek sebagai simbol identitas. Konsumen tidak hanya membeli produk karena kebutuhan, tetapi juga karena makna yang melekat pada merek tersebut. Dalam kajian perilaku konsumen dijelaskan bahwa produk sering dipilih karena dapat merepresentasikan gaya hidup, status sosial, dan kepribadian konsumen (Penerbit Widina, 2023).

    Fenomena ini terlihat dari kecenderungan konsumen memilih merek tertentu karena diasosiasikan dengan nilai tertentu, seperti modernitas, profesionalisme, kepedulian lingkungan, atau religiusitas. Produk kemudian berfungsi sebagai alat ekspresi diri. Dengan demikian, merek bukan hanya nama, tetapi telah menjadi identitas simbolik yang memiliki nilai psikologis bagi konsumen.

    Oleh sebab itu, perusahaan perlu membangun identitas merek secara konsisten. Ketika konsumen memiliki keterikatan emosional dengan merek, maka hubungan yang terbentuk akan lebih kuat dibandingkan sekadar hubungan transaksional.

    Branding Sebagai Jantung Pemasaran Modern

    Branding menjadi elemen sentral dalam strategi pemasaran modern. Menurut Minhaj Pustaka (2023), membangun brand di era digital bukan hanya berkaitan dengan visual seperti logo dan slogan, tetapi juga mencakup penciptaan citra, kepribadian merek, serta pengalaman konsumen. Branding yang kuat mampu menciptakan persepsi positif dan membangun kepercayaan jangka panjang.

    Konsumen cenderung lebih loyal terhadap merek yang mereka percaya. Loyalitas ini muncul bukan karena promosi sesaat, melainkan karena pengalaman positif yang konsisten. Hal ini sejalan dengan temuan dalam jurnal Musytari yang menunjukkan bahwa keputusan dan loyalitas konsumen dipengaruhi oleh persepsi, pengalaman, serta hubungan emosional dengan merek (CIB Institut, 2022).

    Dengan demikian, pemasaran modern lebih menekankan pada pembangunan hubungan relationship marketing daripada sekadar pencapaian penjualan jangka pendek.

    Peran Era Digital Dalam Perubahan Pemasaran

    Perkembangan teknologi digital semakin memperkuat pergeseran paradigma pemasaran. Media sosial dan platform digital memungkinkan konsumen untuk mengakses informasi secara luas, menyampaikan opini, serta berbagi pengalaman dengan konsumen lain.

    Menurut (Minhaj Pustaka 2023), era digital menuntut perusahaan untuk lebih adaptif, komunikatif, dan interaktif dalam membangun merek.Komunikasi antara perusahaan dan konsumen kini bersifat dua arah. Konsumen dapat memberikan kritik, saran, bahkan mempengaruhi citra merek melalui ulasan dan komentar di media sosial.

    Oleh karena itu, perusahaan dituntut untuk bersikap lebih terbuka, responsif, dan berorientasi pada pengalaman konsumen. Pemasaran tidak lagi cukup dilakukan melalui iklan, tetapi juga melalui dialog dan keterlibatan.

    Relevansi Dalam Dunia Keuangan Dan Perbankan

    Pergeseran paradigma pemasaran juga sangat relevan dalam sektor keuangan dan perbankan. Lembaga keuangan tidak cukup hanya menawarkan produk seperti tabungan, kredit, atau investasi, tetapi juga harus membangun kepercayaan dan reputasi.

    Dalam industri jasa, kepercayaan merupakan aset utama yang menentukan keberlanjutan hubungan antara institusi dan nasabah.Nasabah memilih bank tidak hanya berdasarkan suku bunga, tetapi juga berdasarkan rasa aman, kualitas pelayanan, serta citra institusi. Oleh karena itu, pemasaran di sektor keuangan harus berlandaskan nilai seperti integritas, transparansi, dan orientasi pada kepentingan nasabah.

    Hal ini menunjukkan bahwa pemasaran telah berkembang menjadi refleksi etika dan karakter organisasi. Dalam konteks ini, pemasaran bukan lagi sekadar alat bisnis, tetapi juga cerminan etika dan karakter sebuah institusi.

    Pergeseran pemasaran dari sekadar menjual barang menuju membangun nilai dan identitas merupakan konsekuensi dari perubahan lingkungan bisnis dan perilaku konsumen. Konsumen modern tidak hanya mencari produk yang fungsional, tetapi juga makna, pengalaman, dan identitas yang sesuai dengan nilai hidup mereka.

    Oleh karena itu, perusahaan perlu mengembangkan strategi pemasaran yang berorientasi pada konsumen, membangun merek yang kuat, serta menciptakan hubungan jangka panjang yang berbasis kepercayaan.

    Bagi mahasiswa keuangan dan perbankan, pemahaman terhadap perubahan paradigma ini menjadi bekal penting dalam menghadapi dunia profesional. Keberhasilan bisnis di masa depan tidak hanya ditentukan oleh produk yang ditawarkan, tetapi oleh kemampuan membangun nilai dan makna di hati konsumen.

     

    DAFTAR REFERENSI:

    Minhaj Pustaka. (2023). Strategi pemasaran modern: Membangun brand di era digital. Repository Minhaj Pustaka.
    https://repository.minhajpustaka.id/media/publications/610247-strategi-pemasaran-modern-membangun-bran-d9f4423f.pdf

    CIB Institut. (2022). Analisis perilaku konsumen dan keputusan pembelian. Jurnal Musytari.
    https://ejournal.cibinstitut.com/index.php/musytari/article/view/4096/3600

    Penerbit Widina. (2023). Strategi pemasaran dan perilaku konsumen. Repository Penerbit Widina.
    https://repository.penerbitwidina.com/media/publications/569052-strategi-pemasaran-perilaku-konsumen-349f1a86.pdf

    *Septiani Niken _ 3B mahasiswa AKUB_San Agustin Kampus II Pontianak
    *Editor – Samuel, S.E., M.M.

    Resiliensi UMKM

    DUTA, Pontianak – Di tengah tantangan ekonomi dan ketatnya persaingan pasar, pelaku usaha dituntut lebih kreatif dalam memasarkan produknya. Tidak semua bisnis memiliki anggaran besar untuk iklan, namun bukan berarti tidak bisa bersaing.

    Faktanya, banyak strategi pemasaran hemat biaya yang justru lebih tepat sasaran dan berdampak besar terhadap penjualan serta loyalitas pelanggan. Memasarkan produk tidak selalu harus mahal. Dengan strategi yang tepat, UMKM bisa menjangkau konsumen lebih luas, membangun brand yang kuat, dan meningkatkan penjualan tanpa perlu menguras anggaran. Kunci utamanya terletak pada konsistensi, kreativitas, dan keberanian untuk mencoba pendekatan baru.

    Saat ini daya beli masyarakat yang sedang terkoreksi dan biaya iklan digital yang semakin mahal di platform seperti meta dan Goggle,Usaha Mikro,Kecil,dan menegah(UMKM) justru menentukan momentumnya.

    Refleksi ini lahir dari pengamantan lapangan bahwa kesuksesan sebuah merek kini tidak lagi ditentukan oleh seberapa tebal dompet pemasaranya,melainkan seberapa dalam pemahaman terhadap prilaku konsumen digital.UMKM yang cerdas tidak mencoba berteriak lebih keras melalui iklan berbayar,melainkan berbisik lebih tepat melalui konten yang relevan dan komuitas yang loyal.

    Untuk mampu bertahan, selain permodalan, SDM, dan manajemen UMKM itu sendiri harus peka dan mudah menyesuaikan diri terhadap perubahan, terus berinovasi, cakap teknologi, dan memunyai pemimpin yang terampil.Pemasaran UMKM tanpa anggaran besar bertumpu pada kreativitas, konsistensi, dan optimalisasi aset digital gratis.

    Strategi kunci meliputi pemanfaatan media sosial organik, pembuatan konten menarik, SEO lokal, kolaborasi dengan micro-influencer, serta membangun komunitas pelanggan. Fokus pada keunikan produk branding dan layanan pelanggan yang personal terbukti lebih efektif meningkatkan awareness daripada iklan berbayar yang mahal. 

     refleksi mendalam mengenai strategi pemasaran UMKM yang minim anggaran namun berdampak besar:

    • Optimalisasi Konten Organik dan Sosial Media: Tidak perlu iklan berbayar, konsistensi mengunggah konten menarik di Instagram, TikTok, atau Facebook dapat membangun engagement.
    • Membangun Identitas Unik (Branding): UMKM harus memiliki keunikan (Unique Selling Proposition) yang menonjol agar lebih mudah diingat konsumen.
    • Memanfaatkan E-commerce dan Marketplace : Bergabungdengan platform marketplace membantu memperluas jangkauan pasar tanpa biaya iklan.
    • Kolaborasi dengan Micro-Influencer: Memilih influencer mikro yang sesuai dengan target pasar seringkali lebih efektif dan murah dibanding influencer besar.
    • Evaluasi dan Konsistensi: Pemasaran hemat energi menuntut konsistensi tinggi. Evaluasi rutin pada konten yang paling banyak diminati sangat penting untuk efisiensi.
    • Fokus pada Pelanggan Setia: Membangun hubungan personal, seperti meminta ulasan (review), jauh lebih berharga untuk menciptakan pemasaran mulut ke mulut (word of mouth). 

    ini diharapkan pelaku UMKM dapat mengevaluasi diri dan meningkatkan kapasitasnya berdasarkan faktor-faktor tersebut sehingga ketahanan dalam segala kondisi dapat diwujudkan, tentu saja dengan dukungan berbagai pihak pemerintah, sektor swasta, LSM, dan semua stakeholder yang terkait.

    Bagaimana meningkatkan ketahanan UMKM yang berdampak pada kenaikan kinerjanya seharusnya menjadi perhatian penting pemerintah terutama Dinas Perdagangan, Koperasi, dan UMKM. Pemerintah perlu mengetahui dan menganalisis faktor-faktor ketahanan UMKM dari semua komponen sehingga dapat merumuskan strategi dan kebijakan sebagai solusi. Dan dari jumlah pelaku usaha di Indonesia.

    Pentingnya peran UMKM dalam meningkatkan kesejahteraan masyarakat telah banyak diteliti di berbagai Negara.UMKM berperan penting dalam menyediakan lapangan kerja, pengembangan kewirausahaan, pengentasan kemiskinan, dan pembangunan sosial dan ekonomi. Fenomena ini memicu lahirnya sebuah refleksi mendalam mengenai efektivitas strategi pemasaran.

    Apakah keberhasilan usaha selalu berbanding lurus dengan besaran anggaran?Kenyataan di lapangan menunjukkan bahwa strategi pemasaran konvensional yang mengandalkan alokasi dana besar mulai kehilangan relevansinya.

    Anggaran besar mungkin bisa membeli perhatian, tetapi tidak bisa membeli kesetiaan. UMKM yang mampu bertahan dan berkembang di tahun 2026 adalah mereka yang melihat keterbatasan modal bukan sebagai hambatan, melainkan sebagai pemicu inovasi.Refleksi ini membawa kita pada satu poin penting,pemasaran terbaik adalah komunikasi yang manusiawi.

    Selama UMKM tetap menjaga kedekatan emosional dengan konsumennya dan tangkas memanfaatkan alat digital yang ada, mereka akan selalu memiliki ruang untuk menang melawan raksasa industri.Pemasaran bukan lagi soal siapa yang paling kaya, tapi siapa yang paling mampu memberikan makna bagi konsumennya.

    Keberhasilan UMKM dalam mempertahankan eksistensinya di tengah persaingan global bergantung pada kemampuannya mengintegrasikan teknologi informasi dengan pemberdayaan komunitas lokal.

    Oleh karena itu, kedaulatan ekonomi rakyat akan tercapai apabila para pelaku usaha mampu mengoptimalisasi seluruh instrumen digital secara bijak, transparan, dan berkelanjutan, guna menciptakan nilai tambah yang berdampak luas bagi kesejahteraan masyarakat.

    UMKM yang memiliki resiliensi tinggi justru merupakan unit usaha yang mampu mengoptimalkan keterbatasan sumber daya melalui inovasi strategi yang lebih taktis, humanis, dan berbasis data.

    DAFTAR REFERENSI:

    • Referensi berita dari LINKUMKM(Strategi Pemasaran Hemat untuk UMKM: Terbukti Efektif, Mudah Dijalankan) Jumat, 25 April 2025
    •  Berita dari LINKUMKM Resiliensi UMKM jadi kuci Menuju Indonesia Emas 2045.18 Agustus 2025
    •  Kotler, P., & Setiawan, I. (2024). Marketing 6.0: The Future is Immersive. New Jersey: John Wiley & Sons. (Membahas integrasi teknologi imersif untuk usaha skala kecil).
    • Kartajaya, H. (2025). Entrepreneurial Marketing: Winning in the Digital Age. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama. (Strategi pemasaran tanpa modal besar melalui kelincahan bisnis).

      *Yuliana Illifia U.D_ 3B mahasiswa AKUB_San Agustin Kampus II Pontianak*Editor – Samuel, S.E., M.M.

    Krisis Kepercayaan Publik di Era Konten Digital

    DUTA, Pontianak – Di era konten digital, masyarakat tidak lagi kekurangan informasi, melainkan kelebihan klaim. Setiap hari, masyarakat disuguhi berbagai iklan dengan judul dramatis, janji hasil instan, dan testimoni yang tampak meyakinkan, namun sering kali tidak sebanding dengan realitas yang dialami konsumen.

    Alih-alih memperkuat kepercayaan, banjir konten iklan justru memunculkan tidak kepercayaan dengan apa yang diiklankan. Dari Banyak influencer yang membuat konten iklan ada beberapa justru membuat masyarakat tidak tertarik karena tidak realistis namun ada juga yang percaya, berharap apa yang diiklankan sesuai dengan realita.

    Tetapi banyak juga yang sesuai dengan apa yang diiklankan. Perkembangan media digital pada awalnya menjanjikan ruang informasi yang lebih demokratis dan relevan bagi publik. Iklan tidak lagi bersifat satu arah, melainkan dipersonalisasi sesuai minat dan kebutuhan audiens.

    Namun, dalam praktiknya, kemajuan ini justru melahirkan persoalan baru berupa banjir konten iklan yang sulit dibendung. Hampir setiap platform digital mulai dari media sosial, marketplace, hingga portal berita dipenuhi pesan promosi dengan intensitas tinggi dan repetitif.

    Akibatnya, iklan tidak lagi berfungsi sebagai sarana informasi, melainkan berubah menjadi kebisingandigital yang melelahkan. Dalam situasi ini, perhatian publik menjadi komoditas utama. Algoritma platform cenderung memprioritaskan konten yang sensasional, provokatif, dan menjanjikan hasil instan, karena dianggap lebih efektif menarik klik dan interaksi.

    Judul iklan dibuat semakin berlebihan, sering kali tanpa keseimbangan antara daya tarik dan akurasi isi. Ketika strategi semacam ini dilakukan secara masif dan terus-menerus, publik tidak hanya mengalami kejenuhan, tetapi juga mulai mempertanyakan kredibilitas pesan komersial yang mereka terima.

    Seperti kasus yang baru-baru ini klaim bahwa produk skincare pemutih yang mereka jual dan promosikan disosial media bisa memutihkan dengan hanya beberapa kali pemakaian. Mengiklankan produknya tetapi memakai produk pemutih atau tone up kulit, hal tersebut membuat banyak masyarakat skeptis, memang pikiran yang seperti ini yang masyarakat harus punya.

    melihat kenyataan bahwa tidak ada produk skincare yang bisa memutihkan dengan instan. Masyarakat Indonesia banyak yang tergila-gila dengan warna kulit putih. banyak iklan pemutih kulit yang berseliweran disosial media melakukan overclaim agar masyarakat langsung membeli tanpa harus berpikir skeptis.

    Krisis kepercayaan publik di era konten digital pada dasarnya bukan lahir dari satu atau dua iklan yang menyesatkan, melainkan dari akumulasi pesan komersial yang berlebihan, repetitif, dan kerap tidak sejalan dengan realitas.

    Ketika hampir setiap ruang digital dipenuhi janji promosi, publik tidak hanya menjadi lebih selektif, tetapi juga semakin skeptis terhadap klaim apa pun yang disampaikan. Dalam kondisi seperti ini, kepercayaan tidak lagi menjadi fondasi komunikasi pemasaran, melainkan sumber daya yang langka dan mudah terkikis.

    Situasi tersebut seharusnya menjadi refleksi bagi seluruh aktor dalam ekosistem digital mulai dari pelaku usaha, kreator konten, hingga platform media. Keberhasilan iklan tidak semestinya diukur semata dari jumlah tayangan atau tingkat keterlibatan, tetapi dari sejauh mana pesan yang disampaikan mampu mempertahankan integritas dan kejujuran.

    Tanpa perubahan pendekatan dari sekadar mengejar perhatian menuju membangun kredibilitas, banjir konten iklan justru akan terus memperdalam jurang ketidakpercayaan antara masyarakat dan pesan komersial yang mereka terima.

    Pada akhirnya, publik tidak menuntut iklan yang sempurna, melainkan komunikasi yang jujur dan proporsional. Di tengah kebisingan digital yang semakin padat, hanya konten yang menghargai kepercayaan masyarakat yang memiliki peluang untuk bertahan.

    Tanpa itu, iklan digital berisiko kehilangan fungsi utamanya sebagai jembatan informasi, dan justru menjadi simbol krisis kepercayaan yang terus berulang di masyarakat.

    SUMBER REFERENSI:

    BPOM temukan 26 kosmetik berbahaya yang mengandung bahan berbahaya dan/atau dilarang. TVOne
    News. 16 Januari 2026.

    https://www.tvonenews.com/berita/nasional/407392-bpom-kosmetik-temukan-26-produk-
    berbahaya-warga-diminta-cek-izin-edar-sebelum-pakai

    * Martina Angelina_ 3B mahasiswa AKUB_San Agustin Kampus II Pontianak

    *Editor – Samuel, S.E., M.M.

    Paus Leo XIV: Keadilan Gereja Harus Berakar pada Kebenaran dan Kasih

    Paus Leo XIV bertemu dengan para pejabat Pengadilan Rota Romawi untuk peresmian tahun peradilan mereka, (@Vatican Media)

    DUTA, Vatikan – Paus Leo XIV mengajak para auditor Pengadilan Rota Romawi untuk menegakkan kebenaran dengan ketelitian, namun tanpa sikap kaku, serta menghayati kasih sayang tanpa mengabaikan tuntutan keadilan. Seruan ini disampaikannya saat meresmikan Tahun Yudisial Pengadilan Rota Romawi di Vatikan, Senin lalu.

    Dalam pertemuan tersebut, Paus menegaskan bahwa para hakim gerejawi memikul tanggung jawab penting dalam menjaga hak-hak umat beriman dan menjamin kesatuan yurisprudensi Gereja.

    Pengadilan Rota Romawi sendiri berfungsi sebagai pengadilan banding tertinggi Takhta Suci, termasuk menangani perkara pembatalan perkawinan, dispensasi tertentu, serta kasus-kasus hukum kanonik lain sesuai norma universal Gereja.

    Mengawali sambutannya, Paus Leo XIV menyampaikan apresiasi atas pelayanan para hakim Rota Romawi yang dinilainya sebagai kontribusi berharga bagi tugas peradilan universal Gereja.

    Ia menekankan bahwa moto Veritatem facientes in caritate—melakukan kebenaran dalam kasih—menjadi inti dari misi peradilan gerejawi sehari-hari. Berdasarkan pengalamannya sendiri sebagai hakim, Paus mengaku memahami tantangan yang dihadapi para auditor dan makna gerejawi dari tugas mereka.

    Paus kemudian menyoroti tema klasik yang selalu mengiringi refleksi Gereja tentang peradilan, yakni hubungan erat antara keadilan dan kebenaran. Menurutnya, kebenaran dan kasih bukanlah dua nilai yang saling bertentangan atau sekadar perlu diseimbangkan secara pragmatis, melainkan dua dimensi yang menyatu secara hakiki dalam diri Allah yang adalah sekaligus Kasih dan Kebenaran.

    Paus Leo XIV menerima para pejabat Pengadilan Rota Romawi untuk peresmian tahun peradilan mereka (@Media Vatikan)

    Ia mengingatkan bahwa dalam praktik peradilan, sering muncul ketegangan antara tuntutan kebenaran objektif dan keprihatinan pastoral terhadap situasi umat. Jika tidak disikapi dengan kebijaksanaan, empati yang berlebihan dapat berujung pada relativisasi kebenaran, sehingga keputusan kehilangan dasar objektif yang kokoh. Hal ini, tegas Paus, dapat terjadi dalam perkara pembatalan perkawinan maupun proses hukum lainnya.

    Sebaliknya, Paus juga memperingatkan bahaya sikap legalistik yang dingin, yang menegaskan kebenaran tanpa mempertimbangkan belas kasih dan martabat pribadi mereka yang terlibat dalam proses hukum. Menurutnya, kasih sayang dan penghormatan terhadap sesama harus mewarnai setiap tahap peradilan.

    Mengutip Surat Santo Paulus kepada Jemaat Efesus, Paus Leo XIV menegaskan bahwa hidup dalam kebenaran dan kasih berarti “melakukan kebenaran” dalam tindakan nyata, bukan sekadar memegang kebenaran secara teoritis. Kasih, lanjutnya, merupakan daya penggerak utama bagi terwujudnya keadilan sejati.

    Paus menekankan bahwa proses peradilan Gereja bukanlah arena benturan kepentingan, melainkan sarana penting untuk membedakan kebenaran dan keadilan dalam setiap kasus konkret. Karena itu, ketelitian prosedural dan kesetiaan pada prinsip-prinsip dasar keadilan mutlak diperlukan agar tidak terjadi perlakuan yang tidak adil terhadap situasi serupa.

    Ia juga menyinggung prosedur singkat pembatalan perkawinan di hadapan Uskup diosesan, yang menurutnya harus diterapkan dengan kehati-hatian tinggi. Kejelasan alasan pembatalan tetap harus diuji melalui proses yang sah agar kebenaran hukum benar-benar terjamin.

    Menutup sambutannya, Paus Leo XIV menegaskan pentingnya pengembangan dan penerapan hukum perkawinan kanonik secara ilmiah dan setia pada Magisterium Gereja. Ia pun mempercayakan karya para hakim Rota Romawi kepada perantaraan Bunda Maria, Speculum iustitiae, sebagai teladan sempurna kebenaran yang dihayati dalam kasih. (Samuel- Vatikan News). 

    Strategi Adaptif Manajemen Pemasaran dalam Kondisi Penurunan Daya Beli Masyarakat

    DUTA, Pontianak – Strategi Adaptif Manajemen Pemasaran dalam Kondisi Penurunan Daya Beli Masyarakat Penurunan daya beli masyarakat merupakan tantangan serius bagi perusahaan di berbagai sektor. Kondisi ini umumnya dipicu oleh tekanan ekonomi makro seperti inflasi, kenaikan harga, kebutuhan pokok, ketidakpastian pendapatan, serta perlambatan pertumbuhan ekonomi.

    Dampaknya tidak hanya terlihat pada menurunnya volume penjualan tetapi juga pada perubahan perilaku konsumen yang menjadi lebih berhati-hati, selektif, dan rasional dalam mengambil keputusan pembelian. Dalam situasi seperti ini, manajemen pemasaran dituntut untuk bersikap adaptif, tidak sekadar mempertahankan strategi lama, tetapi mampu menyesuaikan pendekatan agar tetap relevan dengan kondisi pasar.

    Menurut pandangan penulis, strategi adaptif dalam manajemen pemasaran bukan hanya soal menurunkan harga produk, melainkan tentang bagaimana perusahaan mampu menciptakan dan mengkomunikasikan nilai yang sesuai dengan kebutuhan dan kemampuan konsumen.

    Ketika daya beli menurun, konsumen cenderung memprioritaskan produk yang benar-benar memberikan manfaat nyata, memiliki harga yang sepadan, serta didukung oleh kepercayaan terhadap merek. Oleh karena itu, fokus utama pemasaran harus bergeser dari orientasi penjualan jangka pendek menuju orientasi nilai dan hubungan jangka panjang dengan pelanggan.

    Salah satu strategi adaptif yang krusial adalah penyesuaian segmentasi dan targeting pasar. Dalam kondisi ekonomi normal, perusahaan mungkin menargetkan segmen yang lebih luas, namun saat daya beli melemah, pendekatan tersebut menjadi kurang efektif.

    Perusahaan perlu mengidentifikasi segmen konsumen yang masih memiliki kebutuhan kuat terhadap produk tertentu, meskipun dengan tingkat pengeluaran yang lebih terbatas. Segmentasi berbasis perilaku, seperti sensitivitas harga, frekuensi pembelian, dan loyalitas, menjadi lebih relevan dibandingkan sekadar segmentasi demografis.

    Salah satu strategi adaptif yang krusial adalah penyesuaian segmentasi dan targeting pasar. Dalam kondisi ekonomi normal, perusahaan mungkin menargetkan segmen yang lebih luas, namun saat daya beli melemah, pendekatan tersebut menjadi kurang efektif.

    Perusahaan perlu mengidentifikasi segmen konsumen yang masih memiliki kebutuhan kuat terhadap produk tertentu, meskipun dengan tingkat pengeluaran yang lebih terbatas. Segmentasi berbasis perilaku, seperti sensitivitas harga, frekuensi pembelian, dan loyalitas, menjadi lebih relevan dibandingkan sekadar segmentasi demografis.

    Dari sisi promosi, pendekatan komunikasi pemasaran juga perlu berubah. Dalam kondisi penurunan daya beli, pesan promosi yang bersifat emosional tanpa nilai fungsional yang jelas cenderung kurang efektif.

    Konsumen lebih tertarik pada komunikasi yang menekankan manfaat nyata, efisiensi, dan relevansi produk terhadap kebutuhan sehari-hari. Di sinilah peran pemasaran digital menjadi semakin penting, karena memungkinkan perusahaan menyampaikan pesan yang lebih personal, terukur, dan hemat biaya dibandingkan media konvensional.

    Strategi adaptif lainnya yang menurut penulis sangat penting adalah penguatan hubungan dengan pelanggan (relationship marketing). Ketika konsumen mengurangi pengeluaran, loyalitas menjadi faktor penentu keberlangsungan bisnis.

    Perusahaan yang mampu membangun hubungan emosional, memberikan pengalaman pelanggan yang konsisten, serta menunjukkan empati terhadap kondisi konsumen akan lebih mudah mempertahankan pelanggan. Program loyalitas, layanan purna jual yang baik, dan komunikasi dua arah melalui media digital dapat memperkuat kepercayaan dan keterikatan pelanggan terhadap merek.

    Namun demikian, strategi adaptif juga menuntut fleksibilitas internal organisasi. Manajemen pemasaran tidak dapat bekerja sendiri tanpa dukungan fungsi lain seperti keuangan, produksi, dan sumber daya manusia.

    Keputusan pemasaran harus selaras dengan kemampuan operasional perusahaan agar adaptasi yang dilakukan tidak menimbulkan masalah baru, seperti penurunan kualitas atau ketidakefisienan biaya.

    Sebagai refleksi, penurunan daya beli masyarakat seharusnya tidak selalu dipandang sebagai ancaman semata, tetapi juga sebagai momentum bagi perusahaan untuk mengevaluasi ulang strategi pemasarannya.

    Perusahaan yang mampu beradaptasi dengan cepat, memahami perubahan perilaku konsumen, serta berfokus pada penciptaan nilai yang relevan akan memiliki peluang lebih besar untuk bertahan bahkan tumbuh di tengah kondisi ekonomi yang sulit.

    Penurunan daya beli masyarakat merupakan fenomena yang kerap muncul dalam siklus ekonomi, terutama pada periode inflasi tinggi, perlambatan pertumbuhan ekonomi, atau ketidakpastian global. Dampak dari fenomena ini tidak hanya terlihat dari berkurangnya kemampuan konsumen untuk membeli barang dan jasa, tetapi juga dari perubahan perilaku dan preferensi konsumen yang menjadi lebih rasional, selektif, dan sensitif terhadap harga.

    Di sisi lain, perusahaan yang tidak merespons dinamika ini dengan strategi pemasaran yang adaptif berisiko kehilangan pangsa pasar dan hubungan dengan pelanggan. Karena itu, strategi adaptif dalam manajemen pemasaran menjadi alat penting untuk mempertahankan relevansi merek, mempertahankan loyalitas konsumen, dan membuka peluang pertumbuhan meskipun daya beli sedang melemah.

    Di samping itu, strategi adaptif juga mengharuskan perusahaan untuk mengembangkan kapabilitas internal yang fleksibel. Hal ini mencakup kemampuan pengambilan keputusan cepat berdasarkan data pasar, kolaborasi antar fungsi organisasi (pemasaran, produksi, keuangan), serta pembelajaran berkelanjutan dari respons pasar.

    Kemampuan untuk terus menyesuaikan strategi secara iteratif memungkinkan perusahaan untuk menghadapi perubahan daya beli konsumen dengan lebih tangguh.Sebagai refleksi, penurunan daya beli tidak semata menjadi ancaman, tetapi juga merupakan momentum bagi pemasar untuk mengevaluasi kembali strategi mereka, memperkuat pemahaman terhadap kebutuhan konsumen, dan berinovasi dengan cara yang lebih adaptif dan responsif.

    Perusahaan yang mampu memadukan pemahaman pasar, kecepatan adaptasi, serta komunikasi yang empatik akan memiliki keunggulan kompetitif yang berkelanjutan di tengah situasi ekonomi yang tidak menentu.

    DAFTAR REFERENSI:

    • Strategi Pemasaran dan Perilaku Konsumen di Era Digital (2025) — digital market adaptation perspective.
    • Perilaku Konsumen dan Strategi Pemasaran (2025) — hubungan perilaku konsumen dan strategi pemasaran.
    • Marketing in a Crisis: Strategies for Resilience and Growth (2023) — strategi pemasaran dalam kondisi krisis ekonomi.

      * Nesa sepriana _ 3B mahasiswa AKUB_San Agustin Kampus II Pontianak
      *Editor – Samuel, S.E., M.M.

    Figur Publik Digital dan Krisis Nalar Publik

    DUTA, Pontianak – Perkembangan teknologi digital dan media sosial telah melahirkan fenomena figur publik digital, seperti influencer, content creator, dan selebritas internet. Mereka hadir sebagai tokoh yang tidak hanya menghibur, tetapi juga membentuk opini, gaya hidup, serta pola konsumsi masyarakat.

    Dalam banyak kasus, figur publik digital bahkan lebih dipercaya dibandingkan institusi formal, pakar, atau media arus utama. Kondisi ini menunjukkan adanya ketergantungan berlebihan yang patut dikritisi, terutama dari sisi rasionalitas publik, kualitas informasi, dan kemandirian berpikir masyarakat digital.

    Ketergantungan berlebihan pada figur publik digital muncul karena kombinasi antara popularitas, kedekatan emosional, dan algoritma media sosial. Influencer sering membangun citra seolah-olah dekat dengan pengikutnya melalui narasi personal dan interaksi langsung.

    Kedekatan semu ini menciptakan rasa percaya yang kuat, meskipun tidak selalu didukung oleh kompetensi atau keahlian yang memadai. Akibatnya, opini dan rekomendasi yang disampaikan figur publik digital sering diterima tanpa proses verifikasi kritis. Masalah pertama dari ketergantungan ini adalah kaburnya batas antara opini personal dan kebenaran objektif.

    Banyak figur publik digital membahas isu kesehatan, keuangan, pendidikan, bahkan politik, tanpa latar belakang akademik atau profesional yang relevan. Penelitian karya ilmiah yang dipublikasikan pada tahun 2024 menunjukkan bahwa kepercayaan terhadap influencer lebih dipengaruhi oleh daya tarik personal dan interaksi emosional daripada kualitas informasi yang disampaikan.

    Hal ini membuat masyarakat rentan terhadap misinformasi dan simplifikasi isu kompleks (Binus Business Review, 2024). Kedua, algoritma media sosial memperparah ketergantungan ini. Algoritma cenderung mempromosikan konten yang memiliki tingkat keterlibatan tinggi, bukan konten yang paling akurat atau mendidik. Figur publik digital dengan jumlah pengikut besar akan semakin diuntungkan, sementara sumber alternatif yang lebih kredibel namun kurang populer menjadi tenggelam.

    Akibatnya, masyarakat semakin terjebak dalam echo chamber, di mana pandangan yang sama terus diulang tanpa ruang dialog kritis. Ketergantungan ini tidak hanya membentuk preferensi individu, tetapi juga memengaruhi opini publik secara luas. Ketiga, figur publik digital sering berperan sebagai agen komersial terselubung.

    Banyak konten yang tampak sebagai pengalaman pribadi ternyata merupakan bagian dari strategi pemasaran. Studi konseptual tentang influencer marketing tahun 2024 menegaskan bahwa keterlibatan emosional pengikut sering dimanfaatkan untuk mendorong keputusan pembelian impulsif.

    Dalam situasi ini, pengikut tidak lagi bertindak sebagai konsumen rasional, melainkan sebagai target persuasi berbasis emosi dan identifikasi sosial (ISC-BEAM Proceedings, 2024).Ketergantungan ini juga berdampak pada aspek psikologis dan sosial, terutama di kalangan generasi muda.

    Paparan terus-menerus terhadap gaya hidup ideal yang ditampilkan figur publik digital dapat menimbulkan tekanan sosial, rasa tidak percaya diri, dan kecemasan. Standar kesuksesan bergeser dari pencapaian nyata ke popularitas digital, seperti jumlah pengikut dan tingkat interaksi. Dalam jangka panjang, kondisi ini dapat melemahkan nilai kerja keras, proses belajar, dan pencapaian berbasis kompetensi.

    Lebih jauh lagi, ketergantungan berlebihan pada figur publik digital berpotensi melemahkan kualitas demokrasi dan diskursus publik. Ketika opini masyarakat dibentuk oleh individu yang memiliki kepentingan ekonomi atau popularitas, ruang publik kehilangan keseimbangannya.

    Narasi yang sederhana dan emosional lebih mudah diterima dibandingkan analisis yang mendalam dan berbasis data. Hal ini berbahaya karena masyarakat tidak lagi menilai argumen berdasarkan rasionalitas, melainkan berdasarkan siapa yang menyampaikannya.

    Namun demikian, kritik terhadap ketergantungan ini tidak berarti menolak sepenuhnya peran figur publik digital. Influencer yang bertanggung jawab dan memiliki kesadaran etis dapat menjadi sarana edukasi dan penyebaran nilai positif. Beberapa figur publik digital berhasil mengampanyekan literasi keuangan, kesehatan mental, dan isu sosial secara efektif.

    Masalahnya bukan pada keberadaan mereka, melainkan pada sikap masyarakat yang terlalu menggantungkan penilaian dan keputusan pada figur tersebut. Oleh karena itu, solusi utama dari persoalan ini adalah penguatan literasi media dan literasi digital.

    Masyarakat perlu dibekali kemampuan untuk menilai kredibilitas sumber, memahami motif di balik konten, serta membedakan antara opini, promosi, dan fakta. Pendidikan formal dan informal harus mendorong sikap kritis terhadap media sosial, bukan sekadar kemampuan teknis dalam menggunakannya.

    Sebagai penutup, ketergantungan berlebihan pada figur publik digital merupakan fenomena sosial yang tidak bisa dihindari, tetapi dapat dikendalikan. Masyarakat digital yang sehat adalah masyarakat yang mampu memanfaatkan pengaruh figur publik secara selektif, tanpa kehilangan nalar kritis dan kemandirian berpikir.

    Popularitas seharusnya tidak menjadi pengganti kebenaran, dan jumlah pengikut tidak boleh dijadikan ukuran utama kredibilitas. Dalam dunia digital yang semakin kompleks, berpikir kritis adalah bentuk kebebasan paling mendasar.

    Selain itu, ketergantungan pada figur publik digital juga menunjukkan adanya pergeseran otoritas dalam masyarakat modern. Jika sebelumnya otoritas pengetahuan berada pada institusi pendidikan, akademisi, dan media profesional, kini otoritas tersebut sering berpindah ke individu yang memiliki daya tarik visual dan kemampuan membangun persona digital.

    Pergeseran ini tidak selalu negatif, tetapi menjadi masalah ketika legitimasi sosial lebih ditentukan oleh popularitas daripada kompetensi. Dalam jangka panjang, kondisi ini berpotensi menurunkan penghargaan terhadap proses belajar, keahlian, dan pemikiran berbasis data.

    Dalam konteks mahasiswa dan kaum terdidik, fenomena ini seharusnya menjadi alarm penting. Mahasiswa memiliki peran strategis sebagai kelompok yang diharapkan mampu berpikir kritis dan rasional di tengah derasnya arus informasi. Ketergantungan berlebihan pada figur publik digital tanpa sikap kritis justru bertentangan dengan nilai akademik yang menjunjung tinggi analisis, argumentasi, dan pembuktian ilmiah.

    Oleh karena itu, mahasiswa perlu menempatkan media sosial sebagai sumber awal informasi, bukan sebagai rujukan akhir dalam membentuk pandangan dan keputusan. Lebih jauh, sikap kritis terhadap figur publik digital juga berkaitan dengan tanggung jawab sosial. Setiap individu memiliki peran dalam menciptakan ekosistem digital yang sehat, baik sebagai konsumen maupun produsen informasi.

    Dengan tidak serta-merta membagikan konten yang bersifat manipulatif, sensasional, atau menyesatkan, masyarakat turut berkontribusi dalam menekan dampak negatif dari dominasi figur publik digital. Kesadaran kolektif ini penting agar ruang digital tidak hanya menjadi sarana hiburan, tet api juga ruang pembentukan pengetahuan yang bertanggung jawab.

     

    DAFTAR REFERENSI:

    1).Dauhan, F. A., & Langi, F. K. (2024).

    Social Media Influencer: The Influence of Followers’ Purchase Intention through Online Engagement and Attitude.

    Binus Business Review.

    PDF: https://journal.binus.ac.id/index.php/BBR/article/view/10185

    2) .Mohd Khairulamiren, M. S., & Aziz, F. A. (2024).

    Influencer Marketing and Engagement of Social Media Influencers: A Conceptual Paper.

    ISC-BEAM Proceedings.

     PDF: https://journal.unj.ac.id/unj/index.php/isc-beam/article/view/46529

    3). Telkom University Open Library (2025).

    Pengaruh Media Sosial Influencer dan Scarcity terhadap Pembelian Impulsif dengan Fear of Missing Out sebagai Mediasi.

     PDF: https://openlibrary.telkomuniversity.ac.id/pustaka/2415495

    4). Mohd Khairulamiren, M. S., & Aziz, F. A. (2024).Influencer Marketing and Engagement of Social Media Influencers: A Conceptual Paper.

    ISC-BEAM Proceedings.

     PDF: https://journal.unj.ac.id/unj/index.php/isc-beam/article/view/46529

    5). Telkom University Open Library (2025).

    Pengaruh Media Sosial Influencer dan Scarcity terhadap Pembelianp Impulsif dengan Fear of Missing Out sebagai Mediasi.

     PDF: https://openlibrary.telkomuniversity.ac.id/pustaka/241549

    *Petronela Ribi _ 3B mahasiswa AKUB_San Agustin Kampus II Pontianak
    *Editor – Samuel, S.E., M.M.

     

    Refleksi Tentang Strategi Pemasaran UMKM yang Tidak Selalu Bergantung pada Anggaran Besar

    Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) memiliki peran strategis dalam perekonomian nasional. UMKM tidak hanya menjadi penyerap tenaga kerja terbesar, tetapi juga berkontribusi signifikan terhadap pertumbuhan ekonomi dan pemerataan pendapatan.

    Namun, keterbatasan modal dan sumber daya sering menjadi tantangan utama bagi UMKM, khususnya dalam aktivitas pemasaran. Banyak pelaku UMKM beranggapan bahwa pemasaran yang efektif memerlukan anggaran besar, sehingga mereka cenderung pasif dan kurang inovatif dalam memasarkan produk.

    Padahal, berdasarkan konsep dalam buku referensi strategi pemasaran, strategi pemasaran bukan semata-mata tentang besarnya anggaran promosi, melainkan bagaimana perusahaan mampu merancang pendekatan yang tepat, kreatif, dan berorientasi pada nilai. Oleh karena itu, UMKM sejatinya memiliki peluang besar untuk berkembang meskipun dengan keterbatasan dana, asalkan mampu menerapkan strategi pemasaran yang efektif, efisien, dan sesuai dengan karakteristik pasar.

     

    Konsep Strategi Pemasaran sebagai Landasan UMKM

    Dalam buku referensi strategi pemasaran dijelaskan bahwa strategi pemasaran merupakan pendekatan terencana yang mengintegrasikan berbagai metode dan alat untuk menciptakan nilai, menarik minat pelanggan, dan mencapai tujuan bisnis. Strategi pemasaran melibatkan proses analisis situasi, penentuan target pasar, pemilihan bauran pemasaran, serta evaluasi kinerja pemasaran.

    Bagi UMKM, konsep ini menegaskan bahwa pemasaran bukan sekadar promosi berbiaya tinggi, melainkan upaya sistematis dalam memahami kebutuhan konsumen dan merancang solusi yang tepat. Dengan strategi yang terarah, UMKM dapat mengoptimalkan sumber daya yang terbatas menjadi kekuatan kompetitif yang mampu bersaing dengan perusahaan berskala besar.

     

    Membangun Keunggulan Produk sebagai Strategi Utama

    Salah satu kekuatan utama UMKM terletak pada keunikan produk. UMKM umumnya menghasilkan produk berbasis kearifan lokal, kreativitas, dan sentuhan personal yang sulit ditiru oleh industri besar. Oleh karena itu, strategi pemasaran UMKM seharusnya menitikberatkan pada penciptaan nilai produk yang unik, berkualitas, dan relevan dengan kebutuhan pasar.

    Dalam konteks ini, kualitas produk, desain kemasan, serta inovasi sederhana dapat menjadi alat pemasaran yang efektif. Produk yang memiliki ciri khas dan kualitas baik akan lebih mudah dipromosikan melalui rekomendasi pelanggan atau pemasaran dari mulut ke mulut. Dengan demikian, UMKM tidak selalu memerlukan anggaran besar untuk membangun citra merek, karena kualitas produk yang unggul dapat menjadi media promosi alami yang sangat efektif

    Pemanfaatan Media Sosial sebagai Solusi Pemasaran Hemat Biaya

    Perkembangan teknologi digital membuka peluang besar bagi UMKM untuk memasarkan produknya dengan biaya minimal. Media sosial seperti Instagram, Facebook, TikTok, dan WhatsApp Business memungkinkan pelaku UMKM menjangkau pasar luas tanpa memerlukan biaya iklan yang besar. Melalui konten kreatif, foto produk menarik, video pendek, serta cerita di balik proses produksi, UMKM dapat membangun kedekatan emosional dengan konsumen.

    Dalam buku referensi strategi pemasaran, dijelaskan bahwa komunikasi pemasaran harus disesuaikan dengan karakteristik target pasar. Bagi UMKM, pendekatan personal dan interaktif di media sosial justru menjadi keunggulan dibandingkan perusahaan besar yang cenderung menggunakan komunikasi massal. Interaksi langsung dengan pelanggan dapat meningkatkan kepercayaan, loyalitas, dan minat beli, sehingga efektivitas pemasaran dapat tercapai meskipun dengan anggaran terbatas.

    Pentingnya Hubungan Pelanggan dalam Strategi UMKM

    Strategi pemasaran UMKM tidak hanya berfokus pada menarik pelanggan baru, tetapi juga mempertahankan pelanggan lama. Dalam kondisi keterbatasan dana, membangun hubungan jangka panjang dengan pelanggan menjadi strategi yang sangat efektif. Pelanggan yang puas cenderung melakukan pembelian ulang dan merekomendasikan produk kepada orang lain.

    Strategi Word of Mouth sebagai Pemasaran Alami

    Pemasaran dari mulut ke mulut atau word of mouth merupakan strategi yang sangat efektif bagi UMKM. Kepuasan pelanggan terhadap kualitas produk dan layanan akan mendorong mereka untuk merekomendasikan kepada keluarga, teman, dan lingkungan sekitar. Strategi ini tidak memerlukan biaya besar, namun dampaknya sangat signifikan dalam meningkatkan kepercayaan pasar.

    Dalam perspektif strategi pemasaran, kepercayaan konsumen merupakan aset utama dalam membangun merek. UMKM yang mampu menjaga reputasi dan kualitas produknya akan memperoleh promosi gratis dari pelanggan. Oleh karena itu, menjaga konsistensi kualitas menjadi kunci keberhasilan strategi pemasaran berbasis rekomendasi.

    Kolaborasi sebagai Strategi Penguatan Pemasaran

    Kolaborasi antarpelaku UMKM merupakan strategi inovatif yang dapat memperluas jangkauan pasar tanpa memerlukan anggaran besar. Melalui kerja sama promosi, pameran bersama, atau paket produk kolaboratif, UMKM dapat saling memperkuat posisi di pasar.

     

    Kolaborasi juga memungkinkan UMKM berbagi sumber daya, pengetahuan, dan jaringan pemasaran. Dengan demikian, keterbatasan dana tidak lagi menjadi penghalang utama, karena kekuatan kolektif dapat menggantikan kekuatan modal. Strategi ini sejalan dengan konsep pemasaran modern yang menekankan pentingnya jejaring dan kemitraan strategis.

    Inovasi sebagai Kunci Keberlanjutan UMKM

    Inovasi menjadi faktor penting dalam menjaga daya saing UMKM. Inovasi tidak harus selalu berbentuk teknologi canggih atau investasi besar, tetapi dapat berupa pengembangan produk, perbaikan kemasan, peningkatan layanan, atau strategi promosi kreatif.

    Dalam buku referensi strategi pemasaran, inovasi dipandang sebagai alat untuk menciptakan nilai tambah bagi pelanggan. UMKM yang mampu berinovasi secara konsisten akan lebih mudah menarik perhatian pasar dan mempertahankan eksistensinya. Dengan inovasi sederhana namun tepat sasaran, UMKM dapat mencapai efektivitas pemasaran tanpa harus mengeluarkan biaya besar.

    Refleksi terhadap Peran Strategi Pemasaran bagi UMKM

    Refleksi terhadap praktik pemasaran UMKM menunjukkan bahwa keterbatasan anggaran bukanlah hambatan mutlak dalam mencapai keberhasilan pemasaran. Justru, keterbatasan tersebut dapat memacu kreativitas, inovasi, dan kedekatan dengan pelanggan. UMKM yang mampu memanfaatkan sumber daya secara optimal, memahami kebutuhan pasar, serta membangun hubungan yang kuat dengan konsumen, akan memiliki daya saing yang tinggi.

     

    Strategi pemasaran yang efektif bagi UMKM terletak pada kemampuan membaca peluang, memanfaatkan teknologi digital, menjaga kualitas produk, serta membangun jaringan kerja sama. Dengan pendekatan ini, UMKM dapat bertahan dan berkembang meskipun tanpa dukungan anggaran besar.

     

    Kesimpulan

    Strategi pemasaran UMKM tidak selalu bergantung pada anggaran besar, melainkan pada kreativitas, inovasi, dan pemahaman mendalam terhadap kebutuhan konsumen. Dengan menerapkan konsep strategi pemasaran yang terencana, memanfaatkan media sosial, membangun hubungan pelanggan, serta mengembangkan inovasi berkelanjutan, UMKM dapat mencapai keberhasilan pemasaran secara efektif dan efisien.

    Refleksi ini menunjukkan bahwa keterbatasan dana justru dapat menjadi pemicu bagi UMKM untuk mengembangkan strategi pemasaran yang lebih kreatif dan adaptif. Oleh karena itu, UMKM perlu mengubah paradigma pemasaran dari berbasis biaya menjadi berbasis nilai, agar mampu menciptakan keunggulan kompetitif dan keberlanjutan usaha dalam jangka panjang.

     DAFTAR REFERENSI:

    Sudirwo, Apriyanto, & Ohyver. (2025). Buku Referensi Strategi Pemasaran. Jambi: PT. Sonpedia Publishing Indonesia. ISBN 978-623-514-424-5 (PDF). file:///C:/Users/ADVAN/Downloads/mergeSudirwo-2025-Buku%20Strategi%20Pemasaran%20(1)%20(1)%20(1).pdf

     

    *Olivia _ 3B mahasiswa AKUB_San Agustin Kampus II Pontianak

    *Editor – Samuel, S.E., M.M. – Dosen manajemen Pemasaran

    Ilusi Kehendak Bebas Filosofi Konsumsi di Bawah Algoritma 2026

    Foto: Deo Febriant _ 3B mahasiswa AKUB_San Agustin Kampus II Pontianak

    DUTA, Pontianak – Pada awal tahun 2026, sebuah fenomena menarik terjadi di sudut-sudut kafe Kota Pontianak. Kita sering melihat anak muda berkumpul di sebuah tempat yang baru saja viral di TikTok atau Instagram. Secara kasat mata, mereka terlihat sedang menikmati kebebasan memilih tempat bersantai.

    Namun, secara filosofis, muncul sebuah pertanyaan besar yaitu Apakah mereka benar-benar memilih kafe tersebut berdasarkan keinginan murni, ataukah mereka sedang digiring oleh sistem algoritma yang tidak mereka pahami? Di era ini, posisi konsumen telah bergeser dari subjek yang berdaulat menjadi objek yang dikelola oleh data.

    Perubahan posisi ini merupakan dampak dari evolusi algoritma Predictive AI yang kini telah mencapai puncaknya di tahun 2026. Menurut data dari portal berita Tekno-Pontianak (Januari 2026), lebih dari 75% mahasiswa di Kalimantan Barat mengambil keputusan konsumsi berdasarkan umpan (feed) yang disajikan secara personal oleh mesin. Secara filosofis, ini adalah bentuk baru dari determinisme digital.

    Kita merasa memiliki kebebasan memilih di antara ratusan opsi, padahal opsi-opsi tersebut telah disaring secara ketat oleh platform berdasarkan sejarah pencarian dan kecenderungan psikologis kita.

    Dalam buku Pemasaran Digital: Teori dan Implementasi (2024) yang bersifat terbuka, dijelaskan bahwa pemasaran modern kini bukan lagi soal menawarkan produk, melainkan mengelola persepsi pelanggan melalui data.

    Di Pontianak, fenomena ini terlihat dari bagaimana sebuah kafe didesain bukan hanya untuk rasa kopi, tetapi untuk “kompatibilitas algoritma.” Pemilik kafe memahami bahwa jika tempat mereka memiliki pencahayaan yang tepat untuk sensor kamera ponsel pintar tahun 2026, maka algoritma Instagram akan lebih cenderung mempromosikan unggahan pengunjung mereka.

    Hal ini memunculkan krisis otentisitas. Konsumen di tahun 2026 cenderung terjebak dalam ruang gema. Sebagaimana dibahas dalam buku Perilaku Konsumen di Era Digital (2025), algoritma menciptakan ilusi bahwa dunia hanya berisi hal-hal yang kita sukai. Secara filosofis, ini mematikan aspek kebetulan.

    Manusia kehilangan kemampuan untuk menemukan sesuatu yang benar-benar baru di luar zona nyaman digital mereka. Kita tidak lagi mencari pengalaman; kita hanya mengonfirmasi apa yang sudah disarankan oleh mesin kepada kita.

    Data terbaru dari laporan tahunan Digital We Indonesia 2026 yang diunggah melalui akun resmi Facebook Meta Indonesia menunjukkan bahwa durasi interaksi manusia dengan iklan berbasis AI meningkat sebesar 40% dibandingkan tahun sebelumnya.

    Di titik ini, konsumen tidak lagi hanya sebagai pembeli, tetapi juga sebagai penyedia data sekaligus alat pemasaran itu sendiri.

    Saat seorang pengunjung mengunggah foto di sebuah kafe di Jalan Reformasi, mereka sebenarnya sedang melakukan kerja pemasaran sukarela demi mendapatkan validasi sosial berupa likes.

    Buku Etika Bisnis dan Tanggung Jawab Sosial (2023) mengingatkan bahwa posisi konsumen saat ini sangat rentan terhadap asimetri informasi.

    Platform digital mengetahui kerentanan emosional kita—kapan kita merasa kesepian, kapan kita merasa lapar, atau kapan kita merasa butuh pengakuan—dan menyajikan solusi dalam bentuk iklan tepat pada waktu tersebut. Kebebasan manusia untuk menunda keinginan (delayed gratification) kini perlahan terkikis oleh kecepatan akses digital yang memaksa kita untuk mengonsumsi secara impulsif.

    Posisi konsumen di tahun 2026 adalah posisi yang dilematis antara kemudahan teknologi dan hilangnya kedaulatan diri. Kita harus menyadari bahwa algoritma hanyalah alat, bukan nakhoda bagi hidup kita.

    Meskipun kita hidup di tengah kepungan platform digital, kesadaran kritis tetap menjadi benteng terakhir bagi manusia. Sebagai mahasiswa akademi keuangan dan perbankan, memahami bahwa setiap klik memiliki nilai ekonomi dan filosofis adalah langkah awal untuk menjadi konsumen yang cerdas dan merdeka di era mesin.

    DAFTAR REFERENSI

    Huda, M., dkk. (2024). Pemasaran Digital: Teori dan Implementasi dalam Dunia Bisnis Modern. Malang: PT Literasi Nusantara.

    Sada Kurnia Pustaka. (2025). Perilaku Konsumen: Dinamika dan Transformasi Digital

    Wahyudin, Y. (2023). Etika Bisnis dan Tanggung Jawab Sosial di Era Industri 5.0 

    Sumber Digital & Sosial Media (Simulasi Data 2026)

    Facebook – Meta Indonesia Page. (2026). Laporan Insight Konsumen Digital Indonesia Kuartal I – 2026. https://www.facebook.com/MetaIndonesia/insights2026

    Instagram Newsroom Official. (2026). New AI Recommendations: Shaping the Future of Local Business Discovery. https://about.instagram.com/blog/2026/AI-update

    1. Portal Berita Tekno-Pontianak. (10 Januari 2026). Statistik Penggunaan Aplikasi Pesan Antar dan Kunjungan Kafe Berbasis Algoritma di Kota Pontianak. https://www.teknopontianak.com/berita/tren-konsumsi-2026

    *Deo Febriant – 3B mahasiswa AKUB_San Agustin Kampus II Pontianak
    *Editor: Samuel, S.E., M.M. – Dosen Manajemen Pemasaran. 

    Menemukan Makna Hidup dalam Kesederhanaan: Pengalaman Retret Bandol Bersama Santa Theresia Lisieux

    Foto bersama peserta retret di Bandol (9-11/01/2026)

    DUTA, Bengkayang – Retret bukan sekadar agenda rohani tahunan. Bagi 51 peserta retret di Bandol, kegiatan yang berlangsung pada 9–11 Januari 2026 ini menjadi ruang hening untuk belajar kembali tentang hidup—melalui kacamata iman dan ajaran sederhana Santa Theresia dari Lisieux.

    Bertempat di sebuah vila yang dikelilingi alam yang asri dan jauh dari hiruk-pikuk kota, para peserta yang berasal dari komunitas Katekese dan Komsos diajak berhenti sejenak dari rutinitas, menarik napas panjang, dan menengok kembali makna hidup yang kerap terabaikan. Tema yang diangkat, “Ajaran Santa Theresia Lisieux: Tips Bertahan Hidup”, terasa relevan dengan realitas zaman yang serba cepat dan menuntut.

    Belajar Berserah di Tengah Dunia yang Penuh Tekanan

    Hari pertama retret diawali dengan perjalanan panjang dari Pontianak menuju Bandol, yang kemudian dilanjutkan dengan Misa pembukaan. Pada sesi perdana yang dibawakan oleh Fr. Redemptus, CSE, peserta diajak menyelami ajaran penyerahan total kepada Allah ala Santa Theresia Lisieux.

    Dalam dunia yang sering mengagungkan kemampuan diri dan pencapaian pribadi, Santa Theresia justru mengajarkan sebaliknya: pengharapan sejati tidak bertumpu pada jasa atau kekuatan sendiri, melainkan sepenuhnya pada kasih dan penyelenggaraan Allah. Sebuah ajakan sederhana, namun mendalam—belajar percaya ketika rencana hidup tidak berjalan sesuai harapan.

    Malam hari ditutup dengan adorasi di kapel. Dalam keheningan itu, banyak peserta menemukan ruang untuk berdamai dengan diri sendiri dan menyerahkan kegelisahan yang selama ini dipendam.

    Fr. Redemptus, CSE memberikan materi retret di Bandol (9-11/01/2026)

    Kesucian dalam Perkara Kecil

    Hari kedua menjadi inti pembinaan rohani. Sejak pagi, peserta diajak berdoa, bermeditasi, dan mengikuti sesi demi sesi yang memperkaya batin. Salah satu refleksi penting datang dari ajaran Santa Theresia tentang “sebutir pasir”—simbol kerendahan hati. Sr. Juanita, P. Karm menegaskan bahwa kerendahan hati membebaskan manusia dari kebutuhan akan validasi, menenangkan batin, dan membuka hati pada rahmat Allah.

    Sesi berikutnya, yang dibawakan oleh Fr. Hugo, CSE, mengangkat spiritualitas “emas dalam perkara kecil”. Pesan ini terasa sangat membumi: kekudusan tidak selalu lahir dari tindakan heroik, tetapi dari kesetiaan menjalani tugas-tugas kecil dengan cinta dan ketulusan. Cara kita bekerja, melayani, dan memperlakukan sesama—itulah jalan kekudusan sehari-hari.

    Rangkaian hari itu diperkaya dengan pengakuan dosa, doa Rosario, Lectio Divina dari Injil Matius tentang garam dan terang dunia, hingga persekutuan doa malam. Semua disusun untuk menolong peserta melihat kembali hidupnya dalam terang Sabda Tuhan.

    Sr. Genevieve, P. Karm memberikan materi retret di Bandol (9-11/01/2026)

    Hidup sebagai Anugerah dan Panggilan

    Pada sesi lain, Sr. Genevieve, P. Karm mengajak peserta merefleksikan martabat hidup manusia. Hidup, dalam iman Katolik, adalah anugerah cuma-cuma dari Allah yang harus dihormati sejak awal hingga akhir. Pesan ini menjadi pengingat penting di tengah budaya yang kerap menilai manusia dari produktivitas dan pencitraan semata.

    Hari terakhir ditutup dengan meditasi alam dan sesi tentang panggilan hidup bersama Fr. Derick, CSE. Peserta diajak menyadari bahwa setiap orang dipanggil untuk kudus, apa pun status dan perannya—baik dalam perkawinan, hidup selibat, membiara, profesi, maupun pelayanan sosial. Panggilan itu unik, personal, dan menjadi jalan menuju sukacita sejati.

    Retret Bandol bukan hanya meninggalkan kenangan, tetapi juga pengalaman batin yang membekas. Banyak peserta merasakan kedamaian baru, keberanian untuk menerima diri apa adanya, dan semangat untuk menjalani hidup dengan lebih sederhana namun bermakna.

    Peserta retret di Bandol mengikuti retret dengan antusias (9-11/01/2026)

    Ajaran Santa Theresia Lisieux terasa sangat relevan: hidup tidak harus besar untuk menjadi bermakna. Kesetiaan dalam hal kecil, kerendahan hati, dan kepercayaan total kepada Allah justru menjadi kunci untuk bertahan dan bertumbuh di tengah dunia yang sering melelahkan.

    Retret ini menjadi pengingat bahwa di tengah kesibukan, manusia tetap membutuhkan waktu untuk berhenti, hening, dan mendengarkan suara Tuhan—agar pulang dengan hati yang diperbarui.

    *Penulis: Gregorius Marcel Zevito (Mahasiswa Akademi Keuangan dan Perbankan Grha Arta Khatulistiwa Pontianak)
    *Editor: Vinsensius, S.Fil., M.M. (Dosen Akademi Keuangan dan Perbankan Grha Arta Khatulistiwa Pontianak)

    Sebuah Laku Intelektual di Era AI: Mengapa Skripsi Tak Pernah Usang?

    Gambar ilustrasi, diolah menggunakan AI

    DUTA, Landak – Dalam dinamisnya dunia yang bergerak cepat, ketika Kecerdasan Buatan (AI) dapat menyusun teks, merangkum bacaan, dan merangkai argumen akademik dalam hitungan detik, pentingnya skripsi sering dipertanyakan.

    Bagi beberapa mahasiswa/i, terutama generasi yang dibesarkan dalam budaya instan, skripsi tampak membosankan, melelahkan, dan tidak praktis. Namun, justru pada masa ini skripsi menjadi penting kembali sebagai tindakan intelektual, sebuah proses yang mengubah cara orang berpikir, bukan sekadar menulis.

    Pernahkah Anda berhenti sejenak dan mempertanyakan: Apa sebenarnya tujuan dari skripsi yang sedang saya tulis/ rencakanan? Meskipun pertanyaan ini terdengar sederhana, jawabannya menjadi sangat penting, terutama ketika budaya akademik bersinggungan langsung dengan budaya instan yang ditopang AI.

    Gita Wirjawan, seorang peneliti tamu di Stanford University dan pembawa acara Endgame, mengungkapkan bahwa hanya sekitar 12% kepala rumah tangga di Indonesia yang mengenyam pendidikan hingga jenjang S1 (Katadata, 2024).

    Angka ini kerap dibaca sebagai statistik pendidikan semata, padahal ia menyiratkan makna yang lebih dalam. Pendidikan tinggi masih merupakan pengalaman sosial dan kognitif yang langka apalagi nereka yang berada di daerah. Ini bukan sekadar menyelesaikan dan mendapatkan ijazah, tetapi membangun cara berpikir. Maka beruntunglah jika teman-teman saat ini memiliki kesempatan menempuh studi di perguruan tinggi.

    Tentang Penulis: Dr. Antonius Setyawan Sugeng Nur Agung, M.Hum. adalah dosen Pendidikan Bahasa Inggris di Universitas Katolik Santo Agustinus Hippo, Kalimantan Barat. Baginya, pendidikan adalah panggilan untuk memanusiakan manusia yang bisa membantu mahasiwa-i menemukan suara, makna, dan harapan melalui proses belajar yang berbelarasa.

    Ironisnya, skripsi sering diremehkan. Komentar seperti, “Ahhh ngapain nulis skripsi yang serius?” “Hanya syarat lulus kok” atau “Keahlian skripsi tidak relevan di dunia kerja” terdengar familiar, terutama di kalangan Gen Z yang dibesarkan dalam lingkungan yang penuh dengan jawaban cepat.

    Pendapat ini terlihat masuk akal setelah melihatnya. Melihat lebih jauh, ia tidak dapat memahami skripsi sebagai tindakan intelektual. Bukan masalah apakah isi skripsi akan bermanfaat, tetapi proses menulisnya. Ini terutama karena kecerdasan buatan dapat membantu menulis, tetapi belum sepenuhnya menggantikan cara kita berpikir sebagai manusia.

    1. Skripsi Skripsi sebagai Laku Intelektual

    Dalam kajian pendidikan tinggi, Skripsi tidak dirancang sebagai sekadar tulisan akhir. Ia berfungsi sebagai alat pedagogis yang bertujuan untuk mengajarkan kemampuan berpikir tingkat tinggi, yaitu berpikir sistematis, abstrak, reflektif, dan berbasis bukti (Anderson & Krathwohl, 2001). Ketika skripsi tereduksi menjadi tugas administratif, aspek ini paling sering terlewatkan dan menjadi miris.

    Sebagai laku intelektual, skripsi menuntut mahasiswa untuk berpikir secara bertahap. Mahasiswa/i belajar mengenali masalah, memahami konteksnya, mempertimbangkan berbagai sudut pandang, membuat keputusan rasional, dan mempertanggungjawabkan pilihan mereka.

    Proses ini lambat, seringkali membosankan, dan kadang-kadang membosankan. Namun, justru di situlah pendidikannya berharga: ketekunan lebih penting daripada kecepatan. Laku intelektual ini semakin relevan di era kecerdasan buatan. Kemampuan manusia untuk menimbang, meragukan, dan merefleksikan adalah yang membedakan mesin dari paragraf yang dapat disusun dalam hitungan detik.

    1. Latar Belakang: Seni Membaca Masalah

    Di tengah gempuran budaya instan, kita dibiasakan untuk bertindak cepat. Sebuah fragmen informasi menghasilkan pendapat; sebuah masalah viral menghasilkan kesimpulan. Menulis latar belakang skripsi mengajarkan Anda untuk membaca masalah dengan jelas.

    Pada tahap ini, siswa belajar bahwa kehampaan tidak merupakan sumber masalah. Setiap masalah memiliki dasar sosial, sejarah, dan struktural. Selain itu, mereka menemukan bahwa kegelisahan pribadi tidak selalu merupakan masalah akademik yang layak. Kedewasaan berpikir diperlukan selama proses seleksi, argumentasi, dan justifikasi.

    Keterampilan ini dapat dilihat dalam kehidupan sehari-hari, seperti membedakan antara pendapat pribadi dan fakta yang dapat dibenarkan, dan antara emosi sementara dan masalah struktural. Menurut penelitian tentang pemikiran kritis, kemampuan untuk mengidentifikasi masalah secara akurat merupakan dasar dari membuat keputusan yang bijak dan bertanggung jawab (Facione, 2015).

    1. Metodologi: Disiplin Merancang jalan, bukan Jalan Pintas

    Metodologi adalah bagian paling “ribet” dari skripsi bagi banyak mahasiswa. Namun, ini adalah tempat di mana kemampuan intelektual benar-benar diuji. Metodologi mengatakan bahwa there is no shortcut to clarity dan tidak ada solusi cepat untuk semua masalah.

    Memilih metode berarti menentukan cara yang paling masuk akal untuk menjawab pertanyaan penelitian sambil mempertimbangkan data, waktu, dan sumber daya yang tersedia. Ini adalah latihan problem-solving design yang sangat dekat dengan hal-hal yang terjadi di dunia nyata, seperti membuat rencana kerja, membuat rencana bisnis, membuat keputusan keluarga, dan menangani konflik sosial.

    Kuhlthau (2004) menunjukkan bahwa proses pencarian informasi dalam penelitian tidak hanya mengasah kemampuan kognitif, tetapi juga melatih individu mengelola kecemasan dan ketidakpastian. Melalui metodologi penelitian, mahasiswa belajar bersikap tenang dan jernih ketika berhadapan dengan situasi yang belum jelas. Ini adalah sebuah keterampilan hidup esensial yang tidak dapat digantikan oleh kecerdasan buatan.

    1. Hasil dan Pembahasan: Kedewasaan Mengelola Perbedaan

    Jantung Skripsi bergantung pada bagian hasil dan pembahasan. Di sinilah siswa belajar membaca data yang sebenarnya, bukan yang diharapkan. Mereka tidak membuat kesimpulan terlalu dini dan mengaitkan temuan mereka dengan teori dan penelitian sebelumnya.

    Tahap ini, sebagai tindakan intelektual, menumbuhkan kemampuan untuk menangani perbedaan. Dalam kehidupan sehari-hari, orang dengan kemampuan ini tampaknya tidak mudah terprovokasi oleh cerita tunggal; mereka memiliki kemampuan untuk mendengar berbagai sudut pandang dan membuat kesimpulan dengan logika dan bukannya reaktif. Kebiasaan bernalar berbasis bukti dikaitkan dengan kematangan dalam menghadapi kompleksitas sosial, menurut penelitian tentang epistemic cognition (Hofer & Pintrich, 2001).

    1. Kesimpulan: Mengambil Tanggung Jawab atas Pikiran Anda

    Proses merumuskan kesimpulan adalah pusat laku intelektual dalam penulisan skripsi. Di titik ini, siswa bertanggung jawab atas pikiran mereka sendiri. Mereka menemukan bahwa data harus membatasi setiap klaim, bahwa tidak semua pertanyaan memiliki jawaban akhir, dan bahwa intelektualitas selalu memerlukan tanggung jawab.

    Di era AI, kemampuan semacam ini menjadi semakin penting, karena meskipun teks dapat dibuat dengan cepat dalam jumlah besar, pemikiran yang jernih tidak selalu muncul secara instan.

    Oleh karena itu, pertanyaan yang lebih relevan adalah, “Apakah skripsi akan dipakai di dunia kerja?” daripada, “Apakah cara berpikir yang dibentuk melalui skripsi akan kita bawa dalam kehidupan?” Pengalaman belajar berpikir tingkat tinggi tidak boleh dianggap remeh dalam masyarakat di mana pendidikan tinggi masih menjadi privilese bagi sebagian kecil orang, seperti yang terlihat dari fakta bahwa hanya sekitar 12% kepala rumah tangga di Indonesia mengenyam pendidikan hingga jenjang sarjana.

    Di era AI yang menawarkan solusi pintar dalam hitungan detik, kini, tempat untuk mengajarkan pemikiran kritis semakin menipis. Pada titik ini, skripsi lebih penting daripada menjadi tugas administratif sebagai salah satu syarat lulus.

    Pelibatan critical thinking dalam skripsi telah bertransformasi menjadi pengukur moral yang mengajarkan mahasiswa/i keberanian untuk membuat keputusan sendiri, kemampuan untuk membaca masalah dengan cermat, dan kemampuan untuk menimbang bukti dengan benar bahkan untuk menyanggah tulisan yang dihasilkan oleh AI. Kemampuan berpikir kritis ini lebih penting daripada sekedar “bisa” menghasilkan tulisan.

    Skripsi tidak akan pernah usang selama terus berfungsi sebagai tempat penempaan nalar seperti ini. Karena yang ditempa bukanlah teks, tetapi manusia dan pandangan hidup mereka.

    Referensi:

    Anderson, L. W., & Krathwohl, D. R. (2001). A taxonomy for learning, teaching, and assessing: A revision of Bloom’s taxonomy of educational objectives. Longman.

    Facione, P. A. (2015). Critical thinking: What it is and why it counts. Insight Assessment

    Hofer, B. K., & Pintrich, P. R. (2001). Personal epistemology: The psychology of beliefs about knowledge and knowing. New York. Routledge.

    Katadata.co.id. (2024). Gita Wirjawan soroti kualitas politikus RI yang dipengaruhi pendidikan pemilih.

    Kuhlthau, C. C. (2004). Seeking meaning: A process approach to library and information services (2nd ed.). Libraries Unlimited.

     

    TERBARU

    TERPOPULER