Monday, April 27, 2026
More
    Home Blog Page 13

    Koordinasi dan Rentang Manajemen dalam Sebuah Refleksi

    Ilustrasi Gambar, Sumber: https://www.istockphoto.com/

    Duta, Pontianak | Dalam dunia yang terus berubah dengan kompleksitas yang meningkat, tantangan terbesar organisasi bukan hanya tentang visi yang hebat atau strategi yang brilian, tetapi kemampuan untuk menyatukan orang, sumber daya, dan informasi dalam sebuah gerak bersama yang efektif.

    Manajemen modern menyadari bahwa organisasi bukan sekadar mesin yang dapat dikendalikan secara linear, melainkan sebuah ekosistem sosial yang penuh dinamika. Di dalamnya, koordinasi menjadi jiwa yang menghubungkan seluruh fungsi, sementara rentang manajemen menentukan batas kemampuan seorang pemimpin dalam mengendalikan dan membimbing orang-orang yang bekerja bersamanya.

    Jika koordinasi diibaratkan sebagai aliran darah yang memungkinkan tubuh tetap hidup, rentang manajemen adalah batas fisiologis tubuh untuk melakukan fungsi tanpa ‘kolaps’.

    Ketika aliran ini terganggu, organisasi mengalami kebingungan, pemborosan sumber daya, dan kehilangan arah. Ketika rentang pengawasan terlalu luas, pemimpin kehilangan kemampuan untuk memberikan perhatian yang tepat pada tiap individu. Namun ketika terlalu sempit, organisasi menjadi kaku dan boros struktur.

    Dalam konteks inilah manajemen hadir untuk melihat dasar-dasar dari apa yang kita sebut kendali, bagaimana otoritas bekerja, serta bagaimana manusia yang terlibat di dalam organisasi seharusnya diperlakukan. Sementara ekonomi membantu kita memahami efisiensi, biaya koordinasi, dan bagaimana struktur memengaruhi nilai yang diciptakan.

    Koordinasi sebagai Kebijaksanaan Kolektif dalam Organisasi

    Pada hakikatnya, koordinasi adalah seni menyatukan tindakan manusia dalam arah yang sama, walaupun mereka memiliki pikiran, perasaan, dan kepentingan yang berbeda.

    Pakar manajemen, Henry Fayol menyebut koordinasi sebagai harmonisasi aktivitas—upaya memastikan bahwa setiap bagian organisasi tidak bekerja melawan, melainkan saling melengkapkan. Dalam organisasi modern, koordinasi bukan lagi sekadar penataan tugas, tetapi juga penyelarasan makna serta komunikasi yang mengalir dalam seluruh struktur.

    Dari perspektif filsafat, koordinasi menyentuh pertanyaan tentang relasi antar manusia. Martin Buber pernah mengatakan bahwa kehidupan manusia adalah kehidupan yang dialogis: manusia menjadi manusia melalui relasi.

    Dalam organisasi, relasi inilah yang membuat pekerjaan tidak sekadar berjalan, tetapi juga bernilai. Koordinasi menjadi proses dialog berkelanjutan, di mana organisasi menemukan dirinya melalui komunikasi antar individu di dalamnya. Tanpa komunikasi yang jernih, struktur terbaik pun hanya menjadi ilusi efisiensi.

    Ekonomi kemudian memberikan dimensi pragmatis, koordinasi memiliki biaya. Setiap pesan yang disampaikan, setiap rapat yang dilakukan, setiap prosedur yang ditetapkan—semuanya adalah investasi.

    Seorang ekonom dan sarjana hukum peraih Nobel asal Inggris yang terkenal karena teorinya tentang ekonomi biaya transaksi dan Teorema Coase,  Ronald Coase menekankan bahwa organisasi ada karena ia dapat menurunkan biaya transaksi dibandingkan bila semua dilakukan melalui pasar bebas. Oleh karena itu, manajemen harus memastikan bahwa model koordinasi yang dipilih tidak menambah biaya secara berlebihan.

    Digitalisasi memberikan peluang sekaligus tantangan baru, serupa juga dengan teknologi informasi memungkinkan koordinasi berlangsung secara real-time tanpa batas ruang.

    Namun, banjir informasi justru dapat menimbulkan overload alias terlalu banyak koordinasi dapat menyebabkan lambannya keputusan, oleh karena itu manajemen memerlukan kebijaksanaan untuk menyeimbangkan kapan berkoordinasi dan kapan memberikan otonomi.

    Rentang Manajemen

    Rentang manajemen atau span of control merujuk pada jumlah bawahan yang dapat diawasi secara efektif oleh seorang pemimpin. Secara klasik, Lyndall F. Urwick (1891-1983) adalah seorang ahli teori manajemen dan konsultan terkenal dari Inggris merekomendasikan angka 5–6 orang.

    Namun realitas organisasi modern tidak lagi dapat terikat pada angka kaku. Teknologi, kultur kerja, dan kompetensi SDM membuat rentang manajemen menjadi variabel yang sangat kontekstual.

    Dalam perspektif lain, rentang manajemen tidak hanya tentang kemampuan teknis seorang pemimpin, tetapi tentang kepercayaan. Semakin besar kepercayaan kepada kemampuan pegawai, semakin besar pula ruang yang dapat diberikan tanpa harus diawasi ketat. Pemimpin ideal bukanlah seseorang yang ingin melihat setiap detail, melainkan yang mampu menciptakan sistem sehingga detail berjalan sendiri.

    Seperti diungkapkan Lao Tzu, “Pemimpin terbaik adalah yang keberadaannya nyaris tidak terasa, karena organisasi dapat berjalan seolah tanpa dirinya.”

    Namun ekonomi memberi peringatan penting bahwa struktur yang terlalu datar membuat koordinasi menjadi mahal dan sulit dikendalikan.

    Sebaliknya, struktur yang terlalu tinggi (banyak lapisan) menambah birokrasi, memperlambat arus informasi, dan menaikkan biaya operasional. Oleh karena itu, pencarian rentang manajemen ideal menjadi upaya mencari titik ekuilibrium antara dua ekstrem: kontrol penuh dan otonomi tanpa arah.

    Organisasi modern menyadari bahwa rentang manajemen yang sehat bukan hanya soal angka, tetapi kualitas interaksi maka muncul pertanyaan apakah pemimpin cukup hadir untuk membimbing? Apakah ia cukup percaya untuk melepas? Di sinilah rentang manajemen menjadi persoalan kemanusiaan, bukan sekadar matematika organisasi.

    Oleh: Samuel, S.E., M.M.
    Dosen di Universitas Katolik Santo Agustinus Hippo Kampus II Pontianak, Akademi Keuangan dan Perbankan Grha Arta Khatulistiwa Pontianak

    Manusia di Pusat Sistem

    Organisasi sering dipahami sebagai mesin rasional, tetapi manusia yang menggerakkannya tidak selalu rasional. Pandangan manajemen menegaskan bahwa manusia adalah makhluk yang mencari makna—bukan sekadar insentif.

    Karena itu, manajemen yang hanya fokus pada efisiensi ekonomi dapat berhasil secara angka tetapi gagal secara moral.

    Aristoteles menekankan bahwa tujuan tertinggi aktivitas manusia adalah kebaikan (good life). Organisasi ideal adalah organisasi yang menciptakan ruang bagi manusia untuk berkembang, bukan yang memeras tenaga dan kreativitas hingga kering. Dalam konteks ini, koordinasi yang baik adalah yang menghormati martabat manusia, bukan memaksanya tunduk secara mekanis pada aturan.

    Ekonomi modern pun mulai mengakui hal ini melalui konsep ekonomi partisipatif, human capital, hingga well-being economics. Produktivitas jangka panjang berasal dari manusia yang merasa dihargai, memiliki ruang ekspresi, dan merasa menjadi bagian penting dari tujuan bersama.

    Karena itu, koordinasi bukan hanya proses mengatur, tetapi membangun pemaknaan bersama. Dan rentang manajemen bukan hanya tentang pengawasan, tetapi memberi ruang tumbuh. Manajemen yang tidak memahami dimensi etis manusia hanya menciptakan efisiensi semu.

    Struktur, Budaya, dan Teknologi

    Struktur menentukan alur komando, budaya menentukan bagaimana manusia bertindak tanpa diperintah, dan teknologi menjadi medium yang menghubungkan keduanya. Namun hubungan ketiganya tidak selalu harmonis.

    Struktur tanpa budaya akan menciptakan kepatuhan semu ini berarti bahwa orang bekerja karena takut, bukan karena memahami tujuan. Budaya tanpa struktur menciptakan ‘chaos’ semua bergerak, tetapi tidak ada arah. Teknologi tanpa keduanya hanya menjadi alat mahal tanpa makna.

    Organisasi masa kini berjuang mencari struktur yang memungkinkan aliran informasi cepat tanpa kehilangan akuntabilitas. Di sinilah konsep koordinasi lateral (melintasi fungsi) melengkapi koordinasi hierarkis (melalui atasan). Tim lintas bidang, matriks, hingga agile method muncul sebagai respons atas kebutuhan fleksibilitas.

    Namun fleksibilitas memiliki risiko, artinya ketika garis otoritas kabur, konflik kepentingan muncul. Karena itu, koordinasi modern harus dikelola dengan kepekaan tinggi terhadap peran, tanggung jawab, dan komunikasi.

    Koordinasi terbaik terjadi ketika struktur mendukung kolaborasi, budaya memelihara saling percaya, dan teknologi mempercepat pemahaman.

    Kritik terhadap Arah Manajemen Modern

    Meskipun banyak perbaikan telah terjadi, manajemen modern masih menghadapi dilema mendasar yakni semakin organisasi tumbuh besar dan kompleks, semakin sulit manusia di dalamnya merasa menjadi bagian dari sesuatu yang bermakna.

    Ada risiko bahwa koordinasi berubah menjadi kendali birokratis—setiap langkah harus dilaporkan, setiap ide harus ditinjau, sehingga kreativitas pun layu. Ada pula risiko bahwa rentang manajemen yang terlalu besar mengubah pemimpin menjadi simbol, bukan pembimbing.

    Kaca mata filsafat mengingatkan kita agar tidak mengarahkan manusia hanya sebagai alat menuju tujuan ekonomi. Immanuel Kant menyatakan bahwa manusia harus diperlakukan sebagai tujuan pada dirinya sendiri. Ketika organisasi mengabaikan prinsip ini, ia kehilangan legitimasi moralnya.

    Dari sudut pandang ekonomi pun mengingatkan, struktur yang tidak sehat akan meningkatkan biaya koordinasi yang menggerogoti kinerja jangka panjang. Pemborosan birokrasi, rapat tak berkesudahan, dan miskomunikasi adalah bentuk kehancuran yang tak terlihat.

    Manajemen yang baik harus berani bertanya ulang:
    Untuk siapa organisasi ini bekerja? Tujuan apa yang sebenarnya kita kejar?

    Jawaban jujur dari pertanyaan itu menjadi awal transformasi.

    Transformasi Menuju Organisasi yang Manusiawi dan Efisien

    Organisasi masa depan harus mampu menggabungkan tiga nilai utama:

    1. Efektivitas — tujuan tercapai dengan jelas
    2. Efisiensi — biaya koordinasi dikelola dengan cerdas
    3. Kemuliaan manusia — individu dihargai sebagai pribadi yang bermartabat

    Koordinasi yang efektif mengalir di sepanjang tujuan yang dipahami bersama. Rentang manajemen yang baik memberi kejelasan bimbingan tanpa melakukan intervensi berlebihan.

    Pemimpin dalam organisasi modern tidak lagi dapat berperan sebagai pengendali tunggal. Ia harus menjadi:

    • Kurator makna
    • Desainer struktur yang bijaksana
    • Perajut relasi antar manusia

    Ketika pemimpin gagal memahami dimensi relasional organisasi, koordinasi menjadi sekadar instruksi, dan rentang manajemen menjadi angka tanpa ruh.

    Sebaliknya, ketika pemimpin memahami bahwa manusia adalah pusat dari keseluruhan dinamika, struktur akan menjadi alat untuk membebaskan potensi, bukan untuk membelenggu.

    Organisasi sebagai Rumah Bersama

    Organisasi bukanlah arena perebutan kekuasaan atau sekadar mesin produksi keuntungan. Ia adalah rumah bersama bagi manusia untuk mengabdi pada tujuan yang lebih besar dari dirinya sendiri. Dalam rumah ini, koordinasi menjadi cara kita saling memahami peran, sementara rentang manajemen menjadi batas sehat dalam memimpin satu sama lain.

    Puncak dari manajemen bukanlah kendali, melainkan keberdayaan bersama. Ketika koordinasi bekerja sebagai dialog, dan rentang manajemen dilandasi kepercayaan, organisasi akan tumbuh bukan hanya dalam ukuran, tetapi dalam makna.

    Manajemen yang sejati adalah pengabdian pada keberlangsungan hidup manusia dalam sebuah tatanan yang lebih baik. Dan dalam pengabdian itu, koordinasi dan rentang manajemen menjadi dua pilar yang memastikan rumah ini tetap berdiri tegak, bahkan ketika zaman berubah dengan cepat.

    *Samuel – Dosen AKUB _ San Agustin, (bahan diskusi Pengantar Manajemen Pertemuan ke 12 – Rentang Kendali)

    Salah Satu Jalan Menuju Kepuasan dalam Meningkatkan Kualitas Pelayanan Publik melalui SERVQUAL

    Foto: Yuliana Illfia U.D. - AKUB San Agustin - 3 B.

    Duta, Pontianak |  Dalam lanskap pemerintahan dan sektor publik saat ini, pelayanan publik bukan lagi dipandang sebagai beban biaya operasional, melainkan aset strategis yang menentukan keberhasilan pemerintah.

    Pemerintah yang unggul bukanlah yang sekadar memiliki struktur jabatan tinggi, melainkan yang mampu memberikan pelayanan efektif, mulus, dan berkesan bagi masyarakat.

    Kepuasan masyarakat merupakan tujuan utama pelayanan publik, dan kualitas layanan (service quality) menjadi jembatan untuk mencapainya.

    Kualitas layanan erat kaitannya dengan aspek manusia, proses, dan lingkungan pelayanan yang dinamis. Penilaian atas kualitas ini terjadi langsung saat pelayanan diberikan—dan di situ pula kepercayaan masyarakat diuji.

    SERVQUAL Mengukur Kesenjangan Harapan dan Realita

    Model SERVQUAL hadir sebagai alat diagnostik untuk mengukur kualitas pelayanan melalui perspektif masyarakat, bukan melalui persepsi internal birokrasi. SERVQUAL menilai sejauh mana pelayanan mampu memenuhi atau bahkan melampaui harapan masyarakat.

    Kesenjangan antara harapan dan persepsi merupakan indikator kepuasan. Pelayanan yang dianggap baik oleh penyedia layanan belum tentu dirasakan demikian oleh pengguna layanan. Maka, keberhasilan pelayanan diukur bukan dari klaim internal, tetapi dari pengalaman nyata masyarakat.

    Di era digital, standar pelayanan publik mengalami peningkatan drastis. Masyarakat kini membandingkan respons birokrasi dengan layanan cepat perusahaan digital:

    • Kecepatan respon bank dibandingkan pengiriman Gojek.

    • Pelayanan customer service e-commerce menjadi tolok ukur keramahan aparatur negara.

    Harapan meningkat, dan persepsi menjadi medan pertarungan utama.

    Pengalaman pelayanan bersifat holistik—lebih dari sekadar menyelesaikan tugas administratif. Setiap interaksi membentuk citra pemerintah.

    Empati sebagai Kunci Pelayanan Manusiawi

    Dimensi Empathy dalam SERVQUAL sering kali menjadi aspek yang paling lemah sekaligus paling menentukan.

    Empati mencakup:

    • Perhatian yang bersifat personal

    • Pemahaman kebutuhan spesifik masyarakat

    • Perlakuan yang menghargai martabat individu

    Masyarakat ingin dilihat sebagai manusia, bukan hanya nomor antrean. Sentuhan empati mampu mengubah interaksi mekanis menjadi pelayanan yang bermakna.

    Peristiwa demonstrasi mahasiswa yang berhasil disampaikan langsung di ruang paripurna DPRD Kalimantan Barat—dengan keterlibatan tokoh seperti Agus Sudarmansyah, Rizka A. Wahab, dan Wahyudi—menunjukkan pentingnya respons empatik dalam hubungan pemerintah dan publik. Ketika aspirasi didengar, kepercayaan masyarakat akan meningkat.

    Kesimpulan

    SERVQUAL memberi landasan bagi transformasi pelayanan publik dari sekadar menjalankan prosedur menjadi memberikan pengalaman yang memuaskan.

    Pemerintah harus mengelola harapan dan memperkuat persepsi positif masyarakat melalui empati, kecepatan, keandalan, dan jaminan pelayanan.

    Pelayanan adalah wajah negara. Ketika kualitasnya meningkat, kepuasan dan kepercayaan publik pun tumbuh seiring waktu.

    Daftar Pustaka

    Artikel Ilmiah:

    • Sri Rahayu dan Nasrawati. “SERVQUAL dalam Kualitas Pelayanan terhadap Kepuasan Pasien Pengguna JKN di Puskesmas Karangrayung.” Jurnal …, November 2023. Disetujui Januari 2024, Publikasi Januari 2024.

    Berita:

    • Hamdani, Deny. “Aksi Mahasiswa Berlanjut ke Ruang Paripurna DPRD Kalbar, Ini Poin Tuntutannya.” Pontianak Post.

    *Yuliana Illfia U.D. – AKUB San Agustin – 3 B_ Sam. 

    Budaya Nongkrong di Kota Seribu Kopi dalam Strategi Manajemen Pemasaran Coffee Shop di Pontianak

    Foto: Veneranda Isni - AKUB San Agustin (3 B).

    Duta, Pontianak | Aktivitas “nongkrong” atau nongki di coffee shop telah menjadi bagian dari gaya hidup masyarakat, khususnya Generasi Z.

    Kegiatan ini tidak hanya dilakukan untuk bersantai, tetapi juga digunakan sebagai tempat bekerja, mengerjakan tugas, berdiskusi, hingga memperkuat hubungan sosial. Julukan “Kota Seribu Kopi” menunjukkan betapa kuatnya budaya ngopi serta tingginya jumlah coffee shop di Pontianak.

    Saat ini, Pontianak tidak hanya dikenal sebagai kota khatulistiwa yang memiliki sungai terpanjang di Indonesia, tetapi juga sebagai kota dengan budaya kopi yang sangat berkembang. Hampir di setiap sudut kota, terdapat coffee shop atau warung kopi (warkop) dengan konsep yang beragam, mulai dari café modern hingga kedai tradisional.

    Fenomena ini menunjukkan pertumbuhan ekonomi kreatif yang dinamis. Namun, semakin banyaknya coffee shop juga memicu persaingan pasar yang ketat. Hanya pelaku usaha dengan fondasi manajemen pemasaran kuat dan inovasi yang berkelanjutan yang mampu bertahan dalam kompetisi ini.

    Dinamika dan Ketidakpastian Pasar

    Menurut Philip Kotler, analisis perilaku konsumen merupakan aspek kritis dalam pemasaran karena membantu memahami bagaimana individu atau kelompok memilih dan menggunakan produk.

    Pemahaman ini penting bagi pelaku usaha kopi di Pontianak agar dapat menghadirkan layanan sesuai kebutuhan konsumen, sehingga mampu bersaing di tengah perubahan tren pasar yang cepat (Marjun, Bachri, dan Sutomo 2024).

    Selain itu, strategi pemasaran digital menjadi kunci penting. Kotler menjelaskan bahwa pemasaran digital bukan hanya menawarkan produk, tetapi menciptakan pengalaman bernilai bagi konsumen. Brian Solis juga menegaskan bahwa media sosial adalah platform untuk membangun hubungan yang berkelanjutan dengan pelanggan (Solis 2024).

    Tren pasar kopi sangat dinamis. Hari ini konsumen menggemari single origin, esok mereka menuntut suasana estetik lengkap dengan live music serta Wi-Fi cepat.

    Konsumen Generasi Z menginginkan inovasi pada teknologi layanan dan konsep tempat. Warkop tradisional pun perlu beradaptasi tanpa kehilangan identitas.

    Di sisi lain, pelaku usaha juga menghadapi ketidakpastian terkait persepsi dan perilaku konsumen serta persaingan yang selalu berubah. Di sinilah pentingnya positioning. Regis McKenna menekankan bahwa diferensiasi produk menjadi dasar dalam menciptakan posisi yang kuat di pasar (Rahmawati 2023).

    Contoh positioning yang baik di Pontianak dapat ditemui pada:

    • Kopi Asiang yang mempertahankan sensasi kopi hitam khas dengan nuansa jadul.

    • Kopling yang menawarkan harga terjangkau namun tetap menjaga kualitas.

    • Coffee shop modern yang menonjolkan kenyamanan dan suasana estetik untuk bekerja (working space).

    Kunci Bertahan dalam Seleksi Alam Bisnis Kopi

    Menurut Amirullah, ketika produk tidak memiliki perbedaan, perusahaan akan terjebak dalam perang harga yang berisiko tinggi (2021). Oleh karena itu, membangun merek yang kuat menjadi solusi terbaik.

    Di Pontianak, ikon kopi seperti Kopi Asiang dan Aming Coffee tetap eksis di tengah serbuan coffee shop kekinian seperti Level Up Café, CW Coffee, Lokale, hingga yang beroperasi 24 jam seperti Kopi Nomor Dua, 5cm Untan, dan Tropic. Hal ini menunjukkan adanya segmen pasar yang beragam.

    Pemerintah Kota Pontianak menilai perkembangan ini sebagai indikator positif. Jumlah warkop meningkat dan penyerapan tenaga kerja semakin besar. Hal ini membuktikan bahwa sektor kopi memainkan peran penting dalam mendorong pertumbuhan ekonomi kreatif di Pontianak.

    Fenomena coffee shop di Pontianak merupakan laboratorium nyata dalam penerapan manajemen pemasaran. Seleksi alam bisnis tidak bisa dihindari. Hanya coffee shop yang memiliki kapabilitas dinamis, cepat beradaptasi terhadap pasar, serta memiliki orientasi pelanggan yang kuat yang akan terus bertahan.

    Kesimpulan

    Budaya ngopi sudah menjadi identitas sosial dan ekonomi Kota Pontianak. Namun, semakin tingginya persaingan menuntut pelaku usaha untuk menyesuaikan strategi pemasaran berbasis digital, memperkuat brand, dan memahami perilaku konsumen.

    Dengan inovasi, diferensiasi, dan kemampuan membaca tren pasar, coffee shop di Pontianak dapat terus berkembang serta berkontribusi besar bagi ekonomi kota dan masyarakatnya.

    Daftar Pustaka

    Buku:

    • Amirullah. Prinsip-Prinsip Manajemen. Indomedia Pustaka, 2021.

    • Marjun, M., S. Bachri, dan M. Sutomo. Manajemen Pemasaran dalam Ekonomi dan Bisnis. Litnus, 2024.

    • Rahmawati, E. D. Manajemen Pemasaran. Pustakabaru Press, 2023.

    Sumber Internet/Media Sosial:

    • Tribun Pontianak. “Jumlah Warkop di Pontianak Tembus 400 Konsumsi Kopi 500 kg per Hari, Dorong Pertumbuhan Ekonomi.” Instagram, 24 September 2025.

    *Veneranda Isni – (3 B) AKUB San Agustin, (Sam). 

    Pontianak dan Identitas Kuliner Kota Khatulistiwa sebagai Strategi Marketing Places

    Foto: Wilhemina Niwin - (3 B) AKUB San Agustin Kampus II Pontianak.

    Duta, Pontianak | Pontianak bukan hanya menarik dari sisi geografis sebagai Kota Khatulistiwa, tetapi juga sebagai destinasi wisata kuliner yang berkembang melalui kekayaan rasa dan budaya.

    Dalam konsep marketing places menurut Philip Kotler, sebuah kota dapat membangun citra dan nilai ekonominya melalui keunikan produk lokal yang mampu menciptakan pengalaman berkesan bagi pengunjung.

    Pontianak telah menerapkan konsep ini melalui kuliner yang tidak hanya menjadi konsumsi makanan, tetapi juga pengalaman budaya.

    Kuliner khas Pontianak seperti choi pan, sotong pangkong, mi tiaw, dan bubur pedas menjadi representasi identitas lokal. Kotler menyatakan bahwa produk bernilai tinggi bukan hanya yang memenuhi kebutuhan fisik, tetapi juga memberikan makna, simbol, cerita, dan pengalaman emosional.

    Setiap hidangan Pontianak mengandung sejarah, cita rasa otentik, serta kebanggaan kultural yang menjadi daya tarik wisatawan.

    Dalam teori marketing places, kota harus mampu menciptakan diferensiasi agar dapat berkembang. Pontianak memiliki diferensiasi kuat yang sulit ditemukan di kota lain. Misalnya, sotong pangkong yang hanya muncul saat bulan Ramadan, menciptakan pengalaman musiman yang unik.

    Kawasan kuliner seperti Jalan Gajah Mada dan Jalan Pattimura juga dikenal sebagai pusat makanan malam yang penuh variasi. Keunikan ini menjadi identitas yang dapat terus dipromosikan untuk menarik wisatawan.

    Tidak hanya kuliner lokal, perkembangan kuliner di Pontianak juga menunjukkan adanya keberagaman budaya. Contohnya, restoran bergaya Yogyakarta seperti Ningrat Eatery di Jalan Parit Demang.

    Dekorasi berunsur Jawa, penyajian makanan tradisional seperti gudeg, nasi liwet, bakmi Jawa, sekoteng, hingga cendol memberikan pengalaman multikultural dalam satu kota. Strategi diferensiasi ini sejalan dengan pandangan Kotler, yaitu menciptakan kedekatan emosional konsumen melalui pengalaman yang unik.

    Dari perspektif ekonomi, wisata kuliner membawa kontribusi nyata. Setiap wisatawan yang membeli makanan turut mendorong perputaran ekonomi—mulai dari sektor bahan baku, tenaga kerja, transportasi, hingga industri kreatif seperti fotografi dan konten media sosial. Hal ini sesuai dengan teori Kotler bahwa place marketing berdampak pada pertumbuhan ekonomi jangka panjang. Dampaknya tidak hanya dirasakan pelaku usaha besar, tetapi juga UMKM yang sedang berkembang.

    Selain itu, kuliner menjadi pembentuk brand image kota. Ketika orang mendengar kata Pontianak, sebagian langsung mengingat cita rasa kulinernya.

    Kotler menekankan pentingnya citra kota karena membantu kota lebih dikenal, diingat, dan dipromosikan. Di era digital, konten kreator dan wisatawan yang membagikan pengalaman makan mereka di media sosial tanpa sadar turut mempromosikan kota secara luas dan gratis.

    Agar potensi ini semakin optimal, dibutuhkan strategi yang terarah dari pemerintah daerah, seperti penyelenggaraan festival kuliner tahunan, pembangunan pusat kuliner yang nyaman, perbaikan akses kawasan wisata kuliner, serta pelatihan UMKM untuk meningkatkan kualitas layanan.

    Semua langkah ini sesuai dengan prinsip Kotler bahwa pemasaran kota memerlukan kolaborasi pemerintah, masyarakat, pelaku bisnis, dan media.

    Potensi kuliner Pontianak sangat besar, bukan hanya karena rasa yang lezat, tetapi karena setiap hidangan memiliki nilai budaya. Misalnya, choi pan yang berasal dari budaya Tionghoa atau bubur pedas yang merupakan kuliner khas Melayu dan Dayak. Pengalaman inilah yang kini lebih dicari wisatawan daripada sekadar objek wisata.

    Kuliner adalah cara paling mudah untuk memperkenalkan Pontianak ke dunia. Meski wisatawan belum mengenal sejarah maupun bangunan kotanya, mereka bisa dengan cepat mengenali makanan khas melalui media sosial. Dengan strategi pemasaran yang tepat, kuliner dapat menjadi pintu masuk untuk menarik wisatawan menjelajahi destinasi lainnya, sekaligus memperluas peluang ekonomi.

    Pada akhirnya, kuliner bukan hanya makanan, tetapi identitas yang mampu memperkuat daya saing kota. Jika dikelola sesuai konsep marketing places Kotler, kuliner dapat menjadi motor utama pembangunan ekonomi di Pontianak—dari pelaku UMKM hingga sektor pariwisata.

    Karena itu, wisata kuliner bukan sekadar pelengkap, tetapi aset penting yang dapat membawa Pontianak semakin dikenal dan mampu bersaing dengan kota lain.

    Daftar Pustaka

    Kotler, Philip. Kotler on Marketing. New York: Free Press, 1999.

    Kotler, Philip, Donald Haider, dan Irving Rein. Marketing Places: Attracting Investment, Industry, and Tourism to Cities, States, and Nations. New York: The Free Press, 1993.

    *Wilhemina Niwin – (3 B) AKUB San Agustin – Sam. 

    Hubungan Perilaku Konsumen, Pertumbuhan Ekonomi, dan Peran Manusia dalam Organisasi

    Foto: Gracesia Theresia – Mahasiswa Universitas Katolik Santo Agustunus Hippo, Kampus ll Pontianak, Akademi Keuangan dan Perbankan.

    Duta, Pontianak | Dari kajian manajemen pemasaran dapat dipahami bahwa perilaku konsumen bukanlah proses sederhana. Konsumen tidak membeli barang atau jasa hanya karena keputusan mendesak, tetapi melalui serangkaian tahap seperti pengenalan kebutuhan, pencarian informasi, dan evaluasi alternatif.

    Keputusan tersebut tidak hanya dipengaruhi oleh faktor pribadi dan sosial, tetapi juga oleh kondisi ekonomi yang lebih luas, termasuk perkembangan Produk Domestik Bruto (GDP) suatu negara.

    Hubungan antara GDP dan perilaku konsumen sangat erat. Ketika GDP meningkat, daya beli masyarakat cenderung naik karena pendapatan mengalami perbaikan. Kondisi ekonomi yang stabil membuat konsumen lebih percaya diri dalam membeli produk bernilai tinggi, seperti barang tahan lama. Sebaliknya, jika pertumbuhan GDP melambat, konsumen akan lebih berhati-hati dan cenderung menunda pembelian.

    Di era digital, ulasan konsumen dan rekomendasi online memiliki pengaruh yang semakin kuat dalam pengambilan keputusan pembelian.

    Namun, akses terhadap informasi digital tetap bergantung pada kekuatan ekonomi mikro. Pertumbuhan GDP yang positif biasanya diikuti oleh peningkatan infrastruktur digital sehingga memperkuat proses pencarian informasi konsumen.

    Selain itu, pengalaman pembelian juga menjadi faktor penting dalam membentuk loyalitas. Ketika kondisi ekonomi stabil, perusahaan mampu menyediakan produk berkualitas dan layanan memuaskan.

    Pendekatan pemasaran holistik menjadi semakin relevan untuk mempertahankan konsumen di tengah persaingan pasar yang ketat.

    Dengan demikian, pemahaman mengenai hubungan antara keputusan pembelian, faktor sosial, dan kondisi ekonomi dapat membantu pemasar merancang strategi yang lebih efektif.

    Dalam buku Pengantar Manajemen Bisnis Digital dijelaskan bahwa manusia pada dasarnya tidak dapat memenuhi kebutuhannya secara mandiri.

    Setiap individu pasti membutuhkan kerja sama, baik dengan orang lain maupun melalui organisasi. Hal ini menegaskan bahwa keberhasilan organisasi tidak hanya ditentukan oleh struktur dan sistem, tetapi juga oleh perilaku orang-orang di dalamnya.

    Perilaku tersebut terbentuk oleh berbagai faktor, seperti kemampuan, lingkungan, serta situasi yang berkembang di sekitar individu atau kelompok.

    Organisasi merupakan ruang tempat manusia saling menyesuaikan diri, saling mendukung, dan bekerja sama untuk mencapai tujuan bersama. Seorang manajer memiliki peran penting dalam mengelola keragaman perilaku tersebut karena setiap individu membawa latar belakang dan karakter yang berbeda.

    Pemahaman perilaku organisasi semakin penting pada era modern yang ditandai oleh perubahan teknologi, tuntutan konsumen, dan persaingan yang semakin ketat. Organisasi yang tidak mampu mengelola perilaku anggotanya dengan baik akan kesulitan menjaga kinerja dan stabilitas internal.

    Karena itu, perilaku organisasi tidak hanya mencakup hubungan internal, tetapi juga cara organisasi menempatkan diri dalam lingkungan sosial, ekonomi, dan budaya yang lebih luas.

    Dalam kajian perilaku konsumen dijelaskan bahwa pemasaran bukan sekadar aktivitas menjual, tetapi merupakan proses menyeluruh dalam mengelola hubungan antara perusahaan dan konsumen.

    Kotler dan Armstrong menegaskan bahwa tujuan pemasaran adalah menciptakan nilai bagi pelanggan serta menjaga hubungan jangka panjang yang berkelanjutan.

    Pemasar hanya dapat menjual produk secara efektif apabila memahami kebutuhan, keinginan, dan permintaan konsumen. Kebutuhan merupakan hal yang mendasar seperti rasa lapar, keamanan, dan kenyamanan.

    Sementara itu, keinginan merupakan bentuk spesifik dari kebutuhan yang dipengaruhi faktor budaya, lingkungan, dan pengalaman pribadi. Permintaan muncul ketika keinginan didukung oleh kemampuan membeli.

    Karena itu, perusahaan wajib menghubungkan produk yang ditawarkan dengan kemampuan dan preferensi konsumen. Tanpa memahami ketiga aspek tersebut, kegiatan pemasaran sulit mencapai tujuan yang diharapkan. Nilai konsumen saat ini tidak hanya ditentukan oleh fungsi barang, tetapi juga oleh pengalaman dan kepuasan yang diperoleh.

    UMKM kopi lokal di Pontianak berkembang pesat karena tingginya permintaan anak muda terhadap minuman kopi kekinian.

    Konsumen membutuhkan minuman yang cocok dinikmati saat berkumpul, kemudian berkembang menjadi keinginan akan cita rasa khas, suasana tempat yang nyaman, dan desain produk yang menarik untuk media sosial.

    Permintaan pun meningkat karena harga kopi cukup terjangkau. UMKM tersebut berhasil karena mampu membaca kebutuhan, keinginan, dan daya beli konsumen.

    Daftar Pustaka 

    Edwin Zusrony. Perilaku Konsumen di Era Modern. 2022.

    Kotler, Philip, dan Gary Armstrong. Prinsip-prinsip Pemasaran. Edisi terbaru.

    Putri, Sekar Widyasari. Pengantar Manajemen Bisnis Digital. 2022.

    Widyasari Putri, Sekar. Manajemen Pemasaran. 2023.

    *Gracesia Theresia – Mahasiswa Universitas Katolik Santo Agustunus Hippo, Kampus ll Pontianak, Akademi Keuangan dan Perbankan. (Sam). 

    Etika Mahasiswa dalam Penggunaan Media Sosial di Era Digitalisasi Pemasaran

    Foto: Rendi - Mahasiwa AKUB (3 B) San Agustin, Kampus II Pontianak.

    Duta, Pontianak | Dalam perkembangan sejarah manajemen pemasaran dan ekonomi, digitalisasi menjadi tantangan besar bagi demokrasi, termasuk di Indonesia.

    Pilkada serentak pada 27 November 2024, misalnya, menunjukkan bagaimana teknologi dan media digital dapat memengaruhi dinamika sosial dan politik masyarakat.

    Pada era sekarang, teknologi telah menjadi bagian penting dalam kehidupan sehari-hari dan memengaruhi cara manusia berinteraksi. Media sosial tidak hanya berfungsi sebagai sarana komunikasi, tetapi juga sebagai ruang penyebaran informasi yang sangat cepat dan luas. Namun, media sosial sering kali memicu konflik serta perselisihan karena konten yang tersebar tidak selalu mencerminkan kebenaran.

    Melihat kondisi tersebut, mahasiswa sebagai bagian dari generasi berpendidikan memiliki peran penting dalam menciptakan ruang digital yang sehat. Hal pertama yang harus disadari adalah bahwa tidak semua informasi di media sosial akurat atau sesuai dengan fakta.

    Dibutuhkan kecerdasan digital untuk memahami dan memilah mana informasi yang layak dipercaya. Selain itu, interaksi digital juga harus tetap berlandaskan simpati dan empati, sebab pengguna media sosial tetaplah manusia yang memiliki hak untuk dihargai.

    Perilaku negatif seperti trolling dan flaming dapat merusak etika komunikasi serta mengancam kualitas demokrasi digital. Mahasiswa sebagai kelompok yang terdidik diharapkan mampu memanusiakan manusia lain dalam ruang digital, baik yang dikenal maupun tidak.

    Dalam konteks bisnis dan manajemen pemasaran, teknologi informasi juga memegang peranan signifikan. Arus informasi yang cepat dan mudah diakses menjadikan teknologi sebagai kebutuhan utama perusahaan dalam meningkatkan efektivitas kerja.

    Manusia kini bekerja berdampingan dengan mesin dalam sistem yang saling terhubung untuk menghasilkan keputusan yang optimal. Teknologi informasi menjadi dasar penting dalam perluasan peluang pasar, tidak hanya secara lokal tetapi juga global.

    Perbandingan antara pemasaran tradisional dan pemasaran digital pun semakin jelas terasa. Media tradisional seperti koran, televisi, dan radio masih relevan bagi masyarakat yang tidak aktif di internet.

    Namun, generasi muda lebih banyak terpapar pada konten digital seperti Instagram dan TikTok. Pemasaran digital menawarkan jangkauan luas, biaya lebih efisien, dan interaksi dua arah yang memungkinkan konsumen menyampaikan pendapat secara langsung. Penyajian informasi yang transparan ini menjadi nilai tambah dalam membangun kepercayaan konsumen.

    Selain itu, pemasaran digital memungkinkan analisis data secara mudah dan akurat, sehingga membantu perusahaan dalam pengambilan keputusan strategis. Meskipun demikian, pemasaran tradisional tetap belum sepenuhnya bisa ditinggalkan. Ada kelompok masyarakat yang masih membutuhkan pendekatan pemasaran konvensional karena kesenjangan akses teknologi.

    Sebagai mahasiswa yang hidup di era digital, sudah sepatutnya kita mampu menjadi pengguna media sosial yang bijak, etis, dan kritis.

    Teknologi seharusnya menjadi sarana pemberdayaan, bukan pemicu konflik maupun penyebar kebohongan. Dengan literasi digital yang baik, mahasiswa dapat berkontribusi pada perkembangan demokrasi digital serta mendukung kemajuan bisnis di masa depan.

    Daftar Pustaka 

    Kotler, Philip, Hermawan Kartajaya, dan Iwan Setiawan. Marketing 4.0: Moving from Traditional to Digital. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama, 2019.

    Librina, Triana P., Adi S., Dwika Lodia P., dan Muhammad S. Marketing Management. Bandung: CV Eureka Media Aksara, 2023.

    “Pilkada Serentak Digelar 27 November 2024.” Tribun Jakarta. Diakses 20 November 2025.

    Samuel. “Produktivitas Nilai dan Analisis Konsumen.” Materi kuliah, Pertemuan ke-11, 26 November 2025.

    *Rendi – Mahasiswa AKUB – San Agustin (3 B), Sam. 

    Hidup Hemat di Era Serba Mahal dalam Tantangan dan Peluang untuk Mahasiswa Perantau

    Foto: Nevty Inggrid Rai - AKUB San Agustin (3 B)

    Duta, Pontianak | Perkenalkan, saya Nevty Inggrid Rai, mahasiswa Universitas Katolik Santo Agustinus Hippo Pontianak Kampus II.

    Saya ingin berbagi sebuah opini mengenai pentingnya menerapkan gaya hidup hemat di tengah situasi ekonomi yang semakin menantang. Kita semua merasakan bahwa harga-harga kian melonjak mulai dari bahan bakar, makanan pokok, hingga berbagai kebutuhan lainnya.

    Sementara itu, tidak sedikit pekerjaan yang masih menawarkan gaji di bawah standar UMR. Kondisi ini tentu menimbulkan pertanyaan besar, terutama bagi kalangan muda apakah pendapatan atau kiriman uang dari keluarga cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup beberapa bulan ke depan?

    Banyak mahasiswa perantau yang datang ke Pontianak untuk melanjutkan pendidikan. Mereka berasal dari desa atau bahkan luar provinsi. Tak jarang, mereka memilih bekerja paruh waktu untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.

    Bukan semata-mata karena tidak dibiayai lagi oleh keluarga, melainkan karena mereka ingin belajar mandiri dan memanfaatkan waktu secara produktif. Ada yang kuliah di pagi hari lalu bekerja di malam hari, dan ada pula yang melakukan sebaliknya. Kehidupan seperti ini mengajarkan mereka banyak hal, terutama dalam hal mengelola keuangan secara bijak agar tidak terbawa pada sikap boros.

    Hidup hemat bukan berarti menurunkan kualitas hidup secara drastis. Justru, gaya hidup hemat merupakan kemampuan untuk membedakan mana yang benar-benar kebutuhan dan mana yang hanya keinginan sesaat.

    Langkah-langkah sederhana seperti mengurangi jajan yang tidak perlu, membandingkan harga sebelum membeli sesuatu, serta memanfaatkan promo secara cerdas dapat membantu seseorang untuk mengontrol pengeluaran. Apabila dilakukan secara konsisten, kebiasaan kecil ini akan membawa dampak besar terhadap kondisi keuangan di masa mendatang.

    Selain itu, hidup hemat juga melatih kedisiplinan. Dengan membuat anggaran bulanan dan mencatat setiap pengeluaran, seseorang belajar untuk bersikap teratur dan penuh perhitungan.

    Persiapan dana darurat juga menjadi hal penting yang harus diperhatikan, sebab kenaikan harga atau kebutuhan mendadak bisa terjadi kapan saja. Disiplin dalam mengatur uang memberikan rasa aman dan mengurangi stres, karena kita memahami batas kemampuan finansial kita sendiri dan tidak mudah panik saat menghadapi kondisi sulit.

    Akhirnya, dapat disadari bahwa kenaikan harga merupakan sesuatu yang tidak bisa kita kendalikan. Namun, cara kita merespons keadaan tersebut sangat menentukan.

    Dengan menjalankan gaya hidup hemat, kita tidak hanya mampu bertahan di tengah tekanan ekonomi, tetapi juga menjaga stabilitas finansial jangka panjang. Hidup hemat adalah langkah cerdas untuk menghadapi era serba mahal tanpa harus kehilangan keseimbangan hidup dan kebahagiaan.

    Demikian opini yang dapat saya bagikan untuk teman-teman semua. Bagi sesama mahasiswa yang sedang berjuang kuliah sambil bekerja seperti saya, tetap semangat! Utamakan pendidikan dan jangan mudah menyerah.

    Kalian hebat karena sedang memperjuangkan masa depan yang lebih baik melalui kerja keras dan disiplin yang kalian bangun sejak sekarang.

    *Nevty Inggrid Rai – (3 B) AKUB San Agustin (Sam). 

    Pengaruh Industri Freelance Terhadap Kestabilan Ekonomi

    Yendi Kurniawan - AKUB San Agustin (3 B)

    Duta, Pontianak | Perkembangan ekonomi global dalam bebrapa tahun terakhir mengalami pergeseran yang cukup signifikan, terutama dengan munculnya ekonomi digital dan pola kerja yang semakin fleksibel serta pada tahun 2019 kita mengalami pandemi covid-19 yang membuat para individu kehilangan pekrjaan membuat mereka berfikir bagiaman cara mendapatkan tambahan sementara sistem kerja yang sedang down.

    Salah satu fenomena terbesar yang muncul dari efek tersebut adalah tumbuhnya industri freelance. Industri ini tidak hanya menawarkan ruang yang fleksibel bagi individu untuk bekerja secara mandiri dimanapun dan kapanpun.

    Tetapi juga membawa perubahan struktur terhadap cara ekonomi berjalan, baik dari sisi pasar tenaga kerja maupun kontribusinya terhadap stabilitas ekonomi nasional. Namun, ada kontribusi yang memperkuat ketahanan ekonomi, tetapi juga risiko yang bisa melemahkan kestabilan jangka panjang. Pandangan ini dapat dianalisis lebih dalam.

    Pertama tama, industri freelance memberikan kontribusi positif terhadap stabilitas ekonomi, terutama dalam konteks fleksibilitas pasar kerja. Dalam bukunya The Third Industrial Revolution, Jeremy Rifkin menjelaskan bahwa perubahan teknologi menciptakan peluang baru untuk model kerja yang tidak bergantung pada struktur organisasi yang masih tradisional.

    Menurut Rifkin, ekonomi digital membuka ruang bagi individu untuk memanfaatkan modal sosial dan keterampilan mereka secara mandiri. Hal ini dapat kita lihat secara jelas dalam industri freelance, di mana para pekerja dapat mengakses pasar global tanpa harus terikat pada satu perusahaan.

    Akibatnya, ketika terjadi ketidakpastian ekonomi seperti krisis global, pandemi, atau perlambatan industri, sektor freelance menjadi “penyangga” yang mampu menyerap tenaga kerja yang tereliminasi dari sistem kerja formal.

    Fleksibilitas yang ditwarkan industri freelance memberikan dua keuntungan besar bagi stabilitas ekonomi. Pertama, mengurangi lonjakan angka pengangguran pada masa krisis tertentu. Seseorang yang kehilangan pekerjaan formal dapat dengan cepat beralih menjadi freelancer di bidang penulisan, desain grafis, videografi, penerjemahan, pembuat aplikasi, hingga konsultasi.

    Kedua, industri freelance memungkinkan terjadinya arus pendapatan lintas negara, terutama melalui platform global seperti Upwork, Fiverr, atau Freelancer.com. Dengan adanya pendapatan dari klien asing, terjadi aliran devisa tambahan yang memperkaya perekonomian nasional. 

    Namun demikian, kontribusi positif tersebut bersanding dengan tantangan serius terhadap stabilitas jangka panjang. Richard Sennett dalam bukunya The Corrosion of Character mengkritik model kerja fleksibel yang terlalu menekankan ketidakpastian, proyek jangka pendek, dan hubungan kerja yang tidak stabil antara Individu dan client.

    Menurut Sennett, sistem kerja yang tidak memberikan kepastian membuat individu kehilangan struktur jangka panjang dalam kariernya, sehingga melemahkan kemampuan mereka untuk membangun perencanaan ekonomi yang berkelanjutan.

    Dalam konteks industri freelance, isu ini menjadi sangat relevan. Mayoritas freelancer tidak memiliki kontrak jangka panjang, tidak memiliki akses pada jaminan sosial, dan pendapatannya sangat fluktuatif. Ketidakpastian ini berpotensi mengurangi daya beli Masyarakat yang menajdi salah satu indikator penting dalam menjaga kestabilan ekonomi.

    Ketidakpastian pendapatan bukan hanya berdampak pada kondisi individu itu sendiri. Ketika semakin banyak pekerja memasuki industri freelance tanpa perlindungan sosial, dana pensiun, dan jaminan Kesehatan bagi individu, negara akan menghadapi risiko meningkatnya beban sosial di masa depan.

    Banyak negara mengalami kesulitan dalam mengintegrasikan pekerja freelance ke dalam sistem pajak yang formal. Akibatnya, ada potensi melemahnya pendapatan negara yang diperlukan untuk menopang pembangunan dan stabilitas fiskal. Hal ini semakin diperparah dengan minimnya aturan yang secara khusus mengatur pekerja lepas, terutama di negara-negara yang berkembang.

    Pada titik ini, pekerja freelance berpotensi menjadi bagian dari kelas ketidakpastian hidup permanen, karena mereka tidak memiliki stabilitas pendapatan, tidak mendapat perlindungan hukum yang jelas, dan tidak memiliki mobilitas karier yang pasti. Hal ini menekankan bahwa kondisi ini dapat menciptakan ketidakstabilan sosial dan ekonomi jika tidak diatasi, karena semakin banyak individu yang merasa secara ekonomi rentan dan tidak terlindungi oleh hukum.

    Walaupun demikian, tidak semua dampak freelance harus dilihat sebagai ancaman. Industri ini dapat menjadi transformasi positif bagi struktur ekonomi jika diatur dengan baik. Pemerintah memiliki peran penting dalam memastikan bahwa pekerja freelance tetap terlindungi tanpa menghilangkan fleksibilitas yang menjadi keunggulan dalam sektor ini.

    Kebijakan yang dapat diterapkan antara lain mekanisme pajak yang lebih sederhana, akses ke BPJS atau jaminan sosial khusus freelance, pelatihan digital yang terjangkau dan mudah diakses, serta sistem kontrak standar yang melindungi hak freelancer dari eksploitasi klien. Langkah-langkah ini dapat menciptakan keseimbangan antara fleksibilitas dan perlindungan, sehingga sektor freelance dapat berkontribusi secara stabil terhadap ekonomi nasional.

    Selain itu, perkembangan teknologi kecerdasan buatan (AI), dan platform digital juga dapat menjadi peluang jangka panjang bagi pekerja freelance. Dengan kemampuan untuk bersaing di pasar global, pekerja dapat meningkatkan kapasitas dan kompetensinya melalui sertifikasi online, portofolio digital, dan reputasi profesional berbasis platform. Proses ini memungkinkan mereka untuk terus meningkatkan nilai ekonomi yang ditawarkan.

    Jika diarahkan dengan benar, industri freelance dapat menjadi mesin inovasi yang menyumbang pertumbuhan sektor-sektor kreatif, teknologi, dan jasa profesional. Ini juga sejalan dengan teori Rifkin tentang ekonomi kolaboratif yang semakin mengandalkan kreativitas dan modal intelektual idnividu.

    Dengan demikian, pengaruh industri freelance terhadap kestabilan ekonomi bersifat kompleks. Ia bukan ancaman terhadap stabilitas ekonomi, tetapi juga bukan solusi tunggal. Industri ini dapat menjadi pilar ysng penting ekonomi masa depan, namun hanya jika ditopang oleh regulasi yang inklusif dan adaptif.

    Tanpa perlindungan yang memadai, industri freelance dapat memperluas kelas ketidakpastian permanen, dapat menciptakan ketidakpastian ekonomi seperti yang disoroti Sennett, dan melemahkan landasan sosial yang diperlukan dalam ekonomi digital modern. Sebaliknya, dengan manajemen kebijakan yang tepat, industri freelance dapat menjadi ruang mobilitas ekonomi baru, pembuka lapangan kerja fleksibel, serta motor inovasi dan pertumbuhan berkelanjutan.

    Referensi Buku:

    1. Rifkin, Jeremy. The Third Industrial Revolution. Palgrave Macmillan, 2011.
    2. Sennett, Richard. The Corrosion of Character. W. W. Norton, 1998.
    3. Standing, Guy. The Precariat: The New Dangerous Class. Bloomsbury, 2011.

    *Yendi Kurniawan – AKUB San Agustin (Sam). 

    Kejahatan Digital dan Literasi Masyarakat

    Foto: Anjeli - Mahasiswa AKUB- San Agustin (3 B)

    Duta, Pontianak | Kejahatan digital jaman sekarang, seperti phishing dan scamming kini semakin marak sekali ya terjadi di Tengah kemajuan teknologi yang semakin hari semakin banyak  memudahkan masyarakat untuk melakukan aktivitas nya. Sebagai mahasiswa yang sering kali juga menggunakan teknologi digital.

    Menyikapi fenomena ini, bahwa pemerintah kota Pontianak melalui Dinas Komunikasi dan Informatika (Diskominfo) menegaskan pentingnya literasi dan kewaspadaan digital bagi seluruh lapisan masyarakat.

    Pejabat fungsional pranata Humas Ahli Muda Diskominfo Kota Pontianak, M. Suryadin, menilai tema yang diskusi publik bertajuk ‘‘Kejahatan Digital untuk waspada jadi korban phishing dan Scamming’’ yang diiniasi oleh Aliansi Wartawan Kriminal (Awal) Pontianak sangat relevan dengan kondisi yang dialami masyarakat saat ini.

    “Kemajuan teknologi memang membawa banyak kemudahan. Namun, di balik itu semua juga muncul tantangan dan ancaman baru yang harus kita hadapi Bersama, “ kata Suryadin dalam sambutannya pada kegiatan Diskusi publik kejahatan Digital di Aula Rumah Dinas Wakil Wali Kota Pontianak. Kamis, 13 November 2025.

    Perspektif Keamanan Siber

    Keamanan siber (Cybersecurity) merupakan topik yang sering dibahas oleh para ahli, mengingat pentingnya Upaya perlindungan terhadap sistem informasi, data, dan infrastruktur digital (Hanafi, 2002).

    Berbagai pakar dalam bidang ini memberikan berbagai pandangan, namun secara umum mereka sepakat bahwa keamanan siber mencakup serangkaian Langkah dan strategi untuk melindungi sistem komputer, jaringan, data dari ancaman yang dapat merusak atau menganggu integritasnya.

    Perkembangan Keamanan Siber di Dunia Digital 

    Masalah kejahatan yang terkait dengan pencurian data sudah ada sejak lama, bahkan jauh sebelum munculnya computer moderm. Sebelum perang dunia II, telah terjadi kemajuan dalam bidang kriptanalisis Enigma. Pada tahun 1929, Biro Sandi Polandia mulai merekrut ahli matematika dengan mengundang mahasiswa dari Universitas Poznan untuk mengikuti kelas kriptologi.

    Pada tahun 1932, para lulusan Universitas Poznan, yakni Marian Rejewski, Henryk Zygalski, dan Jerzy Rozycki, mulai bekerja secara penuh waktu di Biro Sandi Polandia. Secara bersamaan, seorang mata – mata prancis Bernama Hans – Thilo Schmidt berhasil menyusup ke kantor Cipher Jerman di Berlin (Ardiyasa, 2024).

    Dalam sambutannya Ia menekankan bahwa kehidupan masyarakat saat ini tak bisa dipisahkan dari dunia digital, mulai dari berbelanja, berkomunikasi, hingga bertransaksi keuangan pun semuanya dilakukan melalui genggaman tangan saja. Namun, di balik kemudahan itu saya sebagai mahasiswa juga melihat bahwa masyarakat sering kali lenggah terhadap ancaman kejahatan siber.

    “Banyak yang menjadi korban penipuan digital, kehilangan uang, bahkan data pribadi karena kurangnya kewaspadaan. Pelaku ini biasanya memanfaatkan kelengahan korban lewat pesan, tautan, atau situs palsu yang seolah berasal dari Lembaga resmi,” Jelasnya.

    Dalam era digital yang semakin berkembang ini ada dua hal yang menjadi perhatian saya yaitu, ancaman siber dan serangan siber ini menjadi dua konsep penting untuk dipahami.

    Yang di mana ancaman siber merujuk pada potensi bahaya yang dapat mengancam keamanan sistem informasi dan data di dunia maya, sedangkan serangan siber merupakan tindakan konkret yang dilakukan oleh pihak tertentu untuk mengeksploitasi kelemahan dalam sistem keamanan dengan tujuan merusak, mencuri, atau mengubah data. Ancaman siber sering kali berfungsi sebagai pemicu atau dasar dari terjadinya serangan (Adiyasa, 2024). 

    Menurut Suryadin, kegiatan diskusi publik seperti ini berperan penting untuk meningkatkan literasi dan kesadaran digital masyarakat. Dirinya juga menegaskan, pemerintah kota Pontianak mendukung penuh Upaya edukatif semacam ini sebagai bagian dari  misi untuk menjadikan Pontianak sebagai kota yang aman, cerdas dan berdaya saing digital,”ungkapnya.

    “Dari hal itu kita perlu menanamkan pada masyarakat, terutama generasi muda agar berinternet secara bijak, tidak mudah tergoda tawaran mencurigakan, dan selalu melindungi data pribadi dengan tanggung jawab. Ingat, dijaman sekarang era digital, yang dicuri bukan hanya uang, tetapi juga identitas dan kepercayaan diri,”ujarnya. Suryadin juga mengajak seluruh pihak pemerintah, akademisi, aparat penegak hukum, dan masyarakat untuk bersinergi dalam mencegah serta menaggulangi kejahatan digital.

    Namun, bukan hanya ancaman siber saja yang terjadi, tapi ancaman Phishing. Dimana ancaman phishing ini adalah bentuk kejahatan dunia maya yang paling umum yang melibatkan pencurian informasi pribadi dan data sensitife orang lain dengan mengirimi mereka pesan, email, atau komunikasi digital lainnya.

    Tujuan utama phishing ini adalah mencuri identitas target atau mendapatkan target illegal ke akun seseorang. Dengan informasi yang dimiliki pelaku phishing, pelaku dapat melakukan berbagai jenis penipuan, seperti pencurian identitas, pencurian uang, atau serangan terhadap computer dan sistem jaringan, Dimana hal itu merupakan dampak yang sangat serius bagi korban jika tidak benar – benar di perhatikan. Maka dari itu sebagai manusia yang pelupa kita harus saling mengingatkan. 

    Kejahatan phishing ini juga dapat dilakukan dengan modus sosial engineering. Dimana modus ini dilakukan dengan pelaku menghubungi korban melalui telepon, chat, sosial media, dan platform digital lain, dimana dia akan mengarahkan korban untuk membuka situs tertentu dengan tujuan pencurian data serupa.

    Para pelaku memperhatikan perilaku atau kebiasaan calon korban untuk menemukan kelemahan mereka. Ada pula phishing yang bertujuan menanamkan malware atau virus ke perangkat digital korban, supaya pelaku bisa mencuri data korban secara otomatis (Chaudry, 2014).

    “Maka dari itu mari kita jadikan diskusi publik ini sebagai momentum untuk memperkuat kerja sama lintas sektor. Dengan pengetahuan dan kewaspadaan, kita bisa menciptakan ruang digital yang aman bagi seluruh warga Pontianak pungkasnya”.

    Referensi Buku:

    Internet, ( Kumparan). 22 November 2025. Kejahatan digital dan Literasi Masyarakat. 

    Sumber Buku: 

    1. Waspada kejahatan phising attack-literasi Nusantara abadi grop, 2024
    2. Buku saku literasi digital-tangkap keamanan siber , sekolah staf & pimpinan tinggi  polri (SSP Polri), 2025
    3. Keamanan siber dan Implementasinya di Indonesia, Yo Ceng Giap, M.Kom, Universitas Buddhi Dharma, 2025

    Sumber internet:

    Ade mirza, Kumparan, 13 November 2025, Marak kejahatan digital, pemkot pontinak dorong kewaspadaan lewat literasi (Marak Kejahatan Digital, Pemkot Pontianak Dorong Kewaspadaan Lewat Literasi | kumparan.com) sabtu, 22 November 2025

    *Anjeli – Mahasiswa Akademi Keuangan dan Perbankan Pontianak (Sam). 

    Ketika Kekerasan Menghancurkan Kepercayaan: Pelajaran dari Kasus Penganiayaan di Bengkel Pontianak

    Gita - 3 B AKUB - San Agustin

    Duta, Pontianak | Kejadian di mana dua pegawai bengkel di Pontianak ditetapkan sebagai tersangka penganiayaan atas seorang pria setelah keributan di Jalan Gajah Mada menggambarkan lebih dari sekadar masalah hukum — insiden ini menyingkap bagaimana ketidaksiapan mengendalikan emosi dan kurangnya profesionalisme bisa merusak reputasi bisnis, kepercayaan pelanggan, bahkan masa depan usaha itu sendiri.

    Menurut laporan resmi pada 20 November 2025, polisi sektor Pontianak Selatan menetapkan dua pegawai bengkel — berinisial Adan H — sebagai tersangka dalam kasus dugaan penganiayaan terhadap seorang laki-laki bernisial HN.

    Peristiwa bermula ketika korban bersama seorang perempuan bernama TS mendatangi bengkel untuk menemui cucu TS. Dari awal percakapan yang bisanya biasa saja, pembicaraan berubah menjadi perdebatan.

    Ketegangan meningkat ketika korban yang sebelumnya berada di luar masuk ke dalam bengkel; dalam hitungan detik, situasi memanas, terjadi dorong-mendorong, dan kemudian korban dipukul oleh dua pegawai bengkel.

    Sejumlah saksi menyaksikan langsung insiden tersebut. Hasil visum dari rumah sakit menunjukkan korban mengalami luka di pipi, leher, dan robekan di kulit — luka yang menghambat korban untuk bekerja.

    Prosedur penyelidikan telah dilakukan: polisi memeriksa 13 saksi termasuk saksi ahli, mengamankan barang bukti berupa rekaman video dari ponsel saksi serta pakaian korban saat kejadian, dan telah menggelar perkara sebanyak tiga kali.

    Meski demikian, tersangka tidak ditahan karena dianggap kooperatif, tidak berupaya melarikan diri maupun menghilangkan barang bukti. Upaya mediasi gagal, sehingga proses hukum tetap dilanjutkan.

    Kasus ini memberi pelajaran penting bahwa konflik — sekecil apa pun — bisa merembet menjadi krisis besar. Bukan hanya menyangkut aspek hukum dan keadilan, tetapi juga kepercayaan pelanggan, citra usaha, dan stabilitas usaha itu sendiri.

    Seandainya saya adalah pemilik bengkel tersebut, saya pasti khawatir apakah ketika pelanggan tahu bahwa pengerjaan di bengkel ini dilakukan oleh staf yang pernah dipolisikan karena kekerasan, mereka akan tetap percaya? Apakah reputasi bengkel akan tetap utuh, atau berangsur memburuk?

    Dari perspektif pemasaran, kepercayaan dan reputasi adalah salah satu nilai utama yang harus dijaga. Buku klasik seperti Principles of Marketing oleh Philip Kotler dan Gary Armstrong mengajarkan bahwa rantai pemasaran — termasuk reputasi, saluran distribusi, dan citra layanan — merupakan bagian tak terpisahkan dari nilai tambah bagi pelanggan.

    Ketika reputasi layanan tercemar, seluruh “saluran pemasaran” bengkel bisa runtuh pelanggan takut, mitra sulit diajak kerja sama, dan arus bisnis bisa terhenti. Dalam konteks bengkel otomotif, di mana pelanggan sangat mengandalkan keahlian, integritas, dan layanan amanah, sebuah tindakan kasar yang dipublikasikan bisa memanggil implikasi serius: penurunan jumlah pelanggan, keraguan mitra pemasok, hingga risiko kebangkrutan.

    Pada tingkat individu, kasus ini juga mengingatkan kita akan pentingnya kendali diri — terutama dalam situasi penuh tekanan. Dalam bukunya Thinking, Fast and Slow, Daniel Kahneman mendeskripsikan dua sistem pemikiran dalam otak manusia: satu yang cepat dan emosional, dan satu lagi yang lambat dan rasional.

    Ketika seseorang merespons konflik dengan sistem “berpikir cepat”, amygdala — pusat emosi dan reaksi spontan — bisa mendorong tindakan impulsif, seperti marah atau menyerang. Sebaliknya, ketika kita mampu menunda respons pertama dan memberi ruang bagi prefrontal cortex untuk menilai — kita memberi kesempatan bagi rasionalitas, empati, dan kebijaksanaan. Jika pegawai bengkel di Pontianak itu mampu “menunda tombol reaksi” mereka, mungkin pertikaian bisa diakhiri dengan dialog, bukan kekerasan.

    Oleh karena itu, pelajaran dari insiden ini bukan hanya tanggung jawab aparat penegak hukum, tetapi juga tanggung jawab kita sebagai manusia, pelaku usaha, serta warga masyarakat. Kita perlu belajar mengendalikan emosi, menjaga profesionalisme, dan memahami bahwa tindakan kita — sekecil apa pun — berpotensi menimbulkan dampak luas.

    Sebuah bengkel bukan sekadar tempat memperbaiki kendaraan ia adalah titik kepercayaan antara pelanggan dan penyedia layanan. Sekali kepercayaan itu rusak, butuh waktu lama untuk memulihkannya — atau bisa jadi lenyap sama sekali.

    Kasus ini hendaknya menjadi panggilan bangun bagi semua pengusaha kecil, pekerja layanan, dan siapa pun yang berinteraksi dengan publik: reputasi dan kepercayaan adalah fondasi utama. Layanan profesional, perilaku sopan, kendali emosi, dan tanggung jawab moral tidak bisa dianggap opsi — melainkan keharusan. Karena pada akhirnya, reputasi bukan dibangun oleh jabatan, melainkan oleh tindakan.

    Ke depan, bengkel-bengkel, toko layanan, maupun pelaku usaha jasa seharusnya memasukkan kode etik profesional dan pelatihan pengendalian emosi dalam pelatihan internal mereka.

    Pelanggan perlu diyakinkan bahwa layanan bukan hanya tentang teknis, tetapi juga tentang keamanan psikologis — mereka datang dengan harapan, bukan kecemasan. Masyarakat harus menyadari bahwa konflik kecil bisa menjadi tragedi besar jika tidak ditangani dengan bijak.

    Jika kita gagal belajar dari insiden di Pontianak, maka kita membiarkan ketidaksiapan emosional dan ketidakhormatan terhadap sesama menodai nilai dasar kemanusiaan: saling menghormati, saling menjaga, dan hidup berdampingan dengan damai.

    Mari jadikan kasus ini sebagai pelajaran — bahwa di setiap layanan, di setiap bengkel, di setiap tempat kita bekerja, kita bukan hanya menawarkan jasa; kita menawarkan kepercayaan, kredibilitas, dan martabat.

    Daftar Pustaka:

    Kahneman, Daniel. Thinking, Fast and Slow. New York: Farrar, Straus and Giroux, 2013.
    Kotler, Philip, dan Gary Armstrong. Principles of Marketing. 17th ed. Harlow: Pearson, 2018.
    Pontianak Post (Jawa Pos). “Dua Pegawai Bengkel di Pontianak Ditetapkan sebagai Tersangka Penganiayaan setelah Keributan di Jalan Gajah Mada.” 20 November 2025.

    *Gita – AKUB _ San Agustin (Sam). 

    TERBARU

    TERPOPULER