DUTA, Landak – Dalam dinamisnya dunia yang bergerak cepat, ketika Kecerdasan Buatan (AI) dapat menyusun teks, merangkum bacaan, dan merangkai argumen akademik dalam hitungan detik, pentingnya skripsi sering dipertanyakan.
Bagi beberapa mahasiswa/i, terutama generasi yang dibesarkan dalam budaya instan, skripsi tampak membosankan, melelahkan, dan tidak praktis. Namun, justru pada masa ini skripsi menjadi penting kembali sebagai tindakan intelektual, sebuah proses yang mengubah cara orang berpikir, bukan sekadar menulis.
Pernahkah Anda berhenti sejenak dan mempertanyakan: Apa sebenarnya tujuan dari skripsi yang sedang saya tulis/ rencakanan? Meskipun pertanyaan ini terdengar sederhana, jawabannya menjadi sangat penting, terutama ketika budaya akademik bersinggungan langsung dengan budaya instan yang ditopang AI.
Gita Wirjawan, seorang peneliti tamu di Stanford University dan pembawa acara Endgame, mengungkapkan bahwa hanya sekitar 12% kepala rumah tangga di Indonesia yang mengenyam pendidikan hingga jenjang S1 (Katadata, 2024).
Angka ini kerap dibaca sebagai statistik pendidikan semata, padahal ia menyiratkan makna yang lebih dalam. Pendidikan tinggi masih merupakan pengalaman sosial dan kognitif yang langka apalagi nereka yang berada di daerah. Ini bukan sekadar menyelesaikan dan mendapatkan ijazah, tetapi membangun cara berpikir. Maka beruntunglah jika teman-teman saat ini memiliki kesempatan menempuh studi di perguruan tinggi.

Ironisnya, skripsi sering diremehkan. Komentar seperti, “Ahhh ngapain nulis skripsi yang serius?” “Hanya syarat lulus kok” atau “Keahlian skripsi tidak relevan di dunia kerja” terdengar familiar, terutama di kalangan Gen Z yang dibesarkan dalam lingkungan yang penuh dengan jawaban cepat.
Pendapat ini terlihat masuk akal setelah melihatnya. Melihat lebih jauh, ia tidak dapat memahami skripsi sebagai tindakan intelektual. Bukan masalah apakah isi skripsi akan bermanfaat, tetapi proses menulisnya. Ini terutama karena kecerdasan buatan dapat membantu menulis, tetapi belum sepenuhnya menggantikan cara kita berpikir sebagai manusia.
- Skripsi Skripsi sebagai Laku Intelektual
Dalam kajian pendidikan tinggi, Skripsi tidak dirancang sebagai sekadar tulisan akhir. Ia berfungsi sebagai alat pedagogis yang bertujuan untuk mengajarkan kemampuan berpikir tingkat tinggi, yaitu berpikir sistematis, abstrak, reflektif, dan berbasis bukti (Anderson & Krathwohl, 2001). Ketika skripsi tereduksi menjadi tugas administratif, aspek ini paling sering terlewatkan dan menjadi miris.
Sebagai laku intelektual, skripsi menuntut mahasiswa untuk berpikir secara bertahap. Mahasiswa/i belajar mengenali masalah, memahami konteksnya, mempertimbangkan berbagai sudut pandang, membuat keputusan rasional, dan mempertanggungjawabkan pilihan mereka.
Proses ini lambat, seringkali membosankan, dan kadang-kadang membosankan. Namun, justru di situlah pendidikannya berharga: ketekunan lebih penting daripada kecepatan. Laku intelektual ini semakin relevan di era kecerdasan buatan. Kemampuan manusia untuk menimbang, meragukan, dan merefleksikan adalah yang membedakan mesin dari paragraf yang dapat disusun dalam hitungan detik.
- Latar Belakang: Seni Membaca Masalah
Di tengah gempuran budaya instan, kita dibiasakan untuk bertindak cepat. Sebuah fragmen informasi menghasilkan pendapat; sebuah masalah viral menghasilkan kesimpulan. Menulis latar belakang skripsi mengajarkan Anda untuk membaca masalah dengan jelas.
Pada tahap ini, siswa belajar bahwa kehampaan tidak merupakan sumber masalah. Setiap masalah memiliki dasar sosial, sejarah, dan struktural. Selain itu, mereka menemukan bahwa kegelisahan pribadi tidak selalu merupakan masalah akademik yang layak. Kedewasaan berpikir diperlukan selama proses seleksi, argumentasi, dan justifikasi.
Keterampilan ini dapat dilihat dalam kehidupan sehari-hari, seperti membedakan antara pendapat pribadi dan fakta yang dapat dibenarkan, dan antara emosi sementara dan masalah struktural. Menurut penelitian tentang pemikiran kritis, kemampuan untuk mengidentifikasi masalah secara akurat merupakan dasar dari membuat keputusan yang bijak dan bertanggung jawab (Facione, 2015).
- Metodologi: Disiplin Merancang jalan, bukan Jalan Pintas
Metodologi adalah bagian paling “ribet” dari skripsi bagi banyak mahasiswa. Namun, ini adalah tempat di mana kemampuan intelektual benar-benar diuji. Metodologi mengatakan bahwa there is no shortcut to clarity dan tidak ada solusi cepat untuk semua masalah.
Memilih metode berarti menentukan cara yang paling masuk akal untuk menjawab pertanyaan penelitian sambil mempertimbangkan data, waktu, dan sumber daya yang tersedia. Ini adalah latihan problem-solving design yang sangat dekat dengan hal-hal yang terjadi di dunia nyata, seperti membuat rencana kerja, membuat rencana bisnis, membuat keputusan keluarga, dan menangani konflik sosial.
Kuhlthau (2004) menunjukkan bahwa proses pencarian informasi dalam penelitian tidak hanya mengasah kemampuan kognitif, tetapi juga melatih individu mengelola kecemasan dan ketidakpastian. Melalui metodologi penelitian, mahasiswa belajar bersikap tenang dan jernih ketika berhadapan dengan situasi yang belum jelas. Ini adalah sebuah keterampilan hidup esensial yang tidak dapat digantikan oleh kecerdasan buatan.
- Hasil dan Pembahasan: Kedewasaan Mengelola Perbedaan
Jantung Skripsi bergantung pada bagian hasil dan pembahasan. Di sinilah siswa belajar membaca data yang sebenarnya, bukan yang diharapkan. Mereka tidak membuat kesimpulan terlalu dini dan mengaitkan temuan mereka dengan teori dan penelitian sebelumnya.
Tahap ini, sebagai tindakan intelektual, menumbuhkan kemampuan untuk menangani perbedaan. Dalam kehidupan sehari-hari, orang dengan kemampuan ini tampaknya tidak mudah terprovokasi oleh cerita tunggal; mereka memiliki kemampuan untuk mendengar berbagai sudut pandang dan membuat kesimpulan dengan logika dan bukannya reaktif. Kebiasaan bernalar berbasis bukti dikaitkan dengan kematangan dalam menghadapi kompleksitas sosial, menurut penelitian tentang epistemic cognition (Hofer & Pintrich, 2001).
- Kesimpulan: Mengambil Tanggung Jawab atas Pikiran Anda
Proses merumuskan kesimpulan adalah pusat laku intelektual dalam penulisan skripsi. Di titik ini, siswa bertanggung jawab atas pikiran mereka sendiri. Mereka menemukan bahwa data harus membatasi setiap klaim, bahwa tidak semua pertanyaan memiliki jawaban akhir, dan bahwa intelektualitas selalu memerlukan tanggung jawab.
Di era AI, kemampuan semacam ini menjadi semakin penting, karena meskipun teks dapat dibuat dengan cepat dalam jumlah besar, pemikiran yang jernih tidak selalu muncul secara instan.
Oleh karena itu, pertanyaan yang lebih relevan adalah, “Apakah skripsi akan dipakai di dunia kerja?” daripada, “Apakah cara berpikir yang dibentuk melalui skripsi akan kita bawa dalam kehidupan?” Pengalaman belajar berpikir tingkat tinggi tidak boleh dianggap remeh dalam masyarakat di mana pendidikan tinggi masih menjadi privilese bagi sebagian kecil orang, seperti yang terlihat dari fakta bahwa hanya sekitar 12% kepala rumah tangga di Indonesia mengenyam pendidikan hingga jenjang sarjana.
Di era AI yang menawarkan solusi pintar dalam hitungan detik, kini, tempat untuk mengajarkan pemikiran kritis semakin menipis. Pada titik ini, skripsi lebih penting daripada menjadi tugas administratif sebagai salah satu syarat lulus.
Pelibatan critical thinking dalam skripsi telah bertransformasi menjadi pengukur moral yang mengajarkan mahasiswa/i keberanian untuk membuat keputusan sendiri, kemampuan untuk membaca masalah dengan cermat, dan kemampuan untuk menimbang bukti dengan benar bahkan untuk menyanggah tulisan yang dihasilkan oleh AI. Kemampuan berpikir kritis ini lebih penting daripada sekedar “bisa” menghasilkan tulisan.
Skripsi tidak akan pernah usang selama terus berfungsi sebagai tempat penempaan nalar seperti ini. Karena yang ditempa bukanlah teks, tetapi manusia dan pandangan hidup mereka.
Referensi:
Anderson, L. W., & Krathwohl, D. R. (2001). A taxonomy for learning, teaching, and assessing: A revision of Bloom’s taxonomy of educational objectives. Longman.
Facione, P. A. (2015). Critical thinking: What it is and why it counts. Insight Assessment
Hofer, B. K., & Pintrich, P. R. (2001). Personal epistemology: The psychology of beliefs about knowledge and knowing. New York. Routledge.
Katadata.co.id. (2024). Gita Wirjawan soroti kualitas politikus RI yang dipengaruhi pendidikan pemilih.
Kuhlthau, C. C. (2004). Seeking meaning: A process approach to library and information services (2nd ed.). Libraries Unlimited.




