Tuesday, April 28, 2026
More
    Home Blog Page 108

    Cerita Ziarah SDSK Marie Joseph di Bulan Rosario (Oktober)

    Cerita Ziarah SDSK Marie Joseph di Bulan Rosario (Oktober)- Foto: Dominique

    MajalahDUTA.Com, Pontianak– Jumat 28 Oktober 2022 adalah hari bagi siswa-siswi SDSK Marie Joseph Pontianak melaksanakan Ziarah Ke Goa Maria Ratu Toho, Kecamatan Toho, Kabupaten Mempawah yang kelas 4, 5, dan 6 dengan menggunakan transportasi 4 Bus.

    Kegiatan Ziarah ke Goa Maria merupakan program yang sudah ada sejak berdirinya Sekolah ini, yang mana mendapat persetujuan dari Dinas Pendidikan lewat Program Kerja Kepala Sekolah.

    Bulan Oktober adalah bulan Rosario maka sebagai Sekolah Katolik yang dikelolah oleh Yayasan AMKUR (Amal dan Kurban) SAMBAS selalu memberikan penghormatan khusus kepada Bunda Maria lewat Mukjizat Doa Rosario.

    Baca juga: Pelantikan Prodiakon Gereja Paroki Keluarga Kudus Kota Baru

    Sebelum kegiatan ziarah ke Goa Maria, dewan guru dan para siswa dan siswi SDSK Marie Joseph mengadakan Doa Rosario bersama di Aula sekolah di 3 Jumat di bulan Oktober. Dan pada Minggu ke-4 akan dilaksanakan ziarah ke Goa Maria Ratu Toho.

    Anak-anak kelas 5 dan kelas 6 oleh Sr Anastasia Kran S.Ag (Sr Dionesia, KFS) sebagai guru Agama Katolik kelas 5 dan 6 dan bapak Nikodemus Iko S.S sebagai guru Agama Katolik kelas 4 memberi tugas membuat kalung Rosario yang akan dibawa dan diberkati Pastor yang akan memimpin Ekaristi Suci.

    Sekolah Dasar Swasta Katolik Marie Joseph sempat tidak mengadakan Ziarah ke Goa Maria karena Pandemi Covid-19 yang sangat membuat was-was. Puji syukur tahun ini kita dapat melaksanakan ziarah ini karena mempertimbangkan Pandemi Covid-19 yang melandai, walau kita tetap melakukan Protokol Kesehatan yang cukup ketat, dengan memakai masker, dan menjaga imun tubuh.

    Goa Maria Ratu Toho sendiri juga merupakan milik yang dikelolah oleh Suster-suster Kongregasi Fransiskan Sambas “KFS” yang juga mengelolah SDSK Marie Joseph Pontianak.

    Bulan Rosario

    Setelah terbentukkan Panitia Ziarah ke Goa Maria yang terpilih sebagai Ketua Panitia bapak Ardianus Boby S.Pd, Sekretaris bapak Paulus Nandat  S.Pd beserta dewan guru,  rekan-rekan Panitia bergerak cepat mencari Bis, dimana pada saat itu juga banyak bis yang sudah di pesan oleh banyak pihak untuk kegiatan yang sama di Bulan Rosario, ditambah lagi ada kegiatan Asesmen Nasional Berbasis Komputer “ANBK untuk anak-anak kelas 5.

    Walau cukup padat, namun karena berkat Tuhan juga maka Panitia dapat menjalankan tugas dengan baik pada hari pelaksanaan ziarah. Sebelum kegiatanpun panita melaksanakan persiapan termasuk datang langsung ke lokasi untuk melakukan survei.

    Baca juga: Minister Jenderal OFMCap Kunjungi Universitas Widya Dharma Pontianak

    Anak-anak sangat antusias datang untuk persiapan ke Goa Maria, persiapan itu dimulai mereka hadir di halaman Gereja Paroki Maria Ratu Pencinta Damai (MRPD) Pancasila pada pukul 05.00 WIB. Orang tua juga sudah menyiapkan bekal perjalanan dari obat, pakaian ganti dan kebutuhan lainnya.

    Para Panitia yang terdiri dewan guru SDSK Marie Joseph Pontianak mengarahkan anak-anak untuk masuk kedalam bis yang sudah diatur oleh panitia, setelah anak-anak masuk, maka ketua rombongan bis mengabsen anak-anaknya, setelah itu berdoa sebelum perjalanan.

    Berangkat ziarah

    Pukul 05.30 WIB semua bis mulai berangkat menuju ke Goa Maria Ratu Toho. Semua siswa-siswi SDSK Marie Joseph wajib masuk ke dalam bis yang telah ditentukan beserta beberapa dewan guru. Orang tua yang mau ikut dipersilahkan untuk ikut namun tidak masuk ke dalam bis, melainkan memakai kendaraan pribadi atau menyewa kendaraan.

    Sepanjang perjalanan ke tempat Perziarahan di Toho, setiap bis ada yang bersenda gurau, ada yang bernyanyi dan ada juga yang tertidur. Di Pinyuh rombongan bis melewati parade Sumpah Pemuda dari sekolah yang berada di sekitar Pinyuh.

    Sekitar Pukul 08.30 WIB rombongan sampai di Toho dan kembali mengabsen anak-anak sesuai bisnya, dan diarahkan untuk tempat-tempat yang ada yakni pendopo-pendopo yang memang banyak di lokasi tempat ziarah untuk melaksanakan makan bersama. Setelah makan bersama, maka dilanjutkan naik ke bukit dimana akan diadakan Perayaan Ekaristi bersama yang dipimpin oleh Pastor Elenterius SVD.

    Pada saat itu juga bangsa Indonesia memperingati Sumpah Pemuda, dimana bangsa Indonesia lahir dari berbagai suku bangsa dan mau menyatukan diri dalam NKRI. Jadi dalam Kotbah pastor kita menekankan Persatuan dan selalu harus menjadi GOOD HABIT, harus menjadi pribadi yang baik secara pribadi.

    Sebelum berakhir misa Pastor Elenterius SVD memberkati kalung-kalung Rosario yang sudah dibuat oleh anak-anak di sekolah, diakhir Misa tak lupa para dewan guru, siswa dan siswi berphoto bersama pastor beserta para suster.

    Keseruan dalam permainan

    Setelah selesai Misa, maka rombongan kembali turun dan sekitar Pkl 11.00-12.00wib diadakan makan bersama kembali dan pkl 12.15-15.00wib dilaksanakan lomba. Lomba yang diadakan adalah lomba membaca puisi dan lomba berpidato yang diikuti perwakilan setiap kelas. Disela-sela lomba juga yang menampilkan dance oleh anak-anak kelas 5. Ada juga lomba ketelitian yang dibawakan oleh Vitha Ama Matuate M.Hum, Trivena Melina S.Pd, dan Lia Dubemarsetu S.Pd.

    Di lomba yang dibawakan Vitha Ama Matuate, M.Hum yang diberi nama “Benar”,”Salah”. Di dalam permainan ini jika Vitha mengatakan benar maka kami yang sudah dibuat kelompok harus melompat ke depan dan jika Vitha mengatakan salah maka sebaliknya setiap kelompok harus melompat ke belakang.

    Baca juga: Dari Emrio Hingga Regio, Sejarah OFS Kalimantan Santa Elisabet dari Hungaria

    Permainan ini bukan hanya diikuti para siswa dan siswi namun juga para guru, para suster juga Pastor Elenterius,SVD. Menurut anak-anak permainan ini sangat seru dan menegangkan, dikarenakan pengucapan benar dan salah sering diulang-ulang dan dicapkan secara acak. Pada akhirnya hanya ada 1 kelompok yang menang.

    Untuk lomba membaca puisi setelah penilaian dewan juri Christawuri Priskila Haryanto, S.S dan Hongky Hadianto maka terpilihlah pemenang lomba yakni juara 1 dimenangkan oleh Keisha kelas 6B, juara 2 dimenangkan Malaika kelas 4B, dan juara 3 dimenangkan oleh Jovanka kelas 6A.

    Untuk lomba membaca pidato setelah penilaian dewan juri ibu Seselia, S.Pd dan miss Agnes Suleda, S.Pd maka terpilihlah pemenang lomba yakni juara 1 dimenangkan oleh Bintang kelas 6B, juara 2 dimenangkan Albertus kelas 5C, dan juara 3 dimenangkan oleh Deosan kelas 4B.

    Sekitar puku 15.15 wib setelah menerima pengarahan dari Kepala Sekolah Swasta Katolik Marie Joseph Pontianak Suster Apu Mariana S.Pd (Sr. Ana,KFS), semua masuk kembali ke bus yang sudah ditentukan dan dilakukan absen kembali dan diadakan doa untuk keselamatan perjalanan pulang ke Pontianak.

    Selama perjalan pulang kembali banyak anak-anak yang bernyanyi, tertidur karena mengantuk dan lelah. Setelah perjalan pulang yang cukup jauh, sampai juga rombongan bis di halaman Gereja Paroki Maria Ratu Pencinta Damai (MRPD) Pancasila pukul 18.00 WIB. Setelah sampai, anak-anak turun dari bis dan diantar pulang oleh orang tua mereka masing-masing. Akhir kata Sayonara diacara Ziarah tahun depan. Pace e Bene.

    *Cerita diambil dari kumpulan cerita anak-anak kelas 4 sampai kelas 6 SDSK Marie Joseph Pontianak.

    Pelantikan Prodiakon Gereja Paroki Keluarga Kudus Kota Baru

    Pelantikan Prodiakon Gereja Paroki Keluarga Kudus Kota Baru- Foto: Dominique

    MajalahDUTA.Com, Pontianak- Minggu 30 Oktober 2022 adalah hari spesial bagi Gereja Paroki Keluarga Kudus Kota Baru dimana Ekaristi dipersembahkan oleh Pastor William Chang OFMCap yang sekaligus melantik para calon Prodiakon baru dan Prodiakon lama, sebanyak 52 Prodiakon.

    Awalnya pelantikkan Prodiakon akan dilakukan oleh Bapa Uskup Agung Pontianak Mgr. Agustinus Agus, namun karena ada kegiatan lain yang cukup penting dan sudah terjadwal maka diwakilkan oleh Vikjen Pastor William Chang OFMCap.

    Pembinaan Prodiakon dilaksanakan 10 kali pertemuan dan dimulai Minggu, 31 Juli 2022 di Gedung Sekretaris Paroki, selama pembinaan dari bulan Juli sampai pertengahan bulan Oktober ada beberapa pastor yang memberikan materi yakni Pastor Yulianus Astanto Adi CM, Pastor Santo Andeas CM, Pastor Lukas Ahon CP,  Pastor Paulus Toni Tantiono OFMCap dan Pastor Yoanes Maria Puji Nur Cahyo CM.

    Baca juga: Peresmian dan Pemberkatan Gereja Stasi Tertua: Paroki Santo Fidelis Sungai Ambawang

    Puncak Pembinaan untuk para Prodiakon itu ditutup dengan Rekoleksi bersama selama dua hari yang berlokasi di Rumah Retret RRC (Contatine).

    Sebelum pelaksanaan rekoleksi Flavianus Fexa dan Fransiskus Sarno sebagai Koordinator Prodiakon mencoba menjaring calon-calon Prodiakon di lingkungan-lingkungan Kring, kemudian terjaring dan terleksi cukup banyak calon Prodiakon selama proses penyaringan itu.

    Penjaringan Prodiakon dilakukan dikarenakan banyak Prodiakon lama yang sakit dan meninggal dunia ada juga karena masa bakti yang memang sudah berakhir.

    Harus diakui bahwa peran diakon sangat dibutuhkan dalam pelayanan umat dari rumah ke rumah, dilain sisi kehadiran prodiakon adalah representasi dari pelayanan imam yang ada di paroki setempat.

    Kisah Pilu Korban Gangguan Ginjal Kronis Bertahan Hidup Sendirian, Tanpa Kehadiran Negara

    Kisah Pilu Korban Gangguan Ginjal Kronis Bertahan Hidup Sendirian, Tanpa Kehadiran Negara

    MajalahDUTA.Com, Jakarta- Masih seputar masalah kasus Gangguan Gagal Ginjal, yang memakan korban tiga ratusan lebih jiwa anak bangsa meninggal dunia sia-sia, dan juga masih ada ratusan jiwa lainnya masih harus berjuang mempertahankan hidupnya, salah satu diantaranya adalah Tiara himatul Nisa umur 18 tahun, yang sejak usia 7 tahun sudah mengalami sakit gangguan ginjal akut, meskipun tubuhnya lemah di gerogoti penyakit gangguan gagal ginjal akut, dia tetap berkarya, Tiara bersama Ibunya yang semula tinggal di Jawa dan ia tinggal bersama ibunya di sebuah rumah kontrakan di wilayah Cempaka Putih, Jakarta Pusat, selama 8 tahun Tiara bersama ibunya berjuang tanpa bantuan dari manapun, sedangkan BPJS yang mereka miliki hanya mengcover biaya perawatan di RSCM.

    Adapun biaya untuk obat-obatan maupun tabung oksigen yang diperlukan tiara, sebanyak 6 tabung oksigen per hari, selama 4 tahun, tidak tercover oleh BPJS, dan bahkan yang memprihatinkan hingga saat ini, tidak ada bantuan dari Pemprov Jawa Timur maupun saat mereka sudah hijrah ke Jakarta, untuk melakukan transplasi ginjal, tak ada bantuan sedikitpun dari pemerintah Provinsi Jawa Timur maupun dari Kemenkes, demikian disampaikan Bu IIn ibunda Tiara saat menuturkan kepada insan pers, Minggu, 27/11/2022 di Jakarta, seperti di kutip dari media sosial Titktok.

    Baca juga: Komisi I DPR RI Didesak Inisiasi Hak Angket Dugaan Korupsi Pengadaan Tower BTS

    Nasib serupa juga dialami farius bocah kecil berusia 5 tahun hidupnya tergantung pada terapi cuci darah yang harus dilakukannya seminggu dua kali juga tidak ada uluran tangan dari pemerintah, dan juga dialami oleh putri Pak Hendra warga Johar Baru, Jakarta Pusat, yang kini berusia 5 tahun, pada usia 1,5 tahun, dia mengalami gangguan gagal ginjal kronis, yang sampai hari ini agar dapat bertahan hidup, pak Hendra harus berjuang sendirian, tanpa bantuan dari manapun, termasuk tidak mendapatkan bantuan dari pemerintah, hal ini diungkapkan Rudy Darmawanto,SH Ketua Umum Poros Rawamangun, saat berkunjung langsung ke rumah kediaman pak Hendra, di Kawasan Gang Baronang, Johar Baru, Jakarta Pusat, Minggu, 27/11/2022.

    “Itulah Realitas yang kami temukan, kondisi yang memilukan di alami oleh para korban gangguan ginjal kronis, yang harus berjuang sendirian agar bisa terhindar dari kematian, “tukas Rudy.

    Kondisi tersebut sangat miris, lanjut Rudy, ketika keluarga dari korban itu harus juga menanggung beban untuk memenuhi kebutuhan pengobatan maupun perawatan yang nilai nominalnya semakin membengkak, persoalannya sekarang sampai kapan mereka harus bertahan dengan kondisi penghasilan mereka yang berada di bawah garis kemiskinan, tanpa bantuan dari siapapun, termasuk dari pemerintah, ini suatu realitas yang sangat ironis dan kontradiksi dengan konstitusi Negara tercantum di UUD 1945, yang wajib hukumnya, negara dalam hal ini adalah pemerintah yang seharusnya melindungi dan mengayomi warga negaranya.

    “Mana Tanggungjawab negara, sudahlah nggak usah gembar-gembor mau bantu ini itu, tapi kalau nyatanya Korban Gangguan Ginjal Kronis Bertahan Hidup sendirian, Tanpa Kehadiran Negara, tanpa bantuan pembiayaan dari pemerintah, ini sangat ironis di negara yang berdasarkan Pancasila dan UUD 1945.”Pungkas Rudy.

    Peresmian dan Pemberkatan Gereja Stasi Tertua: Paroki Santo Fidelis Sungai Ambawang

    Penampakan Gereja Stasi Santa Maria Tak Bernoda Retok Acin Melalui Drone - (Dokumen KOMSOS KAP)

    MajalahDUTA.Com, Kubu Raya- Jaraknya kurang lebih 30 kilometer dari pusat Kota Pontianak pada 25 November 2022 telah dilaksanakannya peresmian Gereja Katolik Santa Maria Tak Bernoda Stasi Retok Acin Paroki Ambawang. Perjalanan ditempuh kurang lebih satu jam untuk jalur darat dan lanjut dengan jalur air ada satu setengah jam.

    Tarian budaya yang ‘di-lenggak-lenggokan’ oleh bocah cilik setempat, turut memeriahkan penyambutan kedatangan Uskup Agung Pontianak,  Mgr. Agustinus Agus dari pangkalan (dermaga) menuju halaman gereja. Penyambutan itu dimulai dengan pemotongan bambu dan pengalungan selendang khas Dayak kepada Uskup Agustinus.

    Dalam sambutan Kepala Desa Retok, Sahidin mengungkapkan bahwa keberadaan gereja itu diharapkan mampu menambah iman dan jumlah umat setempat.

    “Semoga dengan adanya Gereja yang baru ini, umat dapat bertambah banyak, dan semakin bersemangat untuk beribadah, “ kata Sahidin.

    Penyambutan Uskup Agustinus oleh sejumlah Penarik Budaya Cilik di Retok Acin- (Dokumen KOMSOSKAP)

    Selanjutnya acara meriah itu dilangsungkan lagi dengan prosesi pemotongan pita yang dimulai dari pintu Gereja oleh Kepala Desa didampingi Uskup Agustinus sebagai simbol diresmikannya gedung Gereja Katolik Santa Maria Tak Bernoda Stasi Retok Acin.

    Setelahnya dilanjutkan pemberkatan gedung Gereja oleh Uskup Agustinus dengan memerciki seluruh sudut gereja.

    Uskup Agustinus menegaskan adanya wajah gereja yang baru itu, ia menggarisbawahi agar umat sepatutnya semakin semangat dan lebih kompak dalam kehidupan menggereja.

    Baca juga: Tahta Suci: Penyesalan atas Upacara Pelantikan Uskup di Cina

    “Sekali lagi selamat khususnya untuk umat Stasi Retok Acin, karena kita bersyukur dengan adanya wajah baru gereja ini, keluh kesah umat selama ini  dapat terpenuhi. Jadi jangan hanya bisa ngaku Katolik kalau tidak ke Gereja” pungkas Uskup Agustinus.

    Kilas Sejarah Stasi Retok Acin

    Pada mulanya, Gereja Katolik Stasi Retok Acin ini merupakan salah satu karya pelayanan dari para misionaris Ordo Kapusin yang kemudian diserahkan kepada Kongregasi Pasionis (CP) untuk menangani Paroki Santo Fidelis Sungai Ambawang.

    Gereja yang sebelumnya telah berdiri kurang lebih 70 tahun itu, kini dibaharui lagi dikarenakan bangunan yang sudah tidak layak pakai. Progres pembangunan gereja yang memiliki lebar 12 meter dan panjang 20 meter tersebut dimulai tahap demi tahap sejak 2018 dan setelah duta tahun kemudian baru bisa digunakan.

    Baca juga: Minister Jenderal OFMCap Kunjungi Universitas Widya Dharma Pontianak

    “Memang sudah ada rencana untuk merenovasi gereja yang lama, tapi setelah kami lihat lagi dan dengan dorongan dari Pastor Paroki, kami memutuskan untuk membangun ulang gereja dengan yang baru karena sudah tidak layak lagi” ucap Antonius ketua umat Stasi Retok Acin.

    Antonius menceritakan bahwa gereja yang kini memiliki jumlah umat aktif ada sebanyak 150 KK, dan Gereja stasi Retok Acin itu merupakan gereja tertua yang ada di Paroki Santo Fidelis Ambawang. Ia juga berterima kasih kepada seluruh pihak yang sudah membantu dalam proses penyelesaian Gereja Stasi Retok Acin itu terutama keterlibatan umat dan donatur yang baik hati.

    Usai kegiatan peresmian, acara dilanjutkan kegitan ramah tamah dan umat stasi Retok Acin  memberikan kejutan atas ulang tahun umur yang ke 73 kepada Bapa Uskup Agustinus dengan peniupan lilin ulang tahun.

     

    Penyadaran Diri

    MajalahDUTA.Com, Renungan- Tetapi jawab perwira itu kepada-Nya: “Tuan, aku tidak layak menerima Tuan di dalam rumahku, katakan saja sepatah kata, maka hambaku itu akan sembuh (Mat 8:8).

    Penyadaran diri bahwa diri tidak pantas dihadapan Tuhan sungguh lah wajar, namun penyadaran diri dan percaya penuh akan sabda kasih-Nya maka setiap permohonan diri penuh iman akan mendapatkan berkat dari Tuhan, dan karunia keselamatan dan kesembuhan.

    Tuhan memberkati.

    PIM Apresiasi President University

    Ketua Umum Perempuan Indonesia Maju (PIM) Lana T Koentjoro- MajalahDUTA.Com

    MajalahDUTA.Com, Nusantara- Perempuan Indonesia Maju (PIM) menyanpaikan apresiasi kepada President University yang telah menjalin kerja sama untuk menyediakan 400 bea siswa S1 di 10 kota.

    Hal tersebut disampaikan Ketua Umum PIM Lana T Koentjoro.

    Menurutnya, kerja sama PIM dengan President University untuk meningkatkan kualitas SDM Indonesia.

    Ia berharap setelah 10 kota, maka kerja sama ini bisa diteruskan ke berbagai daerah lain di Tanah Air.

    “President University adalah kampus yang bagus sehingga menghasilkan mahasiswa yang kualitas pendidikannya memang bagus,” ujarnya.

    Lana menjelaskan, kualitas pendidikan di President University diakui secara nasional dan internasional.

    Baca juga: Minister Jenderal OFMCap Kunjungi Universitas Widya Dharma Pontianak

    Seperti diketahui, President University dan Perempuan Indonesia Maju (PIM) sepakat bekerja sama menyediakan 400 beasiswa S1 untuk pelajar SMA dengan nilai akademik tertinggi.

    Adapun beasiswa yang akan disebar di 10 daerah Indonesia ini merupakan komitmen PIM dan President University untuk mewujudkan SDM Unggul – Indonesia Emas.

    MoU kerja sama ini dilakukan antara Ketua Umum PIM Lana T Koentjoro dan Wijaya .Kurnia, Direktur Office of Admission President University disaksikan oleh Wantimpres Sidarto Danusubroto dan Femmy Eka Kartika Putri, Deputi IV Bidang Koordinasi Peningkatan Kualitas Anak, Perempuan dan Pemuda Kemenko PMK di Jakarta, Selasa (15/11/2022).

    Pada kesempatan itu, Wantimpres Sidarto berpesan agar pemberian beasiswa, selain bisa mencetak generasi muda yang unggul dalam bidang akademik juga menjadi generasi yang nasionalis dan berkarakter.

    Sementara Femmy Kartika mengharapkan agar penjaringan beasiswa juga bisa mengakomodir pelajar yang berprestasi tapi kemampuan bahasa Inggrisnya kurang.

    10 kota yang dipilih untuk mengadakan tes penerimaan beasiswa adalah Banda Aceh, Medan, Padang, Palembang, Bandar Lampung, Pontianak, Samarinda, Manado, Makassar dan NTB.

    President University adalah kampus dengan Akreditasi A, mahasiswa kuliah 3 tahun, pengajaran full Bahasa Inggris, termasuk magang kerja 1 tahun, di pilihan 2000 perusahaan industri dari 30 negara, di Kawasan Industri Jababeka, salah satu kawasan Industri terbesar di Asia Tenggara.

    Minister Jenderal OFMCap Kunjungi Universitas Widya Dharma Pontianak

    Kunjungan Minister General hari ini di Universitas Widya Dharma Pontianak.- Sumber Foto: Pastor Pionius OFMCap

    MajalahDUTA.Com, Pontianak-“Salah satu tugas utama seorang Minister Jenderal OFMCap adalah mengunjungi dan melihat di mana para Kapusin hidup dan bekerja demi kepentingan kemanusiaan. Sekarang saya sendiri melihat bagaimana hidup dan kerja para Kapusin di daerah ini. Mereka sungguh bekerja untuk meningkatkan kehidupan manusia di daerah ini antara lain lewat dunia pendidikan.

    Tentu, karya pastoral dalam dunia pendidikan ini memerlukan tenaga dan ketrampilan khusus untuk mencerdaskan kehidupan masyarakat.”, kata Minister Jenderal OFMCap, Dr. Roberto Genuin, yang mengunjungi Universitas Widya Dharma Pontianak (26/11/2022) di hadapan Pengurus Yayasan, dosen, dan mahasiswa/i Universitas Widya Dharma Pontianak (UWDP), Jl. Cokroaminoto Pontianak.

    Baca juga: Nunsius Mgr. Piero Pioppo Akan Kembali Berkati Gedung Keuskupan dan Kapel Kampus Katolik USA Ngabang 2023

    Ungkapan Minister Jenderal OFMCap setelah mendengarkan sejarah kelahiran dan perjalanan UWDP yang memasuki usia 39 tahun. Universitas ini bermula usaha beberapa awam Katolik di Pontianak dalam menanggapi seruan profetis dalam Temu Pastores II Keuskupan Agung Pontianak tahun 1983 tentang pentingnya sebuah Sekolah Tinggi yang bisa menolong tamatan SMA untuk meneruskan pendidikan mereka lewat perguruan tinggi yang bermutu dan sesuai dengan tuntutan zaman.

    Tak heran, dalam keadaan serba kekurangan, para perintis berusaha untuk menggerakkan roda pendidikan Perguruan Tinggi Widya Dharma Pontianak dengan melibatkan semua pihak yang peduli dalam dunia pendidikan formal.

    Pada awal tidak sedikit tantangan yang harus dihadapi baik dalam bidang personel atau fasilitas. Namun, seiring dengan perjalanan waktu, Perguruan Tinggi Widya dapat menghadapi dan mengatasi keadaan dengan baik.

    Jumlah mahasiswa terus meningkat karena perguruan ini mampu menanggapi dan memenuhi tuntutan kepentingan masyarakat. Harus diakui, kepercayaan masyarakat terhadap perguruan ini kian terasa dalam kurun waktu lima tahun terakhir. Mahasiswa dengan latar belakang berbeda datang dari pelbagai daerah di Kalbar mencari UWDP yang menyajikan bekal hidup di masa depan berupa ilmu pengetahuan dan ketrampilan praktis sehingga mereka sanggup terjun dalam dunia kerja.

    Yang menarik adalah UWDP dengan staf pengajar profesional berusaha membaca dan menanggapi tanda-tanda zaman lewat dunia pendidikan formal. Universitas ini telah dan sedang mempersiapkan tenaga-tenaga profesional sesuai dengan keahlian yang diperlukan sehingga setamat UWDP alumni dan alumnae UWDP siap terjun ke lapangan dan memenuhi tuntutan kepentingan dunia usaha dan perbankan.

    Baca juga: Peresmian Gedung Baru UWDP: Tonggak Penting Sejarah Perguruan Tinggi Widya Dharma

    Kunjungan Minister Jenderal OFMCap yang berlangsung sekitar satu setengah jam mendorong UWDP untuk terus berkembang dalam dunia pendidikan lewat penelitian-penelitian ilmiah yang dibutuhkan.

    Suasana persaudaraan di kalangan kampus dihangatkan. Mutu kerja sama terus ditingkatkan. Setelah menyampaikan pesannya, Minister Jenderal OFMCap mengunjungi kampus baru UWDP yang dirancang sesuai dengan kenutuhan dan tuntutan dunia akademik dewasa ini.

    Setelah pertemuan pada Lantai ke-10 rombongan Minister Jenderal, Definitor Jenderal, Provinsial, staf Yayasan dan dosen menuju ruang-ruang pertemuan dan kuliah UWDP. Lagu-lagu daerah yang dikemas dengan alat musik sape membuat hadirin dalam kunjungan ini sangat terkesan.

    Dunia Membutuhkan Orang yang Dikuduskan Sebagai Seniman Perdamaian

    Pope Francis addresses partecipants in the Assembly of the Union of Superiors General (Vatican Media)

    MajalahDUTA.Com, Vatikan- Paus Fransiskus berbicara kepada Persatuan Pemimpin Umum pada akhir Majelisnya dengan refleksi tentang apa artinya menjadi pembawa damai dan pentingnya memupuk sinodalitas.

    Menjadi pembawa damai adalah panggilan yang sangat inti dan pokok dalam dunia yang terfragmentasi oleh perang dan perpecahan. Paus Fransiskus menegaskan bahwa Ini adalah tanggung jawab masing-masing dan setiap orang.

    Hal itu Paus sampaikan kepada para religius yang berkumpul di Vatikan pada Sabtu pagi 26 November 2022, dan kembali menunjukkan terutama menyangkut orang-orang yang dikuduskan untuk membawa damai.

    Paus mencatat dalam tema Majelis Persatuan Pemimpin Umum (USG) yang baru saja berakhir adalah “Dipanggil untuk menjadi seniman perdamaian” dan refleksi itu didasarkan pada ensiklik Fratelli tutti, Paus berbicara tentang perdamaian yang Yesus berikan dan apa perbedaannya dengan kedamaian yang diberikan dunia.

    Baca juga: Uskup Agustinus Kukuhkan Dewan Pastoral Paroki Pemangkat

    Saat ini, ketika kita mendengar kata “damai”, yang terutama kita pikirkan adalah situasi tanpa perang atau akhir perang, keadaan tenang dan sejahtera.

    Ini, katanya, “tidak sepenuhnya sesuai dengan arti kata Ibrani shalom, yang, dalam konteks alkitabiah, memiliki arti yang lebih kaya.”

    Ke-damai-an Yesus

    Paus menjelaskan bahwa kedamaian Yesus adalah “pertama-tama pemberian-Nya, buah dari kasih, itu tidak pernah merupakan penaklukan manusia.”

    Itu adalah bagian dari “keseluruhan hubungan yang harmonis dengan Tuhan, dengan diri sendiri, dengan orang lain dan dengan ciptaan. Perdamaian juga merupakan pengalaman belas kasih, pengampunan, dan kebajikan Tuhan, yang membuat kita mampu pada gilirannya menunjukkan belas kasihan, pengampunan, menolak segala bentuk kekerasan dan penindasan,’ ujar Paus.

    Karena itu, lanjutnya, damai sejahtera Tuhan sebagai anugerah tidak terlepas dari menjadi pembangun dan saksi perdamaian. Itu didasarkan pada pengakuan akan martabat pribadi manusia dan membutuhkan tatanan yang di dalamnya keadilan, belas kasih dan kebenaran berkontribusi secara tak terpisahkan.

    Sebuah proses yang berlangsung dari waktu ke waktu

    Mendorong kaum religius untuk menjadi ahli kerajinan perdamaian – “keahlian yang harus dipraktikkan dengan semangat, kesabaran, pengalaman, keuletan, karena itu adalah proses yang berlangsung dari waktu ke waktu” – Paus mengatakan itu bukan produk industri yang dicapai mekanis, tetapi membutuhkan campur tangan manusia yang terampil.

    Baca juga: Tahta Suci: Penyesalan atas Upacara Pelantikan Uskup di Cina

    “[Perdamaian] tidak dibangun secara seri, dengan perkembangan teknologi saja, tetapi membutuhkan pembangunan manusia. Inilah mengapa proses perdamaian tidak dapat didelegasikan kepada diplomat atau militer: perdamaian adalah tanggung jawab setiap orang.”

    Beliau mengimbau mereka yang hadir untuk berkomitmen menabur perdamaian dengan tindakan sehari-hari, dengan sikap dan sikap pelayanan, persaudaraan, dialog, dan belas kasih, serta mengingatkan mereka untuk tak henti-hentinya memohon karunia perdamaian dalam doa-doa mereka.

    Dia memberi tahu mereka untuk memulai di komunitas mereka sendiri, “membangun jembatan dan bukan tembok di dalam komunitas dan di luarnya.”

    “Dunia juga membutuhkan kita orang-orang yang dikuduskan sebagai seniman perdamaian!”

    Sinodalitas (berjalan bersama)

    Bapa Suci melanjutkan dengan mengatakan bahwa refleksi tentang perdamaian ini mengarah pada pertimbangan aspek karakteristik lain dari hidup bakti: “sinodalitas, proses di mana kita semua dipanggil untuk masuk sebagai anggota umat Allah yang kudus.”

    Para hidup bakti, lanjut Paus, secara khusus dipanggil untuk berpartisipasi di dalamnya, “karena hidup bakti pada hakekatnya adalah sinodal,” mencatat bahwa strukturnya sendiri (bab, kunjungan persaudaraan dan kanonik, majelis, komisi, dan lain-lain yang sesuai untuk individu). lembaga) dapat mendorong sinodalitas.

    Layanan otoritas

    Berterima kasih kepada mereka yang memberikan kontribusi mereka dalam perjalanan ini, Paus menyarankan bahwa mungkin perlu untuk meninjau kembali cara pelaksanaan “pelayanan otoritas”, dan dia memperingatkan terhadap bentuk-bentuk otoriter dan kadang-kadang despotik “dengan penyalahgunaan hati nurani atau pelecehan spiritual itu. juga menjadi lahan subur bagi pelecehan seksual, karena orang dan hak-haknya tidak lagi dihormati.”

    Dia berbicara tentang risiko bahwa otoritas dapat dijalankan sebagai hak istimewa, “bagi mereka yang memegangnya atau bagi mereka yang mendukungnya,” dan mengatakan ini dapat mendorong semacam anarki, “yang sangat merusak komunitas.”

    Baca juga: Perayaan HUT PGRI Ke-77 Yayasan Pendidikan Gembala Baik Pontianak: Tulang Punggung Untuk Mencerdaskan Kehidupan Bangsa Adalah Guru

    Layanan otoritas, katanya, harus dilakukan dalam gaya sinode, “menghormati hukum yang tepat dan mediasi yang disediakannya, untuk menghindari otoritarianisme dan hak istimewa,” dengan demikian “mendukung iklim mendengarkan, menghormati orang lain, dialog, partisipasi. dan berbagi.”

    Para hidup bakti, dengan kesaksian mereka, dapat membawa banyak hal bagi Gereja dalam proses sinodalitas yang sedang kita alami ini. Asalkan Anda yang pertama menjalaninya: berjalan bersama, mendengarkan satu sama lain, menghargai keragaman hadiah, menjadi komunitas yang ramah.

    Akhirnya, Paus Fransiskus menjunjung proses yang memungkinkan pelatihan dan pembaruan generasi dalam kepemimpinan institut dan mengatakan “reorganisasi atau konfigurasi ulang institut harus selalu dilakukan dengan maksud untuk menjaga persekutuan.”

    “Dalam hal ini, penting bagi para Pemimpin untuk berhati-hati agar tidak ada orang yang tidak sibuk, karena ini tidak hanya merugikan rakyat, tetapi juga menimbulkan ketegangan di masyarakat.”

    Tahta Suci: Penyesalan atas Upacara Pelantikan Uskup di Cina

    Cathedral of Beijing (©WaitforLight - stock.adobe.com)

    MajalahDUTA.Com- Dalam sebuah pernyataan pers, Vatikan mencatat dengan “kejutan dan penyesalan” pelantikan Uskup Pembantu Jiangxi, sebuah keuskupan yang saat ini tidak diakui oleh Tahta Suci.

    Kantor Pers Tahta Suci mengeluarkan pernyataan pada hari Sabtu mencatat “keterkejutan dan penyesalan” Tahta Suci setelah menerima berita tentang “upacara pelantikan” yang berlangsung pada 24 November di Nanchang Uskup Giovanni Peng Weizhao dari Yujiang (Provinsi Jiangxi) sebagai Uskup pembantu Jiangxi, keuskupan yang tidak diakui oleh Tahta Suci.

    Baca juga: Uskup Agustinus Kunjungi Calon Imamnya di Seminari Tinggi Interdiosesan San Giovanni XXIII

    Pernyataan tersebut mencatat bahwa peristiwa ini “tidak terjadi sesuai dengan semangat dialog yang terjalin antara pihak Vatikan dan pihak China dan apa yang telah diatur dalam Perjanjian Sementara Pengangkatan Uskup 22 September 2018.”

    Pernyataan pers juga mencatat bahwa menurut laporan yang diterima, “pengakuan sipil terhadap Uskup Peng yang didahului… oleh tekanan yang berkepanjangan dan intens dari Otoritas setempat.”

    Dalam menunggu “komunikasi yang tepat tentang masalah ini dari Otoritas,” pernyataan itu diakhiri dengan mengungkapkan harapan Tahta Suci bahwa “episode serupa tidak akan terulang” dan “menegaskan kembali kesediaannya untuk melanjutkan dialog penuh hormat mengenai semua masalah kepentingan bersama. .”

    Baca juga: Uskup Agustinus Harap Kafe Ulin Paroki Stella Maris Siantan Jadi Wadah Kebinekaan

    Perjanjian Sementara awalnya telah ditandatangani oleh perwakilan dari Tahta Suci dan Republik Rakyat Tiongkok pada tanggal 22 September 2018. Perjanjian tersebut memberikan periode dua tahun penerapan ad experimentum.

    Pada Oktober 2020, masa berlaku perjanjian diperpanjang dua tahun lagi, dan lagi pada 22 Oktober 2022 diperpanjang dua tahun lagi.

    Uskup Agustinus Kunjungi Calon Imamnya di Seminari Tinggi Interdiosesan San Giovanni XXIII

    Sumber: Foto pribadi, Kunjungan Mgr. Agustinus Agus, Uskup Keuskupan Agung Pontianak (KAP) di Seminari Tinggi Interdiosesan “Giovanni XXIII” (STIG), tanggal, 11 Oktober 2022

    MajalahDUTA.Com, Malang- Kunjungan Mgr. Agustinus Agus di Seminari Tinggi Interdiosesan “Giovanni xxiii” pada tanggal, 11 Oktober 2022, memberikan kegembiraan tersendiri bagi para Ftater Keuskupan Agung Pontianak yang berada di Seminari Tinggi Interdiosesan San Giovanni XXIII – Malang, Jawa Timur (STIG).

    Para Frater yang berada di STIG saat ini berjumlah 23 Frater yang terdiri dari 21 Frater S1 dan 2 Frater S2.

    Adapun para Frater Keuskupan Agung Pontianak (KAP) yang saat ini berada di STIG dan sedang menempuh pendidikan S1 dan S2 di STFT Widya Sasana Malang, mendapat kunjungan dari Mgr. Agustinus Agus selaku Uskup Keuskupan Agung Pontianak.

    Kedatangan Mgr. Agustinus Agus selain berjumpa dengan para Frater, ia juga memimpin misa pada puncak perayaan LUSTRUM 9 STIG yang diselenggarakan pada tanggal, 11 Oktober 2022.

    Jumpa Frater Keuskupan Agung Pontianak alias  Frater KAP

    Disela-sela kesempatan tersebut, Mgr. Agustinus Agus kemudian berjumpa langsung dengan para Frater KAP di ruang aula biara Susteran Pasionis yang tak jauh dari STIG. Para Frater berkumpul pada pukul 16.00 WIB.

    Adapun pertemuan tersebut diawali oleh yang mulia Mgr. Agustinus Agus yang membahas situasi terkini yang ada di Keuskupan Agung Pontianak. Setelah itu membahas tentang dinamika kehidupan para Frater KAP selama tinggal di STIG dan pendidikan di STFT Widya Sasana.

    Baca juga: Pembentukan Dewan Pastoral Paroki St. Agustinus dari Hippo – Ledo

    Adapun pertemuan tersebut adalah bentuk kasih seorang bapa kepada anak-anaknya, Mgr. Agustinus Agus hadir sebagai seorang bapa yang berkunjung kepada anak-anaknya yaitu para Frater.

    Diketahui bahwa jadwal ini menjadi kunjungan rutin tahunan yang di buat oleh Mgr. Agustinus Agus.

    Selain berdiskusi tentang kehidupan para Frater KAP, Mgr. Agustinus Agus juga berpesan kepada para Frater KAP agar tetap menjaga kekompakan sesama Frater yang ada di STIG. Dengan adanya kunjungan ini, para Frater KAP secara tidak langsung bahwa iman dan kekuatan dalam menjalani hidup panggilan semakin dikuatkan.

    Kehadiran Mgr. Agustinus Agus di STIG membuat para Frater KAP merasa sangat bahagia dan bergembira, karena mereka bisa dikunjungi oleh Uskup Agung Pontianak yang juga merupakan bapa bagi para Frater KAP. Perlu diketahui bahwa para Frater KAP di STIG berasal dari daerah dan paroki yang berbeda-beda.

    Baca juga: Mgr Agustinus Larang Orang Muda Katolik Ikuti Praktik Ilmu Kebal

    Namun, mereka dapat menampilkan kasih persaudaraan yang begitu erat satu sama lainnya. Adapun para Frater KAP memiliki jumlah yang paling banyak di STIG, hal ini yang membuat Mgr. Agustinus Agus merasa bahagia dan bangga, tetapi ia juga berpesan kepada para Frater KAP untuk menampilkan kasih persaudaraan yang sejati sesama Frater KAP maupun kepada para Frater yang lainnya.

    Selama pertemuan bersama Mgr. Agustinus Agus para Frater KAP begitu antusias mendengarkan informasi tentang Keuskupan Agung Pontianak.

    Perlu diketahui bahwa Kauskupan Agung Pontianak juga mengirim para Frater yang sudah pastoral atau yang sudah selesai S1untuk melanjutkan pendidikan S2 di STFT Widya Sasana, selain itu para Frater S2 ini juga diharapkan menjadi pembimbing bagi para Frater S1 terutama tentang masalah hidup panggilan.

    Beri bingkisan

    Adapun pertemuan tersebut berakhir jam 18.00 WIB, setelah itu Mgr. Agustinus Agus berpamitan kembali ke Surabaya dan akan terbang ke Pontianak. Mgr. Agustinus Agus berpesan agar para Frater KAP mempu menyelesaikan pendidikannya secara tepat waktu tanpa harus ada yang menunda lagi.

    Setelah itu Mgr. Agustinus Agus memberikan bingkisan berupa amplop putih dan dibagikan bersama dengan para Postulat Stella Maris dan para Frater Tahun Rohani (TOR).

    Harapannya, semoga dengan adanya kunjungan Mgr. Agustinus Agus ini dapat menambahkan rasa semangat para Frater KAP di STIG dan menjalani panggilan dengan penuh semangat.

    Tali persaudaraan para Frater KAP harus ditampilkan dalam kehidupan sehari-hari dan mempu menjadi saudara bagi sesama Frater Keuskupan lainnya yang juga tinggal bersama di STIG.

    TERBARU

    TERPOPULER