Sunday, January 11, 2026
More

    Memahami Makna Perayaan Pentakosta

    MajalahDUTA.Com,Pontianak – Hari ini Gereja Katolik merayakan Hari Raya Pentakosta, yaitu hari turunnya Roh Kudus atas para Rasul. Apa kiranya makna perayaan ini dalam Gereja Katolik? Mari kita bahas sejarah dan makna perayaan ini untuk iman kita:

    1. Perjanjian Lama

    Dalam tradisi perjanjian lama, perayaan ini dikenal dengan nama “khag syavu’ot” atau Hari Raya Tujuh Minggu (Kel 34:22, Ul 16:9), yaitu 50 hari setelah Paskah Yahudi dirayakanlah Hari Pentakosta. Hari Pentakosta tersebut menandakan selesainya menuai jelai yang dihitung mulai dari sejak pertama kalinya menyabit gandum (Ul 16:9), dan waktu imam mengunjukkan berkas tuaian itu “pada hari sesudah sabat itu” (Ima 23:11).

    Baca Juga: Doa adalah Akar Kehidupan Spiritual Katolik

    Hari Pentakosta disebut juga “khag haqqatsir” / Hari Raya Menuai dan “yon habbikkurim” / Hari Buah Bungaran (Kel 23:16, Bil 28:26). Hari Pentakosta tidak hanya dirayakan pada zaman Pentateukh, bahkan hingga zaman Salomo pun, Hari Pentakosta masih dirayakan (2 Taw 8:13) sebagai hari raya kedua dari ketiga pesta tahunan (bdk Ul 16:16).

    Tiga hari raya besar yang diperingati bangsa Israel adalah: Hari Raya Roti Tidak Beragi (Paskah), Hari Raya Tujuh Minggu (Pentakosta), dan Hari Raya Pondok Daun.

    1. Makna dari Hari Pentakosta dalam Perjanjian Lama
    • Hari Pertemuan Kudus (Ima 23:21)

    Pada hari tersebut tidak boleh dilakukan pekerjaan berat, dan semua laki-laki Israel harus hadir di tempat kudus (Ima 23:21). Pada hari itu dua buah roti bakar, yang dibuat dari tepung halus yang baru dan beragi, diunjukkan oleh imam di hadapan Allah, pada saat imam mempersembahkan korban-korban binatang untuk menghapus dosa dan memperoleh keselamatan (Ima 23:17-20).

    Baca Juga: “Kami Bersyukur, Masih Ada Orang yang Peduli,” ujar Asong

    • Hari Bersukaria (Ul 16:15)

    Pada hari itu orang Israel saleh mengungkapkan rasa terima kasihnya karena berkat tuaian gandum dan sekaligus menyatakan rasa takut dan hormat kepada Yahweh (Yer 5:24).

    1. Perjanjian Baru

    Dalam perjanjian baru, Hari Pentakosta berubah maknanya setelah terjadi peristiwa yang mengherankan, dimana Roh Kudus turun memenuhi para rasul di Yerusalem (Kis 2:1-13). Hari ini juga dimaklumkan sebagai hari lahirnya Gereja. Sesudah kebangkitan dan kenaikan Kristus (sekitar tahun 30M), persis pada hari Pentakosta yang diperingati seperti dalam zaman PL, murid-murid berkumpul di sebuah rumah di Yerusalem, dan Roh Kudus turun atas mereka dengan tanda-tanda yang dapat didengar dan dilihat: “tiupan angin keras” dan “lidah-lidah seperti nyala api” (Kis 2:2-3).

    Selanjutnya, para rasul mulai berkata-kata dalam berbagai bahasa asing dari orang-orang yang juga berkumpul di Yerusalem. Sehingga orang banyak yang sedang berkumpul itu dapat mengerti karena para rasul berbicara dalam bahasa daerah mereka masing-masing tentang perbuatan-perbuatan besar yang dilakukan Allah (Kis 2:5-13).

    Baca Juga: Kepemimpinan yang melayani

    Kedatangan Roh Kudus adalah pemenuhan nubuat Yohanes (Luk 3:15-16) dan janji Yesus Kristus (Luk 24:49). Petrus menyatakannya sebagai penggenapan nubuat Nabi Yoel (Kis 2:16-21) dan suatu bukti dari kebangkitan Kristus sendiri (Kis 2:32-36). Ia mempersatukan orang-orang yang percaya menjadi satu kelompok, memberinya suatu pemersatu yang sebelumnya tidak mereka miliki, dan memberi mereka keberanian untuk menghadapi ancaman dan siksaan (Kis 2:4, 4:8,31, 6:8-15).

    Selanjutnya, peristiwa turunnya Roh Kudus inilah yang diperingati oleh orang-orang Kristen sebagai Hari Pentakosta.

    1. Makna Perayaan untuk Kita:
    • Hidup Menurut Bisikan Roh

    Hidup menurut bisikan Roh berarti hidup dan bertindak sesuai dengan dorongan Roh Kudus, berarti juga menghayati keutamaan-keutamaan Kristiani seperti yang dikatakan Paulus dalam Galatia 5:22-23 “Kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan, kelemahlembutan, penguasaan diri”.

    Baca Juga: Menilik Jejak Sejarah Kongregasi Bruder MTB

    Keutamaan ini hendaknya terlihat dalam kata, sikap tubuh dan perilaku setiap hari, sehingga kita dapat saling memahami satu sama lain walua kita beda suku, bahasa dan agama.

    • Roh Kudus sebagai Pembaharu Hidup Manusia

    Sebagai pembaharu, Roh Kudus akan membuka telinga yang telah tuli, mata yang telah buta, hati yang telah bebal sehingga kita dapat mendengarkan Kristus dengan baik, melihat melihat Kristus dengan lebih terang dan membuka hati kepada Kristus sehingga Ia dapat tinggal berdiam di hati kita.

    • Roh Kudus Memberikan Keberanian Untuk Bersaksi

    Dewasa ini kita membutuhkan Roh Kudus untuk memberikan kita keberanian seorang nabi, supaya bisa memberikan kesaksian yang benar terhadap korupsi, disintegrasi, ras dan suku yang semakin tajam antar golongan. Pada waktu Roh Kudus hadir, mereka dipenuhi oleh Roh Kudus dan bersaksi dengan penuh kuasa.

    Baca Juga: Buah, Keutamaan dan Semangat dalam menyelami Spritualitas Bruder Maria Tak Bernoda (MTB)

    • Roh Kudus Menguatkan untuk Bertahan Dalam Kesulitan

    Allah mengutus Roh-Nya dengan kuasa untuk mempersiapkan suatu umat yang akan mampu hidup ditengah kekacauan dan kesulitan apa pun. Ia menciptakan suatu Pentakosta baru untuk generasi pertama kaum beriman, dan St. Paulus adalah satu orang tersebut yang mendapatkan karunia dari bahasa roh.

    Di samping itu juga, karunia-karunia tersebut sungguh luar biasa. Bahkan pada Pentakosta Kristiani yang pertama itu, adegan para Rasul berbicara dalam bahasa-bahasa asing itu, tampak tidak cocok dengan tradisi setempat. “Mereka semua tercengang-cengang dan sangat termangu-mangu sambil berkata seorang kepada yang lain, ‘Apakah artinya ini?” (Kis 2:13).

    SELAMAT MERAYAKAN HARI RAYA PENTAKOSTA!

    Sumber: amorpost[.]com

    Related Articles

    spot_img
    spot_img

    Latest Articles