MajalahDUTA.Com,Pontianak – Anjongan, – Setiap bulan Mei seluruh umat katolik mendedikasikan untuk menghormati Bunda Maria. Pada bulan yang suci Bulan Maria tahun ini adalah tahun dimana Kalimantan Barat, khususnya Keuskupan Agung Pontianak kembali Lockdown dengan membatasi aktivitas masyarakat Kalimantan Barat.
Berdasarkan surat edaran dari Keuskupan Agung Pontianak selaras dengan keputusan Gubernur Kalimantan Barat No. 280/KESRA/2021, tentang pemberlakuan pembatasan kegiatan masyarakat berbasis mikro ditingkat desa dan kelurahan untuk mengendalikan penyebaran Covid-19 di Provinsi Kalimantan Barat.
Berhubungan dengan hal itu maka Keuskupan Agung Pontianak memutuskan untuk menutup tempat ziarah Gua Maria Anjongan untuk umum di bulan Mei 2021.
Begitu pula Gua Maria Anjongan yang bertempat di Anjongan, Pontianak, Kalimantan Barat juga melakukan penutupan aktivitas di Bulan Maria tahun 2021 kali ini.penutupan dilakukan selaras dengan peraturan pemerintah.
Baca Juga: Pemberkatan Rumah Retret Johanes Paulus II Anjongan: Tempat Bertumbuh dalam Iman
Tepat pada Sabtu, 1 Mei 2021 aktivitas pembersihan Gua Maria menjelang persiapan Minggu pertama dalam Bulan Mei yang umat Katolik dedikasikan untuk menghormati Bunda Maria. Uskup Agung Pontianak Mgr. Agustinus Agus secara pribadi merasa bahwa Maria banyak berperan dalam hidupnya.
Pemberkatan Pembenahan Baru di Sekitar Gua Maria
Maka dari itu, saat ia datang ke Keuskupan Agung Pontianak terutama dalam progres membangun Rumah Retret St. Johanes Paulus II, ia merasa tidak pantas kalau tempat hanya begitu-begitu saja.
Dalam wawancaranya, Mgr. Agustinus Agus mengatakan walaupun dalam situasi Covid-19, dimana orang tak bisa banyak datang. “Tetapi secara pribadi besok saya akan memberkati lokasi yang baru kita bongkar ini. Agar bisa dipakai dengan aman,” katanya, Sabtu (1/05/2021) sore.
Uskup Agung Pontianak menjelaskan, bahwa pemberkatan berarti usaha kerja manusia tanpa arti kalau tidak diserahkan kepada Tuhan.
“Jadi saya melihat tempat ini luar biasa dan yang lebih bagus adalah Perawan Maria yang dihadirkan dalam bentuk patung sangat besar pengaruhnya untuk banyak orang,” ujarnya.
Sore itu juga, Mgr. Agustinus Agus mengaku bahwa keindahan dan potensi yang ia lihat itulah yang mendorongnya untuk memperindah tempat ini. Sebagai manusia ia juga mengakui bahwa tentu kegiatan tidak ada yang sempurna dan sebagai Uskup Agung Pontianak, ia mengerti akan hal itu.
Baca Juga: Pemberkatan Gua Maria Bunda Peziarah Nyarumkop
“Tapi saya mencoba dengan segala kemampuan saya membuat ini lebih menarik, sehingga banyak orang yang datang ziarah ketempat ini, dan banyak orang yang melihat Maria itu berperan sangat besar dalam hidup umat manusia,” katanya.
Memang ini agak tergesa-gesa misalnya beberapa gazebo yang kurang atap, namun itu semua bukanlah masalah. Namun yang paling penting semua Mgr. Agustinus Agus dedikasikan untuk menghormati Bunda Maria, Bunda Tuhan Yesus, Bunda seluruh umat dan Bunda para Imam.
Benahi Gua Maria
Anjongan pada Minggu, 2 Mei 2021 dalam misa pembukaan bulan Maria dipimpin langsung oleh Mgr. Agustinus Agus dan didampingi oleh RD Matius yakni Pastor Rekan dari Paroki Sungai Pinyuh. Misa awal bulan Maria ini sekaligus pengumuman resmi oleh Uskup Agung Pontianak, Mgr. Agustinus Agus terkait pembatasan aktivitas di masa pandemi Covid-19, dan selaras dengan himbauan dari Pemerintah Kalimantan Barat.
Dalam misa terbatas Minggu, 2 Mei 2021 di Gua Maria Ratu Pencinta Damai Anjongan, sebagai Uskup Agung Pontianak ia mengharapkan dengan hadirnya pastor baru yakni RD Indra Lubis, kedepan bisa membenahi Gua Maria dengan wajah baru ini.
Berhubung Gua Maria Ratu Pencinta Damai Anjongan adalah Gua Maria keramat dan yang paling tua di Kalimantan Barat, maka sebagai Uskup Agung Pontianak ia bertanggung jawab atas Gua Maria yang berdiri sejak 1973 silam.
Baca Juga: Uskup Agung Pontianak Mgr Agustinus Agus Ungkapkan Kurangnya Tenaga Imam
Dalam momen misa Minggu pertama pada Bulan Maria yang jatuh pada bulain Mei ini seperti yang Mgr. Agustinus Agus katakan sebelumnya bahwa lokasi Gua Maria Anjongan merupakan lokasi yang sangat indah. Untuk itu memang perlu pembenahan.
Uskup Agung Pontianak, Mgr. Agustinus Agus menjelaskan beberapa pembenahan yang baru antara lain altar, kemudian dibelakang altar ada tujuh tempayan tempat untuk mengambil air.
Filosofi tujuh tempayan itu Mgr. Agus mengambil kisah dari Yesus mengubah air menjadi anggur yakni dalam kisah itu ada tujuh tempayan. “Air yang mengalir dari tempayan mengalir langsung dari pegunungan dan dapat langsung diminum,” kata Mgr Agus Minggu (2/05/2021) Pagi.
Kemudian Mgr. Agustinus Agus juga menjelaskan beberapa pembenahan lainnya antara lain, rumah untuk ruang ganti atau nginap bagi para imam yang akan memimpin misa di Gua Maria.
Baca Juga: Uskup Agung Pontianak Mgr Agustinus Agus Ungkapkan Gereja Harus Berjalan Bersama Pemerintah
Di rumah itu terdapat dua kamar, satu Kamar untuk tidur, bisa 4 tempat tidur, muat disana. Pada kamar yang satu untuk Sakristi (sebuah ruang untuk menyimpan vestimentum (pakaian), seperti alba, stola, kasula dan perabot yang mau digunakan misa).
Uskup Agung Pontianak berharap, siapapun yang datang ke Gua Maria Anjongan baik pastor tamu maupun imam keuskupan, bisa langsung menggunakan alat yang disediakan. Sehingga jika orang datang ke Gua Maria tanpa membawa apapun, siap untuk misa.
Kemudian pengelolaan kompleks itu dimulai dari pembentukan panitia dalam setiap Bulan Maria.
“Saya sudah bicara dengan Pastor Indra Lubis, supaya setiap Bulan Maria hendaknya dibentuk pantia ziarah yang diharapkan panitia inilah yang mengelola ziarah ini terlaksana,” harap Mgr Agus.
Pembatasan Kegiatan Bulan Maria (Mei 2021)
Dalam kesempatan itu pula, Mgr. Agustinus Agus menegaskan bahwa untuk tahun ini yakni Bulan Maria di bulan Mei, untuk setiap pengunjung di Gua Maria Anjongan akan dibatasi, namun idenya adalah pantia akan standby lokasi, bahkan Mgr. Agus bermimpi jika sudah ada tempat, nanti akan ia tambahkan lampu-lampu taman, sehingga setiap minggu pertama bulan, bisa mengadakan Rosario di lokasi Gua Maria.
“Kemudian bersama Pastor baru RD Indra Lubis, pengelolaan Gua Maria termasuk Rumah Retret semua adalah pastor paroki, termasuk tempat parkir yang didepan,” kata Uskup.
Mgr. Agustinus Agus juga perpesan dengan RD Lubis bahwa tempat parkir didepan tidak boleh dipungut, namun hanya boleh sukarela.
Alasannya jika parkir dipungut harus ada Perda-nya, bahkan digereja besar seperti di Pontianak tidak boleh ada parkir yang dipungut, tetapi diterapkan dengan konsep sukarela.
Baca Juga: Uskup Agung Pontianak Mgr Agustinus Agus Ungkapkan Kurangnya Tenaga Imam
Di lokasi Gua Maria Anjongan akan dibuat secara permanen tempat derma dan sumbangan-sumbangan. Tempat itu akan dibuat dengan professional, bisa dikunci yang didalamnya ada plastik dan wadah sehingga tidak akan bisa dibongkar.
Kemudian, sound system sudah dipasang khusus untuk outdoor. Sehingga kena hujan pun tak masalah. Mungkin untuk Gua Maria Anjongan pertama kali kita melihat speaker out door ini, dan ini langsung dipesan dari Surabaya.
Uskup Agung Pontianak, Mgr. Agustinus Agus mengatakan tentu saja yang permanen dipasang dekat altar dan satunya lagi dekat gua Maria. Harapannya, dengan adanya speaker outdoor setiap pada bulan Maria panitia bisa memutar lagu-lagu Maria atau lagu rohani, sehingga saat orang masuk dalam lingkungan Gua Maria, orang sudah terpanggil untuk berdoa.
Baca Juga: Saya Senang Berkarya di Rumah Retret St. Johanes Paulus II Anjongan
“Saya rasa ini harusnya sudah umum pada setiap tempat ziarah. Jika kita pergi ke Gua Maria Lourdes, ketika kita masuk pun sudah merasakan suasana doa,” ungkapnya.
Mgr. Agustinus Agus juga mengakui memang semua masih perlu pembenahan, kemudian bagian depan akan ditata kembali.
Harapannya kedepan ada tempat lilin dan tempat pembakaran intensi. Karena umumnya setiap orang datang ke Gua Maria selalu ada intensi, “maklumlah cara orang berdoa berbeda-beda,” ungkap Uskup.
Untuk bagian belakang patung Bunda Maria, sudah tambah barau sehingga kalaupun hujan besar air tidak merembes ke altar. “Sengaja ini dibuat agak tinggi, karena kadang-karang orang juga mau foto di situ,” tambah uskup.
Baca Juga: Hari Tari di Tengah Pandemi Dunia
Uskup Agung Pontianak, Mgr Agustinus Agus berharap untuk kedepannya lokasi Gua Maria dan Rumah Retret St. Johanes Paulus II Anjongan bisa menjadi wisata rohani, bukan hanya sekedar bulan pada Mei dan Oktober saja melainkan bisa menjadi tempat rohani yang dikunjungi setiap saat..
Maka dari itu terjadi pembenahan secara besar-besaran yang meliputi Altar Gua Maria yang dulu atap seng darurat diganti menjadi permanen. Tenda-tenda diganti gazebo sesuai dengan nuansa alam.
Uskup Agung Pontianak, Mgr. Agustinus Agus juga menambahkan perubahan dan pembaharuan dari hal yang terkecil mulai dari instalasi air, sounds system, gazebo, jembatan penghubung, kolam aliran air gunung sampai dengan bangku-bangku yang digunakan.
Usai homili, Uskup Agung Pontianak Mgr. Agustinus Agus, memberkati altar baru dan rumah singgah Gua Maria Ratu Pencinta Damai Anjongan agar nyaman dan selalu diberkati dalam setiap pengunaannya.
RD Matius dalam sambutannya mengaku senang dan terharu dengan kerja sama yang baik antara OMK paroki dan umat dalam persiapan menjelang hari suci Bulan Mei kali ini. Ia juga mengucapkan terima kasih kepada Uskup Agung Pontianak, Mgr. Agustinus Agus yang memperhatikan dan memberikan teladan yang konkret kepada umat dan terlebih kepada para imam khususnya.
“Saya berharap, apa yang Uskup Agus cita-citakan bisa dilanjutkan dan kedepan tempat ini akan kami fungsikan untuk aktivitas rohani di wilayah paroki,” katanya sembari menutup sambutannya. – Samuel_ Komisi Komunikasi Sosial Keuskupan Agung Pontianak




