Saturday, November 7, 2026
More

    7 November, Hari Keluarga Dominikan

    MajalahDUTA.Com | Tanggal 7 November memiliki makna khusus bagi Keluarga Dominikan di seluruh dunia. Pada tanggal tersebut, para frater, biarawati, suster, dan kaum awam dalam keluarga spiritual Santo Dominikus merayakan Hari Keluarga Dominikan yang bertepatan dengan Pesta Semua Orang Kudus Ordo Pengkhotbah (Dominikan).

    Perayaan ini tidak hanya mengenang mereka yang telah diakui secara resmi sebagai orang kudus, tetapi juga menghormati banyak anggota Ordo yang menjalani hidup dalam kesetiaan, pengabdian, dan kekudusan, meskipun nama mereka tidak tercatat dalam kalender liturgi.

    Dalam arsip tertanggal 2 November 2012, Magister Ordo Pengkhotbah saat itu, Fr. Bruno Cadoré, OP, menjelaskan bahwa Hari Keluarga Dominikan diperlukan sebagai kesempatan untuk mengingat kembali nilai-nilai yang menjadi perhatian bersama.

    Dia menegaskan bahwa perayaan tersebut bukan sekadar penambahan satu hari khusus dalam kalender, melainkan kesempatan untuk memperbarui kesadaran akan pentingnya kehidupan bersama sebagai satu keluarga spiritual.

    “Kita merayakan Hari Keluarga Dominikan untuk memberikan kesempatan kepada kita untuk bersyukur sekaligus memupuk persahabatan yang menjadi tempat hidup Keluarga Santo Dominikus,” tulis Fr. Bruno Cadoré dalam pesannya pada 2 November 2012.

    Menurut dia, persahabatan dalam Keluarga Dominikan menjadi kekuatan yang menopang kehidupan, sukacita, dan kreativitas setiap anggotanya.

    Ikatan tersebut terlihat dalam berbagai bentuk pelayanan, mulai dari karya kerasulan, intelektual, hingga seni. Solidaritas di antara para frater, suster, dan kaum awam juga menjadi wujud nyata persekutuan, terutama ketika menghadapi berbagai kesulitan.

    Fr. Bruno Cadoré menjelaskan bahwa Keluarga Dominikan memiliki keberagaman anggota dan bentuk panggilan.

    Di dalamnya terdapat para frater, biarawati kontemplatif, suster apostolik beserta para rekan pelayanan, persaudaraan awam, persaudaraan imam, institut sekular, gerakan kaum muda, serta berbagai asosiasi lainnya. Keberagaman tersebut tidak menghilangkan kesatuan, tetapi justru memperkaya kehidupan dan misi bersama.

    Dia juga mengingatkan bahwa persahabatan yang dibangun dalam keluarga Santo Dominikus memiliki dasar spiritual yang lebih dalam, yakni persahabatan antara Allah dan umat manusia yang dimeteraikan melalui kedatangan Yesus Kristus.

    Karena itu, kehidupan persaudaraan tidak berhenti pada hubungan antarmanusia, tetapi menjadi kesaksian iman yang menghadirkan kasih Allah di tengah dunia.

    Mengenang para kudus, meneladani jalan pewartaan

    Pesta Semua Orang Kudus Ordo Pengkhotbah yang dirayakan setiap 7 November menjadi bagian penting dari identitas spiritual Dominikan. Perayaan ini menghormati seluruh anggota Ordo yang telah menjalani kehidupan kudus, baik mereka yang telah dikanonisasi maupun yang belum memperoleh pengakuan resmi Gereja.

    Dalam tulisan yang diterbitkan pada 7 November 2024 oleh Br. Simon Ferrer Vettikunnel, saat itu masih seorang novis Dominikan, dijelaskan bahwa pesta tersebut merupakan kesempatan untuk menghormati seluruh saksi iman dari keluarga Dominikan yang telah menghidupi keutamaan kristiani dengan penuh keberanian dan kesetiaan.

    Dia menulis, “This feast is similar to All Saints’ Day (November 1) in the broader Catholic Church, but it specifically focuses on members of the Dominican Order.”

    Artinya, pesta ini serupa dengan Hari Raya Semua Orang Kudus yang dirayakan Gereja Katolik pada 1 November, tetapi secara khusus memberikan perhatian kepada para anggota Ordo Dominikan.

    Br. Simon menjelaskan bahwa para kudus Dominikan berasal dari berbagai latar belakang panggilan dan pelayanan.

    Di antara mereka terdapat pendiri Ordo, Santo Dominikus, teolog besar seperti Santo Thomas Aquinas, mistikus seperti Santa Katarina dari Siena, serta banyak tokoh lainnya yang sepanjang sejarah telah memberikan sumbangan bagi misi Ordo.

    Selain mereka yang dikenal luas, terdapat pula banyak orang kudus yang kurang dikenal atau hanya memiliki perayaan lokal di tempat-tempat tertentu.

    Menurut tulisan tersebut, jumlah orang kudus dan beato yang telah diakui dalam Ordo Pengkhotbah mencapai 389 orang.

    Angka ini merujuk pada keterangan Magister Ordo, Fr. Gerard Timoner III, yang merupakan penerus Santo Dominikus pada saat tulisan itu diterbitkan.

    Namun, penghormatan pada 7 November tidak terbatas pada mereka yang telah dikanonisasi atau dibeatifikasi. Pesta ini juga mengenang para martir, para pengaku iman, frater, biarawati, serta laki-laki dan perempuan anggota Ordo Ketiga Dominikan yang telah menghidupi Injil melalui berbagai bentuk pelayanan.

    Br. Simon menggambarkan bahwa sebagian dari mereka melayani orang miskin, mengajar mereka yang membutuhkan pendidikan, menjalani kehidupan kontemplatif dalam keheningan biara, dan bahkan menyerahkan nyawa demi mempertahankan iman ketika penganiayaan terjadi.

    Mereka menjadi bagian dari kesaksian panjang Keluarga Dominikan dalam perjalanan sejarah Gereja.

    GAMBAR OLAHAN – All Saints of the Dominican Order

    Kekudusan sebagai panggilan bersama

    Kekudusan dalam tradisi Dominikan tidak hanya dipahami sebagai sesuatu yang dicapai melalui kehidupan luar biasa atau karya besar yang dikenal banyak orang.

    Kekudusan juga tumbuh melalui kesetiaan dalam menjalankan panggilan sehari-hari, baik dalam kehidupan kontemplatif, pendidikan, pelayanan pastoral, maupun keberpihakan kepada mereka yang miskin dan membutuhkan.

    Dalam arsip 2 November 2012, Fr. Bruno Cadoré menegaskan bahwa pewartaan merupakan misi bersama seluruh anggota Keluarga Dominikan.

    Dia menghubungkan perayaan tersebut dengan berakhirnya Sinode tentang Evangelisasi Baru untuk Penerusan Iman dan dimulainya Tahun Iman pada 2012.

    “Misi bersama kita dalam Keluarga Dominikan, dengan segala keberagamannya, adalah mewartakan Injil. Misi kita adalah memaklumkan Injil sebagai sukacita bagi dunia!” demikian penegasan Fr. Bruno Cadoré dalam pesannya.

    Lebih lanjut, dia mengingatkan bahwa keputusan untuk membaktikan diri bagi pewartaan bukan sekadar pilihan pelayanan, melainkan jalan khusus menuju kekudusan. Baginya spiritualitas Dominikan menghubungkan kontemplasi, studi, kehidupan komunitas, dan pewartaan sebagai unsur-unsur yang saling melengkapi.

    Pandangan tersebut sejalan dengan penjelasan Br. Simon Ferrer Vettikunnel pada 7 November 2024.

    Dia menyebut bahwa pesta Semua Orang Kudus Ordo Pengkhotbah menjadi pengingat bagi seluruh anggota keluarga Dominikan—para frater, biarawati, suster, dan kaum awam—akan panggilan menuju kekudusan serta pentingnya mengikuti teladan para pendahulu.

    Dalam tulisannya, Br. Simon juga mengutip perkataan Paus Klemens yang menggambarkan begitu banyaknya orang kudus dalam sejarah Ordo Dominikan.

    “Do not ask me how many saints the Order of Saint Dominic has given to heaven. Count if you can, the stars which gleam in the firmament, and then you will know the number of saints among the descendants of Saint Dominic.”

    Kutipan tersebut berarti, jangan bertanya berapa banyak orang kudus yang telah dipersembahkan Ordo Santo Dominikus kepada surga.

    Hitunglah, jika engkau mampu, bintang-bintang yang berkilauan di cakrawala; dengan demikian, engkau akan mengetahui jumlah orang kudus di antara keturunan Santo Dominikus.

    Kutipan ini menggambarkan luasnya jejak kesaksian iman yang telah dihidupi oleh generasi demi generasi anggota Ordo, termasuk mereka yang namanya tidak dikenal secara luas.

    Persaudaraan dalam keberagaman

    Gambaran tentang kesatuan Keluarga Dominikan juga diungkapkan Fr. Bruno Cadoré melalui lukisan atau gambar yang terdapat di sejumlah biara dan komunitas. Gambar tersebut memperlihatkan para saudara dan saudari Ordo berkumpul di bawah perlindungan Santa Perawan Maria.

    Dia menghubungkan gambaran itu dengan Prouille, tempat bersejarah yang berkaitan dengan awal perkembangan karya Santo Dominikus.

    Di tempat tersebut, persaudaraan dibangun dalam semangat pewartaan dan permenungan atas misteri Inkarnasi, yakni Allah yang menjadi manusia dalam diri Yesus Kristus.

    Bagi Fr. Bruno Cadoré, gambaran tersebut menjadi simbol keluarga yang memiliki beragam panggilan, tetapi terus berusaha membangun kesatuan hati dan kehendak. Persatuan itu bukan berarti menghilangkan perbedaan, melainkan menemukan kekuatan bersama melalui persekutuan persaudaraan.

    Dalam tulisan Br. Simon tahun 2024, perayaan 7 November juga digambarkan sebagai kesempatan bagi komunitas-komunitas Dominikan untuk menyelenggarakan Misa khusus dan doa-doa bagi seluruh laki-laki dan perempuan kudus dalam Ordo.

    Melalui perayaan tersebut, anggota keluarga Dominikan mengungkapkan rasa syukur atas sumbangan para pendahulu sekaligus memohon doa perantaraan mereka bagi Gereja.

    Pada akhirnya, Hari Keluarga Dominikan mengingatkan bahwa warisan Santo Dominikus tidak hanya hidup melalui sejarah, institusi, atau nama-nama besar dalam tradisi Gereja.

    Warisan itu terus berlanjut dalam kehidupan setiap anggota keluarga Dominikan yang berusaha menghidupi Injil melalui doa, studi, persaudaraan, dan pewartaan.

    Sebagaimana harapan Fr. Bruno Cadoré dalam arsipnya pada 2 November 2012, seluruh anggota Keluarga Dominikan dipanggil untuk melangkah dengan tekad yang diperbarui dalam karya evangelisasi Gereja, dengan memberikan kesaksian melalui kehidupan yang berakar pada persekutuan.

    Perayaan setiap 7 November bukan hanya mengenang kekudusan masa lalu, melainkan juga memperbarui panggilan masa kini yakni menjadi satu keluarga dalam keberagaman, bertumbuh dalam persaudaraan, dan mewartakan Injil sebagai sukacita bagi dunia. (Samuel)

    Related Articles

    spot_img
    spot_img
    spot_img
    spot_img
    spot_img

    Latest Articles