Friday, November 6, 2026
More

    Mengapa memilih menjadi Bruder, Bukan Imam Pasionis?

    MajalahDUTA.Com | “Menjadi Bruder Bukan Pelarian, tetapi Pilihan Hidup yang Membahagiakan,” tegas Br. Andreas Asianus, CP saat diwawancarai.

    Mengapa memilih menjadi Bruder, bukan imam? Apa yang membuat seorang anak muda bersedia melepaskan kehidupan berkeluarga, kepemilikan pribadi, dan kebebasan hidup demi mengabdikan diri kepada Tuhan?

    Bagi Br. Andreas Asianus, CP, jawabannya terletak pada keyakinan bahwa hidup membiara merupakan sebuah panggilan sekaligus pilihan yang harus dijalani dengan penuh kesadaran dan kebahagiaan.

    Di tengah rangkaian perayaan pengikraran Kaul Kekalnya di Gereja Paroki Santo Petrus dan Paulus, Sekadau, pada 19 Oktober 2026 lalu. Bruder Andre berbagi kisah tentang perjalanan panggilan, alasan memilih jalan hidup sebagai Bruder, kecintaannya terhadap spiritualitas sengsara Yesus, serta pengalaman yang membawanya bergabung dengan Kongregasi Pasionis.

    Dalam wawancara pada 5 November 2026, dia menegaskan bahwa keputusan menjadi Bruder bukanlah pilihan kedua karena tidak menjadi imam. Sejak awal mengenal kehidupan religius, dia justru memiliki ketertarikan terhadap peran dan bentuk pelayanan seorang Bruder dalam komunitas biara.

    “Pertama-tama saya mau mengatakan bahwa hidup ini adalah pilihan. Dalam arti, tanpa ada paksaan dari pihak mana pun yang meminta saya untuk menjadi seorang Bruder. Menjadi seorang Bruder bukanlah sebagai pelarian bagi saya,” ungkapnya.

    Mengapa memilih menjadi Bruder dan bukan Imam?

    Bruder Andre menjelaskan bahwa ketertarikannya muncul ketika melihat kehidupan seorang Bruder di dalam komunitas biara.

    Baginya, seorang Bruder memiliki peran yang sangat dibutuhkan karena kehidupan komunitas tidak hanya bergantung pada pelayanan sakramental, tetapi juga membutuhkan berbagai bentuk pelayanan praktis dan sosial.

    Dia melihat bahwa pelayanan seorang Bruder mempunyai ruang yang luas dan tidak terbatas pada satu bidang pekerjaan. Seorang Bruder dapat dipercaya menjadi pengelola rumah tangga biara, perawat, guru, maupun menjalankan berbagai tugas lainnya sesuai kebutuhan komunitas.

    “Saya sangat tertarik untuk menjadi seorang Bruder karena pertama-tama saya melihat sosok seorang Bruder itu sangat dibutuhkan di dalam sebuah komunitas biara. Saya juga melihat seorang Bruder itu pelayanannya lebih leluasa. Dalam artian, tidak terpaku hanya dalam satu tugas saja,” jelasnya.

    Menurutnya, setiap bentuk pelayanan memiliki nilai dan tanggung jawab tersendiri. Karena itu, dia tidak melihat pilihan menjadi Bruder sebagai sesuatu yang lebih rendah dibandingkan panggilan lainnya. Justru melalui jalan tersebut, dia menemukan ruang untuk mengembangkan diri dan memberikan pelayanan sesuai kemampuannya.

    Apakah pernah merasa berat dengan pilihan hidup membiara?

    Bruder Andre tidak menampik bahwa menjadi seorang religius berarti menerima konsekuensi kehidupan yang berbeda dari kebanyakan orang. Ada kebebasan pribadi yang harus dilepaskan dan ada aturan komunitas yang harus ditaati.

    Dia menyebut beberapa konsekuensi, seperti tidak menikah, tidak memiliki harta benda sebagai milik pribadi, serta harus mengikuti tata kehidupan dan aturan kongregasi. Bahkan, ketika hendak bepergian, seorang religius perlu berkomunikasi dengan pimpinan rumah.

    Dia menyadari bahwa bagi sebagian anak muda, pilihan tersebut mungkin terlihat tidak mudah dipahami. Apalagi, dunia saat ini menawarkan banyak kemungkinan untuk menikmati kebebasan, membangun keluarga, dan memiliki sesuatu sebagai kepunyaan pribadi.

    Namun, berbagai konsekuensi tersebut tidak membuatnya menyesali keputusan yang telah diambil. Sebaliknya, dia merasa bahagia karena menjalani kehidupan yang dipilihnya sendiri.

    “Bukankah pilihan ini bisa dikatakan konyol untuk anak muda zaman sekarang? Namun, saya tetap memilih untuk menjadi seorang Bruder sebagai religius. Sebab, saya merasa bahagia dengan pilihan hidup saya,” tuturnya.

    Dia bahkan menjadikan kesetiaannya sampai pada pengikraran Kaul Kekal sebagai bukti bahwa pilihan tersebut bukan sekadar ketertarikan sesaat.

    “Buktinya, saya masih setia sampai saat ini menjadi seorang Bruder, bahkan sampai berani mengambil keputusan sampai puncak di Kaul Kekal,” tambahnya.

    DOKUMENTASI – Br. Andreas Asianus, CP, yang mengikrarkan Kaul Kekal dalam Kongregasi Pasionis di Gereja Paroki Santo Petrus dan Paulus, Sekadau. 19 Oktober 2026.

    Mengapa memilih Kongregasi Pasionis?

    Ketika ditanya alasan memilih Kongregasi Pasionis dibandingkan kongregasi lainnya, Bruder Andre menceritakan bahwa ketertarikan awalnya justru berasal dari hal sederhana. Dia tertarik melihat jubah yang dikenakan para religius Pasionis.

    Namun, ketertarikan tersebut tidak berhenti pada penampilan luar. Setelah mengenal lebih jauh, dia menemukan spiritualitas Kongregasi Pasionis yang berpusat pada pewartaan sengsara Yesus Kristus.

    Spiritualitas ini dirasakannya sangat dekat dengan pengalaman hidup rohani yang telah dijalaninya sebelumnya.

    “Yang kedua, saya sangat tertarik dengan spiritualitas Kongregasi Pasionis yang mewartakan sengsara Yesus. Saya rasa sangat cocok dengan yang sudah saya hidupi pada masa-masa hidup saya sebelumnya, yakni sering berdevosi kepada sengsara Yesus,” katanya.

    Bagi Bruder Andre, devosi kepada sengsara Yesus telah menjadi bagian dari perjalanan imannya.

    Dia mengisahkan bahwa dalam pengalaman hidupnya, ada sejumlah peristiwa yang dirasakan sebagai jawaban atas doa-doanya. Salah satunya adalah ketika dia memohon rahmat untuk menjalani hidup panggilan.

    Pengalaman tersebut semakin menguatkan keyakinannya untuk bergabung dengan Kongregasi Pasionis.

    Dia menggarisbawahi pilihannya bukan hanya karena tertarik pada kehidupan komunitas atau jubah yang dikenakan, tetapi juga karena menemukan kedekatan spiritual dengan semangat kongregasi.

    DOKUMENTASI – Foto bersama Br. Andreas Asianus, CP, yang mengikrarkan Kaul Kekal dalam Kongregasi Pasionis di Gereja Paroki Santo Petrus dan Paulus, Sekadau. 19 Oktober 2026.

    Bagaimana perjalanan hingga akhirnya mengikrarkan Kaul Kekal?

    Br. Andreas Asianus, CP, lahir di Empiyang pada 20 Agustus 1998. Dia merupakan anak pertama dari tiga bersaudara, putra pasangan Yakobus Saten dan Anasthasia Helawati. Dia berasal dari Paroki Santa Perawan Maria Diangkat ke Surga, Jangkang, Balai Sebut, Keuskupan Sanggau.

    Pendidikan dasarnya ditempuh di SD Negeri 03 Empiyang pada 2009–2014. Setelah itu, dia melanjutkan pendidikan di SMP Negeri 05 Jangkang pada 2014–2016 dan SMA Karya Sekadau pada 2016–2018.

    Perjalanan panggilannya mulai dibentuk melalui Tahun Orientasi Panggilan (TOPANG) di Sekadau pada 2018–2019. Selanjutnya, dia menjalani masa postulat di Seminari Tinggi Pasionis, Malang, Jawa Timur, pada 2019–2020, kemudian melanjutkan masa novisiat di Biara Pasionis, Batu, Jawa Timur, pada 2020–2021.

    Pada 7 Juli 2021, dia mengikrarkan Kaul Perdana di Malang. Setelah itu, dia menjalani tugas perutusan di Rumah Retret PSP, Malang, selama 2021–2026.

    Sejak 2026, dia bertugas di Biara Santo Vinsensius Maria Strambi, Pontianak. Selain menjalankan tugas komunitas, dia juga menempuh pendidikan lanjutan pada Program Studi Keuangan dan Perbankan di Kampus Agustinus Hippo, Pontianak.

    Perjalanan tersebut menjadi proses panjang yang membawanya sampai pada keputusan untuk mengikrarkan Kaul Kekal. Baginya, setiap tahap pembinaan dan pengalaman pelayanan merupakan bagian dari proses mengenal serta mematangkan panggilan.

    Siapa yang paling berperan dalam perjalanan panggilan Bruder?

    Dalam sambutannya pada perayaan Kaul Kekal, Bruder Andre menyampaikan penghargaan kepada Kongregasi Pasionis, para formator, pendidik, penderma, keluarga, sahabat, dan semua orang yang telah mendukung perjalanan hidupnya.

    Dia secara khusus mengungkapkan rasa terima kasih kepada para pembina dan saudara sekomunitas yang telah memberikan penerimaan, pendampingan, teguran, nasihat, kesabaran, dan persaudaraan.

    Menurutnya, pendampingan tersebut tidak hanya membantunya berkembang dalam pengetahuan dan kehidupan rohani, tetapi juga membentuk kepribadiannya sebagai manusia.

    “Kepada Kongregasi Pasionis, para pembina, dan seluruh saudara sekomunitas di mana saya pernah berada, saya mengucapkan terima kasih atas penerimaan, pendampingan, teguran, nasihat, kesabaran, dan persaudaraan yang telah menjadi bagian penting dalam perjalanan panggilan saya,” ungkapnya.

    Dukungan keluarga juga memiliki tempat istimewa dalam perjalanan tersebut. Sebagai anak pertama, dia menyadari bahwa keputusan menjalani hidup membiara bukan hanya menyangkut dirinya sendiri, tetapi juga membawa perubahan dalam kehidupan keluarga.

    Dia mengakui bahwa jarak dan tugas perutusan terkadang membuat kebersamaan dengan orang tua dan saudara menjadi terbatas. Namun, kasih dan doa keluarga tetap menjadi kekuatan yang menyertainya.

    “Kepada kedua orang tua dan keluarga tercinta, terima kasih atas cinta, doa, pengorbanan, dan kepercayaan yang telah diberikan kepada saya. Saya menyadari bahwa pilihan hidup ini bukan selalu mudah untuk dipahami, terlebih ketika kebersamaan harus dibatasi oleh jarak dan tugas perutusan,” katanya.

    Dia kemudian menyampaikan pesan penuh kasih kepada kedua orang tuanya, “Bapak dan Ibu, meski kita terpisah oleh jarak, namun akan selalu dekat di hati.”

    DOKUMENTASI – Foto bersama Br. Andreas Asianus, CP, yang mengikrarkan Kaul Kekal dalam Kongregasi Pasionis di Gereja Paroki Santo Petrus dan Paulus, Sekadau. 19 Oktober 2026.

    Apa makna Kaul Kekal bagi kehidupan Bruder selanjutnya?

    Bagi Bruder Andre, Kaul Kekal bukanlah garis akhir perjalanan panggilan. Pengikraran tersebut justru menjadi awal dari tanggung jawab yang semakin mendalam untuk menghidupi komitmen kepada Tuhan dan sesama.

    Dia tidak menganggap dirinya telah menjadi pribadi yang sempurna setelah mengikrarkan kaul. Sebaliknya, dia menyadari bahwa dirinya tetap manusia biasa yang harus terus belajar mencintai Tuhan dengan lebih sungguh.

    “Kaul Kekal bukanlah tanda bahwa perjalanan saya telah selesai, melainkan awal dari komitmen yang lebih mendalam untuk menyerahkan seluruh hidup kepada Tuhan dan bagi sesama,” tegasnya.

    Dia juga menyadari bahwa masa depan tidak selalu dapat diprediksi. Ada berbagai tantangan dan tugas perutusan yang mungkin akan dihadapi. Namun, dia memilih untuk menyerahkan seluruh perjalanan hidupnya kepada Tuhan yang telah memanggilnya.

    Keyakinan itu dirangkumnya dalam motto panggilannya yang diambil dari Injil Yohanes 15:16:

    “Bukan kamu yang memilih Aku, tetapi Akulah yang memilih kamu.”

    Apa pesan Bruder bagi kaum muda yang sedang mencari panggilan hidup?

    Melalui kesaksian perjalanan hidupnya, Bruder Andre memperlihatkan bahwa panggilan perlu dijalani dengan kesadaran, kebebasan, dan kesetiaan.

    Keputusan untuk menjadi seorang religius bukanlah sesuatu yang harus dilakukan karena tekanan orang lain, melainkan harus tumbuh dari keyakinan pribadi dan keterbukaan terhadap kehendak Tuhan.

    Dia sendiri telah membuktikan bahwa pilihan menjadi Bruder bukanlah sesuatu yang membuatnya kehilangan kebahagiaan. Sebaliknya, dalam jalan hidup itulah dia menemukan makna pelayanan dan kesempatan untuk memberikan diri bagi sesama.

    Dalam perayaan Kaul Kekalnya, Bupati Sekadau, Aron, S.H., juga menyampaikan harapan agar kesaksian Bruder Andre dapat mendorong semakin banyak anak muda untuk berani menyerahkan diri bagi Gereja.

    Sementara itu, Pater Adiantus, CP, selaku perwakilan Provinsial Kongregasi Pasionis, berharap agar Bruder Andre tetap setia dalam setiap tugas perutusan sampai akhir hayat.

    Menutup sambutannya, Bruder Andre menyampaikan sebuah pantun yang mengundang senyum dan suasana akrab di antara para undangan:

    Burung merpati terbang ke taman
    Hinggap sebentar di pohon durian
    Jubah hitam memang kelihatan tampan
    Tapi maaf, sudah milik Tuhan.

    Pantun tersebut menjadi gambaran sederhana tentang sukacita yang tetap hadir dalam kehidupan seorang religius. Di balik komitmen dan tanggung jawab yang besar, ada kegembiraan karena menjalani panggilan yang diyakini berasal dari Tuhan.

    Kini, setelah mengikrarkan Kaul Kekal, Bruder Andre melanjutkan perjalanan sebagai Bruder Pasionis di tengah kehidupan komunitas dan tugas perutusan. Dia tidak menjanjikan bahwa perjalanan ke depan akan selalu mudah. Namun, satu hal yang diyakininya adalah Tuhan yang telah memanggilnya akan terus menyertai.

    Baginya, menjadi Bruder bukan tentang apa yang harus ditinggalkan semata, melainkan tentang siapa yang ingin dilayani dan untuk siapa seluruh hidup dipersembahkan. (Samuel)

    Related Articles

    spot_img
    spot_img
    spot_img
    spot_img
    spot_img

    Latest Articles