MajalahDUTA.Com | Tiga tahun setelah kepergian Bpk. Yohanes Tupanman, OFS (Ordo Fransiskan Sekular) keluarga bersama para imam, suster SMFA, kerabat, dan umat berkumpul dalam Misa Peringatan Tiga Tahun Berpulangnya almarhum, Kamis (5/11/2026), pukul 18.30 WIB.
Perayaan Ekaristi berlangsung di kediaman keluarga, Jalan Putri Daranante Gang Sukajaya No. 30.
Misa dipimpin oleh Rm. Yohanes Thomas Maria Puji Nurcahyo, CM. Dalam homilinya, dia mengajak umat merenungkan kerinduan Allah agar manusia senantiasa hidup bersatu dengan-Nya. Melalui perumpamaan tentang domba yang hilang, dia menegaskan bahwa Allah tidak pernah berhenti mencari manusia yang menjauh dari-Nya.
“Yang paling diinginkan Tuhan ialah agar manusia bersatu dengan-Nya dan tidak terpisahkan dari-Nya. Itulah yang dikehendaki Tuhan,” ungkapnya.

Menurut Romo Puji, Allah tidak pernah merelakan manusia terpisah dari-Nya. Karena itu, ketika ada seseorang yang tersesat atau menjauh, Tuhan akan mencarinya sampai ditemukan dan membawanya kembali.
Menariknya, imam Kongregasi Misi (CM) tersebut mengingatkan bahwa Allah menghormati kehendak bebas manusia. Tuhan tidak memaksakan kehendak-Nya, melainkan memberikan ruang bagi manusia untuk mengambil keputusan.
“Allah menghormati kehendak bebas manusia. Allah tidak pernah mengkhianati atau mengingkari manusia, bahkan tidak pernah memaksakan diri dan kehendak-Nya kepada manusia. Allah menyerahkan keputusan itu kepada manusia sendiri,” jelasnya.
Untuk menggambarkan hubungan antara Allah dan manusia, Romo Puji mengangkat lukisan terkenal karya Michelangelo, The Creation of Adam atau Penciptaan Adam, yang terdapat pada langit-langit Kapel Sistina di Vatikan.
Dia menjelaskan bahwa dalam lukisan tersebut, jari Allah dan jari Adam hampir bersentuhan. Jari Allah digambarkan terentang, sementara jari Adam sedikit tertekuk.
Menurutnya, gambaran itu dapat menjadi refleksi mengenai kehendak bebas manusia dalam membangun relasi dengan Allah.
“Jika Adam mau sedikit saja meluruskan tangannya, jari Allah dan jari manusia itu akan bertemu. Namun, Adam digambarkan santai, dengan jarinya yang seolah-olah belum sungguh-sungguh berusaha menjangkau Allah,” tuturnya.
Melalui ilustrasi tersebut, dia mengajak umat menyadari bahwa Allah selalu membuka jalan bagi manusia untuk kembali kepada-Nya. Namun, manusia juga perlu memiliki kemauan untuk menyambut undangan tersebut.

Belajar dari Pertobatan Paulus
Dalam homilinya, Romo Puji juga mengajak umat belajar dari pengalaman pertobatan Rasul Paulus. Sebelum mengenal Kristus, Paulus menganggap ketaatan terhadap seluruh aturan agama Yahudi sebagai jalan untuk memperoleh keselamatan. Dia bahkan dikenal sebagai orang Farisi yang giat menjalankan kewajiban keagamaannya dan pernah menganiaya jemaat.
Namun, setelah mengenal Yesus Kristus, Paulus mengubah seluruh cara pandangnya. Hal-hal yang dahulu dianggap sebagai keuntungan kini dipandangnya sebagai sampah dibandingkan dengan pengenalan akan Kristus.
Romo Puji juga menjelaskan bahwa pengalaman Paulus menunjukkan pentingnya usaha terus-menerus untuk hidup bersatu dengan Yesus. Dia mengibaratkan perjalanan iman seperti perlombaan lari yang membutuhkan kesungguhan dan perjuangan.
“Paulus berusaha sekuat tenaga untuk selalu bersatu dengan Yesus,” katanya.
Lebih lanjut, dia mengingatkan bahwa kehidupan beriman tidak cukup hanya ditandai dengan ketaatan terhadap aturan agama, rajin berdoa, membaca Kitab Suci, mengikuti perayaan Ekaristi, melakukan pelayanan, ataupun memberikan sedekah.
Semua praktik tersebut memang baik, tetapi umat juga perlu memiliki kemampuan untuk melakukan refleksi atas kehidupannya.
Dalam sebuah pengalaman saat mengikuti kegiatan Orang Muda Katolik (OMK), dia pernah mengajukan pertanyaan mengenai kemampuan lain yang perlu dimiliki seorang beriman selain rajin beribadah dan menaati aturan agama. Jawaban yang muncul adalah kemampuan refleksi.
“Refleksi berarti kita diajak untuk selalu bertanya kepada diri sendiri: Apa yang dikehendaki Tuhan dari saya?” ungkapnya.
Dia mengingatkan bahwa seseorang bisa saja sangat taat menjalankan kewajiban agama, tetapi belum tentu sungguh-sungguh hidup sesuai kehendak Tuhan. Hal itu dapat terjadi ketika seseorang merasa paling benar, paling suci, dan paling baik, tanpa pernah mengevaluasi sikap serta tindakannya.
Karena itu, Romo Puji mengajak umat untuk terus bertanya apakah tindakan dan keputusan yang diambil sungguh sesuai dengan kehendak Allah.
Menurutnya, persatuan dengan Allah bukan hanya kebahagiaan yang akan dialami setelah kematian, melainkan juga dapat dirasakan selama manusia masih menjalani kehidupan di dunia.
“Kebahagiaan itu bukan hanya nanti, ketika kita sudah dipanggil Tuhan. Kebahagiaan itu dapat kita alami sekarang juga,” tegasnya.
Menutup homilinya, dia mengajak umat mendoakan almarhum Yohanes Tupanman sekaligus mendoakan diri sendiri agar tetap setia mencari Tuhan.
“Tuhanlah yang pertama-tama datang menjumpai kita. Namun, pertanyaannya adalah: apakah kita sungguh-sungguh berusaha mendekatkan diri kepada Tuhan? Itulah yang harus selalu kita tanyakan kepada diri sendiri,” pesannya.

Dua Pesan Ayah yang Terus Dikenang Keluarga
Suasana penuh kenangan juga terasa melalui sambutan Simon Hendrawan, anak ketiga sekaligus anak bungsu almarhum. Mewakili keluarga, Simon membagikan dua pesan sang ayah yang hingga kini terus mereka ingat dan berusaha jalankan.
Dua pesan tersebut terdengar sederhana, tetapi memiliki makna mendalam bagi perjalanan hidup keluarga. Pesan pertama berbunyi, “Jadilah seperti saya.” Sementara pesan kedua, “Jangan jadi seperti saya.”
Simon menjelaskan bahwa pesan pertama merupakan ungkapan harapan ayahnya agar seluruh anggota keluarga mau menyerahkan diri untuk melayani Gereja. Nilai tersebut telah ditanamkan dalam kehidupan keluarga dan perlahan-lahan diwujudkan melalui keterlibatan mereka dalam berbagai pelayanan.
“Puji syukur, keinginan Bapak itu perlahan-lahan dapat kami jalankan. Sekarang puji Tuhan semuanya aktif dalam kegiatan pelayanan Gereja,” ungkap Simon.
Dia kemudian menceritakan bahwa ibunya aktif dalam pelayanan kedukaan. Kakaknya juga terlibat dalam tim pelayanan kedukaan, sedangkan dirinya bersama saudaranya yang lain aktif dalam pelayanan paduan suara di Gereja.
Bagi keluarga, keterlibatan tersebut menjadi salah satu bentuk meneruskan nilai-nilai yang telah ditanamkan almarhum semasa hidupnya.
“Kami merasa bangga karena masih bisa menjalankan apa yang menjadi harapan Bapak bagi keluarga kami,” katanya.
Sementara itu, pesan kedua, “Jangan jadi seperti saya,” dimaknai Simon sebagai nasihat agar anak-anaknya tidak mengulangi pola hidup kurang sehat yang pernah dijalani sang ayah.
Dia mengungkapkan bahwa almarhum memiliki beberapa penyakit metabolik yang berkaitan dengan pola hidup dan kebiasaan makan yang kurang teratur.
Menurut Simon, ayahnya memang memiliki kegemaran memasak. Kesenangan mengolah berbagai makanan membuat almarhum terkadang kurang mampu mengontrol pola makannya.
“Bapak memang pandai memasak. Jadi, kalau sudah memasak, tentu ingin menikmati makanan yang enak. Akibatnya, pola makan terkadang kurang terkontrol,” tuturnya.
Karena itu, pesan sang ayah agar anak-anaknya tidak mengikuti kebiasaan tersebut menjadi pengingat bagi keluarga untuk lebih memperhatikan kesehatan.
Simon mengatakan bahwa pesan pertama sudah mulai mereka jalankan melalui keterlibatan dalam pelayanan Gereja. Sementara pesan kedua masih terus mereka usahakan dengan membiasakan pola hidup yang lebih sehat.

Keluarga Bersyukur atas Kehadiran Kerabat dan Umat
Dalam kesempatan tersebut, Simon juga menyampaikan rasa terima kasih kepada para imam, suster SMFA, keluarga besar, kerabat, dan seluruh umat yang hadir dalam misa peringatan tersebut.
Dia mengaku tidak menyangka kehadiran para undangan begitu banyak, termasuk mereka yang datang dari berbagai daerah, seperti Batu Layang, Desa Kapur, dan Kenapang. Sebagian di antaranya bahkan harus menempuh perjalanan cukup jauh dan menyeberang untuk menghadiri perayaan tersebut.
“Sejujurnya, kami tidak menyangka bahwa kehadiran Bapak, Ibu, Suster, dan saudara-saudari sekalian akan begitu ramai. Ada yang datang dari tempat yang cukup jauh dan harus menempuh perjalanan, bahkan menyeberang untuk bisa hadir bersama kami,” ungkapnya.
Atas kebersamaan tersebut, keluarga menyampaikan penghargaan dan terima kasih karena almarhum masih dikenang oleh banyak orang hingga tiga tahun setelah kepergiannya.
Misa peringatan ini bukan sekadar mengenang perjalanan hidup seseorang yang telah berpulang, melainkan juga menjadi kesempatan bagi keluarga dan umat untuk kembali merefleksikan makna kehidupan, pelayanan, kesehatan, serta relasi manusia dengan Allah.
Dua pesan sederhana yang diwariskan Yohanes Tupanman kepada keluarganya menjadi pengingat bahwa kehidupan meninggalkan nilai-nilai yang dapat diteruskan oleh mereka yang masih melanjutkan perjalanan.
Sementara itu, pesan homili Romo Puji juga mengajak setiap orang untuk tidak berhenti mencari kehendak Tuhan dan senantiasa berusaha hidup dalam persatuan dengan-Nya. (Samuel, OFS)







