MajalahDUTA.Com | Panggilan hidup membiara bukan sekadar keputusan untuk meninggalkan kehidupan duniawi, melainkan sebuah jawaban atas panggilan Tuhan yang dijalani dengan kesetiaan dan penyerahan diri.
Keyakinan inilah yang mengantarkan Br. Andreas Asianus, CP, mengikrarkan Kaul Kekal dalam Kongregasi Pasionis di Gereja Paroki Santo Petrus dan Paulus, Sekadau.
Perayaan Kaul Kekal tersebut berlangsung dalam suasana penuh syukur dan sukacita, dihadiri sekitar 40 imam serta perwakilan dari 15 komunitas, 19 Oktober 2026. Perayaan ini dipimpin oleh Pater Sabinus Lohin, CP, selaku Provinsial Kongregasi Pasionis Indonesia. Hadir pula Bupati Sekadau, Aron, S.H., bersama para biarawan, biarawati, keluarga, sahabat, dan umat.
Dalam sambutannya, Bruder Andre mengungkapkan bahwa keputusan untuk mengikrarkan Kaul Kekal bukanlah hasil kekuatan dirinya sendiri. Dia menyadari bahwa perjalanan panggilannya hingga sampai pada tahap tersebut merupakan buah kasih karunia Tuhan yang senantiasa menuntun dan membimbingnya.
“Saya pribadi menyadari, untuk berani mengambil keputusan sampai pada Kaul Kekal pada hari ini bukan semata-mata karena saya berjalan sendiri atau karena saya hebat. Bukan, melainkan karena kasih karunia Tuhan yang menuntun serta membimbing saya,” ungkapnya.
Dia juga menyampaikan rasa terima kasih kepada Kongregasi Pasionis, para formator, pendidik, keluarga, sahabat, para penderma, serta semua pihak yang telah memberikan dukungan dan doa selama perjalanan panggilannya.
Secara khusus, Bruder Andre menyampaikan penghargaan kepada kedua orang tuanya atas cinta, doa, pengorbanan, dan kepercayaan yang diberikan. Dia menyadari bahwa pilihan hidup membiara tidak selalu mudah dipahami, terutama ketika tugas perutusan membuat dirinya harus berjauhan dengan keluarga.

“Kepada kedua orang tua dan keluarga tercinta, terima kasih atas cinta, doa, pengorbanan, dan kepercayaan yang telah diberikan kepada saya. Bapak dan Ibu, meski kita terpisah oleh jarak, namun akan selalu dekat di hati,” tuturnya.
Baginya, Kaul Kekal bukanlah tanda bahwa perjalanan panggilan telah selesai. Sebaliknya, peristiwa tersebut menjadi awal dari komitmen yang semakin mendalam untuk menyerahkan seluruh hidup kepada Tuhan dan melayani sesama.
“Dengan hati yang penuh syukur, saya berdiri di hadapan kita semua bukan sebagai seorang yang telah sempurna, bukan pula sebagai seorang yang telah menyelesaikan seluruh perjalanan panggilan, melainkan sebagai seorang manusia biasa yang terus belajar untuk mencintai Tuhan dengan lebih sungguh,” katanya.
Dia menegaskan bahwa seluruh masa depan panggilannya diserahkan ke dalam tangan Tuhan. Keyakinan itu berakar pada motto panggilannya yang diambil dari Injil Yohanes 15:16: “Bukan kamu yang memilih Aku, tetapi Akulah yang memilih kamu.”

Memilih Jalan Hidup sebagai Bruder
Dalam wawancara pada 5 November 2026, Bruder Andre menceritakan alasan dirinya memilih jalan hidup sebagai Bruder dan bukan menjadi imam. Baginya, kehidupan adalah pilihan yang harus dijalani secara bebas, tanpa paksaan dari pihak mana pun.
Dia menegaskan bahwa menjadi Bruder bukanlah pilihan kedua ataupun pelarian karena tidak menjadi imam. Sejak awal mengenal kehidupan membiara, dia justru memiliki ketertarikan tersendiri terhadap peran seorang Bruder dalam kehidupan komunitas religius.
“Saya sangat tertarik untuk menjadi seorang Bruder karena pertama-tama saya melihat sosok seorang Bruder itu sangat dibutuhkan di dalam sebuah komunitas biara. Saya juga melihat seorang Bruder memiliki ruang pelayanan yang lebih leluasa, dalam arti tidak terpaku hanya pada satu tugas saja,” jelasnya.
Menurut Bruder Andre, seorang Bruder dapat mengambil berbagai bentuk pelayanan sesuai kebutuhan komunitas dan kemampuan yang dimiliki. Pelayanan tersebut dapat mencakup pengelolaan rumah tangga biara, bidang kesehatan, pendidikan, maupun tugas-tugas lainnya.
Pilihan tersebut, lanjutnya, memang memiliki konsekuensi yang tidak ringan. Kehidupan religius menuntut seseorang untuk melepaskan sejumlah kebebasan pribadi, termasuk hidup berkeluarga dan memiliki harta benda sebagai milik pribadi. Setiap anggota hidup dalam aturan serta tata kehidupan kongregasi.
Namun, berbagai konsekuensi itu tidak membuatnya menyesali keputusan yang telah diambil. Sebaliknya, dia menemukan kebahagiaan dalam pilihan hidup tersebut.
“Saya bahagia dengan pilihan saya sendiri menjadi seorang Bruder. Buktinya, saya masih setia sampai saat ini menjadi seorang Bruder, bahkan sampai berani mengambil keputusan hingga puncaknya dalam Kaul Kekal,” ungkapnya, (05/11/2026).

Spiritualitas Sengsara Yesus Mengantarnya kepada Pasionis
Ketertarikan Bruder Andre terhadap Kongregasi Pasionis juga memiliki perjalanan tersendiri. Pada awalnya, dia mengaku tertarik melihat jubah yang dikenakan para religius Pasionis. Namun, ketertarikan tersebut kemudian berkembang menjadi kecintaan terhadap spiritualitas kongregasi yang berpusat pada pewartaan sengsara Yesus Kristus.
Menurutnya, spiritualitas Pasionis memiliki kedekatan dengan pengalaman rohani yang telah dihidupinya sebelum bergabung dengan kongregasi tersebut, terutama melalui devosi kepada sengsara Yesus.
“Saya sangat tertarik dengan spiritualitas Kongregasi Pasionis yang mewartakan sengsara Yesus. Saya merasa spiritualitas ini sangat cocok dengan apa yang sudah saya hidupi pada masa-masa sebelumnya, yakni sering berdevosi kepada sengsara Yesus,” tuturnya, (05/11/2026).
Dia juga menceritakan bahwa dalam perjalanan hidupnya, devosi kepada sengsara Yesus menjadi bagian penting dalam pengalaman imannya.
Salah satu intensi yang pernah didoakan adalah memohon rahmat untuk menjalani hidup panggilan. Pengalaman tersebut semakin menguatkan keyakinannya untuk bergabung dengan Kongregasi Pasionis.
Bagi Bruder Andre, spiritualitas sengsara Yesus bukan hanya sebuah devosi, melainkan jalan untuk semakin memahami kasih Tuhan dan menghadirkan kepedulian terhadap sesama.

Perjalanan Panggilan dari Empiyang hingga Kaul Kekal
Br. Andreas Asianus, CP, lahir di Empiyang pada 20 Agustus 1998. Dia merupakan anak pertama dari tiga bersaudara, putra pasangan Yakobus Saten dan Anasthasia Helawati. Dia berasal dari Paroki Santa Perawan Maria Diangkat ke Surga, Jangkang, Balai Sebut, Keuskupan Sanggau.
Pendidikan dasarnya ditempuh di SD Negeri 03 Empiyang pada 2009–2014. Selanjutnya, dia melanjutkan pendidikan di SMP Negeri 05 Jangkang pada 2014–2016 dan SMA Karya Sekadau pada 2016–2018.
Perjalanan panggilannya mulai dibentuk melalui Tahun Orientasi Panggilan (TOPANG) di Sekadau pada 2018–2019. Setelah itu, dia menjalani masa postulat di Seminari Tinggi Pasionis, Malang, Jawa Timur, pada 2019–2020, kemudian melanjutkan masa novisiat di Biara Pasionis, Batu, Jawa Timur, pada 2020–2021.
Pada 7 Juli 2021, Bruder Andre mengikrarkan Kaul Perdana di Malang. Setelah itu, dia menjalani tugas perutusan di Rumah Retret PSP, Malang, selama 2021–2026.
Sejak 2026 hingga sekarang, dia menjalani tugas di Biara Santo Vinsensius Maria Strambi, Pontianak. Selain tugas komunitas, dia juga menempuh pendidikan lanjutan di Kampus Agustinus Hippo, Pontianak, pada Program Studi Keuangan dan Perbankan.

Dukungan Gereja dan Pemerintah Daerah
Dalam kesempatan yang sama, Bupati Sekadau, Aron, S.H., menyampaikan apresiasi kepada Kongregasi Pasionis yang selama ini telah mengambil bagian dalam kehidupan menggereja dan membantu pengembangan iman umat di Kabupaten Sekadau.
Dia secara khusus menyampaikan terima kasih kepada kedua orang tua Bruder Andre yang telah merelakan putranya untuk mengabdikan diri bagi Gereja melalui Kongregasi Pasionis.
“Harapannya, semoga Bruder tetap setia dan semangat dengan panggilan serta perutusannya di mana saja Bruder ditugaskan. Sekali lagi, selamat untuk Bruder Andre,” ungkap Aron, (19/10/2026).
Atas nama pribadi dan Pemerintah Kabupaten Sekadau, dia juga menyampaikan terima kasih atas kehadiran dan pelayanan para Pasionis di wilayah tersebut.
Menurutnya, peristiwa Kaul Kekal ini diharapkan dapat menjadi kesaksian yang mendorong semakin banyak kaum muda untuk berani menyerahkan hidup bagi Gereja dalam menanggapi panggilan Tuhan.
Sementara itu, Pater Adiantus, CP, mewakili Provinsial Kongregasi Pasionis, menyampaikan proficiat kepada Bruder Andre atas keputusan untuk mengikrarkan Kaul Kekal. Dia juga menyampaikan apresiasi kepada keluarga, sahabat, para pendidik, formator, serta semua pihak yang telah mendukung perjalanan panggilannya.
“Atas nama pribadi serta perwakilan dari Kongregasi Pasionis, saya mengucapkan proficiat kepada Br. Andreas Asianus, CP, dan selamat bergabung secara penuh di dalam Kongregasi Pasionis,” ujarnya, (19/10/2026).
Pater Adiantus berharap agar keputusan dan niat Bruder Andre untuk mengabdikan diri sepenuhnya dalam Kongregasi Pasionis senantiasa mendapat berkat Tuhan dalam setiap tugas perutusannya.
Dia juga mengingatkan pentingnya kesetiaan dalam menjalani panggilan hidup membiara sampai akhir hayat.
Perayaan Kaul Kekal Br. Andreas Asianus, CP, menjadi momentum syukur bagi keluarga, Kongregasi Pasionis, Gereja, dan umat yang hadir.
Di tengah berbagai pilihan hidup yang ditawarkan dunia, keputusan Br. Andreas menjadi kesaksian bahwa kebahagiaan tidak selalu ditemukan dalam kepemilikan atau kebebasan pribadi, tetapi juga dalam kesediaan memberikan diri bagi Tuhan dan sesama.
Sebuah perjalanan yang bermula dari ketertarikan terhadap kehidupan Bruder, bertumbuh melalui spiritualitas sengsara Yesus, dan kini diteguhkan dalam komitmen seumur hidup.
Sebagaimana motto panggilannya, dia percaya bahwa bukan dirinya yang pertama-tama memilih Tuhan, melainkan Tuhanlah yang terlebih dahulu memanggil dan mempercayakan perutusan kepadanya.(Samuel)







