MajalahDUTA.Com | Ada tradisi yang tidak ditulis di atas kertas, tetapi hidup dalam ingatan manusia. Sastra itu diwariskan melalui suara, gerak, doa, simbol, dan tindakan. Dari satu generasi ke generasi berikutnya, tradisi itu terus mengajarkan bagaimana manusia seharusnya hidup, berhubungan dengan sesama, menghormati alam, dan menyadari kehadiran Yang Ilahi.
Di tengah perubahan zaman, tradisi semacam ini perlahan menghadapi tantangan. Modernisasi, masuknya budaya luar, serta semakin berkurangnya generasi muda yang memahami tradisi lisan membuat sebagian warisan budaya berada dalam risiko dilupakan.
Salah satu yang menarik perhatian adalah Nyangahatn Baburukng, bagian dari tradisi perladangan masyarakat Dayak Kanayatn di Desa Pancaroba, Kecamatan Sungai Ambawang, Kabupaten Kubu Raya, Kalimantan Barat.
Nyangahatn bukan sekadar rangkaian kata yang diucapkan dalam sebuah upacara. Di dalamnya tersimpan cara pandang masyarakat terhadap kehidupan.
Ada hubungan manusia dengan Tuhan, hubungan manusia dengan manusia lain, hubungan manusia dengan dirinya sendiri, sekaligus hubungan manusia dengan lingkungan alam.
Karena itu, ketika seseorang mempelajari Nyangahatn Baburukng, yang sesungguhnya sedang dipelajari bukan hanya sebuah ritual. Yang sedang dibaca adalah sebuah ‘pandangan hidup.’
Ladang menuju Yang Ilahi
Kehidupan masyarakat Dayak Kanayatn secara historis sangat dekat dengan pertanian. Kehidupan agraris tersebut melahirkan berbagai tradisi yang berkaitan dengan siklus perladangan, termasuk upacara menyambut musim tanam dan panen yang dikenal sebagai Nyangahatn.
Upacara tersebut berkaitan dengan keyakinan terhadap Jubata yang dipahami sebagai Tuhan yang memberikan kehidupan dan rezeki melalui hasil pertanian.
Dalam perspektif ini, ladang menjadi salah satu ruang ekonomi, termasuk menjadi ruang perjumpaan antara manusia, alam, tradisi, dan Yang Ilahi.
Ketika masyarakat mengawali pekerjaan perladangan, ada kesadaran bahwa manusia tidak berdiri sendirian. Apa yang ditanam, dirawat, dan kemudian dipanen tidak semata-mata hasil kerja manusia. Ada alam yang menyediakan kehidupan dan ada keyakinan akan Jubata sebagai sumber kehidupan.
Di sinilah ritual memperoleh maknanya.
Nyangahatn menjadi ungkapan syukur sekaligus bentuk penghormatan terhadap kehidupan.
Suara yang diwariskan dari mulut ke mulut
Sastra lisan memiliki karakter yang berbeda dari karya sastra tertulis. Ia tidak bergantung pada buku untuk bertahan. Ia hidup dalam ingatan dan praktik masyarakat.
Sastra lisan mencakup ungkapan tradisional, pertanyaan tradisional, puisi rakyat, cerita rakyat, hingga nyanyian rakyat.
Nilainya tidak hanya terletak pada fungsi hiburan, tetapi juga pada kemampuannya mengajarkan sesuatu mengenai manusia dan kemanusiaan. Di dalamnya dapat ditemukan nilai keagamaan, kesetiaan, sosial, historis, moral, pendidikan, etika, dan kepahlawanan.
Tradisi lisan Dayak Kanayatn sendiri mencakup bentuk yang bercorak cerita—seperti cerita rakyat, legenda, dan epik—serta bentuk bukan cerita, seperti ungkapan, nyanyian, puisi lisan, peraturan, dan upacara adat. Semua itu menjadi bagian dari proses komunikasi antargenerasi.
Namun, persoalannya justru terletak pada proses pewarisan tersebut.
Ketika generasi yang menguasai tradisi semakin sedikit, sebuah tradisi dapat kehilangan ruang hidupnya.
Nyangahatn Baburukng, misalnya, disebut hanya dikuasai oleh sebagian kecil orang-orang tua yang memiliki pengetahuan mengenai tradisi tersebut. Pada saat yang sama, pelaksanaannya semakin berkurang.
Inilah peran dokumentasi adalah hal yang menjadi penting untuk dilakukan secara terus menerus.
Mendokumentasikan tradisi bukan berarti membekukannya sebagai benda museum.
Sebaliknya, dokumentasi dapat menjadi cara untuk memastikan bahwa generasi berikutnya masih mempunyai kesempatan untuk mengenal suara yang pernah menjadi bagian dari kehidupan leluhurnya.
Adat bukan sekadar masa lalu
Bagi masyarakat Dayak Kanayatn, adat memiliki kedudukan penting dalam kehidupan.
Ada ungkapan yang menggambarkan keberlanjutan tersebut, “Adat nang dinunak, dinali, dinamputn”—adat ada sejak adanya manusia, diikuti dan ditaati secara turun-temurun.
Ungkapan tersebut memperlihatkan bahwa adat tidak dipahami hanya sebagai peninggalan masa lalu. Adat menjadi pedoman perilaku.
Tradisi lisan juga dapat menjadi cermin bagaimana suatu kelompok masyarakat memahami kehidupannya.
Di dalam tradisi terdapat nilai, makna, dan fungsi yang mengikat masyarakat pendukungnya. Karena itu, hilangnya tradisi bukan hanya berarti hilangnya sebuah upacara. Yang ikut terancam hilang adalah sebagian cara masyarakat memahami dirinya sendiri.
Dengan demikian, Nyangahatn Baburukng dapat dibaca sebagai semacam arsip hidup.
Ia menyimpan cara masyarakat berbicara tentang kehidupan.
Empat arah hubungan manusia
Salah satu hal penting dalam kajian Nyangahatn Baburukng adalah nilai budaya yang berkaitan dengan empat hubungan utama, manusia dengan Tuhan, manusia dengan sesama, manusia dengan dirinya sendiri, dan manusia dengan lingkungan alam.
Pertama adalah ‘hubungan manusia dengan Tuhan,’ bahwa dalam Nyangahatn, hubungan ini tampak melalui doa, rasa syukur, dan penghormatan kepada Jubata.
Kedua adalah ‘hubungan manusia dengan sesama,’ dalam hal ini tradisi tidak berdiri dalam ruang individual. Ini berlangsung dalam kehidupan bersama dan menjadi bagian dari tata sosial masyarakat.

Ketiga adalah ‘hubungan manusia dengan dirinya sendiri,’ yakni tradisi yang mengajarkan bagaimana seseorang menempatkan dirinya, mengendalikan perilaku, dan menjalani kehidupan berdasarkan nilai yang diwariskan.
Keempat adalah ‘hubungan manusia dengan alam,’ itulah yang menjadi sangat penting karena Nyangahatn Baburukng berakar pada sistem perladangan. Konteks ini dijelaskan bahwa alam bukan hanya latar tempat berlangsungnya kehidupan, melainkan bagian dari kehidupan itu sendiri.
Keempat hubungan tersebut menunjukkan bahwa kebudayaan tidak selalu hadir dalam bentuk teori.
Kadang-kadang ia hadir dalam doa yang diucapkan sebelum bekerja, dalam makanan yang dipersembahkan, dalam aturan adat, atau dalam cara manusia memperlakukan tanah yang menjadi sumber kehidupannya.
Ritual yang memiliki struktur
Nyangahatn Baburukng memiliki rangkaian prosesi yang memperlihatkan bahwa ritual tersebut bukan kegiatan yang dilakukan secara sembarangan.
Prosesi Nyangahatn dapat berlangsung dalam bentuk Nyangahatn Manta’, ketika hewan kurban belum disembelih atau tanpa hewan kurban, maupun Nyangahatn Masak, ketika hewan kurban telah disembelih.
Keduanya memiliki rangkaian kegiatan yang pada prinsipnya sama, antara lain Mati’ sebagai doa hajat, Ngalantekatn sebagai doa keselamatan, Mibis sebagai doa agar semua sampai tujuan, dan Ngadap Buis sebagai bagian penutup yang memohon izin untuk mengambil kembali persembahan.
Struktur tersebut menunjukkan bahwa ritual memiliki bahasa dan tata urutnya sendiri.
Setiap tahapan membawa makna.
Setiap doa mengandung harapan.
Dan setiap persembahan memperlihatkan hubungan timbal balik antara manusia dengan sesuatu yang diyakini lebih besar daripada dirinya.
Tradisi masuk ke ruang pendidikan
Pelestarian tradisi tidak harus berhenti di ruang adat. Sekolah juga dapat menjadi salah satu ruang penting untuk memperkenalkan kembali sastra daerah kepada generasi muda.
Pendidikan, sebagaimana tergambar dalam kajian tersebut, tidak hanya berlangsung di sekolah. Keluarga dan masyarakat juga merupakan ruang pendidikan. Tradisi dan kebudayaan dapat menjadi bagian dari proses tersebut.
Karena itu, memperkenalkan Nyangahatn Baburukng kepada siswa bukan sekadar memperkenalkan sebuah ritual lokal. Lebih jauh, siswa diajak membaca nilai yang ada di balik tradisi di dalam itu mencakup rasa syukur, tanggung jawab, kehidupan bersama, penghormatan kepada alam, dan kesadaran akan hubungan manusia dengan Tuhan.
Ada sebuah pepatah sederhana yang relevan, ‘tak kenal maka tak sayang,’ maka generasi muda sulit mencintai kebudayaan yang tidak pernah mereka kenal.
Menyelamatkan suara sebelum menjadi sunyi
Tradisi lisan memiliki satu kelemahan sekaligus kekuatan, hal itu hidup melalui manusia.
Ketika manusia masih mengingat, mengucapkan, dan menjalankannya, tradisi tetap hidup. Tetapi ketika generasi yang menguasainya tidak lagi memiliki penerus, tradisi dapat perlahan menjadi sunyi.
Itulah yang membuat Nyangahatn Baburukng penting untuk dicatat dan dipelajari.
Bukan karena semua masa lalu harus dipertahankan tanpa perubahan. Bukan pula karena tradisi harus ditempatkan berhadapan dengan modernitas, oleh karena itu yang lebih penting adalah memastikan bahwa perubahan zaman tidak membuat manusia kehilangan kemampuan untuk membaca akar kebudayaannya sendiri.
Nyangahatn Baburukng mengingatkan bahwa sebuah masyarakat tidak hanya dibentuk oleh apa yang mereka bangun hari ini. Mereka juga dibentuk oleh apa yang mereka ingat dari masa lalu. Menutup artikel ini, penulis menyajikan refleksi bahwa:
Di dalam suara yang diwariskan itu terdapat doa.
Di dalam doa terdapat harapan.
Di dalam harapan terdapat pandangan tentang manusia, alam, dan Tuhan.
Dan selama masih ada generasi yang mau mendengar, suara leluhur itu belum benar-benar hilang.
*By. Samuel – Sumber: Suardi, anggota Yuliana & Paulinus Jang AKUB Pontianak.




